Images

Tulisan Lucu Untuk 31 Juli Kedua

Lagu alphabet song mengalun lembut di handphoneku. Meski setengah sadar saya sangat tahu siapa yang menelepon. Dua hari ini ringtone itu selalu mengalun jika saya menerima telepon darinya. Mungkin ia baru menghubungiku melalui nomor yang tercatat di phonebookku. Sebelumnya nada ringtone yang terdengar hanyalah untuk profile umum dengan tampilan angka yang tidak terlacak.

"Ini karena email yang kukirim",pikirku sembari meraih handphone dengan malas-malasan. Masih setengah mengantuk menjawab halo orang diseberang sana. Lelaki yang ditempatnya masih tanggal 30 juli. Sedangkan saya berada di sisi bumi bertanggal 31 juli. Ada apa dengan tanggal 31 Juli? Hmmm...ini hari dimana saya menikah. Dan lelaki di sisi bumi lain itulah yang menjadi suami saya. Bagaimana kami melewatkan 31 juli kami? Kami tipe pasangan yang lucu. Mentertawai banyak hal. Bahkan dalam romantis pun kami lucu. Lucu diselingi romantis ya, begitulah.

Seperti malam ini ketika kami hanya bisa saling bertukar kabar melalui handphone. Dan mengenang dua tahun kebersamaan. Kami pun memperdebatkan dua atau tiga tahun kami bersama. Saya ngotot dua tahun. Pria dimana-mana sama, tidak mengingat detail. Dan kami pun mengingat bagaimana kami melewatkan 31 juli tahun lalu. Ngobrol selepas subuh ( ini cukup romantis) dan besoknya ke rumah sakit bersalin.

Waktu berjalan begitu cepat. Bayi kecil yang saya lahirkan di rumah bersalin itu kini sudah besar. Sudah belajar berdiri dan mulai belajar manipulasi rasa. 31 juli mungkin tak seseru ketika Harry Potter memulai hari pertama sekolahnya di Hogwart. Tapi yang pasti 31 juli selalu magis buat saya.

Selamat 31 juli kedua. Saya benar-benar tidak mengantuk lagi sekarang. Mendapat dua telepon darimu hanya karena ucapan happy anniversary yang sedikit lebay di fb. Baiklah, saya menghapusnya. Tapi di blog ini saya akan menulisnya lagi.hahahahaa.

Selamat 31 Juli. Anda harus bertanggung jawab karena menghilangkan kantuk saya. Sekian dan cium saya sekarang *preettt*

Tak ada romantisan. Karena romantis hanya milik anak SMA alay yang super galau yang masih awam pada penderitaan (nah ini cukup galau dan alay). Sekian dan terima kado. Mana kado ulang tahun pernikahanku, mana kado ulang tahunku, kado ulang tahunnya Ara. Kalo cuma tiket ke Amerika, dirimu pelit ah...:p (*)

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Menikmati Dimsum Terakhir

Akhirnya saya mencicipi juga Dimsum terakhir buatan Clara NG. Buku yang selama ini direkomendasi oleh dokter Joko. Menurut Kak Joko (begitu saya memanggilnya), Dimsum terakhir milik Clara NG lebih "menggigit" dibanding Partikel karya Dee. Belum lama saya membaca Partikel. Selama ini yang membuat saya jatuh cinta pada Dee adalah pilihan-pilihan katanya yang selalu mampi membuat saya terjebak dan kadang suka mengulang kembali membuka halaman buku hanya karena ingin melihat kembali.

Saya agak sangsi jika karya Clara Ng lebih menggigit. Soalnya dua karyanya sudah saya baca (Utukki dan Gerhana Kembar) dan saya kurang puas pada keduanya. Mungkin juga karena penilaian saya terlalu subjektif. Saya menyukai Dee. Hampir semua karyanya dan bahkan mengidolakannya.

Nah, karena ingin membuktikan tanggapan Kak Joko, maka saya penasaran dengan Dimsum Terakhir. Setelah begitu sakaw karena kehabisan buku bacaan dan Ema dengan baik hati membelikan buku-buku pesananku, rasanya saya kembali bisa melanjutkan hidup (mmmm...bagian ini terlalu lebay). Baru kemarin saya memulai membaca Dimsum Terakhir, setelah beberapa hari berusaha mengedit kumpulan tulisan. Dan Dimsum terakhir berhasil membuatku terjerat hingga halaman terakhir.

Buku tahun 2005 ini bercerita tentang empat orang perempuan kembar yang begitu berbeda dengan profesi yang berbeda-beda. Siska, general manager perusahaan di Singapura, Indah, wartawan majalah remaja, Rosi,pengusaha bunga mawar, dan Novera, seorang guru di Jogja. Keempatnya harus pulang ke rumah dan berkumpul kembali karena papanya menderita sakit dan diprediksi tidak akan sembuh. Cerita pun bergulir pada lingkaran keluarga, masa lalu yang terkuak, keterbukaan untuk saling memahami, dan juga tentang pengakuan akan eksistensi serta penerimaan akan segala keadaan tanpa syarat. Buku ini tidak hanya bercerita keluarga Cina keturunan yang tinggal di Indonesia, tapi juga tentang kaum minoritas, perlakuan negara terhadap Cina keturunan, kaum perempuan, perbedaan ras, agama, bahkan masalah homoseksualitas.

Dimsum terakhir seperti menyajikan cita rasa yang berbeda dari cerita novel Indonesia pada umumnya. Clara Ng, penulis keturunan Cina ini berhasil menyajikan budaya Cina yang sangat jarang ditemui di novel-novel asli Indonesia. Kebudayaan Cina yang tidak lekang meski berada di Indonesia. Ia juga menuliskan bagaiman perlakukan yang diterima para kaum Tiong Hoa di Indonesia sekalipun mereka juga WNI. Dimsum terakhir semacam guide yang diramu menjadi novel untuk mengetahui kebudayaan cina itu sendiri. Clara Ng menyelipkan tradisi imlek, ritual agama, hingga makanan khas cina (selesai membaca buku ini saya jadi penasaran ingin mencoba memakan bacang).

