Images

Bertemu Denganmu

Menahun tak pernah menemuimu. Aku dan kamu selalu membuat janji untuk bertemu. Sekali pernah di masa silam kita bersua. Berkarib dan menjadi dekat. Sekali yang cukup mengeratkan ikatan. Waktu tak membuat kita berhenti di sana. Bergerak dan membentuk keterpisahan. Waktu adalah rentan terjauh melebihi batas geografis yang membentang. Aku dan kamu terpisah. Dan waktu bergerak pada zona kita masing-masing. Kuliah, belajar, dan segala tetek bengek yang membuat kita tak sempat bertemu. Menahun. Hingga pertemuan itu akhirnya ditepati.

Aku akan datang, kataku. Mau dibawakan oleh-oleh apa? Bawa hatimu saja, katamu.

Hatiku? Seketika ada ruang kosong saat itu juga. Keselami kedalaman hatiku. Apakah waktu tak merubah banyak hal disana? Aku sangsi. Menahun hingga kita bersua. Seberapa banyak detik yang kita bagi bersama. Hati adalah benda paling ajaib yang kita punya. Kita tak pernah tahu seberapa berubah dia hingga kita menyadarinya. Waktu mengubahnya.

Kucoba membawa hati yang sama. Tapi aku tak yakin akankah sama buatmu? Kita bertemu dan semua memang telah berubah. Kita bertumbuh dan menjadi dewasa. Berbicara banyak hal. Hanya saja kita tak pernah menyinggung tentang rasa. Kupikir kita telah begitu bijak menjaga itu.

Dan itu adalah kali kedua kita bertemu. Berharap bertemu untuk kali ketiga dan seterusnya dimasa datang. Tapi sekali lagi ketika kesempatan itu datang, waktu yang bergerak disekeliling kita tak menyetujui sebuah pertemuan. Hingga aku mendapati sebuah pesan darimu pagi ini. Sebuah pesan serupa selamat tinggal. Pesan yang mengingatkan bahwa waktu mungkin tak bisa lagi kita nikmati bersama. Dan mungkin tak adalagi pertemuan ketiga dan seterusnya...

Seketika aku kembali mengingat satu kalimat dibuku Dee. Kalimat yang juga melintas dibenakku ketika kita akan bersua.
"Satu menggenapkan,dua melenyapkan"

Kita telah memiliki dua, apakah kita akan segera lenyap berdenyar? (*)


Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Di Suatu Sore

Salah satu foto favoritku bersama Ara. Lokasinya di taman Rotterdam. Saat senja perlahan tertelan horizon. Difoto sama Ema. Saya suka foto ini. Suka, suka, suka \(^^)/
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

10 Bulan, 24 Hari

Hari ini umurmu 10 bulan, 24 hari. Kaki kecilmu mulai belajar berdiri. Belajar menopang berat tubuhmu. Meski masih harus dibantu berdiri dan berpegangan. Tapi kaki kecilmu itu kuat berdiri lama. Sampai kamu merasa pegal dan berteriak tidak bisa duduk. Spot favoritmu adalah jendela besar di kamar. Dengan boneka teru-teru bozu yang selalu menjadi tempatmu berpegangan. Jangan tanyakan lagi tentang kemampuan merangkakmu. Sudah begitu expert. Sudah masuk dalam kategori lari menurutku. Sayangnya saya tidak sempat mengikutkanmu lomba merangkak di MaRi. Saya tidak tahu sama sekali dan saat itu bertepatan ketika kita berpelesiran ke Malino.

Rasanya seperti orang kaya saja berpelesiran. Meski itu hanya ke Malino. Seminggu sebelumnya kuajak kau ke Jakarta. Umurmu baru 10 bulan nak tapi kau cukup kuat diajak kemana-mana. Maafkan mamamu yang sangat suka jalan-jalan ini. Entah jika hati kecilmu menolak bepergian, kamu tetap patuh kemanapun saya membawamu. Tanpa penolakan, tanpa rengekan.

Gigimu mulai bertumbuh. Enam kini. Kecil-kecil putih di mulutmu. Menyusuimu makin menyeramkan. Kamu mengigigit hingga lecet.

