Images

Saat Kita Membicarakan Kematian


Dear Ara...
Sore ini kamu pulang main lebih pagi dari biasanya. Anak-anak masih riuh berlarian di lapangan depan rumah. Masih pukul 5 sore lebih sedikit, kamu menghampiri saya sambil menangis. "Kenapa?", tanyaku. Saya khawatir kamu terluka akibat terjatuh atau seorang kawan bermainmu menyakiti kamu. 

"Ara takut. Ara tidak mau mati", jawabmu sambil sesunggukan. "Semua orang akan mati?", tanyamu lagi. Sebuah tema yang cukup berat yang kamu pilih untuk kita diskusikan sore ini. 

Saya tertegun sejenak. Tak langsung menjawab pertanyaanmu. Malah bertanya balik, "siapa yang kasi tau?". "Rania sama Naura", jawabmu. 
"Anak-anak, trus kakak-kakak, trus jadi nenek trus mati. Ara takut. Ara tidak mau mati", katamu lagi masih menangis. 

"Semua orang akan mati? Harus nenek-nenek dulu baru mati? Ara tidak mau tumbuh besar. Ara mau anak-anak saja".

Pertanyaanmu begitu sulit untuk dijawab nak, mengingat usiamu yang begitu muda dan persoalan mati butuh pemahaman yang sangat dewasa. 

"Semua yang hidup akan mati, Ara", jawabku. 
"Mama juga?"
"Iya"
"Ara tidak mau Mama mati. Ayah juga jangan. Adek juga jangan", jawabmu lagi tambah terisak. 

"Kamu harus sehat. Makan sayur. Biar tidak sakit", kataku lagi. 
"Kalo sakit mau mati ya", tanyamu.
"Oma disebelah sakit, trus meninggal", kataku. 
"Kalo batuk kan sakit. Itu bisa mati?"
"Kalo sakit ya minum obat"
"Kalo minum obat tidak mati?"
"Kalo minum obat bisa sembuh lagi"
"Kalo makan sayur tidak mati?"
"Kalo makan sayur jadi sehat", jawabku. 

"Ara takut. Peluk", katamu. "Jangan takut. Mati itu bagian dari hidup. Tumbuhan juga mati. Yang perlu kamu lakukan adalah menjadi orang baik."

"Mama baik gak?", tanyamu. Aduh, pertanyaan ini agak berat nak. 
"Mama berusaha baik".
"Tapi mama suka marah-marah terus", jawabmu. 
Jiaaahhh. "Maaf ya kalo mama suka marah-marah", kataku. 
"Kalo marah-marah, artinya Tuhan ga ada di dekat mama", katamu lagi. Wah, kamu menggunakan penjelasan tentang Tuhan yang mama terangkan padamu tadi siang. 

"Ara ga boleh takut sama kematian. Asal Ara rajin sholat, rajin ngaji, dan baik hati, Tuhan bakal sayang sama Ara. Mama juga takut mati".

"Mama akan duluan mati?" Tanyamu lagi. 
"Mama ga tau. Tapi mama pengen liat Ara tumbuh besar. Menikah dan punya anak. Liat adek juga tumbuh besar. Mama mau rawat anak-anak kalian. Ara harus berdoa biar panjang umur." 

"Apa itu panjang umur?"
"Supaya Ara selalu ulang tahun setiap tahun". 

Dan diskusi sore ini berakhir dengan kegundahanmu akan kematian. 
Usiamu masih terlalu muda untuk memahami kematian, sayang. Tapi it's okay to be afraid. Semakin kamu bertumbuh semakin kamu mampu memahami kehidupan dan prosesnya. 

Bogor, 20 September 2016

Images

Tuhan Ada di Mana?

Dear Ara...
Siang tadi kamu sangat ingin keluar rumah. Namun, saya melarangmu. Di luar begitu panas. Listrik mati. Dan teman-temanmu masih istirahat di rumahnya masing-masing. 

Kemudian, hujan turun. "Ara berdoa sama Tuhan. Biar hujannya reda pas sore nanti", kataku. 
"Tuhan, hujannya berhenti ya kalo Ara mau main. Aamiiinn", doamu. 
Kemudian tiba-tiba kamu bertanya, "Tuhan ada dimana?"
"Dimana coba?", tanyaku balik. 
"Tuhan ada di angkasa. Di langit. Di awan-awan", jawabmu.
"Jadi kalo naik pesawat liat awan, bisa liat Tuhan dong", kataku lagi.
Kamu cekikikan. "Tuhan ada di planet", jawabmu lagi. 
"Tuhan alien dong", kataku lagi. 
Kamu tidak bisa menahan tawa. Sepertinya konsep itu cukup kamu mengerti mengingat planet-planet adalah rumah para alien. 

Kamu lantas terdiam. Berpikir. "Jadi Tuhan di mana". 
"Tuhan ada di hatinya, Ara. Kalo Ara baik, berbahagia, tidak sedih dan marah-marah artinya Tuhan ada di dekat Ara. Kalo suka menangis, marah-marah artinya yang ada di hatinya Ara adalah setan". 

Air muka berubah ketika mendengar kata setan. "Karenanya harus jadi anak yang baik. Yang patuh. Biar Tuhan selalu dekat", kataku. 

Demikianlah diskusi ketuhanan kita siang itu. Dan Tuhan mengabulkan doamu, hujan reda saat sore dan kamu pergi bermain mamah-mamahan. 

