Images

Laut Gunung



Rasanya sangat ingin ke laut atau ke gunung. Tempat yang tak penuh hiruk pikuk manusia dan segala bentuk kehidupan sosial yang begitu tergesa-gesa. Laut atau gunung secara misterius mampu memberikan ketenangan jiwa. 


Aku mampu terdiam sesaat di sana. Seperti mencicipi surga. Menghentikan jejak waktu yang berdetak. Menarik napas secara perlahan dan sangat dalam.Mendapati diri dalam sebuah rasa yang begitu bebas. Aku mampu melupakan dunia yang bergerak di sekitarku. Melupakan segala sumbat pikiran dan ceracau hati. Meninggalkan segala rasa dan mindless. Meski sejenak tapi tak ternilai. 


Aku rindu pada laut dan gunung. Aku rindu menyapa pagi sambil melihat hijau pepohonan dalam kabut dingin yang menusuk. Aku rindu melihat gulungan ombak dan temaram matahari yang terbenam. Aku rindu menghentikan waktu. Aku rindu membuat jejak abadi meski begitu singkat. 


Aku rindu laut dan gunung. Sesaat saja....bolehkah???Amin
Images

Kangen Serial Anak-Anak Jaman Sekolahan

Dulu di kampung, hari minggu adalah hari yang paling menyenangkan. Libur dan banyak serial anak di televisi. Hari minggu adalah hari paling merdeka bagi saya. Setelah enam hari harus bangun pagi dan ke sekolah, bertemu dengan pelajaran-pelajaran yang susah masuk ke otakku, minggu menjadi sebuah hari dimana aktivitas itu tidak lagi menjadi keharusan.


Tapi karena saya adalah tipe anak yang rajin, kalo hari minggu tetap saja bangun pagi. Biasanya kalo jam 6 cuci baju sekolah dulu dan mandi pagi. Pukul 07.30 saya sudah segar dan duduk manis depan televisi. Memilih channel Indosiar. The Secret World of Alex Mack. Kisahnya tentang seorang anak High School yang terkena cairan kimia dan memiliki kekuatan super. Saya tak pernah absen menonton film ini. Hingga tidak ditayangkan lagi di Indosiar.


Ada serial kartun Candy-Candy dan Remi. Tapi saya tidak terlalu doyan dengan serial ini, bagi saya kartun adalah serial dari Jepang. Dengan muka yang tirus, mata belo, jangkung, dan cakep. Tidak berambut pirang dan memakai gaun.


Serial lain yang everlasting sampai sekarang adalah Doraemon. Saya paling senang nonton Doraemon. Jam 9 pagi di RCTI. Sampai sekarang serial itu belum selesai-selesai. Nobita masih saja anak SD. Dan Doraemon adalah robot abad 21 dijaman abad 21 sekarang. Dengar-dengar endingnya adalah doraemon rusak dan Nobita belajar keras untuk memperbaiki. Jadilah dia pintar dan kelak menjadi ilmuwan genius.
Cakep kan Kotaro Minami?


Kesatria Baja Hitam adalah salah satu serial favoritku juga.Kotaro Minami sangat gagah. Standar cakep dijaman itu adalah belah tengah seperti Kotaro Minami. Selanjutnya ada Ultraman. Tapi kemudian ada pemutakhiran tokoh jadinya malas nonton. Ultramannya jadi jenis. Trus kesatria baja hitamnya tidak elegan lagi dengan kostum hitam. Ada yang menggunakan scraft dan dominan berwarna merah. Pemeran Kotaro Minaminya pun ganti. Jadi malas ngikutin lagi.


Saya juga menonton film Yonkuro. Paling ingat musiknya 'kuberlari-lari mengejar mobilku...". Yang tiap episodenya pasti menampilkan lomba balap mobil tamia (kalo nda salah). Dan ditiap pertandingan ada penjelasan tentang kehebatan mobil-mobil itu.Ada juga serial kartun Jepang yang ahli masak. Saya lupa apa judulnya. Pokoknya keren. Juga ada yang pemain sepakbola. Tapi bukan Kapten Tsubasa. Lagi-lagi saya lupa judulnya. 


Sailormoon, Wedding Peice, Ran Ma 1/2, Detective Conan, Cardcaptor Sakura, yang kesemuanya wajib ditonton. Tapi saya paling malas nonton DragonBalls. Terlalu rumit ceritanya bagi kepalaku yang suka cerita-cerita tentang perempuan dan hal-hal yang ringan.


Hmmm...apalagi ya? Selain film anak-anak saya juga suka nonton serial remaja bikinan Amerika. Ada Popular, Party of Five, Seven Heaven,dan Dawson's Creek. Tapi serial yang terakhir ini tidak aku ikuti karena terlalu malam tayangnya di TPI.


Pokoknya banyak serial televisi jaman dulu yang begitu menyenangkan. Televisi begitu kuat memengaruhi. Seperti internet di jaman sekarang. Jika ada mesin waktu, kembali ke zaman kanak-kanak adalah salah satu tujuanku :).(*)
Images

Surat Cinta Untukmu


Aku ingin menulis surat cinta untukmu. Untuk kamu. Hanya kamu. Aku akan memulai pada kata apa kabar? Apakah baik baik-baik saja? Aku mungkin jarang melakukan ritual berdoa, tapi bukankah kata adalah doa. Tiap aku memikirkanmu aku selalu berharap agar kau baik-baik saja. Sekelilingmu menjagamu. Memastikan kau tetap aman, nyaman dan tercukupi. Aku selalu berharap agar bahagia menyelubungi tiap lakumu mengepak detik dalam waktu.

Selain memikirkan akan sosokmu, kutitipkan juga satu point egoku di dalamnya. Aku selalu membayangkan kau merindukanmu. Ya, aku berharap dan berdoa kau merindukanmu. Karena aku disini membungkus hariku dengan ikatan rindu buatmu. Rindu seperti belenggu untukku. Iamenyesakkan napasku. Namun ketika ia tidak membelitku, aku seperti kehilangan sebuah rasa yang menyenangkan.

Bagaimana harimu? Aku tak tahu lagi kabar terbarumu. Kita telah lama tak berjumpa. Tak bertukar kabar. Tak saling menyapa. Jarak telah memisahkan kita. Waktu dalam definisiku tentangmu telah berhenti di sana. Di saat kita saling berucap selamat tinggal. Aku pergi dan  kau pun melangkah  jauh.

Aku hanya punya kenangan tentangmu. Tak ada hal baru yang mampu aku pirsakan lagi. Kau adalah sejak aku mengenalmu hingga terakhir aku melihatmu. Segala gerak yang berada disekitarmu tak lagi masuk dalam file otakku. Karena kita telah berbeda orbit. Yang aku punya hanyalah kenangan tentangmu. Dan aku hanya punya  lapis-lapis memori itu untuk kembali mengingatmu. Aku yakin semua telah berubah. Meskipun aku ataupun dirimu menyangkal tak ada yang berubah. Tapi bukankah perubahan adalah sesuatu yang telah dipastikan. Ia adalah satu-satunya yang tak pernah berubah. Kita telah mendiskusikan ini dulu.

Kemudian apa yang ingin aku cerita di surat ini? Tentangku? Kau pasti ingin tahu tentangku. Aku akan menceritakanmu dalam bentuk pengandaian. Semestaku berjalan seperti biasa. Bumi bergerak dengan kecepatan konstannya. Aku pun demikian. Kadang tersadar sesaat untuk sedikit bergerak lebih cepat atau lebih lambat. Atau menyimpang dari keseharusan. Tapi bisa kau bayangkan jika bumi bergerak menyimpang dari kecepatan konstannya. Para makhluk yang berdiam di permukaannya akan pusing. Muntah dan mabuk kendaraan bumi. Tiba-tiba ngerem, tiba-tiba bergerak laju. Akan terjadi Chaos di semesta. Tak hanya bumi dan segala yang melekat secara magnetis di tubuhnya tapi juga pada tata surya dan galaksi bima sakti.
Tampak begitu menyeramkan bukan? Aku mencoba bermeditasi menjadi Bumi. Mencintai langit, Bulan, dan bintang. Bergerak pada keharusan yang telah ditetapkan. 

Semalam aku membaca ulasan tentang Ilmuwan Stephen Hawking. Si jenius yang berkursi roda dan tak mampu bicara itu. Buku terbarunya berjudul “Grand Desain”. Tunggu, biar aku buka kembali tentang tulisan itu. Agar aku tak salah memberi informasi akannya. Cukup kontroversi karena Hawking menyimpulkan bahwa penciptaan semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau Tuhan Semesta yang banyak ini muncul secara alamiah dari hukum fisika(Tempo 7 November, hal 60).

