Images

Warna-Warni Pesta Budaya Di Athens

Di kota kecil Athens, sangat mudah menemukan beragam manusia dari berbagai negara. Asia, Afrika, Amerika latin, hingga Eropa. Rata-rata mereka adalah mahasiswa internasional yang menimba ilmu di Ohio University. Dari Asia, berbeda lagi ragam negaranya. India, Thailand, Cina, Jepang, Korea, Indonesia, Philipina, dan banyak lagi negara. Mahasiswa-mahasiswa ini biasanya bergabung di himpunan mahasiswa negaranya yang dikenal dengan nama Student assosiation. Nah, tiap student Assosiation memiliki program menampilkan budaya-budaya dari negaranya. Semisalnya African Crossover yang diadakan mahasiswa asal Benua Afrika (baca di sini) dan Chinese New Year yang diadakan mahasiswa dan komunitas China di Athens(baca di sini).

Tarian Jepang
Tiap negara memiliki budaya yang beragam. Acara malam budaya ini semacam program untuk memperkenalkan kekayaan tradisi negara masing-masing kepada segenap penonton yang hadir. Beberapa waktu lalu saya menghadiri malam budaya yang diadakan Mahasiswa Jepang dan India. Mahasiswa Jepang menamakan pegelaran budaya "Sakura Festival". Sakura Festival merujuk pada perayaan musim semi di Jepang, dimana warga jepang duduk dibawah pohon sakura yang mekar diawal musim semi. Tradisi ini disebut Hanami. Kabarnya pegelaran budaya ini dilakukan di dekat pohon-pohon sakura yang tumbuh di sepanjang sungai di dekat Ohio University, namun seiring tidak menentunya cuaca, maka acara kemudian dipindahkan ke dalam ruangan. Saat Sakura Festival dilaksanakan beberapa waktu lalu, salju masih saja turun dan sakura masih belum mekar.

Menarik menyaksikan Sakura Festival khususnya buat saya yang pertama kali menyaksikan acara ini. Orang Jepang sangat tepat waktu. Pintu tiket dibuka tepat pukul dua. Para penonton mendapatkan bento, kotak makan siang. Kalo menurutku sih semacam nasi kotak*dilempar nasi bungkus pondokan*. Yang pasti menunya khas jepang. Nasi, rumput laut, ikan dengan saus teriyaki, dan beberapa makanan yang sangat khas Jepang. Serupa makanan yang saya makan di pesawat dari Narita ke Washington.

Beberapa tarian Jepang dipentaskan. Mulai dari tarian perempuan-perempuan jepang berkimono (sayangnya, tarian ini sudah saya lihat sehari sebelumnya di acara International Women Day), tarian nelayan yang kolosal ( cukup banyak penarinya yang diambil dari mahasiswa jepang dan volunteer yang berminat menari), serta tarian dari grup vokal terkenal Jepang, AKB48. Tapi bukan artis aslinya sih. Cuma mahasiswa-mahasiswa Jepang yang mengikuti program pertukaran pelajar dengan Ohio University.

Gongnya gede gede dan banyak

Selain tarian juga dipentaskan gong-gong Jepang yang cukup nyaring. Gongnya cukup memekakan telingar. Tapi Ara tidak pernah merasa terganggu, dia asyik-asyik saja bobo dengan nyenyaknya. Kemudian Martial Art, Kendo dan Judo. Kalo Kendo adalah seni bela diri dengan pedang (itu tuh yang diajarkan Kaoru di Samurai X), nah Judo itu martial art yang tidak pake alat. Cuma ciat-ciat pake kaki dan tangan. Pake acara banting-banting ke matras. Saya aja yang liatnya cukup ngeri.

Nah, seperti yang saya bilang tadi, acara ini cukup menarik buat saya karena ini pertama kalinya saya melihat Sakura Festival, tapi bagi orang lain yang sudah pernah menyaksikan acara ini, Sakura Festival tidaklah berubah dari tahun ke tahun. Acaranya itu-itu saja. Tidak ada perubahan materi acara yang ditampilkan.

Tarian India

Berikutnya Holi Night yang diadakan mahasiswa India. Perayaan Holi adalah perayaan yang diadakan saat musim semi dimana orang-orang saling melempar bubuk berwarna. Holi berarti perayaan warna, saling memlempar bubuk warna diartikan sebagai tanda cinta dan melupakan permusuhan. Nah, lempar-lempar bubuk warna ini dilakukan sehari sebelum Holi Night. Holi Night hanya untuk mementaskan budaya-buday india.

Acaranya sedikit membosankan. Menyanyi, menari, dan drama. itu saja. Itu pun tidak dikemas dengan sangat bagus. Jadinya bosan. Yang cukup menarik hanyalah bagian akhir ketika semua menari bersama. Meskipun saya nda berani ikut-ikutan.


