Images

Tak Ada Resolusi Tahun 2009


Tahun ini berakhir seperti sebuah novel yang habis kubaca. Detik bagaikan huruf-hurufnya. Hari menjadi halaman-halaman kisahnya. Dan bab-bab bulan telah aku tuntaskan. Dari Januari, di awal bab, di mana aku pernah berpikir “setelah halaman awal Januari ini, aku akan berada di halaman terakhir Desember. Penutup cerita novel tahun ini”. Ceritanya ngambang dan gantung. Memaksa pengarang untuk membuat sekuelnya adalah kuasaku sendiri. Akulah pengarang itu. Akulah sang penulis skenario itu. Akulah sang sutradara, pemain, dan penentu akhir cerita ini.

Tahun 2008 ini, masa pendidikanku telah kuakhiri. Seperti Desember yang menjadi penutup bulan di ujung tahun, pada Desember pula kuakhiri jejak langkahku di kampus. Sebuah pintu gerbang kutemui di depan tahun.sebuah kalimat terukir jelas dengan pahatan sederhana di pucuk gerbangnya. “Akan Kemana Lagi Setelah Ini?”. Dimensi 2009 adalah sebuah negeri antah beranta yang tak bias kutebak. Gelap masih berujung di pelupuk mataku. Tak ada peta petunjuk jalan. Dan labirin begitu panjang, rumit, dan lebat.

Semua tergantung padaku. Peta perjalanan ada dalam imajiku. Ide cerita berlompatan di fantasiku. Waktu adalah sesuatu yang misterius. Ada saat dimana gelap datang menjadi aral, tapi dalam gelap akan tetap ada kebahagiaan-selama aku tak pernah lupa untuk menyalakan cahaya….

Akulah cahaya itu dan akulah peta itu….

2009, aku harus menjadi api…mengucapkan mantra “lumos maxima” dan menyusuri labirin panjang. Tak ada resolusi muluk untuk semua ini. Biarlah hati menyala dengan sepenuh hati. Hingga ia menemukan ujung dari labirin ini….

Dan akan kutemukan lagi cerita novel yang lebih menarik….(di imajiku dan juga di toko buku (^_^)

Selamat tahun baru…
(penunjuk waktu di rumahku telah diangka 12.00)
Images

De Portico Is Crowded

De portico lagi ramai...
Kacau....
dan ribut....
tapi gaya tetap nomor 1...!!!!!!
nanti fotonya diunggah....
Images

show me the way....


aku butuh setitik cahaya....
sedikit saja....
seperti mercusuar yang menjadi pemandu
untuk tiap perahu yang kehilangan arah

angin telah membawaku sejauh ini
tapi ia kembali berdiam diri...
tak berhembus, tak menghempaskan cadikku

aku butuh sedikit saja cahaya
sedikit saja....
Images

Makaci...


hari ini takkan berjalan sesuai rencana jika tak ada orang-orang disekitarku yang begitu peduli dan membantuku. persoalan kebayayang tadinya membuatku pusing telah terselesaikan dengan bantuan mertunya kak ipah. juga oleh "Aci" penjahit yang telah bersedia menjahitkan bajuku dengan tenggat waktu yang telah kami sepakati dengan harga yang lumayan murah pula.

kepada dua orang bapak petugas damri yang menunjukkan tempat yang aku cari. juga kepada sopir pete-pete yang telah bersedia mengantarku ketempat itu. juga kepada mertu laki-laki kakakku yang telah mengantarku sehingga aku tak perlu lagi naik bacak. 

kepada kakak ipah yang telah mengirimkan penyambung gerak untukku. juga kepada etta yang telah mengantarkannya dan begitu baik mau menambahkannya (nantilah lagi saya meminta...kalo anakmu ini benar-benar tak bisa bergerak lagi). dan juga pada seseorang yang telah menjelaskan tentang MT....

terakhir kepada ponakanku, Kevin. yang mengajarkanku kata "makaci" dengan cara sedikit membungkuk dan tersenyum polos dan jenaka. makaci....

Images

aku, zizi, dan sosialita



Zizi kecil berumur 12 tahun terkagum-kagum pada jejeran perempuan cantik dilyar televisinya. Sebuah ajang untuk mencari perempuan terbaik yang tak hanya bauety tapi memiliki brain dan behaviour. Zizi kecil yang begitu terpesona mematrikan hati kecilnya untuk menjadi bagian dari perempuan-peremupan itu. Ia memimpikan dirinya menjadi putrid Indonesia.

7 tahun kemudian, dia telah membuktikan bahwa ia mampu meraih cita-citanya. Di usianya ke 19 tahun, Zivvana Letisha Siregar di bulan agustus 2008 ia membuktikan diri mampu menjadi putri Indonesia. Ia tidak main-main mengejar cita-cita. Ia berlatih dan terus belajar. Zizi kecil telah menjelma menjadi putri yang tak Cuma cantik tapi juga cerdas dan memiliki pribadi yang mengagumkan…

Aku membaca sosoknya dirubrik sosialita Kompas minggu kemarin. Aku menyaksikan ia bertarung di ajang putrid Indonesia 2008 kemarin. Ia tampil menganggumkan dan membuatku iri. Aku salut padanya.

Apa yang telah aku capai selama ini???Aku belumlah berusaha begitu keras untuk mencapai cita-citaku. Setelah membaca kisahnya di sosialita hati kecilku kembali bermimpi. Tidak muluk-muluk untuk menjadi Putri Indonesia. Cukup menjadi salah satu perempuan yang diulas di rubrik Sosialita Kompas. Mungkin bagi Zizi, ia telah mencapai mimpiku. Namun, ia telah mempersiapkan dirinya jauh sebelumnya, sejak Zizi kecil memimpikan dirinya menjadi Putri Indonesia.

Dia menunggu selama 7 tahun…dan aku pun harus membuktikan diri. Menyiapkan diri untuk menjadi salah satu perempuan dalam rubrik Sosialita Kompas. Tak muluk, tapi butuh perjuangan panjang….
Images

Naik kelas di black canyon!



Entah angin dari mana tiba-tiba kak riza begitu baik mengajak kami (saya, k harwan, arya, k bento, ema) di ajak ke black canyon di Mtos. Mungkin karena training IRI untuk caleg perempuan sudah selesai dan ia akan mendapat proyek yang lumayan besar untuk sebuah seminar nasional. tapi menurut konfirmasi ini telah direncanakan jauh-jauh hari. mentraktir kami di sini. hitung-hitung bagi rejeki katanya.(dan juga untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia telah menjadi orang kaya sekarang).

Dan akhirnya tibalah kami di sini. Di tempat bernama black canyon. Tempat yang tak akan saya (khusus) datangi dengan sengaja jika aku harus membayar makananku sendiri. Apalah saya hanya mahasiswa yang hanya memiliki uang bulan ¼ juta perbulan. Itu pun harus berjibaku untuk memenuhi kebutuhan bulanan yang tak terpenuhi oleh duit itu.

Coklat dingin, capucino, mocca, coklat panas, dan vanila latte menjadi pesanan kami. Rencana awal adalah untuk membicarakan tender yang k riza dapat, media literasi dan IRI-nya k riza. Namun pada akhirnya hanya k riza dan k harwan yang begitu serius membahas tentang proyek. Saya hanya sibuk menikmati suasana, sibuk berfoto-foto dengan ema dan memposting tulisan di blog.

K bento dan Arya menjadi pasangan lugu. Pesanan mereka mocca dan cappucino dilengkapi dengan sesloki kecil cairan, entah apa. K harwan dan k riza mengatakan itu adalah gula tapi dalam bentuk lain. Tapi arya dan k bento tidak percaya. Mereka skeptis apakah cairan itu gula atau bukan. Mereka bahkan berdebat sambil berbisik untuk mencari tahu tentang cairan itu. Dan akhirnya arya dengan rasa ingin tahu begitu tinggi mencoba menginderai cairan itu dengan meminumnya.


Diam-diam cairan itu disentuhkan ke lidahnya dengan gelas kecil yang serupa gelas bir itu. Dan akhirnya ia mengatakan “itu air putih” katanya. Rasanya tawar serupa air. Aneh saja ia meminum cairan itu dari gelasnya.Mengingat itu bukanlah ditujukan untuk bir. Mengapa tak ia gunakan sendok kecill untuk mencoba rasanya.


“beginilah orang-orang dunia ketiga diajak ketempat mewah” canda k harwan.
“sudah lamakah kalian memimpikan makan di tempat ini?”tanya k harwan kepada saya dan ema.

Arya kehausan, ia malas memesan air putih. Dihabiskannya cairan itu....
Inilah kami yang begitu asing dengan tempat seperti BCC...

(aku dan Emma bahkan berfoto di tempat ini...dan sebuah pesan untuk icca “akhirnya kami pun ke BCC”...seolah-olah naik kelas.tulisan ini diposting langsung dari black canyon...:)
Images

tidak ada film untuk dwi...


