Images

selamat lebaran, Ma....


Malam takbiran pertama tanpa mama. Tak ada yang begitu beda, hanya saja ia tak ada di sini dan membuatkan kami burasa dan ayam nasu likku. Semua tugas memasak yang selalu ia kerjakan dilakukan oleh kami bertiga, saya; Kak Ipah; Etta. Kakak anti datang belakangan saat semua makanan telah dimasak.

Bertiga kami berusaha menerka bagaimana burasa sesungguhnya di masak. Aku pun kemudian menyadari bahwa ternyata \Etta pintar masak. Dengan bantuannyalah kami berhasil membuat burasa dari seliter beras yang menghasilkan 9 ikat burasa. Sebuah jumlah yang sangat kecil. Namun, saya dan kak ipah selalu percaya bahwa itu juga takkan kami habiskan. Tapi Etta kemudian menyela “seperti burasa tao manang (orang yang tinggal sendirian tanpa anak dan suami/istri)”.

Beberapa alasan yang menyebabkan kami hanya membuat seliter saja. Biasanya ketika hari kedua lebaran, kami tak lagi tertarik dengan burasa dan ayam. Biasanya mamalah yang menghabiskan, bukan karena suka, tapi mama tipe orang yang selalu menghargai makanan. Tiap biji nasi sangat berarti baginya. Ia pernah merasakan masa paceklik yang begitu hebat sampai batang pohon pisang dibuat makanan. Ia pun tahu betapa susahnya memroses sebuah benih padi hingga menjadi nasi sepiring di atas meja. Nasi tak hanya sekedar dar beras yang kita maak, tapi perjalanannya lebih lama dari yang selalu kita pikirkan.

Kali ini pun kami harus belajar memasak ayam. Tradisi di Bone saat lebaran adalah ayam dengan masakan berbumbu lengkuas biasa disebut nasu likku. Tapi kali ini berhubung karena kami tak pernah belajar pada mama, kami hanya membuat kari ayam. Itu pun dengan kursus jarak jauh melalui layanan short message service untuk resep dan cara membuat yang dilakukan kak ipah dengan mertuanya.

Dan pada akhirnya, kami tak menemukan rasa yang sama pada masakan yang telah dibuat dengan bayangan kami akan kari ayam. Kami pun harus membandingkan dengan masakan yang kami maksud kari dengan masakan kari tetangga yang dikirim ke rumah. Namun, kenapa begitu beda??? Dari penampakan, rasa, dan banyak lagi semua beda.

Aku pun kemudian berpikir, mungkin yang dibuat kak ipah adalah kari dan yang buat tetangga adalah opor ayam. Aku pun langsung membayangkan rasa mie instant kari ayam yang rasanys mirip dengan yang kami buat. Yah… mungkin seperti itu…..


Pelajaran moral yang didapat, belajar masak sebelum mama mu meninggal…

Besok lebaran….tak ada mama tak ada yang menemaniku ke mesjid dan mencari tempat untuk sholat. Mama selalu lincah untuk hal-hal seprti ini, yah…mungkin aku harus nebeng saja sama puang aji, atau pilihan lain tak usah ikut sholat IED….hmmmmm


Selamat lebaran Ma…kami masih tetap merindukanmu…

Maaf lahir batin Ma…untuk semua tingkah nakal kami….


Kami terpaksa harus belajar masak…..dan ini berhasil (apakah ini bagian dari rencanamu juga???hehehehe)

Aku merindukanmu Ma...


(rumah, 23.51 wita, 30 september 08)
Images

aku kembali bermimpi


Hari ini nonton Laskar Pelangi bareng Etta dan Kak Ipah. Senang sekali rasanya, akhirnya film ini bisa juga aku tonton tanpa merasa begitu ketinggalan dengan teman-teman yang telah menonton sehari kemarin.

Awalnya aku agak bingung menonton film ini. Alur buku masih juga menjadi panduanku dalam menonton film ini. Tapi lama kelamaan aku mulai mampu menontonnya sebagai film tanpa harus dib
ayang-bayangi oleh cerita bukunya. Ceritanya buku dan film sedikit berbeda. Ada penambahan beberapa tokoh dan juga beberapa kisah yang berbeda. Namun, film ini tampaknya berusaha mendekatkan cerita Laskar Pelangi ke realitas dibanding dengan membaca bukunya yang begitu penuh dramatisasi.

Aku menyukai bagian ketika A ling bertemu dengan Ikal di rumah A kiong. Ia terlihat begitu cantik. adegan paling dramatisir menurutk
u adalah efek-efek yang diberikan oleh Riri Riza saat kuku -kuku A ling keluar dan memberikan sekotak kapur pada Ikal. Juga pada saat Ikal sakit hati ditinggal A ling. Efek barang-barang jatuh sangatlah aneh dan terlalu kasar menurutku. bagian yang tak ada namun begitu ingin aku lihat adalah ketika mereka berlayar ke pulau. Ingin rasanya melihat bagaimana mereka berlayar menerjang ombak dan melihat flow yang begitu kuat di saat teman-teman mabuk laut akibat badai. kalo Kak Ipah sendiri ingin adegan ketika A ling memberikan buku Edensor pada Ikal. namun, itu juga tidak ada.


Film ini cukup menghibur dengan lelucon-lelucon yang da di tiap scenenya. Scene yang membuatku menangis ketika Lintang harus meninggalkan sekolah. Berpamitan pada teman-teman dan Ikal mengejarnya. Begitu menyentuh.

Ketika Lintang terus menyemangati teman-temannya untuk terus bersekolah dan bermimpi, aku pun kembali tersadar akan kekuatan mimpi. Meski kadang tak bisa diraih, tapi kita telah berusaha untuk itu. Film ini membuatku kembali untuk bemimpi untuk semua hal. Bukankah mimpi adalah sesuatu yang begitu indah yang selalu membuat kita untuk terus bertahan?????
Images

Istana, Kotak ajaib-mesin waktuku



Aku punya kotak ajaib. Sebuah kotak sepatu yang kubungkus dengan kertas kado. Tempat aku menyimpan barang-barang berharga milikku. Ia tak berisi emas, tak berisi berlian, tak berisi uang, atau bahkan surat-surat tanah milik Ettaku.