Umurmu baru 10 bulan, tapi rasanya kamu bertumbuh begitu cepat. Bayi mungil yang dulu kutimang tak berdaya, kini telah bergerak sendiri menurut kemauannya. Memprotes jika dilarang, melarikan diri ketika dipaksa. Kamu tak lagi suka jika hanya bermain di atas kasur. Kamu telah menjelajah sudut-sudut rumah. Ruang tamu hingga dapur. Toilet-toilet rumah. Dan favoritmu adalah kolong-kolong meja. Tidak peduli tinggi atau rendah. Kamu selalu bisa masuk dan keluar tanpa terantuk dan menangis. Saya tak pernah tahu apa istimewanya kolong meja, tapi kamu dengan senyum ceria keluar masuk di sana. Serupa menemukan goa penuh harta karun.

Saya selalu mengeluh ketika menggendongmu, tubuhmu yang berat meski menyusut 500 gram. Gerak badanmu tidak tenang dalam gendongan. Tanganmu yang menggapai-gapai ingin meraih benda-benda yang menarik perhatianmu. Tapi ini hanyalah masalah waktu ketika aku tidak lagi menggendongmu. Hanya menuntun tanganmu untuk berjalan. Kelak mungkin akan kulepas jemarimu dan membiarkan kakimu membawamu meniti jalanmu. Saat itu saya hanya mampu menyelimuti dengan doa sambil merindukan hari ini. Hari dimana kamu masih bisa bergelayut manja dan tenang dalam gendonganku.(*)

*Tulisan ini untuk merayakan usia 10 bulanmu.
** foto di bawah kolong meja bareng Kevin dan Khanza
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Kisah Sore Ini

Sore ini mama jengkel sama Ara. Ara nda mau makan. Maunya dekat mama tapi saat disendokkan makanan dengan sigap memalingkan muka. Mama marah sama Ara. Ara kalo pergi main sama Khanza suka seenaknya saja. Giliran mama yang tiba-tiba pergi, Ara nangis kejar-kejar. Padahal Mama cuma di toilet. Ara bakal menangis sesunggukan di pintu toilet. Menangis sedih.

Mama mogok ngobrol sama Ara. Tiap Ara menangis mama cuek. Mama menjauh dari Ara. Ara akan menangis keras. Mama tetap cuek. Sampai Ara datang mendekat sambil merangkak. Merebahkan kepala ke pangkuan Mama. Mama masih marah. Entah kenapa rasa mama begitu putus asa memberi makan. Entah itu kamu menolak tiap suapanku atau kamu buang makanannya.

Mama tiduran di kasur dan kamu datang menangis kecil-kecil. Meminta perhatian. Seperti paham bahwa mama sedang marah. Kamu berusaha menarik perhatian. Naik ke badanku, memukul-mukul mukaku dan melakukan banyak hal lain.

Mama marah Ara, tidak padamu. Tapi pada diriku sendiri...(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

How I Meet Bang Joy

Saya mengenalnya lewat fesbuk. Membaca blognya dan meng-add YMnya. Ngobrol banyak hingga tukaran pin BB. Kadang intens ngobrol kadang juga tidak. Topik obrolan selalu saja menyenangkan. Mulai dari film hingga masa kanak-kanak. Mulai dari diskusi ringan hingga yang sedikit memusingkan. Mulai dari alien hingga zombie. Dia mengirimiku film-film dan saya mengiriminya buku. Seperti itulah pertemanan yang terjadi. Akrab juga tidak, tapi juga cukup dekat.

Setiap ulang tahunnya saya pasti akan menelponnya. Kami sepakat telepon 1 menit lebih berarti dari ucapan selamat di fesbuk yang tepat waktu. Sekali saat ia ulang tahun saya menelponnya. Percakapan pertama kami secara langsung meski lewat telepon. Selamat ulang tahun, sesingkat itu. Tapi percakapan itu membawaku pada interpretasi yang berbeda. Saya menemukan dirinya yang berbeda dari bahasa tulisnya. Kami yang dengan gampang chat menggunakan logat makassar. Menggunakan mi, ki, ji, dan semua kata yang hanya bisa di pake di daerah makassar dan bone. Ia berasal dari Bone, begitu juga saya. Bedanya saya pribumi,dia cina peranakan. Dan saat meneleponnya, saya menemukan dirinya dalam logat Jakarta kental. Kaku. Telepon itu adalah telepon pertama dan satu-satu. Ulang tahun berikutnya saya menelpon namun sayang nomornya tidak aktif.

