Banyak alur cerita berkelebat di benakku. Beberapa sedih, beberapa bahagia. Saya rindu menulis cerpen....
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Gloomy Heart

Pagi ini kelabu. Awan menggantung. Gloomy day bring gloomy heart. Lagu Cristina Perry mengalung pelan. Lagu romantis yang membawa galau. Sekalipun lagu itu bukan tentang patah hati.I have died everyday waiting for you Darlin' don't be afraid I have loved you for a Thousand years. And i'll love u A thousand more. 

Puluhan lagu sedih menari di benakku. tiap lirik berlompatan. Berebutan menjadi soundtrack kelabu hari ini. Selalu seperti ini. Rasa ini selalu ada. Seperti kosong yang tak ada isi. Seperti ombak yang terhempas di batu karang. Ia lepas dan tak punya rasa. Seperti terbuang. Seperti kapas yang mengangkasa tertiup angin. Rasa yang selalu aku sebut sebagai mood paling pas untuk membuat cerpen sad ending.

Ini seperti candu. Tak ingin merasakannya tapi ingin lepas darinya. Dan ketika tak merasakannya ada rindu yang ingin kembali pada rasa itu. Melemahkan tapi juga menguatkan. Batu kripton mungkin untuk sang superman? Bisa jadi. Jika saya adalah tokoh dalam sebuah cerpen maka saya adalah tokoh hiburan. Perannya tidak begitu baik. Sedikit antagonis. Selalu berusaha bergabung pada titik fokus tapi tempatnya memang cuma figuran. Tidak berada pada point of interest. Akan selalu diabaikan pada saat-saat penting. Tapi kemudian dicari ketika dibutuhkan.

Mungkin saya harus memerankan tokoh penyihir jahat. Merapalkan semua kutukan. Menjadikan tokoh utama seperti beast dan membuat cerita yang sedikit agak sedih. Tapi saya memilih untuk menjadi penulis cerita. Saya bisa membuat tokoh yang tidak saya sukai mati, terbunuh, atau menjadi orang yang menyesal seumur hidup. I can make it. Trust me...

Setiap orang memainkan bagiannya. Saya dengan bagianku. Kamu dengan bagianmu. Dia dengan bagiannya. Mereka dengan bagiannya. Dan alam semesta dengan bagiannya. Biarkan sang Sutradara bergerak berdasarkan skenario milikNya. Aku tiba-tiba ingat pada pepatah Every clouds has a silver lining. Aku yakin ada heaven's light yang akan aku lihat dari kelabu awan hari ini. Dari kelabunya hati hari ini. Aku yakin akan baik-baik saja untuk setiap hal yang aku lakukan.

Bye....literally maybe. I have a tough heart. Always have. May God bless me with all my feeling. Amin (*)B

Images

Baby Storytime at Athens Library

Selasa pagi datang dengan mendung. Tak ada matahari bersinar. Athens seperti biasa menyambut pagi dengan dingin. Kali ini awan langit lebih kelabu. Tak ada sinar matahari yang sedikit menghangatkan pagi yang dingin. Selasa akan menjadi hari yang sibuk buat saya dan Ara. Dan selasa itu dimulai hari ini. Selasa ada jadwal baby storytime di perpustakaan Athens. Dan sore hari saya harus masuk kelas English for All. It will be a busy day, i think. Tapi kabar baiknya adalah saya memiliki aktivitas.

playing time

Pagi ini meski matahari tidak bersinar, awan kelabu menutupi langit Athens, saya dan Ara bersemangat menyambut selasa. Mungkin saya saja yang bersemangat. Ara cukup ikut saja dengan mamanya. Pagi-pagi sarapan dan mandi. Berangkat pukul 9 pagi ke Athens library sambil berjalan kaki. Suhu dingin hampir membuat saya tidak bisa merasakan kaki saya. Jari tanganku beku. Ara sampai harus menggunakan kaos tangan yang ajaibnya tidak ia lepas. Padahal ini pertama kalinya ia memakai kaos tangan. Mungkin ia merasa tangannya lebih hangat dengan kaos itu.

Kupikir kami yang begitu pagi ke Athens library, ternyata masih juga ada ibu-ibu yang lebih pagi. Acara sudah dimulai. Ibu-Ibu dengan bayi dan anak-anak yang lucu. Duduk melingkar di bangku-bangku kecil. Menyanyi dan bermain. Kemudian dibacakan buku sambil menempelkan karakter hewan yang diceritakan di papan. Kemudian bernyanyi sambil melakukan gerakan-gerakan lucu. Lagunya sedikit aneh. Perlu listening yang baik untuk ikut bernyanyi. Sedikit-sedikit bisa ikut bernyanyi. hehehehehee

With Casey

Setelah membaca buku dan menyanyi, anak-anak dibiarkan bermain sesukanya. Ara cukup nyaman bergaul dengan anak-anak bule itu. Mereka bermain kereta api dan lego. Ara bahkan membagi bekalnya pada Casey. Gadis kecil yang sangat akrab dengan semua orang. Pulangnya Ara tidur karena kecapean. Semoga tak hanya mamanya yang suka kegiatan ini, semoga Ara juga. (*)

Foto : Dwiagustriani
Riverpark, 12.02 pm, Tuesday, 25 sep 12
Images

In The Dark of The Night at Athens Library



Hari ini saya, Ara, dan Kak Yusran mengunjungi Athens Library. Perpustakaan kota di Athens County. Tak ada rencana sebenarnya untuk datang berkunjung. Awalnya hanya meminta Kak Yusran untuk menemani jalan di rute bike track ke Athens Library. Dari Erika, saya mendapatkan info bahwa di Athens library ada jadwal untuk ibu dan anak membaca bersama. Makanya, mumpung hari ini suami saya nda kuliah maka saya menodongnya untuk menemani melalui rute sepeda. Menyusuri rute sepeda cukup dekat jaraknya dari Riverpark dibanding harus menggunakan bus. Ternyata hanya butuh waktu 15 menit dari Riverpark untuk sampai Athens Library berjalan kaki melalui bike track. Kalo pake bus memakan waktu 30 menit dari depan apartement dengan kepala pusing di dalam bus.
Athens Library adalah perpustakaan daerah untuk Athens County.

Perpustakaannya kecil dibanding Alden Library (nanti kukisahkan ditulisan lain tentang Alden). Perpustakaan Athens lebih banyak dikunjungi oleh orang tua dan yang memiliki anak. Di rak-rak yang memajang buku anak-anak disediakan tempat duduk kecil untuk para anak. Agar mereka duduk dan membaca. Koleksi buku anaknya pun lengkap dan pastinya dalam bahasa Inggris. Ada banyak komputer yang bisa digunakan untuk berinternet. Selain itu ada juga sofa untuk orang tua. Meja catur dan koleksi film-film. Koleksi buku-buku dewasanya pun lengkap. Harry Potter, Twilight, Hunger Games, hingga parenting dan pregnancy.


Pengunjung perpustakaan tidak hanya datang untuk membaca buku. Tapi juga meminjam film, bersantai, bahkan bermain twitter. Selain sebagai perpustakaan, Athens library juga memiliki kelas-kelas pelatihan. Misalnya komputer, knitting, yoga, dan library for kids. Waktu berkunjung tadi siang, petugas perpustakaan memberikan selebaran acara untuk library for kids. Kebetulan malam ini ada acara "In the dark night" untuk anak-anak. Materinya adalah storytelling, telescop, dan games. Saya pun tertarik untuk datang.

The Dark of The Night in Athens Library


Pukul 7 malam, kami ke Athens library. Acara sudah dimulai di halaman belakang perpustakaan. Anak-anak dan orang tua duduk di atas tanah berbukit yang sepertinya khusus dibuat untuk acara seperti malam ini. Tak cuma anak-anak bule, anak-anak china dan arab pun turut hadir di acara ini. Api dinyalakan untuk menghangatkan suasana. Seorang perempuan separuh baya berdiri di depan api unggung. Syal putih tersampir di pundaknya. Ia mengisahkan dua cerita. Gaya bercerita sungguh menyenangkan. Penonton larut dan menyimak kisah yang ia tuturkan.


Bagian favoritku adalah melihat bulan dengan teleskop. Ada 4 teleskop yang disejajarkan. Masing-masing memberikan citra yang berbeda dari bulan sabit yang muncul malam ini. Teleskop pertama memperlihatkan bulan sabit biasa tapi dengan tampakan besar. Kawah-kawah bulan terlihat jelas. Kemudian teleskop berikutnya, bulan tampak bulat meski bagian gelapnya terlihat samar. Teleskop ketiga memperlihatkan bulan lebih besar dan lebih jelas. Bintik-bintik di permukaannya sangat kentara. Ini pertama kalinya saya melihat bulan begitu jelas. Pertama kalinya menggunakan teleskop dan mendapatkan ekspektasi yang sesuai imajinasiku. Wow, Amazing!!! Sayangnya teleskop terakhir belum selesai dipasang sehingga saya kurang tahu bagaimana tampakan bulan di teleskop itu.


Anak-anak yang lebih besar memilih untuk bermain game mencari bendera. Ditemani orang tuanya mereka bermain di bawah langit malam. Sesuatu yang hanya bisa saya lakukan saat pramuka waktu SD. Di sini, kegiatan alam dan luar ruangan diperkenalkan kepada anak untuk menciptakan ikatan dengan orang tua dan tidak melulu tergantung pada game-game mesin yang membuat mereka individual.

Athens library tidak memberikan kesan berdebu dan "nerd" untuk anak-anak itu. Mereka menganggap perpustakaan tak hanya tempat membaca buku tapi juga bermain dan berkawan. Sembari melihat mereka bermain, kami memilih memakan popcorn yang dibagikan secara gratis dengan segelas jus apel. Segar rasanya. Kami meninggalkan Athens Library pukul 9 malam meski acara belum selesai. Suhu dingin mungkin masih normal untuk para bule tapi bagi kami itu sudah cukup menusuk hingga tulang. Yang pasti saya akan menambahkan Athens Library ke daftar rutinitas harian saya selama di Athens.(*)

Foto : M.Yusran Darmawan
Riverpark, 00.15 am, Saturday 22 Sep 12







Images

Kelas Pertama Ara

Ara masuk kelas pertama di Ohio University. Senang banget jadi Ara. Baru umur satu tahun jalan-jalannya sudah universitas luar negeri. Mamanya umur 16 tahun baru jalan-jalan ke Unhas dan ikutan masuk belajar di kelas kedokteran. Sedangkan Ara, belum juga bisa melangkah sudah nongkrong di Ohio University. Sudah main-main di dalam kelas sambil nonton youtube via proyektor di komputer.

