Images

Selamat Ulang Tahun


Apa kabarmu??ada hurricane di hati ku. Hanya kamu yang bisa memperbaiki kerusakannya. Adakah rindu yang memuncak di hatimu? jangan tertawa. Jika kau menanyakan pertanyaan yang sama,aku kan jawab selalu ada rindu untukmu. Mungkin terasa tenang kini. Tapi ombakmu selalu mampu membuatku bahagia. Selalu ada banyak tawa untukmu. Selalu ada banyak cerita untukku.

Apakabarmu paman banyak tahu?Aku rindu puluhan diskusi ringan denganmu. Diskusi yang selalu mendatangkan bahagia.apakah hari ini kau dapatkan sesuatu yang spesial? kado mungkin, atau ucapan selamat.

Hah...ucapan selamat. Telah tertumpah banyak menjadi grafiti di Wall jejaringmu. Bukankah kutulis juga sebaris kalimat romantis di sana. Sebaris kalimat yang membuatmu kikuk, akumu.

Itu jujur dariku. Aku tak punya sesuatu yang spesial untukmu. Tulisan ini terlalu sederhana untukmu. Cinta tak pernah kering mengalir untukmu. Sejuta doa pun selalu kubisikkan untukmu.

Mungkin tak perlu apapun. Karena kau telah memiliki semua bahagia di dunia ini.

Selamat ulang tahun...

Images

Badai Huricane


Menanti berakhirnya hari ini seperti menanti sebuah bom meledak. Bunyinya satu satu.jantungku selayaknya beker yang menempel pada bom itu.pada TNT serupa petasan besar berwarna merah.Bunyinya satu satu satu. Deg deg deg.

Apa yang kutunggu? Sebuah cinta platonik yang dalam diam malam aku harap menjadi sebuah jejak nyata. Aku mungkin tak pernah mendoakannya. Aku tak berani berdoa untuk itu. Namun ada saat ketika hati tak sengaja berbisik merapal dalam diam sebuah kata serupa doa.


Aku menyenangi saat jatuh cinta pada midnight.Pesanmu serupa cerita pendek yang kunantikan episodenya.Selalu ada cerita-cerita yang membuat greget. Selalu ada cerita yang membuat tersenyum dan tertawa. Tapi juga ada sedih yang kita tuturkan bersama. Aku merajutnya sat satu. Dalam ingatanku dan juga dalam memory-memory yang mulai penuh itu.


Jika provider mampu memberi kemudahan untuk layanan print tiap message telah kulakukan untuk menyimpan kenanganmu. Jarak membuat kita tak berjauhan. Bom itu belum meledak. Masih menghitung satu satu. Kita telah berada dalam lintang dan bujur yang sama.Cukup sedikit melakukan movement maka kita pun akan berdekatan atau bahkan berjauhan.

Hukum Newton berlaku pada kondisi ini.Aku akan menahan gaya yang kau hasilkan. Atau kita akan terpental sama-sama. Maaf fisaka adalah pengetahuan yang paling malas aku pelajari, meski aku kagum dengan fenomena semesta yang terjelaskan olehnya.


Pernahlah kau mendengar kepak sayap kupu-kupu di negeri ini mampu mendatangkan badai di seberang lautan. Aku mempercayainya namun tak menyakini. Hari ini aku membuktikan bahwa kepak itu telah menciptakan turbulensi dahsyat di hatiku.

Sekelebat bayangmu telah mampu membuat beku seluruh duniaku. Kau menjungkirbalikkan semua hukum fisika. Bom itu prematur. Meledak tidak pada waktu. Dirimu telah mewujud menjadi sebentuk Hurricane yang menggetarkanku. Musim dingin dan musim semi terjadi dalam waktu sama di sana. Aku beku.Lidahku kelu. Aku memohon, berhentilah menciptakan badai itu. Berhentilah menjadi bom waktu.
Images

Peri Biru dan Pangeran Hippo


Pagi masih berembun. Matahari belum sepenuhnya terbit. Awan masih menggantung di langit. Penduduk di Negeri Rawa Air belum sepenuhnya terbangun. Pasar di alun-alun belum terlalu ramai. Peri biru merenggangkan tubuhnya. Di kerajaan ini dia akan tinggal untuk beberapa saat. Ia harus bertemu penyihir bijak, kakeknya untuk berguru sihir dan cara menunggang naga.
Dilangkahkannya kakinya menuju pusat kerajaan. Pasar tetap sepi padahal matahari sudah sejengkal di atas kepala. Kerajaan pun tampak sunyi. Seperti ada sesuatu yang terjadi di kerajaan ini. Peri biru melangkahkan kakinya menuju tempat tinggal penyihir bijak. Diketuknya perlahan pintu kayu rumah yang terbuat dari batu gunung itu.

Tok…tok…tok….belum ada jawaban. Sekali lagi Peri biru mengetuk pintu. Terdengar sesuatu yang meringsek dari dalam rumah. Lubang kecil di atas pintu yang biasa digunakan untuk mengetahui tamuyang dating tergeser. Sosok tubuh tua mengintip di baliknya.

“Kakek penyihir, ini Peri Biru “ katanya saat melihat sosok di lubang kecil itu.
Citt…pintu kayu perlahan terbuka. “Peri Biru, lama juga akhirnya kamu berkunjung “ sambut Kakek Penyihir perlahan. Ia tersenyum pada Peri Biru. Sinar wajahnya tampak hangat. Gurat-gurat wajahnya memahat usia tahunan, mungkin telah mencapai angka ratusan. Namun senyumnya masih tampak sama seperti 10 tahun lalu, saat Peri Biru berkunjung kali terakhir ke Negeri Rawa Air di usia 13 tahun.

“Kakek, apa kabar? Aku melakukan pengembaraan. Aku meninggalkan Negeri Koin Emas untuk bertemu penyihir lain di negeri lain. Belajar ilmu sihir dari mereka”.
“Masuk dan duduklah. Kubuatkan jus jahe untuk menghangatkan badanmu”ajak Kakek Penyihir. Dilepasnya jubah dari kaitan di lehernya. Disisihkannya di kursi terdekat yang sanggup ia jangkau.

“Kakek, apa yang terjadi dengan Negeri Rawa Air? Aku melihat kerajaan tampak sepi. Alun-alun kota juga tak seramai dulu”Tanya Peri Biru sambil meraih jus jahe yang disodorkan Kakek Penyihir padanya.

“Kerajaan Rawa Air dalam keadaan bersedih. Raja jatuh sakit. Sedangkan pangeran menghilang. Nini Hitam si penyihir jahat sedang berusaha untuk mengambil alih kerajaan. Makanya kerajaan tampak sepi. Seluruh prajurit dikerahkan untuk mencari pangeran. Prajurit-prajurit pilihan berjaga diperbatasan dan di pos-pos khusus kerajaan untuk berjaga-jaga dari si Nini Hitam.”
“Mengapa pangeran menghilang?”Tanya Peri Biru

“Ia menghilang sejak sebulan lalu saat pergi berburu di hutan. Saat itu raja mempersiapkan penyerahan tahta. Penobatan pangeran sebagai pengganti raja akan dilakukan seminggu kemudian. Tapi tiba-tiba sang pangeran menghilang. Raja sangat sedih karena itu. Ia jatuh sakit. Tiba-tiba Nini Hitam mengeluarkan ancaman akan segera merebut kerajaan saat purnama bulan Juni. Dan itu 15 hari lagi.Hanya pangeran yang sanggup mengalahkan si Nini Hitam. Karena ia adalah turunan murni dari raja Rawa Air”tutur Kakek Penyihir.

“Kakek harus membantu raja untuk menemukan pangeran “kata Peri Biru.
“Kami kaum penyihir telah berusaha mencari tahu di mana pangeran. Namun, Peri Biru kami pun punya batas kemampuan. Kami hanya mendapatkan ramalan bahwa seseorang akan datang dari negeri seberang untuk menemukan sang pangeran. Hanya itu petunjuk yang kami punya,” kata Kakek Penyihir.

“Kakek, itu berarti bisa siapapun yang datang ke Negeri Rawa Air”kata Peri Biru.
“Benar. Itu berarti bisa siapapun. Atau itu berarti bahwa siapapun itu hanya dirimu. Hanya kamu yang berkunjung ke Negeri Rawa Air dalam waktu sebulan ini sayang. Namun bisa jadi ia bukan dirimu. Kami masih menunggu orang lain datang untuk menyelamatkan pangeran.Sudahlah Peri Biru, kamu masih sangat muda. Kamu tinggal dan belajarlah untuk memperdalam ilmu sihirmu” tutur Kakek Penyihir.

Peri Biru tampak terdiam. Bisa jadi orang itu dia atau juga bukan dia. Jika memang pangeran menghilang, kemana ia menghilang. Ia masih sibuk dengan lamunannya. Matahari sudah terik. Kakek penyihir mengajaknya ke belakang rumah. Ditepi hutan.

“Aku ingin mengajarimu menunggang naga. Aku tahu kamu ke sini untuk mempelajarinya”.
Peri Biru tersenyum. “Mengapa kakek tahu?”
“ Sejak kecil kau selalu menyukai naga. Bukankah terakhir kali kau ke sini, kau mencoba menungganginya sampai kau terjatuh dari punggung naga hingga tanganmu retak. Meski penuh bebat, esok harinya kamu masih tetap ingin menungganginya” kata Kakek Penyihir dengan tertawa.

“Ya, aku mengingat saat itu, Kek. Naga Ekor Merah kecil. Dimana ia sekarang?” Tanya Peri Biru.Kakek tak menjawab pertanyaannya. Ia hanya bergumam yang terdengar seperti bersiul. Dari langit tampak sebuah benda terbang yang tiba-tiba menukik ke arahnya. Mengepakkan sayap dan mendarat empuk tanah. Berjarak lima meter dari kakek penyihir.

“Inilah naga ekor merah itu. Ia masih tinggal disini. Tak mau pergi. Mungkin menunggumu untuk menungganginya lagi”kata kakek sambil menepuk-nepuk leher Naga Ekor Merah.Naga Ekor Merah tidaklah terlalu besar. Tingginya lima meter. Sayapnya hanya sepanjang tiga meter. Ia adalah jenis naga ukuran sedang. Meski usia mungkin sudah hampir 15 tahun.
Peri Biru perlahan mengulurkan tangannya. Meraih mencong naga itu.Naga Ekor Merah mengusap perlahan moncongnya di tangan Peri Biru. Ia masih mengingatnya. Anak usia 13 tahun yang dulu jatuh dari punggungnya.

Naga ekor merah menekuk kakinya. Menyilakan Peri Biru untuk naik di punggungnya.
“Naiklah. Ia mempersilakanmu menungganginya”, kata Kakek Penyihir.
Ditungganginya sang naga. Ia berpegangan pada dua duri di belakang pundak sang naga. Harusnya ini lebih gampang, batinnya. Naga Ekor Merah mengepakkan sayapnya. Menyentakkan kakinya di tanah untuk terakhir kalinya dan membumbung tinggi ke langit.
Peri Biru tampak pucat. Hampir saja ia kehilangan keseimbangan ketika sang Naga menyentakkan kakinya. Untungnya ia masih berpegang erat di duri-duri tubuh naga itu. Mereka terbang ke langit hingga ketinggian 500 meter.

Peri Biru hanya mampu merasakan desiran angin di sisi telinganya. Ia tak sanggup membuka mata. Ia masih harus beradaptasi dengan ketinggian, naga dan takutnya sediri. Perlahan ia merasakan terbang sang naga mulai memelan. Ia tak lagi merasakan kepakan sayap di antara sela kakinya. Dibukanya matanya. Hijau hutan di bawahnya tampak sangat indah. Ia melihat langit biru. Matahari tak menyilaukan matanya ,karena mereka terbang membelakangi matahari. Ini adalah pengalaman terbang pertama baginya. Ia tak pernah tahu bahwa melihat bumi dari atas mampu mendatangkan rasa bebas.

