Images

Musik Yang Memerangkap Kenangan


Apakah kamu pernah terperangkap pada sebuah kondisi dimana sesuatu seperti musik atau wewangian memerangkapmu dalam sebuah kenangan yang indah namun tak pernah kamu tebak pernah kamu alami pada sebuah masa pada sebuah kala?

Aku selalu merasakannya.ada saat dimana indraku mendeteksi tentang sebuah minyak wangi yang seolah-olah membuatku ke sebuah masa di kala lalu yang begitu menyenanngkan namun terkadang tak mampu aku definisikan.

Entah dalam sisi psikologinya disebut apa. Tapi terkhusus pada musik aku mampu mengingat detail kejadiannya. Bahkan merasakan apa yang aku rasakan kala itu. Seperti setumpuk lagu Dewi Lestari dalam album Rectoverso.

Rasa-rasanya aku kembali ke kamar kost-kostanku di Safar. Sibuk dengan sejuta mimpi dan realitas skripsi yang harus diselesaikan. Bahagia rasanya bisa bernostalgia dengan saat-saat itu lagi.
Images

Mimpi menjadi Ibu Rumah Tangga



Aku mungkin pemimpi yang baik. Pelukis mimpi yang setia menambahkan jutaan mimpi

Tentang hidup. Mendefinisikan sebuah idealisme akn hidupku di dalam list-list mimpiku. Apakah kekuatanku saat ini sanggup memeluk dunia? Entahlah…tapi aku masih tetap memiliki mimpi terindahku.

Beberapa orang menganggap aku mungkin sedikit aneh. Mungkin tidak lama lagi aku akan memilih sebuah mimpi Being A Housewife. Ibu rumah tangga, tanpa mengejar karir atau sibuk dengan bekerja. Tanpa rutinitas kantor dan sebuah hubungan vertikal dengan atasan.

Aku selalu menganggap menjadi istri dan ibu adalah pekerjaan paling keren di dunia. Para penulis perempuan dunia dulunya adalah ibu rumah tangga yang memiliki waktu luang menulis disamping menjaga anak dan memasak untuk suami.


Aku ingin ketika pagi wajah suamiku yang pertama aku lihat. Membuatkannya teh. Menyajikannya camilan kecil. Menemaninya membaca koran pagi. Beragam topik akan kami diskusikan setiap pagi. Entah itu headline koran pagi itu. Atau sebuah cerita feature di majalah National Geografi, atau tentang tanaman di teras depan atau mungkin cerita tentang anak-anak kami. Dan bahkan perkembangan cerita yang aku buat.

Aku akan bebas mengeksplorasi dapur dengan segala macam bumbu dan racikan makanan yang mungkin akan sukses atau gagal aku buat. Membuatkan pudding untuk keluargaku dan mencoba resep baru yang aku dapat dari majalah perempuan.

Ketika tak ada lagi tugas rumah, aku boleh sibuk memanjakan diriku. Membaca rupa-rupa buku yang ada di perpustakaan rumah. Sibuk mematut diri depan cermin, atau berkhayal dan menyelesaikan tulisan yang aku buat. Sesekali browsing menggunakan internet rumah.

Sebuah mimpi yang sangat ideal. Ada yang berminat menjadikanku istri?
Images

Meet The Psychology


Seminggu lalu aku bertemu psikolog. Kami sempat bercerita. Tak banyak mungkin, tak sampai padasesi konsultasi how to…tapi cukup memberiku banyak masukan yang perlu aku benahi pada diriku sendiri.

“Aku melihat kamu punya energi yang begitu besar pada dirimu” katanya padaku.
“Berhati-hatilah. Ambisimu yang besar mungkin bisa jadi energi positif tapi ia juga bisa menjadi boomerang untukmu. Kamu selalu mengatakan pada dirimu bahwa kamu bisa.kamu bisa. Takutnya ketika kamu menemui kegagalan, kamu akan begitu kecewa pada dirimu dan membuatmu depresi”.

“Seorang perempuan harus mampu menghargai dirinya sendiri. Bukan berhenti pada kalimat This is me.Dandan menjadi point penting bagi seorang perempuan. Dengan dandan menjadi sebuah bentuk apresiasi terhadap diri sendiri. Aku hanya kurang puas melihat penampilanmu. Kamu perlu sedikit berbenah” katanya lagi.

Wow….sedikit berbenah???Menurutku perlu banyak berbenah.Aku memang perlu melihat kembali refleksi diriku. Bukan hanya dari segi inner tapi juga dari appearance. Sudah saatnya merubah mindset berpikir bahwa saya bukan lagi anak kuliahan yang bisa seenaknya saja bangun tidur dan urakan. Ada tuntutan bernama “being a woman” yang perlu aku lakukan. Sudah saatnya memulai berbenah. Sedikit banyak mulai mematut diri tanpa perlu mengubah tentang sisi nyaman yang telah kutemukan pada diriku sendiri sejak lama.
Images

Sederhana Tapi Begitu Berarti


Semalam aku menyaksikan BBC World Challenge di Metro TV. Acara ini adalah sebuah kompetisi untuk melakukan perubahan terhadap dunia. Untuk merubah dunia tak perlulah menjadi orang besar, memiliki kedudukan tinggi dan berkuasa. Dari acara itu setiap orang dalam skala local sekalipun dapat ikut berpartisipasi dalam upaya memberi perubahan pada dunia.

Ada sepuluh finalis yang masuk dalam acara itu dari berbagai belahan dunia dengan gerakan-gerakan social yang memberi dampak lebih baik pada lingkungannya. Misalnya seorang designer yang mengajarkan perempuan-perempuan Afganistan menyulam dan hasil sulaman itu turut dipamerkan dalam New York Fashion Week.

Ada juga pengajaran terhadap perempuan-perempuan Afrika untuk pembuatan lampu listrik yang nantinya mereka gunakan di daerah mereka. Upaya memberikan bawang putih pada makanan sapi yang ternyata mampu mengurangi sendawa pada sapi yang ternyata turut menjadi penyumbang emisi karbondioksida terbesar di dunia juga masuk sebagai finalis.

Dari sepuluh finalis itu, terpilihlah tiga kandidat yang memiliki suara terbanyak.

Dari Amerika serikat, Dua orang pemuda dengan sampah kopi berhasil membudidayakan jamur dan dijual ke supermarket berada diurutan ketiga. Dari Indonesia, Danamon Peduli yang melakukan gerakan Go Green dengan mengumpulkan sampah-sampah organik dari pasar-pasar tradisional dan dijadikan pupuk organik. Tim Danamon peduli ini menduduki peringkat nomor dua.

Yang paling membuatku terinspirasi adalah sang juara. Seorang dokter dari Srilangka yang sering mendapatkan pasien luka bakar parah hanya karena lampu minyak yang gmpang tumpah dan menyebabkan kebakaran.

Dia berinisiatif membuat wadah lampu minyak yang jika tumpah aman bagi pemakainya. Ia hanya membuat sebuah wadah kaca yang tak mudah pecah dengan tutup dari kaleng dan sebuah lubang sumbu kecil untuk nyala api. Seperti sebuah toples kue yang sering kita temui saat jamuan lebaran.

Sebuah pemikiran yang sederhana tapi mampu mengurangi tingkat kebakaran dan kematian akibat lampu minyak. Ternyata sangat mudah untuk melakukan perubahan pada dunia. Dimulai dari solusi yang gampang dan memberi dampak positif bagi orang sekitar. Dan secara langsung pun kita telah melakukan perubahan pada dunia.Membuat dunia lebih baik.
Images

Ganti Kulit….

Waaahhhh……senangnya. Akhirnya blog ini ganti kulit juga. Setelah lama mengutak atik dan berujung pada stress karena tak bisa memperbaiki blog dengan baik (tidak paham pada format XML dan HTML dan bagaimana menempelkannya di setting blog), akhirnya Kak Yusran menemukan skin yang bagus dalam format yang ciamik untuk Teras Imaji.

Ternyata dia telah mengetahui seleraku. Tidak sia-sia menjalin hubungan hampir 5 tahun untuk mengetahui seleranya Dwi. Dalam pemilihan kulit blog bagiku adalah sebuah proses menampilkan diri dan definisi dari blog itu sendiri. Bagiku teras imaji adalah tempat yang hanya mampu aku kunjungi dalam fantasiku. Tempat yang berada di ujung langit yang selalu aku lihat dari jendela kamarku dulu. Sebuah negeri antah berantah dimana semua mimpi dan khayal aku titip di sana.

Karena itu mengapa skin classic di Blogspot yang bertema puri dan langit yang selalu aku pasang tak pernah bisa tergantikan. Aku selalu tidak mampu menemukan skin yang cocok yang mampu mewakili makna Teras Imaji itu. Kalo pun ada aku tak mampu memasangnya dan jadinya kacau dan aneh.

Banyak teman yang mengomentari kalo blogku jadi hancur dan meminta kembali ke skin awal. Hehehehe.Pada dasarnya aku tak tahu bagaimana mengutak atik skin blog. Untungnya Kak Yusran dengan begitu baik dan pintar memilihkan skin blog yang tak pernah aku lihat sebelumnya dan tak membuang partisi-partisi yang penting dari blogku sebelumnya.

Dan akhrinya dia menemukan bahwa Dwi suka biru langit. Gambar pohon dengan latar langit mampu mendefinisikan teras imajiku. Terima kasih Kak Yusran…….
Images

Sukses!!!!!!


Di sebuah negeri bernama efisiensi semua hal terencana dengan baik. Setiap pengelolahan data keuangan tercatat dengan ketat. Bahkan pada selisih harga yang bisa membuat kerajaan berada pada posisi merugi (meski sedikit) tetap mendapat pertanyaan yang meracau tentang tetek bengek mengapa bisa selisih seribu dua ribu.

Pada suatu hari tersebutlah keadaan begitu sulit untuk kerajaan efisien. Neraca keuntungan tidak mendapatkan posisi yang menyeimbang. Kesan merugi terus terjadi hari-hari. Hingga kebijakan hingga hal terkecil pun diambil.

Cemilan-cemilan kecil untuk para tamu yang dulunya bisa dengan leluasa dicicipi juga oleh para pelayan pun mendapat aturan ketat. Tak boleh satu pun pelayan mencicipi lagi cemilan itu. Bahkan dipasangkan sebuah kamera dimana-mana untuk memperhatikan tingkah laku para pelayan yang mungkin secara sengaja mengambil cemilan.


Cemilan untuk pada tamu ini memang paling sering dicicipi oleh para pelayan. Apatah lagi jika para pelayan saling mengunjungisatu sama lain di ruang-ruang istana yang mejadi pusat penerimaan tamu. Sambil ngobrol satu sama lain, cemilan itu pun menjadi penyambung cerita antara satu cerita dengan cerita yang lain.
Bungkus cemilan itu kadang menjadi candaan para pelayan karena di baik bungkusnya terdapat kata-kata lucu. (Mungkin seperti bungkus permen Kiss yang punya kata-kata).

