Images

Kisah Margaret


Hangat matahari musim panas berganti dengan sepoi-sepoinya angin yang membawa hawa dingin. Daun maple mengalah. Memilih menjadi merah dan kuning. Musim gugur datang. Serupa pesulap profesional yang mengubah lanskap hijau menjadi merah kuning dan berguguran.

Setiap oktober musim gugur telah mencapai puncak. Suhu udara jatuh menuju titik rendah tiap harinya. Hingga di bulan november dan desember musim berganti menjadi dingin. 

Namun oktober tidak hanya sekedar musim gugur, daun merah dan kuning, serta udara dingin yang terasa menusuk. Oktober adalah saat labu-labu kuning besar tersusun rapi depan walmart dengan plan diskon besar. Juga pie labu kuning yang terasa aneh di lidahku. Dan aneka kostum putri, pahlawan super, topeng presiden, hingga topeng seram dan pernak-pernik laba-laba, tukang sihir, dan segala hal yang menyeramkan lainnya. Oktober adalah Halloween. Perayaan bangsa Celtic kuno yang berkaitan dengan masa berakhirnya musim panas dan dimulainya musim dingin. Mereka meyakini bahwa pintu batas alam roh dan alam manusia mengabur, sehingga roh-roh bisa  datang ke bumi. Karenanya topeng-topeng seram digunakan untuk mengelabui para roh yang hendak ke bumi. 

Halloween mengalami akulturasi budaya dan agama. Di masa kini halloween dirayakan sebagai hari libur yang mengasikkan tanpa dicampuri mistik dan tahayul. Tak hanya anak-anak yang sibuk memilih kostum, namun juga para remaja dan orang dewasa. 

Di kota kecil seperti Athens, OH perayaan seperti Halloween sangat terasa atmosfernya. Kota kecil ini terkenal sebagai college town karena   Ohio University sebagai pusat kota ikut mendekorasi kota mereka. Labu-labu berukir wajah seram dan hantu duduk rapi di teras rumah. Pohon-pohon dihiasi gambar laba-laba besar, lampion labu, tengkorak, hingga nisan. Asrama dan apartemen mahasiswa tidak luput dari dekorasi halloween.

Baik kampus maupun pemerintah setempat membuat acara bertema halloween. Trick or treat untuk anak-anak, carving pumpkin di kampus, serta karnaval kostum dan live music di court street sebagai puncak acara Halloween di 31 oktober. Aneka kostum dipakai oleh para orang dewasa yang mayoritas mahasiswa. Mulai dari kostum minion, lego, mario bross, hingga kesatria templar. 

Angin musim dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Jaket yang kukenakan tidak sanggup menghangatkan tubuhku. Beberapa perempuan berpakaian minim dengan sayap kupu- kupu lewat di depanku. Entah bagaimana mereka mampu menahan hawa dingin yang hampir membekukan ini. Mungkin tubuh mereka telah beradaptasi dengan suhu lingkungan. Tidak sepertiku yang berasal dari negeri tropis. 

Ini adalah perayaan Halloween pertamaku. Di Indonesia, saya tidak akan buang-buang waktu untuk merayakan Halloween ini. Perayaan Halloween di Indonesia biasanya dilakukan di pub atau klab malam sebagai tema sebuah pesta. Agak aneh merayakan Halloween yang notabenenya bukan tradisi yang mengakar di Indonesia. 

Anyway, karena ini adalah Halloween pertama saya maka saya memilih untuk mencari tahu bagaimana perayaan halloween yang sebenarnya. Maksudku, bukan sekedar karnaval, pesta kostum, dan minum beer di club di bilangan court street. Tapi perayaan Halloween yang mungkin agak mistis atau sekedar mencari suasana yang memang seram. Sebelum datang ke Athens untuk melanjutkan sekolah, saya sudah mengoogling seperti apa kota kecil yang lebih mirip kampung daripada kota. Hasilnya adalah Athens masuk dalam urutan pertama kota paling berhantu di Amerika Serikat. Ketika membaca informasi tersebut bayanganku adalah kota yang sepi, tidak ada pemukiman kecuali sebuah pompa bensin tua dan toko yang tidak berpenghuni sebagaimana yang sering digambarkan di film-film horor. Namun, dua bulan sejak kedatangan saya ke sini, imajinasi itu jauh dari kenyataan. Kota dengan down town di wilayah kampus OU dan court street cukup ramai dengan berbagai toko-toko serta bar dan cafe yang selalu dipenuhi mahasiswa. Setiap malam minggu bar-bar itu penuh oleh orang-orang yang merayakan weekend. Bukanlah hal aneh jika tiap minggu para polisi berjaga di sekitar asrama mahasiswa yang berpesta dan memasang lampu super besar untuk menghindari perkelahian atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya. 