Kotak itu berisi sebuah surat cinta yang kudapat dari seorang teman SMP yang dulu begitu aku suka. Kumpulan kertas ulangan waktu sekolah dulu.dengan nilai beragam. Mulai dari nilai sepuluh hingga angka tiga. Buku raport dari SD hingga SMP. Surat pertama yang kudapat lewat pos. Sebuah jam tangan Oreo yang kudapat dari hadiah 1000 pengirim pertama undian oreo. Dan sebuah surat perjanjian pra nikah antara Mama dan Ettaku. Dan satu lagi, tiga buku diary berkunci yang gemboknya telah kurusak agar aku mampu membaca apa yang kutulis waktu itu. Kunci-kunci diary itu entah dimana sekarang… Unik kan…..????

Kotak itu akan aku wariskan buat anak-anakku suatu saat nanti….romantis bukan?

Selain kotak, aku juga punya mesin waktu. Sebuah meja yang berlaci. Seperti pada kartun Doraemon, dimana Doraemon punya mesin waktu melalui laci meja belajar Nobita. Yah..kalo dibilang seperti itu gambarannya. Tapi laci meja belajarku tidaklah mungkin bisa dimasuki dan kemudian membawamu ke tempat-tempat yang ingin kamu kelanai. Yang pastinya ia tak bisa membawamu ke zaman dinosaurus. Tidak bisa membawa ke abad 22. Dan yang pastinya, mesin waktu ini hanya aku yang mampu memakainya….hehehe…

Aku menjenguknya tadi. Meja itu akan dipakai Kak Ipah untuk praktek dokternya. Tempat prakteknya sudah jadi, namun peralatan-peralatan dan meja obatnya belum dibereskan. Meja itu menjadi prabot pertama selain tempat tidur kayu untuk pasiennya.

Dia terdiam di situ. Masih dalam bisu. Mungkin menunggu kisah yang akan direkamnya lagi.

Ia pernah menempati istana terbaik yang pernah kumiliki. Istana terindah yang pernah aku punyai. Sebuah ruang berukuran 2 x 3 meter di rumah panggungku. Tempat penuh dengan buku, poster, mimpi, dan semua khayalanku. Ruang itu sangat sederhana. Tampak sesak malah. Ada tempat besi, rak buku tempat komik, novel, majalah, tabloid, dan boneka-bonekaku. Dan tak lupa meja itu.

Tapi biarkan aku menceritakan istanaku dulu. Dari segi dekorasi tak begitu baik. Layaknya kamar di rumah kampung, ya begitu saja. Tak ada yang begitu istimewa. Warnanya coklat triplex. Ada gantungan pintu yang gemerincing di bagian tengah kamar itu. Tepat di gantungan lampunya. Selain itu ada tweety juga tergantung. Entah ia dianggap sebagai peri kamar atau papan pengumuman. Karena dibelakang hiasan tweety itu, ada pengumuman dari ratu istana itu.

Tak di cat hanya dipenuhi dengan banyak wajah. Populasi instanaku sangat banyak. Pernah aku mencoba mensensusnya lebih dari 100 orang. Termasuk poster-poster yang terpasang memenuhi hampir semua inci dari kamar itu. Jika langit-langit kamar bisa ditempeli poster, pastinya juga takkan terlewatkan dengan asumsi ketika terbangun bisa melihat wajah segar. Tapi tidak terjadi.

Terus terang kamar itu merupakan legacy dari kakak-kakakku. Kamar itu selalu menjadi penanda kedewasaan bagi kami. Setiap orang yang berpindah ke kamar itu, berarti ia telah mandiri. Karena kami tinggal di kampung dan untuk kuliah harus tinggal di kota, sehingga setiap yang kuliah harus numpang di rumah keluar atau nge-kos di kota. Secara otomatis anggota keluarga di rumahku akan berkurang, dan perpindahan kamar pun terjadi.

Awalnya kamar itu ditempati kakak tertuaku, Anti. Pada zamannya, kamar itu tidak begitu dipenuhi oleh poster. Variasi poster pun begitu berbeda. Saat Kak Anti menjadi penguasa di kamar itu, poster-poster yang terpasang adalah poster Tommy Page, Nike Ardilla, Paramita Rusady dan Ongki Alexander, Ryan Hidayat dan juga poster dirinya.

Yah…poster dirinya, di zamannya ada fasiltas untuk membuat foto menjadi poster satu warna. Merah, biru atau kuning. Yah…kakka tertuaku memang hidup di zaman belum ada Mtv. Selera musiknya pun saat itu paling keren White Lion. Sejaman sih. Kalo dari musik Indonesia, ya…dangdut dan lagu Nike Ardilla. Anggaplah zaman kakak tertuaku ini masih zaman peradaban pertengahan. Kalo bukan ice age.

Setelah Kakak Anti pergi, kamar itu resmi dimiliki oleh kakak keduaku, Ipah. Di tangannya kamar ini berubah. Ada tape yang biasa ia gunakan untuk konser, deretan kaset-kaset pita, mulai dari Kahitna, Fatur Rahman, Protonema, Boyzone, Firehouse, Vertical Horizon hingga Bon Jovi. Tak ketinggalan BACKSTREET BOYS (Princes Charming dalam imaji kami berdua).

Dekorasi kamar pun berubah. Semua inci di pasangi oleh 5 wajah yang sama. Backstreet Boys. Kalo semua gambar itu dihitung perkepala, wajar saja populasi kamar begitu banyak. Zamannya telah ada Mtv. Tontonan kami malah MTV Singapura yang sinyalnya lewat parabola. Generasi 96-an. Dia juga yang kemudian membuatku menyukai Boybands.

