Images

Urus Paspor :Komplain Dulu Baru Dilayani

Paspor Indonesia
Aku membuat paspor. Negara tujuan? Belum tahu kemana. Kapan berangkat juga belum jelas. Merujuk pada kata teman at least ketika punya paspor,aku sudah mengantongi “KTP” penduduk dunia. Sudah bisa memulai merencanakan ke Negara mana nantinya.

Urus paspor? Hmm….ini salah satu mimpi saya. Jadinya sedikit gregetan saat ke kantor Imigrasi. Dulunya Cuma bisa lewat di depan kantor itu saja tanpa pernah tahu kapan bisa mengunjunginya dan mengurus paspor. Berbekal informasi dari teman yang sudah ngurus paspor aku pun sedikit percaya diri. “Cukup mudah, biayanya Rp 270.000” katanya. Aku membawa persyaratan yang diperlukan.Kartu keluarga, KTP, ijazah terakhir,Akta kelahiran dan surat nikah (jika sudah menikah). Mengapa semua itu diperlukan? Karena petugas akan meyesuaikan data nama dan tanggal lahir disemua surat-surat “berharga”itu.

Hari pertama.

Formulir di beli di koperasi dengan harga Rp. 20.000. Aku mendapat selembar formulir untuk data pemohon dan sampul plastik hijau berlogo garuda. Aku pun mengisi formulir tersebut. Berkas yang dibutuhkan pun sudah lengkap. Agar tidak kembali lagi besoknya hanya sekadar untuk mengembalikan formulir. Petugasnya pun lumayan ramah membantuku. Dia memeriksa data dan berkasku. Selanjutya ia memberiku kertas tanda terima dan memintaku kembali datang dua hari kemudian untuk wawancara dan foto. “Lebih pagi lebih baik “ pesannya padaku.

Dua hari kemudian

Pukul 8 pagi aku sudah meniggalkan tempat kostku menuju kantor imigrasi. Tak cukup 10 menit saya telah tiba disana. Suasana kantor masih lengang. Aktivitas penerimaan formulir pemohon di loket 4 sudah di buka. Namun loket 5, tempat pendaftaran wawancara dan foto masih belum buka. Saya harus menugggu 20 menit sampai petugasnya datang. Formulir yang terkumpul di tangannya tak lebih sepuluh lembar. “Ya, takkan lama pastinya. Pasti namaku cepat dipanggil” pikirku. Di ujung loket terdapat tumpukan nomor antrian yang tidak dibagi. Mereka menggunakan sistem panggil nama.

Ruang Wawancara dengan alat penghitung antrian yang tidak difungsikan
Kantor imigrasi mulai padat. Speaker di ruang wawancara mulai menyebut nama pemohon satu persatu. Lama saya menunggu. Namaku tidak juga dipanggil-panggil. Beberapa pemohon yang sepertinya baru datang tiba-tiba dipanggil masuk dan di wawancara. Wah…..gak benar nih.

Beberapa orang mulai merasakan kejengkelan. Beberapa mulai complain. Masuk di ruang wawancara. Saya masih bersabar menunggu. Ibu yang disamping saya pun mulai jengkel. Ia pun telah lama mengantri. Ia sempat complain, tapi dijawabnya “ Berkasnya di susun dulu ya bu”. "Gimana caranya nama saya cepat dipanggil, kalo berkas yang mauk paling pagi berada ditumpukan paling bawah" gerutu sang ibu. Beberapa yang sudah komplain pun lantas dipanggil. Harus komplain dulu ya baru dilayani.
Pemohon yang komplain

Pukul 11 siang namaku dipanggil. “Akhirnya” batinku. Aku hanya ditanyai beberapa pertanyaan basa basi. Kapan paspornya mau dipakai? Buat apa ke luar negeri?. Karena di tempat di wawancara pun tetap harus ngantri (petugasnya memanggil tiga orang sekaligus, jadinya numplek di ruag sempit). Aku sempat memperhatikan beberapa petuga yang bolak balik masuk ke ruang tersebut sambil membawa map formulir baru. “Yang itu ya bu. Uangnya ada didalam map loh”katanya.

Ooo, Seperti itu ternyata kerjanya para Calo paspor. Pantas Sistem antrinya tidak berjalan. Mesin penghitung nomor antrian pun tidak difungsikan. Lebih mudahkan menyusupkan nama orang lain jika hanya sekadar menyebut namanya tapa harus antri berdasarkan nomor. Koneksi luar dalam untuk membuat paspor ekspress dengan bayaran yang lumayan tinggi dari harga yang ditetapkan. Sesungguhya harga yang tertera di papan pengumuman hanyalah Rp.200.000 saja. Kalo pun untuk membayar sampai Rp.270.000 itu untuk biaya tambahan berupa foto Biometric Rp.55.000 dan sidik jari Rp. 15.000 (sumber : ibujempol.com).Tapi jualan calo,ekspress bayar bisa sampai Rp 700-800ribuan. Waah…bisa bikin tiga paspor kalo bayar segitu.
Di ruang wawancara

Malah seorang pemohon yang lain membayar dengan harga Rp 650.000 dan masih juga menunggu hingga beberapa hari. Saat akan membayar, petugasnya berkata Rp.300.000. Hah???Temanku kan hanya bayar Rp.270.000. Tak ada bukti kuitansi pula yang menerangkan memang harus bayar sekian. Rp.30.000-nya buat biaya apa? Duh, Apesnya.(*)
Images

Tak Ada Selamat Tinggal

Aku lelah untuk selalu mengucapkan selamat tinggal. Aku lelah untuk memelukmu dalam rasa ini yang terakhir. Aku lelah menuliskan ribuan rangkaian abjad bertitle “good bye”. Aku sudah malas mengucapkan aku akan merindukanmu. Tahu kah kamu, meski pun kita tak berjarak aku tetap merindukanmu.

Aku lelah ketika kita bertemu diujung waktu kita akan mengucapkan kalimat sedih. Aku capek harus menyeka air mata. Hatiku sudah terlalu sering patah untuk sebuah perpisahan. Aku lelah untuk menata puing-puing dan mengelemnya dengan rindu yang lebih kuat.

Aku ingin kita tetap menikmati hari. Tertawa bersama. Tak perlu ceremonial pelukan selamat tinggal. Kelak pasti kita akan bertemu lagi entah dalam scene apa.Dan pasti kita akan kembali berpelukan. Pelukan melepas rindu. Pelukan selamat datang yang hangat. Sambil berkata “Nice to meet u again”.

Aku takut merasakan perpisahan. Aku tiba-tiba teringat pada kalimat lebay serupa lagu dangdut “bukan perpisahan yag ku tangisi, namun pertemuan yang kusesali”. Hah, ternyata kalimat itu benar adanya. Aku berharap tak bertemu denganmu agar aku tak perlu merasakan pisah darimu.

Namun jika kita tak bertemu, bagaimana kita berbagi halaman? Ah, aku takkan mengusirmu dari halaman hidupku. Ketika kau melakukannya biarkan imajiku tetap menyimpanmu di halamanku. Tak ada kata pisah.(*)
Images

Si Bungsu Yang Selalu Pergi

Akulah si bungsu itu. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Pergi karena ngotot dan datang tanpa mengabari.

Akulah si kecil itu. Perempuan yang selalu menang atas semua keinginannya. Kemanapun sekehendakku. Meski dengan alasan tak masuk akal sekalipun.

Akulah si bontot itu. Yang tak jelas akan menjadi apa kelak dimata bapakku. Keluar seenaknya setelah merasakan zona nyaman bergaji. Memilih menjadi pengangguran dan nongkrong kiri kanan.

Akulah si anak bawang itu. Selalu mempercayai bahwa mimpi terjauh itu bisa tergapai. Memilih bertualang dan tak tinggal di rumah.

