Images

tentang buku

"...u can buy many book,but u can't buy a knowledge"
081383118xxx
pesan itu sampai ke ponselku beberapa saat setelah aku mengeluh pada seseorang tentang buku "detik-detik menentukan" BJ.Habibie yang tak berhasil aku peroleh dari peluncuran bukunya di hotel clarion hari ini.
iya mungkin benar...aku terlalu mengharapkan buku yang ditulis mantan presiden ketiga ini.padahal ku punya begitu banyak buku yang bertumpuk di kamar. Belum pernah aku jamah sedikit pun.
aku tak tahu beberapa hari terakhir ini aku begitu jauh dari buku. jauh dari para pengarang-pengarang besar dengan segala masterpiece-nya.
akuy begitu malas membaca. malas membuka tiap lembar buku tebal itu dan memplototi huruf-hurufnya yang kecil.
"tahu tidak...buku bisa membawa kesuatu tempat tanpa kamu harus bergesr se-inci pun"
kata-kata itu selalu keluar jka aku mengeluh sedang malas baca buku...
entahlah aku begit malas mengetahui tiap isinya.
aku hanya terpesona pada banyak tumpukannya di kamarku...
terlalu banyak aktivitas yang twerjadwalkan. 24 jam sehari tidaklah cukup.
bahkan untuk sekedar bertamasya dengan buku itu aku tak punya waktu..
mungkin aku harus bisa memanage waktu...ya....itu adalah jalan keluarnya
(maaf ya...aku masih malas baca buku)
Images

ku ingin pulang

dwi kangen pulang
kangen makanan rumah
kangen hangat rumah

saat-saat seperti ini
pintu tlah tertutup lampu tlah mati
kuingin pulang
tuk segera berjumpa denganmu
(ingin pulang-SOS)
Images

ramadhan kali ini

ramadhan kali ini...
ada banyak hal yang telah berubah...
tak lagi berpuasa bersama k ipah
tak ada lagi k yusran yang ngajakin sahur bersama
tak pulang untuk "Maddupa Puasa" di rumah
dengan tugas kuliah yang bertumpuk-tumpuk
aku jadi kangen rumah. kangen mama sama etta.
kangen tarawih di mesjid depan rumah
atau sekedar bikin "pa'pabuka"sama mama
sepi rasanya ramadhan kali ini
tak seperti masa kecil dulu
beromba menghitung seberapa banyak puasa yang penuh
dan mengharapkan ampao sebagai hadiah bacaan Al-qur'an yang selesai
saat lebaran...
aku kangen ramadhan di rumah
Images