Naga Ekor Merah terbang menukik ke arah danau.Kali ini Peri Biru telah menguasai gerakan sang Naga. Kapan sang Naga akan berbelok, kapan akan menukik. Dilepaskan pengangannya. Ia merentangkan tangannya, memejamkan mata, dan menghirup udara segar. Mungkin sperti ini yang dirasakan burung saat terbang. Lepas, bebas, dan begitu damai.
Penerbangan pertamanya berjalan dengan sempurna. Mereka mendarat saat matahari kemerahan di langit barat. Kakek Penyihir menyambutnya dengan wajah yang tampak risau.

“Akhirnya kalian pulang juga. Ayo cepat masuk ke dalam rumah,”ajak kakek.
“Kenapa kakek tampak cemas?”tanya Peri Biru setelah mengantar naga Ekor Merah ke istal.

Sesungguhnya naga itu tak perlu tinggal di istal karena ia tak dikekang. Ketika ia ingin terbang ia bisa melakukannya kapan pun. Tapi kakek penyihir selalu mengantarnya ke istal jika sore. Memberinya beberapa kilogram daging mentah agar ia tak kelaparan.

“Ada kabar dari kerajaan. Raja sekarat. Nini Hitam makin mempertegas usaha penyerangannya. Ia mengirim pesan bahwa pengambilalihkan kekuasaan mungkin akan ia percepat”kata Kakek Penyihir.

“Kakek, izinkan Peri Biru untuk bertemu raja. Aku ingin membantunya menemukan pangeran”pinta Peri Biru.
“Tapi kamu masih sangat muda, anakku”.
“izinkan aku mencobanya, Kek. Kumohon. Jika kita tak pernah bertindak maka kita takkan pernah tahu apa yang akan kita dapati di depan. Ayolah “ rengek Peri Biru.
****
Esok pagi, bersama kakek penyihir peri biru bertemu dengan raja rawa air. Singgasana raja kosong. Raja terbaring lemah di kamar raja. Ia tampak sangat lemah. Raut muka bijaknya terselubungi oleh sakit yang dideritanya. Permaisuri mendampingi disampingnya. Juga dengan wajah lelah.

“Yang mulia, hamba menghadap kepadamu untuk menjengukmu. Hamba bersama cucu hamba. Peri Biru”kata kakek penyihir sambil berlutut di sisi tempat tidur baignda raja. Peri biru mengikutinya. Raja tersenyum pada mereka.

“Baginda, hamba telah mendengar tentang kemalangan yang dialami Negeri Rawa Air. Hamba juga mendengar tentang ramalan itu. Izinkan hamba untuk mencari sang pangeran. Tanpa pangeran, Negeri Rawa Air akan hancur” sahut Peri Biru.

Raja mencoba duduk. Dibutuhkan waktu lima menit untuk mendapat posisinya yang nyaman untuknya.

“ Anakku. Aku sangat senang dirimu mau membantu negeri ini. Aku tak punya pilihan lain selain mengizinkanmu. Karena aku pun telah lama menanti seseorang datang untuk memenuhi ramalan itu” kata raja dengan suara parau.

“Besok datanglah ke istana sebelum matahari terbit. Aku akan memberimu sesuatu yang mungkin akan berguna dalam perjalananmu. Dan tolong lakukan pertemuan para penyihir, Kakek. Aku yakin Peri Biru butuh setidaknya petunjuk bijak dari kalian” kata sang Raja.

Pertemuan penyihir dilaksanakan di aula besar samping istana. Di sana berkumpullah para penyihir Negeri Rawa Air. Jumlahnya sekitar 10 orang. Semua telah berusia tua. Yang paling muda mungkin berumur 65 tahun. Menjadi penyihir haruslah memiliki darah penyihir. Dan hanya sedikit orang yang mampu memiliki darah penyihir. Dan jika seseorang tersebut tidak menyadari jika ia memiliki darah penyihir, pada usianya yang ke 25, darah sihir itu akan hilang. Sesungguhnya Peri Biru memiliki darah itu. Dan ia telah menyadarinya sejak usia 5 tahun. Kakek penyihir adalah kerabat jauhnya yang juga anggota tertua dan merupakan ketua dewan penyihir di Negeri Rawa Air.

“Hari ini cucuku Peri Biru ingin memenuhi ramalan yang pernah terbaca sebulan lalu. Kita tak pernah tahu apakah ia yang disebutkan oleh ramalan itu. Tapi aku yakin dengan ketulusan hati Peri Biru untuk membantu Negeri Rawa Air, apapun kelak yang terjadi ia telah menunjukkan keberanian kepada kita”, kata Kakek Penyihir di depan dewan penyihir.

Para tetua penyihir tampak mengangguk – ngangguk. Seorang penyihir pria yang tampak seumuran kakek menghampirinya. Penyihir itu lantas membuka jubah yang dikenakannya.
“Jubah ini mampu menghangatkanmu ketika kau kedinginan, mampu menyejukkanmu ketika kau merasa kepanasan. Ia mampu merasakan kecemasanmu. Gunakanlah ia. Ia akan melindungimu. Kekuatannya pun tak terduga, Anakku”. Disampirkannya jubah itu ke pundak Peri Biru. Peri biru tampak berdiri kikuk.

“Terima kasih untuk semua dukungan para dewan penyihir. Aku berjanji akan menemukan pangeran” kata Peri Biru.
“Anakku, berjalanlah ke arah hutan. Dis ana tempat terakhir kali pangeran terlihat. Mulailah mencari jejaknya di sana. Hutan itu selalu menyimpan banyak kejutan tak terduga. Telah banyak prajurit yang kesana dan tak kembali. Berhati-hatilah”kata Kakek Penyihir.
***
Matahari masih sejam lagi terbit. Namun Peri Biru telah tiba di istana. Raja tampak bersemangat. Ada sedikit cerah di wajah tuanya. Disambutnya Peri Biru dengan suka cita. Diajaknya si peri ke ruang rahasia di jantung istana. Ruang itu sebenarnya tidaklah tampak begitu rahasia. Di lalui setiap hari oleh orang- orang istana. Bahkan dijadikan gudang alat kebersihan. Namun dalam ruangan itu masih ada ruangan. Dan dalam ruangan yang satu masih ada ruangan yang lain. Peri Biru sendiri bingung berapa ruangan yang telah dilaluinya hingga mereka tiba pada ruang penuh benda pusaka. Benda-benda bersejarah dan bernilai magis tersimpan di sana. Sejak raja pertama Rawa Air hingga raja yang berdiri di depan Peri Biru saat ini. Raja meraih satu buah pedang kecil. Lebih mirip belati yang ujungnya patah. Diserahkannya kepada Peri Biru.

” Peri Biru, belati ini adalah belati yang ingin aku serahkan pada pangeran saat penobatannya. Namun aku tak tahu apakah aku masih bis bertahan untuk menyerahkan belati ini langsung kepadanya. Tiap pangeran akan memiliki senjata pusakanya ketika ia menjadi raja. Namun senjata itu sesungguhnya telah ia pilih sejak ia kecil. Belati inilah yang ia pilih saat aku mengajaknya pertama kali ke tempat ini. Dialah yang mematahkan ujungnya. Ujung itu dia tetap simpan. Ia kalungkan di lehernya. Pada saat penobatannya ia berencana menyatukan ujung belati patah itu. Ia baru kembali dari petualanganya empat bulan lalu. Dan ia kembali menghilang” cerita raja sedih.

Peri Biru hanya mampu terdiam. Ia melihat sosok di depannya bukanlah seorang raja yang memiliki kuasa. Tapi seorang ayah yang kehilangan anaknya.“Hanya orang-orang yang memiliki keberanian dan ketulusan mampu menemukan ruangan ini. Dan kau memiliki semua itu anakku” kata sang raja sambil menyerahkan belati berujung patah itu ke Peri Biru.

Peri Biru tak berkata apapun. Ia baru menyadari bahwa petualangannya kali ini lebih berat dan ia sendiri. Ia tak didampingi lagi si Kesatria Putih, kawan yang menemaninya membunuh naga di Negeri Koin Emas. Sesaat ia merindukan Kesatria Putih. Mereka berpisah enam bulan silam. Saat Peri Biru memutuskan untuk belajar ramuan dan tumbuh-tumbuhan di Desa Tenggara, sedang Kesatria Putih melanjutkan perjalanannya ke arah barat.

“Baginda, aku akan memulai perjalananku. Para dewan penyihir telah memberiku petunjuk hendak kemana aku pergi”kata Peri Biru.

“Baiklah. Sudah saatnya kau pergi”kata braja. Mereka lantas menuju ketirai di sisi dinding. Peri Biru mengira akan kembali ke gudang sapu tempat mereka pertama masuk, namun ternyata mereka telah berada di halaman belakang istana. Peri Biru tak ingin mengambil pusing untuk memikirkan bagaimana itu terjadi.Setelah meminta izin pada raja ia pun kembali ke rumah kakek penyihir. Kakek telah menunggunya.
“Raja telah memberikan benda pusaka kepadaku yang harus kuserahkan kepada pangeran” kata Peri Biru.

Kakek penyihir mengangguk. “Telah kupersiapkan bekalmu anakku. Busur dan panah, jubahmu dan sedikit makanan untukmu di jalan. Berhati-hatilah” pesan kakek penyihir.
“Jika kau membutuhkan jalan penuntun pulang panggillah sang Naga Ekor Merah. Bersiullah. Dan ia akan datang padamu. Ia adalah hewan mistik jadi yakinlah pada kekuatannya”.
Dipeluknya kakek penyihir untuk terakhir kalinya sebelum menuju arah hutan. Ada sedih yang menyesak di dadanya. Ia mengerjapkan matanya yang terasa panas dan perih. Ia benar-benar merindukan Kesatria Putih sekarang. Tapi ia harus berjuang sendiri kali ini.
***
Peri Biru melangkah memasuki hutan. Dieratkannya jubahnya di kaitan lehernya. Ia tak tahu hendak kemana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya menuju hutan yang lebih dalam. Beberapa bagian hutan adalah rawa-rawa. Ditemukannya berbagai macam pohon-pohon menjulang. Jamur-jamur yang biasa dia gunakan untuk saat belajar ramuan. Beberapa hewan-hewan hutan yang tak menakutkan. Mengapa Negeri Rawa Air disebut demikian? Mungkin karena banyak bagian dari negeri ini berupa rawa-rawa.

Makin ke dalam hutan suasana pun makin suram. Sinar matahari mulai susah menembus rimbun dedaunan pohon. Ia tersesat. Ia tak tahu harus kemana. Peri Biru mengistirahatkan tubuhnya di salah satu akar pohon. Dibukanya bekal makanan yang disiapkan Kakek Penyihir. Sambil menikmati makan siangnya, ia memandang ke sekelilingnya. Hutan adalah tempat misterius yang indah. Dinikmatinya musik alami yang diciptakan angin, dahan, dan burung-burung kecil. Tanpa ia sadari ia sudah jatuh tertidur.

Petang menggelap. Peri biru terbangun. Ia tersadar telah tidur cukup lama. Tak tahu harus ke arah mana ia pun memilih untuk tetap di kaki pohon itu. Namun tampak di depannya terdapat kerlap kerlip cahaya. Ia ingin mencari tahu cahaya apa itu. Dengan pelan didekatinya sumber cahaya itu. Sumber cahaya itu berasal dari kunang-kunang. Tapi kunang-kunang yang satu ini bukan kunang-kunang biasa. Ukurannya sebesar jari telunjuk. Memiliki bentuk tubuh manusia. Mereka memiliki antena yang menyala-nyala di kepalanya. Sayap-sayapnya pun bersinar keperakan.Peri Biru mencoba menyapanya “permisi” katanya pelan.

Segerombolan kunang-kunang terkejut dan lari bersembunyi di dalam pohon. “maaf,Tapi aku butuh bantuan kalian.Tenanglah aku tidak akan menganggu kalian” kata Peri Biru lagi.
Seekor kunang-kunang pria keluar dari pohon. Mencoba terbang mendekati Peri Biru namun tetap waspada.