Aku memiliki kebiasaan baru. mencatat perencanaan yang harus aku lakukan dengan sangat detail. Hari ini setelah mematut diri untuk patuh pada rencana-rencanaku sore ini, tibalah kau pada rencana terakhir. Rencana untuk bersantai. Window shopping atau sekedar liat-liat.

Rencana terakhir hari ini adalah membeli coklat untuk malaikat charlie aku berencana ke Video Ezy. Hitung-hitung buat nonton film yang original dan menonton film-film yang membuatku penasaran. Aku tak punya kartu member, tapi dulunya aku bisa minjam tanpa harus memperlihatkan kartu. Cukup menyebutkan nama kakak angkatanku dan beberapa nomor telepon.

Dengan modal itu aku dengan santai melangkahkan kakiku setapak-setapak di rental film itu. dengan PD memilih-milih film diantara beberapa pelanggan cowok yang ada di situ. Empat film telah aku pilih.

Aku melangkah ke meja kasir....

"Mbak, film ini berseri.."katanya sambil menunjukkan sampul film korea yang kau pilih.

Aku pun kembali mencari film pengganti. film kedua...
"Oh, mbak ini keluar..."


Aku mencari untuk pengganti film kedua itu...

Aku menemukan sebuah film...melangkah ke kasir.
Beberapa pertanyaan singkat tentang kartu member.....
ia menekan tuts komputer...dan blez...3 strip merah di layar monitor.
"Ups...mbak! ada film yang belum kembali".....

"......" (aku seolah-olah sedikit terkejut..padahal aku tahu kejadian itu)


20 menit sebelumnya di extranet...


" Kak, siapa kartu yang sering kita pakai? "wartel jayanti"? tanyaku oon.

"Hahahaha...Elfa Jayanti" jawab kak Rahe...
"oooo...kirain wartel Jayanti".....


waktu sekarang di ezy...

"Ga bisa minjam mbak. Filmnya udah sebulan tidak kembali. Kartunya ga bisa di pakai" jelas mbaknya begitu ramah tapi menyembunyikan senyum mengejek di bibirnya.

I
ngatanku seperti tertarik melewati lorong waktu kembali ke tiga minggu lalu. Ketika Icha meminjam film Ayat-Ayat Cinta untuk skripsinya dan dua film lainnya. Film-film itu belum ia kembalikan hingga detik ini...
Padahal aku sangat ingin nonton film....hiks


"Iya mbak memang ada yang blum dikembalikan" jawabku sambil berusaha mengingat-ingat nama yang ada hubungannya dengan wartel jayanti...
1 detik....3 detik....5 detik.... 7 detik....aku lupa nama itu.....

aku tak ingat....bisakah aku meminjam film dengan nama orang lain lagi, tapi takut mbaknya marah.
lagian aku juga tidak ingat nama depan seseorang yang seperti nama wartel itu....

Pegawai rental video itu memandangku dengan tatapan meremehkan. Aku pun kemudian ciut dan merasa bersalah. Langkah yang paling tepat adalah mengatakan terima kasih dan kabur....dengan beberapa pasang mata yang tertuju padaku....

Mengapa aku yang harus dapat getah....dari film yang belum dikembalikan yang bukan aku yang meminjamnya. Kartu itu pun bukan milik temanku. Kartu itu milik kakak angkatanku. Aku pun pernah melakukan penunggakan pengembalian dan yang terjadi...
seniorku di teror oleh video Ezy dan aku harus membayar denda. aku bisa bayangkan ia akan semurka itu lagi jika tahu kartunya diblokir....

Dan akhir perjalananku sore ini adalah keluar dari vide EZy sembari tertawa. Menertawai diriku dan kebodohanku.....
hari ini aku membuat sebuah skenario cerita "tak ada film untuk dwi.."
Images

Aku : Dari Seminar Hingga Yudicium...

Saat Seminar Saat Ujian
Sesaat Sebelum Yudicium










Detik-detik Jelang Yudicium


Insiden Yudicium!!! Nama perempuan ini tidak disebut namanya hingga daftar terakhir nama yudicium. Saat namanya tak disebut, beginilah ekspresinya....


Riuh Rendah Setelah Namanya Disebut Dengan Predikat Cumlaude






Efek dramatisasi setelah mendapat gelar sarjana komunikasi (Baca : TERHARU)
Wajah-wajah bahagia sarjana baru (memiliki optimisme tinggi akan masa depan)

Wajah-wajah Sarjana dan calon sarjana yang super narsis...



Inilah para sarjana komunikasi yudicium periode ke II wisuda desember 2008...SELAMAT YA!!!!


Sarjana muda...FRESH FROM THE OVEN....(wanna prove it???)

(Inilah Saya!!!SIAP KERJA...hahahaha)


KUIS : Temukan dua orang yang saat foto ini dibuat
belum harus di yudicium????


buat lucu-lucu..ji...

Images

pintu kamarmu saja sudah cukup...


Aku dan dia tak berjarak. Aku hapal rutinitasnya. Begadang tengah malam dan tidur hingga siang. Tak jarang ia tak masuk kuliah hanya karena bangun kesiangan. Kami satu kost. Kamarnya hanya beda tiga kamar dari kamarku. Aku mengenalnya dan ia pun mengenalku. Aku sering membagi coklatku dengannya. Tak jarang pula ia meminjam novel-novelku. Sesekali aku juga ikut nimbrung membaca komik yang dipinjamnya dari kafe baca. Ia menyukai semua jenis musik dan ia menyukai buku. Itulah mungkin yang membuat kami bisa akrab. Kami bisa berbagi apa saja. aku tak sungkan untuk berada di kamarnya saat ia sedang keluar. Bahkan melihat koleksi kaset dan album foto kecilnya.

Namun akhir-akhir ini kami tak pernah lagi ngobrol tentang buku dan musik. Ia makin jarang keluar kamar. Kami mulai jarang bertemu. Komunikasi yang dulunya terjaga tiba-tiba tak berbekas. Aku tak berani menegurnya duluan dan ia pun tampak tak acuh padaku. Keakraban itu tiba-tiba lenyap. Dan ada sebuah rasa kosong yang kurasa. Seperti kehilangan teman berbagi. Mungkinkah aku mencintainya?Entah. banyak alasan tetap menyimpan rasa ini di sudut hati yang terkunci.

Aku memilih untuk membiarkan rasa ini tetap di sini. Membiarkan hubungan ini tetap seperti ini.
Aku cukup bahagia melihatnya tiap hari. Melihat pintu kamar tak tergembok dan melihat motornya diparkiran. Aku tahu ia ada. Mencuri dengar percakapannya di depan teras kost-kostan. Memperhatikan rambutnya yang memanjang dan sudah saatnya di cukur. Aku cukup bahagia berpapasan dengannya ditempat jemuran atau diam-diam memperhatikannya saat ia mencuci motornya. Aku sudah cukup bahagia. Sayup-sayup kudengar ia berbicara dengan teman kost-kostanku, ia menstarter motornya dan derunya kemudian menghilang dari pendengaranku…. cukuplah seperti ini…

(sebuah rasa...yang....mmmmm terasa seperti coklat)
Images

dan pembaca hanyalah penikmat...


Aku sampai pada kalimat terakhir dari halamana terakhir buku setebal 504 halaman itu...
Aku membacanya...tiap detail...tak terlangkahi satu kata pun
Dan aku sampai pada kesimpulan...
Aku sedih membacanya...
Aku tak membayangkan akhirnya seperti itu
Tak seperti tiga kawan sebelumnya
Ia berakhir pada kalimat yang membuat ruang di jiwaku kosong
Dan tak dapat kunantikan lagi lanjut kisahnya
Karena pengarang telah memutuskan membunuh tokohnya
Aku mungkin hanya pembaca, namun aku tetap memiliki imaji akan buku itu...
Tapi pada akhirnya kuasa akhir ada pada tangan pengarang
Aku hanyalah penikmat dari semua itu...
Images

meledak seperti petasan


"Mengapa tidak bilang kalo bukunya sudah ada di jakarta. kalo bilang dari kemarin, aku pasti sudah beli buatmu" katanya memarahiku
"Kemarin kan aku sudah bilang bukunya sudah beredar di Jakarta dan Bandung. Memang tidak menyimak peecakapan kita?" balasku menanggapi.
"Iya-iya. Nanti aku beli dan aku titip ke Kak Tia. Besok buku itu sudah ada di tanganmu" katanya.
***
Itu percakapan kami kemarin pagi. Sejak ia mengatakan kalimat terakhirnya aku berubah jadi petasan (meminjam istilah kugi-perahu kertas- saat senang) yang siap meledak.
"Sudah ada di tanganku "MIMPI-MIMPI LINTANG : MARYAMAH KARPOV" tebaaaaallll sekali" smsnya.
Dia makin membuatku penasaran. Rasanya deg-deg'an menanti buku itu. Buku itu belum berdar di Makassar. dan aku sudah setang hidup menantinya. Bercampur suka cita dan penasaran. Aku menantinya layak koran pagi yang lebih pagi dari jam bangunku.
Namun, ternyata tak juga terkirim. "Sudah dapat bukunya?"tanya pagi tadi yang kujawab dengan belum.
"Aku saja yang ke sana mengambilnya" kataku yang ia iyakan.
Dan ketika buku itu telah di tanganku, hati meledak seperti petasan...BAHAGIA

(Teruntuk pria yang telah mengirimiku buku Maryamah Karpov. Yang begitu tulus mengirimiku buku ini.
meski dengan banyak paksaan dariku tetap berusaha hadir dengan cinta...