Terkadang para pelayan merangkai kata-kata itu atau bahkan mulai mereka-reka dialog dari kata-kata pada bungkus cemilan tersebut sebelum berakhir di mulut para pelayan itu sendiri.
Tingkat konsumsi para pelayan itu juga ikut andil memepengaruhi fluktuasi untung rugi kerajaan. Maka dari itu aturan ketat untuk melarang keras pelayan memakan permen menjadi titah yang tak terbantahkan.

Para pelayan utama tamu menjadi martir untuk tegaknya aturan tersebut.
Di suatu kala, tersebutlah seorang pelayan dari divisi pinjaman kerajaan tak ada kerjaan. Luntang lantung di ruang penerimaan tamu sambil berupa keras untuk tidak tergoda duduk di meja para pelayan utama.

Namun, pada akhirnya ia pun kalah pada hati keinginannya dan duduk di meja para pelayan utama.

“Boleh minta satu cemilannya?”tanyanya pada seorang pelayan utama.

Sang pelayan yang tak terlalu mengindahkan aturan ketat tentang efisiensi cemilan itu hanya menjawab “ambil saja”

“ada kamera, tolong ambilkan”pinta sang pelayan divisi pinjaman.

Pelayan utama itu secara spontan mengambil satu bungkus cemilan, dan diselundupkan melalui kolom meja agar tak tertangkap kamera.
Si pelayan divisi pinjaman serta merta meraih cemilan selundupan itu dengan cepat dan segera berpura-pura bahwa tak terjadi apa-apa.
Sambil terus berpura-pura seolah semua baik-baik saja, dibukanya bungkus camilan itu. Sebelum dimakannya camilan itu masih sempat diliriknya kata dibalik bungkus camilan itu. Dan hanya satu kata yang tertulis di situ. SUKSES!!!!!!!
Images

(Hanya) Melukis Mimpi

Apakah aku hanya mampu melukis mimpi?
Tanpa pernah benar-benar menwujudkannya
Aku merasa hanya mampu melukisnya di langit-langit khayalku
Tanpa pernah mewujud menjadi goresan cat diatas kanvas

Aku tak beda dengan orang kebanyakan
Apa yang membuatku beda?
Tak ada, padahal being Different menjadi kunci untuk menggapai mimpi

Apakah aku hanya berhenti pada lukisan mimpi yang memberi bahagia semu?
Apakah aku hanya mampu bahagia dalam khayalku

Aku mulai takut bermimpi
Bola-bola realitas mulai menabrak keras lintasan khayalku
Aku takut untuk melukis mimpi (lagi)
Images

Hampa

Perlu belajar meditasi
Agar tak merasa hampa
Tolong ajari aku...
Images

Menanti Hujan

Matahari masih memanggang bumi dengan terik. Tanah-tanah mulai retak berdebu. Hari ini hari kedua bulan oktober. Tapi hujan tampaknya belum menampakkkan tanda-tandanya. Belum ada awan hitam yang menggumpal di atas langit. Atau hembusan angina dingin penanda badai akan segera datang. Langit masih berwarna biru cerah. Tak ada awan hitam penanda hujan akan turun.

Tetumbuhan layu. Pepohonan mongering. Berdebu dan tampak menguning.Kembang di teras depan rumah melemah dan batangnya lembek. Mungkin karena kasihan, Bapak menyiramnya tiap sore. Bau tanah kering tersiram air seketika merekah membawa kesegaran. Bau tanah yang begitu kurindukan ketika hujan pertama kali bercumbu dengan bumi penanda kemarau telah pergi.


Apakah hanya aku yang merindukan hujan?Terik matahari masih menjadi penyelamat bagi para petani yang memanen padinya. Gabah-gabah ditebar diatas tikar. Dipanggang di bawah matahari agar kering. Agar bisa dijual untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya anak-anak sekolah.


Anak-anak pun masih bercinta dengan kemarau. Kala sore layangan-layangan mengangkasa membelah langit biru. Bersuka cita menarik benang dengan obsesi menerbangkan layangan itu lebih tinggi dari semua layangan yang ada. Menanti para orang tua menyelesaikan berkarung-karung gabahnya di sawah yang harus diangkut oleh pa’teke’ (pengangkut gabah memakai sarana kuda) karena medan sawah yang begitu berat dan jauh dari jalanan desa.

Tapi tak Cuma aku yang membutuhkan hujan. Sungai-sungai pun telah mongering. Debit air di area pembangkit listrik makin menurun. Listrik pun harus pada 3 kali sehari layaknya minum obat untuk melakukan penghematan. Untungnya semua aktivitas yang membutuhkan listrik telah aku selesaikan. Dari memasak hingga mencharge laptopku. Bahkan waktu nonton Tv pun harus aku kondisikan dengan pemadaman bergilir.

Tapi, tanpa pemadaman listrik pun aku telah mendietkan pola menontonku. Tak ada lagi yang menyenangkan dari acara-acara TV. Mungkin beberapa berita dan acara-acara yang menginspirasi. Tapi itupun dalam persentase yang kecil dan diwaktu-waktu tertentu.

Aku tak begitu menyukai hujan. Tapi ia telah terlalu lama pergi. Dan kali ini aku merindukannya.Mungkin kah hanya aku yang menrindukan hujan? Hujan mengingatkanku pada dirinya. Telah menahun kami tak bersua, telah menahun kami tak terhubungkan. Ia adalah satu alasan mengapa aku merindukan hujan.

Ia penyuka Hujan. Ia menyukai saat hujan turun membasahi bumi. “Titik-titik itu begitu indah”katanya. “Tahukah kau yang paling menyenangkan dari hujan adalah ketika ia reda bumi tampak seperti bermandikan berlian-berlian kecil yang berkilau. Pepohonan tampak begitu hijau. Dan semua tampak bahagia”.


Ketika hujan turun tak jarang ia berlari menerobos pohon-pohon air itu dan membiarkan seluruh tubuhnya basah. Di dalam hujan ditemukannya sebuah serenada alam yang merdu. “ Sejak kecil aku menyukai hujan. Aku menyukai bau tanah yang merekah saat titik titik pertamanya menyentuh tanah di bumi. Aku menyukai bunyi yang ditimbulkannya saat butiran-butiran air itu jatuh diatap rumah. Sehabis pulang sekolah waktu kecil, hujanlah yang selalu kunantikan. Berhujan-hujan pulang ke rumah. Nenek selalu memarahiku jika aku melakukannya. Tak jarang ia memukulku jika melihat aku pulang dengan basah kuyup dan berlumur Lumpur. Namun, ia akhirnya mengalah melihat kebiasaanku bermain hujan. Ia akhirnya memberiku konpensasi bermain hujan jika bertepatan hari Sabtu. Alasannya adalah karena sabtu sudah menjadi akhir sekolah dan jika aku demam karena hujan aku tak perlu membolos sehari karena besoknya adalah hari libur”kenangnya padaku sambil tertawa kecil.

Namun, berbeda dengannya, aku tak bersepakat dengannya tentang hujan. Aku tak membenci hujan. Aku hanya tak menyukainya. Aku tak suka ketika aku harus tergopah-gopah berlari mengambil jemuran hanya karena hujan yang turun tiba-tiba. Aku tak suka becek dan Lumpur yang disebabkan oleh hujan. Aku pun sering terjatuh karena licinnya jalanan yang ditimbulkan oleh hujan.

“Pokoknya aku tak suka hujan” teriakku padanya saat kami berteduh di sebuah halte bus di kampus menunggu hujan reda
“Cobalah menyukainya. Hujan adalah sebuah fase dimana bumi mendapatkan airnya lagi. Ia seperti selang besar yang mencuci bumi. Membuat tanaman kembali segar dan berbunga. Hujan membawa kebaikan pada setiap makhluk” terangnya.
“Aku paham pada titik itu. Tapi aku tak suka terjebak seperti ini kala hujan”gerutuku.Ia tak menjawab, ia tiba-tiba menarik tanganku dan menarikku keluar dari halte tempaku berteduh. Membuatku berdiri di bawah hujan dan basah kuyup. Ia memegang tanganku dan berputar-putar, berlari, memercikkan genangan air, dan menarikan tarian hujan .
“Ayolah, nikmati hujan ini. Suatu saat nanti kau akan menrindukan hujan” katanya. Ia terus berlari layaknya anak kecil ditengah hujan. Berlari mengitariku dan sesekali memerciki diriku dengan genangan air di jalan.

Aku hanya bersungut-sungut karena ulahnya. Setelah kejadian bermandikan air hujan itu, aku terkena flu dan demam tinggi. Ia tampak begitu bersalah.

“Maafkan aku, telah membuatmu sakit. Aku takkan lagi mengajakmu bermain hujan” katanya ketika melihatku meringkuk di atas tempat tidur dengan sebuah kompres melekat di dahiku.

“Hujan menimbulkan trauma bagiku. Ibuku meninggal saat hujan turun. Ia kecelakan saat kami berdua berjalan beriringan di bahu jalan ketika ia menjemputku dari sekolah. Ibu selalu menjempuku saat hujan karena tahu bahwa fisikku begitu lemah pada perubahan cuaca. Namun Siang itu adalah saat terakhir ia menjemputku. Sebuah Mobil terslip karena jalanan yang licin yang kemudian menabrak ibuku. Saat itu aku luka ringan tapi nyawa ibu tidak bisa diselamatkan.Sejak saat itu aku tak menyukai hujan. Aku selalu berusaha untuk memaafkan diriku dan tak menyalahkan hujan. Tapi, hujan masih saja selalu menghantuiku hingga kemarin ketika kau mengajakku bermain hujan. Aku mulai mampu memaafkan hujan. Aku pun mulai memaafkan diri” tuturku padanya. Ia menggenggam tanganku.


“Maaf. Aku tak tahu soal Ibumu” katanya begitu bersalah. Aku hanya tersenyum. Sudahlah, semua pada akhirnya pulang ke Rumah Tuhan. Mungkin jalan yang ibu tempuh untuk kembali adalah itu. Kau telah membantuku keluar dari traumaku. Sejujurnya, aku menyukai hujan ketika aku tak perlu ikut basah atau terkena cipratannya. Tubuhku begitu lemah dan gampang sakit jika terkena dingin. Apalagi jika harus bermain hujan” Jawabku.

“Dulu, Ibu dan aku selalu menikmati hujan di rumah. Duduk di depan jendela dan menikmati secangkir the hangat sambil memperhatikan sawah dibelakang rumah. Hujan yang paling menyenangkan adalah saat aku berada di kamarku dan melihat rintiknya dibalik jendela” Jelasku padanya.