“Apakah kalian memahami bahasa saya?” Tanya Peri Biru.
Sang kunang-kunang tidak menjawab. Peri Biru tertunduk putus asa. ia memutuskan berbalik dan kembali ke akar pohon besar tempatnya semula.
“Hei, mau kemana?” tiba-tiba sebuah suara menyapanya. Peri Biru mengurungkan niatnya. Ia kembali memperhatikan kunang-kunang itu.
“ Maaf , jika sambutan kami kurang berkenan. Kawananku hanya takut pada sesuatu yang asing. Duduklah.Beberapa waktu lalu sesuatu yang seperti dirimu pun pernah datang ke tempat kami. Dan ia menakuti kawananku. Ia baik, tapi kawannya jahat” kata kunang-kunang. Peri Biru duduk di akar pohon rumah kunang-kunang.

“Kami adalah peri kunang-kunang. Akulah yang memimpin kawanan peri kunang-kunang yang lain” kata kunang-kunang pria itu memperkenalkan diri. Dipanggilnya kawanannya yang lain untuk mendekat.

“Aku Peri Biru.Aku kesini mencari seorang kawan. Kamu tadi bilang pernah datang manusia sepertiku di sini. Apakah kau melihatnya. Kejadian itu sebulan yang lalu ya. Kau tahu dimana ia sekarang ?”

Peri kunang-kunang perempuan bercerita ia tak ingat itu sebulan yang lalu atau tidak. Tak ada konsep waktu dalam kehidupan peri kunang-kunang. Waktu bagi mereka adalah absurd dan tak peduli berapa lama bagi mereka, mereka adalah makhluk abadi.

“Ia manusia. Lelaki. Saat itu ia tersesat di hutan ini. Kami sempat menjamunya. Ia tampak kelelahan. Namun tiba-tiba sesosok makhluk jahat menyerangnya. Awalnya ia mampu mengalahkannya. Namun tiba-tiba mereka berduel hebat dan makhluk jahat itu merubah manusia itu menjadi sesuatu yang sangat besar. Makhluk jahat itu lantas membawa pergi kawanmu yang telah berubah itu. Kami sempat mengikutinya namun di pohon-pohon yang melingkar ditengah hutan ini mereka tiba-tiba menghilang”.

“Aku harus mencari tempat itu. Tempat dimana mereka menghilang “kata Peri Biru panik.
“Peri Biru, tunggulah sampai pagi. Kami akan mengantarmu ke tempat di mana mereka menghilang“,sahut peri kunang-kunang. Peri Biru mengiyakan. Malam itu ia tak bisa tidur nyenyak. Ia bermimpi bertemu dengan makhluk besar yang menyeramkan.
***
Mereka tiba di pohon pohon yang melingkar yang dimaksud kawanan peri kunang-kunang. Tak ada apa-apa di sana. Yang ada hanyalah jejeran pohon yang melingkar menyisakan ruang kosong di tengahnya.

“Peri Biru, kami tak bisa lagi menemanimu lebih jauh. Sesuatu yang jahat sangat kuat disini. Kami hanya bisa memberikanmu ini”kata ketua peri kunang-kunang.
Dicabutnya antena kecil yang mengeluarkan cahaya dari puncak kepalanya. “ini bisa membantumu menyinari kegelapan. Sangat berbahaya jika menyalakan api untuk penerang”. Peri Biru menerima antena kecil itu di telapak tangannya. Sangat kecil namun terasa berat seperti logam. Ia melihat ke arah kepala sang peri kunang-kunang yang terlihat aneh tanpa satu antena.

“Tenanglah, akan terganti kembali”sahut peri kunang-kunang membaca ekspresi Peri Biru.
Mereka pun berpisah. Peri Biru hanya mampu duduk menunggui sesuatu yang ajaib dari tengah lingkaran itu. Ia hanya berjalan dipinggir lingkaran itu. Pada tengah lingkaran itu tampak sesuatu yang bening serupa air. Tapi penuh dengan humus. Rawa. Yah, bagian tengah itu adalah rawa. Sesuatu tampak menyembul dari air itu. Sesuatu yang gelap dan besar. Peri Biru terperanjat. Dia melangkah mendekati namun tiba-tiba ia tak memijak pada apapun.

“Aaaarrrggggghhhhh”

Dan segalanya tiba-tiba gelap. Antenna peri kunang-kunanglah yang berpendar dan menyilaukan matanya. Membuatnya tersadar bahwa ia sedang terjatuh ke dalam rawa. Rawa yang tak basah tepatnya. Karena pakaian yang dikenakannya masih kering.
Ia mencoba berdiri dan melihat di mana ia berada. Yang didapatinya adalah sebuah labirin panjang dan berkelok. Ia harus mencari ujung labirin IniTak disadarinya bahwa ada sesuatu yangmemata-matainya. Sesuatu yang besar dan sangat menyeramkan. Benda besar itu tiba-tiba berlari dan menyeruduknya. Peri Biru terkejut namun masih mampu dihindarinya serangan dadakan itu.

Seekor binatang. Hippopotamus. Hewan yang sangat besar dan kuat. Hippo itu kembali menyerangnya namun kali ini Peri Biru sudah siap menangkis serangan. Ditembakkannya anak panah ke tubuh hewan itu. Namun Hippopotamus itu tampak tak terganggu.

“Dasar kulit badak” kutuk Peri Biru.

Ia hanya mampu menghindari serangan-serangan Hippopotamus itu. Berlari menjauh menyusuri labirin. Namun pada belokan didepannya peribiru menemui jalan buntu. Ia terdesak. Dilemparkannya segala sesuatu yang ia punya ke arah Hippopotamus itu. Buntalan pakaiannya. Busur panahnya, hingga belati pusaka titipan raja.

“Siiinggg…..”belati patah itu terlepas dari sarungnya. Mejadi perisai terakhir Peri Biru. Ia hanya mampu mengangkat tangannya dan menutup matanya. Bersiap menghadapi serang.
Kilau bajanya yang tampak bersinar menyilaukan mata sang Hippopotamus. Tiba-tiba saja sang Hippopotamus terdiam ditempat dan berhenti menyerang. Peri Biru shock.seluruh tubuhnya gemetaran. Napasnya terengah-engah. Dia memicingkan matanya. Mengintip pada apa yang didepannya. Didapatinya Hippopotamus itu terduduk diam sambil menggelengkan lehernya. Seperti ada sesuatu yang menjeratnya disana.

Perlahan Peri Biru menghampirinya dengan hati-hati. Mencoba mengusap kepalanya. Namun masih mengacungkan belati itu dengan siaga. Hippopotamus itu tampak pasrah menerima elusan Peri Biru. Ia lantas menyusuri hingga ke leher Hippopotamus. Agak susah untuk tahu mana yang leher dan mana yang perutnya. Semua terlihat sama besarnya untuk sebuah kuda nil.

Didapatinya sebuah tali serupa kalung yang melingkar dileher sang Hippo. Ditelusurinya hingga kebagian bawah leher Hippopotamus itu. Peri Biru bahkan harus berbaring dan mendongak di bawah tubuh sang Hippo untuk melihat mata kalung itu. Sebuah baja yang tampak patah. Runcing dan tajam. Seketika itu ia tersadar dan terbangun.

“Pangeran” sahutnya sambil berlutut.

Ternyata Hippopotamus itu adalah pangeran yang dicarinya. Ia pun mulai menautkan semua cerita yang dituturkan para kawanan peri kunang-kunang. Sosok itu tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang besar dan gelap. Dibawa lari oleh sesuatu yang jahat dan menghilang di pohon-pohon melingkar.Pangeran dikutuk menjadi Hippopotamus. Dan Hippopotamus itulah yang dia lihat di tengah rawa tengah pohon-pohon yang melingkar. Sesungguhnya ia tidak terjatuh di rawa, ia terjatuh di jalan menuju labirin ini. Karena itu pakaiannya tetaplah kering.

Peri Biru menaruh kasihan pada sang pangeran. Ditatapnya mata Hippo itu. Ia seperti mengenal tatapan itu, namun entah siapa. “Aku akan mengantar pangeran pulang. Kita harus menemukan jalan keluar” kata Peri Biru.Tapi Peribiru tak tahu hendak kemana di labirin ini. Dan tampaknya pangeran Hippo paham yang dikhawatirkan Peri Biru.

Pangeran Hippo memimpin perjalanan. Ia telah menghapal labirin ini. Labirin ini adalah tempatnya terkungkung selama ini. Mereka menyusuri labirin dalam diam. Peri Biru tahu bahwa masih akan ada sesuatu yang dihadapinya di depan nanti. Semua nampak sangat mudah, pasti ada yang sulit pada akhirnya.

Mereka tiba di tengah labirin. Sebuah rawa terdapat ditengah situ. Rawa yang mirip dengan rawa di tengah pohon-pohon melingkar itu. Ternyata rawa itu adalah pantulan.
Di depannya terdapat sebuah tempat duduk. Mungkin bisa dianggap singgasana. Di sampingnya Sebuah berlian merah tampak mengapung dalam wadah kaca yang melayang dengan api berwarna biru jingga dibawahnya. Di atas labirin itu adalah langit. Tak ada atap ataupun batu yang menghalangi. Disanalah jalan keluar. Dan jarak mereka dengan lubang langit itu sangatlah tinggi. Bahkan untuk mendakinya saja butuh waktu lama.

“Terima kasih Hippo telah mengantar tamu kita hingga disini “ sahut seseorang.Nini hitam si penyihir jahat muncul dari rawa.Melangkah menuju singgasananya. Ini baru kali pertama Peri Biru melihatnya, namun ia sudah mampu mengenalinya. Aura jahatnya sangat terasa.

“Apa maksudmu Nini Hitam? “kata Peri Biru.
“Tak sadarkah kau Peri Biru, bahwa aku telah menjebak kalian. Memanfaatkan kalian agar sampai d isini. Mengantarkan belati itu. Belati yang mampu membuatku menguasai tak hanya negeri rawa air tapi juga negeri-negeri lain.hahahahahaha” tawa Nini Hitam dengan licik.

“Akulah yang menyerang dan menculik Pangeran. Karena dia yang memegang patahan belati itu. Kutuk ia menjadi Hippopotamus gendut. Raja jatuh sakit karena memikirkan putranya. Itu semakin mempermudahku. Dan ramalan itu akhirnya membawamu ke sini lengkap dengan belati itu. Bulan purnama hampir penuh malam ini. Kekuatan belati itu akan memuncak jika disatukan dibawah cahaya bulan.”

“Tapi masih lima hari hingga penanggalan ke 15 bulan juni. Bulan belumlah sempurna”kata Peri Biru.
“Di labirin ini, konsep waktu di dunia permukaan lebih cepat daripada waktu di sini. Dunia permukaan mungkin telah berjalan berhari-hari, namun kamu baru merasakan beberapa jam”sahut Nini Hitam.
“Serahkan belati itu dan patahannya sekarang”teriak sang penyihir hitam.
Namun tanpa diduga Pangeran dalam wujud Hippo menyerang Nini Hitam. “Kamu telah berani melawanku Hippo gendut” kutuk Nini Hitam. “Rasakan pembalasanku”. Dirapalnya mantra yang membuat pangeran Hippo menjadi liar dan tak terkendali.

“Pangeran sadarlah “teriak Peri Biru. Namun ia tak mampu berbuat banyak. Nini hitam pun mulai melancarkan serangan kepadanya. Peri Biru hanya mampu menghindar di balik dinding-dinding batu. Di bidiknya panah kearah penyihir hitam, namun meleset. Hanya menyerempet pipi sang pnyihir jahat itu.

“Anak kecil. Kamu berani mengancamku” murka Nini Hitam.
Pangeran Hippo tampak begitu menderita. Ia seperti tak bisa bernafas. Menyeruduk kasar ke arah rawa ditengah ruang itu. Namun yang didapatinya hanyalah tumpukan debu kering.
“Seperti itulah rasanya tanpa air hewan amphibi. Terimalah kutukanmu” sahut Nini Hitam puas.