Dari Batavia dengan cinta...buku itu telah aku terima sayang..)
Images

mencoba tiap kesempatan


(this is not the last chance!!!!!!)

Mencoba tiap kesempatan dan selalu melihat peluang.
Menerima setiap kegagalan dan tetap menjaga ritme hati.
Tak tunduk pada asa yang hilang. terus menapaki tebing terjal.
Menata langkah sedikit sedikit. kadang jatuh.tak jarang lecet dan luka.
Mungkin juga patah dan harus diperban.
Tapi bukanlah hati selalu punya cara untuk menenangkan diri.....
Images

special thanks to echy


(Echy itu yang pakai jilbab putih.Dari kiri ke kanan adalah Icca, Echy, Dwi, Azmi)

"Hiks. Tidak ada namaku di blogmu" adunya lewat sarana selular.

(Benarkah? Rasanya aku menulis nama-nama setiap orang. Apakah aku lupa?)
"Maaf. Nanti saya edit dan tulis namamu" Jawabku menenangkan.
***
Dan ternyata aku memang tak menemukan namanya di blogku sesaat setelah aku online di Xtranet. Padahal dia yang paling setia menemaniku dan menyemangatiku sejak proposal hingga ujian kemarin. Dia juga yang selalu datang dan turut berempati ketika mama sakit. Dialah yang meminjamkan printernya untuk mencetak skripsiku dari sejak bimbingan hingga revisi setelah ujian.

Dia rela mendapat nasehat dari mama, bapak, dan kakak-kakaknya untuk segera selesai setiap kali aku ke rumahnya untuk menge-print draft skripsiku. Selalu menyediakan makan siang dan membiarkan kue-kuenya aku makan selama menunggu skripsiku yang sibuk diatur olehnya.
(hehehehe...jahat ya)

Teman itu bernama Decy Wahyuni....

Teman yang selalu ada kala aku sedih. Selalu menyemangati dan menanyakan kabar ketika aku telah lama tak menampakkan hidung di kampus atau tak memberi kabar di mana keberadaanku. Teman yang rumahnya telah menjadi rumah kedua bagi kami seangkatan sejak di menjadi maba di unhas. Selalu rela menjadi tempat mencari makan bagi aku dan teman-teman. Selalu membawa kue dan menyediakan coca cola pagi hari jika aku bertandang ke rumahnya. Ia selalu rela meminjamkan dapurnya untuk ide gila teman-teman seangkatanku untuk membuatku, buka puasa, dan acara makan-makan lain.

Ia kadang tak mampu ditebak, tertutup, dan begitu rapuh. Namun ia selalu berusaha untuk tetap ceria dan terlihat kuat. Selalu menjadi tempat pertama untuk semua pertolongan. Selalu menjadi penolong pada garis depan. Meski kadang tak jarang melakukan blunder, tapi ia selalu baik. Ia adalah malaikat berkacamata.
Echy...makasih ya...buat segalanya....

(kami takkan meninggalkanmu.
suatu saat nanti aku pun akan menungguimu di depan ruang ujian sayang)

(Tulisan ini tidak ditujukan untuk mengobati kecewamu, tapi ini adalah refleksiku atasmu...
sa sayang ki..)

Images

Thanks to…..


Teman-teman adalah semangat terbesar yang kupunyai saat ujian. Merekalah yang dengan setia menunggu diriku melahirkan di ruang ujian. Menungguiku keluar dan memberi selamat atas kelahiran skripsi itu. Dan pada mereka yang telah memberikan support aku ingin berterima kasih.

K Rahe, Ridho, Emma, Wiwie, Wulan, Uphie, Rani, Lina, Rahmat, Icca, Darma, Azmi, Witri, K Chendra, K Risna, K Kiki
(yang kutemui di depan ruang ujian)

Mbak Wuri, Baqir, Mamar,K Riza, Pam2, Lelaki Hujan (yang menyemangati meski tak bisa datang)

Wanto
(yang telah begitu baik mengirimiku pesan “1 soal ujian”-ternyata ia benar menanyakannya- dan telah bersedia diganggu untuk memasang LCD)

Dian dan Buyung
(rekan seperjuangan)

Ibu Ida dan pak Anchu (yang telah memanageri ujianku)

K Rahmad, Arya, Madi, K Harwan, Achie, Mace, Sari, Siska, Were, Nire dan semua orang di pasar (hehehehe, thanks doanya)

K Patang, Eki, Andis, Ani, Raiz, dan Teman-temannya
(yang menunggu di pondokan)

K Yusran (yang selalu menyemangati tiap detik dan selalu meng-sms ke hp teman2ku saat hpku tidak dapat dihubungi. serta selalu meledek dengan gelar “Dra”)

Etta, K Ipah, dan K Anti
(tempat kembali)

Mama di terasimaji…
(miss u mom)

Altar ego yang ada dalam pikiranku…..
Images

Barang-barang yang menemaniku saat ujian :


1. Jas almamater unhas yang kudapat saat bina akrab waktu aku maba. Yang menemaniku demo BBM 2005 lalu. Ia juga sempat kubawa ke bali untuk PJTL di unud (sempar bertukar kancing). Dan ia kembali lagi menemani saat ujianku (sampai ia dipakai kemarin satu kancingnya berlogo unhas satunya lagi berlogo widyagama).

2. Sandal jepit orange yang tali sudah hampir putus yang menjadi langganan teman kost-kostan untuk dipakai ke toilet.(saat tulisan ini di posting, sandal itu sudah putus...:(


3. Sepatu hak tinggi (lumayan tinggi menurutku) yang kubeli khusus untuk ujian ini.


4. Kemeja putih dan rok hitam sebetis yang telah diniatkan sebagai seragam ujian.


5. Notebook yang membantuku merekam tiap huruf dari skripsiku.


6. Tas jinjing warna orange yang kudapat dari sebuah peluncuran buku di kampus.


7. Dua buku pamungkas (jurnal tentang citizen journalisme dan makassar di panyingkul).


8. Draft skripsiku yang telah aku tandai dengan “post it” dan penuh coretan teori.


9. Ransel yang kubeli dari hasl THR dari seseorang.


10. Terakhir, my pathetic handphone yang telah mampu aku pahami waktu moodnya.
Images

it’s done honey


Akhirnya ujian itu aku lalui juga. Selalu ada imaji-imaji tentangnya sebelum aku benar-benar di situasi itu. Dan nyatanya imaji itu 50% tepat, 50% terlalu dibesar-besarkan oleh rasa pesimis yang selalu berada di hati.

Lima orang dosen yang menjadi pengujiku. Lima orang yang membuatku tersudut dan merasa begitu kecil di ruang berukuran 3 x 4 m persegi itu. Ruangan sempit dengan AC jadul yang begitu ribut menambah ketegangan. Satu persatu memberi tatapan yang begitu menikam. Senyum tipis sedikit-sedikit tertuju padaku. Yang bagiku seperti seringai yang begitu menakutkan. Mata-mata itu menatapku tajam. Percik-percik api di membara di sudut mata itu. Rasanya begitu kecil, bodoh, dan sangat tolol berada di ruangan itu.


Empat orang bertanya dan kesemuanya itu harus aku jawab. Hingga lidahku kelu dan tenggorokanku kering dan gatal. Kujawab dengan semua pengetahuan yang aku punyai saat itu. Kujawab hingga otakku tak lagi sinkron dengan gerak lidahku. Sampai aku tiba pada titik bahwa ku juga mulai tak mengerti pada apa aku jelaskan. Tiap jawab selalu didapati celah untuk salah. Membuat keder dan menyadari bahwa inilah saatnya untuk menjadi sasaran tembak.


tenanglah, hanya dua jam kamu akan di siksa dan berada di posisi terbodoh, setelah itu semuanya berakhir” petuah dari kakakku terngiang dikepalaku.
tersenyum sajalah. Ketika tidak tahu jawab saja dengan senyum dan anggukan kepala seolah-olah mengerti” pesan dari beberapa teman pun ku jalankan. Aku menemukan benang merah yang mengaitkan prasyarat untuk masuk dan keluar dari sebuah predikat mahasiswa. Sama-sama menguji mental. Ketika masuk, ospek adalah hal yang paling menakutkan yang harus dihadapi. Kemarin aku telah menemukan rasa ketakutan yang mampu mengimbanginya. Ujian skripsi. Meski berbeda konteks, namun dua-duanya menguji mental. Dan dua-duanya menggunakan dua pasal pamungkas :

1. panitia tidak pernah bersalah

2. jika bersalah, kembali ke pasal pertama


Dan selalu ada sosok yang bijak yang akan menemanimu di ketakutan itu. Dan aku pun memilikinya, pembimbing II yang begitu baik menyuntikkanku semangat. Dia tak bertanya sama sekali, hanya berkata “ saya puas dengan jawaban-jawabannya. Hebat”.