Bertemu banyak orang dari berbagai negara dan menyapanya dengan manis. Nongkrong sambil makan muffin di starbucks sambil ngoceh melawan hawa dingin. Dia belum tahu bahwa pengalamannya yang berlangsung sekarang begitu menyenangkan di mata orang lain. Tak perlu susah mengirim aplikasi beasiswa buat keluar negeri. Tak perlu susah belajar bahasa Inggris untuk dapat TOEFL tinggi. Yang dia lakukan hanyalah duduk manis dan ikut kemana ibu bapaknya pergi. Duh, irinya jadi ini anak.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Ikut English For All

Yah, akhirnya saya ikut program English for All. Awalnya saya mendengar program ini dari Kak Yusran dan membayangkan tulisannya adalah English For Old. Jadi, pesertanya adalah para orang tua. Ternyata saya salah karena listening yang kurang baik. Yang dimaksud adalah English For All. Bahasa Inggris untuk semua. Program English For All adalah program kursus yang diadakan Departement of Linguistics and English as a Second Language, Ohio University. Jadi siapa saja boleh ikut kelas ini.

Semester sudah berjalan sejak 4 september lalu tapi saya baru mengikutinya hari ini. Biasalah, jalan-jalan dan foto-foto serta pajang di fesbuk selalu lebih penting daripada belajar. Jadinya, setelah mulai bosan tidak ada aktivitas, Kak Yusran mendaftarkan saya di program bahasa ini. Sedikit nervous untuk mengikuti kursus bahasa Inggris kali ini. Pertama memang selalu deg-deg-an. Tapi pertama kali ini adalah karena kursusnya di Amerika, pengajarnya native, teman-teman kursusnya dari berbagai negara. Dan ada Ara. Jadi cukup mix feeling lah. Kak Yusran tak berhenti menggoda sepanjang jalan. Tapi saya pikir, anggap seperti kursus di Briton dan Easy Speak.

Pukul 5 sore, bersama Ara dan diantar Kak Yusran, kami ke Gordy, gedung departemen linguistik. Ruang gedung ini terasa sangat internasional. Orang-orang dari berbagai bangsa ada di sini dan belajar bahasa Inggris. Dinding-dinding dihiasi dengan bendera-bendera dari berbagai negara. Tempat duduk dipahat tulisan-tulisan yang penuh makna dengan bahasa dari berbagai negara.

Saya bertemu Gaby, contact person untuk English For All. Dia gadis Meksiko yang cantik. Rambutnya keriting kecoklatan dengan kacamata dan senyum yang manis. Raut wajahnya kelihatan cerdas. Ia memberiku formulir online yang harus saya isi dan beberapa pertanyaan sebagai placement testnya. Saya menjawab asal-asalan. Menggunakan kemampuan bahasa Inggris yang sering saya dengar. Hasilnya? 9 benar dari 13 pertanyaan. Hahahahaha. Beginner's Luck menurutku. Tapi Gaby mengatakan saya cocok untuk kelas antara high intermediate dan low advance. Saya nothing to lose saja. Belajar dari awal tak masalah. Malah lebih baik lagi.

Cukup deg-deg-an menanti jam masuk untuk pertemuan pertama. Pertemuan pertama selalu memberi kesan akan bagaimana kelas ke depan. Saya mempertanyakan teman kelas yang lain. Mempertanyakan kemampuan bahasa mereka yang pasti sudah baik. Mempertanyakan guru-gurunya. Tapi, kelas harus berjalan. Dan pukul 5.55 saya pun memasuki kelas 209 dan bertemu dengan teman dari berbagai negara.

Ada Erika dari Colombia, saya mengenalnya karena ia istri dari teman suami saya. Saya pun sudah bertemu dengannya sebelumnya. Ada Tatiana, Bora, dan beberapa orang lagi yang saya lupa namanya. Mereka berasal dari Ukrain, Vietnam, China, Korea, dan beberapa negara lainnya ( yang saya lupa juga dimana:D). Pengajarnya ada tiga orang. Jessica dan Syabana dari Ohio. Dan Car dari Kurdistan.

Semua peserta yang tidak cukup 10 orang adalah perempuan. Hanya Car satu-satunya pria. Tapi ada satu cowok berwajah oriental yang ikut nimbrung di belakang. Kutebak namanya Yuki. Salah seorang pengajar. Cakep khas oriental (semoga tidak dibaca mahasiswa OU yang kenal Yuki). Bolehlah dikecengi. Hitung-hitung penambah semangat di kelas:D.

Pelajaran berlangsung menyenangkan. Cukup mampu saya pahami. Meski kadang kagok juga harus berbahasa Inggris di depan para native yang notabenenya paling tahu. Tapi mereka cukup memahami meskipun kami mengucapkan kalimat tak sesuai tata bahasa. Saya pikir belajar bahasa adalah berani untuk salah. Ucapkan saja, grammar urusan nomor dua. Berharapnya pulang dari Amerika sudah lancar bahasa Inggris. Amin.

Kelas hari ini berjalan lancar. Ara dititip sama ayahnya dan dia tidak terlalu rewel. Tapi kamis nanti dia akan ikut masuk ke kelas. Semoga dia tidak menangis dan merusak konsentrasi belajar. (*)

Foto : Ara nonton youtube di dalam kelas sambil menemani mama menunggu jam belajar:)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Ara Yang Mulai "Nakal"

Saya sadar bahwa akan berada di situasi ini dulu tapi tidak secepat ini. Ara, bayi kecil yang rasanya baru kemarin saya lahirkan sudah besar dan mulai nakal. Ada-ada saja hal yang mampu membuatku menyadari bahwa dirinya bukan lagi bayi yang memakai popok kain yang kerjanya h
anya tiduran saja.

Sekarang ia mulai sibuk dengan dunianya sendiri. Bermain dengan imajinasinya. Melancarkan protes. Mengajukan pendapat dengan caranya. Melakukan hal-hal lucu yang menurutnya menyenangkan. Belajar meniru dan bergerak.

Dia paling senang bermain dengan Ayahnya. Ayahnya selalu menyenangkan buatnya. Menemaninya melakukan gerakan lucu-lucu yang membuatnya tertawa cekikikan dan terbahak-bahak. Atau rela menonton youtube dan menyanyi bersama lagu "if you happy and u know it" ratusan kali tanpa bosan. Tiap hari lagu itu tak pernah absen terdengar. Dengan Ayahnya, ia selalu berjalan-jalan mengitari rumah. Dan datang menghampiri dengan wajah cengengesan. Berkomplotan dengan ayahnya minta dipuji. Duh! Tapi biarlah untuk mengapreasi usahanya latihan jalan meski dia malas melakukannya.

Ia pun mulai mampu menirukan gerakan sholat. Setiap saya membentangkan sajadah maka dia akan datang menghampiri sambil tersenyum. Duduk di atas sejadah berikutnya ada merebahkan kepalanya seperti orang sujud. Kemarin adalah hal terlucu yang dilakukannya. Sambil memperhatikan saya sholat, ia dengan nakalnya berbaring melintang menghalangi saya untuk sujud. Saya bergeser satu langkah. Tapi ternyata ia tidak kehabisan ide, ia lurus berbaring tanpa gerak. Benar-benar menghalangi ruang untuk saya duduk dan sujud. Kemudian sambil senyum-senyum melihat reaksiku.

Duh, anak ini. Bikin ngangenin sekalipun dekat dengannya. Ada-ada saja hal ajaib yang dia lakukan tiap hari. Sayangnya saya nda tau berapa berat badannya sekarang. Dia sudah dua bulan tidak menimbang berat badan dengan timbangan yang pas. Di sini pola makanannya sangat western. Makan sereal, jagung manis kalengan, buah kiwi. Untungnya ada pisang murah yang selalu setia menemani.

Sehat selalu ya Ara...(*)

Riverpark, 00.40, Tuesday, 18 Sep 12
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Kami Mengunjungi Festival Pawpaw

Boneka Pawpaw (Foto : M.Yusran Darmawan)

Sabtu 15 September kemarin, saya, Ara, Kak Yusran bersama Mbak Arin ke Pawpaw Festival yang diselenggarakan di Lake Snowden, Athens. Festival Pawpaw adalah festival tahunan yang diadakan masyarakat Athens untuk merayakan panen Pawpaw. Pawpaw adalah sejenis buah endemik yang hanya ada di Ohio. Buah ini sepintas mirip mangga bedanya hanyalah pada bijinya yang kecil dan hitam. Juga pada bentuknya yang kadang agak sedikit mencong-mencong. Kalo mangga kan bentuknya tegas dan tidak berubah. Sedangkan buah pawpaw bentuknya ada yang mirip mangga apang yang banyak di Bone tapi kadang juga agak "keluar" aturan dan mirip-mirip mengkudu.
Festival Pawpaw sangat ramai. Banyak tenda-tenda makanan yang berjualan yang makanannya memiliki cita rasa pawpaw. Ada juga stand kerajinan tangan ukiran, suling, rumput, rajutan, henna, indian. Juga stand musik country, antraksi anjing yang terlatih, stand ular, bisa melihat matahari dari teropong bintang, atau bermain kayak gratis.

