Skip to main content

Aku memanggilnya Bunda!

Kali pertama aku melihatnya saat awal-awal pendaftaran ulang SPMB tahun 2004. Aku dan beberapa orang kawan telah lebih dahulu latihan untuk persiapan Ospek. Sedangkan dia datang saat hari-hari terakhir pendaftaran ulang. Kecil banget. Itulah kesan pertamaku padanya. Setiap aku bertemu dengan seseorang pasti aku akan memberikan penilaian yang sangat subjektif yang belum di dukung oleh wawancara lebih mendalam . Hanya sterotipe yang aku jatuhkan kepadanya berdasarkan pandangan awalku.


Aku menduga umurnya tak beda jauh dariku. Paling jauh beda setahun. Seiring berjalan waktu aku pun mulai mengenalnya. Ternyata umurnya lebih tua dari perkiraanku. Waktu masih mahasiswa baru aku termasuk mahasiswa introvert. Sekedar ada di saat teman-teman sedang sibuk merancang bina akrab setelah prosesi ospek. Ikut ada disana tanpa memberikan kontribusi penting.
Saat ke malino


Di awal-awal kuliah aku makin banyak mengamatinya. Aku dan dia tidak juga cukup disebut dekat. Kami hanya sekedar teman kampus dan tidak terlalu sering sama-sama. Awal bina akrab dia mulai menunjukkan potensi memimpinnya.Dia dewasa. Baik dari segi pengetahuan maupun cara bersikap. Tapi ada saat dimana dia juga menjadi sosok yang kekanak-kanakan seperti kami.


Di Bina akrab yang biasa kami sebut Nurani, dia berada satu seksi denganku. Seksi Konsumsi. Entah mengapa aku masuk seksi ini. Seperti yang kau bilang sebelumnya, aku sekedar ada di antara teman-teman. Seksi konsumsi tak perlu selincah seksi transportasi dan seksi Dana. Yang terpenting adalah mampu cuci piring. Nah, Mungkin karena itu aku berada di seksi ini. Dan dia menjadi penanggung jawab seksi konsumsi. Bersama Mbak wuri mereka begitu cekatan memasak. Menyediakan masakan untuk para senior-senior yang terkenal rese' soal makanan saat Bina akrab. Saat itu aku kagum pada dia. Wow, sangat keibuan. Mungkin karena itu teman-teman seangkatan sepakat mengangkatnya sebagai Bunda buat angkatan 2004. Semua tak terkecuali memanggilnya Bunda.Bahkan hingga sekarang, aku pun masih memanggilnya Bunda meski sudah menyelesaikan kuliah masing-masing.


Bagiku dia begitu paradoks. Ia cerdas. Buku-buku bacaannya adalah filsafat. Ia pernah menyodorkanku buku Murtadha Mutahari, disaat aku masih polos-polosnya. Belum mengenal bagaimana dialektika berpikir itu. Bahkan sampai sekarang, buku itu masih aku simpan. Belum mampu aku pahami. Ia adalah teman diskusi yang menyenangkan. Ide-idenya selalu mencerahkan. Namun di saat jam kuliah dia selalu saja bolos. Dia tak sepertiku yang menganggap kuliah layaknya sekolah. Harus terus datang. Duduk di kursi terdepan. Mendengarkan penjelasan dosen. Mengerjakan tugas dengan baik. Mengikuti Mid test dan final.Dan menunggui nilai A saat pengumuman nilai.


Saat Figur, semacam LDK (latihan dasar kepemimpinan) di kosmik (Korps mahasiswaIlmu Komunikasi) Unhas aku sering duduk di dekatnya. Figur identik dengan melatih otak berpikir. Tak seperti bina akrab yang melatih mental untuk ditekan oleh senior. Duduk di dekatnya berharap materi-materi tentang filsafat sampai postmo yang mampu dipahaminya menular kepadaku. Namun ternyata tetap saja tidak mampu aku pahami. Tapi setidaknya duduk didekatnya bisa bertanya jika tidak paham. Atau terlihat juga seolah-olah pintar.
Dia pula yang menginsepsi pikiranku tentang suamiku sekarang. Di figur ini, dia menginformasikan padaku tentang seorang senior yang rencananya akan dijodohkan pada temannya di FKM. (Hehehehehe, Bunda dia berjodohnya sama saya:P).


Selanjutnya kami sama-sama ikut diklat menulis di Identitas. Dia ikut pengkaderan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Satu-satunya pengkaderan yang tak ingin aku ikuti. Mungkin karena dimulai saat malam hingga pagi hari. Dan paginya perkuliahan di mulai. Dia memilih tidak kuliah pagi. Sebuah pemikiran yang dulu tak bisa kupahami. Maaf, saya termasuk mahasiswa bureng (buru rengking).


Gaya aneh dari idenya
Dia juga mengajarkan demo padaku. Demo awalku karena hasutannya. Bersama dia dan juga Fitri (teman angkatan kami yang juga teman dekatnya) kami rela memanjat mobil truk untuk ikut demo. Dia benar-benar memengaruhiku secara tak sadar. Aku curiga dia memiliki ilmu telepati untuk mengikuti semua tingkahnya.
Ada saat juga dimana dia begitu kekanak-kanakan. Sewaktu bina akrab 2005, di mana kami telah menjadi senior, kami melakukan satu sesi foto yang semua gaya dibuat olehnya.