Seperti motor balap yang telah lelah mengelilingi lap yang tiba-tiba mendapat ban baru dan bahan baker. Seperti itu rasa yang tiba-tiba muncul. Visualisasi dalam film saat itu yaitu ketika ruangan itu terlihat kelabu, mencekam, dengan dinding es yang dingin tiba-tiba berubah warna. Perlahan bersemu merah, hangat, dan dinding-dinding es itu pun mencair.


Jika aku sanggup membuat sebuah perayaan awards. Maka beliaulah yang akan mendapatkan lifetime achievement award untuk dedikasi bimbingannya untukku.
Pak, terima kasih” Dan pada akhirnya aku bisa berkata pada diriku “it’s done honey
Images

Ma….besok saya ujian


Lima bulan lalu aku masih bisa mendengar suaranya lewat saluran telepon. Mengabarkan tentang seminar proposal untuk skripsiku.
“ ma…dwi besok seminar. Mohon doanya” pintaku
“ iye.pasti saya selalu doakan” jawabnya

Hari ini aku pun ingin meminta restu kepadanya. Handphoneku masih bisa aku pakai. Namun, suara itu takkan pernah aku dengar lagi. Suara yang akan selalu mendoakan untuk setiap ujianku. Yang di tiap sholatnya, ada namaku ia sebut di ujung doa. Aku rindu mendengar suara itu. Suara yang selalu memberi rasa optimis ditengah ketakutan yang muncul di hatiku. Suara yang mampu membuat jiwa ini tenang.

Aku hanya mampu mengingat gemanya yang terus mengiang di telingaku. Dan hari ini aku berusaha kembali mengingatnya. Sedikit-sedikit. Terdengar begitu kecil namun masih mampu aku dengar begitu samar…

Ma…besok saya ujian…teriring doa untukmu semoga engkau bahagia di sana……
Images

Di Gowa, Saya Kembali Ke Masa Lalu

Meski awalnya perjalanan ini hampir dibatalkan hanya karena sifat kekanak-kanakanku yang muncul (baca : ngambek), namun akhirnya aku dan Kak Yusran berhasil ke festival keraton nusantara ke VI di kabupaten Gowa. Rasanya seperti kembali ke masa lalu melihat berbagai ragam pakaian adat dan benda-benda pusaka zaman dahulu dipertontonkan.

Siang masih terik, ketika kami tiba di lapangan Syek Yusuf, Sungguminasa. Lapangan itu tampak dalam proses pembangunan. Menurut bupati Gowa, lapangan itu akan dibuat dengan standar internasional. Dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak, sebuah podium orasi untuk para demonstran, dan sebuah replika tutup kepala Syek yusuf yang sangat besar. Bangunan menyerupai songkok itu akan dijadikan sebagai museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah.

Waktu telah menunjukkan pukul 3 siang, kirab para anggota keraton/kerajaan yang berjumlah sekitar 30 kerajaan molor dari jadwal pukul 2 yang ditetapkan. Sambutan masih terdengar lama karena sang bupati masih menjelaskan mengapa ia menggusur orang yang menempati Balla Lompoa yang masih merupakan keturunan ke 36 dari Raja Gowa, Andi Ijo Karaeng Laloang di podium di depan para keturunan raja dan sultan yang ada di seluruh nusantara.

(ini foto saya bersama kesultanan ternate. perempuan disampingku itu memakai baju adat pengantin ternate. manis kan)

Kami memilih untuk berkeliling melihat-lihat peserta kirab. Meski bupati Gowa sibuk menyampaikan sambutan, para peserta kirab juga sibuk sendiri dengan aktivitas mereka. Mereka saling berkenalan antara keraton/kerajaan. Berfoto bersama dan melayani para pennonton yang ingin berfoto. Kami pun salah satu diantara orang-orang yang ingin mengabadikan berfoto dengan para peserta kirab yang memakai pakaian adat masing-masing.

(ini peserta dari kesultanan yogya...hehehehe)

( nah, ini foto bareng dengan peserta dari kerajaan banten.Mereka pemanah...hati-hati:)

Masing-masing keraton/kerajaan berusaha untuk memperlihatkan atribut kerajaan mereka. Mulai dari pasangan pengantin, parade para menteri-menteri,hingga pemuka agama tiap kerajaan. Mulai dari panglima perang yang gagah, prajurit-prajurit lelaki dan perempuan, hingga pasukan kuda dan meriam tiruan. Mereka berusaha menunjukkan kebolehan kerajaan masing-masing. Misalnya, pasukan kuda dari kerajaan Ternate, prajurit perempuan pengecoh dari Cirebon, Bissu dari Wajo, hingga simulasi silat dan pukul sapu.
(ini bareng keraton purikarangasem bali, manis dan gagah)

Tak lupa mereka juga menampilkan tarian-tarian terbaik dari kerajaan masing-masing. Kirab pun diiringi narasi dari narator yang dipersiapkan tiap kerajaan yang menjelaskan kejayaan masing-masing kerajaan di zaman dahulu. Bahkan tak sedikit yang juga mewacanakan untuk pemekaran dalam narasinya. Misalnya keraton Buton dan kerajaan Luwu yang berencana menjadi provinsi.
( menteri dari kesultanan buton....)

Masing-masing peserta kirab memberi penghormatan kepada raja-raja mereka di depan podium. Seperti melaksanakan upacara singkat untuk meminta ijin dari para rajanya. Tiap keraton/kerajaan masing-masing memiliki tata cara yang berbeda dan unik yang memberikan nuansa yang kuno terhadap acara ini.

Ada hal yang hampir sama pada beberapa kerajaan. Misalnya parade pencak silat yang dipertunjukkan beberapa kerajaan. Baju-baju prajurit yang mirip-mirip dengan pakaian penjajah belanda saat itu. Menurut Kak Yusran, hal ini disebabkan karena belanda lah yang kemudian mengajarkan suatu sistem dan tata pakaian waktu masa lalu pada kerajaan itu. Sangat kental pengaruh Belanda pada tata busana prajurit. Misalnya kerajaan Kutai yang sangat mirip dengan baju prajurit Belanda. Alat musik tiup yang mereka miliki pun hampir sama. Seperti terompet dan suara yang dihasilkan pun relatif sama.



Terus terang, daya tangkapku terhadap sejarah begitu buruk. Aku tak mampu menghapal letak geografis kerajaan-kerajaan itu. Kadang aku berpikir misalnya kerajaan yang harusnya ada di jawa, aku pikir bertempat di sumatera. Hahahaha

Aku pun kadang berpikir zaman dahulu, hanya lelaki yang berperang dan mempertahankan kerajaan. Namun, parade kemarin memprlihatkan padaku bahwa ada juga prajurit-prajurit wanita yang juga berjuang. Dari kerajaan Banten hingga
kedatuan Luwu di Sulawesi. Mereka memiliki prajurit-prajurit wanita.

Festival ini menjadi ajang untuk melestarikan kerajaan/keraton yang ada di nusantara. Namun, tampaknya festival ini tampak tidak begitu maksimal. Di area pameran di kompleks Balla Lompoa, sampah bertebaran. Kursi-kursi tidak teratur, dan arena pameran belumlah merepresentasikan kerajaan/keraton masing-masing. Mungkin juga karena acara ini baru dimulai dan tiap kerajaan/keraton belum menata ulang stand mereka.

Sayangnya, di akhir kirab tak kutemukan kerajaan dari daerahku. Kerajaan Bone. Padahal kerajaan Bone salah satu kerajaan terbesar di Sulawesi Selatan. Mungkin karena pemda di sana tidak begitu memperhatikan acara-acara budaya. Entahlah….:-(

Fesitival ini akan lebih baik lagi, jika panitia menyiapkan semacam buku panduan tentang keraton-kerajaan yang mengikuti festival ini. Sehingga festival ini tidak sekedar menjadi sebuah seremonial artifisial namun juga memberi pengatahuan pada orang-orang yang ingin lebih tahu tentang kerajaan/keraton di nusantara sepertiku.

Mungkin tak hanya festival keraton saja yang harus diadakan. Perlu pula mengadakan festival masyarakat adapt yang ada di Nusantara. Pasti akan lebih banyak dan lebih beragam. Usulku, mungkin perlu pula dibuat buku kerajaan/keraton yang ada di seluruh nusantara.
Akan memberikan sebuah warna yang indah dalam budaya nusantara.
(berikut foto-foto yang sempat terabadikan)
(perempuan Bali yang ayu)


(prajurit perempuan pangecoh dari kerajaan cirebon, kurang tahu kerajaan yang mana)

Semoga festival keraton VII,
dua tahun yang akan datang akan aku saksikan lagi…..

sampai ketemu…

(kost-kostanku yang sudah di bayar-16 November 2008)


Images

My last final


Akhirnya aku ujian Rabu, 19 November ini.
Telah lama aku menunggu teman-teman yang siap ujian.
Dan akhirnya final terakhirku di kuliah strata satu akan segera ku jalani.
Mohon doa dan dukungan teman-teman semua.
Semoga aku bisa melaluinya dengan baik dan mendapatkan nilai A.