Peri Biru menyadari bahwa yang dibutuhkan pangeran adalah air. Kondisi tubuhnya saat ini adalah seekor Hippo, dan hippopotamus adalah hewan ampibi. Diambilnya busur panah tiga sekaligus. Ia punya rencana untuk menyelamatkan pangeran.

Dibidiknya satu-satu panah itu ke arah Nini Hitam. Ia berusaha mengalihkan perhatian penyihir itu dari pangeran. Panah pertama mengenai lengan gaun hitamnya dan tertancap di kursi singgasana. Peri Biru meringsek mendekati sang pangeran. Pangeran dalam wujud Hippo tampak sangat menderita. Ia sangat sekarat.

Nini hitam menyerangnya dengan mantra sihir, untungnya mampu ia tangkis. Panah kedua ditembakkannya lagi. Kali ini sang penyihir mampu menghindar. Jarak Peri Biru dan pangeran Hippo hanyalah berjarak 5 meter. Kembali ditembakkannya panah ketiganya ke arah si penyihir namun kali ini mampu dimatahkannya dengan mantra. Ia tak mempedulikan itu, yang paling penting ia telah menjangkau pangeran. Dibukanya ikatan jubahnya. Jubah yang dititipkan para tetua penyihir.”ia bisa melindungimu”kata-kata itu masih terngiang ditelinganya. Dibungkusnya badan Hippo dengan jubah itu.

Penyihir hitam mulai melancarkan serangannnya kembali. Meninggalkan singgasananya. Peri Biru dan Hippo berusaha berlindung dibalik dinding batu. Tapi ada satu hal yang janggal yang dirasakan Peri Biru, tubuh pangeran Hippo tidak sebesar Hippo yang sebenarnya. Ukurannya terasa lebih kecil dalam bungkus jubah itu.Dibalik dinding batu mereka melihat penyihir hitam ke arah tempat persembunyian mereka.

“Keluarlah. Sudah saatnya menyerah” teriak Nini Hitam.
Hippo menurunkan jubah yang menyelubungi tubuhnya. Peri Biru membantunya. Keduanya bertatapan.

“Kesatria Putih.apa yang kau lakukan di sini???” teriak Peri Biru.Otaknya berjalan cepat, jubah itu telah melumpuhkan kutukan Hippopotamus.
“Peri Biru??” Tanya sang pangeran sambil mengerutkan dahi.
“Bukan saatnya reunian sekarang. Ayo keluarlah dan serahkan belati itu. Atau kalo tidak aku ubah kalian menjadi gajah.hahaahahaha” ancam Nini Hitam.

“Kali ini kita harus setuju dengan Nini Hitam. Ini bukan saatnya menjawab pertanyaan.Kita selesaikan Nini Hitam dan kujelaskan semuanya nanti”kata Kesatria Putih.
“Iya aku sepakat. Tapi apa rencanamu untuk menghancurkan majikanmu itu”Tanya Peri Biru sambil sesekali menyerang Nini Hitam dengan mantra. Mereka hanya mampu berlari dan menghindar.

“Kau harus mengalihkan perhatiannya. Aku akan mencuri berlian hatinya. Di sanalah tempat kekuatannya”jelas Kesatria Putih.
“Yah, seperti dulu. Aku yang mengalihkan perhatian” rajuk Peri Biru.
“Belum saatnya kau merajuk. Mana belati itu?” Tanya Kesatria putih yang juga adalah pangeran.

“Ada di kantung jubah itu. Baiklah aku kan mengalihkan perhatian si Nini Hitam. Aku akan ke arah barat. Dan kau ke arah timur untuk mengambil berlian itu. Aku akan menghitung sampai tiga. Dan kita sama-sama berlari”,kata Peri Biru.
“Satu…dua…”

“Tiga” Peri Biru menembakkan anak panahnya kea rah nini hitam. Berlawanan arah dengannya Kesatria Putih berlari kearah singgasana. Menyatukan patahan belatinya. Namun ternyata Nini Hitam mampu menangani keduanya. Ia melancarkan serangan dua arah. Peri Biru terjebak dan Kesatria Putih jatuh tersungkur.

“Kalian terlalu mudah untukku “ kata Nini Hitam congkak.
Peri Biru berusaha mengatur nafasnya. Mencoba menggumamkan sesuatu dari suaranya yang parau. Ia mencoba bersiul. Sekali, dua kali, hingga tiga kali akhirnya ia berhasil melakukannya. Keduanya putus asa. Nini Hitam melangkahkan kakinya untuk menjangkau belati yang terlepas dari tangan sang Pangeran.

Namun dari celah lubang diatas tampak sesuatu yang menukik dan menyerangnya.
“Aow…pergi kau burung jelek…auw”usir si Nini Hitam.
“Naga Ekor Merah. Aku selalu percaya kau akan selalu menjagaku”teriak Peri Biru.
Kesatria Putih tidak menyia-nyiakan kesempatan. Bulan telah penuh diatas. Diambilnya patahan belati dan disatukannya. Di jangkaunya tomples berisi berlian hati itu dengan sekali lompatan. Ditusuknya berlian itu. Wadah kacanya pecah. Ujung belati itu menembus berlian itu tepat di tengahnya. Bulan tepat menyinari belati dan berlian itu.

“AAAAARRRGGGGGHHHH…….ttttiiiiiidddddaaaaaakkkkkk”teriak Nini Hitam. Dan kemudian yang tertinggal dari penyihir jahat itu hanyalah debu dan seonggok pakaian lusuh.
Naga Ekor Merah tampak kecewa melihat mainan barunya berubah menjadi debu. Peri Biru mendekatinya dan menepuk lehernya “Hai…senang bertemu kembali denganmu”.

“Kalo aku?Senang bertemu kembali?”goda kesatria putih.
“ Jika aku tahu bahwa jubah itu bisa mengambalikan wujud aslimu aku takkan menyelubungimu dengan itu” kata Peri Biru ketus.
“Baiklah aku kembalikan. Tapi nantinya aku pinjam dulu.”kata Kesatria Putih sambil menutup dadanya yang tak memakai baju.

“Terserah kau saja. Kita harus segera pergi sebelum tempat ini menjadi debu”ajak Peri Biru.
Mereka pun terbang keluar dari celah labirin. Menunggangi Naga Ekor Merah. Di belakangnya labirin Nini Hitam perlahan hancur menjadi debu.
“Selalu menyenangkan melihat langit malam bersamamu Peri Biru “ goda Kesatria Putih.

Peri Biru hanya cemberut. Dibuatnya gerakan untuk memerintah Naga Ekor Merah untuk menukik tajam. Hampir membuat Kesatria Putih terjengkal dari duduknya.

“Kamu hutang banyak cerita padaku pangeran Hippo. Makanya aku tak menjatuhkanmu dari punggung naga ini” kata Peri Biru ketus.
***
Pagi mengembun. Matahari dibalik awan. Peri Biru memilih terbang bersama Naga Ekor Merah menuju danau. Di bawah telah menunggu Kesatria Putih. Entah telah berapa jam ia menunggu Peri Biru. Karena Peri Biru baru kembali setelah matahari bersinar terik.

“ Aku akan membayar janjiku. Tapi kau harus ikut denganku” kata Kesatria putih sambil mengusap leher Naga Ekor Merah dan menaikinya.
“Sebaiknya kau lakukan segera” jawab Peri Biru.
“Kau tampak manis kalo cemberut, Peri Biru” goda Kesatria Putih. Peri Biru yang saat itu hendak mengikuti Kesatria Putih menunggangi Naga Ekor Merah tiba-tiba menghentikan gerakannya.

“Ayolah, jangan merajuk. Yuk “ajak Kesatria Putih sambil memegang tangan Peri Biru.
“Awas kalo kau menggodaku lagi. Aku berani terjun dari punggung naga ini”,ancamnya.
“Siap tuan putri” sahut Kesatria Putih, tetap menggodanya.
Mereka terbang ke arah kastil istana. Duduk di puncak tertinggi dan melihat seluruh pemandangan negeri rawa air. Dibiarkannya naga ekor merah untuk terbang kembali. Terbang semau sang naga itu.

“Jadi apa yang ingin kamu tahu Peri Biru” Tanya Kesatria Putih.
“Aku rasa kamu sudah tahu pertanyaanku “ jawab Peri Biru.

“Baiklah. Aku sebenarnya adalah pangeran di negeri ini. Tapi aku menyukai petualangan. Ketika ke Negeri Koin Emas dulu, saat itu aku hanyalah sedang lewat saja. Dan mencoba memberi bantuan. Bertemu denganmu. Dan ternyata kita berhasil mengalahkan naga itu. Kemudian kita sama-sama melakukan perjalanan. Mengapa aku meninggalkanmu sendiri di Desa Tenggara, karena aku bertemu seorang prajurit Negeri Rawa Air.Ia mengenaliku dan menyampaikan pesan ayahku, Raja Negeri Rawa Air. Aku pun memutuskan kembali ke sini. Empat bulan lalu aku kembali ke sini. Ayah telah mempersiapkan penobatanku menjadi raja. Aku melarikan diri. Karena aku merasa tak sanggup dengan beban sebagai raja. Aku menyukai petualangan, Peri Biru. Hingga kemudian aku tersesat di hutan dan tertangkap oleh si Nini Hitam. Ia mengubahku menjadi Hippopotamus. Aku tak bisa melarikan diri. Harus ada seseorang yang dating menyelamatkanku. Dan itu adalah dirimu. ”jelas Kesatria Putih, tersenyum.

“Lantas mengapa kau tak mengenaliku saat wujudmu Hippo?”Tanya Peri Biru.
“Kau harus mencoba menjadi Hippo sayang. Berat badanmu melebihi yang kau bayangkan. Leher dan perutnya tak ada bedanya. Harus selalu berendam. Dan matamu pun tak sejelas ketika kau menjadi manusia. Tapi aku menyukai saat dirimu berbaring terlentang di bawahku”kata Kesatria Putih tertawa.
Peri Biru tak mengatakan apapun, hanya mencubit lengan pangeran Hippo itu dengan kuat. Membuat Kesatria Putih berteriak kesakitan.

“Mengapa kau menyerangku saat itu. Bukankah kau tahu bahwa orang yang datang adalah orang yang akan menyelamatkanmu?”
“Kutukan menjadi Hippo satu paket dengan menyerang orang selain Nini Hitam. Untungnya kau mencabut belati itu dari sarungnya. Karena belati itu mampu melumpuhkan kutukanku sesaat dan menggiring kehadapan Nini Hitam”.

“Selanjutnya, apa yang akan kau lakukan pangeran?”Tanya Peri Biru.
“Aku belum memutuskan apapun. Kondisi ayahku belumlah pulih benar. Adikku pun masih aku latih untuk menjadi pengganti raja. Aku masih belum memutuskan akan mengambil kekuasaan ini atau tidak”tuturnya.

“Hmmm….sejujurnya aku menyenangi dirimu jika menjadi pangeran hippo” kata Peri Biru.
“Jadi kau tak suka melihatku berubah kembali menjadi Kesatria Putih yang kau kenal?”

“Kamu bukan Kesatria Putih, kamu pengeran, Hippo” ejek Peri Biru.
Kedua lalu tertawa bersama. Tertawa bebas di ketinggian 20 meter dari permukaan tanah.
“Rasanya begitu bebas disini Peri Biru” kata Kesatria Putih.”Kamu akan kemana setelah ini?”

“Aku tak tahu. Aku masih ingin belajar pada kakek penyihir. Masih ingin menunggangi Naga Ekor Merah.”katanya.
“Dan aku masih ingin bersamamu disini”bisiknya pelan.
Kesatria putih mendengar bisikan peribiru. Namun ia tak menjawabnya. Dirangkulnya peribiru. “Tinggallah lebih lama. Ajari aku menunggang Naga Ekor Merah. Sepertinya ia cemburu aku dekat denganmu” pinta Kesatria Putih.