Anyway, dari berbagai macam malam budaya yang sudah saya saksikan di Ohio University, saya mendapatkan banyak hal menarik. Pertama saya mengenal banyak orang, berinteraksi dengan orang-orang baru, memakan makanan khas dari berbagai negara, terakhir melihat berbagai macam budaya. Nah, yang mana menurutku yang paling bagus?


Bukan bermaksud nepotisme atau terlalu memuja budaya sendiri, tapi menurutku Indo Night yang diadakan mahasiswa Indonesia paling menarik diantara semuanya. Biarin deh dikatain subjektif. Kalo bukan saya yang muji siapa lagi *weeekkkk*.

Si Cepot

Budaya Indonesia begitu beragam. Terlalu banyak untuk menampilkannya dalam satu malam. Terlalu kasian untuk menampilkan hal yang sama setiap tahun padahal berbagai macam kesenian berhamburan dari sabang sampai Marauke. Tahun ini Indo Night menampilkan tarian Piring tahun lalu tarian yang ditampilkan adalah tari indang. Martial art berupa pencak silat, pementasan angklung, dan kecapi. Yang menarik adalah hostnya dengan gaya mendalang. Jadi Adalah si cepot yang menguasai malam Indo Night. Dengan temannya si Buta yang sangat ingin kuliah di Amerika. Yang membuat betah adalah alur cerita yang diperankan si Cepot dan temannya. Si Cepot yang tiba di Colombus, kuliah di OU, dan mengerjakan paper di Alden Library. Pergantian pementasannya tidak menoton dipandu oleh MC, tapi dipandu oleh Cepot yang menjadi bagian dari cerita. Menariknya yang lain adalah adanya kuis interaktif untuk para penonton. Penonton antusias untuk mendapatkan hadiah khas Indonesia. Pokoknya, sekalipun saya bukan orang Indonesia (seandainya) dan nonton acara Indo Night, pasti tetap bilang yang paling menarik acaranya, ya Indo Night. Heeheheheehe.

International Week

Nih pada ikutan naik panggung

Ke semua pementasan acara yang ditampilkan di berbagai malam budaya di Ohio University, ditampilkan lagi di acara Talent Show saat International Week. Lagi-lagi saya melihat, tarian India, tarian Jepang, yang itu-itu lagi. Yang menarik hanyalah penari hulahoop yang begitu lentur memainkan hulanya sambil mengikuti musik ala penari balet. Ditambah lagi hula hoopnya menyala, makin bikin kagum. Ara sampe duduk diam memperhatikan dan bertepuk tangan dengan gembira ketika acara selesai. Pas Talent Show, Ara dan Rama mengoccupy panggung saat Arin menyanyi. Hhahahaha. Dua anak ini asyik-asyik aja main-main sembari para penonton tertawa melihat tingkah mereka.

Ikutan parade bawa bendera di Street fair
Setelah talent Show, besoknya acara street fair. Lagi-lagi dipentaskan tarian-tarian yang kemarin dipentaskan. Paling bosan rasanya menonton tarian India. dalam kurun waktu dua bulan  empat kali saya melihat tarian yang sama. Cape' deh.

I can't imagine seberapa bosan orang-orang yang tinggal lama di Athens dan menonton tarian yang sama tiap tahun. Tapi yang pasti, kalo Indo Night, saya yakin mereka nda bakal bosan. Anyway, meski bosan nonton, kelak saya yakin saya akan merindukan menyaksikan berbagai malam budaya di Ohio University. Butuh keajaiban untuk kembali lagi ke tempat ini di masa mendatang dna keajaiban adalah langka adanya. (*)

Images

Ara dan Bahasanya

Dicium domba :*

Rasanya begitu ajaib setiap melihat Ara yang sudah tumbuh besar. Usia sudah 20 bulan kini. Hobbynya berlarian ke sana ke mari. Ngoceh, menyanyi, dan menari. Perbendaharaan katanya pun bertambah. Dia menjadi anak bilingual. Ia memahami bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Kebanyakan kata-kata yang dia tahu adalah bahasa inggris. Mungkin karena tiap hari nonton film dan video klip berbahasa Inggris. Ketika melihat ikan, dia akan berkata "fish". Atau ketika menabrak saya tanpa sengaja, ia akan segera bilang "sorry". Pelafalannya sangat native. Selain dari tontonan ia pun banyak belajar dari apa yang saya ucapkan. Kata sorry adalah kata yang paling sering saya pake jika berpapasan dengan orang sambil mendorong Ara. Takutnya menabrak atau menghalangi orang lain. Beberapa hari ini dia mulai belajar ngomong "excuse me".