Amien

(dalam doaku, 16 November 2008)
Images

Langganan Koran pertamaku


Aku langganan koran. Sok kaya kedengarannya, mengingat aku sama sekali tak punya penghasilan tetap untuk membayarnya. Namun ternyata aku melakukannya juga. Dengan beberapa pertimbangan.

Tak ada televisi di kost-kostanku. Otomatis kanal-kanal informasi tertutup. Fasilitas hot spot yang ada di kampus hanya aku manfaatkan untuk buka email, up load tulisan di blog, dan membuka situs pertemanan. Membaca lewat komputer membuat mataku cepat lelah. Pertimbangan selanjutnya adalah, aku harus mulai membiasakan diri untuk membaca lagi. Aku memiliki kebiasan hanya membaca novel. Untuk hal-hal lain aku tak baca. Berlangganan koran membuatku bisa melatih semua itu…

Kak Yusran pun menyetujuinya. Dan lagi harga berlangganan untuk mahasiswa hanya Rp. 50.000. Aku memilih Koran Kompas. Mengapa? Karena aku suka edisi hari minggunya, bisa belajar menulis dari liputan dan tulisan para penulis, dan lumayan tebal. Selain itu ada info karier di tiap weekendnya. Hehehehe…

Dan akhirnya, aku pun memulai hari dengan membaca Kompas. Jika pada sebagian orang menganggap koran sebagai sarapan, aku mungkin lain. Koran bagiku sebagai alarm untuk membuatku bangun. Kompas terselip di bawah pintu kamarku jauh sebelum saya benar-benar terbangun kala pagi….


(Sendiri dikamar kost-kostanku yang sudah dibayar
- ketika Kak Yusran sudah ke Jakarta, 16 November 2008)
Images

My phatetic cellphone


Handphoneku rusak. Belum terlalu parah namun telah mulai menghambat komunikasiku dengan orang lain. Angka 7 selalu muncul di layarnya. Beberapa tombol tidak berfungsi. Dan tak dapat digunakan untuk mengirim pesan. Itu bila kumat. Namun, kadang ia kembali membaik dan normal seperti tak ada masalah.

Nokia 8310 menjadi tipe handphoneku. Tipe yang dulunya sempat berjaya di masanya. Harga awal yang Kak Anti beli mencapai kisaran 2jutaan. Namun, itu dulu. Beberapa tahun lalu. Kini ia harus tersaingi dengan ribuan tipe baru dari puluhan merek handphone. Bunyinya yang mencicit tak lagi bisa bersaing dengan nada dering musik dan lagu….

Tapi, meski ia telah tua dan renta untuk ukuran hp di usianya sekarang, ia tetaplah begitu berharga. Ia menemani dua kakakku yang pacaran. Dan sekarang aku yang telah menjalani hubungan hampir empat tahun. Ia menjadi saksi bisu dalam perjalanan pacaranku yang long distance. Mendengar dan merekam secsra diam-diam pembicaraan-pembicaraan pribadi dan bukan konsumsi umum.

Sekitar 150 sms dari pacarku yang kusimpan di foldernya. 150 pesan itu terancam hilang jika handphoneku rusak. Aku terpaksa harus menyalinnya ke buku harian, agar sms itu tetap masih bisa dibaca anakku kelak, sambil bertutur pada mereka
“ayahmu dulu itu…….”

Aku sangat berharap hp itu bisa bertahan hingga aku bisa membeli handphone baru. Sepertinya aku harus memutar otak untuk mencari uang….

(kost-kostan yang sudah harus dibayar, 12 November 2008)
Images

Ketika mimpi-mimpi terpenuhi


Aku harap setelah ujian, kita bisa makan malam di Café La Galigo. Ucapku dulu lewat sarana selular yang selalu dipastikan akan selalu kamu iyakan. Namun, tampaknya kedatanganmu kali ini tak bisa menemaniku hingga aku selesai ujian. Kamu harus segera ke Jakarta untuk menyelesaikan hal yang sama….

Tapi kali ini janji itu kau tepati meski dengan sedikit perubahan skenario. Dari sedikit honor yang kamu dapat dari menjadi pemateri dalam pelatihan para caleg perempuan dan sebuah ketaksengajaan kita melalui Café itu, dan akhirnya kamu menepatinya. Jauh dari scenario yang ada dalam imaji. Sebuah makan malam romantis dengan lilin kecil dan pendaran lampu yang indah. Namun, rasanya tetap sama, BAHAGIA.

Kamu selalu menjadi tempat kembali untuk setiap lelahku. Ketika aku ingin lupa, kamu bisa membantuku melupakannya. Dan ketika aku ingin mengingat, dan tetap ada dirimu yang selalu mengingatkan.

Dan hari ini kita akhiri dengan kembali menikmati Laskar Pelangi. Film yang telah tiga kali aku tonton dan dua kali untukmu. Tapi kesan yang ada tetaplah berbeda. Karena kali ini ada kamu di sisiku, menemaniku berdiskusi dan bercanda…..

(kost-kostan yang sudah harus dibayar, 12 November 2008)
Images

perempuan dan mimpi liarku

Hari ini aku jatuh cinta pada perempuan. Pada sebuah angkot dengan tujuan BTP di perempatan alun-alun kota makassar. Tinggi sekitar 160 cm, setinggi diriku. Namun, ia tampak lebih tinggi dengan sepatu high heels 5 cm. aku tak pernah melihat wajahnya. Aku jatuh cinta pada punggung, pinggang, betis yang berstoking warna kulit, dan rambutnya yang sedikit berwarna kemerahan pertanda ia telah mengecat rambunya. Aku tepat duduk di sampingnya. Dan ia membelakangiku. Ia memakai baju bercorak batik. Ngepas di badannya yang ramping. Dipadukan dengan rok sempit di atas lutut. Sebuah arloji bermotif gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang putih. Tas bahu berwarna kuning dengan ornament berkilauan tampak pas dengan gelangnya. Tak luput sebuah nating perak berbentuk mahkota dan dilingkari sebuah gelang kecil menempel di telinganya. Aku hanya melihat sisi pipi kirinya. Ia membuatku berpikir hari ini.

Ia membuatku berimaji liar tentang perempuan. Ia membuatku tiba-tiba berpikir perempuan yang ideal yang aku inginkan. Pekerjaan apa yang ingin aku lakukan. Pemikiran ini seratus persen adalah sebuah eksplorasi subjektif dari diriku yang telah menerima segala informasi dan doktrinisasi tentang perempuan dari berbagai sarana informasi dan hanyalah sesuatu yang hanya mengideal dalam imajiku. Semua berbenturan antara realitas perempuan, imaji perempuan, dan benturan media tentang perempuan.

Aku telah menemukan sebuah gambaran tentang pekerjaan yang kurasa cocok untukku sebagai perempuan. Aku ingin ia adalah penggabungan antara feminitas perempuan dan maskulinitas lelaki. Aku ingin melakoni keduanya. Tak condong ke salah satunya. Aku ingin sebuah perkerjaan yang bisa membuatku mengeksplor kecantikan akan diriku sebagai perempuan. Aku dengan bebas bisa berdandan. Memakai aksesoris layaknya perempuan anggun yang selalu berada di balik ruangan berAC. Memaai stoking, baju kantoran, dan memakai perhiasan layaknya wanita karir. Tampil anggun. Namun jika ada sebuah pekerjaan yang mengharuskan saku turun lapangan, pakaian dinas lapangan pas juga untukku. Memakai sepatu kets, baju kaos besar, terkena sinar matahari, dan mampu melakukan hal-hal yang juga bisa dilakukan para lelaki.

Mungkin ini sangat berpatokan pada appearance. Tapi menurutku, tampilan luar begitu berarti bagi perempuan. Avril mungkin pada awalnya begitu senang memakai jeans kucel, T-Shirt ketat, sebuah dasi, dan topi di kepalanya. Itu dulu. Waktu ia usia beasan tahun. Sekarang mungkin ia telah memiliki persfektif yang lain tentang prempuan. Dan aku pun seperti itu. Pada akhirnya berdandan dan tampil cantik menjadi sebuah yang menjadi prioritas. Tapi kecerdasan pun juga selalu harus berada di urutan teratas dari semua itu. Keinginan untuk terus mencari tahu, mengeksplorasi, membaca, dan menulis adalah sebuah keharusan yang harus pula aku lakoni….


(komentar penulis : sangat perempuan dan sangat terpengaruh media..hehehehe;)
Images

gelisah :-(

Seperti Ada Rasa Takut Yang Menyusup
Sedikit Demi Sedikit Mengelabu Di Hati....
Images

Mahasiswa di TPS 16 tamalanrea

Pemilihan umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia merdeka…..

