Images

Dear baby Anna




Aku menulis ini saat kamu berbaring di pangkuanku. Kakakmu, Ara, tertidur lelap di ujung pembaringan tempat tidur rumah sakit yang kuberbagi dengannya sembari memangkumu. Ayah terlelap di kursi panjang berbusa tipis yang tampaknya cukup nyaman karena mampu membuatnya mendengkur. Dan aku di sini masih setia memangkumu sembari menahan kantuk. 

20 jam yang lalu kamu masih anteng tidur di ranjang bayi tanpa perlu dipangku. Namun, kemudian kamu mungkin belajar perbedaan antara hangatnya pangkuan,belaian, dan datar dan dinginnya tempat tidur bayi. 

Maka kamu memilih untuk terus dipangku. Menangis keras saat diletakkan sekalipun di pembaringan sempit yang kita bagi bertiga dengan kakakmu. 

Dan aku pun mengiyakan tingkah manjamu itu setelah aksi mogok nenenmu selama beberapa jam disertai muntah yang mampu membuatku khawatir. Aku ingin memastikan bahwa kegiatan menyusumu terjadwal rutin agar persediaan makanan di lambungmu tetap ada. Juga demi produksi ASI yang lebih banyak. 

Biar kuceritakan 48 jam sebelum aku melahirkanmu. 2 Agustus kala itu. Hari kelahiran kakakmu dan juga diriku. Aku sangat berharap kamu lahir di penanggalan yang sama, agar kita memiliki tanggal ulang tahun yang sama pula. 

Tapi kamu memilih tanggal lahirmu sendiri. Memilih berbeda. Tak jadi masalah. Sisi baiknya kita bisa mengadakan dua perayaan pesta ulang tahun atau membuatnya bersamaan. Masih sempat Ayah mengantar saya dan kakak Ara ke Cimory untuk jalan-jalan ulang tahun yang tidak begitu jauh dari rumah. Tapi  saya mah kalo diajak jalan-jalan ke mana aja suka kok. 

Awalnya ingin mencarikan kue ulang tahun untuk Kakak Ara, tapi karena ke Cimory sampai sore, urung dilakukan. Kakak Ara tetap aja minta dibuatkan dekorasi ulang tahun, kue, lilin, dan kado karena buatnya itulah ulang tahun.  Maka pada 3 agustus semua itu diwujudkan. 

Pukul 9 pagi di 3 agustus. Keluar lendir dan disertai darah. Saya sangat  yakin akan segera bertemu denganmu tak lama lagi. Sebuah perjumpaan yang telah lama saya nantikan. Setelah melewati banyak drama saat kehamilan, gonta-ganti dokter, rujukan ke RSCM, ukuranmu yang kecil, serta segala hal-hal yang bisa dipikirkan oleh khayalan liarku. all i want is to hold u in my arms. Memastikan kamu sehat dan baik-baik saja. 

Tak seperti kehamilan pertama, saya sangat tenang menghadapi tanda-tanda melahirkan ini. Kita masih ngider cari kue coklat, merayakan pesta ulang tahun, dan jalan-jalan di malam hari. 

Kehadiranmu makin terasa tiap jam. Kontraksi-kontraksi kecil kurasakan sejak sore. Namun kami memutuskan belum ke rumah sakit. Jika menunggu lama di rumah sakit, kasian kakakmu Ara yang akan tidur sembari menunggu mama kesakitan. Baiknya menunggu di rumah saja hingga tiba pada kontraksi yang tidak tertahankan. 

Pukul 10 malam. Sakitnya makin lama makin menjadi-jadi. Mules diperut. Entah kenapa saya masih bisa tetap di rumah. Pukul 11 malam. Rentan kontraksinya hanya beberapa menit. Rasanya seperti sesuatu bergerak di perutmu dan berusaha merobek kulit perutmu untuk keluar. 11.30 malam, saya minta ayah untuk mengantar ke rumah sakit. Kamu ga bisa lagi menunggu. Biarlah Ara menangis beberapa jam jika tak bertemu mama. 

Tengah malam, kami tiba di rumah sakit PMI. Mendaftar untuk melahirkan. Ayahmu memarkir mobil dan mengurus administrasi. Saya di ruang IGD sendirian. Kehausan. Tak membawa gawai untuk menghubunginya, dan menderita kesakitan. Saya harus meremas tepian ranjang rumah sakit tiap kali sakitnya datang. Namun yang ada dalam pikiranku, sakit ini masihlah lebih ringan dari yang akan saya hadapi nanti. 

Kemudian seorang perawat mendekati saya, mengatakan kalo saya persalinan ini ga bisa BPJS karena ga punya rujukan. What??? Kemarin waktu konsul di dokter obgyn PMI katanya ga mesti pake rujukan. Langsung ke Emergency saja. Sang perawat pun ngomong lagi, kalo SC baru ditanggung BPJS. Ah, drama apa lagi ini? Padahal milih PMI karena bisa BPJS. Saya cuma mengangguk bloon menanyakan harga kalo jadi pasien umum. 