Maka setelah melihat karnaval kostum yang disponsori oleh sebuah toko di court street, saya memilih menunggu Helen, teman kelas saya untuk menghadiri sebuah tour Halloween di Ridges. Saya menemukan pamflet tour tersebut tertempel di depan pengumuman. The Ridges lah yang membuat Athens menjadi kota paling berhantu di Amerika Serikat. Saat Halloween seperti ini tidak jarang orang-orang datang dari berbagai kota hanya untuk merayakan halloween di Athens. Mengapa? Karena penasaran itulah maka saya mengajak Helen untuk ikut tour menggunakan kereta kuda di kawasan The Ridges. 

Helen menjemputku di Donkey cafe. Kostum halloweennya hanya sebuah topeng manik-manik berwarna ungu metalik. Kusambar topi sihir seharga 1 dollar yang kubeli di Walmart tempo hari dan bergegas menuju mobilnya. Udara dingin menggelitik sementara hingar bingar pesta mulai berdetak di jantung kota. 

"Are you ready?" Tanya Helen padaku. "Sure" kataku dengan gigi gemelutuk. Heater mobil berhasil menghangatkan tubuhku yang telah menggigil. 

Jalanan ramai oleh orang-orang yang berpesta di halaman rumah. Berbeque dan bir adalah penghangat malam. Athens Cemetery pun tidak luput dari keramaian. Perkuburan ini menjadi salah satu sebab mengapa Athens disebut sebagai kota paling berhantu di US. Ditemukan bentuk pentagram di perkuburan tersebut. Beberapa rumor menyebutkan bahwa Athens adalah pusat dari pentagram bagi paganisme. Tapi tujuan kami bukanlah berkunjung ke kuburan itu. Mobil Helen melaju pelan di atas aspal membawa kami menjauhi keramaian kota. Di sisi jalan pohon-pohon yang meranggas berdiri layaknya tengkorak kayu dengan bayang-bayang panjang. Jalanan sepi hanya sesekali mobil kami berpapasan dengan pengendara lain. Helen membelokkan mobilnya menuju perbukitan.  Perlahan merangkak di jalan menanjak. Sebuah bangunan bergaya victorian berdiri tegak seperti perempuan tua yang anggun. Lampu  penerang sangat minim. Yang menyala Hanya satu di pintu utama yang sekarang  digunakan sebagai kennedy museum of Art.  Dugaanku hanya bangunan yang masih dimanfaatkan yang diberi penerangan sisanya dibiarkan gelap. Dua keret kuda telah menunggu untuk membawa para peserta tour ke berkeliling The Ridges. Beberapa mobil telah terparkir. Orang- orang mulai berkumpul. Beberapa menggunakan tudung hitam sehingga tampak seperti domentor di buku Harry Potter. Beberapa menggunakan kostum zombie dan tengkorakz Syarat tour ini adalah tidak menggunakan kostum yang mencolok kecuali pada riasan. Mungkin untuk menambah suasana seram di malam Halloween. Tanpa kostum seperti itu pun, suasana tempat ini sudah menyeramkan. Bulu kudukku bergidik. 

Hanya sedikit yang mengikuti tour ini. Dalam pamfletnya penyelenggara memang sengaja membatasi jumlah peserta biar tidak terlalu banyak dan lebih mudah diatur. Dua kereta kuda telah diatur bersiap mengantar para peserta tour. Kusir kereta yang kami tumpangi berperawakan besar dengan jenggot panjang dam topi tinggi berwarna hitam. Suaranya terdengar berat saat menyambut kami. Suara sepatu kuda berderap di keremangan malam. 

" Selamat datang di The Ridges. Saya Joe, pemandu anda malam ini. Apakah anda merasakan bulu kuduk anda berdiri? Jangan terlalu cepat ketakutan karena tour ini akan membawa anda ke suasana yang lebih seram lagi" katanya sambil tertawa. Dia berusaha mencairkan ketegangan sayangnya tidak ada yang menanggapi candaan itu sebagai sesuatu yang lucu. 

Derap kaki kuda berjalan perlahan di jalan beraspal yang mengitari The Ridges. 
"Dulunya bangunan ini  bekas rumah sakit jiwa yang dikenal dengan Athens Lunatic Asylum" terang Joe memulai tournya. Dibangun pada tahun 1868 dan mulai dioperasikan pada tahun 1874 hingga tahun 1993. Rumah sakit khusus untuk penderita penyakit mental ini melayani pasien korban perang, veteran, anak-anak, dan masyarakat umum. 

Kuda kereta kami berjalan pelan mengikuti ayunan tali kekang yang dikendalikan Joe. "Di masa lalu pemyakit mental disebabkan oleh hal- hal yang menurut orang zaman sekarang cukup aneh. Banyak pasien pria yang menderita gangguan mental karena masturbasi.  Atau untuk perempuan karena memasuki masa menepouse. Entah mengapa masturbasi dan manepouse dianggap penyakit gila saat itu. Saya tidak lagi memperhatikan penjelasan Joe. Saya sibuk memperhatikan bangunan-bangunan The Ridges , tiba-tiba "Prang". Kaca jendela di salah satu bangunan pecah. Kuda kereta kami terkejut dan meringkik kuat menguncang kereta dan membuat semua orang panik.