Bait lagu yang dulunya sering terdengar di program berita malam jelang pemilu di TVRI bisa menjadi soundtrack yang cocok untuk keadaan Makassar (Rabu, 28 oktober 2008). Makassar menggelar pemilihan untuk memilih calon walikota secara langsung untuk pertama kalinya. pemilihan walikota makassar untuk periode 2008-2012 yang menjadi ikon sebagai bentuk partisipasi demokrasi masyarakat dalam politik mungkin begitu berarti bagi sebagian orang, namun mungkin juga tidak berarti bagi orang lain.

TPS-TPS (tempat pemungutan suara) untuk sarana pemilihan suara tersebar di tiap sudut kota. Kecamatan Tamalanrea pun tak ketinggalan. Khususnya di sekitar kampus Unhas yang mayoritas warga yang bertempat tinggal di area ini adalah mahasiswa. Saya pun termasuk dalam daftar wajib pilih tersebut. Meski sebenarnya, saya pun terdaftar di kampung saat pemilihan bupati April 2007 lalu. Dua hari kemarin surat undangan untuk datang memilih di TPS 9 telah sampai di tanganku bersamaan dengan undangan-undangan untuk teman-teman pondokanku yang lain.

Rabu, Pukul 10 pagi kawasan jl. Politeknik Unhas masih tampak lengang. Tak ada aktivitas mahasiswa yang begitu mencolok yang menunjukkan antusiasme mereka untuk datang ke TPS. Ada tiga TPS di sekitar kompleks Unhas. TPS 16 yang bertempat di depan Departemen Sosial. TPS 9 yang berada di dekat workshop Unhas, dan TPS 11 di kawasan perumahan BTN Asal Mula.

Saya bersama Surahmat Pakaya (Kak rahe) merupakan satu dari sedikit warga dari JL.Politeknik Unhas yang antusias untuk memilih. Kami memiliki undangan memilih di dua TPS yang berbeda. Saya di TPS 9, sedangkan Kak Rahe di TPS 11. Namun, atas informasi dari ibu Farida, salah seorang warga dekat pondokanku, kami bisa memilih di TPS terdekat. Kami pun lantas memilih di TPS 16 yang berdekatan dengan pondokan kami.

TPs 16 berada tepat di depan Departemen Sosial. Di belakang gardu-gardu seng yang menjual berbagai perlengkapan mahasiswa. Mulai dari pulsa, rental pengetikan, hingga fotokopi di pinggir jalan raya di perintis kemerdekaan Km. 10. TPS ini hampir tak terlihat dari jalan raya. Papan petunjuk tentang TPS itu hanyalah sebuah karton berukuran A4 yang dipasang di tiang listrik bergambar anak panah dan sebuah kertas kuarto yang bertuliskan TPS 16 di sisi bawahnya. Seandainya tak ada seorang yang berpakaian hansip di dekat papan petunjuk itu mungkin tak ada yang menyadari keberadaan TPS tersebut.

Meski matahari telah memanas dan waktu menunjukkan pukul 10.30, namun kondisi TPS masih sepi. Yang ada hanya enam orang petugas KPPS dan tiga orang saksi dari para kandidat. Hingga siang itu baru empat orang yang datang memilih. Kami yang memiliki undangan dari TPS lain terpaksa menunggu untuk pengecekan daftar pemilih. Untungnya kami tetap diberi kesempatan memilih di TPS tersebut dan dicatat dilembar terpisah sebagai pemilih yang berasal dari TPS lain.

Dari Daftar pemilih kacau hingga golput

Daftar pemilih tetap di TPS 16 sesungguhnya berjumlah 568 wajib pilih yang tersebar di sepanjang jalan Politeknik Unhas, kawasan perumahan BTN Antara hingga jalan Sahabat. Bahkan ada juga pemilih yang terdaftar dengan alamat mesjid Kampus dan Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM). Mayoritas pemilih adalah mahasiswa yang tinggal di pondokan. Mulai dari pondok Jihad hingga pondokan yang berada di bagian dalam BTN Antara.

Namun yang datang memilih di TPS 16 sepanjang pemantauan kami dan informasi dari Komite pelaksanaan pemilu boleh dihitung jari. Jika diasumsikan bahwa pemilih wajib yang terdaftar memilih untuk mencoblos di TPS terdekat dari pondokan atau kost-kostan mereka, artinya bahwa dapat di bagi menjadi tiga wilyah TPS. Diantaranya TPS 16 yang mengkapling daerah di sekitar Jl. Politeknik. TPS 9, yang pemilihnya bertempat tinggal di sekitar workshop Unhas, dan TPS 11 untuk pemilih yang berada di sekitar BTN asal-mula dan BTN Antara. Namun untuk TPS 16 saja sampai pukul 12 siang, pemilih yang datang untuk menggunakan hak suaranya lebih banyak dari kalangan warga biasa, bukan mahasiswa. Menurut anggota KPPS TPS 16, daftar wajib pilih tersebut banyak yang double di TPS lain. “Bahkan di TPS 15, daftar wajib pilihnya persis sama dengan daftar di TPS 16” terangnya

Mahasiswa memang diindikasi sebagai kalangan yang paling banyak menyumbang suara untuk golongan putih (golput). Hasil survey KPU Jember menemukan 90% mahasiswa di Jember lebih memilih golput dari pada memilih (Radar Jember,Senin 21 juli 2008). Dr. Mansyur Semma (alm) dalam kuliahnya, komunikasi politik menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan orang memilih golput, diantaranya ia memiliki kesadaran politik dan paham akan sistem politik. Mereka memilih untuk menjadi golput kerena menilai kandidat yang ada tidak cocok untuk memimpin. Selanjutnya bisa jadi mereka adalah orang-orang yang mapan secara sosial dan ekonomi sehingga tidak bergantung pada situasi politik. Golput pun menjadi pilihan untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan kekecewaan terhadap sistem politik.

Namun selain faktor itu, faktor lain pun bisa menjadi sebab mereka golput. Bisa jadi mereka terpaksa golput karena tidak terdaftar, tidak memiliki kartu pemilih atau tak memiliki undangan. Atau karena mereka memang malas untuk memilih dan tak peduli dengan politik. Faktor terakhir ini bisa jadi menjadi alasan bagi para mahasiswa untuk tidak memilih. Seperti yang diakui oleh Jumriani, mahasiswa farmasi 2006, ia tidak menggunakan hak pilih dengan alasan tak peduli dengan politik. Mahasiswi asal sengkang ini pun terdaftar di kabupaten sengkang yang juga mengadakan pemilihan bupati bertepatan dengan pilkada di makassar. Namun, tak satu pun dari dua pesta rakyat itu yang dihadirinya.

Persentase suara golput memengaruhi jumlah persentase suara dari kandidat. Website pemilu2004.goblogmedia.com menjelaskan bahwa untuk menghitung persentase pemenang pilkada yaitu dengan cara jumlah suara yang diperoleh dibagi dengan jumlah surat suara sah dikali 100 persen. Surat suara sah jika yang dipilih hanya satu kandidat calon. Sedangkan surat suara yang tidak sah jika tidak ada satu kandidat pun yang dicoblos atau mencoblos lebih dari satu kandidat.

Jika daftar pemilih 100 orang kemudian semua menggunakan hak pilihnya secara sah dan dan suara untuk kandidat A adalah 40 suara, maka persentase yang didapat adalah 40%. Sedangkan jika dari 100 pemilih yang terdaftar hanya 50 orang yang memiliki surat suara sah dan jumlah suara yang diperoleh adalah 40 suara maka persentase adalah 80%. Naik 40% jika dibanding jika semua orang menggunakan hak pilihnya. Jadi sesungguhnya ketika seseorang tidak menggunakan hak pilihnya, maksa suara golputnya akan terbagi pada beberapa kandidat dan memberi peluang kepada kandidat dengan suara terbanyak untuk memperoleh persesntase yang lebih tinggi.
Sesungguhnya untuk kalangan yang berminat golput ada dua jalan yang bisa mereka tempuh yaitu tidak mendaftarkan diri sebagai pemilih atau menggunakan hak suaranya tanpa memilih atau mencoblos, atau abstain dengan membuat surat suara yang tidak sah saat di bilik suara.
Golput pun adalah sebuah pilihan. Ia hanyalah sebuah jalan untuk membentuk kesadaran publik dan politik. Ketika persentase golput sangat tinggi maka perlu dipertanyakan bagaimana kepercayaan masyarakat pada sistem politik yang ada.

Mereka yang memilih

Meski sedikit, namun ada juga mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Eki misalnya, mahasiswa hukum, Unhas 2006 melihat bahwa pemilihan langsung adalah saat dimana warga negara ikut berpartisipasi dalam demokrasi. “ saya ingin menggunakan hak pilih sebagai warga negara yang baik ”jelasnya.

telah memiliki pasangan kandidat yang pas untuk pilihannya. Ia menilai pasangan kandidat tersebut berdasarkan visi misinya. Seperti halnya Eki, Ajie (mahasiswa fakutas hukum Reso 2006) juga menggunakan hak pilihnya. Ia memilih pasangan kandidat yang visi misinya sangat baik untuk Makassar ke depan. “ saya memilih seorang kandidat karena saya sangat berharap ia mampu menepati janjinya” terangnya.