Sejak saat itu, ia selalu menemaniku saat hujan. Kami pun selalu menikmati hujan di balik jendela kamar kostku. Kadang kami menuturkan kisah yang kami buat sendiri tentang hujan.

“Tahukah kamu, rerumput yang bergoyang saat hujan ada peri-peri kecil yang bermain hujan di bawah batangnya. Mereka bisa membuat pelanginya sendiri diantara rerumputan itu. Jika kamu jeli dan beruntung kamu akan mendapatkan mereka bermain dan berlarian di bawah hujan diantara pohon-pohon rumput itu.” Kisahnya padaku.

Namun, dari semua kisah yang kami berdua ciptakan yang paling ia sukainya adalah kisahku yang menganggap ketika awan begitu hitam dan menggantung di langit seperti seorang nenek sihir yang tengah murka oleh kecantikan seorang putri.


Ia memanggilku Lady rain dan menyebut dirinya sebagai lelaki hujan. “nenek sihir itu marah dan mengutuk putri itu menjadi Lady Rain. Namun Lelaki hujan menyelematkan ia dari cengkraman nenek Sihir. Sayangnya kutukan nenek sihir itu tak bisa dimusnahkan. Tapi cinta telah menjadi ikatan terhadap keduanya.” sambungnya.“ dan keduanya jatuh cinta dan bahagia selamanya”koor kami berdua dan diikuti derail tawa yang membelah hujan.


Saat itu entah telah beberapa tahun yang lalu. Aku tak lagi pernah bersua dengannya. Semenjak kami menyelesaikan kuliah kami, kami tak pernah lagi saling mengabari. Ia melanjutkan kuliahnya lagi di propinsi lain, sementara aku kembali ke kota kelahiranku.


Seperti ramalannya dulu, aku pun merindukan hujan saat ini. Seperti aku merindukan sosoknya menemaniku memandangi hujan di balik jendela kamar.

Jika suatu saat nanti kami bertemu akan kuajak ia menari di bawah hujan tak peduli meski aku harus flu berat.


(Rumah, 4 oktober-6 oktober 2009)
-Tulisan lama...waktu hujan belum turun-
Images

Dingin



Hujan telah turun
Angin menjadi dingin
Tanah menjadi dingin
Pepohonan dan Tumbuhan menjadi dingin
Udara mengangkasa dalam dingin
Kusentuh hatiku
Ia pun telah menjadi dingin
Butuh hangatmu mungkin
Images

Penyimak Hujan


Ada yang diam diam menyimak hujan sore ini
Merengkuh hangatnya tanah yang berbau lembab

Mengirimi infuls ke sarafsaraf otaknya yang berkata

"Hai, Kamu akhirnya datang. Telah lama rindu ini melahar di hati"


Ia telah lama menunggu hujan

Ada yang masih diam menyimak hujan sore ini

Mencari dalam rak rak imaji dongeng masa kecilnya

tentang peri peri langit berpesta di atas awan


Rindu itu membuncah kini

Ketika titik air pertama mencumbu bumi

Ada yang menyimak hujan sore ini

Menyelusup dalam diam di hatinya yang sunyi

"Aku merindukanmu"bisiknya lirih
Images

Aku Mencintaimu, Tapi Kamu Menyakitiku Sayang

Aku memulai rutinitasku. Menanti hari dari senin dan berharap jumat. Menghitung 120 jam yang harus aku lalui. Menunggui detik beranjak dari titik nolnya hingga ke detakke 7200nya. Duniaku berotasi pada poros rutinitasnya.pada poros yang telah kutandatangani 6 bulan silam.

Aku tak pernah sanggup meninggalkanmu. Tapi kau sapa aku dengan lembut dan kau katakan padaku “Kita perlu belajar menggapai hari. Dan sesekali kamu perlu merasakan moment meninggalkanku”.

Aku pergi. Berjarak 420 km dari titik berpijakmu. Aku masih terus berotasi dan kutemukan bahwa kaulah poros itu. Rutinitasku penuh oleh bayangmu. Bayangbayang yang selalu menemani tiap kerjaku.

Menjadi penyemangat kala ada salah dan marah menyelusup dalam rutinitasku. Menemaniku 120 jamku hingga datang jumat sore. Hari di mana aku dengan bebas menghubungimu meski raga kita taksempat bersentuh. Menunggui suaramu di ujung telepon meski hanya suara.


Lintang dan bujur kita tak berubah jauh.meski rotasiku masih berporos padamu, ketemukan ada planet lain yang mengorbit dan berotasi mengelilingimu. Ada seseorang yang telah menanam senyum yang telah mengusik ruang imajimu. Yang rela kau tukar dengan ribuan anak panah untuk membidikmu daripada menahan pesona senyum itu.


Aku ingin memelukmu saat ini. Dan kubisikkan kalimat cinta ditelingamu “aku mencintaimu, tapi kamu menyakitiku sayang........”.
Images

Lorong Panjang Jalan kita


Apakah ini adalah cerminan jalan yang akan kita jalani kelak ketika kita sama-sama telah memiliki rumah yang bisa kita klaim bahwa itu rumah kita bersama. Apakah jarak akan selalu menjadi tempat kita bersua. Terhubung oleh koneksi digital dan selalu tergantung pada teknologi.

Aku selalu bermimpi kita seperti sepasang traveler. Mendatangani tiap tempat.menjejakkan kaki-kaki kita ditiap jengkal tanah di bumi ini. Mengumpulkan kisah kisah dari berbagai tempat. Menuliskan berlembar lembar cerita yang kita dapat dari tiap jengkal bumi itu.
Aku selalu menunggu saat itu. Saat dimana kita tak lagi dipisahkan oleh jarak.

Jarak tak perlu menjadi lubang dalam ikatan ini. Aku ingin kita menjadi cerita dalam sebuah halaman yang tak terpisahkan. Jika mungkin spasi tak ada antara kita pun aku akan lebih bahagia.
Tapi rasanya lorong panjang itu belum akan kita lalui bersama. Waktu belum berpihak pada kita.

Dan jejak kita di lorong itu hanyalah jejak ku dan mungkin jejakmu yang tak berjalan bersisihan.Jika seperti ini jalan yang yang telah dipilihkan Tuhan. Aku akan menolaknya. Aku tak ingin berjalan di radius bermeter-meter darimu.


Aku ingin berjalan disampingmu. Menggandeng tanganmu. Menanyakan hal-hal yang aku lihat disekitarku dan tak aku ketahui. Melakukan hal-hal lucu yang selalu membuatmu tertawa. Bermanja-manja di sampingmu. Bergelayut manja di lenganmu. Seperti dua pekan silam. Saat semua anganku tentang bersamamu menjadi nyata. Dengan petualangan seru dan jalan-jalan yang menyenangkan.

Aku ingin itu. Aku ingin Tuhan tahu bahwa aku hanya ingin berada di dekatmu.
Images

Kembali Ke Selera Awal

Aku kembali ke setingan ini. Seseorang memintanya. Aku pun masih belum puas dengan skin yang terbaru. Aku masih suka ini. Tapi ternyata pengaturannya jadi kacau. Hiks
Images

Sabtu Yang Indah

Ketika mimpi menjadi nyata betapa bahaginya hati. Dan sabtu lalu adalah ketika mimpiku telah jadinya. Bukankah kita selalu menerka bagaimana hidup kita kelak ketika kita telah memiliki rumah dan aku telah menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi denganmu.

Kita berandai kelak aku akan menemanimu turun di lapangan. Menjadi pendampingmu saat engkau melakukan penelitian lapangan. Menjadi “tim Pengacau” yang selalu manja padamu. Ngambek meski tahu bahwa saat itu dirimu dalam kondisi bekerja dan aku menepatkan diri sebagai pelancong yang menikmati daerah penelitianmu.

Dan sabtu lalu adalah ketika semua pengandaiannya itu menjadi nyata. Sengkang-Soppeng menjadi tempat pertama dimana mimpi itu menjadi nyata. Mengikuti tim penelitianmu dan aku menjadi bagian tersendiri yang independent sebagai tim pengacau khusus untukmu.

aku selalu terpesona ketika kau melakukan sebuah penelitian. Pengetahuan-pegetahuan yang kau eksplor dan kau tautkan dengan pengetahuan ilmiahmu selalu membuatmu tampak begitu cerdas. Sisi-sisi yang selalu membuatku jatuh cinta.

Bertemu ulat sutra, melihat para penenun kain sutra menjadi sebuah romantisme penelitian lapangan yang selalu ada di dalam anganku. Pergi ke daerah-daerah mengunjungi tempat-tempat yang tak pernah kita datangi. Meninggalkan jejak di sana. Seperti itulah hidup yang aku bayangkan yang kelak akan kita jalani. Tak ada lagi jarak yang memisahkan kita. Aku mungkin akan terus menjadi tim pengacau untukmu, tapi aku pun bersedia mencucikan baju-bajumu yang kotor ketika kau tak sempat lagi mencucinya karena terlalu sibuk dengan data lapangan yang perlu kau olah.

Memijatmu ketika kau lelah seharian menemui informan-informanmu. Tapi kumohon jangan halangi aku untuk sedikit membeli cindera mata yang menjadi penanda bahwa aku pernah berada di tempat itu.

Kelak akan banyak petualangan-petualangan yang akan kita lalui bersama. Mungkin seperti keluarga Brendan Fraser dalam The Mummy. Tapi sayang, aku tak bisa seperti istrinya, karena aku adalah tim pengacau.
Images

Sekali Lagi : Alasan Lain Tentang Menulis

Mengapa menulis? Aku menemukan alasan yang lain dari menulis. Menjadi oleh-oleh yang abadi untuk anakku kelak. Mengapa?

Aku selalu ingin tahu apa yang dipikirkan mamaku dulu ketika ia seumuran denganku. Apa yang menjadi mimpinya, bagaimana pria yang ia idamkan. Kapan pertama kali ia jatuh cinta.Bagaimana ia melihat kehidupan bergerak disekitarnya. Dan ingin mendengarkan bagaimana pendapat ia tentang hidup.

Sampai ia meninggal aku hanya mengenalnya sebagai ibu yang melahirkanku. Aku tak pernah mengenalnya sebagai manusia yang lain. Aku tak pernah tahu sisi hidupnya yang lain. Hanya sesekali ia tuturkan lisan padaku. Dengan cerita-cerita yang sama saja. Aku ingin mendengarnya dalam versi lain. Versi bahwa ia seorang manusia dan merefleksikan hidup yang bergerak di sekitarnya.

Aku selalu berharap ia punya catatan-catatan harian saat ia remaja hingga ia menjadi ibu bagiku. Tapi aku tak pernah bisa mengetahuinya. Takkan pernah.