Yang terjadi berikutnya saya berada di sebuah istal kuda bersama perempuan muda. "Ini bukan di the Ridges" kataku terkejut. " Ini dimana?" Tanyaku pada perempuan muda itu. Namun ia mengabaikanku. Sisi belakang kepalaku terasa berdenyut. Tapi tak kuhiraukan. Saya tidak lagi bersama para peserta tour lainnya. Ini ditempat yang lain dan suasana yang lain. Perempuan dihadapanku menghampiri sebuah kuda dan mengelus-elusnya. Ia mengenakan baju model tahun 1970an. Celana panjang cutbray dengan rambut dipotong pendek dan mengembang. Kuda itu mendengus halus dan mengentakkan kakinya, senang. 

Seorang pria menghampiri dan memeluknya. Menggunakan topi koboi. Kemeja dan celana khakynya lusuh. Perempuan itu tidak terkejut dan tidak pula marah. Ia berbalik dan membalas pelukan pria tersebut. Tak ada dialog diantara keduanya. Namun mata mereka memancarkan kerinduan yang dalam. 

Kehadiran saya tidak mereka sadari. Saya tetap berdiri diistal itu berjarak kurang lebih 10 meter dari sepasang kekasih itu. "Hei", suara pria yang cukup keras dan berat mengagetkan saya dan pasangan itu. Perempuan itu berdiri ketakutan. Dengan cepat sang kekasih berdiri di depannya. Melindunginya. 

"Margaret, apa yang kamu lakukan bersama pria itu?", teriak pria paruh baya tersebut.
Perempuan bernama Margaret itu berdiri ketakutan. Tangannya sibuk bergerak seperti menjelaskan sesuatu. Dia berusaha berbicara, namun hanya suara tak jelas yang keluar dari mulutnya. Saya pun menyadari perempuan itu tidak mampu berbicara tapi ia mampu mengerti saat orang berbicara. 

"Margaret tak bersalah Mr. Schilling. Kami saling mencintai. Biarkan kami bersama" kata pria itu. 

Mr. Schilling berang, "Sudah cukup. Kamu hanya penjaga kuda-kuda di sini. Berani-beraninya mencintai anakku". Diayunkannya tangannya dihadapan pria it dan...buk. Telapak tangannya mendarat di pelipis Margaret yang kemudian jatuh dan kejang. 

Mr. Schilling terkejut. Ia tak bermaksud menampar anaknya. Tamparan itu ia tujukan untuk sang penjaga kandang yang adalah pekerjanya sendiri. Namun, Margaret begitu cepat menghalanginya sehingga tamparan itu mengenainya. Drama itu berlangsung cepat di hadapanku tanpa pernah mereka menyadari kehadiranku. 

Berikutnya saya berdiri di The Ridges. Ramai. Orang-orang berlalu lalang. Beberapa berjaket dokter, beberapa yang hanya duduk dan menatap kosong. Hingga seorang pria paruh baya menarik kasar seorang perempuan yang sedang mengamuk. Perawat menyuntikkannya obat penenang yang seketika itu membuatnya lemas. 

"Margaret menderita epilepsi, Mr. Schilling. Sebaiknya ia dirawat di rumah sakit ini", jelas seorang dokter kepada pria paruh baya itu. Mr. Schilling menatap wajah anaknya yang dibawa ke ruang perawatan. Kulihat pria yang dikandang tadi menghampiri Mr. Schilling. "Ada apa dengan Margaret, Mr. Schilling?". 
"John, jangan pernah menganggu Margaret lagi"
"Tapi, kami saling mencintai, Mr. Schilling. Harusnya anda mementingkan kebahagiaannya", ucap John, kasar. 
"Jangan menguliahiku tentang kabahagiaan, anak muda. Margaret tidak akan seperti ini jika kamu menjauh darinya. Jangan pernah lagi mendekatinya", kata Mr. Schilling kemudian berlalu. 

Serupa kabut, pemandangan di depanku mengabur. Kemudian saya berdiri di ruang kamar yang cukup besar. Sebuah ranjang sempit dengan seprai putih dan bantal tipis di atasnya. Lemari kecil di sampingnya. Sebuah kursi yang menghadap ke jendela. Seorang perempuan duduk dan menatap lurus. Sebuah kertas tergenggam lusuh di jemarinya. Tubuhnya menggigil. Gaun putih yang ia kenakan tidak cukup memberinya kehangatan. Di luar jendela petang menjelang dan salju turun perlahan. 