Bareng labu pinjaman dari Jeff (Foto : Dyah Ariningtyas)

Tiket masuk seharga 8 dollar untuk satu hari dan gratis buat anak-anak dibawah 12 tahun. Kami bertemu Jeff, petani labu yang begitu baik hati meminjamkan labunya untuk kami pakai foto. Ada binatang Apalaca bernama Nero dan Pheonix. Binatang ini mirip Lama tapi sedikit lebih kecil. Bulu-bulunya halus dan dijadikan benang untuk merajut. Satu gulung dihargai $15. Mahal :(. Ada stand indian lengkap dengan tenda-tendanya. Sayangnya, saya nda sempat narsis-narsisan sama Ara di tenda indian itu, padahal boleh main-main di dalamnya. Too bad. 

Di depan kandang Apalaca (Foto : M.Yusran Darmawan)

Stand pameran paling menyeramkan menurutku adalah stand ular. Ada ular piton besar yang meliuk-liuk di dahan kayu dan disentuh oleh para pengunjung. Setengah hatiku ingin mendekat di stand itu, tapi rasa takut, ngeri, dan geliku mengalahkan rasa ingin tahu. Melihatnya saja dari jauh membuat saya bergidik, apalagi harus merasakannya melata di kulitku. Ihhhh....belum menyentuhnya saja saya sudah bergidik ingin menghempaskannya.

Makan sate dan tetap narsis (Foto : M.Yusran Darmawan)

Kemudian kami mengunjungi stand makanan Mardiana's. Stand makanan Indonesia milik Pak Fauzi. Ada sate, mie goreng, nasi yang sangat lezat. Pengunjung antri di stand ini. Ara dapat satu tusuk sate gratis dari Pak Fauzi yang dihabiskan oleh ayahnya padahal Ara kelihatan lumayan doyan.

Panas matahari menyengat. Tapi tak sepanas di Makassar. Para pengunjung begitu menikmati festival sambil duduk diatas jerami yang diikat dan dijadikan tempat duduk sambil menikmati hangat matahari. Tapi bagi saya yang sudah cukup sering terpanggang sinar matahari lebih memilih untuk numpang berteduh di stand country music ohio yang menyajikan lagu country yang enak didengar. Ara begitu menikmati musiknya sampai menggoyangkan badan dan tangan diatas strollernya. 
Ara heran dengan telinga peri yang runcing (Foto : M.Yusran Darmawan)

Kami pun berfoto dengan ibu peri di stand Henna, seni mengecat lengan ala orang india. Selain memiliki sayap lucu, telinganya juga lancip. Narsis di seni jerami yang berbentuk flaminggo dan orang-orang. Kalo rumputnya Unhas dipangkas kayaknya bisa menghasilkan ratusan patung-patung jerami. 

Kerajinan ilalang (Foto : M.Yusran Darmawan)

Saya dan Mbak Dyah mencoba melempar panah. Keliatan gampang tapi susah sebenarnya. Seperti melempar lembing tapi memakai alat. Susah. Bahkan untuk menancap dengan cantik di tanah pun sulit apalagi harus mengena sasaran tembak.
Coba lempar panah, kalo berhasil siap berburu huhuhuhhu (Foto : M. Yusran Darmawan)

Kami lantas memlih untuk melihat demonstrasi anjing yang terlatih. Anjing-anjing besar dan lucu. Rasanya agak takut-takut mendekat. Anjingnya pintar loncat, berdiri,duduk, dan paham bahasa inggris. Xixixixixixi. 
Merumput (Foto : M.Yusran Darmawan)
Intip Matahari (Foto : M.Yusran Darmawan)

Mau mencoba mendayung kayak sayangnya waktu main kayaknya sudah habis, padahal lagi gratis. Hehehehe. Sebenarnya itu demi foto-foto saja. Saya pun mencoba mengintip matahari dari teleskop. Khayalan saya adalah pijar-pijar magma di bola matahari yang meletup-letup nyatanya yang ada hanya titik orange besar di teleskop. Hehehehe, ekspetasiku terlalu besar.
Mbak Arin, Ara, Saya, dan, Kak Yusran (minta difotokan sama bule)

Demikianlah saya jalan-jalan dan berfoto-foto narsis. Tak berbelanja karena tak membawa uang cash:D.(*)
Riverpark, 16 September 12:19 pm








Images

Ketika Ara Belajar Ngoceh

Ara dan Ayah duet di dapur
"Lalalalalaala...au....baaaa". ia berdiri disampingku. berpegangan pada kursi sambil memegang pisang yang sebari tadi dimakannya. sambil juga berusah berjalan mengitari kursi. Sambil makan ia sesekali ngoceh. "awawawawa" yayaiyaiyai". Ia jarang bersuara. Jika keluar dan berjalan-jalan ia lebih memilih diam mengamati. Tanpa ada suara apapun. Merekam dengan mata. begitu pula jika banyak orang. Ia lebih memilih diam dan memperhatikan.

Oang-orang menyebutnya pendiam. kupikir ia imajinatif. Saat sendirian dan harus bermain dengan mainannya ia akan mengeluarkan bunyi-bunyian dari mulutnya. serupa menyanyi mungkin. bersenandung tepatnya. Jika sedang demikian, selalu dipastikan bahwa suasana hatinya sedang senang. Kecuali jika ia hendak melakukan sesuatu namun tak sanggup ia lakukan maka ia akan merengek meminta pertolongan. Jika ingin menunjukkan sesuatu ia akan mengangkat benda yang dimaksud dan berkata "aubaci' atau "mbah". Mungkin terjemahannya ini apa.

Akhir-akhir ini ia suka menggumam kata ayayayayaya yang selalu membuat ayahnya GR. Setiap Ara berkata "aya", sang ayah dengan cepat menjawab "iya". Padahal Ara cuma sekedar mengoceh dan tak ada niatan untuk memanggil ayahnya. Tapi ayah yang mana tidak bakal senang jika mendengar namanya dipanggil.

Ara malah sangat jarang memanggil Mama. Saya tak pernah lagi mendengar ia memanggil "mamamaama". Mungkin ia sudah bosan menggunakan kata tersebut dan lebih senang ngoceh "ayayayayaya". (*)
Images

Peace Walk For 9/11

I'm a Moslem & I'm at The Interfaith Peace Walk because I care (foto : M. Yusran Darmawan)

 Saya masih mengingat, saat tengah malam di tahun 2001 terbangun karena headline di televisi menyiarkan tentang pembajakan pesawat komersil dan ditabrakkan ke World Trade Center di New York dan Pentagon. Tragedi tersebut menelan ribuan jiwa. Banyak pendapat tentang peristiwa yang dikenal dengan nama black september ini. Apapun spekulasi tentang peristiwa 9 September itu, ia tetaplah tragedi kemanusiaan yang menelan banyak korban jiwa. Tragedi yang membuat saya merenung bahwa hidup adalah sesuatu yang harus dimuliakan.

foto : M. Yusran Darmawan

12 tahun kemudian saya berada di sini. Di negara dimana tragedi ini terjadi. Amerika melawan lupa. Still remember. Never Forget 9/11. Dan di kota kecil Athens, puluhan mahasiswa dari berbagai bangsa di Ohio University bersama komunitas yang ada di Athens berkumpul sejenak. Kembali mengingat. Berjalan dari Episcopal Church of the Good Shepherd berkeliling dengan rute gereja-gereja sekitar Athens, Jewish Center, dan berakhir di Islamic Center.

Orang tua, mahasiswa, hingga anak-anak turut dalam peace walk yang kedua kalinya diperingati di Athens. datang dari berbagai negara. berbeda keyakinan namun turut ambil bagian. Peace walk adalah unutk mengingat dan menolak lupa. Kita menyesali peristiwa tersebut dan berusaha memetik hikmah dari tragedi tersebut.

foto : M. Yusran Darmawan
Di depan Islamic center barisan pejalan kaki berkumpul. Menyalakan lilin dan menundukkan kepala sejenak. Berdoa untuk tragedi yang akan selalu diingat.(*)
Images

Kawan-Kawan Baru

bersama Rama

Tempat baru berarti kawan baru. Begitu pula saya dan Ara. Kami mulai mengenal kawan-kawan baru di sini. Sabtu malam lalu, kami diajak ayah dan Mbak Dyah ke rumah Rama. Rama adalah anak kecil seumuran Ara yang lahir dan besar di Athens. Papanya (Mas Angga) dan Ibunya (Mbak Lina) warga Indonesia yang tinggal di Athens. Di rumah Rama, Ara agak pendiam. Pengaruh bangun dari tidur kali pas diajak ke rumah Rama. Tapi lama kelamaan Ara pun mulai bermain-main dengan mainannya Rama. Juga mulai berinteraksi dengan Rama. Rama lebih muda seminggu daripada Ara, tapi Rama sudah bisa jalan. Gaya jalannya lucu. Semoga setelah ketemu Rama, Ara terinspirasi buat berjalan.
Ara, Rama, dan Arin

Selain Rama, kami juga bertemu Cristine, Amanda, Moniq, serta Mas Sony. Serta tidak lupa tuan rumah yang begitu baik Papa dan Mamanya Rama. mereka mengadakan Potluck. Makan bersama dengan makanan berkuah diatas kompor. Seperti pangsit dengan sayur, tahu, telur ikan, bakso, dan sebagainya yang dimasak hingga mendidih. Sangat nikmat apalagi dimakan kala musim dingin.

Erika dan mama

Kami juga bertemu teman kampus Ayahnya Ara. Namanya Camilo. Camilo datang ke rumah bersama Erika (istrinya), Isabella, dan Violetta. Mereka menghadiahi Ara banyak sekali boneka dan baju-baju. Senangnya. Erika sudah setahun di Amerika. Ia juga seperti saya, mengikuti suami yang kuliah di Ohio. Erika akan menjadi kawan baru saya di kelas english for all.

Bersama Erick di Gereja Katolik
Saya pun berjumpa dengan Erik. Warga Athens yang tertarik dengan bahasa Indonesia. Sewaktu Kak Yusran pertama kali ke Athens, Erick yang menemaninya menjadi partner berbahasa Inggris. Erick tertarik pada tanaman dan obat-obatan. Saya lebih suka memanggilnya dengan sebutan Mas Erick. Semuanya menjadi kawan baru kami di Athens.(*)
Images

Kami Berumah di River Park


38 N McKinley Apt 116 Riverpark, Athens, Ohio. Saya menghapal alamat ini dalam perjalanan ke Amerika. Setiap transit saya harus menuliskannya saat check in. Saat memasuki Amerika saya harus menuliskannya hingga berulang-ulang. Saya tak pernah memiliki gambaran alamat tersebut. Di alamat itulah suami saya tinggal. Yang juga akan menjadi rumah saya dan Ara beberapa bulan kemudian.