Di fesbuk kadang saya menemukan orang yang menyenangkan kadang juga menyebalkan. Yang menyenangkan sangat enak diajak ngobrol. Beberapa malah kadang saya bayangkan seberapa asyiknya jika bertemu. Beberapa saya berharap bisa benar-benar bersua tanpa lewat fesbuk. Dia masuk dalam beberapa kawan yang ingin saya temui. Meski dia orang Bone, tapi sangat jarang pulang ke Bone. Maka ketika saya ada di Jakarta, saya sangat berharap bisa menemuinya.

Gayung pun bersambut. Kami janjian bertemu di mall dekat hotel tempat saya menginap. Saya agak ragu awalnya. Takutnya ngobrol tidak enak atau tidak akrab. Kami janjian di JCO. Sambil menggendong Ara saya clingak clinguk mencari cowok Cina ( di Mall yang rata-rata orang cina itu agak susah), cakep, tinggi dan besar. Tak ada yang nongkrong di JCo. Kuedarkan pandanganku, tau-taunya dia ada dibelakangku. Memakai jaket jeans, bando di kepala, dengan badan yang begitu tinggi dan besar. Saya senang. Saya akhirnya bertemu dengannya. Dengan orang yang mengirimkan saya film Cinema Paradiso dan Totoro. Film yang baru saya sadari begitu melegenda.

Komentar awalnya, kenapa semua orang bone kalo ke jakarta hilang bonenya. Hahahahaha. Oke, cukup mencairkan kekakuan. Saya pun dengan nyaman menggunakan logat makassar. Ngobrol di JCO habis itu di traktir di bakmi gajah mada. Senang senang senang. Ngobrol macam-macam. Seperti biasa, topik obrolan yang loncat-loncat tapi menyenangkan.

Dia pun akrab dengan Ara. Ah, saya pikir karakternya yang mudah akrab dengan anak-anak. Dia adalah figur om kebapakan. Bukan figur om yang cuma hanya om :D. Hahahaha. Sangat cocok jadi ayah.

Keliling-keliling Mangga dua square. Mall ini agak aneh. Eskalatornya naik berada di tengah-tengah dan sangat mudah ditemukan. Sedangkan eskalator turunnya entah berada di mana. Banyak toko-toko yang berbau hio. Bau yang sangat disukainya. "Beraroma mistis" katanya. Heh? Tapi iya juga sih. Bau dupa, patung-patung giok, akar-akar tanaman sangat erat kaitannya dengan mistis. Dan itu sangat mudah ditemui di jejeran toko-toko itu. Katanya sangat wajar menemukan cina peranakan disini karena mereka banyak berdomisili disini.

Dia pun mengajak saya berjalan-jalan ke bioskop surya. Bioskop yang mengingatkan saya pada Makassar theater di Makassar. Yang ternyata dikelola sama omnya. Sayangnya, makassar theater harus tutup. Padahal bioskop itu cukup keren untuk bisa bersaing dengan XXI dan 21 yang mulai menjamur. Interior yang terkesan klasik yang membedakan bioskop surya dengan XXI. Begitu juga pada Makassar theater. Interiornya terkesan romantis. Tiketnya pun masih sobekan karcis. Tempat duduknya seperti tempat duduk di society de harmonie. Karenanya saya selalu menganggapnya romantis. Sayangnya sudah ditutup. Saya cuma sekali nonton di sana :(.

Dan begitulah, saya, Ara, dan Bang Joy mengelilingi Mall. Mengomentari barang-barang yang dijual di sana. Atau duduk di selasar mall sambil menungguinya merokok. Hingga harus berpisah di depan lift sambil dadah-dadah kayak sinetron.

Sayangnya, saya nda sempat meminta untuk berfoto bersama. Membekukan satu pertemuan untuk nanti diingat kembali. Bahkan saya lupa berkata, Hajimamisate....
Semoga bisa bersua kembali ^^ (*)

Hmm...fotonya tidak dipublikasikan disini meski saya punya foto cakepnya yang naik byson:D. Jadi foto diatas anggaplah ilustrasi tentangnya. Dikasi sama dia, nda tau kalo dia gambar sendiri ato nda. Dia ilustrator yang cerdas ;)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Jakarta Jakarta