Pintu terbuka. Dua orang perawat menghampirinya. Seketika itu juga ia berteriak dan mengamuk. Perawat tersebut memegangi kedua lengannya. Sekuat tenaga ia meronta-ronta. Cengkraman kedua petugas itu serupa jerat yang kian membelitnya. Ia dibawa ke sebuah ruang yang nampak seperti ruang operasi. 
Tapi tak ada meja operasi di sana. Yang ada hanyalah sebuah kursi dengan beberapa sabuk di sisinya. Didudukkannya Margaret di kursi itu kemudian dikencangkannya sabuk itu mengikat badannya. Seorang perawat menekan sebuah tombol yang menghidupkan mesin kursi. "Buzz buzz buzz" suara listrik menyengat seperti lebah. Tubuh Margaret kejang tersengat. Terapi kursi listrik digunakan sebagai salah satu metode pengobatan. Sangat tidak manusiawi. 

Margaret terduduk lemas. Perawat melepas sabuk pengikatnya. Tanpa mereka sadari Margaret mengumpulkan kekuatannya yang tersisa kemudian menghambur ke pintu keluar. Kedua petugas rumah sakit itu mengejarnya. Namun ia berlari lebih kencang. Lari dari siksa yang menyakitkan. 

***

"Di desember yang dingin itu, Margaret tidak ditemukan meski para perawat dan petugas rumah sakit sudah berupaya mencarinya", Joe berhenti sejenak. Aku mengerjapkan mataku. Kepalaku sedikit pusing. Rasanya seperti habis jatuh dari lubang spiral. Helen yang berada di sampingku menguncang-guncang tubuhku. "Apa kamu baik-baik saja?", tanyanya sambil berbisik. Kuanggukkan kepalaku. 

"Tubuh Margaret ditemukan beberapa minggu kemudian. Di sebuah bangsal yang tidak lagi digunakan di lantai paling atas bangunan itu" kata Joe sambil menunjuk sebuah jendela di puncak bangunan. Kereta kami berhenti sejenak. 
Para peserta tour mengamati jendela yang ditunjuk Joe. "Tubuhnya ditemukan di depan jendela. pada minggu kedua januari 1979. Diperkirakan ia meninggal karen gagal jantung disebabkan oleh musim dingin kala itu. Anehnya sebelum ia meninggal ia menanggalkan bajunya dan melipatnya di sampingnya. Entah mengapa ia melakukan itu. Tubuhnya yang mengurai meninggalkan noda di lantai yang tidak bisa hilang sekalipun telah dibersihkan. Hingga sekarang noda itu masih terlihat", terang Joe. 

"Apakah Margaret menderita epilepsi?" Tanyaku pada Joe yang membuat semua peserta tour menatapku karena tiba-tiba bertanya. " Tidak ada yang mengetahuinya", jawab Joe. "Apakah ia punya kekasih? Bisa jadi ia melarikan diri karena terapi di rumah sakit tidak manusiawi? Mungkinkah ia merasa terpenjara di rumah sakit ini dan ingin keluar bertemu kekasihnya?", tanyaku lagi. Kurasakan siku Helen menyodok pinggangku. " Soal itu, kami tidak tahu banyak. Namun ada beberapa desas desus yang menyebutkan demikian. Namun keluarga dari Margaret sendiri tidak membenarkan cerita tersebut", jawab Joe. 

"Ia melarikan diri di hari ia mendapat terapi kursi listrik. Ia hendak bertemu pacarnya yang memberinya surat di sore hari sebelum ia masuk ke ruang terapi. Mereka berjanji untuk bertemu di ruang itu. Namun, sang kekasih tak pernah datang karena ayah Margaret telah mengusirnya dari kota. Margaret masih menunggu di sana" kataku tanpa sadar. 

"Saya tidak mengerti yang kamu bicarakan. Tapi terapi kursi listrik itu benar adanya. Pada masa itu kursi listrik menjadi salah satu metode pengobatan", terang Joe sambil memandang aneh kepadaku. "Shall we continue the tour?", tanyanya. Saya hanya diam. 

Derap kuda kembali terdengar seiring kereta kami bergerak kembali. Joe kembali menjelaskan tentang pemakaman yang akan kami lewati. Namun cerita Joe tersebut menganggu pikiranku. Serta bayang-bayang yang tadi aku lihat. Semua terasa nyata. Kulayangkan pandanganku sekilas lagi ke arah jendela itu ketika kumenemukan siluet bayang yang bergerak di sana. Samar tampak seperti perempuan dengan gaun putih. Margaret, batinku.(*) 

Bone, 4 februari 2014

Catatan : Cerpen ini dibuat beberapa bulan lalu. Rencananya akan diikutkan pada lomba cerita horor, tapi karena tidak puas dengan hasil penulisannya saya tidak mengikutkannya. Daripada dibuang mending saya upload di blog ini :D sekalian menyambut Halloween. Cerita ini  rekaan dengan menyadur cerita horor yang terjadi di The Ridges Athens, Ohio. 