Aku akan pergi lagi. Seperti biasa. Ijin sekenanya saja. Seperti layaknya pergi sekolah kala pagi dan pulang jelang siang. Tak perlulah mengkhawatirkanku. Aku cukuplah besar untuk semua itu.

Toh ada teknologi yang mampu membuat kita tak berjarak.(*)
Images

Kulit Hitam Trinity

Kami dan Trinity

Senyumnya ceria. Potongan rambutnya pendek. Matanya sipit. Dahinya mengkilap. Kulit tubuhnya tampak menggosong. Tubuh gemuknya terbalut oleh kaos oblong berwarna merah bergambar sampul buku terbarunya. Celana selutut dan kakinya memakai sepatu Crocs. Sebuah tas selempang berbentuk selinder tersampir di pundaknya.

Hall gramedia telah disediakan untuknya. Bagian tengah tokoh buku itu disediakan khusus untuknya sore itu. Sepuluh kursi untuk pengunjung ditempatkan berjejer. Dua kursi khusus untuk dirinya dan pemandu acara. Acara belum dimulai. Ia menjauh dari tempat acara. Kea rah rak-rak buku yang berada dibelakang tempat acara. Ia tampak mengutak atik blackberrynya. Mungkin mengupdate status di facebook jika ia sedang berada di acara bedah bukunya.

“ Selamat malam. Senang berada disini. Maaf sedikit gosong. Baru saja tiba dari kepulauan Hoga, di Wakatobi” katanya saat membuka acara. Dia adalah Trinity. Penulis buku Naked Traveler 1 dan 2, serta penulis buku dua hippo tersesat di Byzantium. Ia menjadi salah satu penulis favoritku saat ini. Aku iri pada aktivitas jalan- jalannya dan menulisnya. Dua hal yang sangat aku sukai. Dan beruntungnya ia melakoni itu semua yang juga menjadi pekerjaannya. Wow!!!!!!

Begitu menyenangkan melihatnya secara langsung. Berdiskusi dengannya. Ia sangat low profile. Pembawaan yang apa adanya. Serta sagat humoris. (Aku sedikit penasaran bagaimana jika ia marah-marah seperti di bab terakhir buku keduanya).Aku telah membaca Naked Traveler 1 dan 2. Di buku itu ia selalu menggambarkan bentuk tubuhnya dan bagaimana ia mengalami pengalaman-pengalaman yang lucu, menguntungkan, dan kadang sial.

Penggambaran di buku itu dan benakku sesuai dengan yang aku lihat sore itu. Hanya saja kulitnya sedikit lebih gelap dari foto profil yang ada di akun facebooknya. Ia baru saja habis menyelam di kepulauan Hoga di Wakatobi. Ia memang sangat menyenangi laut, berenang, dan menyelam. Dalam bukunya ia berpesan, Sangat sia-sia jika tinggal di daerah kepulauan dan tak tahu berenang. Ia juga heran orang-orang yang takut berenang karena alasan takut hitam. Aduh, Trinity seperti berbicara langsung padaku. Secara aku kan tidak tahu berenang dan sangat peduli dengan wara kulit. Padahal kalo kulit putih artinya nda pernah keluar rumah dan menjelajah.

Hahahahahaha.Ia kemudian membuat saya tersadar bahwa berenang adalah sebuah skill yang perlu dimiliki dan kulit gelap toh takkan pernah berubah menjadi sangat hitam.
Trinity tetap keukeuh tak mau menyebutkan nama aslinya. Keren juga kayaknya kalo orang lain tak pernah mengetahui nama aslimu. Nama trinity itu sendiri ia ambil dari film the Matrix. Cewek yag jadi pacarnya Neo. Menurutnya Trinity adalah altar Egonya. (Dia agak terkejut ketika Ema menyodorkan buku hariannya dan meminta tanda tanganya dan sebuah pesan singkat untuk Morfeus:)).
Pesan Buat Ema


Senengnya adalah saya dan teman-teman bisa ngobrol ngolor ngidul setelah acara. Berfoto bersama dan sok dekat dan sok kenal dengan Trinity. Hahahahahaha. Apalagi kami dari jurusa yag sama komunikasi. Tak sia-sia harus terjatuh ditangga eskalator Mall Panakukang hanya untuk bertemu dengannya.(*)
Images

Mengubur Ekspektasi

Ada kala ekspektasi tak perlu dipenuhi. Ia cukup ada disudut imajinasi. Tak perlu upaya untuk berusaha membuatnya nyata. Ekspetasi serupa mimpi yang berusah untuk dijadikan nyata. Tapi tahukah kamu mimpi kadang harus tetap berada di langit dan tak perlu menyentuh bumi. 

Jika semua mimpi menjadi nyata maka apa gunanya sebuah upaya kerja keras. Seperti menjentikkan jari dan semua tersedia dengan satu kedipan mata. Sesekali harus merasakan sakit dan jatuh agar tertempah menjadi sosok yang kuat. 

Tak perlulah ada versi extended. Karena jika ekpektasi itu menjadi nyata semua akan tampak sangat biasa. Tak adalagi sesuatu yang menarik untuk diimpikan. Tak ada lagi tarik menarik yang tampak malu-malu. Tak ada lagi tarik ulur yang membuat deg-deg-an(*)
Images

Aku Sakit

Aku sakit ketika tak mendengar kabarnya
Aku sakit ketika mendengar kabarnya
Aku sakit ketika tak melihatnya
Aku sakit ketika melihatnya
Aku sakit ketika ia memadangku
Aku sakit ketika ia memandang orang lain
Aku sakit ketika ia memanggil namaku
Aku sakit ketika ia memanggil nama orang lain
Aku sakit ketika ia tak berada disekitarku
Aku sakit ketika ia ada disekitarku
Aku lebih memilih sakit dan berada disekitarnya
Daripada tak memilikinya

(Cinderella's Step Sister)

Images

Curhat Sahabat

Dia bercerita tentangmu padaku. Aku melihat ada cinta di matanya. Aku lihat ada pijar bercahaya dibening mata itu ketika ia bercerita tentangmu.

Ia menceritakan kisah cintanya, yang juga kisah cintamu. Tak hanya ada dirimu dan dirinya. Tapi juga ada orang yang lain lagi. Tak beruntungnya ia tak pernah bisa menjadi yang pertamamu. Ia menjadi yang kedua bagi hatimu dan menjadi orang ketiga diantara kamu dan orang lain itu.

Ia menceritakan padaku bagaimana kalian menjalani rasa itu. Rasa yang mungkin bisa disebut cinta. Kamu menempatkannya pada posisi kedua. Berusaha meyakinkan diri bahwa kalian hanyalah sahabat baik. Dirimu tetap yakin bahwa orang lain itu adalah pertama dihatimu. Kau menyebutnya pacar.

Dia tak pernah keberatan akan itu. Ia tahu dimana posisinya. Bahkan meski kau tak mengatakannya sekalipun. Namun dirimu selalu menyebutkan dan menegaskan posisinya. Ia bukanlah siapa-siapa. Meski pernah kau mengakui bahwa hatimu telah terikat di hatinya. Aku yakin kamu pernah menghapus nomor kontaknya di daftar phonebookmu. Tapi aku pun yakin kau menyimpannya di hatimu. Agar alibimu tetap baik. Agar otakmu tetap menganggapnya bukan siapa-siapa. Tapi hatimu telah menganggapnya siapa-siapa.
Ketika kau mencari teman yang bisa mengiyakan semua permintaanmu, kau akan berlari padanya. Ketika kamu ingin memarahi seseorang ia adalah orang yang kamu cari. Ketika kamu butuh seseorang yang menemanimu ke kampus sekalipun ia satu-satunya orang yang kamu hubungi. Memintanya membelikanmu keperluan remeh temeh. Roti keju atau sekedar teman yang menemani ngobrol diujung telepon.
Ilustrasi

Cinta bekerja dengan caranya. Bersemi diladang hati kalian berdua. Ketika kau mengatakan “Berhentilah menghubungiku” sesungguhnya itu hanyalah sebuah tameng diri yang tak ingin menyadari keberadaannya. Kamu malah sangat ingin ia menghubungimu. Sekedar menanyakan kabar atau menemanimu melakukan percakapan yang tak jelas jelang tidur. Ia mampu menghadirkan rasa nyaman dihatimu. Rasa yang mungkin melebihi cinta yang kau dapatkan dari seseorang yang kau sebut pacar.