Dari beberapa pembacaanku terhadap Clara Ng saya menyimpulkan bahwa penulis kelahiran 1973 sangat menyukai tema perempuan, kaum tiong hoa, dan juga homoseksualitas. Dia juga selalu menyisipkan tokoh pengarang dalam karakternya. Saya menemukan banyak persamaan ini dengan membandingan buku Gerhana Kembar dan Dimsum Terakhir. Bahasanya lugas. Kadang sedikit membingungkan dengan banyak karakter-karakter. Tapi Clara Ng mampu membuat pembaca tidak tersesat di dalamnya. Dimsum terakhir menyajikan sebuah novel yang berbeda dari novel kebanyakan. Citarasa yang berbeda layaknya resep baru yang berhasil diolah di dapur.

Diakhir halaman buku ini saya akhirnya membuat kesimpulan, bahwa yang diperlukan dalam hidup hanyalah sebuah pangakuan dan pemasrahan diri. Biarkan gerak menuntun ke arah mana. Yang dibutuhkan hanyalah pengakuan,tak peduli pada akhirnya harus bersama atau berpisah. Ah, Clara Ng membuatku melankolis. Rasanya selain bacang, saya ingin mencicipi dimsum hangat.(*)

28 Juli 2012, Selamat ulang tahun, Clara Ng
Powered by Telkomsel BlackBerry®

There's a difference between love and care.
U can care without love.
But u can't love without care.
So, do u love me or just care?
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Perempuan Paling Hebat

Mamaku, nak, perempuan paling hebat yang pernah kukenal. Tak pernah sedikit pun dia mengeluh. Matanya selalu berbinar. Ada kerut-kerut di ujung matanya, pertanda ia selalu tertawa. Sembari menulis cerita ini, saya berusaha kembali mengingat wajahnya. Butuh waktu beberap detik untuk mengingat kembali paras mukanya. Rasanya sudah begitu lama sejak terakhir saya melihatnya. Ingatanku yang paling jelas tentangnya hanyalah ketika ia terbaring lemah di rumah sakit. Kenangan yang tak ingin kuingat kembali. Kenangan yang menghadirkan sebuah lubang hitam di hati. Kenangan tentang kehilangan. Perlahan tapi pasti saya belajar memilah memori-memori yang kumiliki dengannya. Hanya bagian-bagian yang menyenangkan yang ingin saya ingat. Bukan ketika ia pergi, karena ia tak pernah pergi.

Sebelum kamu ada, saya selalu menganggap menjadi ibu itu bukanlah hal yang istimewa. Merawat anak, memasak makanan, dan mengerjakan pekerjaan rumah. Mayoritas perempuan melakoninya. Pernah disuatu masa seorang teman berkata padaku, cita-citanya hanyalah menjadi ibu rumah tangga. Saya agak heran. Ketika saya bermimpi menjadi seseorang yang lain, dia memilih mejadi ibu rumah tangga. Sesuatu yang kupikir saat itu sebagai hal yang begitu biasa dan tidak istimewa. Ya, hampir bisa dipastikan semua perempuan memainkan peran itu.

Dan kemudian setelah kamu lahir saya menyadari bahwa menjadi ibu rumah tangga tidaklah sesederhana mengerjakan pekerjaan domestik. Menjadi ibu rumah tangga berarti menjadi seorang yang bertanggung jawab penuh terhadap sebuah generasi. Ia adalah Penjaga. Pada dirinya dititipkan sebuah kehidupan yang harus ia rawat. Tak putus hingga nafas terakhirnya.

Kehadiranmu membuatku mengingat mamaku. Saya mengenalnya hanya sebagai sosok ibu di mataku. Saya tidak begitu mengenalnya sebagai peran lain. Ia seorang guru, tapi saya tak pernah diajarnya di dalam ruang kelas. Saya tidak mengenalnya sebagai sosok lain yang berdiri mengajar seharian di depan kelas. Meneriakkan materi-materi pelajaran. Yang saya tahu hanyalah opini orang tentangnya bahwa ia guru yang cerdas.

Mungkin dia memiliki sisi yang lain. Mungkin dia memiliki mimpi-mimpi pribadi yang ingin diwujudkannya. Mungkin juga ia pernah memiliki kehendak lain. Mimpi yang mungkin tidak dapat diwujudkan hanya karena ia memilih menjagaku. Kehendak yang harus dipatahkan hanya karena ia menjalankan tanggung jawabnya. Mungkin juga ia pernah punya kisah cinta romantis. Seseorang yang ideal di matanya. Mungkin juga ia pernah patah hati. Apakah mama dulu pernah galau? Bagaimana ia menguatkan hati terhadap setiap kesedihan dan kedukaan? Rasa-rasanya makin saya bertumbuh dewasa semakin banyak pertanyaan tentang dirinya.

Saya bahagia mengenalnya sebagai ibuku. Saya bangga memiliki mamaku. Saya bertumbuh dan menjadi dewasa. Menemukan banyak problem dan belajar menyelesaikannya. Mungkin saya seperti mamaku. Saya yakin sedikit banyak ada dirinya di dalam diriku.

Karenanya Ara, saya menuliskan ini untukmu. Agar kamu tahu sedikit lebih banyak tentangku. Saya selalu berharap mamaku menulis catatan harian agar saya bisa menyelami pikiran dan cara pandangnya. Sayangnya ia sama sekali tidak punya tradisi menulis diary.
Yang kumiliki tentangnya hanyalah kenangan-kenangan yang berusaha melawan lupa.

