Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2010

Kenangan

Tempat terjauh dari diri bernama kenangan. Kalimat ini kutemukan disebuah puisi yang diterbitkan harian Fajar waktu aku SMA. Dituliskan oleh Sudirman HN. Beruntungnya aku bisa berteman dengan sang penulis meski lewat Fesbuk dan belum pernah bertemu hingga saat ini.
Saat itu kalimat ini membuatku berpikir bahwa ia benar adanya. Kenangan adalah tempat terjauh yang tak bisa terjangkau. Ia mungkin terasa dekat. Karena tiap manusia memilikinya di dalam benak. Namun kemudian, aku ataupun kamu tak pernah bisa kembali ke saat itu. Ke waktu, tempat, dan kondisi saat kenangan itu dibuat.
Aku memiliki pembagian waktu dalam definisiku. Hari ini,kemarin, dan yang akan datang. Aku selalu menikmati untuk mereka-reka masa depan itu seperti apa. Aku sibuk mengkhayalkan akan dan bagaimana kelak jika aku berada di waktu itu.Aku sibuk bermimpi. Sibuk berekspektasi. Sibuk berharap agar waktu tiba di saat itu.
Dan kemudian ketika aku tiba di saat itu. Ada ekspetasi yang menjadi nyata tapi tak jarang jauh dari…

September Datang

September datang. Ini bulan ke Sembilan di tahun ini. Gerak alam masih tetap sama. Berusaha mencari keseimbangan-keseimbangan baru. Hidupku demikian. Bergerak untuk mencari titik-titik berpijak. Agustus tahun ini menjadi sebuah bulan penuh kejutan buatku. Banyak rasa yang tercampur. Banyak tempat yang kukunjungi. Dan banyak hati yang kucintai. 
Hari baru telah datang kata Celine Dion. Tapi masih banyak pekerjaan rumah yang masih berusaha diselesaikan. Masih banyak janji yang belum ditepati. Blog ini menjadi sebuah tempat hati menemukan ketenangan. Tapi baru kusadari ada kala dimana rasa tak perlu disimpan dalam blog ini. Ini bukanlah pensieve penyimpan memori yang sangat tertutup. Ia juga bukan buku diary bergembok seperti masa kanak-kanak dulu. 
Tapi ia seperti tempat kontemplatif. Tempat meneruskan tradisi kuno merekam jejak. Menulis catatan-catatan. Bulan lalu tulisan yang kuposting hanyalah 21 tulisan. Lebih sedikit dari Juli dimana aku menuliskan 28 tulisan. Masih juga lebih sedik…

Merekam Bau-Bau

Aku belum terlalu sering melakukan perjalanan. Paling jauh yang pernah kujangkau adalah Bali. Aku menyukai traveling. Berada di tempat baru. Melihat alam. Melihat budaya. Aku selalu menganggap hal-hal yang seperti itu sangat eksotik. Sesuatu yang menjadi ciri khas yang tak kau temukan di tempat lain. Sesuatu yang ketika kamu melihatnya kamu kagum, terpesona, mensyukuri masih bisa melihatnya dan member apresiasi terhadap itu.
Bau-bau menjadi kota kedua yang kudatangi. Ini menjadi salah satu perjalananku yang lumayan jauh dari rumah. Aku ke kota ini karena suamiku adalah orang asli sini. Aku ke sini dengan tujuan untuk life in. Tinggal dan menetap. Tapi entah mengapa perjalanan pertama ini aku menganggap ini adalah sebuah pelancongan. Berlibur dan jalan-jalan.
Mari kukenalkan padamu tentang Bau-Bau. Kota ini berada di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Di Indonesia pulau ini tidaklah terlalu terkenal. Wisatawan mancanegara hanya tahu pulau Bali atau Tana Toraja di Sul-Sel. Sebelum pemekara…

Rumah

Pulang ke rumah selalu membawa rasa yang membahagiakan. Ia memang tak serupa kota besar yang menawarkan banyak kelap-kelip lampu. Deru kendaraan yang hilir mudik yang memolusikan udara. Tak ada manusia-manusia yang bergegas. Tak ada pusat-pusat perbelanjaan yang selalu menjadi tempat berlari untuk mencari sunyi dalam keramaian. 
Tapi ia selalu menawarkan hangat yang takkan kau dapatkan di tempat lain.Ia membungkus kenangan-kenangan masa kecilmu. Membuat kenangan-kenangan baru. Selau menawarkan hangatnya percakapan meja makan yang selalu menyenangkan. Rasanya begitu lama meninggalkan rumah ini. Waktu mungkin tidaklah terlalu lama. Tapi waktu dalam relativitas hidupku memaknainya dalam sebuah kekosongan. Aku seperti telah melakukan perjalanan jauh ke tempat yang tak kuketahui dan tiba-tiba kembali pulang ke rumah.
Aku merasakan kedinginan dalam perjalanan itu namun seperti sebuah selimut hangat kecil yang selalu menyenangkan saat kecil bergambar mike mouse yang terasa hangat dan melindun…