Tak ada niat liburan sebenarnya. Apalagi mengunjungi ibukota yang semrawut. Beberapa bulan tinggal di sana tahun lalu cukup membuatku menganggap Jakarta bukanlah tempat yang nyaman. Lot berpergian tahun ini cukup banyak. Pulang balik makassar Baubau sambil membawa Ara cukup melelahkan. Entah kenapa saat punya anak baru kepikiran untuk jalan-jalan. Dan datanglah tawaran itu. Kakak Ipah yang tidak punya teman untuk ke Jakarta nonton konser Backstreet Boys dan suami yang begitu baik memberikan tiket pulang pergi Jakarta Makassar. Dan jadilah saya dan Ara menemani kakak Ipah ke Jakarta. Jauh-jauh hari tiket sudah dibooking. Sejak februari dengan keberangkatan akhir Mei. Yang menyenangkan jalan-jalan bersama kakak Ipah adalah semua akomodasi ditanggung. Tapi yang harus dipastikan adalah bahwa ia benar-benar datang ke bandara dan ikut dalam perjalanan. Sekalipun tiket pesawat, tiket konser, dan hotel sudah dibooking segala hal bisa dibatalkan kalo moodnya tidak enak. Makanya jika jalan-jalan bersamanya perlu memastikan bahwa ia ikut rombongan. Dan saya berhasil meyakinkan dirinya datang ke Makassar dan ada di bandara. Segala kalimat bijak diucapkan. Pamungkasnya adalah jika perjalanan ini batal maka ada dua mimpi yang tidak terwujud, jalan-jalan dan bertemu Backstreet Boys.

Akhir Mei kami pun menginjakkan kaki di Bandara Soekarno Hatta. Saya lantas mengingat judul buku trinity "Dua Hippo tersesat di Bizantium". Kalo kami cocoknya dua saudara tersesat di Jakarta. Aneh juga jika sampai tersesat di Jakarta. Bahasa yang dipakai sama, mata uang pun sama. Untungnya banyak teman yang dengan baik hati menjemput, menemani, dan mengantar di Jakarta. Melakukan perjalanan sendirian berarti harus mengandalkan diri sendiri. Dan perjalanan kali ini meski tidak sendirian tapi saya pun harus peka. Secara kakak Ipah tidak pernah ke Jakarta dan dia mengandalkan saya. Pertama kali datang ke Jakarta kupikir kota ini cukup rumit dipahami. Tapi pada akhirnya saya mulai sedikit paham. Terlebih rutenya. Busway selalu menjadi sarana transportasi yang menyenangkan dan sangat membantu kemana-mana.

Kami menginap di Amaris Mangga dua square. Rute yang biasa saya lalui dulu bersama Kak Yusran. Samping Mangga dua adalah ITC Mangga Dua. Tempat yang menyadarkanku bahwa kartu kreditku terblokir dan tidak jadi beli kamera. Tempat itu cukup lekat diingatan.Hotelnya cukup strategis. Dekat ke Ancol untuk ke Dufan dan Meis tempat konser NKOTBSB. Dekat pula ke kawasan kota tua Jakarta. Kalo malam sisa nongkrong di Mall Mangga dua square. Hotel bersampingan dengan Mall memang cukup strategis dan menguras banyak uang. Dan bisnis seperti ini mulai dilirik oleh Mall-Mall di Makassar.


Dari Kota Tua Hingga Monas

Karena hotel berdekatan dengan kota tua Jakarta maka iseng-iseng saya mengajak kakak Ipah ke sana. Naik bemo. Di Makassar mana ada Bemo. Turun di stasiun kota, liat kereta api. Terus jalan-jalan ke kawasan kota tua. Tak ada yang istimewa di sini. Dan kami tidak hilang:D.wkwkwkwkwk. Yang iseng adalah ketika kakak Ipah mengajak melihat Monas. Dari stasiun kota ke Monas hanya sekali jalur busway. Tapi menaiki busway tidak seperti naik pete-pete yang jika tidak turun akan kembali ke jalur semula. Ke Monas gampang, tapi pulangnya itu pasti susah. Karena harus transit di halte busway dukuh atas dan matraman (ini hasil dari download transjakarta for blackberry). Dan sore adalah waktu yang cukup sibuk untuk jalur busway.