Karena itu aku ingin kelak anak-anakku bisa membaca diriku dari sudut pandang yang berbeda. Agar kelak pun ia melakukan hal yang sama untuk cucu-cucuku kelak.
Images

Seragam Jilbab

Aku beruntung telah melalui SD, SMP, dan SMA. Mengapa? Karena anak-anak sekolah sekarang telah diwajibkan memakai jilbab untuk seragam sekolahnya. Seragam lengan pendek dan rok selutut telah menjadi sebuah romantisme. Tak ada lagi yang boleh memakainya, khususnya di kabupatenku, bone. Bahkan siswa non muslim pun harus memakai rok panjang, baju lengan panjang, minus jilbab.

Seragam itu menurutku menjadi paksaan bagi mereka untuk mengikuti syariat islam. Yang dimana ketika mereka berada diluar jam sekolah dengan bebas memakai baju ketat dan rok pendeknya. Jilbab itu tak lagi dari hati.

Aku tiba-tiba mengingat seorang kawan yang telah menjadi guru SD di Palu. Sejak SMA kelas satu ia telah memakai jilbab atas kemauannya sendiri. Bahkan ketika aktivitas diluar sekolah pun ia masih memakai jilbab. Inilah yang kumaksud dengan berjilbab dengan hati.

Jika seandainya aku menjadi siswa sekolahan sekarang, mungkin aku pun akan seterusnya memakai jilbab. Apakah ini keberutungan atau karma tapi sampai sekarang au belum ada niat memakai jilbab. Hehehehe. Aku mungkin orang yang aneh.
Images

Teruslah Bermain Nak!

Tangan kecilnya memainkan mobil-mobilan berwarna biru yang ujungnya telah patah. Aku yang membelikan mobil-mobilan itu dulu. Sudah lama. Senyum kecilnya tampak begitu ceria. Meski ia sempat merengek karena aku tak menjawab panggilannya.

Sebuah panggilan yang ia berikan khusus dari mulut kecilnya. Hasil dari mulut cadelnya yang belum mampu memanggil namaku dengan benar. “Pumi”. Begitu ia memanggilku.
Ia begitu merdeka dengan hidupnya. Melakukan semua hal mengikuti aturannya. Aturannya adalah menangis. Dan semua orang akan tunduk di bawah tangisnya. Tiap detiknya adalah bermain. Berimajinasi dengan segala hal yang dlihat dan yang dirabanya. Bahasanya hanya ia yang mampu mengerti. Kami hanya mampu berusaha menginterpretasikan tiap ucap yang dia komunikasikan.

Kelak ketika ia dewasa hidup tak lagi menurut apa yang ia mau. Hidup akan memaksanya mengikuti aturan yang berlaku. Ketika ia mampu membuat hidup sesuai dengan aturannya, ia tleah menjadi manusia yang hebat.

Tapi itu belum saatnya, nak. Engkau masih punya puluhan tahun untuk mencapai itu. Teruslah bermain. Teruslah belajar. Karena dari permainan masa kecil kamu bisa belajar bagaimana mengatur hidup kamu kelak.
Images

Janji Yang Teringkari

Pagi pertama di bulan November. Udara masih saja terasa dingin di kampungku. Bau oksigen pagi terasa dingin dalam hidungku. Meski matahari telah bersiap dengan sinarnya penanda musim masih belum berganti.

November. Dua bulan terakhir sebelum penghujung tahun. Apakah ini begitu penting?tampaknya semua sama saja. Waktu berputar 24 jam sehari. 60 menit dalam sejam dan tak berubah dalam 60 detik dalam semenit. Bumi hanyalah menuntaskan tugasnya mengelilingi matahari bertawah dan tertasbih sesuai hukum Pencipta di semesta. Tak cuma bumi, tapi juga seantero galaksi dan seluruh benda langit.

Apa yang penting dari itu. Bukankah itu telah terjadi jutaan tahun lalu. Bahkan sebelum manusia belajar menerka tentang hukum dan aturan benda semesta. Apa yang penting dari itu?

Dalam mikro semesta hatiku, November tahun ini adalah penanda bahwa sebuah janji yang harusnya ditepati oleh hati kembali terlanggar. Kembali teringkari oleh kompromi yang bodoh. Tak ada jejaknya sedikit pun dalam file-file komputerku. Hanya sebuah jejak yang tak berbekas diruang mimpi disudut kanan otakku.

Padahal di awal tahun aku telah berjanji dalam semesta hatiku untuk menyelesaikannya. Tapi bahkan ketika di akhir waktu aku bahkan belum mengawalinya sama sekali. Realitas selalu menjadi selubung atas ketakberdayaanku. Rutinitas menjadi alasan dibalik kepecundanganku.

Bumi, matahari, dan benda angkasa terus menepati janjinya pada hukum semesta yang telah dituliskan. Dan aku disini dengan semesta hatiku hanya terus bermimpi. Mengandai disuatu kala, di suatu tempat dimana aku mulai menepati janjiku pada hati.

Mungkin janji itu tak perlulah diucapkan meski pun secara lirih dalam hati. Tak perlu ada resolusi tiap tahun yang tak teringkari. Perlu memaksa hati untuk memulainya. Agar jejaknya bias membekas.

Mungkinkah aku harus menunggu hatiku kembali menemukan rumah yang nyaman agar ia bisa memulai menepati janjinya???

Aku tak tahu…..
Images

Make Over Yang Aneh

Aku sudah mencoba. Semampuku. Tapi masih saja tampak aneh menurutku. Mataku sudah tak bisa berkompromi.Aku sudah harus tidur. Besok masih ada kerja yang menunggu diselesaikan. Mungkin minggu depan lagi aku utak atik lagi blog ini. Maafkan aku...
Images

Perlu Make Over

Tampilan blog ini sudah mulai bosan aku di mataku. Dulunya aku tak ingin merubahnya tapi nyatanya perubahan itu perlu kata Kompas. Mungkin aku harus merubah skin-nya dan membuatnya lebih menarik.

Nantilah aku buat ia lebih cantik.......
Images

Etta dan Menulis


Saat menulis paling menyenangkan di rumah adalah kala pagi dan sore hari. Tanpa harus ada Kevin mengganggu di rumah. Pagi sebelum matahari begitu terik. Saat embun masih belum kering benar, sambil menyeruput teh hangat.

Susahnya kala pagi adalah begitu banyak tugas rumah tangga yang harus diselesaikan sehingga menjadi beban pikiran saat menulis. Jadinya tidak focus.
Kala sore ketika tak ada lagi tugas rumah yang harus dikerjakan, sambil duduk menikmati senja dan memeprhatikan anak-anak bermain layangan atau para petani Pulang dari sawah, saat-saat seperti itu pun adalah moment-moment yang baik buat moodku.

Seperti sore ini.
Tak ada Kevin yang menganggu. Semua tugas rumah telah selesai. Matikan Televisi dan mari bercinta dengan notebook. Kegiatan soreku ini dikomentari oleh Etta yang sibu k menyiram tanaman. Ia memeprhatikanku duduk dan menulis begitu banyak kata di layar computer.

Komentarnya “kau hapal yang kau tulis?”.
Aku jawab iya.

“trus kenapa harus dituliskan lagi kalo sudah dihapal?” katanya.

Aku tersenyum mendengarnya. Masuk akal juga pendapatnya. Tapi Etta tidaklah terlalu mengenalku mungkin. Hubungan kami hanyalah relasi bapak dan anak. Hubungan atas ke bawah tanpa diimbangi sebuah komunikasi intens dari hati ke hati.


Etta mungkin tak tahu kalo aku begitu menyenangi menulis. Menulis bagiku adalah proses pelepasan diri dari semua rasa yang ada. Mungkin karena itu pula dia tak pernah mengerti mengapa aku berpacaran dengan pacarku yang sekarang. Etta begitu datar melihat hidup. Mungkin karena itu hidupnya lurus-lurus saja.

Aku hanya menanggapi komentarnya bahwa tulisan ini nantinya akan aku masukkan di internet. Aku tak menjelaskan lagi bahwa menulis bagiku adalah meditasi. Menulis bagiku adalah katarsis. Menulis bagiku adalah mengabadikan diri. Toh pada akhirnya dia tetap membiarkanku di sini hingga sore menjelang. Trus menulis tanpa memberi komentar lagi…..
Images

Aku Dan Sebuah Rencana Yang (Belum) Terlaksana



Mungkin aku adalah satu dari sedikit orang yang begitu senang melihat komenku di cetakan pertama Perahu Kertas-nya Dee. Cukup membuatku tertegun sejenak. Siapalah aku yang hanya menjadi satu dari begitu banyak penyuka tulisan Dee. Siapalah aku yang kemudian bias ikut nampang nama di bukunya yang begitu menyenangkan di baca.

Aku merasa seperti para penulis atau orang-rang terkenal yang memberi testimony pada karya tulisan seseorang. Mungkin sejenak aku perlu berbangga. Tapi apakah aku harus berpuas pada sekedar komen di buku se popular Dee.

Aku pun harus bias menuliskan sebuah cerita yang suatu saat nanti Dee berkomentar di dalam lembarannya. Aku pun harus memiliki setidaknya satu buah karya orisionil yang datang dari hati tanpa beban tugas bahwa ini sebuah persyaratan lulus kuliah laiknya skripsi.

Ratusan ide bekelebat diotak kecilku. Tiap saat, tiap waktu. Tapi aku selalu tak mampu melihat wujudnya dalam sebuah tulisaan panjang yang bertutur. Aku tak mau hanya berpuas diri dalam kumpulan tulisan atau kumpulan puisi. Aku selalu ingin bias melihat namaku satu-satunya terpampang di sampul buku itu. Rencana itu telah ada sejak dulu. Sejak aku SMA, sejak aku mulai menulis buku harian.

Tiap tahun aku selalu merencanakan membuat setidaknya satu buah kisah saja. Tapi hari berlalu dan bulan berjalan resolusi itu tak pernah benar-benar terjadi. Selalu ada saja permaafan dan sejuta alas an mengapa kisah itu tak dituliskan dengan tuts-tuts computer.Sibuk kerjalah tak ada waktu. Sampai-sampai k yusran mengatakan jangan tunggu mood, tuliskan. Ancaman pun diberikannya ”kalo nanti kita sudah menikah. Dwi tidak usah kerja. Dwi cukup di rumah dan menulis buku. Setiap tahun harus ada dua buku yang dihasilkan. Awas kalo ada alas an lagi”.

Hahahahaha. Mungkin aku sudah terlalu sering merencanakan ini dan tak pernah berhasil. Mungkin aku harus berfokus seperti Dee yang menyelesaikan Perahu kertas dalam sebuah karantina berhari-hari. Mungkin gaya menulis seperti itu yang aku butuhkan.