Rumah Pelangi


Rumah. sekumpulan huruf yang memiliki tempat yang istimewa dalam kamusku . Tanyakanlah padaku. dan kan ku jawab, Ia sebuah kata yang memiliiki makna yang begitu dalam.selalu memberikan kesan yang tak ibsa terwakilkan dengan bahasa verbal. Bahkan bisu pun masih belum bisa memaknainya dengan sempurna.
Tanyakanlah pada setiap orang, kemana mereka akan pulang? Rumah. tempat yang selalu menerima setiap senyum dan laramu.akan selalu menerima patah dan rapuhmu.
Bahkan sandy si tupai dalam sebuah episode spongebob pun begitu mamaknai akan rumah.”rumah bukanlah persoalan ayam panggan atau perapian hangat. Tapi ia adalah ketika kau dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu”.
Pelangi....kata ini pun masuk dalam kamus bahasa dalam otakku. Penyatuan warna yang selalu hadir di langit ketika awan telah lelah memeras air dalam tubuhnya. Ketika kelabunya telah terganti oleh birunya langit. Ketika pak matahari masih tampak malu-malu bercahaya sehabis hujan.
Apa yang kusukai dari pelangi? Ia begitu berwarna. Merah, jingga,kuning, hijau, biru,nila,ungu. Melengkung mengikuti bulatan bumi, seperti seorang perempuan ayu yang tampak malu-malu. Seperti kisah di dongeng sebelum tidur, pelangi itu adalah tangga untuk para bidadari khayangan saat mereka mandi di sungai.
Cerita itu pun masih kusukai hingga sekarang. Meskipun sekarang aku tahu bahwa itu hanya cerita isapan jempol belaka. Saraf otakku pun sudah tahu bahwa cerita itu tak pernah bisa dirasionalisasikan. Hanya imaji anak lima tahun yang mampu menjangkaunya.
Tapi, pelangi bagiku memilki sebuah arti yang lain. ketujuh warna yang menghiasinya tak pernah saling bertengkar. Berebutan harus berada di mana. Mereka dengan senag hati saling berjajar berbagi tempat. Mereka hadir dengan warna mereka .hadir di langit dan memberi pesona yang begitu indah.
Kali ini aku ingin berkisah.dan... kisah ini tak hanya tentang rumah. bukan juga hanya pelangi. Tapi ini adalah tentang rumah pelangi. Rumah pelangi ini tak bisa ku klaim sebgai milikku. Jika hanya milikku, ia takkan bernama rumah pelangi. Ia hanya akan bernama sesuai warnaku.
Rumah pelangi ini adalah milik kami. Kami adalah sekumpulan orang yang tak pernah saling berjanji untuk bertemu di rumah pelangi. Tak pernah pula sama-sama membangun rumah pelangi ini. Rumah pelangi telah ada sejak lama. Menjejakkan kakinya di bumi. Ia menerima semua orang yang hendak mempir di rumahnya. Entah itu sekedar melukiskan warna atau menitipkan catnya. Kami hanyalah pendatang di rumah pelangi. Rumah pelangilah yang mempertemukan kami.
.jangan pernah berpikir bahwa ia adalah sebuah rumah hangat.memiliki dinding yang bercat warna pelangi. Kamu salah. Rumah pelangi kami tak semewah dugaanmu. ia adalah sebuah ruangan dua kali enam meter. Bercat biru kusam. Yang mewakili warna pelangi hanyalah gambar wajah Che Guavara yang begitu berwarna. Itu pun tak merepresentasikan warna pelangi. Karena lukisan itu di dominasi warnah merah dan kuning.
Hangat? jangan pernah berpikir rumah pelangi kami hangat seperti hangat yang kau bayangkan. Hanya sebuah tirai merah kusam yang dipasang terbalik yang membantu kami menahan angin dingin kala malam.
Dekorasinya pun sangat sederhana dan terkesan kotor. Hanya sebuah lemari besar yang penuh buku dan arsip yang ada. Juga sebuah folder hitam karatan yang mulai rusak. Dua buah meja yang masing-masing di atasnya terdapat dispenser dan komputer. Dan sebuah papan tulis putih yang selalu penuh coretan. Lantainya pun hanya ditutupi karpet tipis berdebu di beberapa bagian dan tikar plastik yang telah robek di bagian yang lain.
Kami Datang dari berbagai warna. Kami pun membawa warna kami. Entah itu warna Sigmund freud,subcomandante marcos, akar rumput, agent cia, saraswati, spongesbob,wiji tukul dan banyak lagi warna. Semua bertumpah ruah di sini. Menumpahkan warna yang kami miliki.melukisnya dengan indah.
Telah banyak lukisan moment yang telah kami lihat di rumah pelangi. Telah banyak moment pula yang telah kami lukis di rumah pelangi dengan warna kami sendiri. Ketika tesa dan antitesa berdialektika, kami melukisnya. Saat kapitalis berjingkrak di dunia,kami pun melukisnya. Diskusi ideologis hingga moment biskal pun kami lukis di dinding rumah pelangi.
Moment romantis pun tak pernah lupa kami lukis. Kami melukisnya dengan kata-kata. Tetulis maupun lisan. Kami pun melukis puisi bersama-sama tiap bulan purnama di tepi danau. Tak hanya itu lagu pu kita lukis. Dan selalu dengan warna yang berbeda. Dengan warna cerah, sedih, konyol, dan banyak warna lainnya.
Tak pernah tertinggal melukiskan kebodohan dan kekonyolan kami. Saling mentertawakan dan mengerjai menjadi suatu warna lain pula dalam rumah pelangi. Namun, warna itu takkan pernah menyakiti. ia ada dalam batas kewajaran warna di rumah pelangi. Ia tak pernah membuatmu harus pergi dari rumah pelangi.
kami selalu menrima setiap warna yang ada tanpa pernah mencelanya. Telah ada nilai arkais di rumah pelangi untuk saling menghargai tiap warna yang ada. Bahwa setiap warna selalu memilki keindahan tersendiri dan akan memberi keindahan lain jika bisa saling berdampingan. Para penghuni rumah pelangi pun akan memiliki tambahan warna yang lain.
Kami menyukai semua warna. Tapi, hitam tak boleh begitu mendominasi. Ia mampu menghapus semua warna kami. Semua warna dalam rumah pelangi. Terhadap hitam kami harus over protected. Ia mampu hadir dalam berbagai bingkai warna yang lain. hadir tanpa pernah kami sadari.
Di rumah pelangi kami pun bisa mengekspresikan warna milik kami. Entah itu warna subcomandante marcos,katakan tidak. Warna wiji Tukul,hanya satu kata lawan. Warna akar rumput yang selalu dipanjangkan usia saman. Atau warna spongebob yang lugu bersama patrick dan temannya di bikini bottomnya.
Rumah pelangi tak pernah mengikatmu. Kamu mau datang dan pergi terserah padamu. Namun, ketika kamu ingin pulang dan tak menemukan rumah. kamu tetap penghuni rumah pelangi dan kamu boleh pulang ke sana. Seorang teman penghuni rumah pelangi pernah berkata “aku pernah tak tahu surga itu ada dimana. Tapi sekarang aku sadar ada surga di bumi”. Ya...di rumah pelangi ini. Ia tak hanya sekedar ruang tempat kami berkumpul dan berbagi kisah. Tapi ia telah menenpati ruangnya tersendiri di dalam hati kami
Images