Tapi karena kakak Ipah ngotot maka diturutilah maunya. Nanti saya diusir dari kamar kan kasian. Katanya nda sah ke Jakarta kalo nda liat Monas. Jadilah kami berbusway ria ke Monas. Turun di halte monas dan harus berjalan cukup jauh untuk dapat jalan masuknya. Kupikir pas turun halte sudah dapat Monas, eh ternyata harus mutar. Ara bahkan tidak lagi meminta ASI. Ia tertidur kelelahan. Sampai sore di Monas dan takut bakal kemalaman jika naik busway dengan pertimbangan jam pulang kantor maka kami memilih untuk naik taxi. Eh, ternyata jalanan nda padat-padat amat. Taxi meluncur mulus di atas aspal dari Monas ke Mangga Dua. Dan yang pasti tarifnya tidak semahal seperti tarif-tarif taxi di Makassar. Hmmm...asal naik taxi tarif bawah. Jangan burung biru.


Seaworld dan Dufan

Bagaimana Ara menikmati perjalanan ke Jakarta? Saya tidak pernah tahu bagaimana titik kesenangan dan kepuasannya Ara. Yang kutahu adalah selama dia bersamaku dia tidak pernah keberatan diajak kemanapun. Ke Seaworld melihat ikan duyung yang ternyata dari pulau Buton. Ara jauh-jauh ke Jakarta ujung-ujungnya bertemu ikan sekampung. Ke Dufan naik gajah bludeg. Ekspresinya biasa saja, giliran saya yang pusing naik wahana yang mutar-mutar. Tapi ia takut menyaksikan wahana Histeria dan Tornado. Tidak sampai menangis hanya saja dia memalingkan muka ketika wahana itu dimainkan. Kupikir yang paling Ara nikmati adalah tidur di hotel dan mandi di wastfel. Tidur adalah titik kepuasannya dengan kasur empuk, kamar sejuk,dan tidak bising. Dan saat mandi adalah saat bermain-main air. Sampai pulang ia selalu suka berendam di air dan bermain-main botol sabun.


Entah Kenapa Belum Ingin Bertemu

Saya menyukai Backstreet Boys. Besar dengan lagu-lagunya. Kakak Ipah punya dua lembar tiket konser. Entah kenapa saya tidak tertarik untuk ikut nonton. Mungkin karena Ara. Kalo pergi nonton siapa yang jaga dia. Tapi bukan juga karena itu. Ada yang belum klik untuk menemui pria-pria itu. Adrenalinku belum terpacu untuk menemui mereka. Mungkin belum saatnya. Mungkin suatu saat nanti. Entah dimana. Tapi saya selalu yakin, jika kelak saya akan menemuinya. Pada kondisi yang tak terduga.

Saat itu adrenalinku hanya terpacu untuk menemui kawan. Kawan yang telah aku niatkan akan kutemui ketika tiba di Jakarta. (*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Urus Paspor, Kupikir Jadi Lebih Baik. Nyatanya...

Saya kembali harus berkutat dengan pengurusan paspor di kantor Imigrasi klas 1 Makassar. Kali ini paspornya Ara. Bayi kecil yang belum cukup setahun itu belum juga punya KTP tau-taunya sudah harus mengurus paspor.

Mengurus paspor untuk anak dibawah 17 tahun tak ada bedanya dengan orang dewasa. Kartu keluarga, akte lahir, ditambah surat pernyataan dari orang tua dan KTP orang tua. Surat pernyataan biasanya diperoleh saat mengambil formulir pengajuan paspor. Sebenarnya untuk formulir tidak dikenakan tarif. Tapi entah kenapa di imigrasi makassar satu lembar formulir dikenakan harga 20.000 rupiah (formulir,sampul paspor, dan Map). Sedangkan jika ditambah surat pernyataan maka totalnya 28.000 rupiah.

Awalnya estimasi waktu pengurusan kupikir akan cepat. Namun ketika memasukkan berkas, KTPku tidak sesuai dengan alamat di Kartu keluarga. KTPku masih KTP bone sedangkan kartu keluarga beralamat Baubau. Jadilah menunggu resi KTP dari Baubau. Mengurus paspor tidaklah seperti mengurus KTP dimana harus sesuai di daerah alamat KTP. Paspor dapat dibuat di daerah mana saja meski berasal dari daerah lain. Seperti alamat kartu keluarga saya yang notabenenya adalah Baubau, saya tetap bisa mengurus di imigrasi Makassar. Tak harus mengurus di Kendari.