Tapi sesekali aku harus mampu melawan sejuta alas an. Melawan semua Mood dan sejuta kompromi yang tak pernah membuat karyaku lahir. Aku telah sampai pada kesimpulan bahwa menulis adalah sebuah jalan panjang untuk menjadi eksis. Ada dua pilihan di dalamnya menggandung dan melahirkannya atau mungkin keguguran.
Tapi semua berharap tiap karya bisa dilahirkan ke bumi ini……
Images

Why Worry ???

If everything has been written down, so why worry???
Sepenggal lagu Dee begitu tepat untuk suasana hatiku saat ini. Bukankah manusia telah bersepakat pada Tuhan sebelum tangis pertama manusia di dunia untuk tiap langkah, materi, bahagia, sedih dan jutaan hal yang akan Tuhan berikan pada manusia di dunia.

Mengapa khawatir?
Jawabnya adalah khawatir sifat manusiawi. Sifat yang mencirikan manusia berbeda dengan penciptanya. Khawatir dan takut takkan pernah bisa hilang. Karena ia adalah paket yang terberi dari Tuhan.

Seperti aku, kamu pun akan pergi kawan. Perbedaannya adalah jalannya tak lagi begitu sama. Jalan yang akan kita tempuh berbeda kali ini. Tiap dari kita akan menempuh jalan yang takkan sama lagi.

Hidup seperti jalur maze yang kita temui di majalah anak-anak atau di buku-buku dongeng dan serial Harry Potter. Tiap kita diberi pilihan untuk memilih jalan hingga sampai di tujuan. Dalam perjalanan itu akan banyak kejutan-kejutan yang akan ditemui. Akan banyak makhluk-makhluk yang menakjubkan yang kadang berbahaya dan kadang juga imut dan menggelikan.

Kuliah menjadi jalan yang mempertemukan keping-keping kita. Keping-keping yang begitu cocok dan saling melengkapi selama tahunan. Kita seperti gambar indah yang menghiasi sudut kampus yang penuh warna. Menahun sudah kita di sana. Rasanya begitu nyaman dan tak ingin beranjak.Kita tetap ingin berada dalam gambar itu dan tetap di galeri kampus yang berwana-warni.

Tapi nyatanya jalan kampus bukanlah tepat berhenti kita. Ia hanyalah sebuah tempat singgah untuk mengasah diri. Merajut bekal untuk perjalanan yang masih panjang. Apakah kita masih anak kecil kolokan yang takut pada gelap. Rasa takut menghinggap di dasar hati. Mungkin kita ragu pada kemampuan kita. Jalan di depan masih terlalu remang. Kita takut dan ragu akan bekal dan baju hangat yang telah kita persiapkan.

Tapi bukankah kita telah sepuluh tahun lebih mempersiapkan bekal, merajut baju hangat, dan menyulam mimpi. Sekolah adalah tempat kita menanam dan memupuk mimpi-mimpi kita. Hingga ketika kita kuliah mimpi itu makin subur dan terus bertumbuh.
Sekarang saatnya untuk membuat ia tumbuh di tanah bumi. Merasakan liatnya tanah merah, sejuk angin, dan segarnya air.

Tiap kita akan beranjak dari tempat kita berdiri. Mencari keseimbangan baru di luar sana. Beranjaknya mungkin tak bersamaan, tapi bukankah semua telah dituliskan oleh-Nya. Jadi, Mengapa khawatir???

Buat seorang teman “yang akan pergi” juga….
Images

Narcissa Dwiagustriani


Tiap orang yang mengenalku pertama kali akan mengganggapku orang jawa. Penilaiannya mungkin dari namaku dan juga cara bicaraku. Ketika aku menjelaskan bahwa aku orang bugis asli mereka akan mengatakan “ kok tidak ada bugisnya?”. Mereka pun akan mengetes sedikit bahasa bugis kepadaku. Kalo pun mereka tak puas dengan jawabanku mereka menanyaiku lagi, ada sedikit jawanya mungkin dari orang tua?, dan aku pun akan menjawab dengan senyum dan gelengan kepala. Dan terakhir mereka akan bertanya “pernah tinggal di jawa”, dan sekali lagi aku akan menjawab dengan gelengan kepala yang pasti”Tidak”.

Terkadang ada juga orang yang bilang, aku mirip Asti Ananta. Sejak SMA kelas 1, guru dan temanku pun selalu mengatakan kami mirip. (tapi, salah kali. Asti Ananta yang mirip dengan Aku…hehehehe).
Hanya sedikit orang yang mampu menebak mengapa namaku Dwiagustriani. Itu pun hanya menjawab “ Pasti orang tuanya guru, jadinya pintar pilih nama”. Orang-orang selalu menganggap Dwi berarti anak kedua. Padahal sesungguhnya itu adalah tanggal kelahiranku. “Tri” yang menunjukkan kalo aku anak ketiga.

Aku bersyukur namaku tidaklah pasaran. Bahkan aku pernah berpikir namaku tak punya kesamaan. Sampai pada tahun terakhir kuliahku keyakinan itu memudar. Aku mengetahui bahwa ada orang lain yang memiliki nama yang hamper sama dengan namaku di akademik. Bedanya hanyalah pada ujung nama kami, kalo aku berakhiran “Ani” kalo dia berakhiran “Yanti”. Untungnya mamaku tak memberi finishing Touch dinamaku seperti semua kakak-kakakku “Yanti”. Hehehehe


Mengapa cara bicaraku ssangat berbeda dengan orang Bone pada umumnya? Kalo orang-orang melontarkan pertanyaan itu, aku akan menjawab “aku adalah generasi televisi. Tumbuh ditengah menjamurnya parabola yang tontonannya adalah MTV, CNN, CNBC, TV3 Malaysia, bahkan Tv5 Prancis.
Meski lahir, tumbuh, dan berkembang dipedalaman Bone yang tak ada sinyal Telepon, tak ada pengantar majalah atau Koran tiap hari tapi aku tumbuh dengan pengaruh boybands 90an, Bonjovi, Micheal Learns To Rocks, Mr.Big dan penyanyi jaman 90an. Itu pun mempengaruhi caraku membangun mimpiku.

Menjadi wanita modern dengan segala rutinitas dan kegiatan harian keliling dunia. Namun seiring manusia hidup bertumbuh selalu ada kompromi-kompromi dalam mengejar mimpi. Aku pun mengalaminya. Aku masih terus berusaha tetap menggapai mimpi-mimpi kecilku dan sampai hari ini aku menyakini bahwa aku berada di jalan yang akan membuatku sampai pada titik mimpi itu menjadi nyata.


Aku adalah gadis desa yang dipengaruhi oleh hiruk pikuk dunia. Tapi sampai saa ini aku masih mampu mendesain hidupku. Aku bukanlah seorang perempuan pengikut trendsetter. Aku sangat easy going. Aku berpenampilan senyamannya aku. Aku kadang menyukai berpenampilan feminine tapi tak jarang serampangan sesuai keinginanku. Kadang pula aku berbangga memakai sarung, meski diantara beberapa wanita yang lain mereka berpenampilan begitu menawan dan jaga image.

Secara fisik aku sangat biasa.Namun Kadang juga ada orang mengatakan aku cantik. Tapi kadang aku juga mengganggap diriku jelek. Ada saat-saat tertentu aku menganggap diriku buruk. Tinggi 162 Cm, berat tidak pernah lebih dari 50 kg. pernah aku berusaha membuat berat badanku normal sampai aku rela meminum susu full cream. Tapi yang aku dapat hanyalah gangguan pencernaan.

Orang-orang mungkin menilaiku kurus. Kadang mereka menyuruhku untuk naik 2-3 kg, tapi jujur aku katakana padamu, untuk menaikkan berat badanku sangatlah susah. Tapi jika kamu menyuruhku untuk menurunkan berat badanku, itu adalah suatu yang gampang. Cukup puasa sebulan atau sakit selama seminggu. Sudah cukup untuk mendiskon berat badanku hingga 2-3 kg.


Dilihat dari sifat, aku berusaha menjadi seorang yang bijak. Aku selalu mampu menenangkan jiwaku. Meski kadang sangat mudh untuk iri dan cemburu pada orang lain. Tapi aku mampu menenangkan jiwaku. Emosiku tidak meledak. Tapi aku adalah perempuan yang manja.

Mungkin orang yang belum terlalu mengenalku akan mengatakan bahwa aku sosok yang mandiri. Bahkan terkesan sombong. Mungkin juga memberi kesan memilih-milih orang. Aku tipe orang yang mudah nyambung obrolan, tapi kalo langsung akrab mungkin agak susah. Aku selalu berusaha untuk tak memberatkan orang lain. Tapi terkecuali pada orang yang sudah begitu dekat denganku, sifat manjaku akan muncul, full power.


Aku selalu berusaha menebak kesan apa yang orang berikan saat berkenalan denganku. Dari situ aku mampu bersikap pada orang itu. Aku boleh dibilang sedikit pendendam. Ketika seseorang tidak begitu baik padaku, aku pun akan tidak begitu baik padanya. Entah itu dari caraku beriinteraksi bahkan saat mereka berbicara padaku, kadang aku acuh.
Namun ketika seseorang telah begitu baik padaku, aku pun akan sangat baik padanya. Bahkan tak segan memberikan kado kecil untuk sekedar kejutan.

Aku selalu berusaha menasihati diriku untuk menjadi orang yang selalu memberi kesan baik pada setiap orang. Meski kadang itu sangat bertentangan dengan hatiku.
Airmukaku mampu memberi tahu orang apa yang sedang terjadi di hatiku.

Aku tipe orang yang periang. Jadi ketika aku mulai diam dan mulai tak merespon banyak hal, atau hanya tersenyum kecut berarti there’s something wrong with me. Ada yang sedang mengganjal dan membuat hatiku sedih. Aku takkan membaginya pada orang lain. Kecuali kalo ia telah menjadi seseorang yang telah begitu dekat denganku
.

Aku selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Belajar dari kesalahan-kesalahan dan mampu menerima tiap kritikan. Jujur, aku adalah tipe orang yang tak suka dikritik, tidak suka disalahkan. Tapi nobody’s perfect. Dan aku pun akan selalu salah dan menerima kritikan. Aku belajar untuk bisa bijak. Berpikir postif pada tiap apa yang terjadi. Meski kadang aura-aura negative selalu menjadi penghalang.

Aku mudah memaafkan orang lain, tapi kesanku pada orang tersebut pun akan berubah drastis jika pernah menyakitiku.
Apalagi ya??? Sampai saat ini aku selalu berpuas dengan diriku. Tiap langkahku adalah sebuah pengalaman berharga yang menuntunku ke mimpi-mimpiku.

Saat ini aku masih dalam perjalananku. Perjalananku membangun istana mimpiku di bumi. Aku takkan berhenti dan mengalah pada realitas. Atau merasa nyaman karena telah mapan. Aku akan menerima tantangan mengambil resiko yang lebih besar.