Peri Biru hanya tersenyum.Hari telah menua. Sore telah menghitam. Ia pun bersiul memanggil sang naga. “Yuk, kuajak melihat bulan”katanya sambil menggandeng tangan Kesatria Putih.(*)

(Rumah 30 Mei 2010 23.10-sekalian menunggu)
Images

Mix Feeling

Aku pikir aku telah mampu menguasai rasa ini. Rasa yang tak perlu dihadirkan lagi olehmu. Sekali lagi ada pemantik yang menyadarkanku garis mati antara kau dan aku. Mix feeling kata seorang kawan.

Kau berhasil membuat jus rasa di sini. Di sisi hati yang tercampur banyak hal.
Aku ingin membuangmu jauh-jauh. Tak perlu meninggalkan jejak yang mampu mengingatkanku denganmu. Dunia datar adalah tempat rasa yang tertanam ini harusnya tinggal. Tak perlu ia mewujud di dunia permukaan. Jika aku mampu memanggil Hades untuk membawaku ke dunia bawah, aku ingin itu benar-benar terjadi.

Tak perlu hiruk pikuk rasa yang begitu menyesakkan. Melemahkanku untuk membunuh sang nenek sihir. Aku benci mengakuinya. Tapi setengah hati memintaku untuk tetap menjagamu disini.
Kau sangat mampu menarik ulur rasa. Atau aku yang menarik ulur rasa itu. Aku egois. Aku lelah dengan diriku. Rasanya hopeless saat ini. Mengapa begitu banyak mimpi yang perlu kuhujamkan ke bumi.

Aku terjatuh dan berlutut. Aku ingin mengakui rasa itu. Aku cuma manusia.
(Rumah 30 Mei 2010-harusnya tidur saja. nda perlu OL)
Images

Kesetrum


Bagaimana rasanya kesetrum?? Pernah mencobanya. Mungkin untuk tegangan rendah kita pernah mengalaminya. Efek yang ditimbulkan adalah efek kejut yang mampu membuatmu berteriak kaget. Wow.....aku tak pernah berharap untuk kesetrum dengan tegangan tinggi. Bisa berbahaya.
Selain dari benda elektronik efek kesetrum bisa kamu dapat dari benda-benda beraliran listrik alami.semisalnya petir, nah makanya ada penangkal petir. Dan juga dari orang-orang disekelilingmu. Mengapa??? Karena mereka memiliki listrik alami. Hihihihi.

Aku punya ponakan cowok. Namanya Kevin, kami selalu melakukan permainan “cipika-cipiki efek kejut listrik” (istilah ini aku bikin sendiri saat menuliskan cerita ini). Nah, tiap dia mencium pipiku dan mengeluarkan bunyi “cup’ aku kemudian mengekspresikannya dengan berteriak “aaaarrgggghhhh” sambil menggelengkan kepala. Ia selalu menyukai ekspresiku itu. Ia akan tertawa dan kembali mencium pipiku untuk melihat ekspresi yang sama. Kadang saat aku mencium pipinya maka ia pun akan melakukan ekspresi yang sama.

Cinta. Mungkin unsur ini yang membangkitkan listrik alami. Reaksinya adalah ia menyalakan bahagia di hatimu, lantas memerintahkan dendrite saraf di otakmu yang kemudian diteruskan oleh neurit untuk membuat bibimu tersenyum. Wajahmu akan terlihat manis dengan rona merah dipipimu.Efek eksternalnya adalah efek kejut listrik itu mampu kau tularkan pada orang lain yang melihat ekspresimu. Ia akan merasakan bahagia yang kau rasakan.

Kontak tak langsung pun mampu menyalakan aliran listrik alamimu. Jika kamu jatuh cinta dan mengetahui bahwa orang yang kau cintai menyapamu lewat jejaring Sosial, lewat text message, atau ia mengatakan bahwa ia merindukanmu. Efeknya pun akan sangat dahsyat. Dan yakinlah efeknya mampu membuatmu bersemangat dan full energy.

Berikanlah pelukan hangat. Ciuman sayang. Dan berterusteranglah bahwa kamu rindu. Efek kesetrum bisa mengalirmu dan mengaliri orang-orang yang kamu sayangi.
U may try this at home…

(setelah "kesetrum" 29 Mei 2010)
Images

29 Mei 2008-29 Mei 2010


Aku pulang ke rumah. Ke tanah tempatmu melahirkanku. Tempat yang kunamai tempat kembali. Aku ingin mengenangmu kembali. Tak ada ritual khusus sebenarnya yang dilangsungkan di rumah. Ini hanyalah refleksi pribadi dariku.

Dua tahun mungkin waktu yang lumayan cepat jika aku melihat dari sisi lain. Tapi kali ini aku ingin melihat dari sisimu. Dari saat pertama kita tak mampu lagi bersentuhan secara nyata. Rasanya begitu lama telah mendamaikan hati melepasmu. Hari ini sama seperti hari itu. Mendung dan hujan menjadi dekorasi langit. Apakah kau mengingatnya? Aku tak tahu apakah di sana ada konsep mengingat. Mengenang. Dan merindukan. Tapi disini aku selalu mengingatmu. Mengenangmu, dan merindukanmu.

Aku merindukan saat-saat engkau begitu bersemangat bercerita. Baru kusadari bahwa ternyata kesenangan untuk bercerita itu kudapat darimu. Aku banyak berpikir akhir-akhir ini. Dan tiba-tiba aku merindukan bertanya banyak padamu. Aku ingin menanyakan lagu bugis yang liriknya “Seddimi laleng tenriola, wiring na bittarae”, aku yakin kamu tahu jawabnya. Aku menemukannya di buku seorang kawan. Dan aku sama sekali tak pernah mendengarnya. Pasti dirimu mampu menjawabnya.

Aku pun ingin menanyakan kembali padamu. Tentang ritual awal belajar mengajiku. Saat itu aku masih kecil. Tak begitu menaruh perhatian pada benda-benda yang harus aku duduki sebelum memulai pelajaran pertamaku membaca huruf-huruf hijayah. Kamu membungkus jarum, gunting ,silet, dan entah apalagi yang ada di dalamnya dengan kain kafan putih. Setelah belajar kau menyuapiku dengan gula dan kelapa. Terasa gurih di lidahku.

Aku menanyakan apa maksud semua benda-benda itu. Kau menjelaskannya, namun otak kecilku saat itu belum mampu memahami semua penanda itu. Aku hanya menangkap makna akan benda itu sebagai sebuah perumpamaan agar jika mengaji aku mudah menyerap pengetahuannya. “Semoga pemahamanmu seperti benda-benda tajam itu”katamu. Aku asyik menikmati gula kelapa buatanmu, makanan itu berarti agar setiap pengetahuan yang terserap akan terasa segurih dan semanis parutan kelapa dan gula merah itu. Kain kafan putih itu berarti bahwa dalam belajar hendaknya selalu bersih dari segala niatan buruk. Kesan-kesan itu kugali begitu dalam dari dasar-dasar benakku.
Dan kutemukan kembali dalam buku Sengsara Membawa Nikmat.Ritual belajar yang hampir sama yang kau lakukan terhadapku. Ingin rasanya aku menanyakan kembali padamu tentang ritual itu. Ingin kutuliskan kembali. Namun sepertinya aku harus bertanya ke orang lain. Huh! Aku benar-benar merindukanmu.

Aku sudah selesai kuliah. Kerja. Dan sebentar lagi jadi pengangguran lagi. Semoga kau tak marah akan keputusanku. Kau telah memiliki cucu perempuan lagi dari Kakak Ipah. Cucumu berjumlah Empat sekarang.Tiga perempuan, satu laki-laki.Dua orang perempuan dari Kak Anti. Kevin, cucu laki-lakimu makin nakal. Tapi masih selalu menyenangkan. Ia tak pernah memaki. Hanya sedikit manja. Dan Etta, janganlah kau khawatir, dia baik-baik saja.

Dan aku mungkin akan segera dilamar. Aku harap kau merestuinya. Ia adalah orang yang sama yang kukenalkan padamu empat tahun lalu. Pria yang pernah memilih untuk orasi di teknik daripada bertemu denganmu. Hahahaha. Dia sudah berani sekarang.Percayalah, ia akan menjagaku.

Hujan masih turun. Aku ingin menjengukmu. Takutnya kelak aku akan jarang ketempatmu. Akan ku tunggu hujan reda.
Banyak yang telah berubah. Tapi dirimu tak pernah tergantikan.
(Mengenang mama, 29 mei 2010 )
Images

Maaf, Melupakan Ulang Tahunmu



Kami bertemu di jejaring sosial. Titik penanda onlinenya berwarna hijau. Aku tak menyapanya. Sibuk lihat-lihat hal terbaru di FB. Ia menyapaku lewat sarana chatting “DWIIIIII”. Aku bisa membayangkan lengking suaranya yang sudah terekam di benakku.
“Hai cinta. Apa kabar?” sapaku.
Kami lantas berbasa basi tentang keberadaan kami. Tiba-tiba ia menuliskan
“Dwi nda lupa ki sesuatu?”.
Aku yang dalam kondisi kelelahan dan masih memaksa diri berfacebook cuma menjawab”Apa sayang”.
“Coba ki ingat-ingat dulu” katanya. Sempat terlintas dalam benakku apakah aku melupakan ulang tahunnya. Aku memang tak mengingat ulang tahunnya. Namun info di laman jejaring FBnya bisa membantuku mengingatnya. Namun tak kulakukan. Aku malah membalas di box chating “ apa sayang. Maaf nda bisa ka berpikir. Kelelahan ka dari kantor”.
“Nda ji. Next time saja” jawabnya.
"Apa?”kuketik kata itu. Kuklik info di halaman profilnya. Ketemui angka 20 Mei di info tanggal lahirnya.
“Damn!!!” mengapa lupa. Kutukku dalam hati.
Segera kuketik di box chat “Selamat ulang tahun sayang. Maaf”.
Namun setelah itu tak ada eforia ultah yang kutemui. Hanya berlanjut pada cerita tentang kesibukan kerja masing-masing. Jika aku melupakan ulang tahunnya di tanggal 20 Mei itu berarti “nya” tak merujuk hanya padanya. Tapi pada mereka. Kembar dempet tak sekandung.

Biar kuperkenalkan mereka padamu. Mereka adalah berdelapan. Sembilan denganku. Kami menyebut diri kami 9 Naga. Terdengar sangar, merujuk pada film Fauzi Badillah. Kami bertemu di kampus Unhas. Jurusan Komunikasi angkatan 2004. Kami dipertemukan oleh satu hal, kami menyenangi satu hal “ribut”.Bersembilan kami selalu ngumpul dikantin kampus atau di himpunan mahasiswa. Menggosipkan senior, junior, artis-artis, dan cowok cakep. Menjadi perempuan-perempuan paling ribut di koridor jurusan. Namun rajin kuliah dan mengerjakan tugas. Jika geng-geng cewek yang ada dalam pikiranmu adalah mereka yang berbaju seperti di majalah fashion. Buang jauh-jauh anggapan itu. Kami adalah perkumpulan yang tak pernah tahu dandan dan menggunakan baju kebangsaan paling keren di dunia “Kaos oblong dan jeans”. Kecuali satu orang yang menyenangi memakai rok dan berjilbab, dia adalah Santi. Bersembilan itu adalah Azmi, Darma, Echy, Ema, Icha, Were, Wuri, Santi , dan Aku.

Takkan ramai kantin tanpa kami. Jika kamu mendapatkan gossip terbaru, yakinlah kami yang menyebarkannya. Jika kamu membutuhkan contekan tugas kuliah, carilah kami. Kami selalu menyelesaikannya meskipun kami tak bureng (Buru rengking).
Jika tak melakukan pijamas party di kost-kostanku. Kami akan bermain di rumah Were atau Azmi. Kadang juga datang ke rumah Echy untuk menghabiskan kue-kuenya. Atau mungkin melakukan acara masak-masak di rumah Wuri.