Nah, setelah menerima kiriman resi KTP dari Baubau maka saya pun mengajukan formulir kembali. Senin siang beberapa menit sebelum istirahat siang selesai. Oh iya, ada yang berubah di kantor imigrasi Makassar dibanding dua tahun lalu ketika saya mengurus pasporku sendiri. Dulu tak ada sistem antrian. Siapa yang kassa' (cepat dalam bahasa makassar) maka ia dilayani duluan. Tepat pukul 1 siang saya mendapat nomor antrian 46 untuk pengajuan paspor. Dan saat itu pula dipanggil ke loket. Berkas formulir diterima dengan resi KTP dari Baubau. Petugas memberi saya tanda bukti untuk foto pada hari kamis berikutnya dengan jadwal foto pukul 08.00-12.00.

Kamis sebenarnya terlalu lama untuk paspor yang sudah sangat dibutuhkan. Awalnya saya ingin melalui jalur short cut alias calo. Ternyata tarifnya sangat mahal. 750ribu jika datang hari ini,foto hari ini,ambil hari ini. 650ribu jika diambil besok. 550ribu jika diambil lusa. Padahal harga normal pembuatan paspor adalah 255ribu dalam jangka waktu 8 hari kerja. Tertempel dengan jelas di loket pembayaran dengan catatan kecil harap menyiapkan uang pas. Maka saya pun memilih untuk jalur biasa saja. Saya pikir saya cukup tabah dengan harga normal dan waktu yang lama. (Supaya ketika saya menuliskan ini saya tidak ada beban moral untuk menulis kejelekan pelayanannya:D). 

Saat hari pemotretan pagi-pagi saya dan Ara sudah mangkal di imigrasi. 08.15. Para pegawai imigrasi masih datang satu-satu. Sedangkan orang-orang yang akan mengurus paspor mulai berdatangan satu demi satu. 30 menit kemudian loket untuk penyetoran bukti penerimaan formulir. Sistem yang terjadi adalah siapa yang paling atas kertasnya maka dia yang paling pertama dipanggil. Untungnya kertasku ada ditumpukan dua dari atas, sehingga ketika formulir dikembalikan untuk antri nomor pembayaran saya dapat nomor dua. Hehehehe. 

Hari kedua diimigrasi berjalan lancar. Pagi-pagi, suasana masih fresh dari rumah. Kantor imigrasi masih kerasa ACnya karena belum disesaki orang. Nomor antrianku dipanggil ke loket pembayaran. Diberi kuitansi Rp.255.000 dengan rincian yang sesuai. Ya, inilah yang berubah dari imigrasi Makassar. Sistem antrian berjalan. Proses pembayaran dilakukan di loket pembayaran sebelum masuk diruang foto dan wawancara. Dua tahun lalu saya datang pagi-pagi berharap dilayani pagi-pagi. Nyatanya saya dipanggil foto jam 11 siang. Pembayaran dilakukan diruang foto. Tak ada harga yang jelas untuk dibayarkan. Tak ada kertas pemberitahuan harga. Sang pewawancara hanya mengatakan nominal yang perlu dibayarkan tanpa diberi kuitansi. Dua tahun lalu saya membayar 300ribu rupiah untuk paspor dan tidak diberi kuitansi. 

Sekarang, rincian yang dibayarkan jelas tertera di kuitansi. Setelah bayar sisa menunggu panggilan foto. Tak cukup 30 menit. Petugas wawancaranya hanya bertanya mau kemana? Saya menjawab "Amerika".setelah itu tak ada babibu. Ara foto, tanpa perlu tanda tangan dan sidik jari. Dia belum perlu melakukannya. Dan sudah itu selesai. Diberi resi untuk datang ambil 4 hari kerja kemudian (sesuai ketentuan yang berlaku) pada pukul 2 siang.

Sampai hari kedua ngurus di imigrasi saya cukup puas.
Sayangnya mungkin karena kepuasan yang kudapat pada hari pertama kedua maka saya pun berekspetasi untuk hari pengambilan paspor. Saat pengambilan paspor bersamaan dengan itu saya memasukkan formulir paspornya milik kakak saya. Saya datang agak siang karena jam pengambilan paspor adalah pukul 2. Kantor imigrasi penuh sesak. Ibu-ibu dan bapak-bapak yang sepertinya mengurus untuk ke tanah suci entah untuk berhaji atau umroh. AC tidak lagi kerasa. Gerah. Tak ada tempat duduk. Nomor antrian pengajuan formulir yang saya dapat adalah nomor 48. Sedangkan yang tertera di layar adalah nomor 45. Saya menunggu. Lagian untuk mengambil paspor masih belum buka loketnya. Pukul 14.15 , petugas imigrasi sudah ada duduk dibalik meja pengambilan paspor. Meski masih ada palang istirahat disana. Ketika ia membukanya maka orang-orang yang mau mengambil paspor langsung ke loket itu tanpa perlu ngantri. Loket pengajuan didatangi bapak yang saya tau baru datang dan baru akan mengajukan formulir. Kupikir nomor antriannya pasti dibelakang saya. 