Kalo menurut kamu, aku bagaimana???
Silakan comment di sini.

( Bengo-sabtu, 26 September 2009 -02.25 pm)
Images

Apakah Sopan Santun Mulai Terkikis?


Apakah sopan santun sudah mulai mengikis? Apakah manusia-manusia modern adalah manusia-manusia yang hanya bercengkrama dengan teknologi dan tak lagi mengenal orang-orang di sekitarnya. Manusia yang tersetting individual dan capital. Mengandalkan uang dalam interaksinya dengan manusia yang lain.
Seorang ibu tua menceritakan kisahnya saat berkunjung ke sebuah rumah. Anak-anak tuan rumah itu tak mengenalnya. Istri sang tuan rumah pun tak pula menyapanya. Sang tuan rumah yang terbaring sakit yang hendak dikunjunginya pun tak lagi mengenalnya. Ia hanya duduk di teras depan rumah, tanpa seorang pun yang mengajaknya masuk di rumah.

Mungkin realitas itu tak hanya berlaku bagi anak-anak tuan rumah itu. Itu pun (mungkin) terjadi pada hamper seluruh orang- orang muda yang tak lagi mengenal orang-orang di sekelilingnya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan seumuran mereka. Tanpa harus merasa peduli pada interaksi-interaksi dengan para orang tua.

Hal itu pun terjadi padaku, aku pun telah tersetting menjadi manusia yang tak lagi mengenal orang di sekitarnya. Mengetahui kabar teman seberang pulau melalui fesbuk, namun tak tahu yang terjadi pada tetangga sebelah yang hanya berjarak 3 meter dari rumahku.Aku adalah contoh nyata sebuah manusia modern yang individual.

Silaturahmi ke tetangga tak ada lagi dalam daftar hal yang harus dilakukan saat selesai lebaran. Yang melakukannya hanyalah orang tua- orang tua. Aku hanya sibuk di rumah berinternet ria atau sibuk mengirimkan sms ke semua nomor dalam buku teleponku.


Mungkin sopan santunku pun mulai mengikis???
Images

Keep On Dreaming


Seorang teman berkata padaku, aku tak pernah bermimpi karena aku tak pernah tidur.(vampir kali , ga pernah tidur). Apakah mimpi itu hanyalah ada saat kita tertidur.

Apa sebenarnya definisi mimpi itu. Apakah mimpi hanya sebatas bunga tidur yang hanya mampu kita “alami dan rasakan” saat kita tertidur.


Aku memiliki pendapat lain.Mimpi itu tak hanya hadir saat kamu tertidur. Mimpi adalah imaji bawah sadar yang tak hanya dirasakan dan dialami saat tertidur. Mimpi adalah sebentuk tempat berlari saat realitas jauh dari pengharapan ego. Mimpi adalah keinginan terpendam dalam jiwa yang mengaltar dalam ego. Ia selalu menjadi ujung jalan kita dalam berproses. Ia menuntun kita dalam setiap gerak kita.

Mungkin ia menjadi tujuan akhir.
Ia kadang tak disadari. Ia muncul perlahan dan kemudian menjadi sebuah bentuk utuh yang terus kita phat dalam imaji. Bermimpi tak perlu butuh tidur. Tiap manusia memilikinya. Ia tak perlu dipelajari. Ia adalah sisi manusiawi yang telah dipaketkan oleh Tuhan. Agar setiap manusia bisa mengimajikan sebuah istana pikiran yang akan terus dikejar hingga menjadi realitas utuh dalam kehidupan.

At Least, Bermimpi bisa mejadi tempat singgah sesaat dari hiruk pikuk rutinitas dan realitas yang kadang menyakiti hati...


Keep on Dreaming, Friends
Images

Lebaran Yang Sunyi

Ramadhan ke 29. Ramadhan kali ini tak sampai 30 hari. Waktu aku kecil, aku selalu sedih jika ramadhan tak cukup 30 hari. Rasanya tak lengkap. Tapi kali ini aku tak mempersoalkannya lagi.
Ramadhan kali ini meyakinkanku bahwa aku adalah hidup yang terus bergerak dan berubah. Ia meyakinkanku bahwa berubah adalah sebuah kewajaran. Hidup adalah sebuah siklus dinamis yang akan terus berputar. Ketika aku berharap dan meminta agar semuanya tak berubah. Artinya aku melarang hidup bekerja sesuai tugasnya. Dan itu sebuah kemustahilan.

Idul fitri ini adalah idul fitri tersunyi yang aku jalani seumur hidupku. Ini adalah ramadhan kedua yang kulalui tanpa mamaku. Harusnya Ramadhan lalu aku mendengar nyanyi sunyi ini, tapi baru kali ini sakit itu menohokku. Tak ada iar mata yang membuat mataku perih.Aku hanya merasa semua begitu berubah. Dan tak ada daya ku berharap agar semua tidak berubah. Karena aku masih di sini dan masih hidup.

Lebaran kali ini kulalui hanya berdua dengan Etta. Kedua kakakku memilih lebaran di tempat suaminya. Alasannya mereka telah lebaran di Rumah tahun lalu.tinggallah aku yang berlabaran berdua dengan Etta. Pilihsn berlebaran dengan kedua kakakku taklah terturtup, hanya saja aku tak ingin merusak tradisi lebaranku yang selalu kulalui di rumah. Lagian kalo habis sholat Ied aku bisa langsung nyekar di kuburannya mama di samping rumah. mungkin suatu saat ketika aku menikah tradisi lebaran di rumah pun akan kukondisikan.

Tak ada buras khas lebaran atau ayam nasu likku' yang selalu dibuat mamaku saat lebaran. Pertama aku tak tahu membuatnya, kedua kalo pun aku tahu buat, aku malas melakukannya. lagian tak ada kakak Ipah yang biasanya lebih pintar memasak. Aku cuma menunggu jatah bungkusan dari rumah puang aji atau mungkin dari kakak-kakakku yang akan pulang setelah lebaran.

Lebaran kali ini seperti titik balik untukku. Aku seperti tak berada lagi di rumah. Tempat ini tak lagi terasa menjadi tempat pulangku (mungkin). Aku hanyalah singgah sebentar di sini. Rumah ini adalah tempat pulang dwi kecil yang dulu merasa begitu nyaman di sini. Tapi kini aku telah menjadi dewasa. Telah berada di titik hendak beranjak dari rumah dan membuat rumah khusus untuk diriku sendiri.

Setiap orang pada akhirnya akan pergi. Pergi dari rumah. Meski ia kembali, ia takkan menetap. Ia hanya berkunjung. Mungkin kali ini aku juga sedang berkunjung. melihat jejak-jejak kecilku dan tersadar bahwa aku jejak itu tak cocok lagi dengan kakiku yang telah bertumbuh. Aku kini hanya singgah sejenak dalam perjalananku pulang ke rumah. ke rumah yang telah kubangun di hati seseorang yang mungkin tak lama lagi akan aku lihat wujudnya berpijak di tanah. Melindungiku dari panas dan hujan. Melanjutkan tradisi lebaran keluarga di sana.

-masih berharap seperti rumah (19 Sep 2009)
Images

Kamis...Dua Sisi Mata Koin


Kamis. Bagiku seperti sebuah koin yang aku harus pandang dua sisinya. Ia menjadi titik nol ku untuk belajar kendali diri. Manut pada super ego dan belajar mengerem jiwa.

Ia mengajariku untuk tak mendengus kesal dan berusaha tetap tersenyum.
Ia mengajarkan hatiku untuk mampu menerima tiap negatif dan merubahnya jadi ion-ion positif. IA menjadi meditasi jiwa untukku.

Tiap kamis, aku selalu berusaha membuat komitmen pada diri untuk menjadi lebih baik. Tiap kamis aku bisa menangis sedih dalam hatiku.

Membuat daftar salah dan lalai besar-besar dan ber-bold di dalam. Aku sendiri yang harus memperbaikinya. Meski setelah itu Jumat, Senin, hingga rabu komitmen itu perlahan-perlahan kembali ke angka nol.


Kamis selalu membuatku was-was. Selalu membuatku menarik napas tertahan dan berusaha menahan air mata. Kamis membuatku kembali membongkar arsip-arsip dan mengecek file-file yang semestinya harus adadi sana. Kadang aku merasa putus asa pada Kamis.

Tapi setelah kamis, ada Jumat yang menyenangkan hati. Ada hati yang akan bertemu dengan puzzlenya. Ada hati yang kembali ke rumah. Menenangkan gemuruh yang telah luapkan oleh Kamis.
Ada penantian diam-diam yang membawa kesembuhan pada hati yang sedang menangis.

Setelah Kamis, ada Jumat yang menyanyikan lagu merdu tentang alam bebas. Dan karena Jumat, aku harus mampu mengalahkan Kamis.Tanpa Kamis takkan ada Jumat yang menyenangkan.


Karena Jumat, pada Kamis aku harus menjadi pemenang. Pada tiap komentar, kritik, salah, dan lalai. Aku harus menang. Dan karena Kamis, Aku Harus Lebih Baik.
Images

Sebuah Pengharapan Yang Entah....


Kemarin sore aku melewatkan ngabuburitku di warnet. Kusempatkan untuk mengupdate statusku di facebook, mengintip blogku yang tak terupdate tulisan baru. Dan blog walking ke beberapa link yang ada di blogku.

Kudapati blog Dee berisi promosi buku barunya.ada sebuah sanyembara menulis di sana. Hadiahnya tentu saja buku “Perahu Kertas”-nya Dee. “Tuliskan Harapan terbesarmu dalam hidup” tema lomba itu terpampang jelas di blognya Dee.

Aku tertegun sesaat. Aku tertarik akan lomba itu namun aku yakin aku tak bisa mengikutinya. Lombanya sudah lewat.
Tapi bukan karena itu yang membuatku tertegun, bukan karena aku tak bisa ikut lomba itu.

Aku tertegun akan tema yang di pilih Dee untuk lomba penulisannya.
Apa harapan terbesarmu dalam hidup? Aku tak bisa menjawabnya. Harapan itu adalah hal-hal abstrak yang ada dalam “mind”ku yang tak mampu kutemukan aksaranya.

Aku telah banyak menuliskan mimpi-mimpiku dalam diary-diary butek masa sekolahku dulu. Aku telah membuat list-list pengharapan yang selalu aku ingin aku lakukan.
Tapi apa yang menjadi pengharapan terbesarku dalam hidup? Aku juga masih tak tahu jawabnya.

Definisi harapan bagiku adalah sebuah mimpi masa depan yang membuatku BAHAGIA. Memiliki suami dan anak-anak yang lucu nan sehat cerdas, dan sebuah rumah kecil. Tak perlu mewah, tak perlu penuh dengan mobil lux. Aku melakoni aktivitasku sebagai seorang ibu dan istri dan menjadi diriku pribadi.