Saya pun mengajarinya mengucapkan kata "Thank you". Ketika ia memberi saya barang, saya akan berkata thank you dan dia pun mengulang kata tersebut. Ada saat dimana dia dengan pintar menggunakannya, namun ada kala dia ogah-ogahan menggunakannya. Semaunya lah pokoknya. Kata berikutnya yang ia tahu adalah "jatuh" dan "habis". Jatuh selalu menjadi kata yang saya ucapkan kalo dia duduk di meja dapur kemudian mencoba berdiri. Maka saya akan ngomel-ngomel kalo dia bakal jatuh. Setiap ada sesuatu yang terjatuh, dia akan segera berkata "jatuh". Entah dari mana dia mengenal kata "habis". Mungkin keseringan saya pake juga. Setiap kali dia makan sesuatu dan melihat wadahnya kosong ia segera berkata "habis".

Kukenalkan kalimat "I luv u" padanya. Tiap kali memeluknya saya akan berkata "I luv U". Ia pun bisa melafalkannya dengan beberapa kesamaan suara, meski tidak benar-benar berkata I luv u. Tapi kemudian saya mengajarkannya kalimat "I miss u" yang dia ucapkan "I Sis u". Sejak mengenal kalimat "I miss U", tiap kali diminta ngomong "I luv U" ia lebih suka ngomong " I sis U". Paling lancar yang dia ucapkan tidak lain adalah "No". Segala sesuatu yang ditanyakan padanya dia akan jawab "No".

What else? Hmmmm....Ia pun mulai paham jika diminta "Hug" dan "Kiss". Tapi favoritku adalah "Baby, Please, close the door". Dengan sumringah dia akan tergopah-gopah ke pintu dan menutupnya. Tiap kali nenen, dia akan memandang saya dan menunjuk mata saya, "eyes" katanya. Jika rajin, dia akan menunjuk hidung dan berkata "Nose". Jika dengar lagu Head, Shoulder, Knees, and Toes. Dia akan dengan senang hati menunjuk kepala, bahu, lutut, dan kakinya. Tanpa mendengar lagunya pun ia mulai mengenali kalo Toes adalah kaki.

Dia paling suka main balon. Tapi ketika mengajarinya mengatakan "Balloon" dia kebingungan membedakannya antara Balon dan gelembung. Dua-duanya dia sebut 'Bubble". Saya juga ikutan bingung tiap kali dia berkata bubble padahal yang dia maksud balon. Atau ketika berkata bubble yang memang merujuk pada gelembung. 

Mungkin karena keseringan nonton, cukup banyak nada yang masuk di kepalanya. Ia mulai mengenali nada. Beberapa lagu favoritnya adalah if you happy and you know it, I love you, Wheel on the bus, Cicak-Cicak di Dinding, dan Balonku ada lima. Jika saya yang mengenalkannya pada lagu bahasa inggris, maka kerjaan bapaknya yang mengenalkan lagu bahasa Indonesia. Kadang jika ia iseng dia menyanyikan lagu Cicak-cicak di dinding dengan lengkap. Mulai dari cicaknya merayap hingga bagian "hap" yang menjadi favoritnya. Jika mendengar lagu "I love You" Barney, bagian with a great big hug and kiss from me to you, maka ia akan mendekat, memeluk, dan mencium. Bagian ini selalu menjadi favoritku.

Menari adalah aktivitas yang juga ia suka. Di perpustakaan, ia paling menunggu bagian menari. Menari Ring Around The Rossie  dan terjatuh pada bagian "we all fall down". Kemudian meloncat naik ketika bagian "We all jump up".

Nah, bagian bikin gregetan adalah bahasa jika ia menginginkan sesuatu. Kadang jika kami malas-malasan menanggapinya, dia akan menarik tangan kami. Saya dan ayahnya berusaha menyembunyikan tangan sementara dia berusaha keras mencarinya. Yang ditarik adalah tangan. Bukan baju atau yang lainnya. Kalo masih dicueki dia akan berpura-pura menangis. Setelah keinginannya terpenuhi maka ia akan tertawa lebar penuh kemenangan. Ada saat dimana dia ingin sendiri dan tidak mau diganggu. Jika mendekat atau memperhatikannya dia akan marah. kadang dia mendatangi saya dan berharap saya memalingkan muka. Kebanyakan saat dia pengen pup. Mungkin kalo diliat-liatin dia nda bisa konsentrasi ngedannya. Ya kali ya...Hahahahaha. (*)


Images

Lelaki Bermata Biru


Hari ini kukuatkan tekadku untuk masuk kelas sekalipun bola besi malas menggantung manja di kakiku. Aku selalu kalah melawan rasa malas apalagi ditambah godaan teman-teman untuk menikmati musim semi yang baru dimulai. Matahari hangat dan rimbunan bunga yang bergantungan di pohon menjadi variable penganggu lain. Tak ada yang mampu melawan untuk bermain-main di bawah matahari, berjemur, sambil membaca buku atau menyoraki pria-pria yang kami tidak kenal di lapangan basket yang sibuk menggiring bola ke keranjang.