Merefresh Playlist

Playlist itu sudah menua. Sudah terlalu sering aku dengar. Menjadi sebuah lullaby jika aku ingin tertidur dan merasakan kedamaian. Telingaku mulai tak ingin mendengarnya. Sudah terlalu banyak alunan nada yang mengingatkan pada banyak kisah. Ada bahagia, ada sedih. Ada tentang seorang kawan. Ada juga tentang cinta.
Aku perlu mengatur ulang daftar di dalamnya. Hidupku butuh soundtrack yang baru. Bukan lagi serenade yang menumpuk banyak kenangan. Aku tak lagi ingin mengingat kenangan. Aku ingin membuat kenangan baru. Musik-musik itu telah kelebihan memori untuk menampung montase-montase baru dari hidupku.
Ada beberapa gambar yang perlu aku lepas. Membiarkannya sejenak mengendap bersama lagu yang mungkin lagi tak ingin aku dengar untuk saat ini. Mungkin kelak jika aku berjalan di suatu tempat pada suatu masa, dan mendengar alunan musik itu aku berharap kenangan itu bias kembali menyeruak seperti bunga yang bermekaran di musim semi. Dan aku akan tersenyum mengingat cuplikan-cuplikan gambar …

Aku Ingin Memelukmu

Aku ingin memelukmu Merasakan hangatmu Menebak apakah aku harus berjinjit saat memelukmu Kau masih sama seperti dulu Saat pertama aku mengenal dunia Kau serupa jendela kecil yang kugunakan untuk mengintip dunia Aku bertumbuh dengan imaji akanmu Dititik ini aku tersadar bahwa dirimu pun adalah sebuah gerak Aku belajar melepaskanmu pergi Aku ingin memelukmu Sekali saja…agar aku tahu dirimu adalah sebuah nyata
( Untuk seseorang yang kupanggil "Pangeran Impian")

Kande-Kandea Di Keraton Buton

Para gadis-gadis memperbaiki dandannya. Mempersiapkan nampan-nampan berisi makanan di depan mereka. Mereka memakai baju adat kombo wolio khusus untuk para gadis perawan yang belum menikah. Sanggul khas di kepalanya sebagai penanda bahwa mereka adalah gadis-gadis yang belum menikah.
Mereka memperbaiki susunan makanan yang ada di depannya. Menata piring-piring dan gelas-gelas untuk para tamu yang akan duduk di depan mereka. Acara ini adalah acara Kande-kandea yang dalam arti bahasa wolio makan-makan. Acara ini biasanya diadakan untuk menyambut tamu, merayakan acara adat. Kali ini acara ini diadakan untuk menyambut para peserta Sail Indonesia yang berlabuh di di pantai Kamali, Bau-bau.
Sail Indonesia adalah sebuah acara pelayaran yang diikuti oleh 40 buah perahu yatch. Para pesertanya adalah turis asing yang berasal dari 14 negara. Mereka melakukan pelayaran di perairan Indonesia dan berlabuh di berbagai pulau yang menjadi rute mereka. Sebelum ke kota Bau-bau mereka terlebih dahulu singga…

Butuh Ketelatenan

Menulis itu butuh ketelatenan. Tak peduli kamu punya banyak inspirasi. Tak peduli sekeren apa cerita yang ada diimajinasimu. Namun jika kau tak memiliki ketelatenan, maaf saja tulisan itu tak pernah akan terlihat wujudnya dan dibaca oleh dirimu sendiri atau orang lain.
Menulis itu butuh kedisiplinan tinggi. Karena jika tidak tulisan itu takkan pernah dimulai dan diakhiri. Bisa jadi ia bahkan tak berwujud sama sekali. Menulis adalah seperti proses bercinta dengan imajinasi. Kemudian mengandung idenya. Melahirkannya lewat tulisan. Seperti layaknya anak penulis selalu berharap agar anaknya baik rupa dan menyenangkan. Namun ada kalanya ia lahir dengan kecatatan dan tidak memuaskan hati. Tapi pada akhirnya ia adalah anak kandung sang penulis. Lahir dari pergolakan ide dan imajinasi.
Menulis seperti sebuah jalan panjang menuju rumah. Selalu banyak petualangan yang ditemukan di jalan. Tapi kadang ada saat sang penulis yang menjadi kesatria tewas di dalam petualangannya. Terbunuh oleh kemalas…