Kami bersama selama kurang lebih lima tahun di kampus. Sebelum semua berpisah dan mengerjakan kesibukannya masing-masing. Aku yang harus kerja di Bone. Icha yang sibuk terbang ke Indonesia timur melakukan Pengauditan. Were yang harus pulang pergi Sengkang Soppeng untuk kerja. Echy yang sibuk mengerjakan Deadline bulletin kantornya. Ema dan Darma yang sibuk jadi wartawan. Wuri yang juga sibuk bekerja hingga sabtu atau minggu. Dan Santi yang memilih bekerja di Jakarta.

Tautan-tautan kami berpisah. Kami mulai jarang bertegur sapa. Apalagi aku yang memang jarang mengirimi mereka pesan atau bertegur sapa lewat FB. Semua tiba-tiba tenggelam di perut bumi. Kami mulai jarang bertemu. Jika pun aku ke Makassar, aku pun jarang bertemu mereka. Sesekali mungkin bertemu di Mall dan makan di Kafe. Semua terasa berubah kini. Kami tak lagi menjadi perempuan dengan jeans dan baju kaos yang melekat di badan.Sudah terlihat ada pengetahuan fashion yang kami ketahui jika saling bertemu. Apalagi Icha, perempuan paling imut dari segi wajah, namun tua dari segi usia. Tempat main pun bukan lagi di kantin Fisip di bawah pohon rindang. Berpindah ke Mall dan kafe. Kami mulai seperti manusia-manusia urban pada umumnya.

Aku mungkin adalah orang yang paling jarang ngumpul dengan mereka. Semisalnya weekend ini, harusnya ada pertemuan menyenangkan dengan mereka. Namun aku tak ke Makassar. Akulah yang menarik diri. Akulah yang mulai melupakan mereka. Padahal bukankan mereka lapis cinta kedua yang kupunyai. Merekalah yang menemani dan menyemangatiku ketika mamaku meninggal. Merekalah yang selalu ada untuk tiap sedih dan suka. Merekalah yang paling bersemangat untuk pesta pernikahanku.
Sebuah kesalahan fatal melupakan ulang tahun mereka. Apalagi si kembar dempet Were dan Icha. Perempuan-perempuan yang selalu mengalirkan banyak cinta untuk kawan-kawannya.

Disini aku meminta maaf untuk khilaf itu sayang.
Selamat ulang tahun.
Meski ucapan itu sudah sangat basi mungkin.

Aku mencintaimu dan menyayangimu…
Images

Mencari Tepi Langit bersama Fauzan Mukrim

Bagaimana rasanya membaca buku fiksi yang ditulis oleh seseorang yang kamu kenal? Akan kau dapati banyak tokoh yang nyata adanya. Tempat yang benar-benar sesuai dan karakter-karakter kawan yang mungkin kamu kenal.

Seperti itu yang kurasa ketika membaca Novel pertama Fauzan Mukrim. Ada baiknya keperkenalkan dulu siapa Fauzan Mukrim yang kukenal. Ia adalah seniorku di jurusan Ilmu Komunikasi Unhas. Juga menjadi anggota senior UKPM tempatku mengenal pers mahasiswa. Kami bertemu waktu acara pengkaderan himpunan. Aku saat itu menjadi mahasiswa baru. Dan Ia memberi materi yang cukup berat untuk otak SMAku saat itu, Hegemoni. Ia telah jadi wartawan saat itu.

Selang berjalan, aku menyukai membaca tulisannya di blog. Kemudian ia selalu menelponku saat tengah malam dari kantornya. Kami lumayan dekat. Meski jarang melakukan diskusi-diskusi berat. Ia berasal dari Bone yang juga adalah kampungku. Meski kami beda kecamatan dan berjarak 42 km.

Pernah kami cerita berdua hingga tengah malam di bangku depan lapangan basket PKM unhas. Membahas banyak hal. Dan bercerita lucu-lucu. Kak Ochan (Sapaanku kepadanya, Dan untuk selanjutnya akan kutulis namanya sesuai panggilan akrabku padanya) adalah tipe orang yang selalu mampu memberiku kosakata-kosakata baru. Aku selalu menjiplak kata-kata yang digunakannya. Dan ….ssstttt….. aku pernah menyukainya.Pernah sempat “menembak”nya dengan terus terang.hahahaha. (Maaf Kak Desan:).

Mencari Tepi Langit bercerita tentang Senja Senantiasa, seorang wartawan yang bertemu dengan perempuan benama Horizon Santi yang memintanya untuk mencari asal usulnya. Proses pencarian yang dibumbui dengan petualangan Senja sebagai wartawan di beberapa daerah konflik.GAM, Tsunami Aceh, dan terorisme menjadi bumbu yang digunakan Kak Ochan dalam meramu Mencari Tepi langit.

Membaca Mencari Tepi Langit seperti melakukan percakapan panjang dengan Kak Ochan . Bertema berat namun selalu mampu diselingi humor-humor renyah. Bahasanya tak melulu jejeran kalimat-kalimat puitis. Sesekali diselipi sebuah joke yang kadang membuatku membayangkan gambar komik kaki-kaki berjejer dengan sbuah kata “Gubrak”.

Aku seperti disajikan sebuah kehidupan wartawan yang sebenarnya. Seperti pertentangan antara idealisme para pekerja jurnalistik dengan kepentingan perusahaan media untuk mendapatkan ratting tinggi dengan gambar cantik . Seperti di halaman 5.

“Jakarta sudah beberapa kali menelepon, menanyakan kabar dan minta “gambar cantik”. Gambar bocah sekarat pasti cantik bagi mereka”.

Buku ini menjadi semacam tour guide bagaimana proses kerja wartawan dan bagaimana jurnalistik itu terjadi. Kepentingan-kepentingan news room untuk mendapatkan gambar ekslusif demi sebuah ratting dan prestise On The Spot.Aku menemukan cerita tentang dunia lain di balik dunia jurnalistik yang hanya bisa dipirsakan lewat televisi, Koran atau radio dan internet. Kak Ochan menuturkannya dengan sangat jujur.
Tampak jelas keluasan pengetahuan penulis mulai dari teori dunia kecil, Buku George Orwells, yang ia gunakan hingga perumpamaan bugis kuno yang juga baru aku tahu (kalo kakakku kayaknya sudah tahu deh perumpamaan itu)

“Seddimi laleng tenriola. Wirring na bittarae!Hanya satu jalan yang tak bias kau tempuh, hanya tepian langit! (hal. 232).

Kak Ochan juga banyak menggunakan istilah-istilah dalam bahasa jurnalistik yang mungkin bagi orang awam yang tidak mempelajari dunia jurnalistik akan terasa asing.namun istilah-istilah itu menjadi pengetahuan baru bagi pembaca.

Aku paling suka pada hal 69, Kak Ochan mendeskrpisikan sebuah mimpi (mungkin)benar-benar menjadi mimpi berjamaah para pengangguran. “Kerja sebagai prasyarat menjadi bagian kaum urban yang sukses. Pulang kerja, kemudian bergaul. Belanja di Plaza Indonesia atau Ngopi di Coffer Bean. Jika masih ingin berpikir, mungkin lanjut kuliah di luar negeri. Setelah itu pulang sebagai sosialita dan sesekali muncul di rubric free magazine”. Entah mengapa aku menyukai bagian ini, mungkin karena aku pun turut menjadi makmun untuk mimpi itu.

Ending yang dibuat menggantung mungkin sedikit menggemaskan. Tapi ini adalah ciri khas Fauzan Mukrim yang kukenal. Penggambaran UKPM dan PKM Unhas benar-benar membuatku rindu akan tempat itu.

Overall, buku ini membangkitkan minatku kembali untuk menggeluti dunia Jurnalistik. Namun ia masih pada sebatas mimpi. Aku memetik satu hal dari buku ini “Bebaskan ikatanmu dalam menulis”. Dan sekali lagi ia membangkitkan semangatku untuk memulai menuturkan kisah.

Thanks Kak Ochan untuk note kecil di halaman depan
"Untuk Dwiagustriani Akhmad yang meminta dituliskan sebuah puisi
padahal dirinya sendiri adalah puisi..."

(Rumah 28 Mei 2010)
Images

Jalan-Jalan ke Pasar


Pasar tradisional identik dengan becek, kumuh dan penuh berjejal orang. Berbeda dengan supermarket dan tempat-tempat perbelanjaan yang lebih modern. Yang penuh dengan kenyamanan. Tak perlu becek dan tak perlu menawar.

Rumahku berdekatan dengan pasar dan juga mesjid. Jika definisi ibu kota kampung adalah ada pasar, mesjid, puskesmas, dan bank unit kecamatan maka rumahku telah berada di wilayah paling strategis. Di belakang mesjid. Samping pasar. Dan dekat dengan puskesmas dan bank unit kecamatan.

Pasar menjadi tempat hiburan untuk daerah sesepi kampungku. Pasar di sini dihitung berdasarkan penanggalan jawa. Pahing, Pon, Wage,Kliwon, legi. Sistem ini disebut Pancawara dalam budaya Jawa-Bali.Pancawara disebut juga sebagai hari pasaran dalam bahasa jawa. hitungannya tiap lima hari.Pasar dikampungku jatuh pada penanggalan Legi. Harusnya dikenal dengan pasar Legi, tapi karena penempatan lokasi pasar ada di beberapa desa maka pasar-pasar itu lebih dikenal dengan penamaan desanya. Misalnya di desaku dikenal dengan Pasar Bengo. Di Parigi di kecamatan Lappariaja dikenal dengan Pasar Parigi. Atau di Desa Lili Riawang yang lokasi pasarnya di dusun Koppe, dikenal dengan nama pasar Koppe.

Pasar adalah ajang janjian para pemuda-pemudi desa. Tempat nongkrong dan ruang untuk bertegur sapa. Bahkan menjadi tempat pacaran. Tempat para pemuda-pemuda desa mencari tahu gadis yang disukainya. Juga menjadi tempat untuk para gadis menunjukkan bahwa mereka available.

Aku pernah melalui masa itu bersama teman-teman sebaya waktu SMA. Tapi tak pernah benar-benar menjadikan pasar ajang pertemuan.hahahaha. Aku tipe orang yang tak menyukai berdesak-desakan. Tak menyukai berbecek-becek ria.Aku tak menyukai proses tawar menawar. Aku paling tidak tahu bagaimana proses menawar itu. Kalo mamaku punya trik khusus. Ia survey harga dulu di beberapa penjual.Trus mencari penjual yang ngasih harga paling murah. Nah setelah itu ia akan menawar lagi untuk dapat lebih murah. Kalo tidak diberi harga murah. Ia akan pura-pura pergi. JIka beruntung, penjual akan memanggilnya kembali dan memberikan harga sesuai tawarannya. Tapi kalo tidak, ia akan terpaksa kembali meski harga tetap tinggi. Itu pun kalo tidak malu.

Yang aku senangi dari hari pasar adalah banyak jajanan tradisional, aneka buah, dan juga lauk pauk yang enak.Pasar dekat rumahku selalu ramai. Mungkin aku tak menyukai berbelanja di pasar tradisional, tapi aku menyukai melihat-lihat orang. Melihat pola interaksi yang terjadi di sana. Aku selalu senang menemani mamaku berbelanja dulu. Ketika aku pulang ke rumah jika libur kuliah. Tapi kadang jika aku sudah menemukan apa yang aku inginkan, aku meminta ijin ke mamaku untuk pulang lebih cepat. Menemani berbelanja atau meminta dibelikan sesuatu. Entah yang mana yang kulakukan.Sepeninggal mama, Etta yang mengambil posisi untuk turun berbelanja. Ia menyukainya.

Hari ini aku kembali melakukannya dengan Etta. Memintanya membelikanku beberapa keperluan pribadiku. Menggunakan uangnya. Aku merasa seperti anak kecil 5 tahun yang merengek di ajak ke pasar melihat keramaian. Tapi yang aku cari tak ada. Jangan pernah berharap menemukan barang-barang asli di pasar tradisional.Barang-barang asli yang harganya bisa 5 kali lipat dari baran imitasi. Segementasi pasar ini adalah masyarakat pedesaan yang tak mempedulikan merek asli atau imitasi. Yang penting bisa gaya!!!

