Images

Ketika Ara Belajar Sholat Meski Saat Sakit

           Kegiatan Ara tadi pagi

Pagi tadi badan Ara hangat. Saya cek  pake termometer, suhu mencapai 37.7 derajat celcius. Dia lemas. Nafsu makannya pun nda ada. Entah apa yang memicu demamnya. Yang pasti bukan demam karena flu atau batuk. Meski badannya hangat ia tetap main jual-jual. Permainan yang dua hari belakangan ini sangat suka ia lakukan. 

Saya jadi penjual, ia jadi pembeli. Barang jualannya adalah apa saja yang menurutnya layak ia jual. Mulai dari sisir, kamera mainannya, buku catatan yang penuh coretannya, jam weker, spidol, hingga hasta karya bunga buatannya. Saya menemaninya bermain. Saya menjadi penjual dan dia pembeli. Saya membuatkannya uang-uangan yang ia simpan di dompet kecilnya. Saya melabeli semua jualannya dengan angka-angka sebagai harga. Setiap kali ia membeli, saya akan mengajukan pertanyaan penjumlahan tentang berapa harga yang harus dia bayar untuk total belanjaannya. Semacam belajar matematika sambil main-main. Kalo habis barang jualannya, giliran dia jadi penjual. "My turn, my turn", katanya. "Selamat pagi-pagi,mama", katanya menyapa saya di belakang guling yang dilipat dua yang dia gunakan sebagai meja kasir. "Coba bilang "can i help you?", kataku. "Yes sure", katanya. Hahahaha. Maksudnya Ara yang kasi tau mama "can i help you". "I can help you", jawabnya lagi. *Cekikikan* Dia belum paham. 

Saat suhu badannya mulai menghangat ia lemas dan memilih berbaring. "Ara tidak bisa main jual-jual. Ara sakit. Ara nda bisa jalan-jalan", katanya. "Ara demam. Ada kumab dalam tubuhnya Ara. Terus ada superhero di dalam tubuhnya Ara yang bantu supaya kumannya pergi. Nah, demam itu upaya tubuhnya Ara lawan kuman. Jadi demam itu tidak apa-apa", kataku menjelaskan. Ia pun tertidur. 

Namun, tidak selang beberapa menit ia terbangun dan muntah. Semua makanan yang dikonsumsinya dari pagi sampe siang dia muntahkan. Ajaibnya, ia tidak menangis. Ia cuma berkata "Ara sakit". "Iya. Ara sakit karena Ara tidak mau makan. Kalo mau bantu tubuhmu lawan kuman Ara harus makan", terangku. 

Ia pun meminta dibuatkan telur rebus kesukaannya. Ia makan dengan lahap. Sayangnya, setiap kali ia memasukkan makanan di mulutnya, beberapa saat kemudian ia muntahkan. Ia tetap ceria dan tidak merengek. Masih merespon dengan senyum sambil nonton film Disney. Hanya saja ia tidak melompat-lompat atau menjahili saya. Saya bergegas ke apotek membeli obat setelah konsultasi ke kakak saya. Dalam perjalanan Ara masih mengomentari layang-layang yang tersangkut di tiang listrik. 

Saat harus meminum obatnya, ia tidak lagi harus dibujuk atau dipaksa. Ia meminumnya tanpa beban. Sayangnya pencernaannya masih memuntahkan semua isi perutnya. "Obatnya tidak help muntah", katanya. Kasian Ara. 

Sampai malam ia masih muntah-muntah. Setiap kali ia berusaha memasukkan makanan di tubuhnya tidak butuh lama untuk makanan itu keluar lagi. Saya memintanya untuk tidur. Saya jelaskan kalo dia tidur, maka sistem pencernaannya pun ikut tidur. Jadi mulutnya tidak akan muntah. 

Pas sebelum dia tidur, ia tiba-tiba bilang "Mama, belum sholat", katanya. "Mama sudah sholat", jawabku. "Ara belum sholat", katanya lagi. "Ara mau Sholat?", tanyaku. Dengan lemas ia mengangguk. Saya terharu. Rasanya seperti tertampar di muka. Ara meminta mengerjakan sholat kala ia sakit. Saat ia sama sekali belum berkewajiban untuk sholat. Duh, nak! Tak tahu kah kamu tingkahmu menyentil sisi religius saya. 