Aku bukanlah penganut agama yang taat, namun aku masih percaya bahwa Tuhan adalah sesuatu zat yangmenjadikan alam semesta ini. Aku sepakat dengan Einstein yang mengatakan Tuhan tak bermain dadu dalam penciptaannya. Tapi aku pun tak memiliki kecerdasan sehebat Hawking. Pemikirannya telah melompat begitu jauh. Ia telah melakukan quantum Leap. Susuatu yang tak bisa dilakukan oleh otakku yang pas-pasan. Ketika menarik Tuhan sebagai konklusi jawaban dari  pertanyaan-pertanyaan yang ada, maka manusia tidak lagi kritis. Biarlah Hawking yang bertugas mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan itu. Aku cukup setuju pada akhir tulisan tentang Hawking itu, Ada banyak posisi dalam menanggapiperkembangan sains (fisika, biologi) dan posisi hawking adalah salah satunya.  Barangkali tepat  belaka pandangan keith Ward dalam God,Chance, and Necessity (1996) bahwa ini adalah perkara interpretasi. Dan Hawking memilih interpretasi materialistic (Tempo 7 November, hal 60).

Ah,biarlah semua itu dipikirkan oleh para ilmuwan. Aku tak perlu menambah beban pikiranku akan itu. Kapasitas otakku terlalu sedikit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit tersebut. Btw, sampai dimanakah kita? Oh iya, tentang diriku. Seperti biasa akan kujawab dengan singkat dan jelas “baik-baik saja. Hanya sedikit melankolis”. Ya, sifat ini tak pernah bisa lepas dariku. Kau sangat memahami itu.

Apalagi yang ingin aku tulis di sini? Hmmm….sepertinya tak ada lagi. Sejatinya ini adalah surat cinta untukmu. Tapi aku tak pernah tahu bagaiman menulis surat cinta itu. Waktu SMP dulu aku hanya sering menerima surat cinta. Tak pernah mengirim kepada orang lain. Isinya pun hanya seputar pertanyaan ‘Apakah aku bersedia menjadi pacar dari sang pengirim surat cinta”. Tapi tidak setransparan itu bahasanya. Mendayu-dayu. Mengutip syair lagu romantic. Memuji setinggi langit. Hahahaha. Aku masih menyimpan satu surat cinta. Kelak jika kita bertemu, aku akan memperlihatkannya padamu.

Aku merindukan masa di mana cinta dikatakan lewat surat. Dititipkan diam-diam di dalam halaman buku atau pada teman dekat. Dituliskan pada kertas bermotif bunga berwarna merah.  Sampulnya pun berwarna merah. Baunya wangi karena disemprot parfum. Tapi yang paling aku tunggu adalah sensasi degup jantung yang begitu cepat saat membaca kalimat-kalimatnya. Apalagi jika surat itu datang dari seseorang yang diam-diam juga aku sukai. Membaca hingga akhir kalimat rasanya tidak cukup. Ingin membacanya lagi,lagi, dan lagi. Wow!!!!!!

Hei, apakah kau pernah menulis surat cinta untuk seseorang? Sesekali menulis suratlah untukku. Tak perlu surat cinta. Aku hanya ingin membaca tulisanmu tentangku. Bolehkah ini aku anggap doa?
Hmmm…kembali pada esensi tulisan yang kusebut surat cinta ini. Ini hanyalah pengistilahan olehku. Agar terkesan sangat indah untukmu. Kamu boleh tak bersepakat. Mungkin karena kau tak menemukan umbaran kata-kata selangit untukmu. Tapi sesungguhnya ini adalah bahasa cintaku untukmu.

Baiklah jika menginginkannya, aku menuliskannya di kalimat ini saja ya. “Aku merindukanmu. Apakah kau merindukanku?”. Semoga kalimat itu sudah cukup sebagai penanda bahwa ini adalah surat cinta.
Sejatinya surat ini haruslah aku kirim lewat pos. Ke alamat rumahmu. Agak susah menitipkannya lewat selipan halaman buku. Karena kita sama-sama tahu bahwa itu mustahil. Semustahil jika aku menitipnya lewat teman dekat.

Tapi dunia telah berubah. Dunia adalah komunikasi digital. Kita hidup di internet. Mengambil sebuah akun yang menjadi alamat rumah. Hanya itu modal alamat yang aku tahu. Tak akan lagi ada sensasi deg-deg-an saat melepas lem perekat sampulnya dengan penuh perasaan. Tak ada lagi rasa penasaran yang membuncah dan meletup begitu hebat. Tapi setidaknya aku tak berbahasa sesingkat SMS atau tweet yang dibatasi karakter dan pulsa. Aku menulis banyak paragraf untukmu. Tiga halaman spasi satu dengan jumlah kalimat lebih dari seribu.

Sejatinya surat ini pun takkan aku kirimkan ke email siapapun. Karena ini hanya untukmu. Aku akan mempostnya di halaman  “rumahku” di blog terasimaji. Jika kau singgah artinya surat itu adalah untukmu. Aku sangat  senang jika kamu membacanya. Apalagi jika kamu menyempatkan diri membalasnya. Seperti penutup surat yang biasa aku temui. Kali ini aku ingin menutupnya dengan kalimat , empat kali empat enam belas. Sempat tak sempat harus dibalas.(Aku tetap “memaksamu’ untuk membalasnya;). Sudahlah, aku akhiri saja. Waktu telah bergerak begitu jauh dan aku masih sibuk memikirkanmu. Aku menunggu suratmu untukku.

Penuh Cinta
 Dwi
Images

Sekali Lagi Tentang Ema

This Ema...
Malam menjelang. Film kartun Sinbad yang kutonton di laptopku sudah menunjukkan credit title. Sang Pahlawan (atau pencuri itu) kembali mengarungi samudera. Bersama kekasih yang "dicurinya" dari sahabatnya. Lupakan tentang Sinbad. Aku tak ingin membicarakan ia disini.


Masih terngiang kalimat terakhir Marina pada Sinbad ketika ia menjelaskan betapa menakutkannya lautan untuk dilayari, "I'll Protect U"kata Marina. Halaman Facebook penuh dengan tulisan tentang Ema. Hmmm...bukannya hari ini masih tanggal 21 november. Ada yang salah.Hari ini tanggal 22 november. Dan besok adalah ulang tahunnya. 


Hei, aku belum mempersiapkan apapun buatnya. Aku pun belum menulis tentangnya. Dan waktu sebentar lagi menuju angka 12 malam waktu Makassar. Kado biasanya disiapkan sehari sebelum hari ulang tahun. Paling dramatis jika benar-benar tepat pukul 00.01 di hari ulang tahunnya.


Apa yang harus aku tulis untuk ulang tahunnya? Aku sudah pernah dan telah terlalu sering menulis tentangnya. Dialah perempuan yang paling banyak menitipkan mimpinya padaku. (Waahhh, Ema bertemu dengan Reza Rahadian dan Bellamy mungkin agak sulit bagiku. Aku harus menumbuhkan kegairahan akan mereka :p). Dia serupa buku yang tak pernah bisa selesai di baca.


Jangan tanyakan padaku tentang jika ingin menebak tentang Ema. Meski kami dekat Ema tetaplah seperti cuaca El Nino yang menjadi La Nina. Aku tak pernah mampu menebak wajahnya. Apa yang ada dalam pikirannya. Dan ia sedang mencintai siapa. Jika aku adalah tipe yang suka "pamer' perasaan, dia adalah seperti sumur di tanah kering. Perlu menggali sedalam mungkin untuk menemukan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu. 


Ema tipe pendengar. Jika ingin mendengarnya curhat, maka berdoalah 7 hari 7 malam. Karena ia sangat susah  untuk berada di posisi yang didengarkan. Perlu moment "curhat berjamaah" baru kemudian kamu tahu apa yang ada di hati. Tapi yakinlah info yang kamu dapat pun masihlah dangkal. Ia adalah tipe orang yang curhat yang kemudian perlu diberi advice. Karena diriku bukan tipe yang suka memberi Advice, makanya dia yang menjadi pendengarku dan dirinya yang memberiku nasehat. Hehehehehe.


Perlu wartawan inversitigasi untuk mengorek banyak tentangnya. Dan sebagaimana perempuan (mungkin ini penilaian subjektifku) dia lebih menyenangi curhat bersama para pria. Hahahahaha. Apalagi topiknya pria. Karena sesuai pepatah "Hanya pria yang mampu memahami pria":). Bahkan jika kau mau membaca Ema dari tulisan-tulisan, dia tetaplah seperti Bella yang mampu menyelubungi diri. 


Ema seperti sebuah lukisan yang tak terbahasakan. Kata-kata terlalu minder untuk mencari padanan untuknya. Ia adalah lukisan yang hanya perlu dirasakan. Kau hanya perlu berinteraksi dengannya, berbicara dengannya dan kau menemukan rasa tentangnya. Ia adalah proyeksi unik dari berbagai sudut. Aku bukanlah kurator lukisan, jadi anggaplah seperti itu.


