Images

Lebaran Pertamamu, Ara

Ini adalah lebaran pertamamu. Jika bulan syawal telah terbit maka usiamu hampir sebulan. Waktu aku kecil aku selalu menyukai bulan ramadhan, taraweh, dan berlebaran. Ada semacam kehangatan tiap bulan puasa datang. Setidaknya aku akan lebih alim dari bulan-bulan sebelumnya. Sholat di mesjid, rajin membaca Al-Quran, dan merasa lebih dekat kepada Tuhan. Taraweh di mesjid kadang sampai tertidur karena mengantuk. Aku suka membantu mamaku membuat pisang ijo untuk berbuka, menanti saat berbuka puasa, dan bangun saat sahur. Jika akhir ramadhan maka mamaku akan membeli beberapa kilogram mentega dan bahan kue. Bersama kakak-kakakku kami membuat kue kering. Favoritku adalah kue coklat. Aku bisa menghabiskannya sampai bertoples-toples.  Pasar terakhir sebelum lebaran adalah pasar paling ramai di kampung. Mamaku akan mengajakku turun ke pasar dan memilih baju baru untukku. Mamaku tak pernah absen membelikanku baju lebaran. Hingga aku bisa memilih dan membeli baju lebaranku sendiri.  Pada malam lebaran kami akan membungkus Burasa dan mencabuti bulu ayam. Mengiris-ngiris lengkuas untuk dijadikan bumbu Nasu Likku  (makanan Khas lebaran). Jika malam tiba, burasa akan dimasak di tanah dan aku bebas bermain kembang api sambil menemani mamaku menunggui burasanya masak.

Tradisi itu lambat laun hilang. Lebaran kali ini pun aku dan kakak-kakakku tak lagi membuat kue kering. Kami hanya membeli beberapa toples. Itupun aku yakin besok, ketika selesai sholat idul fitri semua sudah habis. Aku harap kelak kamu akan menikmati Ramadhan dan Lebaran yang sama menyenangkannya seperti yang aku alami. Agar kita memiliki kenangan bersama yang nantinya akan kamu ceritakan pada anak-anakmu.

Aku ingin menceritakan tentang lebaranmu kali ini. Lebaran paling membingungkan yang pernah aku alami. Setiap penetapan 1 Syawal selalu ditentukan dengan cara melihat Hilal, bulan sabit kecil saat matahari terbenam. Ketika hilal terlihat maka 1 syawal jatuh pada esok hari. Dari pengamatan itu pemerintah menjatuhkan 1 syawal tanggal 31 Agustus, bukan hari ini (30 Agustus). Fesbuk dan twitter ramai dengan status,komentar, dan tweet tentang keputusan ini. Beberapa menuliskan telah membuat ketupat, burasa, dan opor ayam. Dan semua itu akan sia-sia jika hari lebaran jatuh pada 31 Agustus (lusa). Tiba-tiba muncul istilah karena hilal setitik, rusak Gulai sebelanga. Di rumah pun burasa sudah jadi. Untungnya ayam belum diolah. Dibeberapa Negara di dunia lebaran jatuh pada 30 agustus. Hanya di Indonesia saja lebaran jatuh pada 31 Agustus. Bahkan di Malaysia sekalipun yang bertetangga dengan kita lebarannya adalah tanggal 30 Agustus.

Ara, jika kamu sudah bisa berpuasa dan begitu menyenangi puasa itu maka kamu akan sangat senang dengan keputusan pemerintah. Kamu akan berteriak dan berkata “Hore, masih puasa”. Itu sangkaanku. Karena dulu aku pun seperti itu. Aku selalu menganggap bahwa puasa harusnya 30 hari, bukan 29 hari.

Berbeda. Akan kamu temui banyak hal berbeda nantinya sayang. Kesukaan, kegemaran, warna kulit, keyakinan, dan  bahkan cara pandang. Tapi berbeda itu bukanlah sesuatu yang aneh. Kadang menimbulkan pertentangan tapi ia bukanlah sebuah kesalahan. Berbeda itu seperti gambar berwarna di buku dongeng. Berbeda itu seperti warna-warna crayon. Seperti warna-warna pelangi. Beda memberikan pemandangan yang indah. Beda menimbulkan keberagaman yang tak membosankan. Dengan beda membuatmu mampu memahami dan menghargai.

Selamat Lebaran, Ara…Semoga tahun depan kita menemukan perbedaan yang lebih indah.
Images

Mengapa Aku Ingin Lebaran Lebih Cepat?

Aku ingin lebaran hari ini. 30 Agustus. Bukan besok 31 Agustus. Jika waktu kecil aku selalu senang menggenapkan puasa hingga 30 hari, Ramadhan kali ini aku sangat ingin puasa hanya 29 hari. Aku ingin pagi ini sehutan takbiran menggema dari soundsystem mesjid samping rumah. Aku ingin semua orang berduyung ke mesjid untuk sholat Ied. Aku ingin semua orang merayakan 1 syawal di 30 Agustus ini. Aku ingin bersilaturahmi hari ini. Makan burasa dan Ayam Nasu Likku, bukan burasa dengan mie Instant layaknya di warung-warung.

Jika ada mesjid di kampung ini yang berlebaran tianggal 30 Agustus, mungkin aku akan mengikutinya.Namun sayang, mesjid kampungku taat kepada ulil amri. Layaknya mayoritas mesjid di kampung ini. Aku bukannya ingin bulan Ramadhan segera berlalu. Tapi semua hanyalah karena aku ingin merasakan satu hari yang biasa bersamamu. Satu hari dimana kita  cukup tinggal di rumah, tanpa harus sibuk bersilaturahmi dengan keluarga. Satu hari dimana kita bercakap dan bercanda begitu lama. Setidaknya sebagai cadangan percakapan selama bilangan bulan ke depan....
Images

Jangan Takut!