Melakukan kegiatan kegemaranku, terus menulis dan menceritakan kisah lewat lembar-lembar buku yang aku tulis sendiri. Aku ingin berada dalam situasi dimana bakatku bertumbuh dan berkembang. Berada diantara orang-orang yang bisa meluaskan pengetahuanku dan terus berpuas diri pada hasil pekerjaanku dan reward yang kuterima.


Terdengar sangat klise mungkin. Tapi itu adalah imaji paling sederhana yang mungkin aku harapkan. Masih banyak imaji-imaji liar yang bermain-main di benakku.
Aku selalu menganggap pengharapan itu adalah masa depan. Masa yang masih begitu jauh. Masa yang (mungkin) belum aku hadapi sekarang.

Aku masihlah terus bermimpi.
Dan jika kau bertanya padaku “apa pengharapan terbesarku?”. Aku hanya akan tersenyum padamu dan mengangkat bahuku “Entah”.
Images

Ramadhan Lagi….


Ramadhan lagi. Ini kali kedua Ramadhan kulalui tanpa mamaku. Perlahan aku telah mampu mendamaikan hatiku dan bertatap pada kenyataan bahwa semua telah berubah. Dan tiap perubahan itu membuatku belajar dewasa.

Namun terkadang dalam sunyi dan diam aku masih merindukan sosoknya. Masih merindukan saat-saat sahur, berbuka, dan lebaran yang pernah kami lalui bersama. Terkadang berharap bias kembali ke masa itu dan merekamnya lebih kuat dalam ingatanku. Melakukan percakapan-percakapan antara ibu dan anak yang tak pernah kami lakukan bersama.


Perlahan rasa kerinduan akan ramadhan terkikis seiring umur dan aktivitasku. Aku tak lagi merasakan rasa bahagia yang pernah aku rasakan pada waktu kecil saat berjumpa dengan ramadhan. Aku mulai sibuk dan tak lagi peduli dengan ibadah yang dulunya sering aku lakukan. Dan ramadhan pun kemudian terasa seperti bulan-bulan yang lain, hanya saja tak ada makan siang di 30 harinya.

Aku ingin merasakan kembali kebahagiaan itu. Tarawih di masjid dan mulai membaca mushab. Mesid tempatku ibadah masih seperti itu. Yang berubah hanyalah beberapa perombakan untuk membuatnya sedikit lebih terlihat luas dan sejuk. Jamaah-jamaah yang memadatinya masih para orang tua rekan jamaah mama dan etta.

Tak kutemukan lagi kawan-kawan masa kecilku yang dulunya selalu berkumpul di saf depan dan mencatat judul ceramah taraweh untuk dituliskan pada buku jadwal ramadhan.
Tugas itu masih ada sampai sekarang. Beberapa anak-anak perempuan usia SD dengan antusias duduk di barisan terdepan menceklist buku jadwal ramadhannya. Mungkin kawan-kawan kecilku dulu pun telah sesibuk aku. Bahkan mungkin tak tinggal lagi di kampung kami.

Tak berubah, anak-anak laki-laki selalu menjadi tukang ribut paling di cari keamanan mesjid. Mereka layaknya Ipin dan Upin membuat kekacauan diluar mesjid atau di dalam mesjid saat tarawih.


Aku ingat beberapa ramadhan lalu ketika Mama masih hidup dan kita masih tinggal di rumah panggung sebelah. Ada kasur yang kami gelar di depan televisi. Di situ, Saya, Mama, dan Etta tidur selama ramadhan. Bangun sahur maupun tidur setelah sholat subuh. Aku menyebutnya “Kasur Ramdhan”. Begitu menyenangkan saat itu.


Sekarang semua telah berubah. Aku merasa makin individual. Aku tak memiliki lagi “hubungan antar manusia” yang begitu kuat bahkan dengan keluargaku sekalipun.
Kita masih kadang saling menyalahkan dan tak menguasai emosi. Padahal mama telah mengajarkan untuk selalu bisa mengontrol semua hal. Apalagi saat Ramadhan.

Ramdhan kali ini, aku benar-benar merindukannya. Tapi bahkan sampai sekarang aku belum mampu menyempatkan waktu untuk duduk sejenak di samping nisannya. Membacakannya Al Fatihah, meski nisan itu berada di samping rumahku.


Mama, Maaf ya. Semoga besok aku bisa menjenguk nisanmu.
Maafkan anakmu yang tak berbakti ini…..
Images

Sebuah Percakapan Pagi Hari..


Aku pernah menganggap aku sendiri di sini. Di dalam ruang berukuran 6 x 12 x 12 meter. Sendiri dengan pemikiran idealku dan semua mimpi-mimpi yang tengah aku buat anak-anak tangganya.

Tapi pagi ini memberiku cara pandang lain akan hidup. Beberapa orang berdiskusi di ruang makan. Mempertanyakan karir dan masa depan. Mereka siap berada di sini. Di tempat ini dan dalam dunia ini.

Aku tak yakin bisa seperti mereka. Terus di sini dan terus mengasah diri. Aku ingin mengasah diri. Di sini sekarang. Tapi takkan terus di sini. Dunia luar begitu merdu menyanyikan lagu alam maha indah yang harus aku nikmati.

Ia duduk di depanku. Kutanyai apa visinya ke depan.
Ia berkata “aku ingin menjadi seorang enterprenaur”.


“Kapan?” lanjutku.


“10 tahun ke depan”.

Jarak antara hari ini dan 10 tahun ke depan akan kamu apakan?"tanyaku lagi.


"Aku ingin belajar banyak di sini. Tak hanya di dalam ruang berlubang ini, tapi juga di sebelahnya.Setelah itu aku akan berlalu. Mencari tempat yang lebih menyenangkan".


Ia benar-benar mencerahkanku. Ia seperti yang ingin aku lakukan pada diriku.
Aku pun ingin seperti itu.

Dan aku sadari aku ternyata tak sendiri di sini....
Images

Dapat NPWP


Hari ini aku menjadi warga negara yang baik dan taat aturan.
Dan aku pun akan ikut andil dalam pembangunan bangsa dan negara...
(cie....sok berguna).

Akhirnya aku dapat NPWP. Awalnya aku agak acuh pada NPWP ini, meski ratusan iklannya telah menjejali mataku dan mendoktrin otakku. Aku tetap cuek.

Aku tak pernah tahu bagaimana NPWP itu. Apa keuntungan yang di dapat masyarakat dan apa perlunya NPWP. Secara aku kan belum menghasilkan uang saat-saat itu.


Tapi karena kebijakan kantor yang mengharuskan karyawan memiliki NPWP dan akhirnya kartu kuning itu pun di tanganku kini.

Fasilitas apa yang di dapat dari memiliki NPWP? Entahlah aku juga tidak tahu. Yang penting kartu itu bukan untuk gesek belanja atau tarik tunai.
Yang kupahami hanyalah bahwa dengan memiliki NPWP ada kemudahan dalam membayar pajak.

Kalo tidak salah pada pembayran pajak tertentu dimana seorang wajib pajak tak punya NPWP harus membayar 20%, tapi untuk wajib pajak yang memiliki NPWP hanya 10%. selain itu gratis fiskal kalo ke luar negeri
(boleh nih kalo nanti ikut suami...hehehehe).

Dan mulai hari ini aku akan lebih perhatian terhadap penggunaannya.


Bayar pajaknya, Awasi Penggunaannya...
Images

Mendefinisikan Kembali Realistis

Apakah realistis itu?

Takluk pada kenyataan yang ada di depan mata, atau menyerah dan manut pada arah hidup yang ada di depan kita.
Andrea hirata punya definisi sendiri realistis adalah berbuat terbaik di titik kita berpijak.

Aku hanya ingin berbagi kisah tentang realistis yang aku lihat, rasakan, dan aku nilai.
Duniaku adalah dunia yang indah. Teman-teman yang menyenangkan, tapi tak jarang membuat kesal dan dongkol dalam hati. Tapi aku selalu menganggapnya sebagai asam manis sebuah dunia. Lingkunganku adalah lingkungan yang berjalan sama seperti tiap hari. Mengerjakan pekerjaan yang sama, persoalan yang sama, dan juga berkas-berkas yang sama. Bekerja dengan teliti, mengfile-ing data-data dan kertas-kertas yang akan di audit dan dikomentari banyak2 oleh tim audit.

Aku mulai terlena dengan rutinitas kerja ini. Buaian benda-benda yang menyilaukan mata dan ragam kebutuhan yang mulai menyita hati, mata, dan otak.
Aku mulai samar dengan mimpi-mimpi dalam list mimpiku. Aku mulai nyaman terhadap kursi, komputer, dan ruang berAC. Aku mulai tak ingin berjuang di bawah terik matahari, berpanas-panas, dan tak tentu arah.

Tapi sisi hatiku yang lain ingin merasakan kegembiraan meraih cita-cita itu. Terbebas dari kekangan waktu datang dan pergi. Terbebas dari berkas-berkas yang harus segera dipenuhi dan tekanan kerja yang selalu membuatku panas dingin.

Entahlah...hanya saja mimpi itu kadang datang dan pergi. Menghantui tidur dan terjagaku.
Aku ingin terus mencari jejak mimpiku. Aku tak ingin menjadi kutu-kutu dalam bulu-bulu kelinci yang nyaman. Aku ingin seperti elang yang bisa terbang kemanapun. Melihat matahari terbenam dengan mataku kepalauk sendiri. Merasakan dingin air terjun di kaki gunung tertinggi di dunia. Dan melihat matahari merangkak perlahan di ujung dunia.

Aku ingin itu....aku tak ingin terjebak di sini. Dalam ruang nyaman dan mengubur mimpiku rapat-rapat. Dan hanya mampu mewariskan mimpi itu pada anak-anakku kelak.
Images

Di Lamuru Kita Berkumpul Lagi…

Weekend ini adalah weekend yang benar-benar menyita banyak waktuku. Dua pesta perkawinan harus aku datangi. Dua-duanya penting, dua-duanya adalah teman. Dua-duanya memilih tanggal dan waktu pesta yang sama.

Tapi terkadang kita harus bijak dalam segala bahkan hal yang seperti ini. Terlihat sepele memang tapi dua-duanya harus bisa jalan. Dan akhirnya aku tiba dikeputusan yang paling bijak yang aku pikirkan. Pernikahan pertama aku datangi saat malam mappaci, pernikahan kedua pada saat resepsinya.

Dan keputusan ini begitu bijak dalam pandanganku. Aku akhirnya bisa berkumpul dengan teman-teman kosmik ( K riza, K harwan, K patang, krahe, k maman, K jun, kyuda, k Aidil dan Arya). Juga Ema dan Were.Serta bersua dengan anak-anak UKPM. Begitu menyenangkan rasanya bisa kembali ke dunia yang pernah membuatmu merasa nyaman. Namun tak berarti duniaku sekarang tidak begitu nyaman.