Saya sudah berniat kabur ke bidan kalo-kalo ga dijamin BPJS, sayangnya ayah udah ga keliatan batang idungnya setelah saya cari diluar sambil menahan kontraksi yang makin menyerikan. 

Sang perawat udah negur soalnya saya masih mondar-mandir nyari suami. Terpaksa balik lagi ke ranjang terus kembali menikmati kenyerian. Saya pasrah aja kalo masuk pasien umum. Meski hitungan harga melahirkan kadang sampai puluhan juta meski normal. 

Sampai saya dibawa ke ruang bersalin, Ara dan ayah belum keliatan. Tingkat kehausan udah level dehidrasi. Tingkat nyeri level I can't hold it anymore but im trying. Dua bidan datang mengecek detak jantungmu. Menanyakan kapan haid terakhir ( yang aku lupa tepatnya), kapan konsul terakhir, hpl nya kapan, keluar lendir jam berapa, mulai kontraksi kapan, air ketuban pecah atau tidak. Ah too many questions.Bisa ngedan sekarang ga?, saya balik bertanya. "Tarik napas panjang,bu", sarannya. Aaaarrgghhh

Sang bidan memeriksa pembukaannya. Kalo ga salah sih dia bilangnya 4, heh!!!! Kok rasanya udah sakit banget kayak mo meledak? Saya tak bertanya lebih jauh lagi. Pengen teriak aja "get this baby out from my tummy". 

Tarik nafas bu, kata bidan magangnya. Hah huh hah huh. Ga mempan. Napasku udah pendek-pendek. Rasanya udah sesak aja. Kemudian paramedis mengeluarkan peralatan perangnya. Lampu sorot, alas buat lahiran, dan berbagai barang-barang kecil di nampan. 

Ngedan aja bu, katanya. Tiap kerasa kontraksi ngedan aja, lanjutnya. Tapi seberapa pun kuatnya mengedan selalu salah. Sang bidan nyampur bahasa sunda memberikan instruksi yang benar. Aduh, saya butuh subtitle. Somehow entah dia bilang ngajak atau apa, saya bertanya balik itu artinya apa. Dengan muka datar dia menjawab "ngedan bu". Jiaahhh.  Si bidan ngasih petunjuk posisi yang benar. Tarik kaki hinggg lutut sejajar bahu, lihat perut, kemudian saksikan kepada baby mulai muncul perlahan. Oh my God!!!!  Cant hold it. Melihat kepalamu sedikit-sedikit keluar kok rasanya tambah sakit.  Saya memilih menutup mata. Mengedan sesuai kemampuan dengan napas pendek. Hingga akhirnya saya pengen nyerah aja. Angkat bendera putih terus minta di SC. Untungnya, bidan dan perawat yang membantu terus menyemangati untuk ngedan. "Harus bisa bu. Ayo!", katanya. "Ngedannya kayak mau pup. Bukan lewat mulut". Ah, sekalipun sudah pernah melahirkan sebelumnya, instruksi untuk mengedan kayak pup selalu terasa sulit apalagi si bayi keluarnya dari vagina bukan dari anus. 


Pukul 00.48, Dengan sisa tenaga yang ada, saya berusaha sekuat mungkin untuk mengedan. Hingga saya merasakan sesuatu keluar dan ditarik dari dalam perut. Seketika itu juga dirimu yang mungil penuh lendir, darah, berwarna putih kemerahan, diangkat oleh sang bidan. "Perempuan. Selamat ya"katanya. 

Lega. Bahagia. Sakit. Mix feeling pokoknya. Kemudian paramedis membuka seluruh pakaianku dan membiarkan saya hanya berselimut. Kamu  dibaringkan dadaku. Ow,that was the most beautiful thing i ever done. Amazing! 
Sembari paramedis menyelesaikan pekerjaannya menjahit robekan di vagina, saya menikmati moment IMD bersamamu, Anna. Waktu melahirkan kakakmu di rumah sakit ibu dan anak di Makassar, saya tidak merasakan  skin to skin dengan Ara.  Saya menggendong bayi Ara ketika ia sudah dibersihkan dan dibedong. 

Sementara di RS PMI Bogor, kesempatan Inisiasi Menyusu Dini benar-benar diberikan kepada ibu dan anak. Tanpa proses meminta secara khusus. Ketika bayi lahir, seketika itu juga proses IMD dilakukan. Ajaib dan menakjubkan! Bayi Anna bergerak mencari puting susu. Bibirnta mengecap-mengecap dan membaui. 

Sakitnya dianestesi dan lamanya jahitan tak ada bandingannya, ketika saya memiliki pemandangan yang begitu indah di atas dada saya. Sayangnya moment IMD itu tidak bisa saya bagi dengan suami dan Ara. Mereka sibuk mengurus administrasi rumah sakit sementara saya berjuang mengeluarkan bayi dari dalam perut. 