Saya selalu mensyukuri kehadirannya. Eksistensi bahwa ia pernah ada. Saya merayakan dan bersuka cita akan kelahirannya. Dan tak mengingat ketika ia pergi. Karena saya selalu percaya ia selalu ada di hati. Tak pernah benar-benar pergi.(*)

Tulisan ini untuk merayakan hari dimana mamaku dilahirkan 6 juni 1946.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Lelaki Yang Mencinta Dengan Sederhana

Rambutnya gondrongnya telah memutih. Jenggot panjangnya pun demikian. Topi rajutan berwarna biru tua menutupi rambutnya yang panjang. Kulitnya makin hitam terbakar matahari. Hanya itu yang berubah dari sosoknya. Terakhir kulihat sosoknya tiga tahun lalu. Saat saya merampung kuliah. Baru kali ini kami kembali bersua dan saling bertukar sapa. Saya jarang mengunjunginya meski saya tahu dia selalu di sana. Di jalan politeknik Unhas. Tempatnya mangkal menunggu penumpang dengan becak cicilan yang mungkin telah lunas.

Namanya Pak Kuasang. Saya cukup akrab dengannya. Waktu ngekost di depan danau Unhas saya selalu menggunakan becaknya. Dia akrab dengan semua mahasiswa yang selalu lewat jalan politeknik Unhas. Kadang kalo hanya sekedar nongkrong di depan danau kala sore hari Pak Kuasang dengan ramah menyapa semua orang yang memanggilnya. Kadang singgah sejenak untuk ngobrol jika sedang tidak mengantar penumpang.

Saya pernah menuliskan profilnya disebuah website citizen Journalisme. Panyingkul.com. Dari proses penulisan profilnya lah saya banyak tahu tentang Pak Kuasang. Ia berasal dari Jenneponto. Merantau ke Makassar berpuluh-puluh tahun yang lalu. Menggantungkan hidupnya dari profesi tukang sapu Unhas dan menarik becak. Membiayai istrinya yang buta dan ketiga anaknya. Ia mengontrak kamar kecil di sekitar kampus Unhas. Pernah sekali saya berkunjung ke rumah kost tempatnya ngontrak. Sebuah kamar berukuran 2 x 2 m yang sangat sempit. Saya selalu beranggapan kamar kostku yang bertarif 1.000.000/tahun kala itu sebagai kost paling sempit di dunia. Tapi kenyataannya kamar kontrakan Pak Kuasang lebih kecil dan lebih kumuh lagi. Untungnya anak-anaknya sudah pada berkeluarga sehingga ia hanya tinggal berdua dengan istrinya.

Suatu kali ia pernah di bacok oleh sesama tukang becak. Karena perebutan lahan. Ia harus dirawat intens di rumah sakit. Lengan kanannya yang terkena bacokan harus dipasangi besi. Teman-teman yang mengenalnya bahu membahu memberi sumbangan. Begitu juga dengan Panyingkul.com yang melakukan penggalangan dana. Dana itu cukup membantu proses operasi Pak Kuasang.

Saat dirawat di rumah sakit ia tidak lagi bekerja di Unhas. Tempatnya digantikan oleh orang lain. Sehingga ia otomatis hanya menarik becak saja. Tapi tak pernah sedikit pun kulihat gurat sedih di wajahnya. Ia selalu tersenyum. Ia mensyukuri segala hal dalam keterbatasan. Tidak menuntut sesuatu diluar kemampuannya.

Sore itu kala saya dan kamu menemuinya ia masih saja mengenaliku. Kamu menangis melihat sosoknya. Mungkin jenggot yang panjang dan rambut gondrongnya cukup menyeramkan buatmu. Menanyakan kabarnya dan menanyakan kabar orang-orang yang saya kenal dan ia kenal. Apakah mereka masih saling bertemu atau tidak. Ketika kutanyakan istrinya, ia menunjuk sosok perempuan yang duduk di kios pinggir jalan. Seperti itulah mereka menikmati hidup. Menyertai suami menarik becak. Mendengar lalu lalang kendaraan. Bising jalanan tanpa perlu melihatnya. Mereka tak butuh hingar bingar mall. Atau kebioskop untuk memperoleh tontonan. Pak Kuasang tak butuh makan malam romantis dengan lilin menyala dan musik mengalun. Ia dan istrinya mampu menikmati makan malam yang tak kalah romantis dengan pendaran lampu kota dan klakson kendaraan.

Mereka menikmati hidup tanpa tuntutan-tuntutan kemewahan yang harus dipenuhi. Mereka berbahagia dengan cara yang sederhana. Asalkan kebutuhan sehari-hari telah cukup dan tak ada yang sakit. Kupikir seperti itulah kita harus menjalani hidup nak. Kita perlu banyak belajar dari Pak Kuasang. Cinta mungkin sudah menggenapi segala hal di tengah keterbatasan.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

This Is Not Just A Cake

Masih 10 hari dari tanggal lahirmu dan juga tanggal lahirku. Beberapa skenario telah saya buat di kepalaku. Salah satunya adalah membuatkanmu kue ulang tahun. Waktu saya kecil kue ulang tahun adalah sebuah barang mewah. Kue bolu bersaput mentega manis penuh warna. Kue yang rasanya sebenarnya biasa saja tapi selalu mewah untukku. Kue tart. Tapi saya dan kakak-kakak saya selalu memplesetkannya dengan kue tembok. Kata tembok merujuk pada mentega-mentega yang melapisi sekeliling kue sehingga terlihat cantik dengan bentuk hiasan yang berwarna-warni.

Mamaku tak pernah membelikan kue itu. Adalah mimpi untuk Menghadirkan kue itu di ulang tahunku waktu kecil. Tapi mamaku selalu mampu membuat ulang tahunku menjadi istimewa. Sehari sebelum tanggal 2 agustus ia akan membuatkanku kue bolu. Membungkuskan kado-kado kecil untukku saat saya tertidur. Dan 2 agustus selalu menjadi hari yang istimewa untukku. Kue itu mungkin hanya kue bolu biasa. Tidak ada mentega manis yang mengelilinginya. Tapi kue itu bukan sekedar kue. Ada cinta di sana. Ada kasih ibu yang tak lekang. Sederhana tapi semanis mentega warna warni di kue tart.