Duniaku saat ini begitu menyenangkan. Ada lesson baru yang aku pelajari. Lingkungan baru dan dunia baru yang mengajarkan melihat dunia dengan cara baru. Aku bahagia bisa merasakan dunia-dunia itu.

Tak hanya itu, di Lamuru aku pun bertemu dengan salah satu guru SMA-ku. Long time no See, begitu banyak hal yang berubah. Begitu banyak halaman yang tak kita lalui bersama, dan kemarin halaman-halaman berbeda itu telah menyatu. Membuat kita berada di satu halaman yang sama dan cerita yang sama.

Senang rasanya bisa merasakan hawa kosmik lagi. Atmosfir bercanda dan kekerabatan yang begitu kental. Meski tak begitu lama. Meski hanya beberapa jam. Meski hanya ditemani wafer Tango, kacang goring, kue lapis legit milik Kevin, ubi goreng, the yang terlambat dibuat, nasi, ikan masak, sayur kacang ijo, dan perkedel mairo, tapi semuanya begitu indah.

Kapan-kapan datang lagi ya…tapi bilang-bilang dulu supaya pesanan fanta susu, es kelapa muda bisa dibuatkan…
Images

Menulis Dan Kerinduan Akannya....

telah lama aku tak menulis di blog ini. seorang teman menyapa di shout boxku. rindu akan tulisanku katanya. aku pun kangen dengan tulisanku.

tapi entahlah. rasanya aku tak punya lagi waktu untuk menulis. meski ia satu-satunya jejaring yang mampu menghubungkanku pada surga di dalam imajiku.

23 tahun sudah usiaku. awalnya aku berencana menulis beberapa kenangan atasnya. tapi sekali lagi aku tak lagi punya waktu untuk itu.....

Show me The way...Please!!!!
Images

Pada Sang Waktu

Aku menyerah padanya. Ia telah membuatku bertekuk lutut dan mengangkat kedua tangan ini. Memaksaku mengibarkan bendera putih petanda kalah.

Aku selalu menanti saatnya. Namun terkadang ia telah berlalu ketika aku menyadari kedatangannya.

Aku kalah....

Aku hanya bisa merajut imaji tanpa bisa benar-benar menyelimuti diri dengan hangatnya....
Images

Pagi Ini......


Duduk, menikmati pagi, dan menyaksikan Kevin bermain pasir adalah saat-saat yang begitu mahal bagiku. Duduk dan menikmati tuts-tuts laptopku sambil memarahi Kevin yang melempar kerikil-kerikil kea rah orang yang berlalu lalang adalah saat-saat yang mahal bagiku.

Menulis menjadi sebuah rutinitas yang akan menjadi begitu mahal bagiku jika aku tak memaksa diriku untuk melakukan rutinitas ini.
Pagi ini adalah pagi terakhir di hari minggu di penghujung juni.

Ya…juni. Pertengahan tahun. Sisa setengahnya lagi untuk meniup trompet tahun baru. Mungkin terasa masih lama. Tapi waktu tak mampu ditakar. Ia hanyalah ilusi.tapi ia seperti gong besar yang mampu membuat kita tersentak. Membuat kita tersadar telah membuat jejak di lalunya.


Aku telah memasuki sebuah gerbang baru. Gerbang memilih dan meraih kesempatan. Aku sempat tak punya peta ke arah mana aku akan pergi. Tapi waktu telah menuntun berjalan jauh. Memilih dan menapaki satu persatu likunya.


Aku takut pada awalnya. Tapi perlahan ia mulai bersahabat. Aku mulai mampu mengikuti ritmenya. Seseorang pernah begitu khawatir dengan ini. “?
Tenanglah, aku telah mampu mengikuti ritmenya. Aku telah mampu menaklukkannya. Meski planningnya sesaat, bukankah aku harus menjadi pemenangnya?”bisikku.

Aku pun harus menjadi pemenang dari mimpi-mimpiku. Setidaknya harus ada sebuah cerita yang bias aku tuliskan buat anak-anakku kelak. Sehingga mereka tak hanya mengenangkanku sebagai ibu, tapi juga pencerita yang baik.
(Halaman Rumah, 27 Juni 2009 kala pagi)
Images

Kost Idaman

Sudah tiga hari aku menjalani sebuah kerja yang setahun ke depan (untuk saat ini) menjadi rutinitasku. Masih terlihat ringan sekarang. Entahlah nanti. Tapi aku tak ingin ini mejadi lebih berat. Aku ingin menikmatinya seperti sebuah arena bermain. Yang di dalamnya hanya ada tawa berderai derai dan selalu ada hal yang menyeangkan.

Waktuku mungkin akan banyak tersita, tapi aku tak mau tahun ini aku melupakan mimpiku. Aku harus membuatnya ada setidaknya menjadi janin yang bentuknya sudah terlihat.

Aku butuh tempat untuk mengeraminya, memeliharanya. Tapi di sini, di daerahku sendiri aku tak begitu mengenalnya. Kota ini begitu asing. Semua tempat begitu penuh. Semuanya begitu jauh, dan tak cukup representative untuk ukuranku. Telah sering kota ini mengecewakanku dan menjadi trauma tersendiri buatku. Namun,kali ini aku harus menaklukkannya.

Aku butuh tempat untuk diriku sendiri.di tempatku sekarang pada dasarnya baik, tapi ada kesungkanan yang selalu muncul dan aku hanya tak mau itu terjadi. Sungkan akan mengkrangkeng semua kreativitasku.

Adakah yang ingin menunjukkan sebuah tempat yang nyaman bagiku. Cukuplah ia dengan kamar mandi di dalam kamar, tempat tidur, lemari, dan sebuah dapur kecil. Dan berada dalam jarak yang relatif dekat dalam defenisiku..

Somebody, help me…..
Images

To Be with U


Begitu mahalkah arti kebersamaan? Ada materi yang harus dikorbankan, ada waktu yang harus disempatkan, ada cinta yang perlu tumbuh diantaranya. Tapi bayaran yang didapatkan pun tak sedikit. Ada berjuta-juta bahagia yang mampu kita rasakan dalam kebersamaan. Ada derai tawa yang bergema-gema diantara kita. Ada tunas-tunas cinta yang bertumbuh terus menerus. Akar-akarnya kian kokoh dan kebersamaan membuat dua hati menjadi satu tak terpisahkan.

Begitu mahalnya kah kebersamaan di antara kita? Apakah kita tidak berusaha terlalu keras agar kita bias bersama? Perlu berliter-liter air matakah untuk mewujudkannya? Perlukah aku menyerap semua sedih di dunia ini untuk bersamamu.

Aku selalu menanyakan pertanyaan sacral itu. Pertanyaan pamungkas yang mampu membuat kita bersama. Membuat kita tak terpisahkan. Pertanyaan yang menjadi panah sakti yang secara lambat namun pasti “memaksa” kita untuk bersama. Tapi juga mampu menjadi boomerang pemisah antara kita.

Setiap pagi, jauh sebelum matahari menantang bumi dengan hangatnya, gejolak hatiku telah menantangku lebih dulu. Aku selalu menjadi pihak yang kalah. Kalah itu membuatku sakit. Sakit membuat mataku memanas dan perih. Sakit itu membuatku harus terus meratapi hidup. Ia bertanya padaku “masihkah kau jenuh dengan duniamu?”.

Duniaku? Ya.. ada apa dengan duniaku? Ada yang berubah darinya. Duniaku berputar 180 derajat dari titik porosnya. Sesuatu yang tanpa kusadari telah membuatku jatuh dan tersedot di dalamnya. Keputusan gegabah membuatku tak mengenali duniaku. Aku hilang di dalamnya.

Semua orang di sekelilingku tak pernah mampu merasakan perubahan duniaku. Mereka hanya menganggap bahwa duniaku telah lebih baik. Padahal jauh lebih dalam, di titik dimana aku berdiri ditepian duniaku aku telah kehilangan ingatan akan dirinya. Dirinya yang telah aku bangun sejak aku kecil. Puri imajiku kemudian porak poranda.

Bahkan ia, orang yang kuanggap mampu menyelamatkanku dari sini hanya mengatakan “mimpi bisa di revisi”. Betulkah? Sepertinya tidak bagiku, duniaku sebelumnya telah aku bangun dengan puing-puing imaji indah yang terus berusaha aku kejar. Aku telah berada di jalan yang benar sesungguhnya. Tapi, keputusan gegabah ini memberiku peta yang lain yang lebih berliku.

Mengapa terkadang ada sesuatu yang kita harapkan tidak terjadi di dunia kita, malah terjadi di dunia orang lain yang sesungguhnya tak mengharapkan itu terjadi di dunianya. Mengapa tak terjadi saja hal-hal yang sesuai imaji pribadi masing-masing. Bukankah dunia akan lebih simple dan memancarkan aura bahagia yang lebih kental?

Duniaku adalah bersamamu. Jauh sebelum mimpi-mimpi arkais yang lain aku bangun. Kau adalah titik tumpu dari duniaku. Bersamamu seperti berada bersama ibu yang selalu memancarkan rasa nyaman, aman, dan tentram meski dunia diliputi perang. Jangan membuatku mencabut rasa itu dari hatiku. Karena jika hal tersebut terjadi, rasa sakitnya tak mampu mengekalkan kita. Kita hanya akan hancur bersama sakit itu.

Aku tak punya jalan lain, dunia yang begitu asing ini harus aku ubah menjadi duniaku. Meski aku agak sangsi padanya. Meski ketika 365 hari nanti aku sudah mampu mengubahnya, namun aku tak tahu hendak kemana lagi. Mungkin ia memang seperti ini. Tapi suatu saat kelak, aku akan dengan tepat membuat keputusanku. Meski dunia yang akan aku hadapi tak terasa dan tak teraba. Tak akan ada mimpi yang di revisi. Tak ada. Aku akan mengatakan dengan lantang kepadamu”TAK AKAN ADA MIMPI YANG HARUS DI REVISI”. Daftar-daftar mimpi itu akan aku centang dengan tanggal di mana ia menjadi nyata.

Saat ini pilihanku memang satu. Menjadi peta untuk diriku sendiri. Menjadikan diriku hocrux dan tak bergantung pada orang. Bahkan dirimu sekalipun. Mungkin keputusan saat ini adalah salah. Tapi tunggulah 1.314.000 detik di depanku aku akan berada pilihan tetapku.

Biarlah tiap pagi dan kala malam menjelang ada air mata yang tak tertahan. Mungkin ini adalah harga yang harus terbayar untuk bersamamu. Untuk mencentang mimpi bergondola di venezia.

(Tuesday, June 16, 2009 11.49 pm)