Images

berenang atau tenggelam?

aku telah menyelesaikannya. sebuah prestasi yang cukup baik. mengingat telah huampir tiga bluan saya telah merencanakannya. fajar aja bilang "kok masih berkutat pada bab I. itu sudah sejak berbulan-bulan lalu deh".

yaaaahhhhhh..... seperti itulah keadaan bab I-ku. padahal semua teman2ku sebagian besar telah melakukan pembimbingan. bab I meembuatku terseok-seok. sedih rasanya memikirkannya. bahkaan hingga saat ini pun dwi masih belum mengeprintnya dan masih terus dirombak dan makin tak seperti diriku.

ya...hanya itu kemampuanku.dwi bukanlah orang yang begitu cerdas yang kemuadian menghasilkan sebuah karya yang begitu baik. relistis adalah berbuat terbaik di titik dimana kita berpijak. itu menurut andrea hirata. dan setiap orang bisa punya defenisi sendiri. bahkan orang kalah sekalipun yang tak mampu lagi berbuat apa-apa. dan hanya mampu menyerah pada keadaan.

mungkin saat ini aku berada di titik itu. meski dwi blum sampai pada titik menyerah. tapi aku akan berdamai dengan keadaan. terkadang ada target tapi kalo terpakasa harus dilanggar, toh mo diapakan lagi.

aku sudah lelah. mengingatnya membuat sedih. tapi ini begitu menyakitkan. bahkan ketika aku berusaha untuk melupakannya. aku harus terjun. pilihannya "berenang atau tenggelam".
Images

perjuangan itu masih berlanjut

so far so good. itulah komentar yang aku pakai untuk BAB I ku. so far telah ada lima halaman untuk latar belakang. dan so goodnya dwi bingung dengan keragka konseptual dan defenisi operasional.

k yusra juga tak memberi bantuan yang begitu besar. ia cuma sekedar menjelaskan secara permukaan. tanpa benar-benar duduk dan memberi masukan yang begitu signifikan. ah... kakaka jelaskan kodong.

tanggal deadline makin dekat. dan aku tak melakukan progres yang begitu jauh. sebegitu susahkah yang namanya skripsi???? tidak juga mungkin. tadi toh temaku bernama Basri sudah seminar proposal. dan ia hanya mengerjakannya tak kurang seminggu.

aku kah yang menuntut ini nuntut tugas akhir ini begitu bagus??????
yah mungkin.....
namun aku tak ingin meyerah dan berdamai pada keadaan. perjuangan masih terus berlanjut.
Images

goes to field

hari ini ada pelatihan penelitian di elsim. kami sampai terkantuk-kantuk membahas kuesioner yang ada. besok kami akan turun ke lapangan. menjelajahi kecamatan makassar. ini kali kedua dwi jadi enumerator. pengalaman kemarin, dwi berkali-kali ditolak responden.

badanku meulai lemas rasanya. kemarin siang berpanas-panas dan malamnya kehujanan. semoga dwi tetap sehat hingga survey ini berakhir.

semoga besok bisa lebih mudah. kalo susah. semoga Tuhan mempermudah. amien

semangat!!!!
Images

aku menulis ini untukmu (sebuah obituari untuk pak Mansyur)

Pak mansyur. Begitu kami menyapanya. Beliau Salah satu dosen di jurusan ilmu komunikasi unhas yang begitu akrab dengan mahasiswa. Tubuh tinggi tegap.bahkan terkesan tegas. Kaca mata hitam selalu bertengger di wajahnya. Tongkat penuntun jalannya tak pernah lepas. Mata beliau tak berfungsi total sejak tahun 2001.

Saya adalah salah satu dari banyak mahasiswa yang begitu dekat dengan beliau.
Pertama aku mengenal beliau ketika aku baru mengenal dunia mahasiswa, kampus,dan dunia literatur. Saat itu aku belumlah cukup setahun mengecap rasa menjadi mahasiswa. Beliau memintaku menuliskankan opininya untuk sebuah koran local.

Ia mendiktekan tiap kalimat yang ada dalam benaknya. Saya pun menulisnya di atas kertas putih. Terkadang pula harus mencoret banyak kalimat yang telah didiktekan ketika ada ide kalimat lain yang lebih cemerlang hadir di benaknya. Saat itu saya tak berani menanyakan kenapa beliau bisa buta. Namun, ia pun menuturkan bahwa kebutaan yang dialaminya disebabkan oleh malpraktek. beliau tak pernah berhenti untuk berharap jika suatu saat nanti ia mampu melihat lagi. Beliau selau berkata kepadaku “dwi, kalau nanti saya bisa melihat lagi. Kamu jangan berbicara dulu. Biarkan saya menebak dirimu yang mana”.Beliau hanya mampu membedakan para mahasiswanya berdasarkan suara. Ketika kuliah beliau mengabsen kami dengan menyuruh kami menyebut nama-nama kami.

Tiap hari ketika saya sedang tidak kuliah beliau selalu meminta untuk ditemani menulis. Terkadang kami berdiskusi tentang tema tulisan yang akan diangkatnya. Saya pun selalu mengeluarkan beberapa kalimat kalau beliau bertanya “bagusnya disambung bagaimana ya?”.