Aku, Kamu, dan Rainbow Cake

Tanggal kelahiran selalu istimewa buatku. Terlebih ketika berbagi hari istimewa itu denganmu. Dan membuatkanmu kue ulang tahun menjadi salah satu mimpiku. Mimpi yang kemudian menjadi ekspektasi di kepalaku. Rainbow cake menjadi pilihan kue yang ingin kubuat untukmu. Kue ini sedang happening. Dan saya tertarik membuatnya. Meskipun beberapa orang mengatakan itu cuma kue bolu dengan warna-warni pelangi. Tapi tekad sudah bulat sayang. Membuatkanmu rainbow cake atau saya penasaran seumur hidup.

Mencari resep dan bahan kue tiba-tiba menjadi semacam rutinitas. Ada yang dipanggang ada yang dikukus. Pilihan jatuh pada resep kukus karena pertimbangan takaran bahan kue yang tidak terlalu Banyak (tapi nyatanya sama saja dengan resep panggang:D). Bahan-bahan kue pun sudah lengkap (kecuali minyak sayur yang setelah tanya-tanya lewat twitter dan BBM bisa diganti dengan mentega cair). Pagi ini sebenarnya saya agak malas-malasan. Inginnya tidur saja ketika menemanimu tidur. Tapi kakak Ipah tiba-tiba mengingatkan untuk membuat kue. Ini hari minggu, dia tidak ke kantor. Setidaknya ada yang bantu bikin kue atau ada yang temani kamu sembari saya berkutat dengan mentega dan mixer (tapi pada akhirnya dia memilih tidur dan saya harus membagi waktu demi menemanimu main sambil bikin kue. Catatan buatku, butuh kekuatan ekstra untuk membuat kue ketika anak masih bayi dan sangat bergantung pada mamanya).

Empat jam saya berkutat di dapur. Membuat adonan. Menimbangnya. Memberi pewarna hingga mengukusnya. Kemudian mengolah mentega menjadi butter cream kemudian menyulapnya lagi menjadi cheese cream. Rasa-rasanya seluruh tenagaku terkuras di sana. Maagku tiba-tiba kambuh dan dahaga begitu terasa.

Kamu anak yang baik. Ketika saya sibuk membuat kue kamu main-main sendiri. Hanya menangis sesekali saat lapar atau mengantuk. Ketika rainbow cake itu dirapikan kamu dengan antusias memperhatikan. Beberapa kali kamu menjangkau dan mencolek creamnya. Mungkin kamu tertarik dengan warna pelanginya yang mencolok. Kutaruh hiasan "Happy Bday" di atas kue itu. Hiasan berbentuk sepasang perempuan. Ibu dan anak. Tak ada tulisan namamu atau namaku diatas kue itu tapi hiasan itu sudah mewakili kamu dan aku.

Masih 10 hari ulang tahun kita. Tapi hari ini saya, Khanza, dan kakak Ipah menyanyikan lagu selamat ulang tahun dan kamu dengan gembira bertepuk tangan. Tak ada lilin yang menyala yang harus ditiup tapi doa tetap saya ucapkan lirih untukmu. Doa seorang ibu untuk anaknya. Segala yang terbaik dan bahagia menyertai kita setiap saat. Amin.

Saya bahagia akhirnya bisa membuatkanmu kue ulang tahun. Ditahun-tahun mendatang kita akan sama-sama membuat kue dan berdiskusi soal rasa. Saling membisikkan doa ulang tahun dan berpelukan sesudahnya.

Saya melahirkanmu dan kamu melahirkanku.Saya bahagia memilikimu.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Manual Book Manusia

Pada akhirnya agama mengajarkan kita bagaimana bersikap,bertingkah laku baik kepada Tuhan maupun kepada ciptaan-ciptaanNya...

Tiba-tiba sampai pada perenungan ini. Apa agama Tuhan? Apakah ia Islam, Kristen, Hindu,Budha, atau ia sama sekali tidak beragama? Apakah ketika nanti saya bertanya pada Tuhan, apa agamaNya dan Dia akan menjawab satu agama yang kuketahui?

Agama adalah produk dari manusia. Mungkin sederhananya adalah agama ciptaan manusia. Sejak zaman purba, manusia telah menciptakan kepercayaan-kepercayaan untuk mereka gunakan sebagai sebuah petunjuk atau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa mereka jawab atau jangkau dengan akal. Tapi manusia purba mempercayai bahwa ada sebuah Zat yang Maha Kuasa yang menciptakan alam raya dan seisinya.

Hingga turunlah wahyu-wahyu kepada manusia-manusia pilihan. Untuk dijadikan petunjuk untuk hidup. Jika manusia lahir ke dunia tanpa manual book, maka kupikir wahyu-wahyu yang diturunkan Tuhan adalah manual book itu sendiri. Petunjuk penggunaan apa dan bagaimana harusnya manusia bersikap.

Dan sebagaimana membaca manual book, maka kita pun menggunakan interpretasi. Interpretasi yang mungkin berbeda antara satu dengan yang lain. Kadang saling berbenturan hingga menciptakan perbedaan yang cukup mampu menimbulkan perdebatan.

Pemahaman agama saya masihlah sangat rendah. Saya penganut Islam yang tidak begitu taat. Sholat pun masih bolong-bolong. Tulisan ini hanyalah sebuah upaya perenungan untuk mencari pencerahan. Mendedah tanda tanya. Saya mempercayai Tuhan hanyalah satu. Yang menciptakan semesta dan manusia. KuasaNya meliputi yang di langit dan di bumi. Hingga wahyu-wahyuNya diturunkan ke bumi dan seperti yang saya katakan sebelumnya menimbulkan interpretasi yang berlainan yang akhirnya menimbulkan cara pandang dan label agama yang berbeda.