Aku sudah terlalu banyak menulis tentang Ema. Mungkin harus bersamanya lagi melewati banyak malam agar aku menemukan cerita yang lain lagi tentangnya. Dia menitipkan mimpi untuk bertemu dengan Reza Rahadian.Untuk kali ini sayang, kerjalah dengan kakimu sendiri karena rasanya akan berbeda. Semesta kalian pernah bersinggungan, hanya saja kamu tidak sedikit berani untuk menubruk masuk ke orbitnya. Kali lain, lakukanlah. Tidak akan membuatmu mati, hanya membuatmu tampak kampungan. Tapi bukankah perlu kampungan untuk meraih mimpi :D.hihihihihihi


Btw, Selamat Ulang Tahun Ema. Nanti aku ajak gila-gilaan lagi ya. Berdua seperti dulu.
Images

Meet Dee (Part II) : Beda Makassar Beda Jakarta

Dwi and Dee

Apa bedanya jumpa penulis di Makassar dan di Jakarta? Yang pasti bagiku itu sangat berbeda. Sewaktu jumpa penulis Trinity Naked Traveler  beberapa waktu lalu di Gramedia Panakukang Makassar, sangat banyak pengunjung yang antusias untuk datang. Bertemu Trinity, meminta tanda tangannya, berfoto bersama, dan juga berdiskusi. Bahkan antusiasme itu tidak hanya terjadi padaku tapi juga pada teman-teman kampusku di Kosmik. Saat itu, ada Meike, Kak Rahe, Ema, dan juga Echy. Belum cukup. Ada lagi para pengunjung yang juga mebawa teman-temannya. Pokoknya ramai. Meski pun tidak begitu membludak. Acaranya pun ditunggu-tunggu. Kursi-kursi yang telah disediakan pun langsung penuh. Beberapa pengunjung malah harus berdiri untuk ikut berpartisipasi.


Di Jakarta, kemarin sewaktu Meet and Greetnya Dee, aku tak melihat antusiasme seperti itu. Aku hanya menemukan diriku yang kesepian sendirian yang begitu exciating menunggu acara dimulai. Aku hanya sendirian duduk di sofa yang disediakan untuk para peserta meet and greet. Bahkan ketika Dee sudah hadir dan memulai acara, jejeran kursi di depanku masih kosong. Kursi-kursi itu hanya diisi oleh para crew penerbit Mizan atau pegawai Gramedia Teras Kota.


Saat sesi bertanya pun hanya sedikit peserta yang berpartisipasi. Bahkan ada penanya yang harus dua kali bertanya. Aku yakin nama Dee sebagai penulis cukup terkenal dengan karya-karyanya yang best Seller. Selain itu dia sebagai Dewi Lestari yang penyanyi itu pun pasti tetap dikenal oleh banyak orang. Sampai akhir diskusi para pengunjung hanya sekedar membeli buku dan meminta tanda tangan tanpa lupa berfoto.


Hmmm, mungkin karena orang-orang Jakarta sudah terlalu biasa dengan artis atau penulis. Interaksi mereka tidaklah begitu seantusias diriku. Tidaklah sampai menuliskan di dalam blog keinginan terpendam untuk bertemu Dewi Lestari.Mungkin bagi mereka bertemu Dewi Lestari adalah sesuatu yang biasa. Mungkin bagi mereka berdiskusi dengan Dewi Lestari bisa kapan saja. Tanpa perlu menunggu moment seperti ini.


Mungkin aku yang kampungan. Maklum, Makassar sangat jauh dari hingar bingar Jakarta yang penuh dengan bejibun penulis terkenal. Bagiku ini adalah momen langkah untuk belajar secara langsung pada penulis-penulis sekelas Dee. Bagiku, bertemu dengan Dee mungkin sama berartinya jika aku bertemu JK.Rowling. Sangat memorable. Aku mungkin yang kampungan yang perlu berfoto dengannya dan meminta tanda tangannya.


Tapi bagiku, aku sangat menghargai hasil karyanya. Berada di sana. Bercakap-cakap dengannya. Memperkenalkan diriku sebagai pengagumnya. Memberitahukan kepadanya bahwa namaku menjadi salah satu "penulis komentar" yang ada di buku Perahu Kertas. Mengatakan padanya bahwa sebelum ke Jakarta aku mengucap satu hal, Ingin bertemu Dewi Lestari. Sesuatu yang mungkin begitu sederhana. Tapi bagiku itu sangat berarti.


Setelah diskusi dan meminta tanda tangannya. Aku pun berlalu. Ingin rasanya bisa lebih lama. Ingin berucap "Kelak kalo aku telah menyelesaikan bukuku, maukah dirimu menjadi salah satu pembaca pertama?".Alllaaaahh, itu mimpi yang belum menjadi nyata mungkin. Aku hanya merapalkannya. Biarkan semesta yang bekerja.
Ini nih yang terjadi kalo di Makassar (ini gaya jaim)


Aku tiba-tiba kangen dengan Echy, Ema, Kak Rahe, dan Meike. Coba kalo mereka ada disini, kami pasti lebih menggila dan lebih banyak berbuat aib di gramedia. Tapi siapa peduli. Karena kita tak mengganggu siapapun. Guys, nanti kita undang Dewi Lestari ke Makassar untuk mengajar menulis. Pasti banyak yang berminat.(*)
Images

Meet Dee (Part I) : Dari Teras Imaji hingga Teras Kota

Di suatu malam di Pondok Salsabila bersama Ema. Pukul 11 malam kala itu. Menjelang tidur kami berbagi cerita. Memintal benang mimpi. Seminggu sebelum aku ke Jakarta. Kami berbaring di atas kasur biru tipis. Rayap mengiang di balik papan lantai. Kami merajut mimpi. Membuat daftar orang-orang yang akan kami temui. Dia merapalkan mimpinya, bertemu Mathew Bellamy personil Muse. Dia juga ingin bertemu Reza Rahadian, aktor dalam film Badik Titipan Ayah yang tak sempat dia ajak berfoto saat shooting film itu di Ramsis Unhas.

Giliranku merapal mimpiku. Jika orang Indonesia, aku tidak terlalu minat bertemu SBY meski dia presiden. Aku juga tidak minat menguber-uber Obama  (meski ia sempat ke Jakarta tapi waktu itukan belum tahu kalo Obama mo datang ;p), itu mimpi yang bakal susah tercapai jika dia masih menjabat presiden. 

Aku hanya ingin bertemu Dewi “Dee”Lestari. Mengapa? Dia adalah penulis favoritku. Penulis perempuan yang selalu aku jadikan kiblat. Penulis yang kesemua bukunya telah aku lahap meski belum aku koleksi semua. Penulis yang selalu aku kutip kalimat-kalimatnya. Penulis yang selalu membuatku bersemangat untuk terus menulis. Meski sampai sekarang aku masih terseok-seok menulis sebuah cerpen.Jika ke Jakarta, aku ingin bertemu Dewi Lestari. Itu adalah mimpiku. 

Dua minggu yang lalu saat berjalan-jalan di gramedia matraman aku membaca buku filosofi kopi. Buku itu menyentakku pada tulisan “Kala kau terlelap”. Tiba-tiba aku menginginkan buku tersebut. Meski aku sudah perah membacanya aku tetap ingin mengoleksinya. Dan buku itu pun aku miliki dengan catatan singkat di blog, aku sangat ingin bertemu Dee.(Lihat di sini)

Dua hari yang lalu, iseng Online di kost aku membaca status Facebook Perahu Kertas. Meet and Greet Dee, penulis Perahu kertas di Gramedia Teras Kota BSD. Tempat tersebut sangat jauh dari kostku. Bahkan Kak Yusran pun belum pernah kesana. Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten. Provinsi sebelah Jakarta. Awalnya kami tak ada niat kesana. Dan semua begitu kebetulan.Seperti ada kekuatan yag maha besar yang membuat semuanya menjadi mungkin. Sederhana mungkin jika melihat bahwa hanya butuh modal ke sana saja dan bertemu. Namun tidak seperti itu.Hampir saja aku pupus mimpi ini ketika kami tak memplanning ke Serpong weekend ini. Tapi tiba-tiba Kak Tia, kakaknya kak Yusran datang dari Bandung dan diantar ke bandara untuk penerbangan pulang  ke Makassar. Ia memberi kami amunisi untuk ke Serpong.

Bahkan sempat pula kuurungkan niatku untuk tidak ke sana. Karena kamera dan buku filosofi kopiku tidak aku bawa serta. Untungnya kami berinisiatif utuk megambil kamera itu. Mencuri waktu sesaat. Yah, jika ada jalan kenapa tidak berjuang sampai akhir.

Usai Di bandara, kami pun menyewa taksi untuk ke BSD. Seperti bertualang ketempat yag tidak kau tahu sama sekali. Bahkan supir taksinya pun tidak tahu tempat yag kami tuju dimana.Kami  sesungguhnya juga  tidak tahu kami hedak kemana. Bertanya kiri kanan. Dimarahi bapak-bapak yang serupa preman. Sampai akhirnya kami tahu tempatnya. Gramedia, Teras Kota.Rasaya hatiku meledak seeprti mercon ketika melihat Banner “Meet and Greet Perahu Kertas”. Aku berada disini.Benar-benar ajaib rasanya.

Cewek yang menjadi moderator diskusi mengenaliku. Waahhh, ternyata dia yang dulu menemani Mbak Trinity waktu acara diskusi di Gramedia Panakukang. Dia pun masih mengingatku. Iri rasanya melihat dia bisa begitu akrab dengan para penulis-penulis favoritku.