Bogor, 20 September 2016
Images

Apakah Benar Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas?


Eka Kurniawan menyamakan Rindu dan Dendam sebagai sebuah hal yang setara serupa masalah yang butuh penyelesaian. Tapi saya agak tidak sepaham dengannya. 

Rindu dan dendam ada dua variabel yang bisa disebut sama tapi juga sangat berbeda. 

Semua bermuara di hati. Menganggu pikiran. Memaksa tubuh untuk melakukan tindakan. Namun jika dendam telah terbayar tuntas, hati akan terasa ringan. Pikiran mampu "move on". Sedang Rindu? Sebuah rasa yang memiliki sifat repetisi. 

Jika ia terbayar tuntas, maka cobalah kembali menarik jarak. Perlahan ia bertumbuh. Seperti jamur di musim hujan. Seperti kutu air di kaki yang berkeringat. Kembali mengontrol tubuh dan pikiran. Menuntut untuk dibayar kembali. 

Ah, jika saja bisa memilih, mungkin mendendam lebih melegakan dibanding merindu. Sayannya, dendam begitu identik dengan rasa benci sedang rindu berbarengan dengan rasa cinta. 

Maka, tibalah saya disini dengan rindu yang penuh kebimbangan. Memaksa pulang menemuimu tapi takut untuk kembali pergi dan merinduimu lagi. 

Lantas haruskah saya mengubah rindu ini menjadi dendam. Sehingga ketika terbayar tuntas, hati saya tak lagi disesaki rindu. 

Bogor, 20 September 2016
Images

Tentang Sahabat yang Berpulang

Sebuah pesan masuk ke grup WA teman-teman SMAku. Grup yang selalu ramai dengan perbincangan nostalgia, basa-basi, atau sekadar sapa menyapa dengan kawan-kawan di sekolahan dulu. Saya hanyalah silent reader di sana. Menengok sesekali meski kadang terlalu susah mengejar dan mengerti tema perbincangan saking ramainya sahut-sahutan. 

Namun, pesan kali tak kuasa membuatku sekadar diam. Sebuah kabar tentang seorang kawan yang berpulang. Pesan belasungkawa mengalir. Saya sedih dan terkenang olehnya. 

Ia adalah teman sedari kecil. Sejak dari SD hingga SMA, kami selalu satu sekolah. Kami tetangga kampung. Rumahnya, meski agak jauh dari rumahku, tapi sering kukunjungi dengan berjalan kaki. Saya sering main ke rumahnya. 

Ia punya toko dan saya selalu membeli permen dan coklat jualannya. Soalnya kadang jualannya tidak ada di toko lain. Saya pun sering ke rumahnya jika lebaran. Di rumahnya selalu ada kue tart yang enak dan selalu disajikan saat say dan teman-teman ma'siara. 

Kami tidak lagi begitu dekat saat SMP dan SMA karena beda kelas. Namun kami masih sering barengan di angkot dan berbalas senyum. 

Setelah SMA kami tidak pernah lagi bertemu atau kontak-kontakan. Hingga kabar meninggalnya menyapa   sore ini. 

Kematian adalah keniscayaan. Namun hadirnya selalu mengejutkan. Terlebih jika ia adalah kawan, kenalan, atau keluarga. Menyesakkan dada ketika bilangan usia yang masih begitu muda terenggut olehnya. 

Ingatanku mengelana pada seorang kawan yang juga teman sebangkuku kala SMP. Telah lama berlalu, ketika saya bertemu kakaknya dan mengabarkan bahwa adiknya, kawanku itu, telah meninggal. 

Saya lantas menghitung usianya. Usia yang seumuran denganku. Masih banyak mimpi yang ia miliki. Menikah. Melahirkan. Merawat anak-anak. Bekerja. Namun kematian seperti nasihat di Bugis tak seperti kelahiran dimana manusia bergiliran lahir, bertumbuh, dan menua. Kematian bisa kapan saja. Tanpa perlu mengambil nomor antrian. 

Saya jadi terkenang dengan percakapan dengan Ara tadi pagi tentang mati. Ia bertanya jika mama mati yang nenen adek siapa? Yang jaga adek siapa? "Kan ada Ara", jawabku. "Kalo mama mati, Ara jangan sedih ya", kataku. "Iya", jawabnya meski terdengar keluh. 

Untuk para sahabat yang telah mendahului, semoga Tuhan melapangkan Jalannya. Amiiin...

Bogor, 5 September 2016
Images

Kunamai Engkau, Anna Dara Makeishana

 

William Shakespeare, ““What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet. Saya tak bersepaham dengan penyair terkenal itu. Nama serupa gerbang untuk mengenal seseorang. Nama juga menjadi pengingat. Nama adalah doa. Nama adalah sebuah pengharapan. 

Maka ketika kamu dalam kandungan, ayahmu begitu galau mencarikanmu nama. Tapi buatku, itu tak pernah menjadi masalah. Jauh sebelum kamu dikandung, saya telah menuliskan namamu di sudut pikirku. Nama yang istimewa. Nama yang menjadi identitasmu. 

Jika nama kakakmu, Ara berasal dari imaji tentang seorang dewi pengetahuan, Saraswati, maka namamu berasal dari identitas budaya yang mewakili kesukuanmu. Kelak ketika kamu ditanya oleh teman-teman ayahmu yang sering datang ke rumah, kamu bisa menjawabnya dengan bangga, bahwa namamu menjelaskan asalmu. 