Kak Yusran kuliah di Ohio  University yang terletak di sebuah kota kecil bernama Athens, negara bagian Ohio. Orang-orang di sini menyebut Athens sebagai kampung tapi bagi saya kampung adalah Bengo. Jika ada yang sesunyi Bengo, maka ia layak menyandang gelar kampung. Athens memiliki spot-spot yang cukup ramai tapi juga pada sudut-sudut tertentu cukup sunyi.

Mendarat di Colombus dan menyusuri jalan utama menuju Athens mengingatkan saya pada film-film hollywood dan film-film serial tivi Amerika. Jalanan yang lebar. Lalu lalang mobil yang tidak seberapa dengan plan-plan rambu jalan yang begitu besar di sisi jalan. Tak ada motor di sini kecuali Harley Davidson. Tak ada jalanan sempit bersisian dengan bukit. Atau belokan-belokan tajam seperti jalan poros Bone Makassar.

Athens berjarak kurang lebih satu jam dari Colombus. Dijemput oleh Mbak Dyah dan Kak Yusran, kami menyusuri jalanan Colombus. Kak Yusran mengatakan jika semakin sedikit melihat lampu maka Athens sudah dekat. Maka saya mempersiapkan standar paling gelap yang ada dalam imajinasiku. Setara Bengo mungkin. Tapi yah...ini Amerika. Sekampung-kampungnya sebuah kampung di sini tetap saja ada McD dan Pizza Hut. Wallmart dan toko serba ada lainnya.

Kami menempati apartemen di Riverpark di kompleks kampus Ohio University. Apartemen yang tidak juga luas tapi cukup nyaman buat saya dan Ara. Roomate kami adalah Mas Yerry, mahasiswa S2 media Studies di Ohio University. Saya nyaman dengan apartemen ini. Lantai yang berkarpet. Kamar mandi dengan bathtub dan air panas. Kamar tidur dengan kasur empuk. Paling saya suka adalah jendela lebar tanpa besi pengaman. Mata leluasa melihat keluar.

Pemandangan dari Jendela Kamar
Apartemen ini penuh dengan barang-barang warisan yang tidak dibeli. Kata suami saya semua barang ini dikasi dari teman-teman. Beberapa dipungut dari tempat sampah. Meja, sofa, kasur ,tivi, mainan yang semuanya masih dalam kondisi baik. Katanya daripada dibuang mending dikasi ke teman-teman yang perlu. Coba kalo seperti ini di Indonesia, saya bisa jual di bekas tapi mulus di acara radio telstar. Paling gampang menggambarkan apartemen kami adalah seperti hotel kelas menengah di Makassar. Senyaman itu pula.  Bagi saya sangat mudah untuk beradaptasi dengan kenyamanan.

Selain apartemen yang menyenangkan, suasana diluar pun begitu menyenangkan. Rumput hijau yang rapi, pohon-pohon rindang, dan tupai-tupai yang berkeliaran. Orang-orang yang saling bertegur sapa sambil berkata "how are you". Tak ada sampah yang bertebaran semua tertata rapi. Publik transportasi yang datang tiap beberapa menit yang siap mengajak tour keliling kota dengan harga 1,5 dollar.

Saya menyukai Athens. Saya menemukan imajinasi kecil saya di sini. Rumah-rumah diluar kompleks kampus yang terbuat dari kayu berlantai dua dengan teras dipenuhi lampu berjejer rapi di sepanjang jalan. Court Street yang menjadi jantung Athens. Denyut nadi yang tetap ramai meski tengah malam. Tempat para mahasiswa berkumpul, berpesta. Tempat dengan jejeran toko-toko souvenir dan makanan. Inilah gambaran kecil Amerika yang sering saya lihat di televisi. Yang saya nonton di serial-serial Disney atau film-film remaja.

Yang paling saya sukai adalah banyaknya cemilan murah meski dikonversi dalam rupiah. Rata-rata harganya 1-2 dollar. Tapi bungkusnya besar. Puas makannya. Coklat, eskrim, sereal, susu, segala hal yang bisa menunjang program penggemukanku. hahahahaaha. Pulang dari sini harus mendapatkan berat badan normal biar nda dikejar anjing dan dikira tulang.

Jalan-jalan dan menemukan daun maple kering

Hanya saja saya benci dingin yang menusuk. Matahari terbit tapi hawa dingin tetap saja sampai ke tulang. Anehnya adalah para bule-bule itu masih saja memakai tank top dan celana pendek. Nda rematik tuh? Matahari terbit pukul 8 pagi dan terbenam 8 malam. Jam biologisku agak susah menyesuaikan kondisi tersebut. Ara pun demikian. Sekarang jika tidur sore, ia sudah bobo sampai jam 6 pagi. Saat suasana masih seperti jam 4 subuh.

But Overall, saya menyukai kampung Athens. Saya jadi rajin menumpuk baju untuk dicuci. Soalnya cuci dan keringkan pake mesin. Nda perlu sibuk ulur tali jemuran di dalam kamar atau lari-lari ambil cucian kalo hujan seperti di Bengo. Kak Yusran pun tiba-tiba berubah menjadi orang yang begitu rajin cuci piring dan membersihkan kamar mandi. Hal yang sangat jarang ia lakukan kala di Indonesia. Mungkin karena aturan yang tak tertulis untuk tetap menjaga kebersihan dapur dan kamar mandi yang tetap kering.

Kami berumah di Apartemen 116 Riverpark, Athens,Ohio. Jika berkenang, datanglah berkunjung. Selalu ada jus jeruk untukmu. (*)


Riverpark, Athens, 10 September 2012 (23.50 pm)


Images

Long Journey To Athens, OH Washington Dulles Colombus (Part III)

Her New Friend in Washington Dulles



Pesawat pun landing di Washington Dulles. Tak ada pramugari yang memintaku untuk menunggunya. Tak ada asisten kali. Kali ini saya sendirian yang harus mencari jalan menuju imigrasi dan gate mana yang akan membawa saya ke OHIO. Pukul 10 pagi di Washington. Sepuluh malam di Indonesia. Ara sudah berada pada titik ngantuknya. Tapi anak itu masih saja sabar. Saya pun sudah sangat mengantuk. Tapi harus terus bergerak. Waktu transit sangat sempit. Dan para penumpang harus melalui imigrasi.

Penumpang pesawat yang saya tumpangi semua mengarah ke pemeriksaan imigrasi. Hanya dibedakan pada penumpang yang berhenti di Washington atau yang akan terus melanjutkan perjalanan ke negara bagian yang lain. Saya pun mengikuti jalur penumpang transit. Membawa satu ransel, satu tas selempang, mendorong Ara di strollernya. Menggunakan bus yang mengantar ke imigrasi. Sedikit tersendat ketika saya harus menuruni escalator dan harus menggendong Ara, melipat strollernya, dan mengangkat tasku. Saya kurang lincah untuk tetap mendudukkan Ara distroller sambil turun di escalator. Dan jadinya saya berada di antrian paling belakang imigrasi. Saya mengisi dua lagi lembar putih untuk saya dan Ara. Form 1-94 kalo nda salah. Harus diisi jika penumpang memiliki visa.

Saat ngantri Ara sudah tiba pada titik bosannya. Mulai merengek-rengek. Tapi perhatiannya masih bisa saya alihkan dengan memberinya mainan.Sekitar 45 menit saya harus menunggu hingga tiba giliranku ditanyai oleh officernya. Pria yang kuduga memiliki keturunan Asia. Dia sangat berhati-hati saat mengecek semua penumpangnya. Dari semua petugas yang ada disitu, antriannyalah yang paling lama.  Saya menjadi orang yang terakhir yang ia wawancara dan orang terakhir di ruangan itu. Jam 12 siang. Pesawatku menuju Culombus adalah 12. 35. Ara menangis sesunggukan. Saya tak bisa menggendongnya. “saya mencoba secepat yang saya bisa” kata petugas itu. Beberapa menit kemudian ia menyelesaikan tugasnya dan berkata “have a good day”.

Keluar dari imigrasi bagasiku menunggu. Saya pun kembali mendorong koper itu dalam trolley. Seorang petugas menghampiriku dan mengatakan bahwa trolynya hanya bisa dipakai sampai 10 meter ke depan karena setelahnya ada pemeriksaan lagi. Tapi seorang petugas membantuku mendorong bagasiku yang kemudian entah kemana koper itu menghilang. Saya kembali harus melalui pemeriksaan ketat. Ditanyai membawa makanan ke Amerika atau tidak. Setelah semua itu saya pun harus berlari mencari arah gate dimana saya harus boarding. D6 tertulis di boarding passku.

Bandara Washington Dulles membingungkan. Terlalu banyak gate. Dan saya harus berlari mendorong stroller Ara secepat mungkin. Mengejar pesawat. Mencari gate yang entah di mana. Rasanya tidak menjejak di bumi. Pikiranku melayang. Kondisi tubuh pun tidak terlalu fit. Ini tengah malam di Indonesia. Dan hampir 24 jam saya belum tertidur. Saya harus menemukan gate itu. Setelah bertanya dan berlari akhirnya saya menemukan gate tersebut. Gate D6. Saya lelah. Duduk sejenak dan menarik nafas. Ara masih main-main. Untungnya dia tidak rewel. 10 menit saya duduk dan menarik nafas. Saya mencoba menanyakan ke salah satu penumpang yang mengantri boarding. Apakah D6 gate untuk penerbangan Culombus? “it’s  New Orleans” jawabnya. I was shocked. Salah gate! Saya pun menanyakan ke petugas boarding pass. Gate Culombus adalah di D35. How come!!!!!