Happy Halloween 31 oktober 2014 
Images

Drama Buku Gelombang Bertanda Tangan Dee

   Tidak ada paragraf kecil itu 
 disampul bukuku :(


Kali ini saya tidak dan belum akan menulis review Gelombang. Saya hanya ingin menulis uneg-uneg yang penuh drama dari proses pemesanan buku Gelombang ini. 

Saya adalah penggemar buku Dee. Jika sering membaca blog ini, banyak postingan saya tentang Dee. Mulai dari review bukunya hingga cerita tentang kesukaan dan kekaguman saya pada sosok Dee. Saya tidak pernah melewatkan buku-buku Dee. Saya bahkan selalu berusaha menjadi bagian dari orang-orang yang pertama membaca karya-karyanya. Menanti Gelombang , seri terbaru dari Supernova seperti menanti serial terbaru Harry Potter. Akan kemana dan bagaimana. Menjadi bagian dari euforia di medsos sembari menuliskan hastag gelombang dan memention @deelestari menjadi kebahagian tersendiri. Berangkat dari perasaan itulah maka saya pun masuk dalam antrian orang-orang yang ingin mendapatkan buku terbaru Dee fresh from the oven, dengan sedikit sajian istimewa serupa cherry on ice cream berupa tanda tangan sang Penulis. Dan disinilah drama bermula....

Tawaran Menggiurkan Dari Toko Buku Online

Suami saya mendapatkan email tawaran pemesanan buku Gelombang bertanda tangan Dee. Saya mendaftarkan diri. Sayangnya, karena telat transfer disebabkan kesalahpahaman maka Gelombang edisi tanda tangan yang dijatah 250 buku pertoko buku online, tidak berjodoh denganku. 

Saya banting stir ke toko buku yang lain. Dan juga mendapati jatah 250 buku itu sudah habis terbooking. Saya akhirnya menemukan satu toko buku online. Namanya TemanBuku. Saya pun memesan pada toko buku tersebut. Tanpa sign up as a member. Yang ternyata berujung pada missunderstanding. Drama pun    dimulai. 

Karena saya tidak sign up, secara otomatis alamat email saya tidak tercatat pada situs ini. Dan celakanya adalah ketika memesan tanpa sign up, saya tidak mendapat nomor invoice. Saya berusaha mencari disebelah mana nomor invoicenya, namun tidak ada. Tampilan pada layar pemesanan dan pembayaran hanyalah total yang harus dibayarkan dan kemana harus transfer. Halaman berikutnya hanyalah selesai tanpa info invoice. Saya pun tidak mempermasalahkan invoice itu, besoknya saya transfer. Kemudian ada sms ke hp saya menanyakan apakah sudah ditransfer ato belum? Saya jawab sudah sembari mengirimkan buktinya via bbm dan email. Saya kasi tau saya nda tau nomor invoicenya, jadinya saya minta diinfokan nomor invoice pesanan buku saya. Dan dikasilah nomor invoice tb-201410-0273. Dengan hati yang tenang saya menunggu buku saya dikirim pada tanggal 17 oktober. Lewat sedikit nda pha2, soalnya saya memang memilih pengiriman yang biasa. 

Drama Masih Berlanjut

Pada hari lahirnya Gelombang, saya mengirim pesan sms ke admin. Menanyakan apakah buku saya dengan invoice yang telah disampaikan sebelumnya sudah dikirim. Sms tersebut dibalas pada hari senin, tanggal 20 oktober. Dengan menyertakan resi pengiriman. Saat saya cek, ternyata bukan nama saya.*background suara film horor*. Wah gimana neh? Saya bbm, tidak dibalas. Saya sms, tidak dibalas juga. Saya inisiatif telepon, dan mendapati suara mbak-mbak cantik diujung telepon. Saya berkeluh kesah. Untungnya nda sampe nangis. Dia mau membantu. "Agak lama, karena cek satu-satu", katanya. Saya sabar menanti. 

Saya nda sms lagi untuk tau gimana selanjutnya. Saya memberi kesempatan sehari semalam untuk menyelesaikannya. Besoknya saat saya sms, tentang pesanan saya, nomor tersebut membalas pesan saya "nomor invoicenya berapa?". Jiaaaahhhh. Mbak!!!! Saya yang kemaren komplain. Mengapa dirimu begitu cepat move on dan melupakan permasalahan kita. Saya tidak terima mbak. Mengapa tega PHP-in saya. Hiks. Mana nda ada pulsa buat balas si mbak cantik itu. *lagu latar sakitnya tuh di sini*

Saya cukup kesal. Tapi, karena tipenya saya tidak bisa labrak orang trus komplain marah-marah, maka saya menulis konsep surat cinta yang rencana akan saya email ke mbak tersayang itu. 