Meski itu, sebulan sebelum kamu lahir ayahmu masih ragu dengan nama yang akan disematkan padamu. Masih berusaha dicarinya nama-nama Sansekerta yang bermakna baik. Untunglah, kemudian ia bersepakat menamaimu seperti mauku, dengan kompromi dan dialog tentunya. 

Aku ingin menamaimu Anna Dara Makesya. Sebuah nama yang berasal dari bahasa Bugis dan Wolio (Baubau). Anna Dara berasal dari kata Ana' dara yang berarti anak perempuan. Sedangkan Makesya dari bahasa Wolio, Makesa, yang berarti cantik.Saya telah menyukai kata itu sejak pertama saya mendengarnya. Terdengar indah, merdu dan sesuai dengan artinya. Saya pun meniatkan akan memberi nama Makesha untuk anak perempuanku kelak. 
Mengapa bukan bahasa Sansekerta? Mengapa bahasa daerah? Karena dua kata itu mewakili asalmu.  Seperti yang selalu dijawab kakakmu setiap kali ditanya orang mana, dengan bangga dia menjawab Bugis-Buton. 

Kemudian ayahmu, yang berkecimpung di dunia tulis menulis, menganggap irama nama itu tidak sempurna. Tak berima seperti pantun.  Maka ia mengusulkan mengganti kata Makesya dengan Makeshana. 

Saya tidak sepakat awalnya. Kemudian seperti dalam kehidupan rumah tangga yang kelak akan kau jalani, terjadi dialog, diskusi, dan kompromi yang berujung pada kesepakatan menjadi Makeishana tanpa perubahan arti sama sekali. 

Oh iya, Anna adalah masukan nama dari kakakmu yang selalu ingin menjadi Princess Elsa sedangkan kamu adalah Princess Anna. 

Maka, dirimu kami namai Anna Dara Makeishana, anak gadis yang cantik. Yang tak hanya cantik secara lahir namun juga cantik hatinya. 

Selamat satu bulan, Anna sayang. 

Bogor, 4 Sepetember 2016

Images

Dear baby Anna




Aku menulis ini saat kamu berbaring di pangkuanku. Kakakmu, Ara, tertidur lelap di ujung pembaringan tempat tidur rumah sakit yang kuberbagi dengannya sembari memangkumu. Ayah terlelap di kursi panjang berbusa tipis yang tampaknya cukup nyaman karena mampu membuatnya mendengkur. Dan aku di sini masih setia memangkumu sembari menahan kantuk. 

20 jam yang lalu kamu masih anteng tidur di ranjang bayi tanpa perlu dipangku. Namun, kemudian kamu mungkin belajar perbedaan antara hangatnya pangkuan,belaian, dan datar dan dinginnya tempat tidur bayi. 

Maka kamu memilih untuk terus dipangku. Menangis keras saat diletakkan sekalipun di pembaringan sempit yang kita bagi bertiga dengan kakakmu. 

Dan aku pun mengiyakan tingkah manjamu itu setelah aksi mogok nenenmu selama beberapa jam disertai muntah yang mampu membuatku khawatir. Aku ingin memastikan bahwa kegiatan menyusumu terjadwal rutin agar persediaan makanan di lambungmu tetap ada. Juga demi produksi ASI yang lebih banyak. 

Biar kuceritakan 48 jam sebelum aku melahirkanmu. 2 Agustus kala itu. Hari kelahiran kakakmu dan juga diriku. Aku sangat berharap kamu lahir di penanggalan yang sama, agar kita memiliki tanggal ulang tahun yang sama pula. 

Tapi kamu memilih tanggal lahirmu sendiri. Memilih berbeda. Tak jadi masalah. Sisi baiknya kita bisa mengadakan dua perayaan pesta ulang tahun atau membuatnya bersamaan. Masih sempat Ayah mengantar saya dan kakak Ara ke Cimory untuk jalan-jalan ulang tahun yang tidak begitu jauh dari rumah. Tapi  saya mah kalo diajak jalan-jalan ke mana aja suka kok. 

Awalnya ingin mencarikan kue ulang tahun untuk Kakak Ara, tapi karena ke Cimory sampai sore, urung dilakukan. Kakak Ara tetap aja minta dibuatkan dekorasi ulang tahun, kue, lilin, dan kado karena buatnya itulah ulang tahun.  Maka pada 3 agustus semua itu diwujudkan. 

Pukul 9 pagi di 3 agustus. Keluar lendir dan disertai darah. Saya sangat  yakin akan segera bertemu denganmu tak lama lagi. Sebuah perjumpaan yang telah lama saya nantikan. Setelah melewati banyak drama saat kehamilan, gonta-ganti dokter, rujukan ke RSCM, ukuranmu yang kecil, serta segala hal-hal yang bisa dipikirkan oleh khayalan liarku. all i want is to hold u in my arms. Memastikan kamu sehat dan baik-baik saja. 

Tak seperti kehamilan pertama, saya sangat tenang menghadapi tanda-tanda melahirkan ini. Kita masih ngider cari kue coklat, merayakan pesta ulang tahun, dan jalan-jalan di malam hari. 

Kehadiranmu makin terasa tiap jam. Kontraksi-kontraksi kecil kurasakan sejak sore. Namun kami memutuskan belum ke rumah sakit. Jika menunggu lama di rumah sakit, kasian kakakmu Ara yang akan tidur sembari menunggu mama kesakitan. Baiknya menunggu di rumah saja hingga tiba pada kontraksi yang tidak tertahankan. 