Tapi hari ini matahari hangat dan rayuan teman-teman tak mampu menahan langkahku. Bola metal di kakiku terasa lepas. Ringan kulangkahkan kakiku menuju kelas bahasa. Butuh kekuatan yang maha dahsyat untuk melepas kunci rantai kemalasanku. Dan kekuatan itu jelas adanya. Kekuatan yang mampu membuatku tunduk dan patuh. Melangkah begitu riang menuju kelas.

Kelas masih sepi. Belum seorang pun di sana. Hanya ada Tatiana yang duduk di kursi sofa depan ruang kuliah. Kulihat kelebat Mary, salah satu pengajar di kelasku di lantai dasar. "Jangan-jangan dia tidak datang?"pikirku was-was. Minggu terakhir aku mengikuti kelas, diajar oleh dirinya. Jika hitunganku benar artinya dua hari berturut-turut di kelas bukan jadwalnya mengajar di kelasku.

Aku mengambil program bahasa Inggris. Kelasku memiliki tiga staf pengajar yang bergantian mengajar satu sama lain. Minggu lalu dua hari aku bolos tidak masuk kelas. Pertama karena malas kedua karena bukan dia yang mengajar. Dia adalah moodboosterku. Dia adalah kekuatan maha dahsyat yang mampu menyeret kakiku datang ke kelas. Sejak pertama ia memperkenalkan diri dihadapan kami, sejak saat aku aku tahu magnetnya begitu kuat untuk dilawan.

Rambut pirangnya bergaya awut-awutan.Tato kotak bermotif di lengan kanannya. Gaya busana casual yang tidak rapi serta gaya menyapa yang sedikit gaul. Ketika pengajar lain lebih menyukai menyebut kami "Guys" atau "You" ia lebih suka menggunakan kata "friendsis". Sampai saat ini aku masih mencari tahu cara penulisan yang tempat dari kata yang sering ia ucapkan tersebut.

Hari ini aku sangat yakin bahwa giliran dia yang mengajar. Sayangnya, melihat Mary datang dan kelas yang masih sunyi, aku bimbang. "jangan-jangan ia batal mengajar hari ini" batinku. Dengan malas kusapa Tatiana yang sibuk dengan handphonenya. Kulangkahkan kakiku ke toilet. Mrapikan rambutku yang tak karuan karena angin. Dengan langkah gontai aku keluar dari toilet dan berdiri di papan pengumuman membaca apa saja yang mampu menyibukkan mataku. Sekelebat seorang berlalu di belakangku sambil mengucapkan namaku "hai Dwi" suara itu renyah masuk ke telingaku. Seluruh sarafku berhenti sesaat dan menegang. Impuls suara itu benar-benar melumpuhkan. Untungnya aku membelakangi sumber suara itu. Ia tak perlu melihatku grogi, nervous, dan salah tingkah. "Hai" jawabku serak. Kumaki lidahku yang keluh tak mampu bicara. Tapi hati kecilku meloncat kegirangan. Mampu kurasakan ada sumringah riang di sana.

Kelasku mulai ramai. Jong Im, perempuan asal korea teman sekelasku sudah duduk manis di salah satu meja yang membenuk setengah lingkaran. Helen duduk di sampingku. Tatiana, Tugba, dan Erika. Hanya kami berenam yang cukup rajin masuk kelas dari 12 orang yang mengambil kelas ini.

Ethan, begitu aku dan teman-teman memanggilnya. Kami tak perlu susah payah untuk menyebutkan title Mr atau Mrs. Umur kami toh tidak beda jauh. Dengan santai ia akan menyapa tentang weekend kami. Beberapa di antara kami menjawab "good", "Fine" dan kemudian diam. Ia memancing lagi dengan pertanyaan yang sedikit meminta jawaban yang panjang. Tak ada di antara kami yang menjawab. Dengan sedikit ragu, aku menceritakan pengalamanku mengikuti Athens Beautification. Ia memperhatikan dengan seksama. Rasanya kata-kata dimulutku malu untuk keluar. Hanya respon ringan serupa anggukan kepada atau "yeah" yang mampu aku ucapkan.

"Frendsis" Sapaan itu meluncur dari mulutnya saat pelajaran dimulai. Pelajaran pertama kami mereview pelajaran kemarin. Pelajaran yang saya skip. Untungnya cukup mudah dipahami. ia mulai menjelaskan kembali untuk merefresh ingatan kami. Sayup-sayup penjelasannya yang cukup cepat masuk ke telingaku. Aku lebis  suka memperhatikan dirinya. Rambutnya masih saja acak tak karuan. Hari ini ia memakai sepatu kets, celana motif army, dan kemeja orange kotak-kotak yang melekat di badan. Lengan panjangnya ia tarik sebatas siku memperlihatkan tato persegi panjang bermotif entah bermakna apa.