Saat itu saya tidak lagi bisa berpikir. Pada kondisi seperti ini saya bisa menjadi pelari sprint yang bisa bertanding ditingkatan PON. Ketika akhirnya menemukan D35, gate itu sunyi. Taka da lagi penumpang. Tak ada lagi pentugas. Seorang petugas yang berada di dekat situ membantu saya menanyakan apakah pesawatku sudah terbang atau belum. “I’m sorry mam, ur plane is gone” katanya. Saat itu saya hanya ingin menangis. Saya tidak tahu mau ngapain. Yang ada dikepalaku hanya ragam umpatan dan kutukan.  Petugas menyarankan ke Customers Service. Air muka mungkin begitu pias sehingga ia menaruh empati. Pikiran saya kalut dan tidak  jernih. Saya mengirim email ke Kak Yusran. Mementionnya di Twitter. Membuat status di fesbuk. Tak ada respon. Saya mencari bangku paling dekat. Duduk dan meratapi nasib. Jika harus mengatur penerbangan haruskah membayar tiket pesawat? Dollar yang saya punya hanya 100an lebih. Tak cukup mungkin untuk penerbangan ke OHIO.  Jika inilah saat saya butuh pertolongan, maka saya berharap ada semacam peri yang tiba-tiba muncul dan mengayungkan tongkat ajaibnya dan everything’s under control.

Rasanya sudah harus menyerah. Kususui Ara. Ia minum sebentar dan kembali bermain. Satu-satu jalan adalah ke Costumer Service. Kalo pun harus bayar setidaknya saya tahu seberapa banyak. Setelah menanyakan arah costumer Service ke seoran petugas masuklah saya pada antrian orang-orang yang mungkin juga ketinggalan pesawat. Seorang petugas pria berkulit hitam melayaniku. “Can I help u” katanya. “I missed my plane to OHIO?”. “Where”s OHIO? There’re many airport” . “ “Culombus” jawabku. “Ok. Let me check it”. Dia pun lantas mengatakan ada pesawat ke Colombus pukul 5 sore. Itu masih lama, katanya. Tapi aku iyakan saja. “Ok. Let me arrange it for u”. “How much I should pay” tanyaku. “ U want to pay” tanyanya tertawa keras. “in my country, i should pay a ticket If I missed the plane” kataku. “Ok. So, let’s use ur regulation” katanya sambil tertawa. “No, please” kataku memelas. Saya tak perlu bayar. Free. Belakangan baru saya tahu kalo sudah memegang kertas boarding pass sekalipun ketinggalan pesawat, tak perlu bayar. Selama ini saya tidak pernah ketinggalan pesawat sih :D.

Saya menerima empat kertas boarding pass baru. Saya bingung dn menanyakan ke petugas. Ia menyarankan untuk ke gate A4E sesuai tertulis di boarding passku yang paling terakhir. Kembali saya harus naik lift yang serupa bis. Mengantarku entah ke gedung yang mana. Saya menemukan gate tersebut. Petugasnya bilang sejauh ini gate  ke Colombus adalah di sini dan belum ada perubahan. Saya memesan pizza di restoran yang tak jauh dari waiting room. Vegetarian Pizza. Rasanya penuh sayuran. Rasanya yang kurang enak atau mungkin saya yang tidak nafsu makan. Yang saya butuhkan adalah tidur. Tapi alam sadarku memintaku berjaga agar tidak ketinggalan pesawat lagi.

Ara belum juga tidur. Ia malah asyik merangkak. Ia berkenalan dengan seorang anak Pakistan yang namanya tak bisa saya eja. Begitu menyenangkannya menjadi Ara. Ia tak perlu khawatir memikirkan ketinggalan pesawat. Yang ia tahu hanyalah bermain. Ia tak perlu memikirkan harus mengucapkan bahasa apa untuk berkomunikasi dengan kawan barunya. Ia tidak terbatas bahasa tutur yang mengekang.

Ia masih bermain-main hingga saya berinisiatif memangkunya. Saya tahu dia lelah dan mengantuk, tapi terminal ramai mencuri rasa kantuknya. Ia nenen beberapa menit kemudian tertidur. Saya menidurkannya di stroller. Ingin rasanya keliling-keliling dulu di airport ini, tapi kesadaranku sudah melayang. Rasanya sebagian dari kejadian ini adalah mimpi. Saya hanya butuh terbangun saja.

Akhirnya pesawat menuju Colombus sudah siap. Pesawat kecil dengan tiga tempat duduk. United Express. Rasanya seperti mau ke Baubau. Pramugarinya adalah seorang ibu gemuk yang sebebesar lorong kabin. Tempat dudukku di dekat jendela. Sang pramugari meminta penumpang disampingkan bertukar tempat agar saya duduk di tengah. Bukan sang penumpang itu yang keberatan, tapi teman disampingnya. Dia tidak mau duduk berdekatan dengan bayi. Mengganggu katanya.  Mungkin interpretasiku tapi saya pun menyadari bahwa bule itu tidak basa basi. Kalo suka bilang suka, kalo tidak bilang tidak. Ini seperti belajar komunikasi antar budaya deh. Untungnya penumpang disamping depanku mau bertukar tempat denganku.

Belum 10 menit, tulang ekorku mulai sakit. Duh, beda ya dengan penerbangan internasional. Sekalipun ini di Amerika tetap aja tempat duduknya seperti pesawat Merpati ke Bau-bau. Tulang ekor yang sakit membuat saya tidak bisa tertidur. Meski pada akhirnya saya masih bisa memejamkan mata.

Pukul 9 pesawat kecil itu mendarat di Colombus. Rasanya begitu lelah. Menggendong Ara yang setengah tertidur dengan barang-barang yang setia dijinjing. Ingin berhenti. Tapi saya tahu bahwa ini tidak lama lagi. Saya melihat seorang pria yang saya kenal. Memakai baju kaos putih  berdiri sambil tersenyum. Tak ada yang berubah dari dirinya. Seperti biasa kami selalu bertemu dan saling tertawa. Ara terbangun. Ia menatap sekeliling. Berusaha beradaptasi. Menangis digendongan ayahnya. Saya sudah sampai di Colombus. Saya sudah di OHIO. Satu yang pasti saya sudah berada di “rumah”.

(Riverpark, 10 September 2012, 03.27 am)
Images

Long Journey To Athens, OH Narita Washington Dulles (Part II)



Perkiraanku pukul 11 -12 malam saya take off dari Changi menuju Narita. Perjalanan memakan waktu 7 jam. Beruntungnya adalah kursi disampingku kosong. Ara tertidur dan saya bisa merebahkannya dibasinet sementara saya melipat lengan kursi disampingku agar lebih lapang ruang untuk tertidur. Pramugari ANA airlines rata-rata berwajah jepang. Kurus, putih, bermata sipit. Pakaiannya seperti baju kantorku dulu. Rok hitam dan jas hitam. Pramugari Singapore airlines masih lebih cantik menurutku. Selain itu agak susah saya berkomunikasi dengan mereka. Bahasa Inggrisnya susah dipahami. Waktu ia mengatakan bahwa basinet hanya untuk bayi 10 kg, dia harus menuliskannya dikertas supaya saya mengerti. Ow, ternyata yang dia sebut tadi ten kilogram.

Perjalanan 7 jam tidak begitu terasa. Karena saya menghabiskan hampir separuh waktu terbang dengan tertidur. Leherku sampai sakit karena harus merasakan kerasnya lengan kursi sekalipun sudah ditumpuk dengan dua bantal pesawat. Saya memilih makanan western di pesawat. Padahal sedikit tergoda untuk memakan makanan jepang. Nantilah jika di penerbangan berikutnya, batinku. Di pesawat juga disediakan wine. Sempat tergoda buat coba, hahahahaah untung masih sadar.

Saya terbangun dengan turbulenci kencang di pesawat. Lampu sabuk pengaman dinyalakan. Saya pun harus duduk tegak sambil mengencangkan seatbelt. Ternyata pesawat Boeing goncangannya kerasa juga. Ara masih bobo. Layar tivi di tempat duduk pramugari menjelaskan bahwa masih ada waktu dua jam untuk mendarat. Saya kembali tidur ke posisi rebahan saat turbulensi selesai. Mumpung Ara tidur, kesempatan untuk tidur. Meski saya tergoda untuk menonton film yang disediakan.  30 menit sebelum mendarat pramugari membersihkan kabin. Mengambil kotak makanan, earphone, dan juga basinet. Ara pun kupangku kembali meski ia masih tertidur. Sebelum landing seorang pramugari memberikan mainan untuk Arad an mengatakan untuk menunggu sejenak karena saya mendapatkan asisten lagi saat tiba di Narita.


Pukul 9 pagi di Narita. Asistenku adalah seorang pria separuh baya bermata sipit. Memegang kertas bertuliskan namaku. “Can u speak Japanese?” tanyanya. Saya menggeleng. Hampir saja saya menjawab “ I speak Buginese”. Ia pun mengantarkan saya menuju ke tempat boarding berikutnya. Dengan sabar dia menungguiku mengganti popoknya Ara, menyilakanku berbelanja souvenir, dan memotretku dipojok bertuliskan Narita. Dia tidak selancar Siti Parshana bercakap denganku. Saya pun agak susah berkomunikasi dengannya. Tapi dia telah begitu baik menemaniku dan memotretku. Saat boarding pass ternyata saya tidak mendapatkan basinet. Penumpang tujuan Amerika banyak dan basinet sudah dibooked sebelumnya oleh penumpang lain. Ya, 12 jam dan harus memangku Ara. Cukup melelahkan kupikir, tapi mau apa lagi. Jika perjalanan dari Changi ke Narita lebih banyak orang Jepang, maka perjalanan dari Narita ke Washington Dulles penuh dengan beragam manusia. Bule, China, Jepang. Narita menjadi tempat transit warga dunia menuju Amerika.

Saya kembali menggunakan pesawat ANA. Kali ini pramugarinya lebih jelas ngomongnya dalam bahasa Inggris. Saya kadang memperhatikan mereka. Mereka selalu tersenyum untuk saling menyapa kepada penumpang atau ke sesame pramugari. Ceria banget. Padahal perjalanan pesawat pasti melelahkan. Mereka dituntut untuk seperti itu. Selalu terlihat ramah dan bahagia. Pasti ada saat dimana mereka harus tersenyum palsu demi pelayanan. Tapi selama perjalanan saya selalu melihat mereka bekerja dengan tulus.