Saya meyakini bahwa kita beribadah pada satu Tuhan. Hanya saja cara-cara teknis yang dilakukan berbeda. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana melihat perbedaan itu sebagai sebuah batu permata yang berkilau. Memiliki banyak sisi yang ketika disorot cahaya menjadi bersinar karena pantulan sisinya yang begitu indah.

Mengapa manusia sibuk mempermasalahkan yang mana salah yang mana benar dalam beragama. Bukankah ketika beribadah hubungan yang terjadi vertikal antara hamba dan Tuhannya. Tuhan memiliki cara pandang melihat umatNya. Dalam Al-Qur'an Tuhan bersabda bahwa yang paling mulia adalah yang paling bertaqwa.

Kemudian apakah surga dan neraka menjadi tujuan akhir? Ketika kita beribadah dan mendambakan surga, lantas ketika surga dan neraka tidak ada maka kita jadi enggan beribadah. Melihat bahwa tidak ada hasil akhir dari upaya sujud yang kita lakukan? Ketika kita sibuk mencaci maki orang lain, membenci maka seperti itukah manual book yang diturunkan Tuhan? Sibuk beribadah pada Tuhan namun hubungan horizontal ke sesama manusia sekusut benang. Apakah seperti itu wahyu Tuhan?

Kitab Tuhan diturunkan sebagai petunjuk. Percuma kita mengutip banyak ayat Tuhan untuk dijadikan status sosial network tanpa benar-benar mengimplemantasikannya. Tanpa benar-benar paham bagaimana bersikap. Kitab Tuhan adalah bukti nyata keberadaan Tuhan. Agar manusia bisa menjaga tingkah laku, bersikap, dan menjadi bijaksana. Kegalauan dapat disembuhkan jika kita mampu mengamalkan isi kitab Tuhan. Tanpa perlu harus mencaci, memaki, atau saling membenci.


God is Good. God is director. Janganlah melampaui kehendak Tuhan. Tuhan tahu tapi menunggu. Mungkin manusia terlalu lama menunggu tapi Tuhan memiliki waktu yang berbeda dengan manusia.

God is never too late. God is always right on time. But God's timing can be very different from ours.

Beribadahlah karena Tuhan...

*21 juli 2012| 2 ramadhan 2012
Ketika saya bingung dan memikirkan tentang Tuhanku. Semoga Ia memberiku pencerahan.Amin

Maha suci Allah dengan segala firmanNya
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Malino, Negeri di Awan

Tawaran itu datang tiba-tiba. Ketika Ema dengan serta merta mengajak untuk jalan-jalan ke Malino. Dataran tinggi yang terkenal dengan banyak air terjunnya yang menjadi salah satu pilihan untuk liburan warga Makassar. Jaraknya hanya 1 jam dari Makassar. Saya pertama kali ke Malino saat kelas 4 SD. Setelah itu baru kembali berkunjung saat kuliah. Malino menjadi tempat alternatif kegiatan kemahasiswaan. Jarak dekat dan sekalian jalan-jalan.

Sebenarnya rencana ke Malino sudah ada jauh-jauh sebelumnya. Bersama Kak Riza dan Ema. Tapi selalu saja batal. Ema yang paling ingin ke Malino, jangan tanya kenapa. Ini persoalan hati.Hahahaha. Saya pun ngotot ke Malino. Merefresh memori tentang tempat itu mungkin. Rasanya saya hanya memiliki sedikit ingatan tentang Malino di kepala saya. Dan yang pasti membawamu menjejak tempat baru. Rasanya sudah seperti obsesi mengajakmu kemana-mana, Ara. Beberapa tempat sudah masuk dalam list bayanganku untuk membawamu ke sana. Mungkin karena saya yang menyukai jalan-jalan.

Sangat pagi ketika Opik menjemput ke Sudiang. Saya, kamu, dan Ema belum benar-benar bangun. Saya bahkan setengah memaksa dirimu untuk bergegas. Makan dan kemudian mandi. Rasanya tak enak membuat menunggu jika diberi tumpangan. Tak cukup setengah jam kita berhasil duduk di mobil dan bersegera menjemput yang lain. Tito, Afrida, Uchu, Ewi dan Rahmah. Mereka adalah anak kosmik 2007. Tiga angkatan di bawahku.

Mobil perlahan melaju menuju Malino. Setelah mengisi bahan bakar dengan bensin botolan karena persediaan kosong di SPBU yang ditemui. Juga setelah membeli perbekalan untuk di jalan.
Saya memiliki sedikit ingatan tentang Malino. Karenanya menapaki kembali aspalnya yang menanjak merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Pohon-pohon yang rindang. Hawa sejuk yang kian menjadi dingin ketika memasuki kawasan Malino.

Tak ada tujuan utama. Melihat air terjun pun tidak. Yang kita lakukan hanyalah menyusuri jalan. Pukul 11 siang macet diseputaran pasar. Mobil yang dipakai pun harus didiamkan beberapa saat karena kanvas remnya berasap dan menguarkan bau yang tidak enak. Serupa bau kotoran ditambah karet ban terbakar. Maka berpindahlah satu isi mobil ke dalam pasar.

Saya selalu menyenangi pasar Malino. Pasar tradisional yang penuh dengan buah dan sayur segar. Beda dengan pasar Bengo dekat rumah. Tak ada jualan yang khas. Pasar Malino khas dengan alpukat, markisa, dan tentengnya. Juga banyak bertebaran tanaman bunga yang dijual. Alhasil, beberapa kantong buah memenuhi bagasi mobil. Sedangkan yang cowok-cowok membeli tembakau dan kertas rokok untuk melinting. Tembakau olahan adalah rokok yang biasa dikonsumsi warga kampung sebelum rokok kretek berfilter muncul di pasaran. Kakaknya nenekku merokok menggunakan tembakau olahan ini. berbentuk bundar. Biasanya dicetak dalam bambu. Di kampungku tembakau ini dikenal dengan nama Ico. Menjumput dan membungkusnya sendiri perlu sedikit keahlian.