Majalah-majalah remaja yang kami baca pun bukan lagi Aneka yess yang selalu menghadirkan berita dalam negeri saja. Kawanku dan Anita menjadi dua majalah pamungkas untuk mencari segala sesuatu tentang Backstreet Boys dan Boybands. Aliran musiknyalah yang kuikuti, pop dan musik 90-an.

Ia pulalah yang menggantung hiasan tweety dan membuat kebijakan di “kerajaan”itu. Jadi sebenarnya dialah ratu yang meletakkan pondasi wilayah territory di kamar itu.

Terkadang ketika kami bercerita kembali, Kak Ipah selalu mengatakan “liat apa yang saya wariskan ke kamu. Selera musik yang lumayan, dan juga selera buku yang lumayan. Kalo kak Anti hanya mewariskan lagu dangdut padaku”.

Aku dan kak Ipah begitu dekat, mungkin karena usia kami tidak terlampau jauh. Karena itulah kadang aku hidup dibawah pengaruhnya. Hahahaha

Ketika dia kuliah, otomatis kamar itu menjadi milikku. Awalnya aku membuatnya begitu apa adanya. Dengan puluhan gambar Backstreet Boys menggantung. Tapi kemudian aku mengubahnya. Semua poster itu kucabuti. Dan ku cat dia dengan warna biru langit. Dan sebuah ide konyol untuk menggambari awan di beberapa tempat. Jadi idenya seperti hidup di langit. Tapi kadang imaji tak seperti realitas, dan akhirnya awannya tampak aneh. Tapi saat itu aku sangat puas. Aku kurang tahu sejak kapan kamar itu ku tempati. Kelas satu SMP, mungkin..

Yang aku tahu, di kamar itulah aku banyak menyulam mimpi-mimpiku.seperti kakak-kakakku yang lain, kamar itu menjadi tempat berkhayal, bermimpi, dan belajar hingga larut malam. Tempat yang paling indah untuk malas-malasan dan berpura-pura tidak mendengar panggilan Mama.hehehehe

Kamar itu dan segala isinya telah merekam semua mimpi-mimpi kami. Mimpi-mimpi masa remaja kami. Aku yakin tak hanya aku yang bermimpi, tapi semua kakak-kakakku.

Dan meja itu, meja yang menjadi saksi bisu untuk tiap laku kami diatasnya. Ketika kami sedang belajar, membalas surat cinta, atau curhat di diary. Aku selalu merasa nyaman di atasnya. Aku pernah melist mimpi-mimpiku di situ.

Dan ya..laci itu, ku coba untuk membukanya tadi. Masih ada sisa-sisa kenanganku di sana. Beberapa gambar Backstreet Boys, F4, berlembar-lembar tulisan yang merekam hari-hariku di kelas dua SMA. Aku menggunakan mesin waktu. Ku baca tiap lembarannya. Membuatku tertawa dan kadang terharu. Beberapa istilah yang kubuat sendiri tak mampu lagi aku pahami. Beberapa kenangan bahkan sudah begitu samar.

Surat-surat dari teman sekelas, saat aku tidak ke sekolah yang selalu mengatakan “kelas sunyi tanpa dirimu yang selalu ribut dan berteriak”. Ternyata bad habbit itu telah lama aku idap, dan ironisnya Etta baru tahu kalo aku begitu ribut ketika memetik buah pepaya malam lalu. (kita mungkin harus sering sama-sama, etta.).

Aku seperti melihat kembali Dwi yang enerjik, selalu optimis, punya banyak mimpi, begitu aktif, dan menyenangi tiap pekerjaannya. Ada cerita-cerita d imana aku membuat mading, menulis cerpen, dan membuat proyek pribadi. Begitu indah saat itu.

Namun, itu kemudian membuatku melihat nanar saat ini. Tak kutemu lagi Dwi yang begitu energik, selalu optimis, dan mampu menyelesaikan semua masalah. Yang kudapati sekarang adalah diriku yang telah menua dan tak mampu mewujudkan mimpiku. Yang sadar dengan ketakmampuannya. Padahal aku pernah bermimpi di usiaku yang sekarang aku telah menemukan jalan hidup. Ironisnya, aku pun mulai takut untuk bermimpi. Kenyataan begitu berbeda dengan imaji.

Itu pun yang dirasakan Kak Ipah “apalah lagi yang hendak dimimpikan oleh ibu beranak satu” katanya suatu waktu.

Dan aku pun merasakan hal yang sama. Aku kemudian berusaha realistis, menyelesaikan tugas akhir sebagai suatu beban. Dulunya, aku melalui tiap ujianku dengan sebuah mimpi di ujung sana. Aku selalu menganggapnya seperti sebuah titian yang harus dijalani dan di seberang sana akan ada pangeran yang menunggumu. Dan aku kuat dengan mimpi itu. Tapi itu semua hanyalah semu. Telah banyak titian, dan pangeran itu tak kunjung datang menemaniku untuk menggapai mimpi. Tugas akhir kemudian menadi beban yang beigtu berat. Seperti harus memakan tepung beras disaat tenggorokanmu sedang haus dan sakit. Begitu menyesakkan.

Setiap orang memintaku untuk selesai untuk bisa menghadapi realitas. Dan pada akhirnya aku harus tunduk pada realitas. Aku kalah. Mungkin bermimpi bukanlah sebuah jalan. Meski Kugi mengatakan teruslah bermimpi, dan Aria pun mengatakan untuk juga tetap bermimpi karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.namun itu tak juga bisa membuatku terlepas dari beban ini.

Semua telah berubah, aku bukan lagi gadis remaja yang bebas bermain di alam fantasi. Bermimpi bisa bertemu dengan pangeran William, mewawancarai nick carter, memiliki perusahan majalah sendiri. Entahlah, waktu terasa makin menyempit, dan aku harus terbangun untuk menyadari bahwa mimpi itu hanyalah sebuah imaji indah. Sadar bahwa tangan dan kakiku hanya mampu membuatku berjalan sejauh ini. Mereka bukanlah sayap yang mampu menderbangkanku lebih tinggi.