Pukul 10 malam. Sakitnya makin lama makin menjadi-jadi. Mules diperut. Entah kenapa saya masih bisa tetap di rumah. Pukul 11 malam. Rentan kontraksinya hanya beberapa menit. Rasanya seperti sesuatu bergerak di perutmu dan berusaha merobek kulit perutmu untuk keluar. 11.30 malam, saya minta ayah untuk mengantar ke rumah sakit. Kamu ga bisa lagi menunggu. Biarlah Ara menangis beberapa jam jika tak bertemu mama. 

Tengah malam, kami tiba di rumah sakit PMI. Mendaftar untuk melahirkan. Ayahmu memarkir mobil dan mengurus administrasi. Saya di ruang IGD sendirian. Kehausan. Tak membawa gawai untuk menghubunginya, dan menderita kesakitan. Saya harus meremas tepian ranjang rumah sakit tiap kali sakitnya datang. Namun yang ada dalam pikiranku, sakit ini masihlah lebih ringan dari yang akan saya hadapi nanti. 

Kemudian seorang perawat mendekati saya, mengatakan kalo saya persalinan ini ga bisa BPJS karena ga punya rujukan. What??? Kemarin waktu konsul di dokter obgyn PMI katanya ga mesti pake rujukan. Langsung ke Emergency saja. Sang perawat pun ngomong lagi, kalo SC baru ditanggung BPJS. Ah, drama apa lagi ini? Padahal milih PMI karena bisa BPJS. Saya cuma mengangguk bloon menanyakan harga kalo jadi pasien umum. 

Saya sudah berniat kabur ke bidan kalo-kalo ga dijamin BPJS, sayangnya ayah udah ga keliatan batang idungnya setelah saya cari diluar sambil menahan kontraksi yang makin menyerikan. 

Sang perawat udah negur soalnya saya masih mondar-mandir nyari suami. Terpaksa balik lagi ke ranjang terus kembali menikmati kenyerian. Saya pasrah aja kalo masuk pasien umum. Meski hitungan harga melahirkan kadang sampai puluhan juta meski normal. 

Sampai saya dibawa ke ruang bersalin, Ara dan ayah belum keliatan. Tingkat kehausan udah level dehidrasi. Tingkat nyeri level I can't hold it anymore but im trying. Dua bidan datang mengecek detak jantungmu. Menanyakan kapan haid terakhir ( yang aku lupa tepatnya), kapan konsul terakhir, hpl nya kapan, keluar lendir jam berapa, mulai kontraksi kapan, air ketuban pecah atau tidak. Ah too many questions.Bisa ngedan sekarang ga?, saya balik bertanya. "Tarik napas panjang,bu", sarannya. Aaaarrgghhh

Sang bidan memeriksa pembukaannya. Kalo ga salah sih dia bilangnya 4, heh!!!! Kok rasanya udah sakit banget kayak mo meledak? Saya tak bertanya lebih jauh lagi. Pengen teriak aja "get this baby out from my tummy". 

Tarik nafas bu, kata bidan magangnya. Hah huh hah huh. Ga mempan. Napasku udah pendek-pendek. Rasanya udah sesak aja. Kemudian paramedis mengeluarkan peralatan perangnya. Lampu sorot, alas buat lahiran, dan berbagai barang-barang kecil di nampan. 

Ngedan aja bu, katanya. Tiap kerasa kontraksi ngedan aja, lanjutnya. Tapi seberapa pun kuatnya mengedan selalu salah. Sang bidan nyampur bahasa sunda memberikan instruksi yang benar. Aduh, saya butuh subtitle. Somehow entah dia bilang ngajak atau apa, saya bertanya balik itu artinya apa. Dengan muka datar dia menjawab "ngedan bu". Jiaahhh.  Si bidan ngasih petunjuk posisi yang benar. Tarik kaki hinggg lutut sejajar bahu, lihat perut, kemudian saksikan kepada baby mulai muncul perlahan. Oh my God!!!!  Cant hold it. Melihat kepalamu sedikit-sedikit keluar kok rasanya tambah sakit.  Saya memilih menutup mata. Mengedan sesuai kemampuan dengan napas pendek. Hingga akhirnya saya pengen nyerah aja. Angkat bendera putih terus minta di SC. Untungnya, bidan dan perawat yang membantu terus menyemangati untuk ngedan. "Harus bisa bu. Ayo!", katanya. "Ngedannya kayak mau pup. Bukan lewat mulut". Ah, sekalipun sudah pernah melahirkan sebelumnya, instruksi untuk mengedan kayak pup selalu terasa sulit apalagi si bayi keluarnya dari vagina bukan dari anus. 


Pukul 00.48, Dengan sisa tenaga yang ada, saya berusaha sekuat mungkin untuk mengedan. Hingga saya merasakan sesuatu keluar dan ditarik dari dalam perut. Seketika itu juga dirimu yang mungil penuh lendir, darah, berwarna putih kemerahan, diangkat oleh sang bidan. "Perempuan. Selamat ya"katanya. 

Lega. Bahagia. Sakit. Mix feeling pokoknya. Kemudian paramedis membuka seluruh pakaianku dan membiarkan saya hanya berselimut. Kamu  dibaringkan dadaku. Ow,that was the most beautiful thing i ever done. Amazing! 
Sembari paramedis menyelesaikan pekerjaannya menjahit robekan di vagina, saya menikmati moment IMD bersamamu, Anna. Waktu melahirkan kakakmu di rumah sakit ibu dan anak di Makassar, saya tidak merasakan  skin to skin dengan Ara.  Saya menggendong bayi Ara ketika ia sudah dibersihkan dan dibedong. 