Setelah memenuhi bagasi mobil, perjalanan pun dilanjutkan ke hutan pinus. Air terjun tidak menjadi pilihan karena ada Ara. Maka menggalaulah seisi mobil setibanya di hutan pinus. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Buahnya bertebaran di tanah. Pohon pinus ramai. Terakhir ke Malino tahun 2006 sepertinya belum ada tarif masuk. Sekarang dibandrol 10.000 rupiah untuk satu mobil. Selain pinus ada juga penyewaan kuda. Sayangnya, Ara nda sempat naik kuda. Kuda yang mendekat kuda kecil sih. Padahal ada kuda putih yang lebih cakep. Heheehehe.

Tembakau pun dibuka untuk dilinting. Tak mudah untuk melinting. Jangan harap bakal secantik rokok kretek. Ramping dan rapi. Butuh merokok ico bertahun-tahun untuk menghasilkan lintingan yang cantik. Semua mencoba melinting dan tak ada yang benar-benar berhasil. Saya mau mencoba mengisap satu batang, tapi urung kuniatkan. Kata Ema sih seperti mengisap kertas. Eh, dia cuma mencoba mengisap rokok dari Rahmah.

Di Malino paling enak adalah makan indomie. Maka ketika perut keroncongan kita pun berhamburan ke warung depan hutan pinus. Memesan indomie dan segelas teh. Gerimis turun perlahan. Menguarkan bau tanah dan wangi teh. Seketika mengingat beberapa scene romantis di novel-novel.

Perjalanan berlanjut. Dan kita mencari kebun strowberry. Kupikir akan kelihatan manis jika saya dan Ara berfoto diantara strowberry merah. Rahmah pun menjadi penunjuk jalan.Ia pernah membuat film untuk tugas mata kuliah di kebun strowberry Malino. Ke puncak Malino. Karena hawa makin dingin dan awan serasa makin dekat. Hanya beberapa meter diatas tanah. Rahmah memandu kita hingga ke lahan milik warga di atas bukit. Sayangnya lahan tersebut bukan lagi ditanami strawberry, tapi kembang kol yang serupa mawar hijau di atas tanah.

Tak ada strawberry kol pun jadi. Maka berfoto-fotolah kita di antara tanaman-tanaman itu. Untung pemiliknya baik hati. Bahkan ketika kabut awan memerangkap menurunkan suhu kita diberi tumpangan untuk menghangatkan diri. Bapak rumah pun mengajari melinting tembakau. Termometer ruangan menunjuk angka 23 derajat celcius. Bisa dipastikan diluar akan lebih dingin lagi. Tak ada yang sanggup menahan dinginnya. Ubin terasa dingin. Saya membayangkan bagaimana dinginnya di daerah bersalju yang harus dihadapi tiap hari. Hawa dingin ini rasa-rasanya seperti mengenalkanmu pada kondisi cuaca yang mungkin kelak akan dihadapi. Tapi untuk kali ini kamu tak perlu khawatir. Saya mendekapmu erat. Dan kamu tidur begitu nyenyak.

Kabut masih menyelimuti kebun kol ketika kita beranjak pulang. Singgah makan mi kuah di warung strawberry. (Tanaman strawberrynya sedikit dan belum berbuah -_-). Mi kuah dan kopi panas menjadi dingin dalam hitungan menit. Rasanya dingin menusuk hingga tulang ditambah gerimis yang tak kunjung berhenti. Sepasang kekasih pun menunggu gerimis berhenti. Menjelang sore kita kembali pulang. Perlahan hawa dingin menghangat seiring mobil meluncur turun di jalan berliku.

Perjalanan yang melelahkan sampai membuat opik muntah-muntah. Tapi begitu menyenangkan.Semburat horizon berwarna-warni di langit. Merah,orange,ungu. Kupikir langit senada dengan hati kita. Serupa pelangi.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

9 kilogram

16 juli 2012, jadwal posyandu di dekat rumah. Kamu bukan bayi posyandu di dekat rumah. Kamu bayi posyandu di Puskesmas tempat kakak Ipah berkantor. Di sana pakai fasilitas ponakan dokter. Nda ada bedanya sih, tapi setidaknya di sana ada timbangan baring yang lebih akurat (menurutku). Bukan timbangan besi dengan kain. Tapi karena imunisasi wajibmu sudah lengkap maka rutinitas berkantor di puskesmas Bakungnge sudah tidak dilakoni lagi.

Tapi masalah berat badan adalah masalah yang harus selalu aku update tiap bulan. Dan timbangan berdiri belum bisa kamu pakai. Makanya dengan rajin aku membawamu ke posyandu dekat rumah tiap tanggal 16. Hanya untuk menimbang berat badan. Fluktuatif. Itulah kata yang paling pas berat badanmu. Seperti pergerakan saham dan naik turunnya dollar. Bahasanya terlalu susah buatmu, hmmm....sederhananya turun naik turun naik. Tapi dua bulan terakhir turun dengan pasti. Sebabnya adalah bepergian, pola makan tidak teratur, dan aksi mogok makanmu.

Masalah memberi makan adalah tantangan tersendiri dalam membesarkanmu. Rasa-rasanya memberimu asi ekslusif dengan kondisi tidak bekerja lebih gampang. Malah sangat gampang. Rumusan Asi kan sebenarnya, seberapa banyak diisap sebanyak itu yang diproduksi. Jadi, agak sedih rasanya jika mendengar bayi gagal ASI ekslusif. Nah, kembali ke dirimu. Awalnya kupikir memberimu makanan pendamping ASI akan lebih gampang. Nyatanya adalah susah.