Saya memandunya sholat. Membacakan bacaan sholat keras-keras agar ia mendengarnya. Agar ia belajar seberapapun sedikitnya yang ia pelajari. Ia mengikuti gerakan sholatku. Meskipun tingkahnya tetap anak-anak, namun ia telah sholat dengan tertib. Selesai sholat, saya mengajaknya berdoa, agar ia diberi kesembuhan dari Tuhan. 

Kemudian ia beranjak tidur. 
Tidur yang nyenyak, anak sayang. Semoga besok Tuhan memberimu kesembuhan. Menormalkan suhu tubuhmu. Menghentikan muntahmu. Dan mengembalikan keceriaan dan kelincahanmu seperti sedia kala. Aaamiiiinnnn...

Bogor, 30 Mei 2015

Images

When Sleeping Means Dreaming


Pagi tadi saya terbangun dengan perasaan yang sangat ringan. Biasanya kalo seperti ini, akan merujuk ke bahagia. Senang atau bahagia selalu memiliki sebab. Dan saya tidak (belum) mendapatkan alasannya. 

Setiap kali saya terbangun dari tidur, biasanya saya akan merasakan sesuatu yang hilang yang entah apa. Saya akan berusaha mengingat. Tidak tahu mulai dari mana, tapi saya yakin itu akibat dari mimpi saya. Saya tipe orang yang setiap tidur selalu mimpi. Sekalipun tidurnya cuma sepuluh menit. Mungkin sebabnya karena saya selalu berkhayal tiap kali ingin tidur. Khayalan saya tidak tinggal diam ketika saya mulai memejamkan mata. Benak saya sibuk. Imajinasi saya penuh dengan karakter yang memerankan perannya. Dan saya serupa penonton yang duduk nyaman menyaksikan lakon mereka. Seorang pernah berkata pada saya, sleeping means sleeping. Tapi buat saya, sleeping means dreaming. And its even better. Tidur adalah jalan menuju dimensi lain. Dimensi yang bisa sangat berbeda dari realitas. Bisa jadi sangat kejam, bisa pula sangat membahagiakan. Atau bisa saja sangat biasa. Tapi buat saya, petualangan itu selalu menyenangkan. 

Tiap bangun tidur, kebiasaan anehku adalah mengingat kembali mimpi yang kualami semalam. Kadang saya mengingatnya dengan jelas. Kadang pula saya mengingatnya samar-samar. Kadang lupa sama sekali hingga sesuatu menjadi pemantik untuk mengingatnya secara utuh. 

Seperti mimpi saya semalam. Saya sama sekali lupa memimpikan siapa, apa, dan bagaimana. Tapi bagaimana tubuhku bereaksi saya bisa memastikan mimpi tersebut menyenangkan. Hingga kemudian saya membuka fesbuk dan menemukan berita tentang Princess Kate Middleton. "Itu dia", teriakku. Anakku sampai bertanya mengapa saya bereaksi seperti itu. Tidak lain karena saya menemukan apa mimpiku semalam. 

Saya mimpi terperangkap di tubuh Kate Middleton dan menikah dengan Pangeran William. Whaaaatttt???Crazy huh? No wonder kenapa gue berasa bahagia. Sebenarnya mimpiku agak liquid ( meminjam istilah entah dari Inception atau Gelombangnya Dee). Ruang, waktu, dimensi mencair. Tidak bisa disamakan dengan realitas  di bumi. Intinya waktu penunjuk mimpi tersebut adalah ketika Kate dan William menikah dan belum punya anak. Nah, peran saya pun cair. Saya jadi penonton, pelaku, pembaca, dan tak kasat mata sekaligus. Macam hantu gitu bisa pindah dan merasuki sesuatu. 

Ceritanya ini pernikahan  Pangeran William dan dia menikahi Kate Middleton. Terus jiwa Kate Middleton itu gue. At the end sang pemeran Kate itu mengatakan kalo ini bukan jiwanya. Tapi si Pangeran tetap mencintainya dan kemudian menikahinya. 