Ini email yang saya siapkan 

Kepada Yth admin Teman buku

Tgl 9 oktober saya memesan buku gelombang edisi tanda tangan via online di web temanbuku.com tanpa sign in as member. Saya menyelesaikan tahapan belanja hingga selesai. Tapi tidak ada nomor invoice yg keluar

Tgl 10 okt sy melakukan transaksi pembayaran via atm ke rek mizan seperti pd petunjuk di website. Saya mengadd pin bb temanbuku dan kemudian bertanya ttg invoice saya. Saya diberi nomor invoice tb-201410-0273. Kemudian saya menunggu hingga gelombang diedar ke publik pada tgl 17 okt (jumat).Saya masih menunggu pengiriman hingga tiga hari karena paket pengiriman yg saya pilih mmg yg tiga hari. Jadi saya sabar menunggu hingga haru senin ( 20 okt). Saya mengirim pesan sms ke nmr 0857 22096918 pd tgl 17 okt menanyakan apakah buku dgn nmr invoice yg diberikan pada saya lewat bbm sdh dikirim atau blm. 
Di balas pada tgl 20 okt hari senin bahwa sdh terkirim an putri aprilia berlian beralamat bekasi.

Itu bukan nama pesanan saya. Juga bukan alamat saya. Saya memesan buku gelombang an Yusran Darmawan dgn alamat Pusat studi pembangunan, pertanian, dan pedesaan (psp3) IPB
Gedung utama kampus IPB baranangsiang
Jalan raya pajajaran, bogor 16144. Saya sdh menghubungi via sms, tlp dan bbm, tapi responnya sangat lambat dan sangat tidak membantu. Sampai sekarang saya bahkan tidak tahu apakah buku gelombang yg saya pesan batal atau tidak. Sdh dikirim atau tidak. 

Saya sangat kecewa dengan cara temanbuku.com. Diawal mungkin saya ceroboh krn tdk mencatat invoice tapi sbg penyedia layanan jual buku, temanbuku harusnya koperatif untuk mencari solusi dari hal ini. Kalo pun pd akhirnya pesan saya dibatalkan krn tdk ada invoice saya nda mempermasalahkan telah rugi 70an ribu dan tidak mendapat buku bertanda tangan dee. Tapi yg saya kesalkan adl tidak komunikatifnya admin teman buku dalam menyelesaikan komplain ini. Tidak ada follow up terbaru. Tdk memberikan informasi lbih lanjut. Terakhir saya dikabari bahwa bukunya sdh dikirim namun ketika tanya resinya blm dikirimkan. Gmn neh? 

Yang selalu sabar
Aku yang kamu PHPin

Saya pun mengisi pulsa. Daftar internet dengan niat kirim email. Tiba-tiba pesan bb berbunyi, sebuah permintaan maaf karena terjadi kesalahan. Dan berikutnya akan dikirim ke alamat yang dituju. 

Masih belum percaya, saya kirim sms. Tidak lagi sekedar tanya "gimana buku saya"? Tapi, versi singkat dari surat cinta diatas. Kemudian dibalas sama si admin kalo bukunya sudah dikirim. Trus dikasi nomor resi. Pas dicek udah benar nama dan alamatnya. Batal deh marah-marah. Tapi kesalnya tetap ada. 

Sebuah Anti Klimaks

Buku Gelombang itu tiba di tanganku sore tadi. Ada tanda tangannya Dee disana. Tapi ada yang mengganjal di hatiku. Benarkah itu tanda tangan Dee? Bukankah ada 2014 buku yang ditandatangani spesial dengan nomor buku yang ada dihalaman tanda tangan. Mengapa buku yang saya terima tidak ada nomornya. Jangan-jangan ada konspirasi dari drama ini. Cukup!!!! Saya tidak lagi mau memikirkannya. Bukunya sudah di tangan, itu saja patut disyukuri. Meski rasanya buku itu tidak spesial karena tidak bernomor. Biarlah nanti kubawa sendiri saat booksigning dan meminta Dee menuliskan nomor sesukanya. Entah kapan. 

Yang penting saya tidak terlalu dirugikan di drama ini. Pelajaran pentingnya mendaftarlah di situa toko buku sebelum memesan buku.
Pelajaran berikutnya i'm done with this toko buku online. Saat postingan ini diupload maka saya pun mendelcon pin BB toko buku itu. No more pesan buku dari toko bukunya. Saya sudah belajar dari pengalaman.(*)

Bogor, 27 Oktober 2014
Images

Botchan

 

Judul : Botchan
Penulis : Natsume Soseki
Penerbit : Gramedia

"Kata pendidikan tidak hanya berarti memperoleh pengetahuan akademis. Pendidikan juga berarti menanamkan semangat mulai, kejujuran, serta keberanian, lalu menghapus kebiasaan licik, usil, serta tidak bertanggung jawab..." ( Botchan, hal 112)

Secara tak sengaja saya membeli buku Botchan di toko buku bekas online di fesbuk. Saya berangkat dari pengetahuan yang kosong tentang buku Botchan. Yang membuat saya tertarik hanyalah karena buku ini dijual Rp.20.000 dengan petunjuk sederhana di sampul buku "A Modern Classic". Saya pun tidak berniat mencari tahu review tentang buku ini. Beberapa orang di fesbuk berkomentar bahwa buku ini cukup bagus. 