Sesaat kemudian, aku melihat seorang ibu yang menggendong anak perempuan dan seorang bocah kecil berambut sedikit kriwil berkulit coklat mengiringinya. Perempuan yag aku ajak ngobrol tadi menghampirinya. Dia menyapa ibu itu dan anak-anaknya. Wow, dialah Dewi Lestari. Bersama Keenan dan anak perempuan bungsunya, Atisha. Aku harus mencentang  satu mimpi yang menjadi kenyataan. (*)

Images

Cinta Kekasih Gelap (Sebuah Resensi)

Cinta seperti air. mencari tempat untuk mengalir. menjadi arus deras jika ia begitu meluap. menantang segala bebatuan cadas yang ada di depannya. Sekalipun ia bertemu tembok, ia tetap akan merembes. mencari cara agar tetap mengalir. Cinta seperti air, Let it flows.


apakaha cinta hanya dimiliki oleh aku dan kamu? orang pertama dan orang kedua? Apakah cinta jika mengalir pada orang ketiga akan menemukan cabangan sungai yang membelah arus. Dimana letak cinta itu sesungguhnya?


Sekali lagi Sanie B Kuncoro memesonaku dalam balutan kalimat-kalimat cinta yang begitu lembut sehingga tajam mengiris imajinasiku. kekasih gelap menceritakan cinta dari tiga sisi. Buku ini sudah cukup tua. Cetakan pertama tahun 2006. Berisi dua buah cerita tentang cinta antara orang pertama, kedua, dan juga orang ketiga. Cerita ini menjadi juara lomba II cerber majalah Femina tahun 2003.


Cerita pertama bertajuk, Jalan Sunyi. Limar dan Puan adalah sepasang kekasih yang akan segera menikah. Persiapan pesta telah dilakukan dengan sangat detail. Namun semua berubah ketika Puan, sang calon mempelai perempuan memutuskan untuk menenangkan pikiran di sebuah desa. Melepas penat untuk urusan pernikahan. Dan di desa itulah dia menemukan sosok Darga, arsitektur muda yang mampu menimbulkan getaran-getaran pada hati Puan saat Darga menatap matanya.


Puan pun lantas mempertanyakan hatinya. Sebuah rasa bersalah bersemai di hatinya. Ketika ia mendapati dirinya lebih memikirkan Darga daripada Limar bahkan disaat sesi foto pre-weddingnya.
Puan yang seorang pelukis tak mampu melepaskan ingatannya akan Darga. Dilukisnya pria itu. Sebuah potret yang sempat dilihatnya di balik jendela ketika Darga diam-diam menungguinya di halaman untuk sekedar mengetahui apakah ia baik-baik saja. Limar menebaknya dengan benar. Sesaat Puan tidak bisa melarikan diri dan menemukan dirinya tersudut.


Namun ternyata Limar memberikan pilihan kepadanya. melebur cincin pernikahan yang akan mereka sematkan kelak di hari pernikahan atau membiarkannya tetap dengan jadwal semula. Limar memberinya pilihan untuk meraih bahagianya. Dan Puan telah memilih pilihannya.
Namun jalan sunyilah yang ternyata dipilih ketiga orang tersebut. Saling melepaskan.Darga pun pada akhirnya menolak kedatangan Puan yang lebih memilihnya. Karena ia menyadari cinta Limar ternyata lebih besar dari yang dia punya.


Sanie mengajikan sebuah cinta tiga sisi yang cukup menyedihkan. Kesemua tokohnya pada dasarnya memiliki cinta yang begitu kuat. Limar yang memilih membiarkan Puan menentukan pilihannya.


“Dia, pemilik punggung itu, barangkali mempunyai sesuatu yang tak kupunya. Sesuatu yang membuat hatimu terbelah.itu bukan dosa, karenanya jangan mengingkari hatimu sendiri. Yang terpening adalah kebahagiaanmu. Apa yang terjadi kemudian sepanjang demi kebaikanmu, maka aku akan rela... melepasmu.” (hal 66)


Darga yang juga begitu mencintai Puan hingga terhenti waktunya. Urakan tak terurus ketika Puan meninggalkannya.


“Kau pikir hidup berhenti?”
“Kau yang menghentikannya bagiku.”....
“Begitu?” Puan tersenyum. “Baik, kalau begitu akan kubuat hidupmu berjalan lagi. Ayo lakukan apa yang seharusnya kau lakukan.”
“Memelukmu” ...(Hal 70)


Darga pun tersadar bahwa ternyata cinta Limar lebih besar dari yang dia miliki. Meski pada akhirnya ia harus mencampakkan Puan dengan sangat menyakitkan.


Melihatmu hari itu kembali padaku, adalah kejutan yang tak terlukiskan. Seperti musafir menemukan oase, seperti daun kering menemukan tetes embun. Seperti pertanyaan yang menemukan jawaban....
Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi lebih karena aku tidak cukup layak untuk menggantikan Limar bagimu. Baru kusadari cinta Limar terlalu sempurna , sehingga apa yang kupunyai tidak sanggup menggantikan apa yang limar persembahkan untukmu . (Hal 78)


Pergolakan batin Puan saat menemukan dirinya menduakan hati.


Mengapa kau ingin aku yang menentukan jawaban untuk cincin ini?...Pasti karena begitulah caramu menghargai aku. Kau memberiku kesempatan untuk menentukan kata akhir untuk “menyelesaikan” dan bukannya “diselesaikan”.Untuk memosisikan aku bukan sebagai seseorang yang tersingkirkan . Begitulah kau menghargai perasaanku. (Hal 75).


Puan pun sesungguhnya masih mencintai Limar. Namun rasa bersalah telah membuat nyalinya ciut untuk kembali.


Tapi aku tidak punya cukup keberanian untuk kembali. Aku tidak punya cukup pengampunan untuk memaafkan diriku sendiri. Jadi, jawabannya itulah yang aku pilih, melebur cincin. Jawaban yang membawaku pada sebuah jalan sunyi. (Hal 80)


Ending yang dipilih Sanie B Kuncoro mungkin tidaklah begitu menyenangkan. Namun endinng mampu ini memberikan pelajaran bahwa cinta adalah proses saling membebaskan. Cinta adalah sebuah kemisteriusan yang mampu memberikan kekuatan pada seseorang untuk saling melepaskan.
Pada akhirnya cinta menuntun semuanya menuju sebuah jalan yang sunyi.


Kisah kedua bertitel Kekasih gelap. Menceritakan tentang sesosok Senja yang menjadi kekasih gelap Ruben, pria beristri yang sebentar lagi memiliki anak. Dan karena sebuah ide gila Ruben, Senja terpaksa harus melakukan pelayaran bersama Benteng sebagai pasangan palsunya agar Ruben dan Aline yang juga sedang berlayar di kapal pesiar tetap mampu bersamanya.


Cinta menjerat Senja dalam setiap keinginan Ruben. Ia tak mampu menolak. Karena ia memang tak pernah bisa menolak keinginan Ruben. Begitulah cinta yang memenjarakan hatinya. Meski ia harus menjadi orang ketiga dan rela cemburu untuk tiap kemesraan yang mesti dibaginya.
Hingga ia bertemu Benteng, teman Ruben yang menyadarkannya bahwa ia harus mampu menolong dirinya. Ia tak boleh larut dalam jeratan ini.


Apa yang perlu kau lihat adalah jangan membiarkan dirimu terjatuh makin jauh. Ruben terus memberimu harapan dan kau akan terus terlena untuk mengikutinya.( Hal 118)


Kita adalah pecundang. Aku membiarkan diri terhanyut dalam dosa perselingkuhan sementara kau terjebak dalam perjudian demi mengejar ambisi untuk menang dan mendapatkan harta. Bagaimana kita mengakhiri ini semua? Mungkinkah kita akan mendapatkan kesempatan lain? Kesempatan untuk berhenti dari semua kepahitan ini, lalu memilih jalan lain dan menjadi sosok yang baru kemudian hari? Hal. 126-127)


Sanie memaparkan tokoh senja sebagai sosok ketiga. Hadir sebagai sosok nomor dua dan bukan satu-satunya. Harus membagi cinta dan tak pernah menggenggamnya secara utuh.


Inikah kebahagian yang diinginkannya?Meraih cinta dalam genggaman tapi menyembunyikan diri sedemikian rupa? (Hal 137)


Ending cerita kedua ini cukup membahagiakan. Senja memilih untuk melepaskan Ruben. Dan hatinya telah tertaut pada Benteng.


Ya, begitulah cinta penuh misteri. Cinta begitu kaya dengan eksplorasi imajinasi yang tak pernah habis.Sanie sekali lagi membuatku jatuh cinta. Dan akan kubiarkan cinta ini mengalir apa adanya.


19 November 2010
Images

Ikan....

Ada empang di halaman blogku. Ketika tak ada kerjaan dan tak ada yang menarik lagi di dunia cyber aku singgah di sana. Meng-klik mousenya dan keluarlah biji-biji makanan berwarna orange. Aku suka memperhatikan ikan-ikan itu berenang. Warna-warna yang kupilih pun cukup menyenangkan buat mataku. Hitam, biru, merah,orange, dan hijau. Aku suka melihat riak air ketika mousenya kutekan.