Tiba-tiba saya melihat diri saya membaca sebuah buku. Ending buku tepatnya. Sebuah kalimat berbahasa Inggris. Lupa gimana kalimatnya, yang otak saya tangkap adalah "saya tidak peduli siapa kamu, yang aku peduli adalah aku mencintaimu". Habis itu saya nangis kencang dan terharu. Romantis banget, kataku. Tapi, beberapa saat kemudian saya memikirkan opsi yang lain, jangan-jangan Kate Middleton yang asli  malas aja hadir di pernikahannya kemudian memilih perempuan untuk menggantikannya. Nah, jadi bingung? Saya juga bingung. Kemudian tiba-tiba ada yang nyeletuk nanti kalo Kate hamil, mau punya ibu pengganti juga? 

What a dream. Kusut dan surealis. Kemudian saya mengingat kembali mengapa semua itu bisa terjalin. Saya menemukan benang merahnya. Sebelum saya tidur saya memikirkan tentang semesta pikiran dan sebuah semesta paralel yang ada disana (kali lain saya jelaskan tentang ini). Beberapa menit sebelumnya saya nonton episode Sex and The City dimana salah satu pemerannya menikah. Jauh sebelumnya lagi saya menonton tentang film tentang ibu pengganti, kemudian ada artikel tentang kecurigaan Kate Middleton menggunakan ibu pengganti (surrogate mother) untuk kehamilan anak keduanya. 

Potongan-potongan realitas itulah yang terjahit dibawah alam bawah sadar saya. Yang kemudian menjadi mimpi. Aplause for my unconcious mind

      This is my prince of my dream

Terus mengapa saya menikah dengan Prince William? Nah, long time ago, waktu doski masih culun dan sangat cakep, saya punya postcard gambarnya hadiah dari majalah bobo. Dan saat itu dia masuk dalam kategori my imaginary prince. 

Fuiiihhh...i guess sleeping means dreaming just ok for me. Sayangnya saya belum bisa menentukan mimpi apa yang ingin saya lihat. Beberapa  serupa ramalan yang benar-benar terjadi di dunia nyata. Dan mimpi yang cukup menakutkan kadang tidak bisa dihindari. Satu-satunya cara adalah mengkhayalkan yang baik-baik dan berdoa sebelum tidur. Kemarin, sebelum bobo saya dzikir dan shalawat. Mungkin karena itu saya mimpi hal yang menyenangkan terus bangun dengan bahagia. Hehehe.(*)

Bogor, 23 Mei 2015
Images

Rumpa'na Bone : Kisah Runtuhnya Kerajaan Bone



Bone di tahun 1903. Lappawawoi Karaeng Sigeri, Arungpone yang menjadi raja kerajaan Bone kala itu. Puluh tahun setelah Arung Palakka bersekutu dengan Belanda melawan kerajaan Gowa-Makassar. Sang Raja harus membela harkat martabat kerajaan Bone. Tak tunduk pada perintah Penjajah Belanda. Berjuang melawan pasukan Belanda meski pada akhirnya ia menemui kekalahan. 

Selama ini saya hanya mengetahui sedikit sejarah tentang kerajaan Bone. Hanya sebatas nama-nama jalan sebagai penanda di kota Watampone. Arung Palakka adalah nama raja yang paling terkenal di Bone. Namun setelah itu saya tidak mengetahui lagi yang lain. Lapatau dan Lappawawoi dua raja Bone yang dijadikan nama jalan di Watampone. Tapi sejauh mana orang Bone, khususnya saya mengetahui kisah mereka? 

Rumpa'na Bone adalah novel sejarah yang ditulis oleh Andi Makmur Makka yang mengulik sepotong kisah di masa lalu tentang kerajaan Bone. Sepotong kisah heroik yang penuh kesedihan. Sang penulis sendiri, Andi Makmur Makka dikenal sebagai cendekiawan yang juga adalah pengurus Yayasan The Habibie Center. Ia adalah penulis biografi Habibie dengan judul B.J.Habibie dari Ilmuwan, Negarawan sampai Mandito. 

Kisah ini terjadi di tahun 1904-1905. Lapawawoi yang adalah Raja Bone ke-31 harus bergerilya selama puluhan hari. Mengungsi hingga ke Tana Toraja untuk menghindar dari penangkapan Belanda. 