Kau menarik ulur. Ia sangat sadar akan itu. Ia tahu posisinya dimana. Tapi ia akan tetap ada untukmu. Ia akan tetap menemanimu ke kampus. Mendengarkan rengekan manjamu yang selalu berubah-ubah. Bersedia membelikanmu roti keju atau peralatan kuliah saat tengah malam.

Ia akan tetap mencintaimu seperti langit pada bumi. Ia takkan meninggalkanmu sekalipun kau berkata “Tinggalkan aku”dengan mata yang memanas. Dia akan tetap di sana menungguimu hingga kamu menyeka air matamu. Ia menyediakan bahunya untukmu bersandar. Menyediakan tangannya untuk kau tepis ketika ia ingin memegangnya. Ia masih menyimpan puluhan pesan singkatmu. Ia ingin tetap mengingat akan dirimu yang menyayanginya.

Ia tak peduli jika kau mengurutkan ia pada tingkatan angka. Yang ia pedulikan hatinya menyayangimu dan ia ingin menunjukkan itu padamu. Hingga tiba pada masa kamu telah benar-benar yakin bahwa ia memang bukan siapa-siapa. Hingga tiba pada masa hatimu tak lagi menyimpan nomor kontaknya dan tak lagi mencarinya untuk tiap rengekan manja dan kekanak-kanakanmu. Tapi yakinlah ia tetap berusaha untuk mencuri seluruh hatimu.Membuatmu sadar akan dirinya yang memang pantas untukmu. Satu kalimat terakhirnya padaku, jika kelak dirimu tak bersamanya ia tetap menyiapkan ruang indah di hatinya untukmu, meski hati itu bukan milikmu lagi.(*)

Moday, September 27 2010
Images

Luka Masa Kecil :))

Dua tulang kering di kedua tungkaiku sama-sama lebam. Aku tak pernah lagi lebam sejak SD di sekitar tungkai kakiku. Dulunya lebam itu aku dapat di tangga rumah kayuku. Kaki-kaki kecilku masihlah belum terlalu panjang dan aku adalah tipe anak kecil yang suka bergegas. Tangga-tangga itu seakan menunggui betisku. Menciumnya dan menyisakan luka membiru dan teriak tertaha untuk sakitnya. Kalo dalam bahasa bugis kecelakaan dinama “ta’dune”.Namanya lumayan lucu. Dune’ dalam bahasa bugis artinya tulang kering. 

Aku pernah merindukan luka lebam itu. Dan ternyata luka itu benar-benar datang. Yang pertama aku dapat gara-gara berlari di escalator menuju Gramedia MP. Bela-belain berlari untuk bertemu Trinity si Penulis Naked Traveler. Hampir saja jatuh di escalator. Untung betis kiriku masih mampu untuk tidak membuatku tersungkur di escalator. Sakitnya nda seberapa, tapi malunya yang lebih berat.

Yang kedua aku dapat pas di pintu 1 Unhas. Mencoba untuk naik diudakan sebuah toko jadinya tersungkur. Kecelakaan ini membuat dua lebam di kaki kananku. Akhirnya kembali lagi merasakan luka-luka masa kecil :).(*)
Images

Tunggu!!!!!

Aku punya puluhan ide yang perlu aku tulis. 
Hanya saja rasanya aku tak punya waktu. 
Aku terlalu sibuk dan menikmati banyak hal. 
Padahal setegah hatiku rasa-rasanya sudah ingin meledak karena ide-ide itu. 
Tunggulah!!!!
Aku memohon padamu. 
Jangan menguap dulu.....
Images

Trinity And Me

Trinity, penulis buku The Naked Traveler 1-2 dan Dua Hippo Tersesat Di Byzantium bersama Dwiagustriani -Belum menulis satu buku pun (Semoga ini jadi doa untuk segera menyelesaikan satu buku)

Images

Perahu Kertas

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya Sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

"Ia akan singgah di bandar-bandar besar," kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala.

Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindu-mu itu.

Akhirnya kau dengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya,

"Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit."

Sapardi Djoko Damono
1982
Images

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu


Sapardi Djoko Damono

(Meski ini September, tetap aja hujan)
Images

Devian Senja

Mengapa sunset selalu menarik untuk dinikmati. Entah. Mungkin karena ia romantis. Sore ini aku memilih untuk mecoba memikmati sesuatu pada saat matahari terbenam tapi bukan pada mataharinya. Menikmati sesuatu di belakang sunset.

Jika kau menikmati sunset, janganlah fokus pada matahari terbenammya. Balikkan badanmu. Lihatlah kemana matahari meyinarkan cahaya emasnya. Kau akan menemukan perpaduan warna yang tak dominan emas. Kau akan melihat langit biru, pohon hijau yang berubah jadi emas.

Kau tak perlu silau pada matahari. Senja telah menyita perhatian mayoritas manusia. Kali biarkan aku defian dalam penemuan yang tak kusengajai :).

(Atap rumah-kala senja)

Images

Sorry...Terdelete (Sengaja)

Berbahagialah pemilik nomor-nomor Handphone yang secara sengaja terdelete dari phonebook ponselku. Karena mereka adalah orang-orang yang beruntung. Orang-orang yang secara terkhusus telah menorehkan bekas yang cukup dalam di halaman-halaman catatan harianku. Orang-orang yang berusaha untuk dilupakan namun tak pernah benar-benar terlupakan. Tak pernah ada niat untuk benar-benar melupakan mereka, karena yakinlah sebuah bekas akan selalu ada disana.

Ini hanyalah sebuah penawar hati untuk melakukan penyeimbangan terhadap toxin yang ada. Aku tak menyebut kalian adalah sebuah racun yang mampu membunuh. Tapi kalian mampu member pancingan pada keseimbangan tubuh. Merambat ke fisik. Nomor-nomor itu mampu membuat Tsunami di lambungku. Ia pun sekaligus berupa angin Tornado yang menghacurkan sepanjang lambung hingga daerah jantung dan paru. Ia melilit dan mencengkram alat-alat pernafasanku. Membuatku sesak. Menghentikan darah terpompa dari dan ke jantung. Tak bisa kalian bayangkan sakitnya.

Dan itu belum berhenti. Karena pengaruhnya akan menuju otak. Membuat infuls mual di sana. Otakku memerintahkan untuk muntah. Tapi perutku dan alat pecernaan lainnya tak mampu melakukannya. Betapa menderitaya aku.

Jadi sebuah hal bijak untuk menghapus nomor-nomor telepon itu. Demi kesehatan fisik dan emosiku :).Ketika semua kembali normal, angka-angka itu akan kembali menempati ruang di handphoneku. Maaf…(*)
Images

Kau Melengkapiku

Birth of Venus
Kami mendiskusikan tentangmu. Ia memberikan paparan alasannya. Aku pun demikian. Pernah kami sejalan, namun aku kemudian berpikir lain. Karena sebab itu. Sebab yang mungkin langka buat kami. Ia menyayangimu. Begitu juga aku menyayangimu. Kamu telah ada saat cinta ini mulai tumbuh. Kami mengangankan tentangmu.