Aku menyukai memperhatikan wajahmu saat tertidur. Ada damai di sana. Tidur yang nyenyak tanpa interupsi apapun. Memperhatikan nafasmu naik turun dengan lembut. Sesekali kamu mengerutkan kening. Atau tiba-tiba tampak gelisah dan menggerakkan semua anggota tubuhmu. Masih dalam keadaan tertidur. Atau kadang pula kamu tiba-tiba menangis sesunggukan, tampak sangat sedih. Kadang pula kamu tersenyum bahkan tertawa keras dalam tidurmu. Memastikanmu nyenyak adalah hal yang selalu aku lakukan.

Kamu paling suka jika tertidur di pangkuanku. Berjam-jam skalipun. Skalipun aku merasa pegal karenanya. Tak peduli seberapa keras bunyi yang menganggumu asal kamu di pangkuanku kamu tetap dalam lelapmu. Namun ketika kuletakkan dirimu di pembaringan bunyi sekecil apapun mampu menginterupsi tidurmu. Membuatku harus kembali berusaha menidurkanmu. Memberimu ASI yang harus aku batasi agak tidak penuh lambungmu. Terkadang tak tega melihatmu merengek meminta ASI tiap kali terbangun, tapi juga aku selalu sedih setiap kamu muntah karena terlalu kekenyangan. Salahkan aku yang tak mampu memahamimu.

Rasanya begitu sedih tiap kali kamu tertidur dan sedetik kemudian kamu terbangun dengan terkejut. Matamu menatap liar ke semua sudut. Begitu awas. Tanganmu menjangkau-jangkau udara. Bunyi sekecil apapun itu mampu membuatmu terkejut ketika kamu sendirian atau tidak di pangkuanku.

Ara, tahukah kamu bahwa sejatinya hidup adalah kesendirian? Kamu bertumbuh sendiri di rahimku yang gelap. Tuhan meminjamkan diriku untuk menemanimu begitu juga sebaliknya. Ketika kamu lahir kamu pun berusaha sendiri untuk mencari jalan. Aku hanya menunggu tanda darimu. Dan kemudian berusaha mengeluarkanmu dari tubuhku. Aku menemanimu tapi aku yakin tidak untuk selamanya tubuhku bersamamu.

Ketika kaki-kakimu menjejak tanah untuk pertama kalinya nanti kamu akan memulai perjalananmu. Sendirian. Kamu akan menentukan pilihan hendak kemana dan akan melakukan apa. Kamu akan bertemu banyak orang. Membuat jejaring pertemanan. Melihat banyak karakter-karakter pribadi. Tak semuanya adalah baik. Kamu akan memilih dan memilah. Mulai membenci dan mencintai. Membuat ikatan, menjalani hidup bersama, dan berpisah. Begitulah siklus hidup sayang. Kamu kembali sendiri. Entah jejaringmu memisahkan diri karena menemukan jejaring baru atau berselisih dan berbeda denganmu ataukah waktu yang memaksa kalian untuk kembali menjadi sebuah kesendirian.

Jangan pernah takut dengan kesendirian. Saat sendiri kamu bisa meresapi keberadaanmu. Yang ada hanya kamu dan dirimu. Berdialoglah. Karena ketika kau menemukan dirimu itu, kamu menemukan Tuhan yang terus menemanimu. Keramaian mampu membuatmu lupa akan sedih, namun ketika sendiri kamu bisa mensyukuri keberadaan orang-orang disekitarmu. Dalam sendiri kamu mampu lebih jujur pada hatimu.

Dirimu adalah pribadi yang harus mampu kamu andalkan. Seberapa takut dan cemasnya dirimu, kamu harus percaya pada keberaniannya. Ada saat dimana kamu tak bisa mengandalkan orang lain. Tapi ketika kamu percaya dan yakin pada dirimu, aku tahu kamu selalu mampu melalui segala ketakutan dan kecemasanmu.
Jangan pernah takut pada kehilangan. Sejatinya semua adalah milik Tuhan. Ketika Ia mengambilnya, itu karena itu adalah milikNya. Kamu tahu, kehilangan dan kepergian lebih menakutkan ketika kamu pikirkan daripada ketika kamu alami. Yang kamu butuhkan hanyalah sebuah keyakinan bahwa ada bahagia yang telah kamu petik saat bersama.

Kita memiliki tanggal lahir sama. Aku tak begitu percaya pada astrologi, tapi aku percaya sebagian dariku akan menurun kepadamu. Aku bukanlah pribadi yang sempurna. Ada kala dimana aku rapuh dan menangis. Tapi aku selalu berusaha untuk kuat. Dalam sendiri sekalipun. Aku berharap kamu mengambil yang baiknya saja dari diriku. Rapuh dan menangis itu perlu, tapi janganlah larut akan itu. Aku terkadang terbawa arus. Mengikuti segala perintah ego tanpa benar-benar berpikir baik-baik. Kelak aku harap kamu mampu bijak dalam tiap keputusanmu.

Jangan pernah takut, Ara....
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Andrea Hirata Dan PSSI

PSSI bisa jadi menjadi sebuah lembaga yang paling sering diberitakan pasca kisruh pemilihan ketua umumnya beberapa waktu lalu. PSSI bisa jadi lembaga yang paling banyak dikecam tentang sistem yang bekerja di dalamnya mengelola persepakbolaan Indonesia.

Namun Andrea Hirata melihat sudut lain tentang PSSI. Ia tidak melihat PSSI sebagai lembaga yang ditahtai oleh ketua umumnya hingga beberapa tahun. Ia tidak melihat carut marut pengelolaan sepakbola Indonesia di sana. Ia melihat PSSI sebagai sebuah tim.Ia tidak menyorot lembaga, tapi kesebelasan sepakbola Indonesia.Kesebelasan yang setiap bertanding membawa semangat nasionalisme. 11 patriot yang berlaga di lapangan hijau bak medan pertempuran yang membela tanah air dan bangsa. Membela Indonesia.

Sepakbola dan PSSI adalah tema yang diangkat Andrea Hirata dalam novel terbarunya 11 Patriot. Andrea memulai ceritanya saat ia menemukan foto ayahnya yang berkostum pemain sepakbola dan mendengar tentang kehebatan ayah dan dua orang pamannya yang bergabung di tim sepakbola membela pekerja-pekerja tambang timah yang saat itu masih berada di bawah kekuasaan Belanda. Pertandingan itu adalah pertandingan antara pribumi dan penjajah. Lapangan berubah menjadi pertempuran nasionalisme dan patriotisme. Para buruh menang dan ayah ikal yang memasukkan gol dan meneriakkan Indonesia, Indonesia pun harus mendapat ganjaran dari Belanda. Dipukuli dan dilarang bermain bola.