Narita-Washington Dulles seperti perjalanan menuju klimaks. Lama dan Ara tidak mau diam. Tidak juga tidur. Ia lebih banyak bermain. Memperhatikan tivi di depannya. Memencet-mencet remote controlnya hingga kadang pramugarinya datang karena tak sengaja memencet tombol untuk memanggil mereka. Paling menguji iman adalah saat makan. Karena tempat duduk yang sempit dengan meja untuk makan dan Ara yang dipangku. Memangkunya harus dengan kesabaran tingkat tinggi. Membiarkannya ikut memegang makanan. Mengambil sesukanya selama ia tidak melakukan aktivitas yang mengacaukan acara makan. Beberapa makanan harus rela dihambur karena jika tidak ia akan menangis dan membuang semua makanan bersama piring-piring dan sendoknya.

Makan adalah kegiatan yang harus secara kilat dilakukan. Secepat mungkin agar peralatan makanan cepat dibereskan.  Perjalanan ke Washington adalah perjalanan menuju malam.  Menjumpai malam lebih cepat dari yang seharusnya. Seperti perjalanan ke waktu sebelumnya. Saya meninggalkan Narita pukul 10 pagi 5 September dan akan sampai pada pukul 10 pagi 5 september waktu Amerika. Seperti waktu tidak bergerak. Saya kurang tahu bagaimana bahasa teknisnya. Saya menggambarkannya sedikit imajinatif saja di sini.  Anggaplah bertolak ke waktu lalu.

Pola waktu ini diterapkan di pesawat. Saat jendela masih terang diluar sana, lampu kabin diredupkan. Jendela-jendela ditutup dan suasana kabin disetting malam. Beberapa jam kemudian lampu kembali dinyalakan,  jendela dibuka dan pagi menyapa diluar sana. Rasanya begitu ajaib. Menu pun menjadi breakfast-lunch-breakfast. Tak ada dinner. Padahal saya menunggu menu makanan yang agak “berat”. Menu pilihannya adalah ala western atau Japanese.  Bayi disamping saya mendapatkan menu khusus baby.  “can I have a baby menu for my daughter” Tanya saya ke pramugari. Setelah mereka mengecek ternyata  kursiku tidak terdaftar untuk mendapatkan makanan bayi. Itu juga yang terjadi pada penerbangan ke Changi dan Narita. Mungkin harus diorder lebih dahulu saat boarding atau mungkin saat beli tiket.  Untungnya sang pramugari memiliki persediaan makanan kemasan untuk bayi.

Siklus tidur Ara tidak bisa mengikuti sistem diterapkan di pesawat. Ia masih saja bersemangat main-main. Menggeliat ingin turun dan merangkak di kabin. Satu-satunya cara adalah mengendongnya ke area lavatory. Menjumpai pramugari, orang yang antri masuk wc, atau anak-anak kecil yang digendong ibu atau kakek neneknya. Saya bertemu Yamato. Anak kecil usia 7 bulan yang sangat lucu.  Seperti halnya Ara, Yamato diajak keliling oleh ibunya. Dia ke USA bersama kakek, ibu, dan kakak perempuannya. Ayah Yamato bekerja di Washington DC. Kakek Yamato menyapa Ara yang tersenyum. Kami pun ngobrol. Ia mengatakan kulit Ara lembut. Tapi ia menyebutkannya dalam bahasa Jepang yang saya tak mengerti. “soft” katanya. Dia menanyakan umurku. Dia mungkin melihat saya terlalu muda untuk menjadi seorang ibu J. Xixixixixi. Ketika saya mengatakan umur Etta saya 64 tahun ia berkata “Same with me” sambil tersenyum.  Ia berkomentar dalam bahasa Jepang yang berarti Pretty. “ I just know Kirei in Japanese means beautiful” kataku. Ia pun lantas tertawa. “Yeah, that’s right” katanya.

Saya suka nongkrong di dapur pramugari. Sekedar berdiri, memperhatikan orang, dan sesekali mencomot kue-kue yang disediakan pramugari di sebuah keranjang dengan tulisan “Please, serve yourself”. Saya suka memakan coklat, kerupuk beras yang beraneka ragam khas Jepang. Pramugarinya pun tak keberatan dan selalu tersenyum mempersilakan para penumpang untuk makan dan minum.

Dua belas jam bukan waktu yang singkat. Begitu lama rasanya menanti pesawat mendarat. Saya tak lagi tertarik menonton video Ranma ½ yang sepanjang perjalanan tak pernah selesai saya nonton padahal durasinya hanya 90 menit. Saya lebih tertarik memperhatikan peta penerbangan. Gambar pesawat yang melewati hampir seluruh benua Amerika. Dengan peta yang terlihat jelas pada bagian Indonesia-Asia gelap (malam) dan bagian Amerika  (putih) siang.

Saya mengisi blanko biru untuk imigrasi. Saat mendebarkan adalah masuk ke wilayah teritori Amerika Serikat. Negara dengan sistem Imigrasi yang begitu ketat. Saat mengisi isian itu saya membayangkan seperti Tom Hanks yang berusaha mendapatkan stempel keimigrasian dan menjejakkan kaki masuk negara Amerika.
Images

Long Journey To Athens, OH Jakarta Changi ( Part I)

Di Bandara Soekarno Hatta
-->

 01.49 am, friday 7 september. Penanggalan handphoneku sudah menyesuaikan waktu Athens.  Saya masih terjaga. Siang tadi saya menghabiskan waktu sekitar 6 jam untuk tertidur. Ini mungkin yang disebut jetlag. Saat kondisi biologis tubuh masih harus menyesuaikan kondisi geografis. Jika di Makassar, sangat wajar saya masih terjaga. Di sana masih siang. Hanya saja di sini, pukul dua pagi. Saya baru saja menyelesaikan makan "siang"ku. Ara pun tak kalah. Saat ia belum tahu definisi jetlag, ia telah mengalaminya. Tidurnya sangat sesuai jadwal tidur di Indonesia. Tidur tengah malam tadi siang. Bobo pagi jam 8 malam tadi. Dan baru tidur lagi pukul 12 malam tadi. Untungnya sepi dan gelap sehingga ia bisa tidur sampai pagi seperti semalam. Semoga siklus pencernaannya tidak ikut jetlag seperti pencernaanku.
 
Awalnya saya ingin mengupdate secara live report perjalanan ini, tapi ternyata tak semudah yang saya bayangkan. Bepergian bersama anak seumuran Ara tidak bisa membuatku duduk manis menikmati WiFi bandara dan tenggelam dalam kegalauan terminal seperti di film-film romantis. Tapi bepergian bersama Ara adalah sebuah petualang baru. Bahkan perjalanan ini adalah petualang itu sendiri. Disini akan kuceritakan padamu runut perjalanan kami.

Tiket pesawatku 4 september, pukul 7 malam. Tapi pukul 3 sore, saya dan Ara ditemani kak Ismet on the way menuju bandara. Saya tidak ingin mempertaruhkan tiket pesawatku yang seharga 1337 dollar itu hanya untuk terjebak macet dan ketinggalan pesawat. Perjalanan dari Ragunan ke Bandara memakan waktu sejam lebih. Saya check in di Soekarno Hatta pukul 4. 30. Terminal 2D. Terminal internasional. Terminal yang baru pertama kali saya masuki. Suasananya pun sangat internasional. Para calon penumpang adalah orang-orang dari berbagai negara. Bule pirang, jepang, cina, India, Arab. Baru di Soekarno Hatta sudah serasa di luar negeri gimana kalo di luar negeri?

Pesawat yang akan saya tumpangi adalah singapore airlines yang kabarnya adalah maskapai paling bagus di dunia. Saya belum bisa membandingkan. Ini pertama kalinya saya naik pesawat internasional. Pengetahuan pesawat internasional saya hanyalah sebatas iklan maskapai garuda di televisi. Saat check in saya khawatir mereka sudah menggunakan bahasa inggris:D. Tapi ternyata mbak-mbak cantiknya melayani dengan bahasa Indonesia yang baik. Saya membagasikan koperku yang paling besar. Koper berisi bajuku dan bajunya Ara. Ransel dan tas batik pesanan kak yusran saya jinjing bersama strollernya Ara. Saya menanyakan bagasiku nantinya akan diambil dimana. Mbaknya menyarankan akan diambil di Washington Dulles. Saya bilang, boleh di Columbus, Ohio? Agak bingung saya dengan penjelasannya sehingga ia menyarankan untuk memberikan pelayanan staf untuk saya nantinya di Changi airport, Singapura. Saya agak bingung sehingga saya iyakan saja. Dia memberikan kertas boarding saya setelah saya membayar Rp.150.000 untuk airport tax.

Di ruang tunggu bandara Soekarno Hatta Ara tidak henti-hentinya ngoceh. Merengek dan minta diajak main. Untungnya dia tidak menangis keras dan cukup sabar hingga naik ke pesawat. Ini perjalanan pertama kami naik pesawat internasional. Pastinya begitu berbeda dengan pesawat rute dalam negeri. Pramugari singapore airlines cantik dan bertubuh bagus. Proporsional dengan tingginya. Standar cantik untuk perempuan Asia Tenggara. Mereka menggunakan bahasa Inggris. Kuperkirakan mereka adalah warga negara Singapura. Tapi ada satu orang pramugari berambut pendek yang menyapa penumpang yang bingung berkomunikasi bahasa Inggris. Dengan lancar dia berbahasa Indonesia. Hmmm...pasti ia masuk dalam tingkatan rekruitmen ketat. Perempuan Indonesia yang bekerja di maskapai Singapura. Wow!