Di alam ide dirimu telah sangat matang. Kau telah setua cinta ini. Kami menyayangimu dengan cara kami. Cara yang mungkin orang lain tidak lakukan. Kami membuatkanmu taman bermain di langit khayalan. Ribuan cerita telah kami tuliskan untukmu. Semua hanya untukmu. Kamu telah menjadi bagian dari mimpi kami.Kamu telah ada dalam kendi-kendi mimpiku. Dan Yakinlah ia juga telah menyisipkan namamu di sana.

Aku tak pernah tak menginginkanmu. Aku selalu membayangkan mengandungmu. Menuliska cerita tentangmu. Memotret momen-momen pertamamu dengan mataku. Menuliskan jurnalmu. Melihat seberapa banyak pengaruh kami di dirimu.

Aku butuh jatuh cinta lagi. Dan aku ingin cinta itu jatuh padamu.Cinta yang setua semesta. Apakah aku siap akanmu atau tidak. Aku tak mempedulikannya. Aku ingin membiarkan semua ini mengalir begitu saja. Aku tak ingin takut akanmu. Aku tak ingin sekelilingku memerangaruhiku akan hadirmu. Aku tak ingin kamu beranggapan bahwa aku tak menginginkanmu.

Aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintamu. Kau melengkapiku. Saat ini atau kelak semua sama saja. CInta itu tetap ada untukmu. Akan kujaga mekarnya khusus buatmu.

Biarlah tangan Tuhan yang melukis cinta ini….

( Memikirkan tentangmu-18092010)

Images

The Messenger

When you feel you're alone
Cut off from this cruel world
Your instincts telling you to run
Listen to your heart
Those angel voices
They'll sing to you
They'll be your guide back back home

When life leaves us blind
Love
Keeps us kind
It keeps us kind

When you've suffered enough
And your spirit is breaking
You're growing desperate from the fight
Remember your love
And you always will be
This melody will bring you right back home

Kudapati lirik ini ditengah malam saat tak bisa tidur di status salah seorang kawan.
Dan benar, dia tak salah. Tak menyesal mengunduhnya....
Images

Extreme Is Always Fun

Extreme is always fun. Hahahahaha. Kalimat ini bagiku sangat keren.Aku mendapatinya di komen fesbuk Echy. Echy memang selalu identik dengan kata ekstrim. Tapi sejujurnya, ekstrim salah satu kata favoritku selain serendipity, beranda, teras Imaji, mimpi, timurangin, sarasvaty, peribiru, dan banyak lagi :).

Pasti ada saat dimana tiap kita membayangkan sesuatu yang ekstrim. Berteriak sekeras mungkin. Mengerjai orang lain hingga level marah yang palig tinggi. Mencium seseorang secara tiba-tiba (ini ekstrim menurutku). Melompat dari gedung tertinggi. Merubah dandanan 180 derajat. Tidak pulang ke rumah selama seminggu dan tidak menitip pesan. Atau melakukan hal-hal aneh diluar kewajaran.

Ema menantangku utuk menuliskan daftar kelakukan diluar kewajaran yang pernah aku lakukan. Merujuk pada daftar yang pernah dituliskan Nida, salah seorang perempuan paling visioner di angkatanku.

Hmmm…Ema sepertinya memancingku untuk menggali hal-hal ektrim yag pernah aku lakukan. Biarkan aku mengingat hal-hal diluar logika itu. Tunggulah!!!

`

Images

Pemantik Dari Kawan

Menulis adalah sebuah perjalanan menuju kelahiran. Itu kata Dewi Lestari. Seperti sebuah kehidupan baru, kelahiran ini memiliki banyak rintangan. Entah persaingan dari awal ia menjadi ide. Proses bercinta antara ide dan gerak jari yang menuliskannya. Bagaimana ia dirawat dalam kadungan hingga benar menjadi jaban bayi. Dan bagaimana memolesnya dan siap melahirkanya menjadi sebuah buku.

Beberapa bahkan tak sempat bercinta. Kenikmatan semu yag dilepaskan dalam bentuk onani atau masturbasi. Beberapa masih sempat merasakan nikmatnya sebuah persetubuhan. Namun keguguran dalam waktu usia kadungan yag masih sangat muda. Beberapa teraborsi atas nama rutinitas, writer’s block, atau bahkan karena mood. Hanya sedikit yang mampu bertahan. Lahir ke dunia dan bersaing dengan “manusia-manusia” lain. Terpapar nilai dan pasar. Bagus atau tidak. Best Seller atau hanya terjual satu atau dua eksamplar.

Tapi jika kau telah sampai pada proses melahirkannya. Ia mewujud dalam sebuah buku. Aku telah mengaggapmu hebat. Aku akan menaruh hormat padamu. Karena aku tahu betapa sulitnya “melahirkan “itu.

Bagiku menulis adalah sebuah perjalanan mewujudkan mimpi. Aku telah memimpikannya sejak lama. Sejak ketika aku membaca buku-buku perpustakaan SDku yang mampir dulu ke rumah sebelum di bawa ke sekolah. Sejak pertama aku membaca majalah Bobo di tahun 1992 aku telah menyukai menulis itu. Aku memulai menulis puisi pertamaku saat kelas tiga SD. Terinspirasi dari kematian ibu Tien Soeharto. Sebuah puisi yang tak lagi ingin aku baca dan aku ingat isinya.

Ketertarikanku menulis catatan harian ketika aku kelas 6 sekolah dasar. Aku telah menulis selembar ceritaku hari itu. Aku masih mengingat buku diary kecil itu. Bersampul domina berwara hijau. Dengan Spiral yag menjilidnya. Kertasnya berwarna-warni. Ada merah, hijau, dan biru.

Aku menyembunyikannya di bawah bantal di kamarku. Namun kakakku yang paling tua menemukannya saat kami asyik bercanda di kamar. Ia megatakan padaku “tunggulah hingga kelas 1 SMP dank au menulis diary”.Diary saat itu identik dengan menuliskan kisah cinta monyet. Menuliskan kisah tentang siapa saja yang mengirimimu surat cinta hari ini. Atau kakak kelas yang mana yang kamu naksir. Diary identik dengan anak perempuan yang beranjak remaja, menggunakan seragam putih biru, dan dengan buku yang tersegel oleh gembok. Diary terkesan sebagai sebuah rahasia yang hedak disimpan dan berstempel confidential.

Dwi kecil pun merobek satu halaman yang telah ditulisnya. Menunggu setahun hingga memulai menulis lembar-lembar diary. Diary kecil bergambar kartu anjing puddle lengkap dengan gembok. Dan yah, diary itu penuh dengan cerita masa SMP yang lucu dan kampungan.hihihihihi.

Mimpi itu masih aku bawa hingga hari ini. Hingga detik ini. Masuk dalam daftar mimpi-mimpi yang aku tulis sejak masa SMA. Jika aku berdiri di depan cermin Tarsah (cermin ini bisa kau dapati dalam buku Harry Potter 1) maka aku yakin refleksiku adalah aku dengan buku-buku yang kutulis sendiri. Atau jika aku masuk dalam karnaval imajinasi dr. Parnassus, aku yakin gambar imajinasi itu tak jauh dari buku-buku.
“ jangan larut dalam mimpi-mimpi dan melupakan hidup” pesan Dumbledore pada Harry ketika ia kembali melihat Harry megujungi cermin Tarsah itu. Bermimpi adalah hal yang paling mudah dan paling menyenangkan untuk dilakukan. Seliar apapun itu. Seganas apapun itu. Seberapa mematikannya. Tak ada yang akan melarangmu melakukannya.

Namun membuat mimpi menjadi nyata bukanlah persoalan yang mudah. Butuh berdarah-darah dan waktu yag cukup lama. Seperti sebuah kelahiran mewujudkan mimpi ini pun bisa mengalami keguguran di tengah jalan.Segala alasan dan permaafan menjadikannya permisif untuk tidak menjadi nyata. Tapi selalu ada ruang di hati yang kadang menyesakkan dada memaksanya untuk bisa bertahan.