Semua telah berubah. Kamar itu kini tak ada, meja itu tak lagi untuk merekam mimpi-mimpiku. Lacinya sudah harus di benahi untuk praktek kak ipah. Aku hanya punya sebuah kardus bekas tempat sepatu yang mungkin akan sesekali membuatku merasa remaja.

Semua memintaku untuk selesai. Alasannya sudah terlalu lama kuliah apalagi yang kamu tunggu. Sudah harus bekerja. Sudah saatnya menikah. Dan banyak lagi hal-hal yang lain….

Aku rindu dwi yang energik, selalu melakukan hal-hal kecil yang menggembirakan dan mampu memuaskan dirinya…..(*)

Aku menulis refleksi ini sambil mendengar lagu Backstreet Boys…ternyata aku telah begitu tua untuk menikmati lagunya…..
Images

refleksi pada perahu kertas


Kumulai membaca jurnal berbahasa Inggris itu. Mulai mengartikannya dalam benakku dan ku sinkronkan dengan bunyi tekan jemariku di tust-tust komputerku. 5 menit….10 menit….aku mulai putus asa…15 menit…aaaahhhhhhh….

“Aku malas mengerjakan skripsi.Tahun depan saja selesainya” kalimat itu telah berhasil kutulis di layer handphoneku. Tidak lebih dari 20 detik. Ku kirim ke nomor pertama yang muncul di layer handphoneku.
Rasanya begitu lelah. Mataku sembab. Semua orang memintaku untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini, tapi mereka tidak tahu beratnya. Menyelaraskan apa yang aku pikirkan dengan apa yang ingin hatiku lakukan. Ah…persetan dengan semua. Kututup file skripsiku. Aku malas mengerjakannya. Biarlah aku tak usah selesai dulu. Toh, dampaknya juga bukan pada mereka. Ini konsekuensi yang ingin aku terima. Just let it flow….

Ku buka PDF buku terbaru dari Dee. Mungkin ini bias membuatku sedikit lebih bahagia, pikirku. 10 lembar pertama kisahnya yang kubaca dua malam lalu telah mengikatku. Dan kali ini aku ingin tenggelam di dalamnya. Dee selalu menjadi penulis yang aku kagumi. Cara ia merangkai kata begitu indah, mengalir, dan mampu membuatku merasa ikut dalam alur cerita.
Bukunya kali ini berjudul “perahu kertas”.

Berbeda dengan supernova yang begitu berat, kali ini dee menyajikannya begitu remaja. Tapi, gaya menulis khas dirinya tak lepas sehingga tidak membuatnya menjadi sebuah novel chiklit remaja.
Kugi, Keenan, Noni, dan Eko menjadi tokoh sentral dalam novel ini. Mereka berteman dari kecil hingga berbagai permasalahan menjadi kompleks seiring usia mereka.

Membaca buku ini seperti mengingatkanku pada sosok diriku dan sedikit kisah yang hamper sama.
Kugi menjadi tokoh favoritku, dalam bayanganku selama membaca novel ini, ia adalah perempuan kecil yang agak tomboy. Aku selalu membayangkan sosok Eun-chan dalam serial coffe prince untuk mengilustrasikan Kugi dalam benakku. Untuk Keenan sendiri, aku tak punya banyangan khusus. Tapi yang pastinya ia indo dengan tinggi sekitar 170 cm. ia pokoknya, tampan untuk ukuran novel. Aku seperti menonton serial korea selama membaca buku ini.

Klimaks dan cara bertutur dee lumayan mampu membuatku membayangkan tiap scene-nya. Lelucon-lelucon dalam percakapannya begitu ringan. Mungkin orang yang membacanya akan melihat sosok Dee yang lain yang berbeda dengan sosok Dee yang ada di Supernova.
Tapi ada sesuatu yang mengikatku akan cerita ini.

Setting tempat, cerita cinta yang tak terkatakan, penemuan pasangan yang kemudian menggenapi hati, sebuah karya bersama, dan mimpi kanak-kanak…mengingatkanku pada sesuatu. Pada sebuah kisah yang pernah kulakoni.
Bedanya, aku tak begitu menyakiti hingga semua memutar balik hidup 180 derajat.

Aku jujur dan berada di titik bahwa ini hanyalah imaji yang sesekali akan kami tengok. Ketika sesuatu yang nyata membuat sedih. Saling berbagi…dan begitu bahagia di sana di teras imaji….


“kenangan hanya akan menjadi hantu di sudut piker jika kita tidak bergerak untuk membuatnya

nyata”…
Sepertinya aku menemukan kembali jiwa untuk terus membuatnya nyata……

(buat dee : buku ini akan menjadi koleksi di perpustakaanku)
Images

mau nonton laskar pelangi

Lascar pelangi….

Aku baru menyadari bahwa diriku adalah sosok yang ambisius dalam hal-hal konkret yang mampu aku lihat hasilnya secara cepat. Namun untuk hal-hal abstrak, aku masih belum mampu membuat diriku seoptimis ketika aku mengejar hal-hal yang bersifat material.

Seperti film lascar pelangi ini. 130 km jarak bone-makassar, namun aku tetap berencana untuk menontonnya. Meski itu harus memohon pada Etta untuk pulang agak belakangan ke bone hanya untuk menyisihkan waktu 2 jam untuk menonton film ini.

Aku juga ingin menjadi satu dari list orang-orang yang menunggu film ini. Begitu banyak adegan yang kudapati di novel ingin aku saksikan dalam filmnya. Meski aku tahu, tak semua lembaran buku akan diterjemahkan dalam bahasa novel. Tapi biarlah aku menikmati film lascar pelangi sebagai film.

Tapi untuk menikmatinya, aku harus terlambat sehari…

Ya…sudahlah..tidak apa-apa….