Membaca buku ini mengingatkan saya pada roman-roman balai pustaka. Gaya menulis Andi Makmur Makka serupa sastra masa lalu. Jika terbiasa membaca novel-novel modern, maka bisa jadi anda menganggap bahasa buku ini cukup kaku. Tapi buat saya pribadi, kekakuan itu malah membuat kisah ini diceritakan oleh orang di masa lalu. Seperti mendengarkan mama saya berkisah tentang masa penjajahan. Ditambah kata-kata puitis      berbahasa bugis. 

Bagian paling mengharukan  dari buku ini buat saya adalah ketika Arungpone meminta pertimbangan kepada para penasehatnya apakah pantas ia meninggalkan kerajaan Bone sementara rakyatnya bertempur habis-habisan melawan penjajah. Jika saja bagian itu dituliskan dalam bahasa bugis, saya bisa pastikan saya merinding membacanya. 

Ketika membaca buku ini saya membayangkan kota Watampone yang saya kenal. Saoraja yang dulu sering saya lihat. Serta Pelabuhan Bajoe. Jika saja buku ini dilengkapi dengan foto-foto Bone tempo dulu, akan lebih sempurna. 

Sebagaimana sebuah kisah novel, bumbu percintaan selalu menjadi pemanis. Sayangnya, kisah cinta Petta Sele' dan I Bunga Rosi hanya ada di awal kisah. Bisa jadi karena memang buku ini diniatkan sebagai novel sejarah bukan novel percintaan. Hehehe. 

Buku ini wajib dibaca oleh masyarakat Bone. Kalo perlu, menjadi bahan pelajaran sejarah di sekolah-sekolah kabupaten Bone. Selalu menyenangkan membaca sejarah lewat novel. (*) 

Bogor, 20 Mei 2015

Images

Rupa-Rupa Tayangan Televisi


I luv watching tv. Di saat begitu banyaknya riset-riset yang mengatakan bahwa televisi membawa pengaruh yang sangat buruk dan kampanye mematikan televisi marak digalakkan, saya tidak bisa menjauhkan diri dari media komunikasi satu arah ini. Banyak yang mengatakan era televisi sebentar lagi mati mengikuti era radio yang sedang sekarat. Dipengaruhi oleh era internet yang sedemikian mengokupasi sebagai sumber informasi yang lebih cepat dan lebih personal. Buat sayatelevisi tetap memiliki pasarnya sendiri. 

Kita kembali ke awal, saya suka menonton televisi. Sejak kecil ketika MTV masih bisa diakses lewat parabola di rumah. Saya mengenal stasiun CNN, CNBC Asia, hingga stasiun TV Australia. Melalui televisi saya mengetahui tentang luar negeri. Mengingat akses buku-buku bacaan hanya terbatas pada buku-buku perpustakaan sekolah dan guru-guru sekolah yang hanya mengajar sesuai buku pelajaran, maka informasi dari televisi banyak membantu saya mengetahui apa yang terjadi di dunia. Saya paling menyukai berita internasional. Dulu di Indosiar ada satu program berita international yang tayang sebelum saya berangkat sekolah. Saya bela-belain nonton, meskipun agak telat ke sekolah. 

Tayangan televisi jaman saya sekolah lumayan menyenangkan. Saya masih ingat Beyond Believe di Metro TV. Serial Party of Five. Negeri di atas awan. Seven Heaven. Opera Bobo dan Cinderella di TVRI. Law and Order. Popular. Dan beberapa program lainnya yang cukup menyenangkan untuk ditonton. 

Kemudian datang era kegelapan di stasiun televisi Indonesia. Sinetron yang begitu panjang sejak zaman Tersanjung. Berkurangnya serial-serial impor dan diganti dengan sinetron dan reality show. Kemudian tayangan uji nyala cari setan. Terus ajang pencarian bakat. Sinetron-sinetron yang semua scenenya dishoot dengan angle close up yang bikin sakit mata. Sebenarnya memproduksi tayangan sendiri tanpa mengimpor dari luar baik adanya. Tapi ketika tayangan yang diproduksi kualitasnya di bawah rata-rata juga tidak baik. Di masa kelam itu saya tidak suka menonton televisi. Saya sangat jarang menonton televisi.  Memilih-milih stasiun televisi yang menarik. Memilih-milih tayangan hingga paling ekstrim adalah tidak menonton televisi lagi. Saat kuliah saya tidak menonton tivi lagi, karena memang tidak punya tivi*grin*. 