Pasarnya masih becek, meski telah direnovasi dan telah berbeda dengan bentuk aslinya dulu. Masih berdesak-desakan, dan masih jadi ajang tempat bertemu.

Aku hanya membeli sandal jepit imitasi berharga 20an ribu. Sendal jepit masihlah paling keren dari semua alas kaki yang pernah ada di dunia.Dan dua bungkus kembang api yang ingin aku mainkan di atap rumah. Hari ini menyenangkan jalan-jalan di pasar!!!!
Images

Pagi perak Sumpalabbu




Apakah kamu pernah menonton Film india “My name is Khan”? Jika pernah, apakah kamu mengingat scene dimana Rizvan Khan , yang diperankan Shahrukh Khan mengatakan pada Mandira yang diperankan oleh Kajol Devgan “menikahlah denganku?” yang dijawab oleh Mandira “Aku akan menikah denganmu jika kau memperlihatkan tempat di kota new York ini yang belum pernah aku lihat”.

Rizvan berusaha menunjukkan banyak tempat kepada Mandira dan anaknya, namun ternyata tempat itu telah dikunjunginya semua. Hingga tiba pagi dimana Rizvan membangunkan Mandira. Masih dengan memakai piyama tidurnya Rizvan memperlihatkan pemandangan kota New York di atas bukit yang diselimuti dengan awan-awan rendah.

Aku terasa dejavu pada scene itu jika melintasi bukit berkelok ke arah Bone. Bukit di atas desa Lili Riawang, dusun Koppe. Berjarak sekitar 20 menit dari rumahku. Daerah itu bernama Sumpalabbu. Jalanan berliku dengan pinggir tebing yang curam. Kau akan melaluinya jika dari dan ke kota Bone. Ada sebuah terowongan dengan panjang dua meter terbuat dari batu gunung besar yang sengaja dilubangi agar memudahkan pembuatan jalan. Jalanan ini dibuat sejak zaman Belanda. Sekitar tahun 1920an. Mamaku pernah bercerita bahwa kakekku pun pernah ikut berkontribusi membuat lubang pada batu besar itu. Bisa kamu bayangkan berapa banyak tenaga manusia dan berapa banyak waktu yang diperlukan untuk melubangi sebuah batu berukuran sangat besar dengan alat seadanya di zaman itu. Sumpalabbu berasal dari bahasa bugis kata sumpang berarti pintu, dan labbu yang artinya tepung. Entah apa pemaknaan secara historis tentang daerah itu.Maaf belum melakukan wawancara mendalam dengan para tetua.

Pagi sebelum matahari bersinar terik kau akan menemukan awan menyelimuti perkampungan bawah. Rasa seperti di awan-awan. Makin tinggi makin cantik pemandangannya. Lakukanlah perjalanan kala pagi, karena disaat itulah panorama jalan curam itu sangat cantik. Kau akan temui hamparan dataran rendah yang tertutup kabut. Hanya menara mesjid dan pohon-pohon besar yang mencuat dibaliknya. Suhu mungkin terasa dingin,tapi rasa dingin itu yang menjadi penambah syahdu suasana. Aku menyembutnya Morning Silver-Pagi yang perak. Karena matahari masih menggeliat di balik awan-awan dan kabut belum menguap. Jari-jari tanganmu masih mampu menggapai kabut-kabut itu. Rasanya seperti di negeri awan.

Pemandangan inilah yang tiap senin pagi aku temui dalam perjalanan ke kantor. Ingin rasanya sesekali singgah dan mengabadikan keindahan itu. Tapi aku belum pernah menyempatkan diri. Mungkin kelak, aku akan mengajak seseorang menemaniku. Mungkin meminjam kamera seorang kawan dan memburu pagi perak di Sumpalabbu.

(Maaf, foto di atas hanyalah ilustrasi. Jika ada waktu yang bisa disempatkan, aku akan memotretkannya untukmu...:)
Images

Sedih Menganga


Siang ini aku terbangun dan merasa sedih. Serak-serak itu mengumpul perlahan dan membuat lubang menganga di hatiku. aku mengurai serak itu satu demi satu. Tak ada kakak ipah dan Khanza yang selalu ribut berfacebook dan menangis. Tanteku berkunjung dan mengatakan akan seminggu berada di Makassar. Dan aku menghitung hari efektif kerjaku di kantor.

Tinggal Sembilan hari lagi. Sebuah hitung yang mampu aku lakukan hanya dengan kedua jariku tanpa harus meminjam jari-jari kakiku. Semua terasa begitu cepat berlalu. Aku selalu membayangkan bahwa hitungan tahun adalah sebuah jumlah hari yang cukup lama. 365 hari. Tetapi rutinitas mampu membuatnya bergerak cepat. Tak terhentikan. Baru kemarin aku melewati gerbang penanda kota watampone. Membayangkan tentang setahun kedepan yang harus aku lalui dengan aman. Membayangkan ribuan jam yang harus aku lalui untuk sampai didetik yang penanda setahunku. “kelak aku pun akan beranjak pergi lagi” batinku. Dan kelak itu Sembilan hari lagi. Sembilan hari yang akan terasa begitu cepat selesai. Sekali lagi rutinitas kerja menikam waktuku.

Baru kemarin kutemui ia. Anak kelas 2 SMP yang beranjak naik kelas 3. Aku berpikir, mungkinkah akan kau lalui masa SMAmu bersamaku. Kemarin telah kudapati seragam putih birunya penuh coretan kelulusan. Dan telah kutemukan jawaban dari tanyaku “aku takkan menemani ratusan hari yang membuatmu beranjak dewasa.tapi setidaknya aku tahu bahwa kau telah memiliki pacar”.

Keputusanku tak berubah. Aku tetap akan beranjak. Hatiku telah berkemas. Tapi setiap kepergian bukankah selalu ada sedih. Bahkan Sri Mulyani sekalipun meninggalkan Depkeu dengan tangisan. Jika aku merunutnya mungkin lebih banyak lelad dan sedih dalam daftar daripada rasa bahagia yang hanya sesekali meletup. Tapi meski kuantitasnya sedikit, tapi ia mampu menyalakan semangatku. Kualitasnya mampu mengimbangi ratusan rasa lelah dan sedih. Jika aku mengandaikan ini sebuah rumah tangga yang berada dalam retak. Kecintaan pada anaklah yang mungkin satu-satunya hal yang mampu membuat keluarga ini bertahan dan tak patah.

Aku mungkin memilih melepaskan diri. Aku akan merindukan teman-teman kantor yang berbagai warna. Merindukan tiap konflik dan masalah yang berusaha dijalani dengan positif. Merindukan ikatan kekeluargaan yang telah terbina dengan nasabah. Meninggalkan mantra dan ramuan yang mampu mematikan sedih dan menyalakan gembira seperti sakelar lampu. Meninggalkan mereka semua memang mampu membuat lubang sedih di hati.

Tapi bukankah pada akhirnya manusia selalu akan menemukan keberimbangan baru. Seperti bumi yang bergejolak dan menemukan keberimbangannya lagi. Aku yakin aku bisa menemukannya. Cukup kujalani saja dengan mantra sakelar lampu….
Images

Tribute To J.K.Rowling dan Hernowo



Baru saja kutuntaskan buku “Aku ingin Bunuh Harry Potter” karya Hernowo. Terlambat mungkin kata yang paling tepat untukku karena baru menyelesaikan membaca buku yang dituliskan Hernowo dua bulan sebelum Harry Potter Jilid ketujuh “Harry Potter and The Deathly Hallow”. Dan itu sudah tiga tahun yang lalu.

Sebelum aku berbagai kesanku tentang buku ini, biarkan kupaparkan dulu mengapa buku ini baru aku beli dan baca. Pada awalnya aku tak pernah tertarik untuk membaca buku How to Write, buku panduan menulis menurutku adalah sebuah penawaran jalan untuk menuliskan suatu karya yang menurutku hanya cocok dengan sang penulis buku. Aku masih meyakini bahwa setiap orang adalah memiliki gaya menulis masing-masing. Bullshit dengan teori menulis. Yang perlu dilakukan adalah “tuliskan”. Tapi toh sampai saat ini aku pun belum melakukan aksi “menulis” itu.

Kak yusran membeli buku Hernowo, Mengikat Makna Update, buku tentang bagaimana menulis itu. Beberapa bulan silam. Aku membaca beberapa kalimat awalnya. Sang pengarang memiliki cara menulis yang menarik. Namun, tetap saja masih aku tak tertarik untuk menghabiskannya hingga halaman terakhir. Namun mulai dari saat itu aku mengenal sosok Hernowo. Seorang bapak yang telah melahirkan puluhan buku tentang bagaimana menulis dan membaca itu. Pengistilahan favorite-nya terhadap aktivitas itu adalah “Mengikat Makna “. Seperti kalimat yang diucapkan Imam Ali, “Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya”. Aku pun mulai berteman di situs jejaring Facebook. Selalu menemukan update status yang menginspirasiku untuk menulis. Puluhan komentar selalu bersarang distatusnya. Aku paling suka dengan review “3 Idiots” yang ditontonnya dengan anak dan istrinya (Karena itu adalah satu-satunya note yang sempat aku baca dari puluhan notenya yang lain-mungkin-).

Sebulan yang lalu, aku sempat jalan-jalan ke toko buku. Rutinitas yang menyenangkan dan menggairahkan. Aku menemukan buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” dalam rak diskon. Aku pun tersentak. Ternyata Hernowo yang menuliskan buku itu. Buku yang dulu sempat tak ingin aku baca karena telah kuhakimi dari judulnya bahwa ia salah satu buku yang mungkin menghujat Harry Potter.

Aku salah satu penggemar Harry Potter. Sejak kelas satu SMA, tahun 2000 saat ia menjadi Best Seller di Amerika . Aku dan kakakku menemukan infonya di majalah kawanku, bahwa buku berjudul “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone” adalah buku dengan terlaris di dunia saat itu. Aku dan kakakku sangat penasaran dengan buku tersebut. Aku masih mengingat bagaimana kami mengumpulkan uang jajan kami hanya untuk membeli sebuah buku yang berharga Rp.36.000 (saat itu, nilai uang itu masih sangat besar untuk ukuran anak SMP kelas 3 yang baru saja lulus masuk SMA seperti aku).

Namun, tak pernah surut niatku untuk tak mengoleksi kisah sang penyihir cilik itu. Aku selalu membawa buku tersebut ke sekolah. Dan teman-temanku pun terjangkit penyakit menyukai Harry Potter. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Harry Potter telah menyihir dunia dengan kisahnya. Dan aku, kakakku, dan teman-teman kelasku pun menjadi korban.

Aku selalu menanti kapan seri terbarunya muncul. Aku hanya menanti agak lama pada buku ke empat “Harry Potter and The Goblet of fire” karena tak melakukan saving keuangan yang baik. Akhirnya patunganlah Aku dengan kedua kakakku membelinya.

Aku tak pernah berniat membuka satu halaman pun dari buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” sejak pertama aku melihatnya di toko buku.”Jangan menghakimi buku dari sampulnya” adalah kalimat yang harus dipertimbangkan kembali.

Buku itu telah masuk dirak diskon. Mungkin karena toko buku telah melihat bahwa Jilid ke tujuh Harry Potter telah selesai dan buku “Aku ingin bunuh Harry Potter” yang mengetengahkan tentang ramalan tentang buku ketujuh itu tidak lagi begitu menjual. “mumpung diskon, apa salahnya tidak membelinya. Lagian kan aku sudah pernha tahu bagaimana Hernowo menulis “ timbangku. Jadilah buku itu aku beli dengan buku What’s Your Stories (akhirnya aku pun mau membaca buku How To Write setelah dapat writer’s block cukup lama:)).