Ikan-ikan itu adalah penghuni dunia cyber. Ketika aku tak memberinya makan sekalipun mereka tetap akan berenang di empangku. Aku bisa menambahkan banyak ikan semauku. Kemudian denganku? Aku mulai teralienasi oleh dunia cyber ini. Perlu interaksi dari dunia luar yang benar-benar bermateri. Namun di tempat ini diriku seperti terjebak dalam sebuah dunia maya yang semu. Dan aku tak bisa lari.


Aku ingin menjadi ikan. Berenang jauh di samudra dengan petualangan-petualangan nyata menantang hiu dan paus pembunuh. Hmmm....
Images

Panda Pink

Ini teman baru dari BJ. 
BJ yang kasi nama, Panda Pink. 
Matanya menyilaukan seperti alien.hihihihihi.
 Btw, terima kasih BJ.
Images

Absurd

Jarum telah beranjak dari posisi terhimpitnya. Sudah duapuluh menit dia beranjak dari titik itu. Ia kembali mengitari bulat angka dari 1 hingga 12. Adakah kau tahu sebuah lelucon tentangnya? Tentang mengapa jarum jam berputar? Jawabnya karena ia mencari angka 13 yang tak kunjung ia dapati. Hey, mengapa tersenyum kecut? Adakah yang membuatmu sedih di malam selarut ini.

Mengapa kau belum beranjak dari tempatmu? Apakah kau menunggu seseorang? Dia  special? Ada sedikit senyum di wajahmu. Sesaat membuat rona pipimu memerah. Namun, sekedip kemudian senyum itu kembali membentuk garis lurus. Sedikit tertekuk malah. Kamu sedih. Kenapa? Apa dirinya tidak datang?

Dia ada. Aku tahu pasti kapan dia ada. Namun sekejap aku pun tahu kapan ia beranjak Aku selalu ada sebelum dia hadir. Aku selalu menungguinya pamit sebelum aku pamit. Aku selalu ada kapanpun ia butuh. Aku menjadi mata, telinga, dan juga mulut untuknya. Aku menemaninya. Berusaha meluangkan waktu seberapapun sulitnya. Menyisipkan semenit saja buatnya. Aku tak tahu lagi siapa yang yang menjadi ordinat dan subordinat. Aku menanti kapan dia datang. Sekedar lewat bersama angin. Aku bahagia ketika mendengar suaranya. Meski aku sadar ia takkan pernah mau memulai percakapan itu duluan. Kadang aku nakal untuk menyapanya lebih dulu Menegurnya agar ia sekedar menoleh padaku. Sesekali aku berhasil membuatnya larut dalam situasi yang kubuat. Namun tak jarang ia mampu pergi. Serupa asap lurus tiba-tiba acak dan kemudian menghilang. Meninggalkan jejak menganga di hatiku.

Kau menceritakannya padaku. Tak ada ekspresi di wajahmu. Kau seperti membaca teks yang telah kau hapal diluar kepalamu. Hanya matamu yang berbicara. Ada bening yang tak kau tahan jatuhnya sama sekali. Kau memasrahkan dirinya tertarik gravitasi. Sedih itu telah memaksanya bergulir dipipimu. Seperti itukah rasanya di tolak. Aku hanya mampu melihatnya di wajahmu. Wajahmu yang datar namun begitu pahit kupandang.
Kau serupa Cinderella yang tak ingin beranjak dari pesta. Kau telah meninggalkan sepatu kacamu, namun kamu tak yakin apakah pangeran akan datang mencocokkan sepatu itu di kaki. Kau tetap ingin di pesta itu. Tetap melihatnya. Berusaha berada di dekatnya dalam radius yang paling dekat. Mungkin kau berharap menjadi baju perisainya, menjadi makhkota di kepalanya, berharap menjadi pedang yang selalu ditentengnya.  Kamu cemburu pada barang-barang yang hanya menjadi pelengkap untuknya. Karena mereka berada begitu dekat dengan pangeran. Sesekali mungkin kamu ingin dikutuk menjadi barang-barnag tak penting itu.
Sekali waktu ketika kamu merasa ia begitu membutuhkanmu kamu memberikan segalanya. Memanjakannya dalam sebuah zona paling nyaman. Itu menjadi kartu truf untukmu. Ketika kamu ingin dia membutuhkan sekali lagi kamu menggunakan kartu itu. Terlalu sering mungkin. Karena kau telah adiktif kepadanya. Membuatmu tidak tampak elegan lagi. Membuatmu tak begitu special. Membuatmu sangat biasa.

Kartu itu menjadi boomerang yang akan menyakitimu. Karena ia tidaklah seadiktif dirimu. Ia mampu merehabilitasi dirinya sendiri. Ia mampu menyembuhkan diri. Sedangkan dirimu, kau hanyalah pencinta yang menjadi gila dan melemah. Hatimu merayapimu dari dalam. Mengrogoti semuaalat vitalmu dalam senyap, sepi, dan sempurna. Dari jauh kamu tampak baik-baik saja. Tak ada yang rusak. Namun ketika aku harus melihatmu lebih dekat, aku menaruh kasihan padamu. Hatimu merapuh dan kau sama sekali tak bisa menyembuhkan diri.

Aku tak tahu hendak kemana dengan hati ini. Jika mungkin aku hanya mencintainya dalam imajinasiku aku mungkin tak apa-apa. Mungkin jika ia tak perlu tahu akan kehadiranku, aku mungkin baik-baik saja. Mungkin jika ia tak tahu bahwa aku adalah sebentuk makhluk yang eksis di semesta ini, aku takkan sesakit ini. Namun, ia mengetahui bahwa ada makhluk seperti diriku yang menjejak di atas bumi ini. Ia menyapaku, sesaat membuatku terlena akan sebuah bahagia yang kutahu absurditasnya sangat jelas. Ia bahkan ikut menepuk saat aku menepuk cinta. Namun, selanjutnya ia pergi. Sekenanya. Mungkin ada saat dia datang lagi berkunjung. Tapi aku hanyalah seperti  peramal dalam tenda sirkus yang merindukan seseorang datang untuk dibaca garis tangannya. Aku selalu ada di tenda itu, sedangkan orang-orang itu mungkin tak lagi ingin berkunjung karena ramalan adalah sesuatu yang tak pasti. Seperti tak pastinya rasa ini.

Kamu masih dengan wajah datarmu. Apa sesakit itu jika lonceng cinta telah di bunyikan bersama namun salah satunya berusaha mendiamkannya. Aku pernah memahami bahwa mencintai bayangan saja lebih menyakitkan. Menjadi pengagum rahasia tanpa pernah diketahui adanya sesuatu yang lebih menyesakkan daripada dia tahu engkau ada. Namun, disini kamu memberiku pandangan bahwa ditinggalkan lebih menyakitkan dari sekedar menjadi pengagum rahasia. Jika boleh menerima kutukan lagi, mungkin kamu ingin memilih menjadi pengagum rahasia saja. Tanpa perlu ia mengetahui bentuk dan aroma tubuhmu. Tanpa perlu banyak  tawa dan percakapan yang kau lalui.
by google

Jarum jam telah menyelesaikan berkeliling dari angka 1 hingga 12. Ia tetap saja belum menemukan angka 13. Seperti itukah dirimu. Mencari sebentuk cinta dan jawaban yang kau tahu takkan kau temukan jawabnya hingga jarum-jarum jam itu menemukan angka 13. Tapi kamu tetap berusaha membohongi dirimu. Mempercayai bahwa ia ada. Setidaknya membuatmu mampu bertahan. Ia seperti penawar sekaligus racun buatmu.

Kau belum beranjak. Matamu tak lagi berkaca. Titik bening itu mongering dengan sendirinya. Tanpa ada jemari yang mengusapnya. Meninggalkan sisa yang sedikit liat dipipimu. Aku menciummu.Mengucapkan selamat malam. Namun kamu tak bergeming. Aku meninggalkan sebuah pisau lipat di tanganmu. Pisau lipat Swiss Army. Berguna untuk segala situasi. Aku menawarkanmu sebuah jalan pintas untuk mati tanpa harus menderita. Sebuah penawar yang juga seperti racun. Tapi yakinlah sakitnya tak begitu lama. Setidaknya ketika kamu mati, alat keren itu yang mencabut nyawamu.

Selamat tidur, aku dan kamu
16 November 2010, tidak tahu jam berapa, tengah malam
Images

Idul Adha Kali Ini

Ini adalah lebaran terjauh yang pernah aku lalui. Berjarak 1413 km, kata Google. Atau 15 derajat dari garis bujur. Selama 24 tahun hidupku setiap lebaran baik itu  Idul Fitri maupun Idul Adha, aku selalu melewatkannya di rumah. Tak peduli hanya ada aku, mamaku, dan Etta, atau hanya ada aku dan Etta saja sejak sepeninggalan mamaku.


Ditengah hiruk pikuk meriahnya takbir di megapolitan ini, ada ruang di hatiku yang merindukan suasana malam lebaran di rumah. Dulu mama akan sangat sibuk memasak di dapur. Malam ini pasti kakak ipah (jika lebaran di rumah, akan sama sibuknya). Jika dulu mama memasak ayam nasu likku' maka menu itu telah berubah menjadi coto ayam.