Cerita pun bergulir pada Ikal yang bangga akan prestasi ayahnya dan kecintaan keduanya akan PSSI. Ikal pun bermimpi untuk menjadi pemain junior PSSI demi melanjutkan mimpi sang ayah yang mahir bersepakbola. Mimpi yang tak pernah diungkapkannya pada Ikal. Namun sayang, Ikal gagal. Hingga akhirnya ia ke Estadio Santiago Bernabeu, rela bekerja serabutan hanya untuk membeli kaos Luis Figo yang bertandatangan untuk ayahnya yang menyukai Real Madrid.

Andrea Hirata mengulas tentang sepakbola tidak sekedar sebuah olahraga. Ia menilik lebih jauh. Sepakbola adalah sebuah representasi dunia. Segala hal ada di dalamnya. Ia pun menuliskan tentang perempuan yang mencintai sepakbola. Baginya sepakbola khususnya PSSI adalah sesuatu yang mampu menggetarkan nurani, membangkitkan nasionalisme, dan perlambang sebuah perjuangan.

Agak nanggung membaca buku ini. Mungkin karena dari semua novel Andrea Hirata semuanya sangat tebal. Sedangkan 11 Patriot ini hanyalah 101 halaman. Saya masih berharap ada halaman-halaman selanjutnya dengan cerita yang lebih kompleks. Andrea Hirata juga masih bercerita seputaran kehidupan Ikal. Saya merasa membaca semua novel Andrea dan berputar pada kisah-kisah Ikal. Saya menantikan cerita baru dengan tokoh baru dari Andrea Hirata.

Tapi overall, buku ini lumayan membangkitkan kembali kecintaan pada PSSI dan sepakbola Indonesia. Selamat menikmati!!!
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

2 Agustusku

2 agustus telah menjauh berpuluh hari. Namun masih ada sisa agustus yang dingin di sini. Sebuah tempat yang kusebut rumah. Tanpa polusi, tanpa Mall, tanpa hingar bingar kendaraan dan lampu. Tanpa matahari yang panas menguapkan keringat. Di sini matahari tetaplah bersinar namun dingin pegunungan tetap mampu menyejukkan. Masih mampu membuatmu berselimut sarung meski matahari telah hampir di atas kepalamu. Tempat ini kusebut rumah. Belum pernah tergantikan oleh tempat lain. Aku belum pernah memiliki rumahku sendiri yang kutanami dengan pohon buah di halamannya serta membuat teras untuk tempat menyesapkan secangkir teh hangat ke dalam kerongkongan kala sore hari.

Udara tempat ini adalah udara yang pertama kali aku hirup. Oksigennyalah yang paling banyak terserap oleh respirasiku. Tempat ini pulalah yang paling banyak kulewatkan dalam tahun-tahun hidupku. Sederhana, penuh mimpi, dan begitu nyaman.

Banyak khayalan yang aku rajut tiap sore di jendela kamarku. Memintal benang-benang mimpi tanpa pernah lelah berharap. Tak peduli ia mampu menjadi nyata atau tidak. Tahun-tahun yang kulalui adalah jejeran waktu yang kurasa seperti surga. Segala kebutuhan terpenuhi, rasa aman dan nyaman, kasih sayang yang tak pernah kurang dan cinta yang tiap hari ada serupa udara segar tanpa polusi.

Tapi hidup layaknya roda. Ada yang datang ada yang pergi. Ada sedih ada gembira. Ketika aku belajar menjadi diriku dan tak bergantung dengan orang lain, aku mulai kehilangan orang yang kusayangi. Dan ada waktu dimana segala syarat ketika mata ini akan bersedih terpenuhi. Ketika ada rindu yang tak pernah aku ucapkan karena aku tahu jawabnya takkan pernah terbalas.

Pelan tapi pasti, aku belajar menghadapi sedih. Beberapa menjadi trauma. Ada saat di malam-malam yang sunyi aku terisak tertahan. Membasahi bantalku untuk segala rasa sedih yang tertangkup di hati. Menyisakan mata yang bengkak saat pagi. Aku merasakan patah hati, rindu yang tak berujung, cinta yang tak tahu aku harus alamatkan dimana. Aku merasakan kehilangan dan trauma yang mendalam akan ditinggalkan. Kadang aku kalah dalam pembelajaran menghadapi sedih. Tak jarang aku harus menyerah pada hatiku yang rapuh dan kembali lagi ke titik nol untuk belajar tegar.

Aku 25 tahun. Aku adalah perempuan, istri, dan juga ibu. Paripurna sudah kodratku menjadi makhluk Tuhan berjenis kelamin wanita. Aku masih belajar menghadapi sedih. Menamengi diri dari sebuah picisan rasa yang sia-sia. Waktu akan menyembuhkan luka, meski pada akhirnya tetap meninggalkan bekas. Aku ingin tak lama lagi semua luka mengering. Sehingga ketika aku melihat jaringan parut yang membekasi luka itu, aku hanya akan tersenyum. Saat itu aku telah memaafkan dan menang atas sedih dan trauma.

Ara, aku ingin kamu tahu tak pernah mudah menjadi perempuan. Rasamu adalah indera yang paling sering akan kamu gunakan. Bijaklah nak. Ada saat dimana ia tak perlu terlibat lebih jauh.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Jangan Membuat Sedih

Aku selalu memperhatikan mamaku tertidur. Dulu. Wajahnya tampak begitu damai. Namun sesekali aku melihat keningnya berkerut dalam tidur atau terkaget dan segera terjaga ketika mendengar bunyi yang mampu membangunkannya. Ketika kuliah aku mulai jarang tidur di sampingnya hingga ia tiada.

Dan damai itu kulihat lagi dalam tidurmu. Tidur tanpa terinterupsi apapun. Sesekali kamu tersenyum bahkan terdengar tertawa. Namun tak jarang kamu mengerutkan kening hingga terisak dalam lelapmu. Wajahmu tiba-tiba memerah dan mampu membangunkan lelapku begitu cepat.