Kemudian saya kembali menyukai menonton televisi ketika sudah menikah dan suami berbaik hati berlangganan penyedia stasiun televisi berbayar. Macam-macam stasiun televisi menjadi pilihan untuk memuaskan gairah menonton saya. 

Tayangan pilihan saya adalah tayangan Fox, Starworld, AXN, Hingga History. Menurut suami pasti pilihan acara-acara yang kutonton tidak masuk akal buatnya. Xixixixi. Suami nda bisa nonton Criminal Minds, Bones, atau serial Sex and The City. Satu-satunya tayangan yang saya suka dan ia juga suka adalah Ancient Aliens di History. Suami sangat suka hal berbau sejarah dan misteri yang menyelubunginya. 

Anak saya pun menonton televisi.  Saya tidak memberikan aturan yang begitu ketat untuk tidak menonton untuknya selama acara televisi yang dia tonton sesuai umurnya. Awal berlanggan tv kabel, dia menyukai baby first tv. Kemudian meningkat ke Disney Junior. Karena sudah bisa tekan remote dan milih sendiri saluran tivinya, dia mulai suka nickelodeon. 

Acara anak-anak ini cukup memberi dampak positif. Kosakata bahasa Inggris Ara bertambah dan dia mulai bisa menggabungkan kata-kata bahasa Inggris menjadi satu kalimat utuh yang benar. Misalnya ketika ia bertanya "What's going on, Mama?". Atau tiba-tiba melihat matahari, dia nyelutuk "The sun is going up". Jiaaah. Sekecil itu udah pake kalimat the sun is going up. Gue waktu SMP baru bisa ngomong the sun is rise. *ditimpukkamus*. 

Selain itu meskipun menonton tivi, saya selalu berusaha menemani dia menonton. Jadi ketika ia bertanya tentang apa yang terjadi, saya wajib menjelaskan hingga dia mengerti. Untuk stasiun Nickelodeon, saya agak membatasi Ara. Karena kartun-kartunnya sudah cukup dewasa. Tapi, dia nda terlalu doyan juga sih. 

Nah, keseringan menonton acara-acara di stasiun tivi luar membuat saya melihat kenyataan yang hampir sama yang terjadi di stasiun tivi Indonesia. Misalnya kesamaan tema acara, cerita-cerita serial yang diangkat. Namun, sekalipun tema, setiap serial film memiliki daya tarik yang berbeda. 

Semisalnya serial detektif. Hampir di semua  stasiun tivi ada serial kayak gini. Mulai dari Fox, AXN, Fox Crime, hingga Lifetime. Menariknya adalah setiap serial memiliki ciri khasnya sendiri. Misalnya Criminal Minds yang menekankan pada bagaimana sebuah kejahatan dan apa latar belakang hingga terjadi. Bones, lebih ke cerita tentang keterlibatan Jeffersonian Lab dengan memecahkan kejahatan melalui tulang korbannya. Perception, tentang Professor skizoprenia yang bekerja sama dengan dektetif, CSI menitiberatkan pada penyelidikan TKP, dan banyak lagi. Meskipun temanya detektif tapi pemirsa khususnya saya pribadi tidak bosan disuguhkan tayangan yang hampir sama. 

Di tivi-tivi berbayar seperti ini pun ada juga semacam film lepas yang dibuat stasiun tivi tersebut. Semacam FTV kalo di Indonesia. Nah kualitasnya beda-beda per film. Ada yang bagus mirip film hollywood tapi ada juga yang mirip FTV Indonesia bahkan lebih buruk lagi. Lifetime yang paling sering menayangkan film lepas kayak gini. Pantau saja di pukul 11 siang waktu Indonesia barat. 

Selain film detektif, saya pun menyukai film komedi dan serial drama. Tapi untuk Empire, saya tidak mengikutinya. Kali ini saya menyukai serial A-Z di Starworld. Mirip How I Met Your Mother, tapi serial komedi satu ini masih relatif baru karena baru tayang di jam primer di Starworld. Saya pun baru menyadari kalo serial Sex and The City itu lucu dan asyik ditonton. Meski nontonnya loncat-loncat berdasarkan yang tayang di tivi, tapi saya menikmatinya. Kalo sedikit lagi saya terobsesi, kayaknya bakal cari DVD bajakannya. 6 musim. Hahaha. 