Aku mencoba formulasi tanpa garam dan gula. Kamu makan. Lahap. Tapi kemudian tiba di titik jenuh. Bosan. Sampai sembelit. Pernah rasanya memberimu makan serupa masuk ke neraka. Bertengkar denganmu. Kamu menangis dan aku marah. Dan kamu tak pernah salah. Sekalipun kamu bayi, kamu punya kehendak seperti manusia dewasa. Dan aku harus menghormati itu. Lama-lama rasanya begitu malas memberimu makan. Malas memasak buatmu. Jika tidak di rumah, aku hanya mengandalkanmu meminum ASI. Hingga akhirnya berat badanmu turun. 600 gram. 8, 4 kilogram dari berat paling tinggi 8,9 kg di usia 7 bulan.

Makan adalah proses belajar buatmu. Maka jika aku menyerah memberimu makan maka aku gagal mengajarimu pola makan berimbang. Maka kucoba mengenalkan rasa buatmu. Sedikit garam. Membuatkanmu bubur,sayuran,dan menumiskan lauk pauk untuk makanmu. Meski idealnya garam dikenalkan saat usia 1 tahun, tapi aku mulai mengenalkanmu saat kamu usia 10 bulan. Lidahmu telah mengenal rasa dan aku harus patuh pada itu. Dengan bubur seperti itu kamu makan dengan lahap. Ditambah air sayur atau air ikan. Kamu menghabiskan makananmu.

Sesekali kamu mencoba kue-kue manis buat Kakak Ipah. Cemilan-cemilan punya Khanza. Bahkan coklat batang dari ayahmu. Siapa yang bisa menolak coklat, cemilan yang begitu lezat. Aku tidak lagi begitu ketat terhadap makananmu. Asalkan berimbang. Buah tetaplah menjadi prioritas cemilanmu. Jika tidak di rumah aku mengandalkan bubur instant. Bubur yang rasanya agak aneh. Aku masih cukup percaya diri jika bubur buatanku lebih enak dari pada bubur instant itu. Hanya saja, cukup praktis tanpa perlu membawa kompor, pisau, panci,dan sayuran lainnya. Bubur instant rasanya seperti memberimu makan mie instant. Hanya sebagai penjanggal perut. Bukan untuk menambahkan gizi.

Karenanya akhir-akhir ini kita lebih banyak di rumah. Jika bepergian harus cepat pulang. Agar makananmu terjaga. Beratmu mencapai 9 kilogram. 500 gram naik. Hebat bukan? Meski idealnya jika setahun umurmu beratmu harus mencapai 10, 8 kilo gram. Tapi bulan depan kalo naik 500 gram lagi, aku sudah senang. Makan yang banyak ya...(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

My Own Quote I

Don't talk about poetry with a businessman, he only know lost and profit

Don't talk about business with a poet; he will give you a melancholic argument

Please talk about life with a comedian. He will teach you how to laugh in a misery
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Jika ini adalah novel atau sebuah film, maka ketika tokoh utama mengalami perpisahan maka dengan serta merta ada sebuah adegan yang menjadi pelatuk yang membuatnya bisa move on. Sesuatu yang bisa membuatnya tak larut dalam sedih dan segera beranjak. Saya menunggu sesuatu itu. Ada jeda yang mulai terasa panjang disini. Jedanya seperti jerat tali yang kian menyesakkan. Saya tidak mau merasakan. Saya butuh adegan pelatuk itu. Adegan dimana ketika seorang tokoh utama dipermalukan oleh toko antagonis, maka serta merta ada teman-teman yang baik hati yang membelanya. Semacam itu yang aku inginkan. Tak perlu lah teman yang membela, hanya saja sesuatu yang bisa melepasku dari jeda panjang sebuah perpisahan. Sebuah kabar tentang kepergian. Tentang keberangkatan. Sebuah kabar yang bisa membuatku bergegas agar aku tak perlu diam terlalu lama dan membiarkan kesempatan pada mata untuk menangis.

Tapi ini bukan film. Ini bukanlah sebuah sinema yang selesai dalam dua jam. Rasanya ada yang belum selesai antara kita. Sesuatu yang telah kian lama harus terucap tapi selalu mampu tertelan kembali di ujung lidah. Ataukah ini belum selesai? Rasa-rasanya perpisahan dan kisah ini tetap sama horornya. Atau mungkin ini memang seperti film horor. Ya mungkin ini memang film horor. Cukup menunggu kapan sang hantu datang dan memberi kejutan.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Happy 4th of July, Etta

Etta, Lelaki pertama yang saya kenal. Lelaki pendiam dan sangat irit kata. Setiap orang yang melihatnya pertama kali akan sungkan menyapanya. Sosoknya yang tinggi besar dengan ekspresi datar dan sedikit bicara cukup mampu membuat orang berpikir akan dirinya yang gahar. Tapi mereka hanya tidak mengenal Etta.

Mereka yang mengenal Etta adalah mereka yang tahu bahwa Etta adalah sosok yang bisa diajak bercerita banyak. Diajak tertawa terbahak-bahak. Tanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kesehariannya maka dengan senang hati ia akan bercerita.

Jika pada kebanyakan anak takut pada ayahnya, maka saya sangat nyaman dengan Etta. Kami jarang bercakap. Tidak pernah melakukan percakapan ayah dan putrinya. Tapi saya selalu tahu di dalam dirinya ia selalu peduli. Meski ia kadang memilih diam untuk tiap keputusan yang anak-anaknya ambil. Meski dalam hatinya ada pertentangan keras untuk tiap jalan yang kami putuskan sendiri. Tapi ia selalu ada. Selalu hadir. Meski tak pernah kuingat diriku menangis tersedu di pundaknya untuk mencari kekuatan. Ia hadir dengan bahasanya sendiri. Pun ketika mama meninggal. Saya tahu dialah yang paling kehilangan. Tapi dia hanya memilih diam. Menyimpan rasanya sendiri.