Dan aku selalu memerankan peran sebagai pembantu umum. Harus bersedia ditempatkan di mana saja. Menerima tugas apa saja. Mulai dari membersihkan rumah sampai mencuci piring. Meracik bumbu bukanlah keahlianku. Karenanya kerja-kerja membersihkan selalu menjadi jatahku.


Malam takbiran di rumah, sepi dengan takbir. Di Bengo, desa sesunyi itu takbiran hanyalah dilakukan setengah jam setelah shalat Isya. Setelahnya ia kembali tertelan oleh sunyi malam. Namun aku selalu menyenangi lebaran di rumah. Ada rasa yang takkan pernah aku dapatkan di tempat lain. Rasa yang sudah aku akrabi sejak aku masih ditimang.


Aku rindu beribadah di mesjid depan rumah. Bertemu teman-teman sekolah yang semuanya telah menjadi perempuan-perempuan dewasa. Ibu-ibu cantik yang menjagai anaknya. Masih aku ingat 14 tahun lalu ketika kami bermain lompat tali di depan halaman mesjid atau bermain masak-masak di samping rumah.


Lebaran ini aku tak sempat lagi nyekar di pusara mamaku.. Ini mungkin pertama kalinya aku tak menjenguknya usai sholat Ied di mesjid. Rasanya sudah seperti ritual mengunjungi di sana. Rasanya sudah sangat lama sejak sepeninggalannya. "Maaf, tak bisa mengunjungi pusaramu. Aku masih terus berusaha menjadi anak yang baik untukmu".


Ini adalah lebaran terjauh yang pernah aku lewatkan. aku yakin akan banyak lebaran lagi yang akan aku lewatkan lebih jauh dari tempat ini. Tapi hatiku selalu rindu pulang. Rindu rumah itu meski dalam sepi sekalipun. Aku menyimpan sepotong hatiku di sana. Kelak aku akan pulang untuk menengoknya. Meski aku belum tahu kapan. 


Rumah, apa kabar keluarga di sana? Aku titip rindu ini dalam doa....
Selamat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H
Images

Lagi Ingin Melankolis

Pernah tersesat dalam belantara ramai ditengah jerit suara yang memekakan telingamu dan kau tetap merasa tak mendengar apapun?
Apakaha kau pernah merasakan matahari begitu meranggas teriknya, peluhmu telah membasahi tubuhmu namun hatimu tetap berasa dingin?
Pernahkah kau merasakan cinta yang tumbuh sesaat namun membelitmu begitu kuat? Seperti rantai tak kasat mata yang membelenggumu penuh dengan mantra-mantra kuat?
Adakah hatimu pernah merasakan cinta yang begitu semu namun hatimu masih tetap membenarkan setiap gerakmu menujunya?
Pernahkah kau merasakan cinta pada sebuah punggung. Cukup melihatnya saja. Memainkan peran serupa mata-mata dan dia bahkan tidak tahu dan tidak akan pernah tahu hadirmu?
Atau jika kau sedikit lebih gila, kamu mencoba menjadi malaikat untuknya. Hadir di sampingnya meski dia tetap tidak bisa merasakan hadirmu?
Atau yang lebih gila lagi ketika kamu mencoba menjatuhkan dirimu dari gedung tinggi, menjadi manusia, dan mendekatinya?

Cukup menyenangkan jika ia mencintaimu juga meski berpisah setidaknya kamu tahu dia mencintaimu.
Namun sangat menyedihkan jika kamu telah hadir, namun ia tetap tidak mencintaimu. Huh, dunia begitu kejam.
Ini cuma tulisan tidak penting. Sudahlah.....
Images

Ketika Jurnalisme Di Bungkam Sastra Harus Bicara

Aku tiba-tiba mengingat kalimat ini yang juga sebuah judul buku dari salah satu penulis favoritku Seno Gumira Adjidarma. Beberapa kejadian yang heboh belakangan ini di media mainstream dan juga di dunia maya serta beberapa diksusi dengan teman membuatku berpikir bahwa Mas Seno benar.


Jurnalisme seperti sebuah detektif yang harus memecahkan masalah. Ia menjadi seperti mercusuar yang cahaya membimbing kita untuk mencari kebenaran. Namun karena ia adalah sejatinya sebuah fakta (baik secara psikologis maupun sosiologis) terkadang ia menemukan batu sandungan. Terbelit oleh berbagai rantai kepentingan. Pemodal. Politik. Bahkan hingga nyawa. 


Ketika kekuasaan membredel kegiatan jurnalisme atau pemodal hanya sekedar mencari ratting dan memaksakan sebuah agenda kepentingan maka itu adalah kerangkeng jurnalisme. 
Lantas dimana manusia bisa berteriak lantang dan menyuarakan fakta sebenarnya.


Sastra mengambil peran tersebut. Fakta-fakta disisipkan dalam buku sastra. Bahkan terkadang buku novel lebih jujur dibanding buku-buku sejarah. Misalnya saja buku tetralogi Pulau Buru karya Pramoedia Ananta Toer yang berhasil menyajikan setting masa kolonialisme Belanda. Novel Multatuli, Max Havelar tentang nasib rakyat yang dijajah. 


Untuk karya sastra modern semisalnya September karya Noorcha M Massardi yang menyajikan latar kejadian 30 september 1965. Rahasia Meede karya ES Ito dan The Jacatra Secret karangan Rizky Ridyasmara yang menyajikan fakta-fakta sejarah yang cukup lengkap. Sastra seperti sulur-sulur tanaman rambat yang menggerayani tembok (kekuasaan dan pembungkaman) dan dengan lambat namun pasti merapuhkan dan menghancurkan


Jurnalisme terikat oleh seribu satu kendala, dari bisnis sampai politik, untuk menghadirkan dirinya, namun kendala sastra hanyalah kejujurannya sendiri. Buku Sastra bisa dibredel, tetapi kebenaran dan kesustraan menyatu bersama udara, tak tergugat dan tak tertahankan. (www.goodreads).


Ketika Jurnalisme di bungkam sastra harus bicara....
Images

Ollo Si Beruang

Ollo si Beruang
Di sebuah hutan yang lebat dimana pohon-pohon menjulang tinggi. Akar-akarnya belukar di tanah. Rumput-rumput lebih hijau dari yang pernah kamu lihat. Di dalam hutan semua binatang hidup bersama mengikuti hukum alam. Jangkrik-jangkrik dan serangga mengkolaborasikan suara yang harmonis bersama bunyi bunyi gesekan dahan, dan daun berguguran.


Di hutan ini, jauh di dalam hiduplah seekor beruang. Ia bernama Ollo. Ollo sangat bahagia hidup di hutan. Di sini dia berteman dengan imut si semut. Imut tinggal di bawah tanah di samping pohon yang Ollo jadikan rumah. Tak cuma imut si semut, Ollo juga berteman Acil si kelinci. Mereka sering berkumpul dan bercerita. Atau kadang bermain di sekitar lapangan tempat mereka tinggal.


Tempat tinggal mereka jauh di dalam hutan. Di sana terdapat tanah lapang yang tak terlalu luas. Rumput-rumput tumbuh tapi tidak terlalu tinggi.Di balik rumput-rumput itulah Acil si Kelinci membuat sarangnya. Ada batu-batu besar yang berongga yang menjadi tempat Ollo untuk tidur. Di antara batu-batu itu terdapat satu pohon tua yang menjulang tinngi. Di bawah pohon itulah di balik akar-akarnya imut si semut menyimpan makanannya.


Jika sore, mereka selalu berkumpul. Bermain di rerumputan, bercerita tentang pengalaman mereka. Atau sekedar menunggu matahari terbenam saat sore. Jelang malam ketiga sahabat tersebut berkumpul di undakan batu. Berbaring dan menatap langit malam.


Ollo paling suka melihat langit malam. Ia melakukannya tiap malam jika langit tidak mendung dan hujan. Ia betah berlama-lama melihat bulan dan bintang. Bahkan ia rela hingga pagi hanya melihat langit malam bertabur bintang.


Jika mereka berbaring di undakan batu itu, maka imut si semut dan Acil si kelinci akan mendapatkan dongeng tentang rasi-rasi bintang dari Ollo. Tentang Orion si Pemburu. Sirius si anjing langit. Atau juga tentang cerita ada pohon di bulan. Itu seakan menjadi dongeng pengantar tidur bagi Imut dan Acil.


Suatu malam Ollo tiba-tiba membangunkan teman-temannya. "Imut, Acil, Aku ingin ke bulan. Ingin mencari pohon itu" katanya antusias. Imut dan Acil yang sudah terlelap, kaget dibangunkan.
"Ollo, aku kira ada kebakaran di hutan. Kamu mengganggu saja" sahut Acil sambil kembali tidur. Imut bahkan tidak menggubrisnya. Ia telah lelap kembali.
"Teman-teman, dengarkan. Aku ingin ke luar angkasa. Aku ingin ke tempat bintang-bintang dan bulan" katanya lagi. Sangat antusias.
"Ollo, tidurlah. Sudah sangat larut. Besok pagi saja ceritanya "ujar imut.
Tapi Ollo tidak lagi mendengar komentar Imut. Ia telah yakin tentang misinya. Sambil menggelung memandang langit. Sebuah bintang berkedip di atasnya. Ia tersenyum dalam tidurnya. "Bintang...'gumamnya dalam mimpi.