Hobimu adalah minum ASI. Sampai muntah malah. Membuatku sedih. Lambungmu kapasitasnya terlalu kecil. Sistem pencernaanmu pun baru beradaptasi. Tak ada hari kamu tak muntah karena konsumsi ASImu. Aku mengkhawatirkanmu. Aku selalu menangis tiap melihatmu muntah. Tubuh kecilmu harus berjuang mengeluarkan semua cairan yang memenuhi lambungmu. Setelah itu kamu akan diam lama atau memilih memejamkan mata. Tubuhmu mungkin melakukan pemulihan.

Aku telah bertanya kepada beberapa ibu, bahkan buyutmu sekalipun. Semua mengatakan itu normal. Tapi tetap saja aku selalu sedih jika kamu muntah. ASI itu tidak bekerja dengan baik sehingga menjadi feses untuk tubuhmu. Fesesmu pun sedikit karena kebanyakan muntah. Saat seperti ini, saat dimana aku merindukan mamaku yang mampu memberikan pengertian dan keberanian untuk menjadi ibu.

Namun nafsu minum ASImu tetaplah tinggi. Aku yang harus menahan diri untuk tidak memberimu ASI. Meskipun sisi keibuanku tidak tega melihatmu meronta-ronta dan mencari-cari sumber makananmu. Aku harus mendisiplinkanmu minum susu. Satu-satu cara adalah membiarkanmu tertidur hingga jadwal minum ASI berikutnya. Dan kamu selalu mampu tidur lama dipangkuanku. Beberapa menyarankan untuk tidak melakukannya karena kelak membuatmu manja. Tapi aku pun sedang dalam upaya mendisplinkan keteraturanmu makan agar baik untuk tubuhmu. Jika aku harus memangkumu selama dua jam agar kau tetap terlelap, aku rela melakukannya.

Jangan buatku sedih, sayang.
Menyayangimu
Bunda

(17 agustus 11, menjaga lelapmu di pangkuanku)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Mahavidya Neela Sarasvaty

Mahavidya Neela Sarasvaty

Mahavidya Neela Sarasvaty. Itulah nama yang aku pilihkan untukmu. Semua orang bertanya apa artinya. Disini aku akan menjelaskan kepadamu. Mungkin kamu akan mendengar orang-orang berpikir bahwa nama panggilanmu begitu biasa. Saras. Bahkan jika kamu bisa melacaknya di youtube pada tahun 90an ada sebuah sinetron superhero perempuan Indonesia, bernama Saraswati, dan dipanggil Saras 008. Mungkin kamu merasa tidak begitu istimewa dengan nama itu di tengah nama-nama temanmu yang serupa nama pemain-pemain sinetron atau artis ibukota. Paling keren jika seperti nama Anchorwoman di tivi-tivi yang kata temanku, tanpa melihat wajahnya saja sudah terbayang cantiknya. 

Namamu memiliki cerita. Memiliki kisah tentang cinta. Tentang aku dan ayahmu. Sejak kami pacaran kami sudah menyiapkan dua nama untuk anak lelaki dan anak perempuan. Pertama Timurangin untuk laki-laki dan Saraswati untuk perempuan. Mengapa Saraswati? Tahukah kamu bahwa namamu diambil dari Dewi Ilmu Pengetahuan dalam kepercayaan Hindu. Ia juga adalah dewi seni dan kebijaksanaan.

Wikipedia menjelaskan gambaran Dewi Saraswati 
Sosok wanita cantik, dengan kulit halus dan bersih, merupakan perlambang bahwa ilmu pengetahuan suci akan memberikan keindahan dalam diri. Ia tampak berpakaian dengan dominasi warna putih, terkesan sopan, menunjukan bahwa pengetahuan suci akan membawa para pelajar pada kesahajaan. Saraswati dapat digambarkan duduk atau berdiri diatas bunga teratai, dan juga terdapat angsa yang merupakan wahana atau kendaraan suci darinya, yang mana semua itu merupakan simbol dari kebenaran sejati. Selain itu, dalam penggambaran sering juga terlukis burung merak.
Dewi Saraswati digambarkan memiliki empat lengan yang melambangkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan: pikiran, intelektual, waspada (mawas diri) dan ego. Di masing-masing lengan tergenggam empat benda yang berbeda, yaitu:
  • Lontar (buku), adalah kitab suci Weda, yang melambangkan pengetahuan universal, abadi, dan ilmu sejati.
  • Genitri (tasbih, rosario), melambangkan kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual.
  • Wina (kecapi), alat musik yang melambangkan kesempurnaan seni dan ilmu pengetahuan.
  • Damaru (kendang kecil).
Angsa merupakan simbol yang sangat populer yang berkaitan erat dengan Saraswati sebagai wahana (kendaraan suci). Angsa juga melambangkan penguasaan atas Wiweka (daya nalar) dan Wairagya yang sempurna, memiliki kemampuan memilah susu di antara lumpur, memilah antara yang baik dan yang buruk. Angsa berenang di air tanpa membasahi bulu-bulunya, yang memiliki makna filosofi, bahwa seseorang yang bijaksana dalam menjalani kehidupan layaknya orang biasa tanpa terbawa arus keduniawian.
Patung Dewi Saraswati di Bali
Jauh sebelum kami berpacaran, ayahmu telah mematrikan nama Saraswati. Saat itu ketika masih mahasiswa ia ke Bali dan melihat patung Dewi Saraswati di gedung departemen pendidikan Provinsi Bali. Ketika aku pun ke Bali 2006 silam, ia berpesan ke Departemen Pendidikanlah, ada patung Saraswati di sana. Ditemani teman dari Malang sesama peserta pelatihan, kami bela-belain datang ke dinas pendidikan tersebut. Dia berdiri di sana. Pualam putih di atas teratai dengan empat lengannya yang memegang buku, tasbih, kecapi, dan gendang. Ia menjadi perlambang ilmu pengetahuan. Berdiri cantik di halaman departemen pendidikan Provinsi Bali.