Sementara di RS PMI Bogor, kesempatan Inisiasi Menyusu Dini benar-benar diberikan kepada ibu dan anak. Tanpa proses meminta secara khusus. Ketika bayi lahir, seketika itu juga proses IMD dilakukan. Ajaib dan menakjubkan! Bayi Anna bergerak mencari puting susu. Bibirnta mengecap-mengecap dan membaui. 

Sakitnya dianestesi dan lamanya jahitan tak ada bandingannya, ketika saya memiliki pemandangan yang begitu indah di atas dada saya. Sayangnya moment IMD itu tidak bisa saya bagi dengan suami dan Ara. Mereka sibuk mengurus administrasi rumah sakit sementara saya berjuang mengeluarkan bayi dari dalam perut. 

Baru ketika paramedis menyelesaikan pekerjaannya, bayi Anna diangkat dari dada saya. Ia bahkan sempat pup diatas perut saya. Kemudian dia dibersihkan, dipakaian baju dan bedong. 

Ara begitu senang dengan kelahiran adiknya. Ketika saya dan ayahnya kelelahan di subuh hari itu, ia masih saja riang menengok adiknya yang ada disampingku. Kata dokter kandungan ketika visite kemarin pagi, pembukaan rahim waktu kami tiba di rumah sakit telah mencapai angka 9. Wow, rasanya sakitnya tidak semelilit waktu melahirkan anak pertama. Mungkin karena anak pertama diberi induksi dua kali. Yang sakit adalah moment saya melahirkan. Lebih sakit dari yang pertama. I guess, every pregnancy have different story. 

Akhirnya penantian sembilan bulan dalam kandungan dan hari-hari di tahun-tahun sebelumnya terbayar sudah. Seorang bayi kecil perempuan menjadi anggota keluarga baru kami. Tetap dengan zodiak Leo dan menjadi tim agustus. 

Bayi kecil adalah kamu. Kami beri nama Anna Dara Makeishana. Anak perempuan yang cantik. 

Bogor, 5 Agustus 2016
Images

Perempuan Yang Mengetuk di Petang Hari


 Matahari perlahan tenggelam di horizon. Langit sore itu lebih gelap dari biasanya. Gemuruh guntur bersahut-sahutan. Pertanda hujan deras akan menghiasi langit dan membasahi bumi petang itu. Rintik hujan mulai terdengar satu-satu di atas genteng. 

Pintu dan jendela kututup lebih awal meski sore belum menua. Aku menemani anak semata wayangku menonton serial favoritnya, ketika seseorang mengetuk pintu rumah. Entah siapa. Saya tidak mengharapkan kedatangan seseorang. Tak mungkin juga teman suami, karena ia sedang keluar kota. 

Saya membiarkan bunyi ketukan itu menggantung di udara. Sebuah salam sayup-sayup terdengar. Saya bergeming. Menunggunya untuk berlalu. Seperti yang sering saya lakukan pada pedagang door to door yang selalu menjajakan jualannya. Tapi tak biasanya penjual door to door datang se sore ini. Rata-rata pagi atau siang hari. 

Saya masih bergeming. Suara ketukan dan salam itu tidak beranjak juga. Tetap berdiri di balik pintu memohon untuk di buka. Saya menggerakkan tubuhku, menjawab salam sembari mengintip dari jendela. 

Seorang perempuan dengan kerudung hitam panjang. Kubuka daun pintu. Perempuan itu adalaha satu dari pedagang yang sering menjajakan jualannya di kompleks ini. Ia menjual keripik pisang yang dihargai Rp. 15.000/bungkus. Sekali pernah saya membeli dagangannya. Waktu itu ia sembari menggendong anaknya yang berumur setahun. 

Namun sore itu ia tidak menggendong anaknya. Tidak pula membawa kantongan besar berisi kiripik pisang. Mukanya tampak pias meski kulitnya kecoklatan. "Kenapa ya bu?", tanyaku. Kemudian ia menceritakan maksud kedatangannya. 

Anaknya yang perempuan itu sakit mencret. Ia membawanya ke klinik tempat tinggalnya. Sudah sembuh dan akan keluar dari klinik. Sayangnya uang untuk biaya berobat tidak cukup. Ia harus membayar Rp. 175.000 untuk menebus obat-obatan. "Kurang Rp.50.000" katanya memelas. 

Ia bermaksud meminjam uang untuk kekurangan tersebut. "Hari ini sebenarnya mau jualan, bu, tapi anak sakit jadi ga bisa", katanya. "Ga urus BPJS atau jamkesmas?", tanyaku. " Cuma tinggal berdua sama anak. Jualan juga jadi nda sempat ngurus begituan", katanya lagi. 

Saya tak tahu siapa namanya. Yang saya tahu hanyalah ia tinggal di Sukaraja Kaum dan berjualan keripik pisang. Kadang dengan jalan kaki, kadang juga dengan sepeda motor. 

Kurogoh dompetku, hanya ada uang tunai Rp.30.000. "Bu, maaf ya cuma ada Rp.30.000. Tadi nda sempat ambil tunai di ATM", kataku. "Ga pha2 bu, nanti Rp.20.000 aku cari di tempat lain", katanya. 

