Skip to main content

Posts

Bridgerton : Buku VS Serial

Udah 2021 aja nih. Happy New Year, Yorobun pembaca paling setia blog ini yang pastinya bisa dihitung jari. Hahaha. Terima kasih masih mau membaca dan tidak bosan. Atau mungkin saja kamu tersesat dan ga sengaja ke sini. Terima kasih sudah singgah semoga tersesatnya ga sia-sia.   Eniwei…Januari setahun lalu rasanya saya meniatkan diri untuk rajin ngeblog tapi niat tinggallah niat. Postingan blog hanya sebiji dua biji. Nah karena udah Januari lagi, saya mau niatin lagi buat ngeblog banyak-banyak meski nanti ga jadi-jadi. Yang penting udah niat. Xiixixi.    Karena pandemi Covid membuat saya dan hampir semua anggota keluarga   berkegiatan di rumah. Kecuali Ayah Ara yang masih sesekali keluar rumah untuk urusan kerjaan, Saya, Ara, dan Anna benar-benar stay at home sesuai anjuran pemerintah. Keluar rumah hanya untuk belanja keperluan bulanan. Selebihnya jika bosan keliling naik mobil aja.   Thanks to internet kita-kita  ga   mati gaya di rumah. Youtube, Facebook, Tiktok, Twitter, Ne
Recent posts

Anna Yang Tumbuh Besar

Anna dengan outfit dari kaki sampai ke baju "hands down" dari kakaknya   Karena sibuk mencari earphone untuk keperluan zoom meeting Ara dengan guru kelasnya, saya akhirnya membongkar satu isi lemari. Saya menemukan baju-baju Ara yang masih bagus yang memang kusimpan untuk Anna. Anna yang selalu mengekor kemana pun saya pergi terkesima dengan baju-baju itu. Saya lupa baju-baju itu dipakai Ara usia berapa. Hanya saja tetap saja mengejutkan saat kupakaikan baju-baju itu di badan Anna. Semua sudah pas. Tidak kebesaran tidak kekecilan. Memoriku menyimpan kenangan Ara yang memakai baju-baju itu kala ia berumur sedikit agak lebih besar dari Anna. Karenanya melihat baju-baju cocok di badan Anna membuatku tersadar bahwa Anna bukan lagi bayi kecil yang selalu kugendong. Tak lama lagi  ia akan sibuk dengan dunianya. Tidak lagi membuka pintu toilet dengan tiba-tiba sembari saya ada di dalam. Entah mengapa saya masih menganggapnya bayi yang baru belajar berjalan. Mungkin karena ia belum

Resep Mandi Parfum ala Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash Menjadi ibu rumah tangga seperti berdansa di bawah hujan.  Layaknya seperti  pemain akrobatik, mengurus rumah tangga adalah persoalan harmonisasi mengurus anak, suami dan diri sendiri. Mengurus keluarga adalah nomor satu. Mengantar anak pulang pergi sekolah. Menemani di tempat les. Memasak untuk suami. Mengepel dan beberes rumah tak pernah absen. Namun, merawat dan memperhatikan diri pun sebuah laku yang tak boleh disampingkan. Sebagai fulltime mother penuh tanpa pembantu dan penjaga anak, berkeringat adalah sebuah keharusan.  Bau bawang karena memasak adalah soal biasa. Bau asap knalpot dan terik matahari melekat tiap hari kala antar jemput anak sekolah. Ada kala dimana saya merasa kewalahan dan kelelahan. Saat-saat hectic itu  saya mendambakan me time. Waktu untuk diri saya sendiri. Agar pikiran dan hati relaks sejenak. Salah satu me time paling manjur dan paling murah adalah  mandi . Mandi menjadi perkara yang mewah tanpa ket

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yang begitu

Catatan Sebelum Konser

Demi Banner Thank You ini rela ngantri 16.28 di Ji Expo.  Duduk melantai sambil nunggu antrian masuk. Sendirian diantara ratusan orang yang juga ngantri. Memperhatikan baterai handphone.Sedapat mungkin menggunakan tenaganya sedikit-sedikit. Tak lama lagi saya akan bertemu lima cowok bule pertama yang menyita perhatianku.  Saya harus merekam kejadiaannya.  Kejadian dimana saya akan melihatnya pertama kali dengan mata sendiri. Anggaplah mereka pacar pertama.  Saya lebih suka menyebutnya Imaginary princes. Cowok-cowok yang menghiasi masa kecil dengan lagu-lagu hitsnya.  Mereka yang mengenalkan imajinasi tentang luar negeri.  Tentang Amerika.  Florida.  Orlando. Tentang bel natal, santa,  dan salju. Selalu ada rasa melankolis ketika mendengar suara mereka sambil menatap langit dari jendela kamar.  Membayangkan seperti apa langit di tempat mereka berdiri. Jikalau anak jaman sekarang punya BTS dan Super Junior.  Anak 90an  punya Backstreet Boys.  Dan bolehlah ka

Anna dan Tinta Merah

Ada sebuah botol kecil yang selalu menarik minatku tiap kali saya masuk ke kamar Mamaku sewaktu kecil. Botol itu bertengger di rak papan di belakang pintu kamar. Tak ada yang istimewa dari botol itu. Hanya botol berisi tinta merah untuk isi ulang spidol Snowman. Namun cerita dibalik botol itu yang kemudian melekat di kepala. Setiap kali saya bertanya tentang botol itu, mamaku akan menjawab botol itu digunakan untuk menyapihmu kala kamu kecil. Menyapih adalah kegiatan yang dilakukan ibu untuk membuat anaknya berhenti menyusu lagi. Imajinasi kanak-kanakku pun liar membayangkan seberapa ajaib botol itu hingga membuat saya berhenti menyusu. Kata mama, tinta itu dibalurkan di puting susunya. Menimbulkan warna merah. Membuat saya tidak lagi berminat untuk minta nenen. Cerita itu selalu kukenang hingga dewasa. Entah tinta botol yang kulihat di kamar mama adalah tinta yang sama yang mamaku pakai untuk menyapihku atau bukan, yang pasti bayangan botol itu selalu aku kenang. Menj

Ara, Peppa Pig, dan Panda Taman Safari

Jam di atas TV tepat di angka 9 lewat 30 menit. Ara  masih terjaga padahal besok sekolah pagi.   Bersama Anna, me reka masih betah depan tivi menonton Peppa Pig.   Serial kartun tentang keluarga babi dan teman-temannya yang lucu. Masih sibuk beres -beres rumah sesekali saya memperhatikan layar tivi yang menampilkan adegan antara Peppa Pig dan teman baiknya,  Susi The Lamb. "Peppa sama Susi suka berkelahi ya", celetukku.  "Tapi mereka tetap temenan", kata Ara.  "Iya tapi mereka juga suka berantem.  Pernah ada episode mereka ga ngomong karena berantem", kataku ngotot. " B ut they always make it up.  Kamu aja sama ayah suka berantem but you two always make it up.  Aku sama Dita juga.  Pernah aku spill water ke bajunya Dita,  trus we are still besty. Eventhough you fight with your friends you should try to make it up",  jelasnya panjang lebar.  Saya cukup kagum mendengarkan bagaimana ia menjelaskan sebuah hubungan yang harus