Dari Jakarta ke Singapore memakan waktu 1 jam 35 menit. Rasanya begitu menyenangkan naik pesawat internasional. Ada tivi di kursi pesawat dengan video, film, musik, games yang bisa dipilih. Ada headset, selimut, dan juga bantal. Kelas ekonomi saja senyaman itu apalagi kalo ngintip di kelas bisnis atau kelas satu. Pelayanan makin wah. Ara pun diberi mainan boneka transformer. Pukul 7 malam pesawat take off menuju Changi airport. Layar LCD di depanku menampilkan peta Perjalanan. Pulau Jawa, Jakarta dengan garis putus-putus dan gambar pesawat yang berujung di Singapura.

Basinet atau tempat tidur bayi terpasang di depanku. Hanya saja cuma bisa dipakai saat bayi bobo. Jadi mamanya tidak capek memangku. Namun, perjalanan 1 jam 35 menit tidak membuat Ara tertidur. Ia lebih banyak main-main. Saat baru mau mendarat di Changi ia tertidur dan harus terbangun lagi karena harus turun dari pesawat. Di pesawat diberi option menu untuk makan malam. Ada dua opsi, tapi yang saya ingat hanyalah kentang yang dihaluskan dengan sosis dan sayur. Entah apa namanya. Enak. Lidahku suka dengan makanan itu. Ara pun demikian. Ara tidak punya makanan bayi. Tidak juga mendapat jatah, yang saat hendak sampai di Amerika baru saya tahu jawabannya.

Di Changi Airport, pramugari meminta saya untuk menunggu sejenak sebelum turun dari pesawat. " U ask for assitant?" Saya menjawab "Yes". Dan dia memintaku mengikutinya. Di depan pintu pesawat seorang perempuan bermata sipit sedikit gemuk menanyakan nomor kursiku dan memintaku mengikutinya. Ternyata dialah staf yang akan menemaniku untuk check in, menunjukkan arah dan mengantar ke lounge.

Changi airport adalah bandara yang cantik. Di sana sini banyak pertokoan yang menjual banyak souvenir dan barang-barang lainnya. Serupa toko serba ada yang dimasukkan dalam bandara. Ada taman cantik di tengah-tengah yang bisa dipakai untuk sekedar duduk dan menunggu panggilan naik pesawat. Sang asistant mengantar saya ke ANA airlines. Maskapai penerbangan Jepang yang akan mengantar saya ke Narita. Kuberikan tiketku, paspor, dan nomor bagasiku. Sambil menunggu saya menggunakan komputer-komputer yang disediakan untuk internet gratis. Wifi pun ada, tapi harus meminta user name di information. Setelah selesai check in, petugasnya memberiku 3 boarding pass. Changi-Narita, Narita-Washington Dulles, Washington Dulles-Colombus, dan meng-arrange asisten lagi untuk saya. Wah, saya berasa seperti pelanggan spesial. Padahal sebenarnya posisi saya adalah penumpang yang bingung yang tidak tahu mau ngapain sehingga perlu asisten. Ah, masa' bodoh. Saya sih suka-suka saja ada asisten seperti ini. Nda bingung cari gatenya.

Setelah perempuan berseragam warna peach-rok hitam mengantarku ke lounge, rekan kerjanya yang lain menyambutku dan meminta paspor serta boarding passku. Memintaku untuk duduk sejenak karena 15 menit lagi akan dipanggil ke ruang tunggu bandara. Tapi saya memilih untuk jalan-jalan. Kakak Ipah meminta dibelikan ole-ole disetiap tempat transit. Ini demi kakak yang membiaya perjalananku ke Jakarta. Dan sampailah saya di toko souvenir dengan beragam pilihan dalam harga dollar singapura. Dengan sedikit pede saya bertanya " Can I use american dollar?" dan ia pun mengiyakan. Sembari memilih-milih para penjaga toko bermain bersama Ara. Ara yang mengantuk terganggu moodnya. Salah satu diantara mereka nyelutuk " ia mengantuk" dalam logat melayu yang khas. Hei, mereka bisa bahasa Indonesia. Saya yakin itu bukan bahasa Indonesia, itu adalah bahasa melayu,tapi saya senang tak perlu berbahasa Inggris untuk selanjutnya bertransaksi belanja.

Saya membayar 21 dollar US untuk souvenir itu. Dengan beberapa kembalian uang dollar Singapura. Saya nda peduli hitung-hitungannya berapa. Uang singapura itu masuk dalam koleski uang celengan Ara (sekarang sudah berada di gelas air minum Mcd yang pertama saya beli di Amerika). Setelah berbelanja saya kembali ke lounge. Duduk di sofa dengan tivi layar lebar. Pukul 11 malam waktu Singapura. Kepalaku sudah migran. Pengumuman untuk penumpang Narita Maskapai ANA membahana. Saya pun mempersiapkan barang-barangku, Ara yang sudah tertidur kembali terbangung. Tak berapa lama seorang wanita berumur 30an tahun menghampiri. Wajahnya keturunan India. "Are you Agustriani?" tanyanya. Saya jawab iya. "Follow me". Dia lantas ke penjaga Longue meminta boarding passku dan pasporku. Membaca sejenak nama Ara dan kemudian berkata "Sarasvaty. Nice Name". Kami pun kemudian ngobrol. Dia mengingatkanku pada Guptha di film Terminal. Lelaki keturunan India yang akrab dengan Tom Hanks. Perempuan yang bernama Siti Pharsana itu seramah Guptha. Say menjelaskan bahwa nama Ara berasal dari bahasa Sansekerta. "You know, Hindu" kataku. " Oh ya, but I'm not a Hindu. I'm A Moslem" katanya. "Me too" kataku. "But your name there's no Moslem name" katanya. Nah, bagian ini saya nda bisa menjelaskan dalam bahasa Inggris pemilihan namaku dan namanya Ara.

Sepanjang jalan menuju Gate yang akan kami tuju saya bercakap-cakap dengannya. Dia mengatakan saya begitu muda untuk menjadi seorang ibu. Kami pun lantas membahas tentang cara mengasuh anak. Dia cukup heran melihat Ara yang cukup tenang si stroller setelah saya jelas pertama kalinya Ara bepergian dengan stroller. Saya pun lantas memintanya memotret saya di tulisan-tulisan yang ada changi airportnya. "Picture is important" kataku. Ia pun dengan senang hati memotret saya. Ia pun memahami bahasa melayu. Jadi kami bisa nyambung ngobrol kalo saya menimpali dengan bahasa Indonesia. Dia mengantar saya hingga masuk di pesawat. Senang rasanya bertemu dengan Siti Pharsana. Dia menjadi guide yang baik.
Images

Memperkosa Koper

Satu hal yang menyebalkan dari traveling yang mengharuskan untuk stay lama, barang-barang yang harus dibawa. Saya berusaha sedapat mungkin membawa sedikit barang. Tapi selalu ada barang-barang yang harus dibawa. Dan barang-barang itulah yang membuat koper membengkak. Mana lagi singgah transit di Jakarta yang begitu lama membuat saya berbelanja banyak. Duh, koper yang sudah mengembang pun harus mengembang lagi.

Sepanjang siang ini saya berusaha mengepak semua barang-barang. Penuh keringat. Memisahkan yang patut dipisah. Dan sedapat mungkin meringankan tas ransel. Semua yang tidak penting harus dibagasikan. Dan satu jam lamanya saya berjuang mengalahkan koper. Berusaha menutup reslitingnya. Segala cara kulakukan. Bahkan sampai menaiki koper tersebut agar beban di dalamnya terpress dan koper bisa ditutup.

Ara menyemangati dengan sesekali menarik perhatian, berteriak, atau bergelayut manja sambil senyum simpul. Rasa-rasanya ingin marah setiap dia berusaha menarik perhatian untuk diajak main. Tapi ketika ia mulai senyum-senyum simpul, selalu ingin tertawa melihatnya.

Dan akhirnya saya berhasil memperkosa koper saya. Tertutup dengan sukses. Semoga lolos pemeriksaan X ray. Toh, yang saya bawa hanyalah baju-baju kotor yang belum dicuci dari Jakarta. Pukul 13.10, ingin rasanya tidur sampai sore dan bangun sudah di Athens. Dan foto diatas adalah barang-barang yang akan menemani saya ke OHIO. Yang diatas stroller adalah yang paling berharga^^.(*)

Ragunan,13.13, 04092012
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Akhirnya Datang Juga

Penantian itu akhirnya selesai juga. 09.30 dua kiriman yang aku tunggu tiba di depan kost. Dengan tersenyum pengantar paket itu memberiku dua paket. Paket yang kutunggu-tunggu selama berada di Jakarta. Paket buku "Kado Cinta Untuk AraL dari Yogyakarta dan satu kado dari Kak Alin.

Senang rasanya kedua benda itu berada di tanganku. Di beberapa jam sebelum aku berangkat ke bandara. Buku yang akan aku titipkan di Alden Library. Buku yang merekam kisah-kisahku bersama Ara. Hanya lima cetak. Ini limited edition. Semacam dummy untuk mempersiapkannya jadi buku kelak. At least buku itu sudah ada di tanganku.

Kado dari kak Alin pun tak kalah menyenangkannya. Dua name tag yang akan aku pakai untuk koper dan ranselku. Juga mainan buat Ara. Little Mermaid berbentuk Hello Kitty. yang bisa digantung. Sebuah kebetulan, karena sore kemarin aku sibuk mencari mainan yang bisa digantung di strollernya Ara. Juga cermin kecil dan magnet kulkas. Dengan kotak khusus yang cantik. Kali ini aku akan membawa kotak itu ke Amerika.

Yah... Lengkaplah sudah penantian itu. Sepenuh hati aku siap berangkat. Another journey,Ara... (*)

Ragunan, 10.05- 04092012
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Jakarta, 06.40 Pagi

Setengah badanku terasa pegal. Kipas angin berputar di kecepatan medium. Ara sudah bangun. Bermain-main dengan sebungkus popmie sambil menonton spongebob. Saya penasaran apa yang ada dalam kepalanya. Apakah ia tahu perjalanan ini? Hari ini dia akan menempuh perjalanan pesawatnya yang paling jauh selama ini. Destinasi Amerika. Menuju dirimu. Bertemu denganmu.