Seorang kawan mengirimkan sebuah pesan dalam sebuah kiriman di fesbuk. Ia merindukan tulisan saya dan teman-tema mewujud dalam sebuah buku. Sebuah saja dulu. Ia telah menyediakan ruang kosong di ranselnya yang akan dibawanya kelak jika ia melakukan perjalanan. Aku terharu membacanya. Aku selalu merasa aku hanya sendirian menginginkan sebuah kelahiran satu buku. Satu buku saja dulu. Ternyata ada seseorang yang telah menunggu membacanya meski ia tak pernah tahu bagaimana rupa buku itu kelak. Mungkinkah ia jelek, cacat, tak menarik, tak member kesan. Entah.

Tapi bukan itu yang penting. Ketika seseorang telah menlahirkan sebuah karya, ia telah menjadi ibu dari karya tersebut. Tak peduli cap apa yang diberikan pada karyanya. Setidaknya ia telah membuktikan bahwa ia mampu mengandung dan melahirkan sebuah karya.Aku mengaminkannya. Diam-diam dalam sebuah rasa yang syahdu. Tuhan mungkin telah memeluk mimpi itu. Saatnya Ia melepaskannya dan membiarkan aku mewujudkannya di bumi. Amin (*).
Images

Fokus

Apa yang dibutuhkan dalam mejalani hidup? Mungkin fokus adalah salah satu jawabannya. Fokus adalah sebuah upaya untuk tetap mampu berkonstrasi terhadap sebuah pencapaian meski begitu banyak hal diluar diri yang mampu membuat seseorang teralih perhatiannya.

Fokus disini adalah memperhatikan secara seksama pada potensi diri. Banyak pilihan untuk fokus. Dunia menawarkan ragam aksesoris dan benda-benda. Pilihan ada pada diri untuk fokus pada satu titik.
Aku mungkin tipe orang yang paling tidak bisa fokus pada sesuatu. Selalu ada banyak perecanaan yag telah otakku atur. Sudah didaftar dengan sangat matang. Tapi yang terjadi jendela-jendela di luar terlalu banyak kejutan dan mengalihkan arah mataku. Aku sibuk memperhatikan orang lain. Berangan-angan menjadi seperti mereka. Membandingkan diri dengan mereka dan kemudian menemukan diri dalam sejuta kekurangan.

Mereka lebih cantik. Lebih pintar, lebih berbakat, pandai bermain musik, bakat bela diri, punya hal unik, lebih beruntung. Pengalih perhatian itu selalu mampu membawa diri terjebak dalam out of focus tetang kemampuan pribadi. Sesugguhnya setiap manusia dilahirkan berbeda dan unik. Sehigga tiap manusia memiliki arti nyata di dunia.

Yang aku butuhkan adalah cukup fokus pada potensi diri. Cukup sedikit percaya diri dan kerja keras untuk membuat perhatianku tetap di duniaku. Mungkin bukan sesuatu yang mudah tapi aku yakin ini juga bukan sesuatu yang sulit.(*)

15-09-10- lagi out of focus
Images

Nomaden

Ilustrasi
Perlu mengalami kepergian untuk dapat meresapi sebuah kepulangan. Dan kadang kepergian itu serupa perjalanan tak tentu arah dan berpindah. Merasakan nomaden. Tak hanya nomad di alam materi namun juga di alam jiwa.

Nomad serupa pengembaraan dimana kamu tak menetap di sebuah tempat. Kamu berpindah. Bergerak. Setiap hari adalah sebuah kepergian dan hidup adalah sebuah jalan yang perlu ditempuh. Seperti sebuah teka-teki labirin yang sering aku temukan di majalah atau bungkus kemasan makanan. Pertanyaannya adalah membantu sang tokoh kartun dari awal labirin untuk sampai dirumahnya dengan jalan berliku. Sangat mudah menebaknya. Otak jaman SDku mampu menjawabnya apalagi jika aku gunakan otakku yang sekarang. Yang telah dipenuhi hal-hal yang lebih rumit dari sekadar gambar labirin di majalah anak-anak.

Labirin di majalah itu gampang. Aku bisa melihat semua kemungkinan jalannya. Jika aku tersesat aku dengan mudah untuk kembali ke awal dan mencari alterative lain. Namun soal teka-teki SD bukan lagi soal yang dibebankan padaku untuk kujawab. Untuk kucari jalan keluarnya.

Soalnya akan lebih sulit. Disesuaikan dengan jenjang sekolah, umur, dan tinggi badan (sepertinya ini Cuma bercanda:).Labirinnya tak terlihat. Tokohnya bukan lagi sosok kartun lucu tapi adalah diriku. Aku harus menebak arah, menebak bentuk labirin, dan tak kembali jika dinding didepan adalah tembok terjal yang begitu tebal. Otakku harus kreatif menemukan cara untuk memanjatnya. Atau menemukan godam dan menghantamnya dengan sekuat tenaga.

Pernahkah ada saat dimana kamu tak pernah tahu akan kemana? Arah didepannya begitu samar? Aku tak yakin pernah membayangkannya. Tapi sepertinya untuk sekarang pilihan itu ada didepanku. Rasanya seperti berada di ruang tunggu begitu lama. Mereka-reka apa yang akan aku dapati saat namaku dipanggil menuju ruang yang lain.

Mimpi kecil itu begitu abstrak dulu. Aku hanya membayangkan makro imagenya dalam benakku. Ternyata begitu susah untuk memasang detail-detailnya ketika aku hendak melakukan eksekusi terhadapnya. Aku serupa Ariadne dalam Inception yang berusaha menggambar labirin mimpi dengan detail yang begitu lengkap. Dan aku mengatakan padamu, ii bukanlah sesuatu yang mudah.

Nomad. Entah kemana lagi setelah ini.Enam bulan. Setahun. Dua tahun. Tahu ketiga, empat, lima, dan seterusnya. Terasa masih berupa kabut yang mampu buyar terpapar matahari. Ujung labirinnya adalah sebuah rumah kecil di atas bukit berlantai dua dengan jendela kaca besar, sebuah beranda dengan pemandangan laut yang indah. Beberapa cerita tentang sebuah perjalanan yang telah tercatat di buku-buku. Dan beberapa anak-anak berlarian riang di halaman.

Bukankah terdengar menyenangkan? Mimpi selalu terbayangkan dengan indah. Tapi ketika kau menjadi kaum nomad, perjalanan-perjalanan adalah upaya untuk menuju ke ujung labirin itu. Aku rindu rumah itu. Sangat. Tapi aku belum sampai disana. Saat ini aku serupa siput yag membawa rumahku dalam setiap perjalanan. Aku menyimpannya di hati.Anggaplah semacam peta menuju pulang. (*)
Images

080910

Penanggalan yang cantik bukan hari ini? Segala sesuatu akan indah pada waktunya. Segala hal selalu mampu terlihat indah jika dipandang dari sudutyang tepat. Mungkin jika dilihat lebih dekat atau dilihat dari sudut terjauh. Mungkin memakai teropong untuk melihatnya atau juga mungkin memakai teleskop atau pun mikroskop. Bisa jadi juga memakai sedotan. 

Hari ini penanggalan yang cantik bukan? Kalau kau tak bersepakat tak perlu lah. Karena aku melihatnya dari sudut yang keren. Tapi pada dasarnya semua adalah biasa. Atau juga semua adalah special? Namun jika semua adalah special pada akhirnya ia tetap menjadi biasa. Tak ada bedanya ia dengan hari lain jika semua hari menjadi special.

Makanya ayolah bersepakat denganku bahwa hari ini penanggalannya cantik. Agar ia lebih sedikit berbeda dengan hari yang lain. Tak akan pernah lagi kau temukan penanggalan berjejer seperti hari ini. Mari berbagi bahagia. Biru, putih, merah, kuning, jingga, ungu,merah muda, hijau, dan jutaan warna lainnya. 