Hari ini adalah tepat empat bulan aku mengenalnya. Sejak pertama masuk mengajar dan meminta maaf karena menjelaskan begitu cepat. Sejauh ini apa yang kutahu tentangnya? aku hanya mengenal namanya, Ethan. Alamat emailnya pun tidak ia sertakan dalam silabus yang ia bagikan. Ethan, lelaki yang tak kuketahui nama belakangnya. Sayangnya, ia telah menjerat hatiku. I'm falling for him. Setiap geraknya mendatangkan reaksi kimia. Ia adalah definisi tampan dalam imajinasi kanak-kanakku tentang pria berambut pirang. Dulunya kupikir semua pria bule adalah cakep. Sayangnya teori itu terbukti salah. Ratusan pria bule berambut sewarna jagung atau kecoklatan pernah kulihat. Simpang siur di halaman kampus. Tak semuanya secharming film-film hollywood atau secakep anggota boyband. Tapi ia adalah pengecualian. Dia adalah definisi tampan itu sendiri. Lengkap dengan kepribadian casual yang sering aku lihat difilm-film remaja amerika.

Aku tak pernah berani menatap wajahnya. Tiap kali dia mengevaluasi kami satu-satu, aku memilih menunduk menatap lembaran kertas latihan dan menjawab "No" jika ia bertanya apakah aku menemukan kesulitan. Ia tidak pernah berlama-lama berdiri di samping mejaku. Mungkin karena ia berpikir aku cukup paham, padahal sejatinya, aku setengah kecerdasanku menguap jika ia berdiri terlalu dekat denganku.

 I'm into him. Pria yang hanya kukenal dengan nama Ethan. Sekali pernah kumencari akun facebooknya. Ethan, Ohio, Athens, sebagai keywords. Sayangnya, facebook tak mampu menemukan sosok yang kumaksud. Puluhan Ethan ia sediakan, tapi bukan sosok yang melumpuhkan sarafku. Aku cukup puas mengetahui nama pertamanya dan melihatnya berdiri nyata di kelasku. Sekalipun perisai tebal perlu kubangun untuk terlihat tampak biasa. Ironi rasanya ketika jauh, medan magnetnya menarikku mendekat dan aku tidak menolak untuk itu. Namun ketika jarak kami hanya beberapa kaki aku berusaha membangun perisai untuk menjauh darinya.

Ia adalah Mr. Ethan buatku. Hingga suatu hari tanpa sengaja aku melihat folder di komputer yang terproyeksi ke papan tulis. Bahan pelajaran yang ia simpan. Brown, Ethan. Sekilas mataku menangkap judul folder itu sebelum ia terklik dan meloncat ke folder lain. Sekilas yang membuatku tersenyum lebar dalam kelas yang sedikit harus kutahan. Untungnya ia tidak mempertanyakan maksud senyumku tersebut. Diam-diam kutulis diatas halaman buku catatanku. Mr. Ethan Brown lengkap dengan dua titik dan kurung terbuka serta gambar hati kecil.

Seketika saat online, Ethan Brown menjadi fokus utamaku. Kucari akunnya di facebook. Tanpa waktu lama facebook menampilkan fotonya. Lengkap dengan kampung halamannya. Sayangnya, privacy akunnya cukup ketat. Hanya postingan lama yang mampu aku lihat. Album foto profil dan cover facebooknya. Selebihnya tak ada info lain. Hati kecilku ingin mengaddnya menjadi temanku. Tapi sisi hati kecilku yang lain meminta untuk jangan melakukannya. Aku membingkai sosoknya di imajinasi kecilku. Dengan potongan-potongan informasi yang tidak lengkap. Ia telah membahagiakan hatiku. Aku tak ingin merusak imajinasiku tentangnya dari informasi-informasi yang lebih detail. Aku tak ingin patah hati jika mengetahui ia memiliki pacar. Cukup ia menjadi pribadi yang ku kenal sekarang. Tanpa perlu mengetahuinya lebih lanjut. Aku menjaga hatiku untuk tidak patah. Aku membekukan dirinya dalam karakter imajinasi yang membuatku bahagia. Hingga hari ini, aku hanyalah secret admirer jika bukan stalker yang melihat akun facebooknya dan menyimpan dengan rapi salah satu fotonya.

Khayalanku terhenti ketika ia tiba-tiba berdiri di dekatku. Kembali menanyakan apakah aku kesulitan dengan pelajarannya. Beberapa benar-benar aku tidak paham karena ia menjelaskan terlalu cepat. Aku cukup kaget. Ia benar-benar mampu membuatku mati seketika. Aku berusaha menguasai detak jantungku yang bertalu. Fokus pada ketidaktahuanku dan merangkai kalimat yang cukup simpel dengan grammar yang (kuharap) benar saat bertanya bagian yang tak kumengerti.