"Semoga cepat sembuh", kataku sambil menyerahkan uang. Mukanya tampak cerah. Kami bersalaman dan ia mencium tanganku. "Nanti saya bawa kripik ke sini, bu", katanya sebelum pergi. 

Ara menghampiriku sesaat setelah sang perempuan itu berlalu."Kenapa Ma? Kenapa dia minta tolong?", tanyanya. "Kalo ada orang minta tolong, maka kita harus...", tanyaku. "Menolong", katanya. 

Di luar rintik hujan kian deras....

Bogor, 25 Mei 2016
Images

Dear My Baby Bump


Apa kabar bayi kecil dalam perut? Do you feel comfortable in my belly? Semoga kamu baik dan sehat selalu. Maafkan mama jika jarang menengokmu lewat USG dokter. How old are you now? Kamu terasa sudah begitu besar dalam perut. Terasa sesak apalagi kalo kamu sudah mulai gerak-gerak dan ngulik-ngulik. Meminjam istilah kakak Ara “Amazing”.

Menginjak usia delapan bulanmu dalam kandungan, kami belum tahu jenis kelaminmu apa. Terakhir ketemu dokter kamu dengan misteriusnya menyembunyikan jenis kelaminmu. Mama dan ayah maunya sih kamu anak laki-laki. Sebab namun untuk anak laki-laki telah disiapkan bersamaan dengan nama kakakmu. Tapi kakakmu Ara ingin kamu jadi adek cewek.  Awalnya sih dia mau adek cowok, terus ganti maunya adek cewek. Kemudian maunya adek cowok lagi. Kalo ditanya dia bakal bilang “aku maunya dua. Brother and Sister. Kayak Dora”.

Jika kamu cewek, mama dan ayah harus kreatif mencarikanmu nama. Maunya pake bahasa Sansekerta, tapi pengennya ada unsur Wolio dan Bugisnya. Nah, bingung tuh. Hahaha.
Tapi apapun itu, kamu cewek atau cewek, mama dan ayah bahagia memilikimu. Cant wait to see and so does your sister. So, tetap sehat anak sayang. Till I meet u, hold u, and embrace u.


Images

Bersekolah di Tunas Mulia

acara kartinian di Tunas Mulia

Setahun sudah Ara bersekolah di Taman Kanak-Kanak Islam Tunas Mulia, Bogor. Tahun kemarin ia duduk di kelas A1. Tahun ini dia bakal duduk di kelas B. Setahun lalu di pertengahan tahun seperti sekarang ini, rasanya begitu galau mencari sekolah buat Ara. Di Bogor ini bertaburan sekolah Taman Kanak-Kanak. Mulai dari yang pakai bilingual, sekolah alam, hingga Islam Terpadu. Belum lagi uang pangkalnya yang memiliki tingkatan yang mulai dari yang murah, menengah, hingga mahal bingits.

Beberapa sekolah yang cukup menarik perhatian pas di kurikulum tapi kemahalan di harga. Ada yang mematok harga uang pangkal 10 juta dengan SPP perbulan bisa mencapai angka satu juta rupiah. Nominal rupiah yang cukup bikin kantong menangis untuk sebuah sekolah taman kanak-kanak.

Kriteria sekolah yang saya dan suami cari sih sebenarnya sederhana. Ga perlu belajar baca tulis hitung dulu yang penting belajar ngaji aja. Soalnya mencari guru ngaji itu susah. Di sekolah-sekolah yang kami datangi tidak memberikan pelajaran membaca Iqra.  Hanya pengenalan huruf Hijaiyyah tanpa pembelajaran intens.

Hingga suatu hari seorang teman merekomendasikan sebuah TK  bernama Tunas Mulia di daerah Bogor Baru. Yang dapat diakses sekali angkot dari rumah. Iseng-iseng berkunjung, ternyata kurikulum pendidikannya sesuai dengan ekspetasi kami.  Ada pelajaran membaca Iqra setiap hari dan belajar sholat. Selain itu harganya pun hanya sepertiga dari harga TK-TK mahal di Bogor. Tanpa pikir panjang, kami mendaftarkan Ara di Tunas Mulia.

Selain pelajaran Iqra dan Sholat, ada juga pelajaran sains sederhana seperti membuat gunung meletus atau menanam kacang hijau. Mereka juga belajar berkreasi dengan playdoh. Membuat prakarya. Mengunjungi kantor polisi atau kantor pos, kelas menggambar, hingga cooking class. Sedangkan berhitung dan mengenal huruf diajarkan dengan cara yang menyenangkan. Tak ada pekerjaan rumah untuk anak kelas A. Program pesantren kilat saat Ramadhan pun mengasikkan. Salah satunya membuat kartu ucapan selamat idul fitri yang dikirim lewat pos untuk orang tua. Sukses membuat saya dan ayahnya terharu. Hahahaha

Selain aula sekolah yang cukup luas untuk anak-anak bermain indoor, juga terdapat area bermain outdoor yang penuh dengan mainan anak-anak dengan pohon-pohon yang cukup rindang. Guru-gurunya pun mengasyikkan. Sangat sabar menghadapi anak-anak. Ibu guru Ara bernama ibu Ima. Meski Ara termasuk anak yang cukup cengeng dan manja, tapi ibu Ima tidak pernah ngeluh hadapinnya.  Satu hal lagi yang menyenangkan menyekolahkan Ara di Tunas Mulia, anak muridnya tidak terlalu banyak sehingga guru-gurunya tidak terlalu kewalahan menghadapi anak-anak yang bejibun.