Pilih crayonmu dan mari mewarnai penanggalan hari ini 080910.(*)
Images

Memanipulasi Mimpi

Seberapa banyak jam yang perlu aku lewatkan dalam tidur agar nyatamu bisa aku anggap mimpi? Berapa banyak lelap yang aku harus investasikan pada dunia mimpi agar kenanganmu yang begitu nyata bisa kurasakan sebagai mimpi semata?

Dunia berputar disekelilingku. Perlahan. Cepat. Lebih cepat. bertambah cepat lagi. Aku telah bermain-main dengan dunia mimpi. Menyita sesuatu yang harusnya tetap ada disana ke dalam nyataku. Aku memanipulasinya. Hingga tak tertidur dan tetap memandangnya lekat-lekat. Aku tak ingin jatuh dalam lelap. Dirinya terlalu baik untuk terlewatkan dalam mata terpejam. Meski mimpi telah mendendangkan lagu hymne untuk menutup mataku namun tetap saja aku menolak kelopak mata ini saling tertutup.
Gambar Perinya keren!!!!!

Aku telah bermimpi dalam nyata. Terlalu nyata untuk benar-benar melekatkan mimpi disana. Ia terlalu nyata dimataku. Namun tetap saja rasanya bermimpi. Aku telah memanipulasi mimpi. Berapa lelap yang harus aku bayar untuk mengembalikannya ke dunia mimpi/ aku tak pernah tahu. Namun setiap ku terbangun aku tetap saja memahami nyatanya. Ia benar-benar pernah nyata.

Dan nyata itu harus berbayar banyak. Beberapa mimpi buruk terikut keluar dari dunianya. Aku tak pernah menyesalinya. Biarlah ia menjadi sebuah kesalahan yang tak tersesalkan. Meski aku harus membayar banyak lelap untuk membayar banyak nightmare yang ikut bersamanya. Nyatanya telah begitu menyelimutiku dengan bahagia.(*)
Images

Count Me In....


Ini adalah ramadhan yang paling tersia-siakan bagiku. Ia berlalu begitu saja tanpa benar-benar kumaknai artinya. Ia tak lagi semeriah seperti kanak-kanak dulu. Ia tak lagi seperti sebuah bulan yang kami tunggu datangnya karena begitu banyak hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan. Sholat tarawih, taddarus Alqur’an, belajar berpuasa, tak sekolah, bermain lebih lama di mesjid.

Semua rasanya begitu berubah. Aku tumbuh menjadi perempuan yang sangat individu dan materialistic. Bertumbuh dan belajar. Membuka banyak ruang untuk hal-hal baru. Mendengar perdebatan tentang Tuhan dan mencatatnya diam-diam. Melakukan banyak hal-hal permisif yang kemudian dianggap diperbolehkan. Mulai jarang membaca Al-quran, meninggalkan sholat lima waktu, dan tak lagi melakukan rutitintas ibadah.

Rasanya seperti tersesat dinegeri antah berantah. Diriku kehausan. Aku menyadarinya. Namun gerak sadarku tidak menuntunku mencari oase. Aku bahkan larut dalam gerak ego yang mungkin kadang menjebak. Namun sejauh ini kuyakini bahwa semua gerak itu masih terpantau oleh hati. Geraknya adalah atas sebuah cinta. Meski mungkin aku salah menerjemahkannya. Aku benar-benar tersesat disana. Perlukah tersesat untuk mengingatkembali jalan pulang. Aku payah dalam soal arah. Dan mungkin memang aku butuh tersesat agar bisa kembali dipintu-Nya.

Aku memohon maaf untuk salah yang pernah ada. Aku berusaha untuk memperbaiki tautan-tautanku dengan orang lain. Dengan jaring manusia yang lebih kompleks. Aku menempuhnya dengan sangat baik hingga tersesat. Aku hanya punya hati untuk menunjukkanku arah pulang.

Kali ini aku dan Dialah yang perlu kembali tertaut. Aku yang harus mengikat temalinya lagi. Dia tak pernah membutuhkanku karena sesungguhnya aku yang membutuhkannya. Masukkan aku ke dalam manusia-manusia yang masih mendapatkan hidayahMu.Pertemukan aku pada satu bulan suci di tahun depan. Agar aku bisa kembali membenah hati.Amien(*)
Images

Peribiru dan Mawar Biru

Blue Rose
Peribiru berlari di taman istana. Bunga-bunga bermekaran di sana. Hujan baru saja membasahi bumi. Tumpah ruah airnya seperti sebuah guyuran satu bak ember air ke sebuah pot bunga kecil. Genangan air masih membasahi tanah yang becek. Kotor. Air berkecipakan di lompat kodok yang bersuka ria meloncat diantara genangan. Bubur tanah menjadi lumpur yang mampu menodai baju.

Peribiru tak mempedulikan semua itu. Ia berlari. Ia sesungguhnya tak menyukai hujan.tapi kali ini hujan tampak begitu romantic baginya. Pohon tampak lebih hijau setelah diguyur hujan. Bunga-bunga tampak lebih berwarna diguyur hujan. Air seperti berlaku sebagai fungsinya. Seperti sebuah lukisan dalam crayon pensil warna yang dioleskan iar sehingga tampak lebih hidup. Warna lebih cerah dan tampak sangat basah. Ya, sangat basah oleh air.

Peribiru berlari menghampiri bunga-bunga bermekaran. Ada melati, bunga kertas, tulip, dan mawar. Semua berwarna dan begitu cantik. Putih, merah muda, kuning, merah, dan biru. Di dekatinya sebuah mawar berwarna biru. Biru seperti langit saat selesai hujan tanpa awan. Bisa kau bayangkan bagaimana indahnya? Sangat cerah. Seperti terlepas dari beban awan hitam yang mengelayut manja di sana. Seperti terbebas dari sebuah ikatan rantai yang mengekangnya. Biru itu tampak bebas. Tak bersedih. Dan bahagia.

Peribiru mendekatkan jemarinya pada mawar biru itu. Ia ingin merasakan lebih dekat biru yang mampu dirasakannya saat ia melihat mawar itu. Rasa yang sama untuk langit. Tapi tiba-tiba “ouch”. Tangannya terluka. Ia terlalu tergesa-gesa menggapai tangkai mawar itu. Ia tak menyadari ada sebuah tangkai kecil tajam di cabang pohon kecil itu. Jemarinya berdarah. Setetes merah menitik pada bunga mawar biru itu. Birunya tampak lecet.Seperti ada noda disana.

Luka itu kecil. Namun sangat sakit dijemarinya. Ditariknya segera lengannya dari pohon mawar itu. Diurungkannya niatnya untuk memetiknya. Jemarinya masih berdarah. Dirasakannya sakitnya. Tak serta merta dijilatinya luka itu. Kecil memang. Tapi sakit. Dibiarkannyadarah mengalir perlahan. Dibiarkannya dia menyerap semua sakitnya. Di netralkannya semua darahnya. Diikutkannya sakit itu dalam perih darah yang keluar diujung jemarinya.

Air matanya hamper tumpah. Namun tetap ditahannya. Rasanya cengeng untuk sebuah luka sekecil ini. Namun sudut matanya tak sanggup untuk menahan air mata itu. Ada bulir air bening yang mengalir di pipinya. Rasanya tak tertahankan. Jemari lukanya menjangkau bibirnya. Jemari lukanya merasakan hangatnya lidahnya. Dijilatinya perlahan. Ada rasa serupa besi karatan diujung lidahnya. Perih sesaat. Namun ia tak lagi merasakan apapun. Hanya sisa air mata yang terasa lengket di pipinya.