Untunglah, ia paham pertanyaanku. Ia duduk berlutut di depan meja. Aku berharap ada kotak kecil berisikan cincin mungil ditangannya. Hanya saja yang ia pegang hanyalah marker yang ia ia mainkan disela-sela jarinya. Kali ini mau tak mau saya harus memandangnya. Ia sedang menjelaskan jawaban atas pertanyaanku. Hanya saja lagi-lagi suaranya sayup masuk ketelingaku dengan noise rendah dan tone yang rendah. Aku menemukan telaga biru di bening matanya. Mata biru itu memandang tepat ke mataku. Seketika aku tidak mampu merasakan tempatku berpijak.

Aku butuh ke toilet. Mengembalikan seluruh kerja sarafku. Sedikit lunglai aku melangkahkan kakiku. Sempat kudengar ia bertanya cemas "Are you okay?" yang kujawab dengan anggukan. Inginnya kuteriak, "Reduce your charm. It has poisoned me", tapi kalimat itu hanya ada dalam benakku. Kubasuh mukaku dengan air dingin dari keran. Aku mencoba mengumpulkan jiwaku. Kumelangkah kembali ke kelas sedikit tegap. Kudapati dirinya duduk di meja tempatku duduk. Ia membantu Helen menyelesaikan soal latihannya. Ia beranjak berdiri ketika melihatku datang dan tidak mempertanyakan lagi apakah aku sakit atau tidak. Aku mengambil polpen ekstra dari tasku karena polpen yang sedari tadi kupakai menghilang entah kemana. Mungkin terlupa di toilet, pikirku.

Sebentar lagi kelas berakhir, ia menutup pelajaran hari ini dengan beberapa pengumuman. Salah satunya adalah hari ini adalah kelas terakhirnya. Dan minggu depan adalah akhir dari kelas kami. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin memulai spring semester. kubereskan buku-bukuku ketika ia tiba-tiba mendekat dan menyodorkanku polpen "maaf, sepertinya aku tidak sengaja mengambilnya" katanya padaku. Aku hanya mampu nyengir sambil meraih polpen yang sedari tadi kucari-cari.  Kuselipkan kertas-kertas latihanku dibuku catatanku. Mataku tertuju pada halaman yang sempat kucatatkan nama Ethan lengkap dengan gambar hati kecil. Ada yang berubah disana, sebuah lingkaran di gambar hati itu. Serta sebuah tulisan tangan yang bukan punyaku. Ada tanda panah di lingkaran hati itu dan tulisan "it means?" tak lupa emoticon lucu mengedip. Sempat kulihat Ethan tersenyum kecil padaku. "NOOOOOOO" teriakku dalam hati. (*)
Images

Menjajal Hunger Games Lewat Buku

koleksi Hunger Games-ku

Setelah menonton film Hunger Games (baca di sini) saya jadi tertarik membaca bukunya. Suami sempat meminjamkan bukunya di perpustakaan. Iseng-iseng intip di Ebay, ternyata trilogi Hunger Games ada dijual dengan harga $ 12.00. Harga yang lumayan murah untuk tiga buku edisi bahasa Inggris. Saat bukunya datang, ternyata ada cacat di buku pertama. Beberapa halamannya terlipat. Mungkin karena hal tersebut maka tiga seri yang tidak bisa djual terpisah ini dihargai murah. Buat saya, ini merupakan pembelian yang menguntungkan. Saya tidak memperhitungkan halaman terlipat asal halamannya lengkap dan terbaca.


Edisi bahasa Inggris dan dengan kata-kata yang sedikit susah cukup membuat saya malas-malasan membacanya. Untungnya gambaran cerita di film HG mampu membuat saya menautkan benang merah tiap adegan.
Bagian yang terlipat (baca : rusak)

Seperti biasa, buku selalu lebih baik daripada film. Begitu juga buku Hunger Games, sekalipun saya membaca versi bahasa inggrisnya. Cerita di buku lebih detail. Lewat bukunya saya lebih memahami karakter masing-masing tokoh. Pertentangan batin yang dirasakan Katniss dan juga para tributes yang lain. Membaca bukunya membuat saya menjadi Katniss yang harus berlari di hutan belantara dan berusaha untuk hidup. Tapi karena bukunya memakai Katniss sebagai pencerita, maka sisi emosional Katniss yang sangat terasa. Sedangkan jika menonton filmnya, saya bisa melihat karakter-karakter yang lain berdiri sendiri dan menunjukkan identitasnya. Terutama Peeta Mellark.

Membaca buku Hunger Games dalam versi bahasa Inggris rada bikin gemas. Buku ini mendapatkan rating 13 tahun ke atas. Masuk kategori buku remaja dan dewasa. Beberapa kata yang dipakai pun lumayan susah menurutku. Cara bertutur Suzanne Collins sangatlah berbeda dengan Rick Riordan, pengarang buku Percy Jackson. Dua buku Rick Riordan dalam bahasa Inggris sudah saya baca dan cukup mudah untuk saya pahami. Sedangkan untuk buku Hunger Games ini, terkadang saya harus mereka-reka arti dari kata dengan melihat konteksnya.