 Pernah juga sekali saat setengah dari angkatan kami akan final gojukai (ekstrakurikuler 2) di malino, dia meminta untuk ikut. Padahal ekstrakurikuler yang diikutinya adalah catur. Di saat itu, kami seangkatan eklusif sendiri dengan mobil pete-pete yang dipakai . Ribut sendiri meskipun jurusan lain memandang sinis kepada kami. Dan sekali lagi dia menjadi episentrum berkelompok itu. Kelas khusus wanita dewasa pun pernah dibahas terbatas bersama wanita-wanita angkatan kami. Diskusi terbatas dan cukup rahasia.Hehehehe.


Pernah sekali aku membaca hal-hal ekstrim tentang dirinya. Dia pernah bekerja di bank sebagai seorang marketing. (tidak menyangka hal ini karena dia pada dasarnya tak menyetujui kapitalis). Pernah bekerja di LSM internasional (nah, kalo ini aku percaya ). Pernah mendapat beasiswa ke US. (ini yang aku salutkan kepadanya). Kesibukannya diluar kampus yang lebih banyak sempat membuatku khawatir dia akan terlambat selesai. Tapi sekali lagi dia membuktikan bahwa dirinya adalah wanita tangguh.
Idenya lagi




Ia menikah sebelum selesai kuliah. Tak cukup setahun kemudian dia pun menyelesaikan kuliahnya. Ikut suami ke pulau yang lebih dekat ke Singapura dan Malaysia daripada ke Jakarta. Menjadi PNS di kementerian pemberdayaan perempuan (semoga dia bisa menjadi menteri pemberdayaan perempuan kelak).Dan menjadi seorang ibu. Begitu paripurna hidupnya dalam pandangan mataku. Namun dia masih memiliki mimpi-mimpi yang akan terus dia kejar. Keluarga tak menjadi penghalang baginya untuk mengejar cita-citam enjadi Backpacker.
Gaya lain sendiri, dengan balon sebagai properti


Meski jarak kami telah terbentang luas oleh jutaan kubik air namun rasanya ia tetap dekat. Kami masih sering bersaya hai di facebook. Saling komentar dan chat. Tak hanya denganku, tapi juga dengan teman-teman angkatan kami. Saat aku menikah kemarin pun masih juga ia sempatkan mengirimkan kami sebuah hadiah pernikahan.


Dia tetap saja masih seperti Bunda bagi kami. Ia selalu mempercayai potensi-potensi yang ada pada diri kami. Ia selalu percaya bahwa kelak aku dan teman-teman melahirkan banyak karya dari tangan-tangan kami. Dia selalu percaya bahwa kami bisa menjangkau semua itu. Bahkan ketika kami tak percaya akan kemampuan kami, dia masih tetap memiliki keyakinan itu.


Hari ini ulang tahunnya. Nursidah Abdullah. Mama Celi. Bunda anak-anak Rush 04. Aku tak tahu hendak memberinya kado apa. Tapi jauh jauh hari sebelumnya aku sudah meniatkan menuliskan kesanku kepadanya. Anggaplah ini sebagai kado. Kesan takkan pernah hilang kecuali oleh lupa. Maka aku membekukan ingatanku tentangmu di sini.


Selamat Ulang tahun Bunda! 
Semoga segera menjadi menteri pemberdayaan perempuan.Amin!!!!!!!


Buat anak-anak rush : yuk menuliskan kesan kepada setiap anak rush 04 yang ulang tahun.Anggaplah ini sebagai ritual dan kado ulang tahun (Seperti yang telah dilakukan Darma dan Ema).

Comments

Popular posts from this blog

tentang buku

"...u can buy many book,but u can't buy a knowledge" 081383118xxx pesan itu sampai ke ponselku beberapa saat setelah aku mengeluh pada seseorang tentang buku "detik-detik menentukan" BJ.Habibie yang tak berhasil aku peroleh dari peluncuran bukunya di hotel clarion hari ini. iya mungkin benar...aku terlalu mengharapkan buku yang ditulis mantan presiden ketiga ini.padahal ku punya begitu banyak buku yang bertumpuk di kamar. Belum pernah aku jamah sedikit pun. aku tak tahu beberapa hari terakhir ini aku begitu jauh dari buku. jauh dari para pengarang-pengarang besar dengan segala masterpiece-nya. akuy begitu malas membaca. malas membuka tiap lembar buku tebal itu dan memplototi huruf-hurufnya yang kecil. "tahu tidak...buku bisa membawa kesuatu tempat tanpa kamu harus bergesr se-inci pun" kata-kata itu selalu keluar jka aku mengeluh sedang malas baca buku... entahlah aku begit malas mengetahui tiap isinya. aku hanya terpesona pada banyak tumpukannya di kam...

jurnalistik siaran, pindah kost-kostan, dan "capek deh!"

Akhirnya, kembali bisa menyempatkan diri sejenak ke Teras Imaji. Sedikit berbagi kisah lagi dengan diri sendiri. Sekedar untuk sebuah kisah klasik untuk Saraswati dan Timur Angin kelak. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertahan sampai saat ini.meski tugas kuliah menumpuk. Keharusan untuk pindah pondokan. Kewajiban lain yang belum terselesaikan.Problem hati yang menyakitkan. Serta kontrak yang tersetujui karena takut kehilangan peluang meski tubuh ini harus sudah berhenti. Siang tadi (15 nov 06) seharian ngedit tugas siaran radioku. Tak enak rasanya pada teman-teman, memberatkan mereka. menyita waktu yang seharusnya untuk hal lain. Tak enak hati pada Pak Anchu, penjaga jurusan. yang tertahan hanya menunggu kami menyelesaikan tugas itu. Dengan modal suara fals nan cempreng toh aku pun akhirnya harus sedikit PD untuk membuat tugas itu. Meski hanya menguasai program office di komputer, toh aku harus memaksakan belajar cool-edit (yang kata teman-teman yang udah bisa merupakan sesuatu...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...