Secuil cerita tentang peluncuran buku

02.30 sore saat matahari sangat panas
“Kebebasan dan Kebudayaan” (Tibor R. Machan).
Judul buku yang menjadi sebuah suvenir yang dibagikan bagi peserta diskusi dalam bungkus tas berwarna orange.
“menegakkan kebebasan sipil, membangun budaya demokrasi” tema yang menjadi persfektif untuk membedah buku itu.
buku itu berisi tentang kebebasan manusia sebagai makhluk individu. tentang upaya negara dalam mensubsidi para rakyatnya sebenarnya merupakan sesuatu yang membuat rakyat bergantung pada negara. Tentang orang-orang kaya yang telah bekerja keras dan harus membayar pajak yang besar untuk menghidupi orang-orang miskin. Kritikan tentang sistem sosialisme dan komunisme yang mengekang dan menyeragamkan manusia, sehingga tak ada kebebasan. Tentang sosialisme yang hanya memberikan mimpi-mimpi tentang negara ideal yang utopia.
Paham-paham seperti ini yang akan di boikot di pintu rumah pelangi. Wawan, teman UKPM-ku pun merasakan hal yang sama.
“ diskusi apa..! menghalalkan kapitalisme. Mau ka lempari tadi itu forum”katanya dengan kesal.
“pasti ada maksud propaganda dari diskusi itu”kata k Topan seniorku di kosmik.
Namun, menurut Luthfi Assyaukanie peneliti Freedom Institute tak ada maksud untuk menanamkan ideologi tertentu dari diskusi ini. Hanya sekedar membahas kumpulan Essey dari Machan.
Terlepas dari apakah diskusi yang disponsori oleh Freedom insitute, yayasan Obor dan kedubes AS memiliki maksud tertentu atau tidak, setiap orang boleh punya persfektif lain. buku ini mungkin pandangan Machan tentang kebebasan manusia. Wawan dan k Topan pun punya cara pandang yang berbeda.
Dan menurutku, apa salahnya perbedaan itu. Bukankah ia kemudian merangsang daya kritis. Setiap orang punya defenisi benarnya masing-masing. Setidaknya buku sovenir itu dapat menjadi koleksi perpustakaan untuk rumahku kelak. Menjadi sebuah pembanding dalam dialektika berpikir.
Images

Mengapa Teras Imaji?