Images

mama adalah perempuan terkuat di dunia

Kudapati telapak tanganku kian kasar. Kulit-kulit tebal dan kering mulai tumbuh di telapak tangan kiri yang selalu ak gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah. Kakiku pun begitu lelah untuk terus berdiri dan melakukan banyak aktivitas.


Seperti inikah menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku baru dua bulan melakoninya. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan merawat ponakan. Ternyata begitu berat menjadi seorang ibu. Seperti inikah yang mama rasakan selama 30 tahun pernikahannya?


Menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, sahabat belum termasuk profesi beliau sebagai seorang guru yang juga harus menyisihkan 8 jam waktunya tiap hari untuk ke sekolah dan mengajar serta mendidik para murid-muridnya.

Belum lagi ketika harus menemani etta ke kebun atau memelihara kebun sayur depan rumah. Ia begitu hebat. Mungkin tangan akan begitu kasar, kaki begitu lelah untuk berjalan, tapi semua terkalahkan oleh cinta. Ia memiliki cinta yang tulus pada keluarga.


21 tahun aku bersamanya, tapi sepertinya aku hanya mengenalnya di permukaan. Makin aku melakoni tugas rumah tangga ini, makin aku menyadari cintanya terlalu dalam. Tak pernah terhenti tercurahkan…..


Mamaku adalah perempuan terhebat di dunia…!!!!!!!

Images

Ketika aku mengingat mama


Hari ini ramadhan ke-20. kakak ipah berinisiatif untuk membuat kue. Kue khas yang selalu menjadi favorit kami bersaudara. Kue coklat dengan kaca mete. Kami lumayan punya banyak kacang mete. Maklum setiap seseorang dari sulawesi tenggara, oleh-oleh ini yang selalu aku minta. Terakhir aku meminta kacang mete mentah pada debra. Dan kemarin kak yusran pun membawakan 2 kg. (cukup untuk modal awal untuk buat toko kue).

Kue lebaran selalu menjadi tradisi kami sekeluarga. Sejak kecil mama selalu membuat kue kering untuk lebaran. aku selalu menyenangi kuenya, apalagi kue coklatnya. Tapi terkadang mama membuatnya begitu banyak. Bertoples-toples, yang kadang kami tak mampu menghabiskannya hingga lebaran haji. Waktu aku kecil mama selalu membuat kue di ramadhan ke-25. Biasanya dibantu oleh sepupu dan tanteku. namun, ketika aku sudah mulai pandai mencampur semua bahannya, mama tak lagi meminta sepupuku datang jauh-jauh dari pattiro untuk membuatku.
Bertiga kami bersaudara membantu mama membuat kue lebaran. Itu waktu kak anti masih belum kuliah. Namun sejak kak anti dan kak ipah kuliah, otomatis tugas membuatku itu menjadi kewajibanku.

Mama paling tahu kalo aku adalah anaknya yang paling menyenangi mencampur mentega, gula, dengan segala macam bahan kue dan hiasannya.
Karena itu bahkan hingga aku duduk di bangku kuliah dan hidup pisah dengannya, tiap minggu terakhir ramadhan ia selalu menanyakan kapan aku akan pulang dan membuat kue. Dia akan bertanya bahan-bahan apa yang aku butuhkan. Biasanya aku cuek-cuek saja. Terserah, toh kue yang akan dibuat hanyalah kue mentega.

Hari ini, 20 ramadhan. Kami telah membuat kue. Kami takut di akhir ramadhan banyak hal yang harus kami lakukan, semisalnya membuat ayam nasu likku, masakan ini sangat khas untuk lebaran di kampungku. Dan juga membuat burasa, beras yang dimasak dengan santan dan dibungkus dengan daun pisang. Dan untuk kali ini, kami, khususnya aku dan kak ipah haurs belajar untuk membuatnya. 21 moment ramadhan yang kulalui bersama mama, tapi tak juga membuatku sadar untuk belajar memasak darinya.


Kue yang kami buat adalah kue coklat mente. Kue ini jarang kami buat untuk lebaran. Baru akhir-akhir ini. Maklum, kami juga baru sempat belajar pada ibu mertuanya kak ipah. Tapi kue ini pernah aku buat bersama mama. Dulunya mente yang dicincang kasar mama yang sangria. Pernah suatu kali aku yang mengsangrainya, tapi karena tidak sabaran, kacang mete itu tidak benar-benar matang. Mama lagi yang harus turun tangan untuk kembali menggorengnya.


Tapi kali ini, aku sendiri yang melakukannya. Dan tak perlu kawatir, ma. Aku sudah tahu sekarang bagaimana mente itu betul-betul matang. Untuk mencampur semua adonan biasanya mama juga yang harus turun tangan untuk mengaduknya hingga ress. Kekuatan tangannya tak tertandingi oleh kekuatan tangan kami, anaknya.
Saat terkhir aku membuat kue itu bersama mama aku smepat bilang “tidak perlu mixer, ada mama mixer”. Aku tak menyangka itu saat terakhir aku membuat kue bersamanya.

Tadi aku harus membuat kue sendirian. Kevin, ponakanku sedang demam. Jadi sedikit rewel. Kak ipah tentu aja tak bisa membantuku. Jadinya dua adonan yang sudah tercampur di baskom terpaksa aku lanjutkan sendiri. Untungnya tak perlu mengaduknya dengan kekuatan seperti tangan mama. Mixer telah menggantikanmu, mama.hehehehe
Tapi aku tetap mengingatmu.

Aku pun telah berhasil memanggang kue. Bagian dari membuat kue yang paling tak ingin aku lakukan. Kamu tahu kan, Ma.
Namun tadi aku berhasil memanggangnya hingga loyan terakhir. Dan berhasil membuat 3 setengah toples kue. Bukankah anakmu ini telah hebat membuat kue sendiri, Ma. Seperti yang selalu kamu bilang “aku tidak pernah mau membeli kue atau memesannya, karena aku punya anak perempuan yang harus diajari membuat kue”. Sepertinya rencanamu berhasil, Ma.