Tiap minggu ada saja ide yang ingin beliau tulis. Entah itu masalah politik, media, atau pun pendidikan. Jika tak sedang menulis, beliau kadang memintaku untuk membaca koran. Membacakan headline berita. Serta editorial dan opini Koran tersebut.

Beliau selau dekat dengan mahasiswa. Terkadang kami curhat ke beliau layaknya curhat kepada seorang teman. Beliau pun terkadang meminta masukan dari kami. Entah itu dari gaya berpakaiannya atau pun rambutnya yang telah memanjang. Beliau pun teman diskusi yang baik. Dari jurnalistik, agama, hingga BHP, beliau selalu mampu menjadi partner diskusi yang berkompeten. Beliau selalu menyempatkan diri untuk datang di setiap undang pemateri dari organisasi manapun. Entah itu mahasiswa, media, atau seminar. Tak peduli dari organisasi yang sangat sosialis sekalipun hingga organisasi yang sangat religius.

Beberapa bulan yang lalu aku masih sempat menemaninya untuk menulis opini lagi. Kali ini tak lagi dengan kertas buram dan sebuah polpen. Sebuah computer yang berada tepat di belakang pintu aula Prof. A.S.Achmad di jurusan komunikasi telah bisa ia gunakan untuk menulis. Meski itu masih harus menggunakan tenaga orang lain untuk menulis. Computer itu pulalah yang dia pakai untuk mengerjakan disertasinya dibantu oleh beberapa orang mahasiswa hingga ia berhasil mencapai gelar doktoralnya di tahun 2003. Beliau selau berkata padaku “ Aku selalu senang untuk menulis opini dan artikel. Tapi akhir-akhir ini aku tak kuat lagi. Sudah jarang anak-anak (mahasiswa) yang mau membantuku untuk menulis”.

Bapak sudah mulai sakit-sakitan beberapa bulan lalu. Namun masih sempat juga ia mengajar kami di mata kuliah filasafat komunikasi semester lalu. Terakhir aku melihatnya ketika bapak muntah di depan jurusan komunikasi selasa (26 februari) lalu. Tubuhnya begitu lemas. Sorot hidup di wajahnya begitu muram. Rambut putih di kepala tampak begitu banyak. Ia terlihat sangat tua. Aku sempat menanyainya “ Pak, kenapa?”. Tapi bapak hanya muntah-muntah.

Hari ini aku mendapatkan kabar kematian beliau. Setelah senin siang (3 maret 08) dirawat di ruang ICU rumah sakit pelamonia dan kemudian di rujuk ke rumah sakit labuang baji pada pukul 17.30 sore itu beliau tak sanggup lagi untuk bertahan. Penyakit yang dideritanya mengharuskan beliau untuk cuci darah. Pukul 4.10 selasa pagi, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku akrab dengan sosok bapak mansyur semma. Ia mengajarkanku dunia menulis. Padanya aku mengenal dunia jurnalistik. Ia sosok yang tegas. Teguh pendirian. Ia selalu menjadi teman untuk berdebat. Beliau selalu berpendapat bahwa ilmu haruslah di bagi dengan siapa saja, tanpa diskriminatif. . Beliau selalu menyenangi mahasiswa yang memperjuangkan nasib orang lemah. Di tengah keterbatasannya ia mengajari kami untuk terus berjuang Aku menemaninya hingga di kuburan. Ditemani keluarga, semua rekan sejawat beliau. Mahasiswa-mahasiswa yang selalu menjadikan beliau panutan. “pak , selamat jalan”bisikku lirih.


(kutulis ini untukmu sebagai tanda berkabung.
terima kasih untuk selalu mengajarkan semangat untuk terus berjuang dalam keterbatasan. terus bermimpi dalam ketaksempurnaan)

Images

Aku telah memulai…..

Aku telah memulai…..setengah halaman. Spasi satu. Tapi, aku berada di titik stuck at the moment. Aku tak tahu lagi untuk menulis. Padahal ada kerangka yang telah aku susun. Tapi susah rasanya untuk meneruskan. Apakah ini yang begitu menyulitkan dari skripsi.


Entahlah….Aku letih.seakan ada sesuatu yang begitu berat di pundakku yang bertumpuk. Butuh kanalisasi untuk meringankan sedikit beban. Tapi, dwi tak tahu harus bagaimana. Rasanya tak tepat. Aku tak berdaya. Aku lelah. Dan aku belum melakukan apa-apa.

Images

caslte no.1

"juara 1 castle"
sender 085242260xxx
pesan singkat itu masuk di handphoneku. ryan yang mengirimnya. memberi kabar kalo mereka berhasil menjadi pemenang di pertandingan PS2 di acara Fakultas Ekonomi.
sebuah hasil yang lumayanlah. setidaknya mereka bisa membuktikan diri mereka sebagai orang yang jago PS2. tak sia-sia tiap malam mereka begadang hingga pagi hanya untuk bermain PS2.

mereka adalah PSMania. berteriak memecah keheningan malam saat bola yang tim mereka giring membobol gawang lawan. atau mengumpat kasar ketika mereka kebobolan atau kalah telak. terkadang pula harus membayar lebih untuk PS2 yang dikembalikan telat dari masa perjanjian karena ketiduran habis pertandingan semalam.

ternyata mereka juga bisa bangga pada bakatnya
SELAMAT YA....(pesta gorengan di tunggu)