Dari dirinyalah sisi introvert yang kumiliki. Diwariskannya kemampuan menguatkan hati dalam kesendirian. Hari ini ia kembali menghitung usianya. Hitungan yang ia mulai dari tahun 1948. Tak seperti biasa ketika ia dengan begitu cepat menambahkalikan hitung-hitungan ratusan ribu. Kali ini ia menghitung dengan jari. 64 tahun, kujawab bersamaan 5 detik lebih cepat ketika ia hampir 1 menit menghitung ulang umurnya dengan jari. Sederhana saja mengurangi umurnya 2012-1948. Tapi mungkin ia memiliki alasan lain. Bilangan tahun yang harus 6 kali dihitung oleh ruasa jari adalah tahun-tahun yang perlu disyukuri. Perlu diingat kembali bahwa waktu kian menua dan hidup masih terus dijalani.

Selamat ulang Etta. Saya masih saja sungkan untuk menjabat tanganmu, memelukmu,dan mengatakan aku menyayangimu. Tapi, bukankah kita tidak menggunakan bahasa cinta seperti itu?

Pokoknya Panjang Umur dan sehat selalu.Tetap Etta yang paling ganteng\(^^)/.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Saat Dirimu Belajar Berdiri

ara lagi belajar menulis

Kamu bukan lagi bayi kecil tak bisa apa-apa. Kamu 11 bulan sekarang. Sudah masuk dalam hitungan Kakak Khanza bahwa dirimu adalah adek kecil yang bisa diajak main-main. Dia menemanimu merangkak. Membiarkanmu mengejarnya. Dia berlari dan kamu merangkak. Menjadi sainganmu berebut mainan. Setiap yang kamu pegang selalu direbutnya. 

Kamu kadang mempertahankan kuat-kuat benda di tanganmu. Tapi selalu saja ia berhasil merebutnya darimu. Dan meninggalkanmu menangis tersedu. Kamu belum punya kekuatan yang cukup untuk mempertahankan mainanmu. Kecuali jika dengan awas mama memperhatikan kenakalan Khanza. Tenanglah, saya tidak akan membuatmu menangis. Jikalau harus merelakan mainanmu, akan kugantikan dengan mainan yang lain agar tak kamu tak menangis.

Kamu belajar berdiri sekarang. Merambati meja, kursi, tempat tidur, jendela dan dinding. Mencoba mengangkat kaki kecilmu. Menopang tubuhmu. Usahamu untuk berdiri adalah hiburanku akhir-akhir ini. Di jendela kamar selalu aku melatihmu berdiri. Melihat keluar rumah atau memperhatikan Khanza bermain di halaman. Awalnya kamu tidak bisa berdiri sama sekali. Aku harus membantu berdiri dan kemudian kamu berpegangan di terali besi. Jika pegal ingin duduk kamu akan berteriak dan meminta diriku mendudukkanmu. Seminggu kemudian kamu telah berhasil berdiri sendiri di jendela itu. 

Berpegangan dilekukan dan mengangkat kakimu. Bertumpuh pada tungkaimu dan menopang tubuhmu hingga berdiri. Beberapa kali saya melihat kamu mencoba tapi masih gagal, hingga akhirnya kamu berhasil berdiri.
Kemudian kamu belajar untuk duduk. Merebahkan pantat setelah berdiri adalah salah satu hal yang cukup sulit dan cukup lucu. Pelan-pelan kamu akan menekuk lututmu hingga posisi seperti ingin jongkok sambil tetap berpegangan. Kadang kamu ragu dan kembali berdiri. Kemudian tergerak kembali untuk mencoba. Kembali keposisi hendak jongkok dan berdiri lagi. 

Kamu takut jatuh, tapi sisi lain dari dirimu tak berhenti untuk mencoba. Tanganmu ragu untuk melepas beban tubuhmu. Jatuh adalah konsekuensi dari perbuatanmu. Dan sakit adalah resiko yang harus diterima. Tapi kamu tidak berhenti disitu. Hingga kamu kembali menekuk lututmu, mencoba merebahkan pantatmu, hingga hatimu teguh untuk melepaskan pegangan tanganmu. Kamu terhempas. Dan berhasil duduk. Tawa kemenangan keluar dari mulut kecilmu. Riang dan penuh kepuasan. Kamu berhasil mematahkan sebuah keraguan dan juga ketakutan.

Ara, belajar berdiri adalah belajar tentang filosofi hidup. Kamu belajar untuk menopang berat tubuhmu. Berdiri di atas kakimu sendiri. Tak ada yang instant. Bahkan pada proses belajar berdiri itu sendiri. Perlu ketekunan dan keteguhan hati untuk terus belajar. Saat belajar berdiri selalu ada ketakutan untuk terjatuh. Dan jatuh itu pasti. Dalam jatuh selalu ada sakit. Tapi dari jatuh kita belajar bagaimana untuk sembuh dari sakit. Jatuh mengajarkan kita untuk tabah. Jatuh meneguhkan hati kita. Jatuh membuat kita tidak patah semangat. Dan jatuh mengajarkan kita untuk kembali berdiri dan kembali belajar. Hidup pun demikian adanya. Kita berdiri, bergerak,dan berjalan. 

Hingga pada tiba sebuah masa kita mungkin akan terjatuh. Merasakan sakit. Tapi jangan pernah menyerah. Ingatlah ketika kamu belajar berdiri. Kembalilah berdiri. Setiap kali terjatuh saya selalu yakin kaki kita akan lebih kuat dari sebelumnya.

Mama tahu, di masa datang kamu akan lupa masa dimana kamu belajar berdiri. Karena itu kutuliskan ini untukmu agar nanti membantu mengingat bahwa kamu tak pernah putus asa untuk belajar berdiri. Jangan menyerah. Sekalipun jatuh membuatmu lebam, seperti di pipimu saat ini.

Hmmm...satu lagi, belajar berdiri berlaku two way tiket. Titik-titik kamu berpegang saat berdiri bisa menjadi titik-titik tumpuan untuk kembali duduk. Tapi, itu tidak penting. Otak kecilmu adalah benda ajaib yang kupercayai sangat kreatif untuk mencari cara menyelesaikan masalah.

Selamat 11 bulan,Ara.
Selamat belajar berdiri!!!!