Menonton filmnya sebelum membaca bukunya cukup membantu saya mendapatkan gambaran cerita meskipun saat menonton filmnya pun saya harus meraba-raba pasalnya saya menonton tanpa subtitle bahasa inggris apalagi bahasa Indonesia. Jadi pas selesai nonton filmnya, masih samar ceritanya. Hahahaha. Pas baca bukunya mulai paham, trus nonton lagi filmnya (kali ini dengan subtitle) maka lengkaplah sudah saya menangkap gambaran besarnya.


Tapi masih saja buku ini membuat saya kesemsem. Saya berniat membaca terjemahan Indonesia. Dia masuk dalam kategori wajib baca fardhu 'ain. November ini film keduanya akan segera tayang. Bakal gila saya kalo belum menyelesaikan semua bukunya hingga saat itu.(*)
Images

Harga Dalam Negeri, Pake Luar Negeri


Sumber foto di sini
Saya sedikit galau pas siap-siap ke Amerika beberapa bulan silam. Simpel sih, nomor handphone SimPATI-ku udah bertahun-tahun saya pake. Sudah dicatat diberbagai jenis handphone, mulai dari poliponik hingga handphone touchscreen, sayang kalo ke luar negeri dalam waktu lama dan nomornya tidak aktif lagi. Ini pertama kalinya saya ke luar negeri, jadi rada belum paham apakah bisa tetap pake nomor SimPATI buat kontak-kontakan dengan teman di Indonesia.

Dan berangkatlah diri saya ke menuju bandara dengan perasaan tak menentu. "Nanti kalo balik ke Indonesia, teman-teman bakal susah ngontak karena bisa jadi nomorku nda aktif lagi", pikirku. Sebelumnya saya sempat kepikiran buat konsultasi ke Grha Pari Sraya (GraPARI) Telkomsel, tapi karena waktu mepet dengan urus visa jadi batal.

Sebelum berangkat, Blackberry Internet Service (BIS) BBku sudah kuisi untuk masa satu minggu. Pikirku, ntar BISnya nda dipake lagi pas di Amerika. Saat transit di bandara Changi, saya mencoba online dengan Wifi yang disediakan. Saat itu saya belum sempat mencoba fasilitas BBMnya. Nah, pas di bandara Washington Dulles, saya ketinggalan pesawat. Saya nda tau  harus ngapain. Yang saya miliki hanya BB saya untuk bisa mengontak suami saya lewat sosial media. Saya mengaktifkan kembali Wifi Blackberry saya. Ternyata sebuah SMS dari Telkomsel masuk ke inbox saya. Isinya memberitahukan kerjasama antara Telkomsel dan AT&T sebagai penyedia jaringan di USA. 


Iseng-iseng saya mengupdate status saya di BBM "Lost in USA" lengkap dengan ikon menangis. Teman-teman di BBM pun merespon cepat. Menanyakan apakah saya sudah sampai, mengapa "lost in USA?", sampai ke pertanyaan iseng, disana jam berapa sekarang?".  Berkat Blackberry Curve Gemini akhirnya saya berhasil mengontak suami saya. Berkat saran dari beberapa teman lewat media sosial saya pun memberanikan diri ke customer service untuk penerbangan berikutnya menuju Ohio.

Sudah hampir 7 bulan saya di Amerika dan nomor SimPATI saya masih tetap aktif.  Tiap bulan saya meminta kakak saya mengisikan pulsa. Setiap bulan pun saya memperbaharui layanan BIS BB. Saya memilih layanan Blackberry Sosialita, karena lebih murah. Sekarang pun telah ada layanan untuk memberikan hadiah BIS ke nomor lain. Jadi misalnya ragu pulsanya tidak masuk bisa minta fasilitas GIFT saja. 

Kenapa saya memilih sosialita? Alasan paling utama ya supaya bisa tetap keep in touch dengan teman-teman di BBM dan lebih murah *hehehehe*. Tetap bisa update info sekalipun beda negara. Wifi cukup mudah dijangkau di tempat tinggal saya, jadi untuk streaming dan browsing saya menggunakan fasilitas Wifi.