Sejak saat itu aku menyukai nama Saraswati. Ia menjadi semacam imaji dalam benakku. Simbol dari pengetahuan. Bahkan pernah aku mengkhayalkan untuk menuliskan sebuah novel berjudul "Saraswati" yang menceritakan tentang sang Dewi. Namun, ternyata ide itu telah dituliskan oleh orang lain. Seperti imajiku. Buku itu diselipkan di bawah kamar kostku, belakangan aku tahu bahwa buku itu dari Kak Rahe (Jika nanti kamu berjumpa akan aku kenalkan kau padanya. Ia salah satu Om yang harus kamu kenal). Mungkin aku harus merubah setting dan ceritaku kelak jika menulis tentang Sarasvati.

Sejak itu aku sudah mempersiapkan nama panggilanmu. Ara. Bukan Saras. Terlalu biasa menurutku. Tapi belakangan ayahmu tidak suka. Katanya seperti Kara, sebatang pohon. Makanya aku pun tidak memanggilmu demikian. Tapi aku punya banyak stok panggilan untukmu sayang. (Baru hari ini aku kembali memanggilmu Ara, setelah titi Darma-mu mengatakan makna dari Ara adalah Altar. Kita anggap saja Ara bermakna altar pengetahuan, bagaimana sayang?)
Saraswati. Terlalu simpel menurutku. Maka ketika kamu di kandungan aku membagi tugas dengan ayahmu. Jika perempuan, aku yang harus memberimu nama. Jika laki-laki maka ia yang punya tugas. Ketika tahu kamu perempuan maka aku mencari tahu tentang Dewi Saraswati. Kutemukan ia bernama Mahavidya Neela Sarasvaty. Dari bahasa Sansekerta. Mahavidya berarti Great Knowledge atau great wisdom sedangkan Sarasvaty berarti Dewi ilmu pengetahuan. Ada dua versi untuk nama tengahnya Neela atau Tara. Tapi aku lebih memilih untuk menggunakan Neela. Karena Neela dapat pula diartikan biru. Seperti peribiru, karakter perempuan dalam serial dongengku. Karenanya aku pun akan memanggilmu Pb (Peebee) yang berarti Peribiru. 

Seperti itulah nak, namamu. Ada doa di sana. Agar engkau mencintai ilmu. Menjadi bijaksana. Memahami seni dan mampu menjadi cahaya pengetahuan. Ada pura Saraswati di Ubud, Bali. Jika besar nanti aku akan mengajakmu ke sana saat perayaan hari Saraswati. Ketika buku-buku dibersihkan dan didoakan. Sebagai  ucapan syukur diturunkannya pengetahuan ke bumi ini.

Sesungguhnya dirimu telah ada dalam imaji jauh sebelum mewujud di alam materi. Kamu seperti Athena yag lahir dari pikir Zeus. Seperti itulah dirimu sebelum kukadung dan kulahirkan. Aku telah melahirkamu.Partus istilah kedokterannya. Part-Us. Memisahkan aku dan kamu. Aku meyediaka untukmu kasih sayang yag kuharap takkan pernah kering. Setelah itu terbanglah sesukamu. Dunia ini luas untuk kau jelajahi. pergilah ke tempat-tempat yang tak mampu kami jelajahi dan tulislah sendiri kisahmu.
Menyayangimu....

16 Agustus 2011, rumah, saat memangkumu hingga tertidur

Images

Akan Kuceritakan Padamu Ara*


Ini hari ke 10mu. Aku baru saja merebahkan badanku di sisimu.Kamu tertidur untuk yang ketiga kalinya hari ini.Setelah meminum ASI yang harus kuberikan sedikit-sedikit agar dirimu tidak muntah.Semenjak pulang ke bone telah tiga kali kamu muntah karena Asi yang terlalu banyak kamu konsumsi, padahal kapasitas lambungmu masih kecil. Aku harus memperkirakan kapan kamu butuh ASI tanpa harus menunggu rasa laparmu yang membuatmu menangis dan kemudian meminta padaku ASI dengan wajah yang penuh antusias. Ekspresi tak sabaran dan ingin segera mendapatkan yang kamu inginkan. Tak jauh beda dengan diriku.
Aku mengantuk. Lelah.Tapi aku harap kamu tak menganggapnya sebagai keluhan. Ternyata aku bukan ibu yang baik.Toh akhirnya kamu pun memuntahkan semua ASI yang ada di lambungmu. Hanya karena aku tak tega melihatmu menangis dan gelisah.

Nak, biar kuceritakan padamu tentang proses kelahiranmu. Telah banyak ibu yang kutemui dan jawaban mereka tak pernah mampu aku imajinasikan. Katanya jika ada sakit maka sakitnya adalah yang paling sakit. Ada pula yang bilang sakitnya seperti digigit dinosaurus. Aku tak mampu membayangkannya. Maka disini ingin kuceritakan padamu sakit itu. Dariku, ibumu, untukmu yang kelak juga akan menjadi ibu.

9 bulan lebih aku mengandungmu. Setiap bertemu orang mereka selalu menanyakan sudah bulan keberapa, ketika kujawab maka mereka akan segera bilang bahwa ukuran perutku terlalu kecil untuk usia bulannya. Aku khawatir ketika kamu lahir beratmu tidak cukup 2,5 kg. Ketika kutanya dokter Ema (dokter kandungan yang juga membantu proses kelahiranmu) berkata bahwa kemungkinan beratmu baru 2 kg, saat itu usiamu dalam kandungan 7 bulan lebih. Aku begitu rajin meminum susu ibu hamil dengan satu tujuan agar beratmu ideal.