Ia berlari menuju perpustakaan. Ada air pancuran di tengah hallnya. Dibasuhnya mukanya. Mengapa tiap sedih selalu beriringan dengan air mata. Ia menanyakan sakit itu. Ia membongkar buku perpustakaan. Mencarinya dalam buku peta tubuh, saraf, dan rahasia anatomi. Namun tak ditemukannya jawabannya.

Bagaimana rasa mampu memantik sebuah gerak biologis tubuh. Ia berlari mencari kakek penyihir. Tapi tak ditemuinya di dapur ramuan. Dia merenung di kamar. Dikamar menara. Dilihatnya hujan kembali tumpah. Memandikan bumi dan segala isinya. Ia masih berpikir. Ia masih merenung.

Jika ada hujan tentu akan ada matahari. Jika hujan terus maka bumi akan kelebihan air. Perlu ada matahari untuk menyerap kembali air yang tak terserap oleh bumi. Matahari perlu menguapkan kembali genangan air itu. Seperti itu pula sakit dan sehat. Sedih dan bahagia. Selalu ada opposite yang menjadikan mereka imbang. Karena jika salah satunya tak ada maka neracanya takkan seimbang. Dan dunia pun akan sedikit lebih berat.

Mengapa ada duri di tangkai mawar itu? Ini sebuah penjelasan lain dalam definisi yang sama. Selalu ada keburukan dari sesuatu yang indah. Tak ada sesuatu yang begitu sempurna. Tak ada yang tak memiliki celah. Semua perlu memiliki celah agar ia bisa mengabsorsi dan melepaskan. Duri itu pun sebuah bentuk tameng kecil bagi sang mawar. Tak semudah itu memetik sebuah keindahan. Selalu ada harga yang harus dibayar. Agar seseorang mengikuti aturan atau berhati-hati. Bertindak bijak adalah sebuah kalimat yang lebih tepat.

Jika terlalu gegabah, durinya bakal menusuk. Perlu kehati-hatian dalam memetiknya. Peribiru memikirkan ini lebih dalam. Ia mencari pesan kuno yang selalu ditinggalkan oleh ibunya. Ibu mengajarinya dengan sangat baik. Namun terkadang ada bahasa yang perlu ia simpulkan lagi. Ibu tak pernah tersurat menyampaikan pesan. Selalu ada makna symbol yang perlu ditebaknya. Ia harus kembali menarik deduksi dari induksi yang begitu banyak. Perlu menarik akar makna dari pohon-pohon kehidupan.

Peribiru memahami bahwa dunia adalah moazaik indah yang penuh keragaman. Dan dari sesuatu yang indah itu juga ada sesuatu yang tak begitu indah. Mereka saling melengkapi. Pendefinisian itu pun bergantungan pada individu. Sesuatu itu tetaplah sesuatu sampai seseorang meletakkan nilai padanya. Ini baik dan ini buruk. Ini indah dan ini jelek. Pada akhirnya definisi adalah sebuah ciptaan yang lahir dari rekonstruksi manusia.

Namun definisi perlu untuk memahami sesuatu. Mencari gerak hendak kemana dan bagaimana ia berubah. Dan seperti itu pulalah mawar dan duri itu. Peribiru mendefinisikannya seperti itu. Ia mungkin masihlah kecil. Masih banyak duri yang perlu di maknainya. Perlu dirasakan sakitnya. Hidup bukanlah keseimbangan nyata yang hadir begitu saja. Hidup mengikuti gerak alam yang juga terus berubah. Ia hanya perlu belajar berhati-hati. Menimbang secara bijak tiap langkah. Dan tak cengeng pada darah yang keluar.

Saat ini peribiru begitu rindu dengan kesatria putih. Ingin rasanya kembali bertualang bersamanya lagi.(*)

(Sebelum mudik dan sebelum memulai petualangan baru dengan kesatria putih-080910)

Images

Dream Comes True

Belakangan ini semua mimpi dan pengharapanku tiba-tiba terkabul. Tiba-tiba terjadi. Mengejutkanku karena mereka menjadi nyata. Ada yang menyenangkan, namun ada juga yang menyedihkan. Mungkin aku ada bakat cenayang. Mungkin pula aku ada bakat melihat masa depan seperti si Alice Cullen.

Atau aku adalah sang oracle di dunia modern ini.Atau mungkin karena pernah mengkonsumsi gurita jadinya aku sedikit bisa melakukan nujuman. Tiba-tiba saja tidur begitu menakutkanku. Tiba-tiba saja aku ingin mengeluarkan semua pengharapanku. Tiba-tiba saja aku ketakutan. Mengapa tiba-tiba semua benar-benar menjadi nyata.

Mungkin harus lebih banyak beribadah.Mungkin Tuhan sedang berbicara padaku dengan cara ini.
Images

3 Cinta, 3 Rindu

Aku merindukanmu hingga menangis. Aku mungkin seolah-olah kuat di hadapanmu. Menanggapi semua pembicaraan. Tersenyum dan sesekali berkomentar tentang ceritamu. Tapi disini aku ingin jujur padamu bahwa aku tak pernah benar-benar menyimak cerita. Aku tak pernah benar-benar berkomentar akan tuturmu. Aku sibuk dengan pikiranku. Aku sibuk dengan bagaimana aku menata hatiku. Selalu menyakitkan sebuah perpisahan. Dan aku harus selalu menghadapinya berkali-kali denganmu.

Aku tak ingin melepasmu. Tinggal dan tetaplah disini. Itu mauku. Jika aku egois aku mampu menyakiti banyak hati untuk itu. Tapi pada akhirnya jalan terbaik adalah menyakiti diri sendiri. Agar aku tahu bahwa sakit itu memang benar-benar sakit. Agar aku berhenti menyakiti orang lain. Karena sakitnya akan sama.

Aku merindukanmu hingga menangis. Aku menangisi keterbatasanku sebagai manusia. Aku hidup dalam imaji dongengku. Aku tersesat didalamnya. Kau mencintai siapa? Apakah aku sebagai aku atau aku sebagai karakter fiktif itu. Aku takut aku tak lagi bias membedakan antara diriku dengan tokoh fiktif itu. Aku takut aku tak lagi bisa menemukan diriku yang sebenarnya. Aku takut ia menjadi altar ego dari diriku.

Aku merindukanmu hingga menangis. Tapi aku tak ingin menyakiti lebih banyak hati lagi. Pada akhirnya aku memilih konsekuensi ini. Aku tak tahu apakah hanya aku sendiri yang merasakan ini. Aku tak pernah tahu apakah kau pun menyakiti dirimu sendiri. Aku masih beranggapan bahwa kau baik-baik saja. Hanya aku saja yang merasakan sakitnya merindukanmu.

Jika kau merindukanku, kumohon kabari aku. Agar aku tak sendiri merasakan sakitnya.
***

Aku baru menyadari bahwa dirimu telah mengucapkan selamat tinggal. Kau meneruskan hidupmu. Dan aku pun meneruskan hidupku. Tapi aku tak pernah benar-benar menyadari bahwa kau telah menyelesaikan halaman itu sendirian. Hingga hari ini. Ketika aku tak pernah lagi mendengar bagaimana kau menyapaku. Lewat sarana apapun itu.

Bahkan saat aku berulangtahun sekalipun kau tak lagi mengirimiku kalimat biasa “Happy Birthday”. Aku tahu kau tak melupakannya. Kita pernah begitu dekat. Seseorang diluar sana yang bahkan tak begitu menorehkan kesan tetap memberikanku kalimat itu.

Atau karena aku dan kamu memang telah bersepakat dalam diam untuk tak membahasnya. Secara tak sengaja kita memutuskan ikatan itu. Aku memungkin memicunya dank au mengeksekusinya dalam kata yang tak pernah aku sadar.