Perjalanan ini rasanya menjadi puncak dari perjalanan bertemu denganmu. Setahun dua hari lalu, kamu pergi kuliah sementara dia masih memerah. Hari ini ia sudah setahun dua hari. Mampu merespon dunia di luarnya. Tertawa, menangis, merajuk, menari, bertepuk tangan. Semalam I berdiri bertumpu pada kakinya begitu lama. Full konsentrasi tanpa tawa membahana. Ia telah belajar bagaimana untuk fokus. Tak lama lagi ia akan berjalan. Ia hanya menunggu menginjakkan kaki di Ohio. Seperti yang selalu aku bilang, Ohio adalah tanah pertama yang akan merekam jejak kaki kecilnya. Ia mungkin tak pernah tahu bahwa 4 september ini memiliki arti penting. Ia, kamu, dan saya menuju pada sebuah titik pertemuan.

Jika ini adalah sebuah bab buku, maka ini sebuah cerita klimaks. Separuh tubuhku ingin manja untuk beristirahat, tapi sepenuh hatiku berusaha menyelesaikan perjalanan ini. Hingga bertemu dirimu.(*)

Ragunan,04092012
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Images

Di Jakarta Selatan, Saya Bertemu Kawan

Jakarta adalah kota yang tak terprediksi. Macet dan segala kesibukan yang tak terprediksi kadang membuat seorang kawan tak bisa bertemu kawannya yang lain. Saya bersyukur tinggal di Jakarta Selatan selama beberapa hari ini. Saya menemui banyak kawan yang ternyata berkantor di sini atau bertempat tinggal di jakarta Selatan.

Saya bertemu kawan-kawan yang jarang aku temui. Adalah Pejaten Village (Penvil), sebuah mall dibilangan Jakarta selatan yang dapat saya jangkau dengan busway 15 menit dari Ragunan, tempat tinggalku. Menjadi tempat janjian dan bertemu banyak kawan. Pertama-tama saya bertemu Abang Joy. Rumahnya jauh dari tempat tinggalku, tapi kantornya pas depan Pejaten Village. Duh, senangnya. Bisa gampang janjian meski saat ngantor. Kedua saya bertemu Kak Danny yang akrab saya panggil Om Dan, teman kantor waktu di Bank Mega Bone. Senang rasanya bisa kembali bertemu dan bernostalgia tentang kantor dulu. Menertawakan segala hal konyol dan aturan-aturan yang sering kami langgar.

Kemudian, saya bertemu Alim, sepupu satu kali. Lagi-lagi di Pejaten Village. Dia belum pernah bertemu Ara. Jadinya, ini semacam pertemuan pertama dan juga saling mengucapkan selamat jalan karena ia hendak ke Australia. Selanjutnya bertemu Kak Tiur, Kak Ira, Kak Desan, Kak Ochan, dan River di Pejaten Village lagi. Tema obrolan adalah keluarga. Saya benar-benar sudah 26 tahun. Pejaten Village itu serasa toko serba ada yang selalu saya samperin tiap hari.

Tapi tak hanya di Penvil yang menjadi tempat bersua. Saya pun mengunjungi tempat lain. Ditemani kak Adi, naik motor keliling Jakarta. Mengambil visa di RPX kemudian mengunjungi Ataya dan Ayah-Ibunya. Anak kecil seumuran Ara yang lucu menggemaskan. Menjadi teman main Ara. Masih ditemani Kak Adi, ke rumah Achie bertemu adek Cani dan Kak Gun. Di sana bertemu juga dengan Santi. Lagi-lagi temanya seputar anak. Secara semua sudah jadi emak dan Santi yang sedang mengandung. Saya tak pernah membayangkan pada akhirnya kami berkumpul dan mengobrol tentang anak. Empat tahun lalu kami berkumpul, bergosip, saling tanya catatan kuliah, contek-contekan tugas, dan sibuk kerjain mahasiswa baru. Sekarang, temanya udah mama-mama aja.

Saya pun bertemu dengan Mbak Lintang, Mas Indra, dan Sofie. Teman sesama Kompasiana. Pertama kali bertemu dua tahun lalu saat Ara masih bulan pertama di kandungan. Tau-tau ketemu, eh Ara sudah setahun. Sofie pun sudah jadi gadis cantik. Padahal waktu awal ketemu dia masih anak kecil yang belajar jalan. Waktu berjalan begitu cepat.

Saya beruntung bertemu mereka. Mereka yang meluangkan waktu untuk bersua dan berbagi cerita. Mentraktir dan memberikan mainan serta hadiah. Saya merasa bersyukur memiliki kawan-kawan seperti mereka. Semoga Tuhan selalu memberikan kebahagian seperti ketika mereka memberi saya dan Ara kebahagiaan. Amin.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Images

Resensi Sesat Bourne Legacy

Bourne Legacy akhirnya tayang di XXI di siang hari. Tidak lagi midnight. Di Makassar, film ini bahkan belum masuk ke bioskop. Saya dan Ara sedang di Jakarta sekarang. Tepatnya di Jakarta Selatan. Ragunan,tetanggaan sama kebun binatang. Dan juga Mall keren bernama Pejaten Village. Karena bete di kostnya kak Ismet, saya memutuskan untuk nonton film bersama Ara. Sekalian nunggu Alim, sepupu saya, yang janjian sore ini untuk bertemu.

Tak sempat makan siang dan hanya berbekal popcorn caramel, roti coklat, dan air mineral saya menonton Bourne Legacy. Saya meniatkan diri untuk berfoto di depan poster filmnya. Berhasil meminta di foto sama mbak-mbak tiket depan pintu bioskop, sayangnya tidak maksimal karena managernya tiba-tiba datang.

Ara sempat agak sedikit rewel di awal film. Menggeliat-geliat dan bersuara-suara. Sudah hampir kubereskan semua barangkan dan meninggalkan bioskop. Untungnya dia tertidur saat saya nenen. Saya sempat tak mengerti filmnya. Bahkan main storynya saya nda ngerti. Berhubung karena Ara sedikit sibuk dan rewel. Saya harus menenangkannya. Sepanjang film saya menyusuinya. Sampai pegel. Badan serasa soak karena nda tak berganti posisi. Bahkan saya agak gemes menanti kapan filmnya selesai. Berharap Ara tidak bangun dan menangis. Sound film ini cukup ribut. Ara sempat terbangun di tengah film. Saat saya sudah dapat feel dari filmnya. Untungnya ia kembali bobo dan bangun sampai filmnya selesai.

Bourne Legacy

Film ini bercerita tentang sebuah upaya untuk membunuh para anggota sebuah program yang dibuat oleh CIA. Anggota-anggota yang menjadi kelinci percobaan terhadap obat-obatan. Entah obat apa. Saya nda ngerti sama sekali.wkwkwkwkwkwk. Intinya si Aaron (Jeremy Renner, yang main sebagai si "pemanah" di film the Avengers) harus bertahan hidup dan mencari obat untuk dirinya. Dia mencari Stephanie Snyder (Rachel Weisz), dokter yang terlibat pada program tersebut. Semua anggoata agen telah terbunuh. Ilmuwan-ilmuwan program ini dibunuh. Maka Aaron dan Snyder berusaha untuk melarikan diri dari kejaran CIA yang dipimpin oleh Edward Norton.

Film ini panjang, mungkin karena saya berharap dia cepat selesai. Ribut dengan begitu banyak action, karena berhasil membangunkan Ara. Bersetting banyak tempat hingga puncaknya di Manila, Philipina. Saya berpikir mengapa tidak di Indonesia saja yang menjadi pusat pembuatan obat-obatnya. Secara Indonesia pernah menjadi pabrik pembuatan narkotika terbesar. Baik, mungkin saya salah fokus. Satu kerjasama dengan CIA, satunya lagi sebuah kejahatan besar.

Oke, kembali ke film Bourne Legacy. Saya masih berandai-andai, film ini dibuat juga di Indonesia. Pasti adegan kejar-kejarannya agak susah dan tidak bergerak. Secara Jakarta itu macet. Nda mungkin si Aaron bergerak lincah dengan motornya kejar-kejar dengan agen dari Bangkok yang akan membunuhnya. Kalo misalnya di Indonesia, saya yakin pemeran Maddog lah yang paling pantas memerankan agen pembunuh dari Bangkok itu. Kalo Iko Uwais, dia terlalu cakep untuk itu.

Adegan di Manila itu yang menjadi pusat perhatianku. Mungkin karena puncak dari film kali ya. Tiga puluh menit terakhir yang cukup keren menurutku. Karena ditengah-tengah film, saya sukses tertidur saking bosannya. Saya mempertanyakan mengapa Rachel Weisz yang tidak pernah naik motor sebelumnya begitu lihai di boncengan Jeremy Renner. Kalo Jeremy Renner yang menanyakan pada saya, "kamu pernah naik motor" saya akan jawab "iya". Tapi pasti tetap saja parno dengan adegan mepet-mepet diantar mobil, beratraksi, hingga hampir jatuh dari motor. Serta harus melakukan upaya membuka helm dan melemparkan helm ke agen Bangkok itu.

Tapi si Jeremy Renner itu loh, tetap aja keren waktu membonceng si Rachel. Masih sempat-sempatnya pake kacamata trus kejar-kejaran di jalanan Manila yang padat. Dan kacamatanya nda lepas-lepas. Cool!!!! Coba tukang ojek di Indonesia secakep itu ya. Saya pasti betah dibonceng. Menurutku endingnya tidak dramatis setelah lelah berkejar-kejaran dengan motor dan terjatuh. Saya mungkin mengharapkan sebuah aksi yang lain. Tidak sekedar mereka menyewa perahu dan berlayar ke pulau-pulau cantik di Pilipina.Hehehehe.

Demikianlah resensi sesat saya menonton Bourne Legacy. Untungnya, Ara kali ini bisa kembali bekerja sama. Mungkin, pilihan paling pas buat nonton dan membawa Ara adalah sore menuju malam. Saat waktu bobonya.Rachel Weisz di film ini bikin saya jatuh cinta. Sekian(*)

29 agustus 2012
Powered by Telkomsel BlackBerry®