Juli menjadi taksiran partusku. 10 hari pertama kamu belum memberikan tanda akan lahir. Masih saja aku dengan santai naik motor kemana-mana dan jalan-jalan ke Mall. 10 hari kedua pun sama saja. Tak ada tanda yang kau tunjukkan. Ada 2 tanggal spesial di 10 hari ketiga.31 juli, tanggal pernikahan aku dan ayahmu dan 2 agustus, tanggal lahirku. Aku tak pernah meminta agar dirimu lahir ditanggal-tanggal itu, tapi aku hanya berharap. 29 juli, pemutaran film Harry Potter 7. Aku pun berhasil menontonnya tanpa tanda-tanda kamu akan keluar dari rahimku.
Ini adalah serial Harry Potter terakhir.Telah lama aku menantinya, untungnya segera tayang setelah hampir berbulan-bulan film box office tidak diimpor karena masalah pajak. Aku sangat ingin menontonnya. Mungkin ketika kamu lahir aku tak sempat lagi menonton di bioskop karena tak mungkin kutinggalkan dirimu. Dan sepertinya kamu mendengar pintaku, aku masih bisa menontonnya di XXI.

31 Juli, berlalu. Aku masih juga rajin jalan ke Mall dibonceng motor oleh ayahmu. Hingga tanggal 1 agustus, ramadhan pertama. Aku menemukan bercak darah. Pembukaan 1. Belum terasa sakit. Hari itupun jadwal check up ke dokter. Dokter menyarankan untuk segera ke rumah sakit karena diindikasikan ketubang berkurang. Tapi masih sempat aku dan ayahmu buka bersama di Mall. Pukul 8.30 malam kakak Ipah yang datang ke Makassar untuk urus paspor menemaniku ke rumah sakit Pertiwi. Ayahmu mengendarai motor,sedangkan aku dan tantemu memakai taksi.Masih saja aku yang mendaftar untuk persalinan. Sakitnya belum seberapa.Masih bisa aku tahan.

Pukul 10 malam, aku sudah dapat ranjang di kamar bersalin. Resident (Dokter yang sedang ambil spesialis kandungan) mengukur pembukaan berapa di rahimku. Dokter residennya pria nak. Tapi aku tak lagi mempedulikan itu. 2 jam lagi ulang tahunku. Hei, ini tanggal 2 agustus. Jika kamu lahir 2 jam kemudian kita akan memiliki tanggal lahir yang sama.

Aku pun harus sering-sering jalan. Untuk memicu kepalamu turun ke rahim dan menambah pembukaan lagi. Tengah malam Ema datang. Titimu yang satu itu selalu hadir setiap aku butuhkan. Bersama kak Riza. Ayahmu "kupaksa" membeli burger. Malam itu sangat ingin makan burger.

Pukul 2 malam, teman-teman di BBM khususnya grup RUSH (teman angkatanku di kampus) memberi semangat. Mengirimiku dukungan dan mengajak ngobrol lucu-lucu agar aku lupa sakitnya. Ema pun pulang. Kasian kalo dia menunggu hingga pagi, padahal ia juga ngantor. Ayahmu dan Kakak Ipah harus rela tidur di bangku ruang tunggu yang keras, harus berdingin-dingin, dan penuh nyamuk.

Aku lelah berjalan. Aku ingin tidur. Pukul 3 pagi, dokter coast kembali memeriksa tensi dan jantungmu. BBku berbunyi, dia berkata "bunyi BBM ta". Lucu rasanya sudah di kamar bersalin tapi masih saja terkoneksi dengan jejaring sosial. Ah, itulah teknologi nak.

Dokter residen kembali memeriksa pembukaanku. Belum beranjak dari 1. Ia memberikan induksi. Semacam obat yang dimasukkan ke rahim agar memberi rangsangan kepadamu agar segera keluar. Aku lelah. Aku ingin tidur saja. Ibu-ibu disampingku sudah 2 orang yang melahirkan dan kamu belum juga turun ke rahim. BB ku pun sudah lowbat, selowbat diriku.

Pukul 5 pagi. Aku tidak bisa tidur. Lelah rasanya. Sakitnya mulai terasa. Seperti nyeri haid. Datang sebentar-sebentar terus pergi lagi. Aku bertanya ke kakak ipah, jawabnya masih lebih sakit dari itu. Seberapa sakit kah? Aku memilih tiduran saja setelah sarapan dan mandi. Kakak Ipah pulang ke sudiang sedangkan ayahmu sibuk mengurus untuk persiapan keberangkatannya ke Amerika. Aku harap kita bisa kompak setelah ayahmu berangkat sayang.

Aku sempat terlelap. Untunglah. Aku butuh tidur. Siangnya ada seorang pasien yang dikurek. Berteriak-teriak memanggil Tuhan. Membuatku sedikit senewen. Jika kurek sesakit itu bagaimana melahirkannya. Tak ada teman di sampingku. Hanya satu orang penjaga yang boleh masuk. Aku mau itu ayahmu. Padahal di luar ada Ema, kakak ipah, dan Wardi.

Di panas terik sambil berpuasa dia keliling mencari studio foto untuk foto visa di tengah desakan smsku untuk segera balik ke rumah sakit karena aku merasa sendirian. Itulah ayahmu, berusaha menyelesaikan segalanya.
Pukul 1.30 siang dokter residen kembali memeriksa pembukaanki. Baru naik 1 tingkat. 2 cm. Ia menambahkan 1 obat perangsang lagi. 1 residen 2 dokter coast 1 (salah satunya teman SMA Ema). Mereka pun mengajak ngobrol seolah aku bukan pasien tapi teman sepantaran. Hei, ibu kan baru 25 tahun. Masih muda.
Pukul 3 sore. Sakitnya mulai bergejolak di perut. Sakit ngilu yang menjalar di sekitar perut hingga rahim. Dokter residennya sudah berganti. Kali ini 1 perempuan 1 laki-laki. Pembukaan 4 cm. Dokternya bilang, kalo masih kuat jalan, sebaiknya jalan. Aku tak sempat bercermin tapi aku yakin wajahku sangat acak-acakan. Memakai sarung, baju kaos ayahmu, sangat tidak cantik. Aku memberanikan diri turun dari ranjang. Keluar dari kamar bersalin dan tertatih-tatih. Banyak orang di koridor tapi aku harus berjalan. Kukelilingi satu lantai. Menginjak tiap ubinnya sambil menahan rasa sakit yang meningkat secara konstant. Tak pernah lagi berhenti sakit. Namun kadang ada sakit yang mampu kamu tahan tapi tiba-tiba selanjutnya ada sakit dua kali lipat yang menyerangnya. Aku harus berpegangan di dinding atau besi-besi kokoh di tembok-tembok. Rasanya dirimu menggerakkan semua anggota badanmu mengaduk-aduk perutku. Kali ini tak lucu seperti biasa aku menikmati gerakmu dalam tubuhku. Kali ini sangat sakit. Aku mengeluh, kakak ipah bilang kalo tidak sakit tidak akan keluar.