Namun baru siang tadi aku memulai membaca buku ini. Aku tiba dikebingungan harus member itribute kepada siapa setelah membaca buku ini. Kepada J.K Rowling yang telah berhasil menciptakan dunia sihir yang terasa nyata, atau pada Hernowo yang telah menghadirkan buku ini yang kemudian memantik rasa ingin menulisku?

J.K Rowling. Tak ada keraguan padanya. Apa yang aku dapat setelah membaca ke tujuh bukunya? Sebuah pertanyaan “Kapan ya bisa jadi seperti J.K Rowling?”. Ide cerita yang baru, alur cerita yang kompleks, diksi-diksi yang menarik, misteri yang membuat penasaran, nama-nama tokoh yang penuh makna, kecerdasan intelektual yang menonjol, konsistensi cerita keren, pesan yang ada dibaliknya, dan sebuah mantra yang yang sanggup mengubah dunia. Luar biasa. Awesome, Speechless, Keren!, Cool, Hebat menjadi sederet kata yang tak mewakili kisah imajinasi dan fantasi yang dibuatnya.

Ia telah menemukan akhir kisahnya Harry Potter saat dia menuliskan buku ketiga Harry Potter. Aku bisa membayangkan bagaimana imajinasi begitu liar bergerak menggabungkan semua tokoh-tokoh. Menuliskan misteri-misteri yang saling terkait. Mencari pengistilahan dan menemukan ratusan hewan dan benda imajinatif . Apakah ia pernah berada di titik “Harus bagaimana Endingnya ? Lantas setelah ini apa?”. Mungkin ia pernah berada disituasi itu. Tapi ia telah mampu berdiri dan mengalahkan penghalang ceritanya. Salute to J.K Rowling.

Kedua tribute to Hernowo. Meski buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” baru aku selesaikan. Namun aku menemukan kembali greget yang dulu aku dapati saat membaca Harry Potter. Rasa itu ditumbuhkan kembali oleh Hernowo. Hernowo menciptakan Heri Puter, tokoh yang menjadi guide dalam buku ini. Yang mengantarkan pembaca melihat kembali sesuatu di balik kisah Harry Potter. Heri Puter ingin membunuh Harry Potter. Dan disinilah Hernowo memulai tour pembaca mengenai refleksinya tentang buku Harry Potter.

Hernowo memulai dengan empat unsure penting tentang perbandingan hal-hal sihir dan hal-hal biasa. Pertama, kemurnian darah . dibagi menjadi tiga darah murni (garis keturunan murni penyihir), darah campuran (memiliki keluarga penyihir dan muggle –manusia biasa), darah lumpur (tak memiliki leluhur penyihir).unsur kedua, burung hantu yang menjadi sarana komunikasi antara penyihir. Layaknya merpati pos. Unsur ketiga yaitu Quidditch, olahraga sihir yang berupa gabungan polo dan sepakbola mengunakan sapu terbang. Terahkir adalah Asrama, tempat masing-masing murid dibagi berdasarkan penilaian si topi seleksi. Grifindor (menyukai keberanian), Ravenclaw (kepintaran), Hufflepuff (keadilan dan kesetiaan),Sytherin (menyukai ambisi). Keempat nama itu diambil dari empat orang pendiri Hogwart.

Hernowo menuliskan bahwa titik balik Harry Potter adalah pada buku ke lima. Harry Potter and the Order of the Phoenix. Di jilid ini Harry Potter berusaha menghadapi Voldemort tanpa bantuan Dumblodore dan harus kehilangan Sirius Black. Cerita suram pun beranjak hingga jilid ke enam dimana Harry Potter mulai menemukan jawaban mengapa Voldemort ingin membunuhnya . “Sang terpilih akan lahir pada akhir Juli.Dilahirkan oleh orang tua yang sudah menantang Voldemort sebanyak tiga kali”. Bisa jadi itu Harry Potter, atau mungkin Neville Longottom.

Dari buku ini pula aku akhirnya tahun makna nama beberapa tokoh penting di Harry Potter. Semisal Voldemort ,yang dalam bahasa Prancis the flight of the death, pelarian dari kematian”. Atau nama Albus yang berarti putih dalam bahasa latin. Dan juga tentang cermin Tarsah yang dalam bahasa inggris disebut “erised Mirror”. Jika dibaca dari belakang akan ditemukan kata Disire. Hasrat. Cermin Tarsah pun jika dibaca dari Kiri ke kanan jadinya Hasrat. Keren kan !!!!

Hernowo memaparkan tentang kekuatan cinta yang melingkupi Harry Potter.Cinta yang membedakannya dengan Voldemort. Kekuatan cinta dan mencintai. Cinta Keluarga, guru, dan sahabat. Kekuatan yang tak pernah dimiliki Voldemort. Dan Karena kekuatan inilah sehingga Heri Puter tak jadi membunuh Harry Potter. Sayang aku membaca buku ini yang masih dalam versi lama, bukan versi extended yang berisi tentang cerita update dari buku ke tujuh Harry Potter.

Buku Ketujuh Harry Potter telah selesai memang. Dan tebakan-tebakan cerita dibuku ini mungkin tak lagi memantik rasa penasaranku. Namun, ramalan bahwa Harry Potter adalah Hocrux dan Professor Snape adalah tokoh kunci di jilid ketujuh benar adanya.

Yang membuatku gregetan pula adalah pesan Hernowo untuk selalu mengikat makna dari tiap buku yang telah dibaca. Karena akan sia-sia makna yang telah ditangkap setelah membaca buku tanpa pernah mengikatnya.Dan catatan kecil ini adalah upayaku untuk mengikat makna terhadap buku Hernowo dan J.K Rowling.
Images

Remah - Remah


Handphone selalu menjadi buku catatan kecil yang merekam field note ku. Merekam rasa yang mungkin datang sekejab. Mungkin karena sifatnya hanyalah sepatah dua patah kata yang sekelebat melintas di pikiran. Menemukan beberapa kalimat-kalimat keren yang mungkin bisa disisipkan dalam tulisan. Selalu menyenangkan bisa meninggalkan jejaknya di dalam handphone dan sesekali menengoknya.

Tapi kali ini aku ingin membaginya lewat sarana blog. Agar tidak sesak di dalam hpku dan tak utuh menjadi sebuah tulisan.

I’m in middle of nowhere. Kalo aku berada dalam pilihan saat ini atau bertemu dengan werewolf atau vampire gagah, aku akan memeilih yang kedua.

Apakah rutinitas kerja layaknya seperti ini?Tidak semua kurasa. Tapi pilihan yang kujalani adalah pilihan hidup yang mungkin harus terus aku selesaikan.Apa yang kucari?Tak ada mungkin. Semua begitu samar. Selalu ada suara-suara yang menguatkanku untuk bertahan. Bertahan dengan akar yang makin kokoh.tapi di satu titik, aku ingin melawan. Keluar dari mainstream dan mencoba berenang melawan arus. Konsekuensinya adalah menjadi minoritas. Telah dua kali kucoba. Pertama ku tolak, ke dua aku gagal. Aku tak yakin aka nada kesempatan ketiga lagi atau tidak.

Meninggalkan zona nyamanku dan berada dalam ketidakpastian menjadi multiple choice yang lain lagi bagiku.Tapi aku kemuadian melakukan definisi ulang terhadap sebentuk kenyamanan? Apakahi ni kusebut nyaman.Aku belum menemukan definisi yang tepat.hatiku bergerak melawan tapi aku belum menemukan arus yang lain.Aku berpusar di sini. Tak tentu arah.

(Remah ini sudah lama. Sebentuk kegeiisahan tentang hidup. Mungkin disaat aku menuliskan tulisan di atas menjadi titik balik perenunganku. Beberapa waktu lalu, Kak Yusran bilang “kau banyak melakukan perenungan akhir-akhir ini. Aku mendapatimu berpikir dewasa dan bijak”. Aku berada dititik kegelisahan hendak menentukan arah hidup. Aku hanya memiliki diriku dan perenunganku untuk bisa menemukan jalan bijak yang harus aku tempuh. Dan saat ini aku telah sampai pada titik dimana aku bisa menghitung hari dengan semua jari tanganku.Hari dimana aku memutuskan mencari definisi nyaman dalam kamusku sendiri Aku tak menemukan pusaran yang lain untuk diselami. Tapi aku telah mampu berenang dan bergerak menemukan pusaran yang lain lagi.)

Kali ini aku biarkan sakit menusukku perlahan. BIarkan kau tetap di sana tanpa tersenth.tak bergeming. Aku butuh sendiri. Sekitarku terlalu rebut. BIarkan aku dengan hatiku yang sepi. Tak perlu lelah menungguku.

(Remah ini aku tulis saat acara keluarga di Pattiro. Aku tiba-tiba menemukan diriku sepi diantara hiruk pikuk keluarga. Merasa sendiri dan tak punya teman. Mencari seseorang untuk diajak berbicara hati ke hati. Dan ternyata aku menemukan diriku sendiri.)

Aku ingin mendeletemu dari saraf otakku. Tolong sebutkan saraf mana yang harus kugunting untuk itu. Setiap percakapan kurekam jejaknya dalam benakku.Biarlah tetap abadi di sana. Aku akan mencoba tak menjadi kecaduan akanmu.

(Susah untuk melupakan seseorang ternyata. Makin kau meniatkan untuk melupakannya. Makin ia mengrogoti saraf-saraf otakmu perlaha. Seperti ini lah yang terjadi padaku.)

Aku mencari lagu yang bisa yang mampu menghapusmu dari memory otakku. Namun makin aku berusaha mendelete-nya, Recycle bin otakku merestore filemu kembali. Seperti semacam virus yang kian mengrogoti program computer. Tak merusak namun memenuhi memory.
Membuat data-data yang lain terdesak. Lagu itu mengalung sempurna di gendang telingaku. Dan saraf-saraf otakku akan meningatmu kembali.Merasuk ke infuls otak dan mencari jejakmu di sana.Kau telah berhasl mengalihkan duniaku. Kau merajai tangga box office dalam saraf-sarafnya.

Rasanya ingin kutepuk kau keras. Layaknya nyamuk yang berdengung mengangguku. Hingga kudapati gumpalan darah ditanganku dan rasa puas yang memenuhi jiwa karena telah berhasil melenyapkanmu.

( Masih terus berusaha melupakannya. Tapi berusaha lupa adalah sebuah laku mengingat. Dan akhirnya tak terlupakan;0)

Aku bermimpi tentangmu semalam. Bersua denganmu adalah sebuah laku kaku. Meski itu dalam mimpi. Jika kelak nyata membuat kita mampu bersinggungan, aku tak pernah mampu menebak seberapa kelu lidah ini untuk menjawabmu. Hati seoerti sepasukan marching band yang full music. Berdentum tak karuan mengalunkan zimponi hati. Mununggumu. Aku menanti senjakala itu. Tapi aku sepenuhnya sadar jika aku dan kamu telah tiba di ujung senja, sebuah hymne perpisahan akan melagu untukku.

(Sangat gampang mendapati ide untuk menulis. Bahkan dari mimpi sekalipun sebuah paragraph bisa terbentuk. Cukup ditambal dengan beberapa kata sana sini:))

Six Degrees of Separation, Semua orang di planet ini dipisahkan hanya oleh enam orang lain. Enam derajat keterpisahan. Sebuah bagan pemikian yang berkesan. Betapa tiap orang merupakan pintu gerbang. Melaluinya dunia baru terbentang” (Teori Dunia kecil, Robert Mattews, 25 Gagasan Besar)

(Aku menyukai teori ini. Bahwa dunia ini begitu kecil dan bisa membuat kita terhubung negeri seberang laut. Dengan teori ini akan mampu ditemui bahwa kita memiliki sebuah ikatan tak langsung dengan David Beckham. Keren kan!!!)

“Aku sedang belajar menanam rindu. Buatmu. Hanya buatmu. Ingin kurawat ia hingga berbunga dan kelak akan aku petik untukmu.”

(Lagi kangen dengan pacar, jadinya menuliskan tentang rindu;P)