Tahun ini Ara akan melanjutkan kelas B di Tunas Mulia. Masih belum tahu nih dia bakal nunggu usia 7 tahun terus masuk SD atau tahun depan aja masuk SD. Yang pasti mencari SD bakal lebih galau daripada mencari Taman Kanak-Kanak. Kali ini dengan dua pilihan, sekolah Swasta dengan harga selangit atau Sekolah Negeri dengan minimal usia 6,5 tahun.


Depok, 29 Juni 2016
Images

Hamil dan Puasa. Why Not?


Sanggup tidak ya ga makan seharian pas hamil?
 Lapar sedikit saat hamil udah kayak mo pingsan aja, apalagi kalo harus puasa?

Pertanyaan-pertanyaan itu cukup menganggu pikiran sesaat sebelum memasuki bulan puasa tahun ini. Kehamilanku sudah memasuki usia 7 bulan.  Beberapa hari sebelumnya sempat mengalami semaput, penglihatan menggelap, mata berkunang-kunang karena kekurangan asupan makanan. Bisa nda ya puasa?

Saya tidak pernah menjalani puasa saat kehamilan pertama. Ara keburu lahir pada hari pertama puasa. Jadinya mau ga mau ya tidak puasa karena nifas. Bulan puasa kali ini terasa berbeda. Dengan perut semakin membuncit dan pengalaman kepayahan hampir pingsan karena kelaparan membuat saya ragu untuk berpuasa.

Tapi, berbekal niat untuk berpuasa dan keinginan untuk menguji daya tahan tubuh, maka saya pun ikut berpuasa di hari pertama Ramadan. Alhamdulillah, tidak ada halangan sama sekali. Tak merasa kepayahan hingga mata berkunang-kunang. Janinnya pun anteng aja dalam perut. Malahan suami yang ngos-ngosan di hari pertama puasa.

Puasa kedua pun demikian. Hingga, pada Ramadan ke 20 masih kuat berpuasanya. Meski semakin hari perut terasa makin gede dan janin lebih aktif. Namun efek mo pingsan dan semaput malah tidak terasa sama sekali. Mungkin karena sahur cukup teratur dan tidak terlalu kecapaian pada siang hari. Ara yang sedang libur sekolah pun tidak perlu diantar jemput. Jadinya lebih nyantai dan tidak bergegas.

Sesekali terasa sesak sih. Perut juga tegang. Adek bayi dalam perut juga suka nendang-nendang. Tapi so far semua masih bisa dijalani dengan baik.  Ketakutan akan tidak kuat menahan lapar dan haus ternyata cuma ada dalam pikiran aja. Setelah dijalani, Praise God, semua tidak memberatkan.

Semoga tidak bolong hingga Ramadan hari terakhir. Semoga janin sehat dan merasakan manfaat puasa. Amin.


Bogor, 25 Juni 2016 / 20 Ramadan 1437 H
Images

Perempuan Yang Mengetuk di Petang Hari


 Matahari perlahan tenggelam di horizon. Langit sore itu lebih gelap dari biasanya. Gemuruh guntur bersahut-sahutan. Pertanda hujan deras akan menghiasi langit dan membasahi bumi petang itu. Rintik hujan mulai terdengar satu-satu di atas genteng. 

Pintu dan jendela kututup lebih awal meski sore belum menua. Aku menemani anak semata wayangku menonton serial favoritnya, ketika seseorang mengetuk pintu rumah. Entah siapa. Saya tidak mengharapkan kedatangan seseorang. Tak mungkin juga teman suami, karena ia sedang keluar kota. 

Saya membiarkan bunyi ketukan itu menggantung di udara. Sebuah salam sayup-sayup terdengar. Saya bergeming. Menunggunya untuk berlalu. Seperti yang sering saya lakukan pada pedagang door to door yang selalu menjajakan jualannya. Tapi tak biasanya penjual door to door datang se sore ini. Rata-rata pagi atau siang hari. 

Saya masih bergeming. Suara ketukan dan salam itu tidak beranjak juga. Tetap berdiri di balik pintu memohon untuk di buka. Saya menggerakkan tubuhku, menjawab salam sembari mengintip dari jendela. 

Seorang perempuan dengan kerudung hitam panjang. Kubuka daun pintu. Perempuan itu adalaha satu dari pedagang yang sering menjajakan jualannya di kompleks ini. Ia menjual keripik pisang yang dihargai Rp. 15.000/bungkus. Sekali pernah saya membeli dagangannya. Waktu itu ia sembari menggendong anaknya yang berumur setahun. 

Namun sore itu ia tidak menggendong anaknya. Tidak pula membawa kantongan besar berisi kiripik pisang. Mukanya tampak pias meski kulitnya kecoklatan. "Kenapa ya bu?", tanyaku. Kemudian ia menceritakan maksud kedatangannya. 

Anaknya yang perempuan itu sakit mencret. Ia membawanya ke klinik tempat tinggalnya. Sudah sembuh dan akan keluar dari klinik. Sayangnya uang untuk biaya berobat tidak cukup. Ia harus membayar Rp. 175.000 untuk menebus obat-obatan. "Kurang Rp.50.000" katanya memelas. 