Beberapa teman terkejut  BBM saya masih aktif meski di luar negeri.  Mereka mengira bakal susah untuk ngontak saya lagi. Saya pun demikian. Thanks to Telkomsel menyediakan banyak kemudahan untuk para pelanggannya. My SimPATI, My Style.(*)
Images

Ara dan Hasta Karya Buatan(Mama)nya

Hasta karya (Mama) Ara
Setiap ke acara khusus anak-anak selalu saja ada kegiatan-kegiatan menarik dan interaktif. Booth khusus anak-anak selalu disediakandalam format interaktif. Mereka menyediakan bahan dan alat. Anak-anak tingal ikutan nimbrung terus jadi deh. Malah boleh di bawa pulang sebagai oleh-oleh. Karena keseringan ke acara seperti itu, maka Ara pun memiliki banyak hasta karya. Sebenarnya Ara nda minat-minat banget ikutan bikin, cuma mamanya aja yang pengen ikutan. Volunteernya pun dengan senang hati membantu tanpa protes kalo bukan Ara yang ikut-ikutan main, tapi mamanya*hahahaha*.

Saat ke acara Science Day di Clippinger Lab Ohio University, Ara membawa pulang mainan botol berisi minyak dan air. Karena minyak dan air tidak bisa menyatu jadinya mereka selalu berusaha berpisah (kasian banget sih dua cairan ini:) #salahfokus). Percobaan ini sering ditemukan pada mainan Kinetic oil/water yang dijual di gramedia seharga 40 ribu. Ternyata cara bikinnya gampang. Cukup air, minyak, dan pewarna. Yang bikin mahal mungkin tempatnya kalinya. Yang dikasi saat Science Day cuma botol biasa sih.

Ada juga percobaan dengan air jeruk. Semacam membuat pesan di kertas putih dan kemudian dipanaskan. Saat panas akan terbaca tulisan yang menggunakan tinta air jeruk. Asyik nih, buat main detektif-detektifan dengan Ara kalo dia sedikit agak besar. Lagi-lagi kertasnya bisa dibawa pulang.

Cowok cakep itu di Nuit Blanche

Saat ke acara Nuit Blanche di Howard Park, semua booth khusus anak-anak menyediakan berbagai aktivitas. Mulai dari mewarnai piring, gambar Cherry blossom, sampai bikin bunga. Saya tertariknya ke booth gambar sakura dan bikin bunga. Ara sih lebih tertarik liatin balon terbang. Berhubungan mamanya tidak punya bakat seni, jadinya gambar cherry blossomnya cukup hancur. Di booth bikin bunga yang menarik sebenarnya volunteernya. Cakep. Mumpung Ara bisa jadi kamuflase maka ikutan nimbrung dan ajak ngomong. Ara nda tertarik sama bulenya, lebih tertarik pada bunga hasta karya mamanya yang lagi-lagi nda jelas itu bunga atau apa.

Hanya satu yang benar-benar asli bikinan Ara. Saat ke perpus Athens dan membuat Button (kalo jaman kuliah dulu saya sebutnya Pin). Ia berhasil mewarnainya sendiri. Saya cuma bantu dia buka-buka spidol. Corat coret adalah keahliannya. No wonder yang satu ini dia sukses tanpa saya
ikutan mewarnai. Motif coretannya cantik.  Tiap liat Button itu, dia pasti mau pasang di bajunya :D.

Luke membantu anak-anak membuat Button/Pin

Ara coret-coret lingkaran yang akan dijadikan motif button

Images

Hang in There....

Ilustrasi (sumber : di sini)
Satu persatu bola-bola kecil ornamen natal yang kupasang di langit-langit kamar jatuh. Tiap pagi pasti kudapati satu atau dua berbaring lesu di tempat tidurku. Plasternya mulai kering. Lemnya tak lagi menempel kuat. Daya rekatnya tak mampu lagi menahan volume bola-bola kecil itu. Mereka jatuh, tak ada pilihan lain. Gravitasi bumi masih saja bekerja. Jika sedikit beruntung, mereka akan jatuh diatas kepalaku. Saya yang kurang beruntung merasakan sakitnya. Tapi setidaknya saya yang kejatuhan bola-bola itu, bukan Ara. Akan buruk ketika ornamen itu jatuh mengenai tubuh Ara yang tidur terlelap. Beratnya tidak seberapa, tapi tetap saja sakit.

Hiasan itu seperti mengetahui kapan harus berpindah. Tak lama lagi saya akan mencabuti plasternya dan menyimpannya dalam kardus. Dengan hati-hati mengepaknya agar tidak pecah. Kami akan segera pindah. Pulang ke rumah. Mereka seakan tahu tak lama akan ikut diangkut. Alih-alih bertahan, mereka memilih melepaskan diri dari langit-langit rendah kamar saya.

Mungkin mereka tak ingin terlanjur suka pada tempat mereka bergantung. Mereka butuh melepas diri. Independen tanpa harus melayang diam dan menggantungkan harapan pada tali yang menopang beratnya. Mereka mungkin butuh lepas dan merdeka. Mereka mungkin tak ingin tetap suka dan enggan untuk beranjak nantinya. Alih-alih tambah cinta, mereka rela lepas agar ketika pergi rindu tak perlu begitu bertumpuk. Mungkin seperti itu...

Hang in there....