Tapi aku kini merindukan membuat kue dengan caramu, Ma.memakai takaran gelas. 1 gelas mentega, 1 gelas gula, dan 2 but telur. Bukankah seperti itu yang selalu kamu ajarkan?


Aku rindu membuatnya bersamamu…apakah di sana, kamu pun harus membuat kue lebaran Ma?????

Ma, hari ini puang aji buat acara buka puasa. Entah harus bersama siapa nantinya di sana. Dulunya kan aku selalu bersama dirimu. Atau terkadang tak harus ke rumahnya puang aji untuk makan ayam. Karena kamu akan selalu membawakannya untukku, membawanya ke rumah. Hehehehehe.
Aku dan kak ipah juga tidak ke sana sekadar membantu atau setor muka. Trus tiba-tiba muncul saat berbuka puasa???? mmm….. mungkin kami memilih untuk tak ke sana berbuka. Seperti yang sering kami lakukan dulu saat kamu masih ada Ma. Kami belum berubah. Masih anak yang bandel.

Etta sampai mengeluh harus menggantikanmu mengerjakan tugas-tugas untuk meminjam peralatan makan di mesjid. Etta kayaknya begitu kelelahan.

Kami begitu merindukanmu Ma…….
Images

"pulang ke rumah"

Sebuah rasa arkais kembali memantikku.menyapaku lembut dan begitu indah. Rasa yang Tuhan miliki dan Ia gunakan untuk menciptakan dunia. Rasa yang telah ada jauh sebelum manusia diciptakan. Rasa yang tumbuh tanpa memilih dan memilah tiap hati yang disinggahinya.

Rasa ini seperti cinta. Boleh di bilang cinta. Tapi ia tak seperti keinginan untuk memiliki dan keharusan untuk saling bertatap dan memadu kasih. Ia begitu tulus. Tajam namun juga sangat halus dan lembut.


aku dan ia adalah yang merasakannya. Ia adalah seseorang itu. Kami kembali merajut sebuah rasa yang pernah terabaikan dan tak tersentuh. Bukan sebuah rasa yang menyakiti namun ia begitu membahagiakan. Cinta yang sadar akan sebuah kalimat tak selamanya memiliki. Cinta yang patuh pada rasa yang lain yang tumbuh di saat bersamaan dan tak berusaha saling menyakiti.


Seperti sebuah kecelakaan, namun juga tidak. Seperti sebuah alasan dari sebuah pernyataan karena, tapi juga seperti sebuah walaupun. Rasa ini begitu misterius dan tak terjawab. Tapi ia indah apa adanya dengan ia sekarang.


Kami telah membangun rumah di hati kami masing-masing. Kami membekukan kenangan di sana. Di tempat yang selalu kami sebut “di suatu masa dan di suatu kala”. Sesekali ketika kami butuh istirahat dan melepas lelah, rumah itu selalu ada. Selalu ada secangkir teh untuk menemani kami berbagi cerita. Selalu ada rasa bahagia yang berlebih saat semuanya telah terlepas.


Pulang sesekali ke sana adalah hal yang menyenangkan. Bukankah kata “rumah” dan “pulang” begitu dalam tak hanya sekadar berarti tempat yang dihuni dan kembali ke tempat di mana kita berasal. Sheila on 7 pun menggunakan kata “pulang” dalam lagunya “ingin pulang” untuk menggambarkan rasa rindu yang begitu dalam dan keinginan untuk merasakan cinta di rumah. Nidji pun demikian. Spongebob bahkan mengartikan rumah bukanlah sekadar perapian hangat tapi tempat dimana kamu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintaimu.


Bukankah pulang dan rumah begitu indah seperti rasa cinta?


Dan kali ini kami telah berjanji pulang ke rumah bersama-sama. Meski harus menunggu bertahun-tahun dan hanya mampu bersentuhan pada pikiran namun kami telah berniat pulang. Kembali ketempat dimana kami mampu menghentikan waktu dan bergerak cair di dalamnya.

Asal selalu ada cinta, sejuta cinta, yang selalu kami rasa. Rumah akan selalu terbuka. Dengan teh hangat dan secangkir penganan kecil. Kami akan bercerita. Bermain kartu solitaire dan bermain di “beranda”rumah.


Seperti lebaran, mudik pun adalah kata untuk menggambarkan rasa rindu akan rumah. Rasa kangen akan makanan ibu. Rasa bahagia ketika mendapatkan uang lebaran. Dan sejuta rasa bahagia lainnya yang hanya mampu kamu rasa ketika kamu pulang ke rumah….


Tunggulah….aku dan ia akan bertemu…

Untuk memasak bersama, merangkai tulisan ini, dan berbagi cerita…..

Images

internet masuk di rumahku

I have been waiting for long time…..and now.. I can on line in my own home.
I’m so happy, of course…hehehehehee

Feels like I have my own world again…hehehehehe

Yang pastinya tarif telepon rumah akan terus membengkak…

Etta…sorry for that ya….

(dengan bangga menuliskan tulisan ini di posting
di-
rumahku, belakang mesjid makmur
Bengo, Bone)
Images

dua lelaki dengan dua kisah

Dua lelaki dengan dua kisah mendatangiku di suatu tengah malam. Bercerita tentang keluh kesahnya. Kuladeni mereka meski malam itu aku terkantuk-kantuk. Suara deringan telepon genggam penanda kedatangan kisah mereka membangunkanku dari tidur.


Lelaki I : aku bingung banget. BT juga. Pacar aku maksa kalo nikah nanti tinggal sama dia di Jakarta. Padahal kan kalo aku dinas keluar kota aku kesepian. Atau gimana kalo aku punya dua istri saja. Satu dia satunya lagi di sini. Gimana menurutmu?