Berbekal sinopsis di sampul belakang, tentang guru yang menentang suatu sistem di sekolah, mau tidak mau membuatku membayangkan cerita Toto-chan. Dua-duanya dari Jepang dan dua-duanya tentang pendidikan. Tapi, saya keliru. 

***
Botchan, anak kecil yang selalu mengikuti nalurinya. Melakukan hal-hal yang kadang membuatnya dimarahi. Ibu dan bapaknya menyebutnya bandel. Namun, Kiyo, perempuan tua yang merawatnya sejak kecil menganggapnya sebagai anak yang berterus terang dan jujur. Sebuah sifat yang sangat baik. Botchan kecil menganggap Kiyo hanyalah terlalu sayang dan memanjakannya. 

Ayah ibunya mati. Kakaknya membuka usaha. Botchan menyelesaikan kuliah. Kiyo tidak lagi bekerja dengan keluarganya lagi. Namun Kiyo masih tetap menunjukkan rasa sayangnya. Lalu Botchan menjadi guru di sebuah sekolah di desa. Sekolah yang memiliki ratusan murid dengan beragam karakter guru. Dinamainya semua guru itu sesuai dengan imajinasi yang paling sesuai dengan gambarannya. 

Tanuki (sejenis Rakun), Kepala Sekolah, berkumis tipis, kulit hitam, dan mata besar. Hotta, guru matematika dijuluki si landak. Koga si labu yang kulitnya sangat pucat. Dan Kerah Merah, kepala guru yang bersuara feminim dan selalu mengenakan kemeja merah. 

Kepala sekolah dan kepala guru yang mengendalikan sekolah. Mereka yang mengatur para siswa dan aturan yang berlaku. Berdasarkan apa yang mereka sukai atau tidak disukai. Dan beberapa guru dianggap penghalang  untuk  ambisi pribadi sekelompok orang. Botchan termasuk aral. 

Buku ini menceritakan tentang bagaimana seorang bisa bertahan dari sifat kelicikan dan akal bulus yang busuk. Bahwa ada orang yang menggunakan topeng kebaikan, menampakkan sisi tidak tercela, tapi pada dasarnya mereka adalah penipu ulang yang memanfaatkan segala cara untuk mencapai ambisinya. Yang diperlukan hanyalah  kepekaan untuk membedakan orang-orang yang menggunakan topeng-topeng dan orang-orang yang benar-benar tulus. 

Diksi-diksi penulis cukup satire. Mengejek pola sosial yang terjadi di masyarakat namun dikemas lucu. Ending buku ini menurutku kurang sempurna. Beberapa kisah tidak diceritakan dengan selesai. Membuat saya menebak apa yang terjadi. Namun itu tidak mengubah keasyikan menikmati buku ini. Saya memberi empat bintang untuk buku ini. 

Selamat membaca. (*)

Bogor, 22 Oktober 2014
Images

Lima Sekawan di Karang Setan

 

Judul : Karang Setan (Serial Lima Sekawan)
Penulis : Enid Blyton
Penerbit. : Gramedia Pustaka

Julian, Dick, George, Anne, dan Timmy berlibur ke pulau Kirrin. Sayangnya di Pulau Kirrin, kawan profesor Paman Quentin juga hadir. Berdua mereka mengerjakan sesuatu. Teman paman Quentin memiliki anak laki-laki yang mempunyai monyet. Utik dan si Iseng. Pulau Kirrin begitu ramai. Paman Quentin dan kawannya tidak bisa bekerja. "Bagaimana kalo kita menginap di mercu suarku?", saran Utik. Lima sekawan menatap takjub. 

Karang Setan adalah sebuah desa yang berjarak 10 mil dari pulau Kirrin. Disebut karang setan karena karang-karang di teluknya menjadi ancaman para kapal-kapal yang berlayar. Tidak sedikit kapal yang terkoyak karena batu karang di dasar laut yang merobek lambung kapal. Tidak hanya itu, menurut legenda pencoleng memanfaatkan keadaan dengan merampok perahu-perahu itu. Namun semenjak dibangun mercu suar di karang setan, tidak ada lagi kapal yang terdampar. Tapi harta karung pencoleng itu masih tersimpan di sana entah dimana. Dan satu yang pasti setiap kali Lima Sekawan liburan, selalu ada petualangan seru yang menantinya. 