Oh Tuhan, rasanya ujiannya adalah klimaks sebuah sakit. Kapan? Gemes rasanya menunggu rasa sakit di atas sakit itu. Aku merindukan mamaku saat itu juga. Aku ingin ia di sampingku menemani. Menjadi ibu bukanlah perkara gampang. Dan ia telah melakoninya sampai tutup usia. Sebelum aku sadar bahwa ia adalah kasih yang tak pernah kering, ia telah pergi. Disaat aku belum tahu bagaimana hakikat perempuan itu.
Pukul 5 sore, sakitnya makin menjadi-jadi. Konstan bertambah. Aku ingin marah-marah dan ayahmu adalah pelampiasan itu. Aku memaksanya mengusap-usap belakangku. Sakitnya bukan di sana tapi di perut namun entah kenapa bagian pinggul yang dipijit mampu memberi sedikit kelegaan. Sangat sedikit.

Ada Icca dan Ema. Namun tak sanggup lagi aku menyapa. Sakitnya telah mengalihkan duniaku. Aku hanya mampu berdoa. Melafalkan banyak pujian kepada Tuhan dan RasulNya. Memberanikan diri merasakan sakit yang lebih sakit. Aku minum terlalu banyak. Dan sepertinya rahimku sudah tak lagi mampu berkemih. Tak lagi mampu membedakan antara sakit kontraksi maupun keinginan untuk buang air. Air ketubanku merembes namun tidak pecah. Pembukaannya terus bertambah berbanding lurus dengan sakitnya. Sakit ini yang paling aku ingat. Sakit dipembukaan 8-9. Menyayat perut. Rasanya berputar dan kemudian memberi serangan. Aku harus berpegangan pada sesuatu atau meremas sesuatu agar mampu bertahan. "Jangan mengedan dulu" pesan dokternya. Takutnya terjadi pembengkakan di rahim. Aku harus menarik nafas dalam-dalam setiap sakit itu muncul. Dan itu tidaklah mudah. Menyesal rasanya tak pernah ikut latihan pernafasan untuk kehamilan.
Lengan-lengan ayahmulah yang menjadi sasaran remasanku. Ternyata yang dikatakan para ibu-ibu benar adanya. Suami harus ada untuk dicakar. Tapi ia dengan rela dicakar. Mungkin itu empati terbesarnya karena tak mampu mengambil sakit ini. Sakit itu tiap beberapa menit menyerang. Serasa ingin buang air besar. Tapi ini lebih sakit. Mampu memaksamu untuk mengedan meski sekalipun kamu tak ingin. Kamu harus menahannya hingga pembukaannya benar-benar lengkap.10.

Pukul 6 sore, pembukaannya hampir lengkap. Tapi mereka menunggui dokter Ema. Wah, kalo menunggu sampe prakteknya bubur bisa jam berapa. Untungnya setelah berbuka para perawat sudah menyarankan untuk mengedan. Kupikir sakitnya akan berkurang ketika mengedan, tapi nyatanya lebih sulit. Tak ada pengurang rasa sakit. Semua merangkak ke puncak. Dan ini belum puncak. Mengedan pun harus seperti saat buang air besar. Bukan di leher. Tapi itu tak pernah semudah diucapkan. Beberapa kali aku merasakan ada cairan makanan di leherku karena mengedan di leher. Para suster mempersiapkan persalinanmu. Membantuku menarik nafas dan menarik paha untuk berkuat. Aku tak pernah mampu membayangkan bagaimana bentuk rupamu yang akan keluar di sana. Lubang sekecil itu mampu menjadi jalan keluar untukmu.

Rasa-rasanya aku ingin menyerah. Tapi menyerah tidak memberikan jalan keluar. Satu-satunya jalan adalah aku harus. Mengeluarkanmu dari perutku secepatnya. Agar semua sakit terhapuskan. Dokter Ema telah datang. Dengan sangat cekatan menganestesi dan menggunting lubang keluarmu. Memintaku mengedan sedikit dan menarik dirimu keluar. Ketika kamu keluar maka kudengar tangismu yang menguapkan rasa sakit. Semua hilang. Seperti itulah klimaksnya.

Pukul 8 malam, 2 agustus 2011. Kamu lahir . Namamu Mahavidya Neela Sarasvaty. Panjang 50 cm, berat 3600 gram. Bayi besar kata orang-orang. Tapi yang kutemui adalah bayi mungil yang cantik bermata sipit. Dibaringkan di sampingku dan kuberikan ASI pertama. Kau menggenapiku saar itu juga. Aku mensyukuri keberadaanmu. Jika cinta adalah seberupa wujud maka dirimu cinta itu, nak.

Sesaat aku ingin bertemu ayahmu. Dipersalinan tadi dia tak sempat menemaniku, terlalu banyak ibu-ibu yang melahirkan. Jadi tak boleh ditemani. Jahitanku masih terasa sakit, tapi kupikir itu tak lagi sakit dibandingkan sakit sebelumnya. Ternyata di luar ada Ema, Icca, Echy, dan Wuri. Mereka begitu baik menunggui proses kelahiranmu.Kelak akan kau miliki teman-teman sebaik mereka.

Ayahmu memilihkan kamar VIP untukmu. Agar kamu merasa nyaman. Hari kedua kamu demam dan perlu perawatan. Kekurangan cairan kata dokter. ASIku masih sedikit sedangkan kebutuhan minummu agak banyak dengan berat 3,6 kg. Kamu pun harus disuntik antibiotik karena ditakutkan infeksi karena lewat bulan. Aku dan ayahmu selalu khawatir akan dirimu. Kami ingin memberikan yang terbaik. Kami orang tua baru yang serba belum tahu. Kamu mengajari kami dan kita sama-sama belajar.
Sampai hari ini aku mulai bisa mengikuti ritmemu. Memahamimu meski kadang harus sedih melihatmu muntah karena tak sanggup melarang keinginanmu untuk ASI.