Apakah saya masih menonton stasiun tivi Indonesia? Hanya jika suami pulang kantor dan segera setelah dia menegur kalo tayangan tivi yang sedang main tidak masuk akal. Hahaha. Masih sering kok nonton berita di stasiun tivi berita. Sesekali kalo salah pencet nonton acara hiburan di tivi lokal. Meski dengan kening mengkerut. Semisalnya sinetron Ganteng-ganteng Serigala yang dijiplak dari film Twilight dan dikembangkan lagi ceritanya hingga makin tidak masuk akal. Ada juga sinetron Rain yang meniru film The Fault in Our Stars. Ceritanya si cewek  sakit terus sambil bawa oksigen gitu. Kemudian adalah lagi sinetron yang entah apa judulnya dijiplak dari serial True Blood. Semuanya ini sinetron di SCTV. Kabarnya di RCTI ada sinetron dengan judul Preman Insyaf yang lumayan bagus untuk ditonton. Yang satu ini saya nda tau pasti, soalnya di tivi berlanggananku nda ada stasiun milik  MNC Group. Xixixi. 

Saran saja buat para pembuat sinetron di Indonesia, kenapa sih harus jiplak cerita dari luar. Tuh, di toko buku begitu banyak novel-novel remaja yang ditulis penulis Indonesia. Kenapa nda angkat cerita dari sana aja. Maksudnya gini loh, kita nda kekurangan orang-orang yang punya ide-ide cerita yang asyik. Ngapain juga harus jiplak cerita dari luar. (*) 

Bogor, 18 Mei 2015


Images

Kamar Impian Ara

Karena kepentingan riset ( cieee riset...lol) akhir-akhir ini saya suka membeli majalah. Setelah membeli majalah untuk anak remaja Go Girls dan membacanya sampai selesai, hasil temuan saya adalah 70 persen isinya adalah katalog barang dengan harga yang tak terjangkau kantong pelajar atau mahasiswa. Hasil temuan ini nda penting sih ditulis disini, karena riset saya (macam mahasiswa level magister saja) bukan untuk itu. Berikutnya saya membeli majalah Puan Pertiwi. Majalah ini membidik ibu-ibu muda seperti saya ( sisir rambut sambil nyemir uban) dengan ragam informasi tentang perempuan yang sangat informatif. Apakah riset saya tentang itu? Bukan juga sih. Saya cuma pengen baca majalah aja sih, bukan ngeriset. Hahaha. 

Nah, saya nda mau ngobrol soal majalah. Atau soal riset yang sedang saya lakukan. Saya mau ngobrol tentang anak gadis saya, Ara. Apa hubungannya dengan majalah? Cerita majalah cuma seupil, cuman biar jadi panjang dan bisa masukin kata riset jadinya diceritain disini*ditimpukmajalah*. 

Oke, karena sudah dua hari majalah Puan Pertiwinya saya beli dan belum terbaca, serta sebelum suami ngomel-ngomel kalo banyak buku yang belum terbaca, maka saya pun membuka-buka lembar majalahku. Kertasnya licin mengkilap, menguarkan bau kertas mewah. Saya menikmati moment itu sambil membuka halaman-halamannya pelan-pelan. Lembar demi lembar. Kemudian....sebuah tangan kecil mengacaukan keintiman yang terjadi antara saya dan majalah. Dia membuka paksa halaman yang ingin dilihatnya. Pas beli kemarin, saya menunjukkan sebuah halaman yang terus diingatnya. Terintimidasi olehnya saya melakukan perlawanan. Tapi siapalah saya, melawan kuasa tangisnya. Tangan saya pun membuka halaman yang dia maksud. "Baca, Mama!", suaranya memaksa. 
"Kid's Study Room", kataku keras membaca judul artikel itu. 

Belum kumulai membaca satu paragraf ia sudah mengoceh. "Ara mau rumah ini. Yang ada tangganya", katanya sambil menunjuk satu gambar dekorasi kamar yang memiliki tempat tidur di atas dan meja belajar di bawah. 