Lelaki II : Sebenarnya tak ada cinta yang lain. Hanya saja rasa ini begitu hambar


Aku termenung. Kedua lelaki ini adalah dua keeping puzzle dalam dalam hidupku. Lelaki pertama adalah seseorang yang datang dari masa lalu yang selama ini aku cari. Yang selama ini tak pernah aku dengar kabarnya. Tiga hari kemarin ia datang menyapaku lewat telepon. Berbagi kabar bahwa ia di Makassar sekarang. Ia telah mencariku selama sembilan tahun sejak terakhir kami bertemu di bangku SMP. Dan sampai saat ini kami masih belum bertemu.

Lelaki kedua adalah keeping puzzle yang lain. Ia melengkapi liburan indahku di bali 2 tahun lalu. Kami pernah bertukar rasa. Menjadi teman yang berbagi kisah. Merasakan sesuatu yang tumbuh di hati masing-masing, namun tak pernah berani mengungkapkan karena kami tahu kami tak pernah bisa bersatu.


Reply to lelaki I : ya kok gitu sih. Mau ga dia diduakan. Kalo iya, emang kamu punya calon di sini. Kenapa ga bawa aja dia kalo kamu dinas keluar kota

Reply to lelaki II : Oh gitu. Biasa aja kok kalo rasa cinta kemudian tawar. Aku kalo gitu sama kk’ku biasanya ga ketemuan dulu. Tapi kan pacarannya jarak jauh, jadinya ya jarang rasa tawar.hehehhehe

Lelaki I : Dianya ga mau. Lagian aku juga ga punya calon di sini. Gimana kalo punya TTM aja?


Tuh kan, ga ada perempuan yang mau diduakan, pikirku. Hmmm..harus bilang apa ya..????


Reply lelaki I : ya…kok gitu sih. Knapa tidak mencoba untuk setia. Carilah kesibukan yang lain.

Lelaki II : berapa sih tiket kapal ke makassar kalo hari biasa?


Hah…yang satu ini kenapa lagi????


Relpy lelaki II : biasanya 300-400an. Emang kenapa? Mau ke sini? Jaangan bikin aku shock donk

Lelaki I : di sini aku ga punya teman. 3 bulan begitu lama kalo sendiri

Reply lelaki I : loh, kan aku teman kamu. Aku ga dianggap teman ya? Hiks.

Lelaki I : kamu juga g a mau ketemu aku

Reply lelaki I : aku pengen banget ketemu sama kamu. Aku ingin mastiin satu hal dari kamu. Tapi aku ga bisa.


Kenapa ia tiba-tiba begitu memaksa. Aku mengenalnya waktu aku di tahun pertamaku di SMP dan ia di tahun ketiga. Ia sempat menyukaiku dulu, namun aku smepat menolaknya. Namun sesuatu kemudian berubah pada cara pandanganku melihatnya, namun ketika itu dia telah pergi menjauh.


Lelaki II : masih mau berharap pada Bali?


Lelaki kedua, aku pernah punya kisah indahnya di suatu masa yang singkat di bali. Kami mengikuti pelatihan bersama dan begitu dekat. Dia menemaniku jalan-jalan keliling bali. Ke pantai kuta dan menikmati es krim di sana. “kamu tahu ga, cinta itu seperti es krim, jika tidak dilahap akan segera meleleh”katanya padaku. “aku suka es krim, dingin dan menyenangkan”.

Dia bercerita tentang kekasihnya dan aku bercerita tentang kekasihku. Sampai pada titik bahwa kami menyadari ada cinta diantara kami. Setelah pelatihan ketika ia pulang ke malang, ia kembali lagi ke bali hanya untuk menemuiku.namun kami menyadari kisah ini hanya akan di sini, di tempat ini. Bersama sore di Uluwatu dan sunrise di sanur yang tak pernah benar-benar kami nikmati dnegan sempurna. Dan kami pernah berjanji untuk kembali lagi ke tempat itu. Dan kembali berbagi kisah. Namun, hingga sekarang, telah lewat dua tahun aku masih belum sempat ke Bali.


Lelaki II : Aku pernah melakukan satu kegilaan dulu di Bali. Kenapa tidak melakukannya lagi?

Reply lelaki II : aku akan sangat senang kamu ke sini.kabari kalo kamu mau datang

Lelaki I : ga usah minta maaf. Aku udah maafin kok. Lagian aku yang terlalu egois memaksa kamu datang


Aku sangat ingin bertemu denganmu. Sungguh. Tapi mengapa tidak bisa sedikit bersabar. Bukankah masih bisa besok, lusa, dan , besok-besoknya lagi.


Reply lelaki I : aku tak ingin mengecawakanmu lagi. aku juga sangat ingin bertemu denganmu. Tapi tidak harus besok kan. Bukannya masih ada lusa, lusa, dan hari lain?


Aku mumet. Kami tak begitu saling mengenal.tapi tiga hari ini semua rasa itu kembali. Seperti sepasang kekasih yang menunggu waktu deadline akan sebuah perpisahan. Dan pertemuan menjadi sebuah kunci untuk mengakhiri perpisahan.


Lelaki II : biarlah Tuhan melemparkan dadunya dan kita lihat kemana arah permainan ini

Reply lelaki II : Tuhan tidak pernah melempar dadu dan tidak ada yang kebetulan. Aku akan sangant senang kamu kesini.


Apakah kamu juga tidak bisa menunggu lelaki II? Tidak bisakah kita tetap di cross line yang telah ada dan menyelesaikannya sedikit demi sedikit.


Lelaki I : harusnya aku sadar bahwa kita memang tidak akan pernah bertemu. Bukan kamu yang mengecewakan aku, tapi diri aku sendiri. Harusnya aku mampu memendam rasa suka ini padamu agar tidak berakhir seperti ini.

Reply lelaki I : kenapa kita terus melakukan perdebatan ini layaknya orang pacaran. Kenapa kita tidak mengusahakan untuk dapat bertemu. Kenapa tidak menunggu?