Aku mungkin takkan menyanyikanmu lagu seperti ayahmu, tapi aku tetap memutarkan playlist lagu nursery rhyme buatmu dan membacakanmu dongeng hingga tertidur. Memangkumu hingga tertidur sampai kamu terbangun lagi. Menebak apa yang ada dalam mimpimu yang kamu tunjukkan dalam ekspresi tidurmu. Damai rasanya melihatmu tidur dengan nyenyak tanpa gelisah. Selalu kubisikkan doa untukmu. Tumbuhlah besar anakku sayang dan melesatlah seperti anak panah. Aku mencintaimu...

*Ara : Nama panggilan dari Saraswati, sebelum dikandung dan dilahirkan
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Kepada Ibu

Jauh jarak antara engkau dan aku. Telah menjadi tempat terjauh yang kutuju kelak.Apa kabarmu? Aku merindukanmu.Sangat merindukanmu. Sangat merindukanmu.Setapak jalan telah aku lalui.Menjadi perempuan seutuhnya. Jiwa kecil itu telah kudekap dalam pelukku. Memerankan peran yang dulunya kamu lakukan padaku.

Peran yang dulunya mungkin aku acuh tak acuh perhatikan.Peran yang mungkin terlihat gampang bagi orang lain.Tapi mereka tak pernah tahu bahwa tangan-tangan ringkih perempuanlah yang membangun zaman.Merawat dengan sangat telaten jiwa kecil yang tiap hari didoakannya menjadi sosok yang berguna kelak.

Aku di sini mendekap jiwa kecil itu dengan begitu hati-hati. Merawatnya, memastikan kenyamanannya, memastikan cinta untuknya tak pernah berkurang. Aku tak pernah mengingat saat aku dalam buaianmu. Tapi melihat diriku memperlakukan hal yang sama padanya, kupikir dirimu pun mencintaiku seperti itu.

Melahirkan adalah proses yang melelahkan, namun tak selesai disitu. Perjalanan barulah dimulai.Penuh kekhawatiran, kecemasan, tapi juga suka cita yang tak terbayarkan.Menjadi ibu tanpa hadirmu membuatku harus lebih kuat dan lebih awas.Rasa-rasanya seperti tak memiliki mentor untuk bertanya tentang segala ketidaktahuan.

Aku merindukanmu. Aku rindu dalam dekapanmu.Kasihmu yang seperti air mengalir mendamaikan jiwa. Pelukmu yang selalu mampu menyembuhkan luka. Aku memiliki semua itu sekarang. 25 tahun yang akan datang aku mungkin akan membaca tulisannya tentangku. Setiap cemas aku hanya mampu berdoa padamu. Memintamu menjagaku dan juga bayi kecilku. Aku yakin jiwamu masihlah terus mendoakanku.

Ikatan paling murni itu kupikir milik ibu dan anak. Dan lingkaran kebajikan itu terus dipelihara dari zaman ke zaman.Selalu ada doa dari ibu untuk anaknya dan sang anak pun melanjutkan doa itu kepada anaknya kelak.Begitu seterusnya hingga akhir zaman.

Aku merindukanmu, selalu dan selamanya.
Images

Test Ngeblog Via BB

Lagi coba-coba.Semoga berhasil!!!
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

2 Agustus, Midnight

Aku menantimu.cemas. Tubuhku terasa menggigil.perih.Tapi itu belum seberapa. Hari ini ulang tahunku. Selamat ulang tahun dwi, ucapku pada diriku sendiri. Aku mencoba kuat, jauh sebelum ini kusiapkan diriku.Tapi nyatanya aku pun takut.

25 tahun aku bernafas dan ini adalah ketakutanku yang paling menakutkan. Aku menguatkan batinku.berdoa pada Tuhan sesuai keyakinanku.

Bukankah ini ramadhan. Bulan suci yang penuh ampunan. Dimana semua doa diijabah.Tuhan, dengar doaku. Peluk aku dalam lindunganMu. Aku melemah.Aku tak punya keberanian lagi. Kumohon Tuhan. PadaMu kuberserah. Amin
Images

Kamu Dan Aku Adalah Kita

Sebelum aku mendengar tangis pertamamu, sebelum kamu menghirup nafas pertamamu aku ingin merasapi kebersamaan kita. Tak lama lagi kurasa. Kudekap dirimu di lenganku.menyentuh kulitmu.merawatmu serupa porselen yang rapuh.

Kali ini biar kurasakan gerakmu dalam tubuhku.kurasakan dan kutebak lengan kaki dan kepalamu. Kamu memilih agustus untukmu lahir. Jika tuhan menghendaki kita akan memiliki tanggal lahir yang sama.ajaib bukan?

Aku melahirkanmu dan kaupun melahirkanku, menjadi ibu. Tapi kelak kamu punya hak menjadi dirimu sendiri. Aku hanyalah busur dan dirimu adalah anak panah.melesatlah lebih jauh. Melebihiku ataupun ayahmu.

9 bulan lebih kita bersama. Bernafas bersama.bergerak bersama.kamu merasakan tiap emosiku. Tiap sedihku, tawaku dan bahagiaku. Aku mencoba memberikanmu yang terbaik. Semaksimal yang aku bisa. Mungkin aku bukan ibu yang baik. Sejak pertama hingga nanti.tapi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Dengan segala cinta dan kasih yang aku punya.hingga kasih ini kering hanya untukmu.

Aku membisikkan banyak doa untukmu. Harapan-harapan yang baik untukmu. Sejak engkau menghirup udara pertama semesta ini.Semoga engkau lahir sehat, normal, cantik, cerdas,dan saleh.semoga dirimu sumber kebijakan dan pengetahuan seperti yang nama yang ingin kesematkan padamu. Semoga Tuhan memberimu umur yang panjang dan kehidupan yang sejahtera.amin.

Aku merindukanmu...dirimu adalah hadiah terindah untukku. Ajari aku menjadi manusia dan ibu yang baik untukmu.

Aku menyayangimu sarasvaty.

1 agustus 2011