Setelah sekian tahun tidak pernah membaca lagi karya Enid Blyton, Karang Setan ini serupa nostalgia masa kecil. Saat SD dulu saya selalu bertanya mengapa harus saat liburan lima sekawan baru bertualang. Mengapa tidak saat di sekolah. Hahaha. Rasanya rasanya saya sudah bisa menyimpulkan jawabannya. 

Cover buku Karang Setan yang kubeli dari toko buku bekas online di fesbuk ternyata lebih tua dari cover buku lima sekawan koleksiku zaman SD. Bakal jadi koleksi klasik buat Ara nanti :D. Buku ini mendapat 4 bintang dari saya. Selamat membaca. (*)

Bogor, 13 Oktober 2014

Images

Ketika Ara Bertemu Binatang Buas


Selepas lebaran idul Adha, kami mengajak Ara ke Taman Safari, Cisarua, Bogor. Sebelumnya ia sudah pernah ke Kebun Binatang Ragunan dan melihat berbagai jenis binatang dalam kandang. Nah, Taman Safari tidak beda jauh dengan Ragunan. Yang berbeda adalah kerangkeng sempit yang membatasi binatang. Di Taman Safari binatang dibiarkan berkeliaran. Mulai dari rusa, unta, hingga singa, harimau dan beruang. 

Saya sangat excited untuk jalan-jalan ke Taman Safari ini. Ara pun demikian. Setiap melihat patung-patung binantang di sepanjang jalan dia selalu kegirangan. Ketika memasuki Taman Safari, dijulurkannya kepalanya keluar jendela mobil untuk melihat binatang lebih jelas. 

Beberapa binatang mendekat dan menjulurkan lehernya meminta wortel. Tidak mau bergeser jika tidak beri makan. Ara begitu antusias memberi makan rusa-rusa. Tapi cukup takut ketika lewat area binatang buas. "Ara takut", katanya. 

Di Taman Safari ada berbagai macam permainan. Ara cukup berani mencoba berbagai wahana. Termasuk ayunan yang cukup tinggi. Saya yang ikut menemaninya lumayan takut, dia malah ketawa-ketawa dan teriak senang. 

Ara menemukan banyak binatang-binatang yang sering dia lihat video-video yang sering dia tonton. Elephant, giraffe, owl, rhinocheros, dan macaw bird di film Rio. Dia bahkan sempat berfoto bareng ayahnya dengan burung-burung kakak tua itu.

Tidak cuma nonton binatang, tapi kami juga nonton sirkus. Pementasannya memukau. Kalo Ara suka bagian atraksi para badut yang loncat-loncat, saya suka atraksi akrobatik melayang dan terbangnya. Serasa nonton film-film silat cina yang pake efek angin. Plus lagi musik pengiringnya yang melow. 

Sayangnya kami tidak sempat berfoto dengan anak singa, naik kuda Pony, dan melihat atraksi lumba-lumba. Ara pun belum melihat pinguin dan kangguru. Kali lain kalo ke Taman Safari, wish list itu harus tercapai ;). Oke, ini wishlist mamaknya. Hahahaha. 

Bogor, 6 Oktober 2014

Images

Murjangkung cinta yang dungu dan hantu-hantu

Judul : Murjangkung cinta yang dungu dan hantu-hantu
Penulis : AS Laksana
Penerbit : Gagas Media

Inilah pertama kalinya saya membaca karya AS Laksana. Berangkat dari perdebatan dikalangan penggiat sastra tentang siapa yang pantas menjadi pemenang  Khatulistiwa Literature Awards 2014,  maka saya tertarik untuk membaca buku ini. Buku ini masuk dalam nominasi dan dianggap lebih pantas menjadi pemenang dibanding  buku Pulang karya Leila S Chudori. Untuk buku Pulang ini saya telah membaca dan mereviewnya beberapa bulan lalu. Maka saya pun mulai membaca Murjangkung ini. 

20 cerita pendek AS Laksana yang telah dipublikasikan diberbagai media cetak dirangkum dalam buku ini. Cerita yang disajikan seputar kehidupan masyarakat, serupa percintaan, perselingkuhan, bencana, hingga politik. Tapi AS Laksana menatanya dengan tidak biasa. Ending-ending yang melampaui realitas dan imajinasi-imajinasi yang tidak biasa. 

Diksinya tawar tapi menurutku disitulah letak pasnya cerita-cerita ini. Pelan, datar, dan endingnya sesekali mengelitik. Beberapa cerita  berkesan buatku seperti Peristiwa kedua,seperti komedi putar-, Otobiografi Gloria, Kisah Batu Menangis. 

Saya cukup menikmati buku ini, tapi bersepakat dengan seorang kawan,  karena ia formatnya cerpen sastra, jadi semacam menebak makna yang dimaksud dibalik penciptaan cerita. Eniwei, buku ini mendapat 3,5 bintang dari 5 bintang. 

Selamat membaca. (*)

Bogor, 1 Oktober 2013