Esok paginya ia dengan semangat menceritakan keinginannya ke langit. Menjangkau bulan dan bintang. 
"Ollo, itu sesuatu yang mustahil ", kata Acil. "Tak ada beruang yang pernah menjelajah di luar angkasa. Apalagi ingin mengunjungi bulan dan bintang".
"Iya, Ollo. Acil benar. Tapi, mengapa tiba-tiba kamu mau ke bulan dan bintang-bintang itu?"tanya imut penasaran.
"Aku ingin tahu apakah benar ada pohon di bulan. selain itu aku ingin memetik satu bintang kecil di langit untuk kita simpan di sini. Di dalam hutan ini. Aku ingin menyimpannya di buku tulisku" Jelas Ollo.
" Bintang itu tak sekecil itu Ollo. Mungkin dari atas batu ini kita melihat mereka begitu kecil. Tapi mereka tidak ada bedanya dengan bumi. Mereka juga sangat besar. Hanya saja tempat kita sangat jauh darinya sehingga kita melihatnya dalam bentuk kecil" tutur si Imut.


Ollo tampak sedih. Ia membenarkan pendapat teman-temannya. Tapi ia telah jatuh cinta pada langit, bulan, dan bintang. "Apa yang harus aku lakukan? Aku sangat menyukai kelap kelip mereka. Aku ingin menyimpannya di antara buku-buku bacaanku. Di dalam buku-buku tulisku" katanya sedih.


"Begini saja. Kamu kan pintar mendongeng. Nah, buatlah dongeng tentang bintang, bulan, dan benda-benda langit lainnya. Kamu tulis di buku. Bukankah itu sama dengan menyimpan cahaya bulan dan kerlip bintang?" saran si Acil.


"Ya, benar. Itu saran bagus, Cil. Langit juga takkan pernah meninggalkan kita. Ia akan tetap di atas sana. Kita masih bisa melihat bulan dan bintang tiap malam tanpa kamu harus memilikinya. Lagian kalo kamu tetap ngotot, bintang-bintang itu takkan membagi cahaya lagi pada yang lain hanya padamu " kata Imut.


Ollo pun tersenyum sumringah. Teman-temannya telah memberikan solusi paling bijak. Ia akan menuliskan dongeng tentang bintang-bintang. Juga tentang bulan. Dan juga langit. Ia tak perlu mengambil bintang di langit. Biarlah dia tetap di sana. Ia yakin tak hanya dirinya sendiri yang menyukai pemandangan langit malam.


Sore itu ia telah memulai menuliskan dongengnya. Sambil memandang langit ia menulis tentang dongeng tentang putri bintang. Ia telah menambahkan satu bintang lagi. Bintang di buku ceritanya. Bintang di langit tampak berkelap kelip menyambut bintang baru di buku cerita Ollo. 


Tapi,bagaimana dengan cerita pohon di bulan. Ollo tidak lagi mempertanyakannya. Karena ia akan membuat dongeng bulannya sendiri.


( Kamar kost, 101110 -sendirian mengkhayal)
Images

Permen Wonka


Aku mendapat permen Wonka pagi ini. Belum aku coba. Rasa di bungkusan bertuliskan banan. Warna kuning. Cuma sebiji. Aku memandangi bungkus permen itu. Membaca bungkusnya dan melihat lambang tulisan wonka yang sangat khas membuatku teringat pada film Charlie and The Chocolate Factory yang dibuat oleh Tim Burton dengan aktor andalannya Jhonny Depp. Aku pikir pabrik permen ini hanya ada di dunia film.Ternyata benar-benar ada
Apa hubungan antara keduanya?



The factory was first started in the late 1950s, when a small, family-owned company started Breaker Confections in Chicago. in 1965, Sunmark Companies purchased Breaker Confections. The name was changed to Willy Wonka Brands in 1980, and to Willy Wonka Candy Factory in 1993. In 1988, the Sunmark Companies became part of NESTLÉ.
The name Willy Wonka came from the well-know book about Charlie and the Chocolate Factory. Charlie and the Glass Elevator also inspried the name. In 1971, the film Willy Wonka and the Chocolate Factory was invented.
The Willy Wonka Candy Factory produces some of the most fun, innovative, high quality candies in the world. Willy Wonka's "scrumdidlyuptious" candy which was inspired by the famous books and movie, is unsurpassed in appearance, flavor and packaging. It provides a deliciously different eating experience that sparks the imagination in kids of all ages. (http://wonkacandy.tripod.com)



Ternyata seperti ceritanya. Film yang dibuat oleh Tim Burton pun adalah adaptasi dari film versi tahun 1971 yang berjudul Willy Wonka and The Chocolate Factory. Rasanya pengen coba permen "Scrumdidlyuptious" yang menurut website resminya http://stage.meals.com adalah permen yang tak tertandingi dalam penampilan, rasa dan kemasan, tetapi memberikan pengalaman makan nikmat yang berbeda yang percikan imajinasi pada anak-anak dari segala usia.


Permen itu masih utuh di smpingku.Sebentar lagi akan berakhir di mulutku. Di balik bungkusnya ada joke khas Amerika yang kadang tidak kupahami.


Q : Why did the chicken go to the library?
A : To check out a bawk,bawk,bawk,bawk.


Q : How did the monkey cross the road?
A : It jumped on chicken's back 


Hmmm....aku makan saja permen ini!!!! :D
Images

Kakakku Ipah

Saat coast 
Aku memiliki dua kakak perempuan. Apakah menyenangkan? Tentu saja. Perempuan selalu menyenangkan jika berkumpul lebih dari satu. Yang pertama akrab aku panggil Kak Anti. Yang nomor dua biasa aku panggil Kak Ipah. Saat ini aku akan menceritakanmu tentang Kakakku Ipah. Nantilah aku jelaskan sebabnya.


Ia lebih tua 5 tahun dariku. Sejak kecil aku tumbuh bersamanya. Kami tidaklah seumuran. Aku masih kelas satu SD ketika ia sudah akan ujian ebtanas di kelas 6. Jarak antara usiaku dengan usia Kak Anti, kakakku yang paling tua adalah 7 tahun . Aku masih main tanah dia sudah tahu belajar bagaimana pacaran itu. Ketika kelas 5 SD, dia sudah kuliah di Makassar. Secara otomatis aku lebih banyak melewatkan hariku tumbuh bersama Kak Ipah.


Bagaimana aku menggambarkan Kak Ipah? Beauty and Brain. Dia cantik, dia pintar. Tapi maaf untuk behavior aku harus lebih objektif. Kak Ipah adalah tipe perempuan paling keras kepala yang pernah aku kenal. Jika perempuan adalah cuaca yang tak bisa ditebak, maka perumpamaan itu sangat cocok untuknya. Ia seperti Storm dalam film X men. Mampu mengubah hari yang begitu terik oleh matahari dengan satu raut muka yang mengerut. Maka siap-siaplah mendapatkan Mojjo’nya. Cuaca hatinya paling gampang berubah dari senang menjadi marah atau tidak mood. Tapi janga harap sebaliknya. Moodnya kadang susah untuk kembali. Seperti cuaca, biarkan saja ia mereda. Nanti baikan lagi. Nah, seperti itulah dia.


Waktu sekolah menengah paling malas bangun pagi. Mama dan Etta perlu menggedor pintu kamarnya sampe terdengar ke tetangga. Paling malas kerja-kerja di dapur. Apalagi kalo cuci piring. Dia pasti akan meminta padaku untuk mencuci piring. Entah kenapa, aku pun nurut jika disuruh cuci piring. Kayaknya dia juga punya kekuatan untuk menundukkan pikiran seseorang.


Tapi dia paling rajin belajar di rumah. Kalo ujian sekolah, dia dengan kekuatan penuh akan belajar. Tengah malam sampai subuh. Mamaku biasanya menyediakan susu hangat saat malam hari dan telur ayam kampong setengah matang buat sarapan. Itu adalah ritual belajar tengah malam. Tapi aku mungkin yang paling malas belajar tengah malam. Bangunnya 4.30 pagi dan kerjaku adalah mengkhayal dan tidak belajar. Hehehehehehe.


Kakak Ipah adalah tipe anak sekolah popular di kampungku. Tidak di SD,SMP, dan, SMA , dia selalu juara kelas. Untungnya aku agak beda jauh angkatan dengannya. HIdup di bawah bayang-bayang kepintarannya di sebuah sekolah meski itu ia sudah meninggalkan almamater itu kurang lebih lima tahun tetap saja menakutkan. Upaya untuk membandingkan akan selalu terjadi. Dia pintar dan aku bodoh :P. Dia punya bakat menulis yang tinggi (Bukan Cuma Aku loh :p). Aku pernah membaca tulisan-tulisannya saat SMA, hanya saja dia tidak mengasah bakat itu.