(dwiagustriani dan surahmat pakaya)
Images

mencari oase.....

aku selalu mencarinya....
tempat yang mampu memberi rasa damai ketika hati resah dan jiwa terhempas...
aku selalu menciptakan oase-oase di perjalananku

ia ada, tapi kadang abstrak dan tak kasat mata
ada kala dia begitu dekat dan mampu melepaskan dahaga

namun tak jarang ia jauh meski tenggorokan ini telah mengering
aku lelah....aku tak punya lagi tempat untuk singgah

perjalanan ini semakin jauh dan oase tak lagi aku temukan
mungkin saatnya aku selesai...mengakhirinya

dan membawa bekal minumku sendiri
seperti para penguasa padang pasir....

(lagi sedih dan tak ada yang benar-benar mampu hadir untuk sekadar datang
mengusap kepala dan mengatakan " tenanglah semua baik-baik saja)

-aku merindukan pangeranku-
lama kita tak tersentuh, aku merindukanmu....sangat rindu
bukankah kamu adalah pria pertama yang mengisi hati ini
tak terganti dan takkan terganti....
Images

ribuan rasa hadir di sini...di hati

hari ini sedih mengisi hati. ia tak lupa mengajak kecewa di sana. marah juga ikut-ikutan. ia hadir membawa rasa tersisihkan. tak kalah saing rasa terbuang pun turut andil. ada juga rasa cemburu. semua hadir menyesakkan hati....berdetak bersamaan...

hidup di hatiku...berdetak satu...satu...demi...satu...

ini negatif...jiwaku berontak....sesekali mata ingin menyerah untuk membiarkan saja cairan bening itu tumpah...tapi jiwa mengatakan "TIDAK"
"jangan pernah menangis untuk hal ini..."katanya

rasa itu terus mengiris hati. tapi jiwa dengan kukuh terus bertahan. memberi suply energy. sedikit rasa tenang terus ia kirimkan untuk hati. bisikan-bisikan cinta terus ia kumandangkan dengan lembut. rasa damai pun turut hadir ditiap bisikan itu. jiwa adalah sisi terkuat yang aku punya. di saat sekarang saat aku benar-benar merasa tak berbuat apa-apa dan sudah tertinggal begitu jauh....


perlahan...sedikit demi sedikit. seperti adegan lambat dari sebuah film....
hati memperbaiki rasa. sedikit ia terasa tawar, kemudian terasa manis dan kemudian tenang dan damai. hati telah menjadi pemenang hari ini...
dari semua rasa-rasa yang kurang membahagiakan....ia telah mampu tersenyum dan banyak tertawa....
mata itu kembali berbinar....seperti kristal-kristal bening berbinar...

ia telah menjadi jiwa yang tenang...dengan cinta dan kekuatan yang ia miliki sendiri...
Images

"pertemuan "

“aku kadang berpikir bahwa pertemuan kedua akan selalu mengecewakan. Kita selalu punya ekspektasi begitu indah tentang pertemuan itu dan kadang realitas tak berjalan sesuai mimpi kita” (terkirim pagi hari)

“jika kuharus bermimpi, untuk dapat memandangmu…maka jangan bangunkan aku dari tidur lelapku……aku berpikir tentang smsmu tadi pagi….” (masuk di inboxku sore ini)

Aku tak membalasnya. Semua kata tak mampu mewakili rasa hari ini. Rasa tentang aku dan kamu. Ribuan imaji tentangmu menari di sudut otakku. Ada sebuah keinginan kuat untuk membalas pesanmu itu…tapi kali ini aku ingin membuatnya begitu saja….

aku selalu merasakan ini. Ditiap perjumpaan dan perpisahan. aku selalu menciptakan imaji tentang sebuah perjumpaan. Menunggu saat itu dengan jantung yang berdebar dan napas yang tak beraturan. Ribuan imaji tergambar di benakku. Memperlihatkan scene-scene yang akan aku lalui denganmu. Tapi….aku pernah merasakan perjumpaan yang menyakitkan.

Perjumpaan yang aku buat dengan begitu indah di imaji. Penuh tawa dan tak menyisakan tangis. Tapi realitas berbicara lain. Perjumpaan itu kemudian berlalu begitu saja. Tak ada kesan atau sebuah upaya indah yang berusaha untuk di akhiri dengan sempurna. Semua kacau, semua di luar bayanganku. Kalo aku bisa memutar waktu dan tak berada di tempat itu untuk berjumpa kembali, aku ingin melakukannya. Ia akan tetap begitu indah di sana. Tapi sekarang, semua berantakan. Aku hanya berusaha mengatur kembali puing-puing imaji. Tetap berusaha merekatnya meski ia tak lagi sesempurna dulu.

Waktu telah merubah segalanya. Aku, kamu, dan semua yang berpijak di bumi ini. Waktu mengikis perlahan apa yang telah kubuat dan telah kutorehkan kesan. Dan aku masih tetap berpijak di masa lalu dan membuat ekspektasi dengan kenanga itu. Aku lupa pada hukum waktu yang mengubah segala. Ribuan hari telah terlewati. Dan tiap hari selalu memberi kenangan yang terus menghimpit kenangan yang lalu.

Aku selalu takut pada pertemuan kedua. Cukup sekali saja aku kecewa. Aku sudah cukup terluka dan begitu cengeng tak mampu menghadapi realitas. Imaji tentangmu selalu ada ditiap hariku. Membayangkan apa yang kamu lakukan, sedang apa kamu detik ini. Apakah kita melakukan kebetulan yang sama. Aku pun selalu membayangkan perjumpaan yang indah. Berbaring dan menatap langit bersama. Menulis catatan-catatan perjalanan. Aku selalu berbahagia mampu memiliki imaji itu. Ia selalu mampu membuatku begitu optimis untuk terus berusaha menantang matahari.

Di satu sisi aku tetap ingin membuatnya tetap seperti itu. Tapi di sisi lain rindu padamu begitu membuncah. Ada ruang di hati yang juga rindu ini berbalas. tapi aku masih takut bertatap muka dengan realitas. Mimpi selalu indah dan relaitas begitu tidak mampu dikompromikan……

Aku pun mendengar lagu yang sama yang kamu dengar. Pilihan yang kita punya sekarang adalah terus tertidur dengan begitu bahagia atau bangun dengan menemukan kenyataan yang akan (mungkin) membuat kita kecewa…..


Images

dua bab terakhir perahu kertas

Aku kembali membaca perahu kertas. Tsk berurut, hanya melihat seklias-sekilas halaman dan ceritanya. Dan aku masih saja mampu ikut terbawa pada tiap tutur kalimat yang dirangkai DEE.

Dua bab terakhir…
Bab 11,
di ubud mereka bertemu. Tidak berdua, namun berempat. Ada kaku diantara mereka. Namun hanya kugi dan keenan yang mampu merasakannya. Detik seolah berhenti berdetak dan bumi berhenti berputar.
Mereka seperti dulu, seperti di awal pertemuan mereka. Namun kali ini tak ada lelucon yang bisa mereka umpankan untuk mencairkan suasana.
***
“Aku mencintaimu”terang lelaki itu. sejak kita bertemu di stasiun itu. aku tahu aku telah mencintaimu saat itu….
Perempuan itu tak mampu berkata, napasnya tertahan. Ia kembali mengingat stasiun itu empat tahun lalu.saat ia meneriakkan nama seorang lelaki, dan lelaki di hadapannya sekarang adalh sosok itu. ingin rasanya ia menuka semua hal yang dimilikinya untuk kembali ke saat itu.
“aku juga menyayangimu. Namun, ketika aku tahu kamu mau di comblangin ke wanda aku mundur. Aku menjaga jarak darimu….”
“aku juga tak ingin menganggu hubunganmu dengan Joshua…”
“dan akhirnya kita bertemu di sini, dengan kisah yang lain. Namun masih tentangmu dan tentangku. Dan tentang orang-orang aku dan kamu cintai”
……..

Bab 12,
“apakah semua telah terlambat???apakah aku boleh meminta pada waktu untuk kembali berputar dan membawa kita ke empat tahun yang lalu” Tanya lelaki itu
“ kita telah sejauh ini membawa rasa yang tumbuh perlahan empat tahun lalu. aku masih berharap bisa terus bermimpi dan mengejarnya bersamamu. Namun kita hidup di planet realitas. Dan sesungguhnya kamu hanyalah pangeran di negeri dongengku. Kamu pun begitu. Kita sama-sama telah menemukan orang-orang yang mencintai kita secara nyata. Dekat, dan terjangkau.”
“ aku hanya ingin kamu tahu aku mencintaimu. Meski aku tahu semua telah terlambat”
“aku juga mencintaimu…..tetaplah rasa yang kita punya seperti ini. Tak berubah.”
(ukiran KK itu menjadi penutup kisah ini. Pada akhirnya pahatan itu menjadi benda yang mengabadikan kisah cinta KK. Dan ukiran itu ada ditangan yang tepat…entah siapa)

That’s all folks….tapi ini dua bab terakhir versi aku sendiri. Buat para pambaca perahu kertas, yuk bikin ending cerita menurut kita masing-masing. Pasti cerita akan beragam sambil nunggu versi yang sebenarnya dari DEE…..