Aku merindukan saat-saat imajiner kita. Menonton bersama. Mendengar music yang sama. Memilih film-film tua. Berdiskusi mengawan-awan. Tak tersentuh namun mampu kurasakan dengan hati. Waktu telah mendewasakan kita. Waktu telah membuat kita begitu realistis terhadap semua ini.

Kita pernah memiliki teras itu. Aku menyebutnya tempat singgah.Kau menyebutnya beranda. Rasanya telah begitu lama tak lagi mendengar pengandaian itu. Jika aku menyapamu sekarang, kita tak lagi membahas segala yang imajiner itu. Kita telah menjadi kelinci-kelinci dalam dunia Sophie. Aku rindu diskusi kita tentang buku-buku. Film-film yang sangat kita. Atau ribuan mimpi-mimpi konyol yang kita buat.

Kau menyebut diri kita adalah orang-orang bersayap. Aku menyebutmu malaikat. Tapi mungkin kita telah memilih untuk terjun dari gedung tertinggi di dunia. Menjatuhkan diri. Menghujam bumi. Membuat diri kita berdarah. Agar aku dan kamu menjadi manusia.
***

Aku memimpikanmu lagi. Sangat nyata. Sangat dekat. Seperti teman lama yang bertukar kabar dan saling mencandai. Akhir-akhir ini aku selalu memimpikanmu. Apakah pertanda aku selangkah lebih dekat dengan dirimu? Apakah tak lama lagi aku akan menjangkaumu. Membuat nyata mimpi-mimpi masa kecilku.

Ataukah kau datang seperti bagaimana aku menyebutmu. Pangeran impian yang selalu menunggu di ujung jembatan. Kau menemaniku menyembuhkan hati. Merawat luka. Dan membagi bahagia padaku. Kita tak pernah benar-benar bersentuhan. Kau mungkin tak pernah sadar bahwa aku adalah nyata. Aku pun mungkin hanya mampu menjadikanmu teman khayal yang juga tak pernah jadi nyata bagiku.

Tapi aku masih memelihara mimpi untuk memelukmu. Berjinjit. Pasti itu yang akan terjadi. Setidaknya aku telah yakin pada satu hal. Bahwa ketika aku memeluk kelak aku akan berjinjit untuk menjangkaumu. Bukankah terdengar sangat romantic?

Aku pernah menuliskan satu cerpen tentangmu. Satu cerpen masa SMA yang masih kusimpan namun tak pernah berani aku baca lagi. Aku masih mengingat kisahnya. Tapi aku belum berani membacanya kembali. AKu terlalu takut untuk menyadari bahwa dirimu memang hanyalah sebuah kabut di pagi hari.

The world on the outside is trying to pull me in
But they can't touch me
'Cause I got you(*)

Tulisan lama-September awal-
Images

Pilihan Ketiga

Awalnya aku pikir hanya ada dua pilihan dalam hidup. Bahagia atau sedih. Tapi pagi ini aku menemukan ada pilihan ketiga yang mungkin bisa menjadi alternatif. Namun dari semua pilihan itu aku pikir pilihan ketiga inilah yang paling susah. Memanage sedih menjadi bahagia. Aku takkan memasukkan sebuah pilihan memanage bahagia menjadi sedih. Tak ada yang akan memilih sedih. Meski sedih akan selalu ada. Seperti siang malam, matahari bulan. Bahagia bukanlah monolitas. Ia akan selalu berdampingan dengan sedih. Tapi jika manusia mampu memilih bahagia, mengapa harus memilih sedih. Karena itu memanage bahagia menjadi sedih adalah sebuah kebodohan.

Kembali kepada memanage sedih menjadi bahagia. Aku berpendapat bahwa ini adalah pilihan yang sangat sulit. Ada kala dimana manusia bersedih dan ingin larut dalam sedih itu. Membiarkan waktu menyembuhkannya. Time can heal the wound. Biarkan luka terobati oleh waktu. Bahagia dan sedih adalah sebuah pilihan yang telah tersedia. Jika A adalah sedih dan B adalah Bahagia maka ketika A bertemu denganmu maka saat itu kamu bersedih. Dan ketika B berada di depanmu, maka dirimu adalah Bahagia.

Lantas bagaimana merubah B menjadi A jika kelak bertemu dengannya? Pernahkah dirimu membaca atau menonton seri Harry Potter. Di dunia penyihir ada seekor mahkluk sihir bernama Boggart. Ia biasanya mendekam di lemari-lemari tua atau lacai-laci yang tak terpakai. Ia mampu mengetahui ketakutan terbesarmu. Misalnya si Hermione yang takut mendapatkan nilai B pada semua mata pelajarannya. Atau Ron Weaslay yang takut pada laba-laba.Atau Harry Potter yang takut pada Dementor. Jika bertemu dengan Boggart, maka mantra yang harus kamu gunakan adalah mantra Riddikulus. Mantra yang menjadikan sesuatu itu tampak konyol.
Harry Potter dan Boggart dalam bentuk Dementor

Kamu harus memikirkan sesuatu yang konyol sebelum berhadapan dengan ketakutan yang akan ditunjukkan oleh Boggart. Pikirkan bagaimana bentuk kekonyolan yang kamu inginkan terhadap ketakutanmu itu.
Jika perumpamaannya seperti itu mungkin akan tampak gampang. Hanya perlu untuk mempelajari mantra. Namun, itu jika kamu penyihir. Bagi Muggle (Manusia tanpa keahlian sihir) seperti aku memanage sedih menjadi bahagia adalah pilihan yang cukup sulit. Tapi aku pun tak ingin larut dalam cairan kesedihan. Karena ada kala dimana aku mencapai titik jenuh dan sedih itu tetap membatu tanpa pernah benar-benar terlarut.

Formula ini akan berbeda bagi tiap orang. Masing-masing boleh menemukan ramuannya sendiri. Bagiku cara terbaik adalah menuliskan sedih itu. Ada kala dimana aku sangat sedih dan butuh waktu sendiri. Menulis mampu mencairkan suasana hatiku. Menumpahkan segala sedih di dalamnya atau bahkan menangis . Atau menjadikannya sebuah ide cerita yang menyenangkan. Atau setidaknya memindahkan beban sedih itu dari hatiku ke dalam tulisan itu.

Tulisan seperti sebuah Pensieve, pot penyimpan kenangan. Dumbledore menggunakannya untuk menyimpan kenangannya. Jika ia sudah tak mampu lagi menampung semua memori maka ia akan meletakkan tongkat sihir di ujung dahinya. Menariknya perlahan. Benang-benang perak pikirannya akan keluar dan dicelupkannya ke dalam pot penyimpan kenangan. Keren juga jika memiliki satu seperti itu. Tak perlu distorsi kenangan. Karena kenangan akan tersimpan dengan utuh di dalamnya. Berbeda dengan menuliskannya. Ada saat dimana ada bagian yang tak terlalu jujur dituliskan. Ada saat dimana aku harus menggunakan perumpamaan, sandi, atau bahkan orang ketiga untuk mewakili rasaku.
Dumblodore menarik benang-benang pikirannya


Tapi semua upaya itu adalah sebuah proses mengubah sedih menjadi bahagia. Menyihir A menjadi B. Aku tidak hidup dalam dunia sihir yang menakjubkan. Aku tak hidup dengan puluhan mantra yang memudahkan. Aku tak memiliki tongkat sihir yang cukup kuayunkan dan sesuatu bergerak atas perintahku.

Aku adalah Muggle. Manusia yang tak memiliki kekuatan sihir. Dengan segala keterbatasan. Yang berusaha untuk tetap berbahagia meski kadang ketika sepi atau sedih ada lelehan air di sudut mataku. Butuh kerja keras untuk tetap berbahagia. Tapi tiap kita memiliki mantranya masing-masing. Yakinlah dalam dirimu ada setitik bakat penyihir. Selamat membuat mantramu sendiri!!!(*)