Kisah ini menari nari di benakku. Aku tak lagi mampu untuk memejamkan mata. Aku lelah untuk semua ini. Aku menyayangi kalian.


Lelaki II : hei, itu perkataan Einstein.dan memang tidak ada yang kebetulan. Ini seperti kita bermain soliteir. Kita menunggu kartu joker keluar untuk membuat jalan kembali normal dan kartu yang lain bebas turun. Entah padamu atau padaku kartu joker terakhir, setelah yang pertama telah kita gunakan di bali lalu. Kita terus mainkan saja permainan ini sampai kartu ditangan kita habis….


Aku telah menemukanmu. Menemukan sosok teman yang aku temui di Bali dulu. Hanya kita yang mampu memahami bahasa antara kita masing-masing


Reply lelaki II : so, kenapa kita tidak melanjutkan permainan. Biarkan saja kita terus diarena ini hingga permainan selesai. Bagaimana.deal?

Lelaki II :deal


Akhirnya aku menemukan jalan untuk menyelesaikan masalahmu. Kita tetap saja di jalan ini. Biarkan permainan yang mengakhiri semuanya.


Reply lelaki II : kamu tidak berubah. Aku menyayangimu

Lelaki II : aku tetap akan jadi aku. Tapi kita harus bersiap untuk kemungkinan kartu joker masih ditumpukan kartu sedangkan kartu yang ada ditangan kita telah habis.aku pun menyayangimu.

Reply lelaki II : aku akan terus berusaha. Meski kartu joker itu akan muncul atau tidak.

Kita selalu menyelesaikannya dengan cara seperti ini. Cara yang kita temukan sendiri dan hanya dipakai dan dimengerti oleh kita. Bukankah ini sangat indah, kawan.

Lelaki I :aku ingin menceritakan kisah yang amat panjang kalo kta bertemu.

Reply lelaki I : tunggulah. Sedikit bersabar saja.

Lelaki I : aku akan terus menunggu sampai kapanpun. Kalo kita bertemu kana aku ceritakan mengapa aku ke Jakarta.

Reply lelaki I : aku akan dengan senang mendengarnya


Apa yang membuatmu ke sana?apakah aku? Sebuah kisah yang takkan mungkin aku percayai. Bukankah itu kisah lugu anak SMP yang bisa tersapu waktu. Atau kamu memilih untuk menyimpannya. Ku takut ini hanyalah ajang balas dendammu. Aku takut untuk menerima kenyataan pada akhirnya aku mengakui aku menyayangimu. Ku tak ingin mengakuinya……




(terinspirasi dari dua orang teman yang menceritakan kisahnya dengan banyak penambahan untuk kesan dramatis...tapi semoga kalian mampu memahaminya...)

Images

sekali lagi kita berpisah

berat rasanya melewati sebuah perpisahan. aku telah merasakannya ratusan kali dalam hidupku. menyedihkan dan membuatku harus terisak.

dan sekali lagi kita harus berpisah. untuk menata hidup dan membuat jembatan yang akan kita titi bersama. dan sekali lagi kita berpisah. jarak itu membuat ruang yang begitu kosong di sini.di antara aku dan kamu.

"bandaranya seperti Changi Air port"

kita akan bersama di sana suatu saat nanti.saat jembatan yang di depan kita ini telah selsai kita buat. kita akan ada di sana, untuk memuat jembatan lagi.tapi jika saat itu tiba kita takkan berpisah lagi....
Images

Seperti Dirimu Masih Di Sini

Mama dan Aku
Seperti dirimu masih di sini.Belajar untuk ikhlas dan tabah atas ketiadaanmu. Aku begitu merindukanmu. Malam ini satu ramadhan. Bulan puasa pertama yang harus aku lalui tanpa dirimu. Tanpa lagi mendengar wejangan darimu. Tanpa suaramu yang selalu melantunkan ayat-ayat al-qur’an. Tanpa masakanmu dan juga ketelatenanmu membangunkan kami sahur dan melarang kami untuk tidur setelahnya demi untuk mandapat sholat subuh di mesjid depan rumah.

Aku merindukanmu. Sangat….telah empat tahun aku melewati ramadhan yang tak sempurna di rumah. Tak jarang aku pun tak melalui puasa pertama bersamamu. Jika aku harus puasa pertama di kost-kostan, pastinya engkau akan menelponku, menanyakan menu sahur yang pasti akan ku jawab, mie instant.Engkau pasti akan selalu bilang, kita makan ayam di sini. Mama minta maaf. Sudahlah ma…cintamu telah cukup…

Tahun ini aku berencana melewatkan 1 ramadhan di tempat yang selalu kita sebut rumah. Aku melewatkannya di sini. Di rumah. Tapi tidak lagi denganmu. Engkau melewatinya ditempat yang menjadi terminal akhir gerak kita menuju Ia yang menggenggam.

Ramadhan yang lalu ternyata Ramadhan terakhirmu denganku. Aku masih mengingatnya. Etta selalu komplain jika kita harus sahur di dapur belakang, dingin katanya. Sempat terlintas dalam benakku ketakutan bahwa sahur itu adalah yang terakhir aku bersamamu. Dan ketakutan itu terbukti.

Kali ini aku harus melewati ramadhan ini tanpamu.dan harus belajar untuk tak lagi bersamamu. Tapi aku percaya jiwa masih di sini bersamaku. Ikut tertawa bersama jiwa kami yang bahagia. Ikut tersenyum. aku bias merasakan jiwamu. Abadi di sini.

Cinta orang-orang yang dikasihi akan terus ada, meski orang tersebut telah ada. Cinta itu terus bertransformasi bersama udara, angin, dan semesta. Tetap berjalan bersama waktu. Cintamu slalu ada disini menemaniku.
Aku merindukanmu Ma….
Dwi minta maaf untuk semua dosa yang telah kulakukan yang selalu membuatmu khawatir dan kecewa.
Izinkan aku melantunkan ayat-ayat al-Qur’an untukmu…
Bahagialah di sana...