Ia bermaksud meminjam uang untuk kekurangan tersebut. "Hari ini sebenarnya mau jualan, bu, tapi anak sakit jadi ga bisa", katanya. "Ga urus BPJS atau jamkesmas?", tanyaku. " Cuma tinggal berdua sama anak. Jualan juga jadi nda sempat ngurus begituan", katanya lagi. 

Saya tak tahu siapa namanya. Yang saya tahu hanyalah ia tinggal di Sukaraja Kaum dan berjualan keripik pisang. Kadang dengan jalan kaki, kadang juga dengan sepeda motor. 

Kurogoh dompetku, hanya ada uang tunai Rp.30.000. "Bu, maaf ya cuma ada Rp.30.000. Tadi nda sempat ambil tunai di ATM", kataku. "Ga pha2 bu, nanti Rp.20.000 aku cari di tempat lain", katanya. 

"Semoga cepat sembuh", kataku sambil menyerahkan uang. Mukanya tampak cerah. Kami bersalaman dan ia mencium tanganku. "Nanti saya bawa kripik ke sini, bu", katanya sebelum pergi. 

Ara menghampiriku sesaat setelah sang perempuan itu berlalu."Kenapa Ma? Kenapa dia minta tolong?", tanyanya. "Kalo ada orang minta tolong, maka kita harus...", tanyaku. "Menolong", katanya. 

Di luar rintik hujan kian deras....

Bogor, 25 Mei 2016
Images

Korean Cool : Resep Rahasia Korea Meracik Hallyu


Suatu waktu Emma Stone diundang ke Conan Show. Ia membincangkan tentang film terbaru, karir, hingga lagu favoritnya. Dengan penuh percaya diri ia menyanyikan sepenggal lirik lagu sambil berjoget-joget. Ia tidak menyanyi dalam bahasa Inggris. Ia malah menyanyikan satu hits dari girls’ generation yang sama sekali ia tak paham artinya. “Saya hanya mengulang pada bagian yang berbahasa Inggris. Selebihnya saya tidak paham. Tapi saya menyukai musik dan koreografinya”, katanya. “It so addictive” tambahnya. 

Phenomena budaya Hallyu atau Korean Wave mewabah di seluruh dunia.  Pria-pria bercelak mata dan bergoyang penuh harmoni. Gadis-gadis dengan kaki jenjang yang putih dan tampak cantik. Drama-drama bertabur actor aktris rupawan dengan cerita cinta yang menggemaskan, serta hidangan sawi putih yang difermentasi. 

Mari melihat ke belakang sejenak. Korea Selatan tahun 1980an tidak ada bedanya dengan Negara dunia ketiga lainnya.  Imunisasi di sekolah dengan jarum yang sama untuk semua siswa yang disterilkan dengan api lilin. Toilet jongkok tanpa system penyiraman. Serta mengumpulkan kotoran untuk tes cacingan. Namun, sejak krisis ekonomi Asia tahun 1990an, Korea Selatan bertekad mengubah Negara dari dalam ke luar secara social, budaya dan mental (Hal.10). 

Tekad kuat inilah yang menjadikan Hallyu menjadi soft power Korea di pentas dunia. orang korea menyebutnya Han. Han tidak memililki padanan kata dalam bahasa Inggris. Han bisa diartikan sebagai dendam yang kuat yang menjadi turun temurun namun tidak berisfat buruk. Kuatnya Han di Korea dipengaruhi oleh sejarahnya yang selalu menjadi bangsa inferior. Dijajah oleh Jepang menjadikan Korea Selatan melihat Jepang sebagai Negara yang harus ditaklukkan dengan soft power ini.

Korean Cool, Strategi Inovatif di Balik Ledakan Budaya Pop Korea mengupas tuntas tentang bagaimana peran pemerintah mendorong budaya pop Korea atau Hallyu menjadi budaya pop yang dikagumi dunia. Di buku ini, dijelaskan para aktris Korea bukanlah artis karbitan yang langsung bergoyang di depan kamera dengan modal tampan tapi melewati proses belajar bertahun-tahun yang sangat konsisten dibawah kontrak yang serupa perbudakan. 

Kerja sama antara pihak swasta dan pemerintah dalam mengembangkan industry pop Korea patut diacungi jempol. Dengan investasi yang besar-besaran mereka berhasil membawa Korean Wave digandrungi di seluruh dunia. tak hanya menjadikan K pop sebagai bagian dari kekinian tapi menjadikan Korea Selatan sebagai brand. 

Mengutip sebuah jawaban dari pertanyaan di buku ini, apa yang menurut orang Asia keren dari Korea?
“Apa yang  tidak keren dari Korea? Korea adalah tempatnya produk elektronik canggih, wanita-wanita cantik berkaki jenjang, pria-pria yang memiliki sisi emosional kuat serta otot dan wajah tampan”. (Hal .214).

Jawaban tersebut cukup merangkum mengapa kebanyakan dari kita menggunakan handphone merek Samsung sambil termehek-mehek menonton drama korea. Euny Hong menulis buku ini dengan ringan dan jenaka. Sebagai orang Korea yang lahir di Amerika dan pernah hidup di Korea Selatan pada masa remajanya, kenangan-kenangan masa kecilnya akan Gangnam menjadikan buku ini terasa lebih personal. 

Buat kamu para penggemar Hallyu, bolehlah menjadikan buku ini sebagai bacaan tambahan untuk memahami fenomena budaya dan mengapa anda bisa tersihir olehnya. 

Selamat membaca. (*)

Bogor, 13 April 2016