"Kalo mau kamar begitu, Ara harus tidur sendiri. Nda tidur sama Mama dan Ayah. Berani?", tanyaku. "Iya, berani", jawabnya mantap. 
"Ada televisinya". "Itu komputer buat belajar", koreksiku. "Nanti Ara baca buku. Once upon a time...", ocehnya. "Naik tangga, climb climb climb...ada fotonya Minnie, Mickey, Goofy...nanti datang Khanza main-main di rumah Ara", lanjutnya lagi. "Tunggu sebentar. Tunggu ya...", katanya sambil mengambil kertas dan mencoret-coret. 

Tidak lama kemudian dia telah menggambar coretan kamar dikertas itu. Lengkap dengan tangga, televisi yang sebenarnya komputer, buku, serta tangga yang sangat tinggi sehingga terlihat seperti rumah pohon. "Ara imagination", katanya. "Foto, Mama....yang merah tombolnya ( record maksudnya) hi guys this is rumah Ara imagination" katanya sambil mulai berpose dan saya merekam tingkahnya sampai 3 menit lamanya. Dia terus bercerita sesekali menambahkan coretan yang dia lupa gambar di gambarnya. 

Saya kemudian memperlihatkannya beberapa dekorasi kamar di internet. Matanya berbinar. Semua begitu menakjubkan di matanya. Ada yang punya rumah di kolong tempat tidur, seluncuran, kamar yang serupa tenda. Ia memandanginya dengan senang sambil bertanya mengapa ada kakaknya ( ada gambar anak kecil), ini lewat mana ( ketika ia tidak melihat tangga tempat tidur), kenapa tempat tidurnya empat ( ada kamar dengan dua ranjang susun). "Nanti kalo Khanza datang, Khanza bobo sama Ara. Terus main-main", katanya sambil memandangi sebuah kamar berwarna biru. "Biru saja, Ara tidak mau pink". 

"Harus pilih satu, karena yang bisa dibikin cuma satu", kataku. "Nanti minta Handy Many. Terus Handy Many tuk tuk tuk ( sambil meragakan memalu)", katanya. "Iya. Nanti minta tolong sama Handy Many untuk buatkan", kataku. "Handy Many Om". Ia  kemudian bingung memilih kamar mana yang sangat memikat hatinya. Yang ia lakukan selanjutnya adalah memandangi kamar-kamar anak itu satu persatu hingga tertidur. 

Ia membawa kamar imajinasinya ke alam mimpi. Semoga kelak kamu bisa menginderainya dengan bahagia, anak sayang. For now, imagination is enough. 

Bogor, 11 Mei 2015
Images

Empat Mei

Diam-diam kita menyimpan luka dan parut masing-masing. Kita simpan di ruang paling gelap dan kelam yang bahkan kita pun tak mampu melihat. Luka dan bekas parut tidak untuk dilihat dan dipajang. Sedapat mungkin tak terasa. Tapi kita tak pernah mampu lari luka kita sendiri. Bekas parut yang kita miliki tak pernah menjadi milik orang lain. 

Kenangan-kenangan yang tidak indah  lekang lebih lama dari jejak-jejak ingatan yang baik. Angka -angka pada kalender berganti, namun kita sering terkenang pada peristiwa yang menjauh ke belakang. Sambil bergumam "telah menahun kenangan itu memberi luka parut di hati". Satu buku tahun tertutup, luka masih terasa sakit, sebuah maaf yang dusta untuk hati yang mengiba. Tapi luka itu tak pernah mampu sembuh. Parutnya membekas. Garisnya menandai sebuah peristiwa. 

Adakah ingatan kita hari ini membawa kita ke masa lalu? Adakah ia menyentakkan jiwa seraya berkata hari ini di masa lalu, aku menyakiti hatinya. Kita saling menyakiti. Sumpah serapah bersilangan. Mengiris dada dan menoreh hati. Adakah kita memiliki niatan untuk bertukar sapa dan bertanya kabar? Tanpa perlu menunjukkan luka yang masih belum mengering. Kita cukup lihai berpura-pura. Sebuah kebohongan lagi tak memberi beda. 

Hari ini empat mei. Bintang tetap berperang. Seperti kita dalam diam.  May the 4th be with you. 

Bogor, 4 Mei 2015