(buat DEE, cepatan dunks keluarin perahu kertas edisi lengkap.ga sabar nih nungguin kisah KEENAN dan KUGI)
Images

diskusi foto, skripsi, dan blog serta rasa cemburu

ini adalah diskusiku bersama kak yusran lewat YM. tentang fotoku, skripsiku, dan blog serta sedikit rasa cemburu darinya.....

dwi_darmawan2004: gimana????
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: maksa
timurangin: iya
timurangin: manis sekali ki
dwi_darmawan2004: bohong
dwi_darmawan2004: kenapa pale ketawa
dwi_darmawan2004: lama loading
dwi_darmawan2004: tunggu ya
timurangin: manis sekali ki
timurangin: cuma agak aneh
dwi_darmawan2004: hiks
dwi_darmawan2004: apa yg aneh
timurangin: saya serasa tidak mengenalimu
dwi_darmawan2004: oh tuhan
dwi_darmawan2004: saya sj tidak mengenali diriku
timurangin: apapun itu, tetap manis ki
dwi_darmawan2004: kakak jangan putuskan ka
timurangin: manis sekali adikku
dwi_darmawan2004: hahahaha
dwi_darmawan2004: aku foto jas sj ya?
dwi_darmawan2004: ato pake itu sj?
timurangin: bagusmi itu kok
timurangin: serasa melihat Nyai Ontosoroh
dwi_darmawan2004: akan jadi bahan callaan dimana2
dwi_darmawan2004: hahaahahaha
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: baca ki blog ku
dwi_darmawan2004: ada kesan2ku di situ
timurangin: saya serasa melihat wanita dalam novel Bumi Manusia
dwi_darmawan2004: itu calla ato pujian???
timurangin: pujian
dwi_darmawan2004: makasih
dwi_darmawan2004: engkau selalu menerimaku apa adanya

(diskusi skripsi)

dwi_darmawan2004: saya kirim ke email ta.
dwi_darmawan2004: buka miki
BUZZ!!!
BUZZ!!!
timurangin: iye
timurangin: sy buka skarang
dwi_darmawan2004: tolong baca sekilas di bagian yang baru kita liat dan tanggapi
timurangin: tunggumi
timurangin: sy lagi download
dwi_darmawan2004: ok
timurangin: sudah baca
dwi_darmawan2004: trus
timurangin: saya rasa udah memenuhi syarat untuk jadi Dwiagustriani S.Sos, M.Si
dwi_darmawan2004: ooooo
timurangin: sudah menjawab pertanyaan penelitian
dwi_darmawan2004: jangan ki bercanda
dwi_darmawan2004: saya bukan yusran darmawan
timurangin: saya serius
timurangin: sudah bagus sekalimi
dwi_darmawan2004: yang ujian proposal dilihat sm asistennya ong hok ham
dwi_darmawan2004: apa yg perlu ditambahkan
timurangin: sudah bagusmi
dwi_darmawan2004: kalo terawang yusran darmawan calon megister, apa yang masih kurang?
timurangin: wawancara kontributor
timurangin: apa mereka nda keberatan nama lengkapnya ditulis?
timurangin: nda apa-apa ji
timurangin: saya sudah baca semua
dwi_darmawan2004: nda ji kayaknya
dwi_darmawan2004: sy sdh izin
dwi_darmawan2004: trus mereka kasi ji
timurangin: pertanyaan penelitian sudah dijawab melalui gambar tersebut
dwi_darmawan2004: tapi bagusnya gmana?
dwi_darmawan2004: blum dwi gambar yang model citizen journalisme
timurangin: kutipan-kutipan nda usah kasih font 11timurangin: tetap saja font 12, cuma kasih miring dan spasi satu atau satu setengah
dwi_darmawan2004: oooo
timurangin: masukan sj dalam narasi tulisanmu
dwi_darmawan2004: trus
dwi_darmawan2004: itu sudah begitu
timurangin: sisipkan saja di sela-sela tulisan ttg citizen jurnalis
dwi_darmawan2004: tadi k riza liat katanya harus jelaskan siapa yang sy wawancarai
timurangin: yup.. itu sudah bagus
timurangin: hati2 dengan istilah2
timurangin: mulai dari citizen journalist, netizen, blogger
timurangin: dwi harus bisa bedakan semuanya
dwi_darmawan2004: jadi harus konsisten ya
timurangin: yup
timurangin: kalau saya sih, sebaiknya tetapkan satu
dwi_darmawan2004: kadang saya sebut kontributor, pewarta warga, citizen reporter,
dwi_darmawan2004: bahkan penulis
dwi_darmawan2004: oooo
timurangin: misalnya pilih Citizen Journalist
timurangin: nda apa-apa juga
dwi_darmawan2004: bagusnya apa?
dwi_darmawan2004: tapi...
timurangin: asalkan dwi yakin bisa bedakan itu semua
dwi_darmawan2004: itu sama semua
dwi_darmawan2004: cuma istilah yg beda
dwi_darmawan2004: kalo blogger ya orang yg ngeblog
timurangin: jangan sampai pembacamu bingung dan menganggapnya beda
dwi_darmawan2004: oooo
dwi_darmawan2004: dwi tetapkan satu saja ya
dwi_darmawan2004: citizen reporter mi di'
timurangin: nda apa-apa ji
timurangin: dalam menulis, mesti banyak kata ganti
timurangin: biar nda jenuh dengan kata yang sama dan selalu muncul
dwi_darmawan2004: nah makanya
dwi_darmawan2004: saya jenuh dengan kata citizen reporter
dwi_darmawan2004: jadinya kadang ganti jadi kontributor
dwi_darmawan2004: pewarta warga,

(membahas blogku)

timurangin: “……Saat itu aku merasa jarum detik seluruh jarum yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash!!!” (hlm 209)
dwi_darmawan2004: bahkan penulis
timurangin: terserah dwi
dwi_darmawan2004: apa maksudnya itu??
dwi_darmawan2004: jelaskan sayang
timurangin: saya ambil dari blogmu
dwi_darmawan2004: iya
dwi_darmawan2004: aku ambil dr blog ta
timurangin: saya yakin ko copy dari blogku
dwi_darmawan2004: yup yup
dwi_darmawan2004: jadi gimana?
timurangin: mantap
timurangin: udah bisa jadi sarjana
dwi_darmawan2004: ok deh
dwi_darmawan2004: sisa aku edit lagi di'
dwi_darmawan2004: dengan penambahan sedikit
dwi_darmawan2004: trus bab 2 ku bgmana?
BUZZ!!!
dwi_darmawan2004: baca blog ku ya????
dwi_darmawan2004: yg mana bgus menurutmu?
timurangin: luar biasa tulisanmu ttg kamarmu
timurangin: saya sungguh tersentuh
dwi_darmawan2004: yang mana?
dwi_darmawan2004: ooooo

timurangin has signed out. (7/23/2007 4:04 AM)(terputus)

dwi_darmawan2004: bagus toh
timurangin: yup
timurangin: bakatmu makin nampak
dwi_darmawan2004: itu saya tulis dengan hati jadinya bagus
dwi_darmawan2004: nda juga ji..tapi terkadang kalo menulis dengan hati lebih terasa enak daripada pake paksaan
dwi_darmawan2004: kakak...menurutmu kita harus naik tangga itu selangkah-selangkah ato bisa loncat 2-3 anak tangga?
timurangin: nda usah pake laptop. cukup pake hati
dwi_darmawan2004: hahahaha
dwi_darmawan2004: pake laptop tapi ngetik pake hati

(dia bertanya siapa yang menyebutmu mirip a ling?)

dwi_darmawan2004: *****

dwi_darmawan2004: napa kah????
dwi_darmawan2004: cemburu ya
dwi_darmawan2004: hehehehe
dwi_darmawan2004: dwi suka kalo kita cemburu
dwi_darmawan2004: artinya kita memang sayang sama dwi
dwi_darmawan2004: iye
dwi_darmawan2004: pulang mi pale
dwi_darmawan2004: mau ki ditlp ini malam?
timurangin: malam ini telpon saya lama2 pake simpati
dwi_darmawan2004: ok deh
timurangin: nanti kita bahas skripsimu
dwi_darmawan2004: istirahat miki kakak
dwi_darmawan2004: sa sayang ki
dwi_darmawan2004: jangan suka cemburu ya
timurangin: sy keluar
dwi_darmawan2004: iye

(yaaaahhh...demikianlah diskusiku bersama kk'ku tersayang. dengan perubahan seperlunya...hehehehe)