Tau-taunya dia dilayani lebih dulu. Berkasnya diterima dan berbicara agak lama dengan petugas loket. Saya pun mengerti bapak ini menempuh jalur short cut. Saya masih bersabar. Meski nomor antrian pengajuan formulir tidak bergerak-gerak. Cukup lama saya memperhatikan aktivitas pegawai loket. Lot pekerjaannya tidak banyak. Hanya saja mereka melayani orang-orang yang membayar lebih. Bahkan terang-terang menyodorkan uang untuk diuruskan.

Saya masih menunggu. Hampir sejam baru nama Ara dipanggil untuk ambil paspor. Saya pun mengambil paspornya Ara dan mendatangi bapak di loket pengajuan formulir. Saya bertanya kenapa nda berubah-ubah nomor antriannya. Katanya sudah tutup. Saya pun komplain. Kalo tutup mengapa dikasi nomor antrian. Bapak itu segera meminta formulir saya. Dan tak cukup lima menit ia memberi saya bukti penerimaan dan tanggal untuk foto. 

Wah, kupikir kantor imigrasi makassar sudah lebih baik, nyatanya ekspetasiku masih ketinggian. Praktek percaloan masih dan akan selalu ada. Pelayanan yang masih setengah-setengah. Pegawai yang tidak begitu ramah. Saya selalu berharap pelayanan di kantor-kantor pemerintahan senyaman seperti di bank-bank swasta. Tersenyum, memberikan limit waktu pelayanan agar antrian tidak memanjang. Tetap ada loket yang buka meski waktu istirahat. Ya...semoga bisa lebih baik lagi.(*)

Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Home

Finally home...huuufffttt. Hampir sebulan tidak berada di rumah. Kepergian paling jauh selama ini. Dengan rute yang begitu banyak sejauh ini. Jakarta, Makassar, Malino. Selalu ada tempat yang dikunjungi. Jika sempat pasti diluangkan waktu. Aku kemudian berpikir apa makna dari sebuah perjalanan? Hanya orang-orang yang mencari sesuatu dan belum menemukan yang melakukan perjalanan. Kupikir lagu Gita Gutawa, tak perlulah aku keliling dunia karna kau di sini ada benarnya. Hanya mereka yang mencari sesuatu yang melakukan banyak perjalanan.

Lantas apa yang aku cari? Bergerak. Mendatangi tempat sejauh mungkin. Membawa Ara menjejaki banyak tempat-tempat yang baru. Berada di suatu tempat lebih lama kadang mampu membekukan sepi dan sendiri. Menumbuhkan sedih. Maka bergerak adalah upaya untuk membunuhnya. Ataukah aku juga sedang melakukan pencarian? Mungkin. Pencarian yang entah apa dan entah berujung ke mana.

Baru kali ini aku merindukan rumah dan segala kondisi yang mampu tertebak. Aku rindu menyibukkan benakku yang menyusun skedul to do list tanpa harus menggerakkan kaki dan beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Berada di rumah serupa tempat pulang untuk mengaso. Menarik benang-benang ingatan dan mencelupkannya ke bejana kenangan untuk kelak kuceritakan pada anak cucu. Merehatkan jiwa sejenak sambil merangkai sebuah rute perjalanan baru.

Aku di rumah sekarang. Dengan jejalan cerita yang harus aku tulis. Agar tak terlewatkan cerita untukmu. Bahwa pernah di suatu masa kita berada jauh dari rumah hingga begitu merindukan pulang dan duduk di berandanya.(*)

Sebelum tidur dengan jejalan kenangan yang melompat-lompat, 21 juni 2012
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Tak peduli apa yang terjadi besok
Hiduplah untuk hari ini...
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Powered by Telkomsel BlackBerry®