Aku tahu banyak cowok-cowok di sekolahnya yang menaruh hati. Tapi Kakak Ipah adalah tipe cewek jual mahal. Hahahahaha. Aku cuma tahu ia pernah dua pacaran selama SMA. Tapi kisah cintanya pun tidak berjalan mulus. Patah hati dan mematahkan hati kayaknya sudah pernah dia rasa.


Kakak ipah yang mengenalkan padaku tentang MTV, majalah remaja, Boybands, Lima Sekawan, Harry Potter dan semua soul food lainnya. Aku cukup bersyukur dengan seleranya yang lumayan bagus. Hehehehe. Setidaknya, aku tidak terlalu kuper. Pernah kami nonton konser di TV sambil menangis-menangis karena menonton idola kami. Atau berteriak sama-sama jika mendapat info terbaru. Pernah di marahi sama mama karena teriak-teriak berdua pas tengah malam. Saat mendengar album natalnya BSB. Enteng saja kami bilang, “ini soul food, Ma”. Atau merekam lagu-lagu MTV lewat walkman yang dijaman itu sudah sangat keren.


Kami sama-sama pemimpi. Memimpikan bertemu dengan pangeran Blondie yang berada di seberang benua. Mimpi yang begitu mustahil saat itu. Namun hanya itu yang kami punya di desa sekecil Bengo. Aku dan kakak ipah tipe anak rumahan. Kami jarang keluar rumah. Tapi MTV yang mendatangi rumah kami. Hadir di layar televisi 14 inci kami. Dan disanalah kami merajut mimpi.


Meski dekat, aku dan Kak Ipah juga sering bertengkar. Tapi intensnya lebih sering kalo sama Kak Anti. Kalo sama kak ipah, biasanya kami sehati. Hahahahahaha. Sejak tahun 1999, dia kuliah di Universitas Hasanuddin. Mengambil jurusan Kedokteran. Saat itu aku masih SMP kelas dua. Rasanya kehilangan teman bermain . Tidak ada yang menemani nonton MTV sama-sama atau mendengar cerita-cerita tentang teman-teman SMAnya.


Jika liburan sekolah, aku sering ke Makassar. Dia dan Kak Anti yang menemaniku jalan-jalan. Mengenalkan bagaimana nonton di Bioskop. Kak Ipah pernah mengikutkanku kuliah di kedokteran. Menemaniku menonto film Harry Potter II: Chamber of Secrets. Aku rela bolos sehari dari sekolah demi film ini.


Tahun 2004, aku pun kuliah. Mengambil jurusan Ilmu komunikasi. TIdak seperti dua orang kakakku yang mengambil jurusan IPA. Di tahun ini, kami tidak begitu dekat. Meski hidup se kost. Dia terlalu sibuk dengan Coastnya di rumah sakit dan aku pun mulai sibuk kuliah.


Kami jarang berinteraksi. Saat-saat Coast adalah saat-saat yang paling menegangkan bersamanya. Tingkat stresnya sangat tinggi. Kalo mukanya terlipat, artinya jangan diganggu. Serem pokoknya. 2006 ia menikah dengan pacarnya. Sampai saat ini dia sudah memiliki dua anak lucu. Kevin dan Khanza. Ia sudah menjadi dokter di kampung kami.


Jika dulu dia mempengaruhi hidupku, sekarang aku yang mempegaruhi hidupnya. Membuatnya membaca Stephenie Meyer dan jatuh cinta pada Edward. Memasok Tetralogi Laskar Pelangi. Buku-buku karya Dan Brown. Menghasutnya membuat fesbuk dan ia pun kecanduan akannya.


Kami tak pernah lagi bertengkar. Rasanya sudah lama sekali tidak melakukan pertengkaran mulut untuk hal remeh temeh. JIka sekarang ada yang didebati pastilah tentang keluarga. Kami saling menyapa layaknya teman perempuan. Ibu-ibu arisan. Waktu benar-benar telah merubah segalanya. Ia kadang meminta pendapatku tentang ruang prakteknya. Jika pulang dari kantor, dia akan bercerita tentang pasien-pasiennya. Tentang kantornya. Dan orang-orang yang ditemuinya. Ia kadang terlalu capek untuk menjagai anaknya. Atau juga ketika dia kelelahan dari kantor dan ada pasien yang datang ke rumah, aku sering mengatakan padanya “one step closer”. Sebuah mantra untuk membuatnya bersemangat. Dia sangat pandai menabung dan sangat ingin memiliki Iphone. Hahahahaha. (Menabung memang mi, nanti titip sama Dwi saja :p).


Pernah sekali aku memposted foto SMP nya yang sangat lucu. Berambut kepang dua dan membaca majalah Anita versi cover lukisan. Sangat jadul. Dia murka. Hahahahahaha. Tapi, untungnya dia sudah dewasa. Beruntung, aku masih diterima lebaran idul Fitri di Bengo.


Satu yang tidak berubah darinya. Dia masih tetap malas membersihkan rumah. Meskipun kalo di dapur dia sudah sangat lincah membuat kue dan aneka masakan. Tapi ia tetap malas mencuci. Cuci baju, cuci piring. Membersihkan rumah. Jika aku pulang, aku selalu berusaha mengosongkan tempat cucian kotornya. Biasanya kalo sudah begitu, ongkos ke Makassar dia yang tanggung. Kalo lebaran ini Dwi pulang dan mencucikan baju kotornya, di kasi’ tiket ke Jakarta nda ya.* liriklirik kak Ipah.


Btw, mengapa aku menulis tentangnya? Oh, aku lupa. Nama lengkapnya adalah Haripahyanti. Haripah berarti Hari Pahlawan. Ya, dia lahir hari ini, 10 November. Karena itu aku menulis tentangnya. 28 tahun mungkin telah membuat banyak hal berubah, tapi jangan pernah berhenti bermimpi. Ibu dua anak sekalipun tetap punya hak mengejar mimpi.


Selamat ulang tahun, tetaplah menjadi kakak yang baik buatku. Kakak yang memberikan uang jajannya waktu aku sakit di sekolah saat aku kelas 1 SD dulu.


Be A Happy Woman 
Images

Dari BJ, Kuberi Nama Ollo

Aku menemukan teman baru di fesbuk. Baru seminggu ia menerima permintaan pertemananku. Tapi kami (terlebih aku) merasa kami nyambung cerita banyak hal. Bagaimana aku mengenalnya? Hmmm...aku melihat fotonya di album foto teman di fesbuk. Liat profilnya yang ternyata seorang blogger.
Ini BJ, foto profilnya di Fb (hehehehe...terlalu gagah untuk mejeng di terasimajiku)


Agustus lalu, aku me-link blognya di blogku. Kala itu alamat blognya masih di wordpress. Last update-nya berbulan-bulan yang lalu. Selama aku men-link blognya di blogku, tak pernah sekalipun aku menemukan tulisan terbarunya. Tapi itu kubiarkan saja.


Seminggu yang lalu saat mengupdate blog, aku menemukan ia menjadi follower blogku. Ternyata dirinya telah pindah rumah ke blogspot.(Nama blognya aneh, mountainmama. Apa artinya ya )Aku pun meng-add-nya sebagai teman di fb. Gayung bersambut, ternyata dia menyenangkan diajak ngobrol. Kami sama-sama dari Bone. Sama-sama suka museum, sama-sama suka nonton, dan sama-sama suka nulis. Tapi dia pandai menggambar dan aku tidak. Hehehehehe.


Ollo (sayang formatnya kecil)
Aku memanggilnya BJ. Singkatan dari Bang Joy. Supaya singkat dan lain sendiri. Meski belum pernah ketemu , aku suka menyapanya via inbox fb. Aku suka gambar-gambar yang dia buat. Mengingatkanku pada Keenan, salah satu tokoh dalam novel Perahu Kertas-nya Dee. (Kemarin dia bertanya, apakah aku suka Dee. Aku menjawab iya, kenapa? Tapi sampai sekarang dia belum menjawab pertanyaanku. Kenapa BJ? Bisa temani Dwi mencari Dewi?:)


Aku iseng memintanya dibuatkan satu gambar kartun. Tanpa spesifik menjelaskan seperti apa. Senangnya, dia tidak menolak. Tadi aku menemukan gambarnya di inbox ku. Lucu. Gambar beruang menengadah ke langit. Paling suka karena ada gambar bintang dan bulannya. 


Tadinya aku berharap digambarkan cewek dengan muka seperti malaikat atau peri (maunya seperti peribiru yang sering aku tulis cerita dongengnya..hahahah...banyak maunya). Atau setidaknya mirip manga Jepang. Hahahahaha. Tapi dapatnya beruang. "BJ, itu cewek atau cowok?" tanyaku. Dia jawab "terserah". Baiklah aku anggap dia cowok. (Supaya nanti dibikinkan gambar cewek-kalo BJ mau-). Aku memberi nama Ollo pada beruang itu. Pelafalannya seperti mengucapkan kata "Hallo". Mengapa nama itu. aku terinspirasi dari film Megamind dan sms yang kuterima pagi tadi.


Kami sempat bercerita tentang tulisan yang akan aku tulis. Aku tak punya ide sama sekali. Tapi setelah melihat si Ollo, aku jadi ingin menempatkannya di blog ini. Makasih ya :)


BJ, makasih ya gambarnya. Aku suka skali.