Imaji adalah kata indah dalam kamusku.
Ada coretan kecil yang mengawali tentang teras ini.
Ini tentang seseorang...


“Melihatmu di setiap hariku...
Mengisi tiap halaman-halaman waktuku
Bermain diterasteras fantasiku
Kau hadir ditiap lelahku membukukan detik
Menjilid rapi tiap memori...”


Teras-teras fantasi itu telah menjadi teras imaji-ku

Images

mulai ngerti

akhirnya mulai ngerti juga...meski awalnya ngejelimet
ternyata sesuatu yang awalnya kita tak tahu kalo belajar jadinya bisa ya (ini pesannya mamaku)
udah dini hari...harus pulang
besok (nanti Pagi, maksudnya) harus kuliah pagi
tengah malam nanti aku lanjutin lagi
gud nite
Images

pusing bikin blog

aduh....pusing ternyata bikin blog....
nda ngerti aku...
tapi...cuek aja...kalo nda seperti ini mana bisa belajar
pencet asal aja tuts komputer...
kalo ada masalah tinggal cabut aja dari warnet...
(hihihihi...lagi jahat)
Images

asyik punya blog

senengnya...punya blog sendiri.tepat pukul 2.54 am.
(warnet dekat kos-kosan coy, jadi tengah malam diskon...hehehe).
tepatnya tanggal 21 September 2006.
namanya lucu "terasimaji".
mungkin kamu pikir ia merek baru dari sebuah terasi....
itu terserah kamu. tapi ini adalah teras imajiku
kenapa teras imaji?
nanti deh aku cerita asal usulnya.

Images

(resume singkat bedah buku “Kebebasan dan kebudayaan)

Civil society telah ada sebelum state itu ada.ia lahir dengan sendiorinya sebelum adanya NGO.hal ini dilihat berdasarkan kebudayaan barat yang berkembang di eropa. Civil society memilki fungsi integrasi, beradpatasi, survive, dan menjaga kutuhannya dengan norma. Ia bisa hidup tanpa adanya IMF, World Bank, dan ekonomi makro.
Civil society pun kemudian memunculkan state (state yang paling tua adalah monarki) karena raja (state) tercipta karena adanya legitimasi dari masyarakat.
Magna carta (1912) yang lahir karena keingin state mengintervensi civil society dan ketidakinginan civil society diintervensi oleh state merupakan perpaduan interkasi antara civil society dengan state.
Civil society yang paling berpengaruh di Indsonesia yaitu budi Oetomo, supmah pemuda, dan perjuangan kemerdekaaan Indonesia oleh Soekarno-Hatta.
Totalitarianisme adalah pemerintahan yang menyeragamkian segala aspek kehidupan manusia. Ia menafikkan kodrat manusia, induvidualitas dan kebebasan. Sehingga komunisme sebagai salah satu totalitarianisme bertentangan dengan filosofi manusia sebagai makhluk individu yang bebas. Sosialisme pun hanya memberikan gambaran ideal tentang sebuah negara yang utopia. Walfare state merupakan bentuk halus dari sistem sosialis yang mengrogoti sistem kapitalis. Negara pun tak boleh mencampuri urusan rakyat lebih jauh. Ia hanya sekedar menjaga keamanan, penegakan hukum, dan mencetak uang. urusan moral, ilmu pengetahuan, dan sastra menjadi tanggung jawab civil society.