Baru ketika paramedis menyelesaikan pekerjaannya, bayi Anna diangkat dari dada saya. Ia bahkan sempat pup diatas perut saya. Kemudian dia dibersihkan, dipakaian baju dan bedong. 

Ara begitu senang dengan kelahiran adiknya. Ketika saya dan ayahnya kelelahan di subuh hari itu, ia masih saja riang menengok adiknya yang ada disampingku. Kata dokter kandungan ketika visite kemarin pagi, pembukaan rahim waktu kami tiba di rumah sakit telah mencapai angka 9. Wow, rasanya sakitnya tidak semelilit waktu melahirkan anak pertama. Mungkin karena anak pertama diberi induksi dua kali. Yang sakit adalah moment saya melahirkan. Lebih sakit dari yang pertama. I guess, every pregnancy have different story. 

Akhirnya penantian sembilan bulan dalam kandungan dan hari-hari di tahun-tahun sebelumnya terbayar sudah. Seorang bayi kecil perempuan menjadi anggota keluarga baru kami. Tetap dengan zodiak Leo dan menjadi tim agustus. 

Bayi kecil adalah kamu. Kami beri nama Anna Dara Makeishana. Anak perempuan yang cantik. 

Bogor, 5 Agustus 2016
Images

Perempuan Yang Mengetuk di Petang Hari


 Matahari perlahan tenggelam di horizon. Langit sore itu lebih gelap dari biasanya. Gemuruh guntur bersahut-sahutan. Pertanda hujan deras akan menghiasi langit dan membasahi bumi petang itu. Rintik hujan mulai terdengar satu-satu di atas genteng. 

Pintu dan jendela kututup lebih awal meski sore belum menua. Aku menemani anak semata wayangku menonton serial favoritnya, ketika seseorang mengetuk pintu rumah. Entah siapa. Saya tidak mengharapkan kedatangan seseorang. Tak mungkin juga teman suami, karena ia sedang keluar kota. 

Saya membiarkan bunyi ketukan itu menggantung di udara. Sebuah salam sayup-sayup terdengar. Saya bergeming. Menunggunya untuk berlalu. Seperti yang sering saya lakukan pada pedagang door to door yang selalu menjajakan jualannya. Tapi tak biasanya penjual door to door datang se sore ini. Rata-rata pagi atau siang hari. 

Saya masih bergeming. Suara ketukan dan salam itu tidak beranjak juga. Tetap berdiri di balik pintu memohon untuk di buka. Saya menggerakkan tubuhku, menjawab salam sembari mengintip dari jendela. 

Seorang perempuan dengan kerudung hitam panjang. Kubuka daun pintu. Perempuan itu adalaha satu dari pedagang yang sering menjajakan jualannya di kompleks ini. Ia menjual keripik pisang yang dihargai Rp. 15.000/bungkus. Sekali pernah saya membeli dagangannya. Waktu itu ia sembari menggendong anaknya yang berumur setahun. 

Namun sore itu ia tidak menggendong anaknya. Tidak pula membawa kantongan besar berisi kiripik pisang. Mukanya tampak pias meski kulitnya kecoklatan. "Kenapa ya bu?", tanyaku. Kemudian ia menceritakan maksud kedatangannya. 

Anaknya yang perempuan itu sakit mencret. Ia membawanya ke klinik tempat tinggalnya. Sudah sembuh dan akan keluar dari klinik. Sayangnya uang untuk biaya berobat tidak cukup. Ia harus membayar Rp. 175.000 untuk menebus obat-obatan. "Kurang Rp.50.000" katanya memelas. 

Ia bermaksud meminjam uang untuk kekurangan tersebut. "Hari ini sebenarnya mau jualan, bu, tapi anak sakit jadi ga bisa", katanya. "Ga urus BPJS atau jamkesmas?", tanyaku. " Cuma tinggal berdua sama anak. Jualan juga jadi nda sempat ngurus begituan", katanya lagi. 

Saya tak tahu siapa namanya. Yang saya tahu hanyalah ia tinggal di Sukaraja Kaum dan berjualan keripik pisang. Kadang dengan jalan kaki, kadang juga dengan sepeda motor. 

Kurogoh dompetku, hanya ada uang tunai Rp.30.000. "Bu, maaf ya cuma ada Rp.30.000. Tadi nda sempat ambil tunai di ATM", kataku. "Ga pha2 bu, nanti Rp.20.000 aku cari di tempat lain", katanya. 

"Semoga cepat sembuh", kataku sambil menyerahkan uang. Mukanya tampak cerah. Kami bersalaman dan ia mencium tanganku. "Nanti saya bawa kripik ke sini, bu", katanya sebelum pergi. 

Ara menghampiriku sesaat setelah sang perempuan itu berlalu."Kenapa Ma? Kenapa dia minta tolong?", tanyanya. "Kalo ada orang minta tolong, maka kita harus...", tanyaku. "Menolong", katanya. 

Di luar rintik hujan kian deras....

Bogor, 25 Mei 2016