Pelayaran Pertamaku

Seminggu lalu . Hmm….Sudah lewat 10 hari tepatnya. Aku tiba di kota ini. Kota bau-bau. Tepatnya di pulau Buton, Sulawesi Tenggara. Aku belum ingin menceritakan bagaimana kesanku tentang kota ini. Belum ditulisan ini. Aku ingin menceritakan pengalamanku tiba di kota ini. Sebuah perjuangan yang panjang dan perlu mengerluarkan mantra “nda bisa seperti Trinity”. 
Ke Bau-Bau adalah sebuah keharusan. Suamiku harus kerja dan aku harus ikut dengan suami. Tapi aku melabelinya dengan judul “On Vacation”. Setelah berkompromi untuk memenuhi segala kesenangan seperti berfoto hanbok di hari sabtu dan ngumpul dengan teman-teman di hari minggu dan menonton Jazz, Kak Yusran harus memilih hari Senin ( 9 Agustus 2010) untuk berangkat ke Bau-Bau. Ya, dengan pertimbangan bahwa semua kesenangan itu harus terpenuhi. Dengan sedikit ngotot dari saya (pakai ilmu manja).
Kapal yang ada adalah Kapal Motor (KM) Tilong Kabila. Menurut Kak Yusran, kapal ini adalah kapal yang paling kecil di antara teman-teman seja…

The Power Of The Dream

Aku jatuh cinta pada lagu ini. Lagu yang sering aku dengar di pelataran ex-kompa (Koperasi Mahasiswa) di lantai satu perpustakaan Unhas. Lagu ini sering diputar oleh anggota Unit Kegiatan Mahasiswa  Paduan Suara Mahasiswa (UKM PSM) Unhas. Mereka memutarnya di sebuah DVD dengan cuplikan video kemenangan mereka meraih medali emas di berbagai perlombaan paduan suara di luar negeri. 
Ya,UKM PSM Unhas ini atau biasa lebih sering disingkat dengan nama PSM Unhas adalah salah satu UKM yang menjadi kebanggaan Unhas. Mereka telah menorehkan banyak prestasi di kancah dunia yang mengharumkan nama Unhas. Tapi di sini aku tak ingin menjelaskan tentang PSM Unhas. Biarlah aku saja yang iri dengan prestasi mereka :)
Lagu itu berjudul The power of the dream. Theme song untuk olimpiade Atlanta 1996. Musik dan liriknya sangat menggugah. Menumbuhkan sebuah rasa optimis yang begitu kuat. Kadang ketika aku harus merefresh semangatku lagi aku kangen mendengar lagu ini. Dan baru kali ini aku benar-benar bisa me…

Percakapan Kita

Aku menyukai percakapan kita malam ini. Saat tanah basah dan becek oleh hujan yang baru saja reda. Saat bulan bersinar di antara awan berarak dengan sebuah bintang yang menemaninya. Saat malam terasa dingin dan kau meraih tanganku untuk memelukmu. Kita keliling kota. Melihat-lihat lampu kota. Melihat kelap-kelipnya serupa kunang-kunang. TIba-tiba aku ingat pada sebuah buku berjudul “Seribu kunang-kunang di Manhatan” karya Umar Kayam.
Kau memboncengku. Aku duduk di belakangmu. Memelukmu. Agar kau merasa hangat dan juga agar aku merasa hangat yang sama. Kita belum ingin pulang. Malam setelah hujan reda seperti membawa udara kebebasan bagi diri kita. Kita ingin menjelajahi kota. Ke bukit tertinggi. Lebih dekat dengan bulan. Dan melihat lebih banyak kunang-kunang lampu kota.
Kita bercakap tentang mimpi. Daftar-daftar mimpi yang telah kamu buat dulu. Lama sekali. Kau akhirnya menyadair bahwa tak pernah salah bermimpi itu. Teruslah bermimpi dan semesta akan membantumu mewujudkannya. Kau telah…

Tangis Bahagia Untukmu (Sekali Lagi)

Ada senyum tipis yang kau kulum dengan hati-hati di sudut bibirmu. Ada percik bahagia di sudut matamu. Aku tahu kau ingin berlari pada dunia menunjukkan betapa bahagianya dirimu. Ini adalah mimpi yang pernah kita andaikan dalam pesan-pesan singkat yang saling kita kirim. Pernah ada suatu masa di mana kita asyik bermimpi tentang keluarga kecil ini. Tentang mimpi-mimpi yang mungkin akan terjadi kelak. Kita serupa pemimpi hebat yang melontarkan jutaan daftar mimpi ke langit semesta. Kita tak pernah peduli apakah semesta akan membantu kita menjejakkan mimpi itu di bumi. Tapi kita telah bebahagia telah berani bermimpi.
Hari ini aku melihat ada binar di matamu. Binar yang berusaha kau jaga sehingga tidak menjadi luapan emosi yang berlebihan. Kau menatanya satu-satu.Tak ingin larut dalam euphoria ini. Kau belum ingin mengiyakan hingga benar kau melihat namamu pada daftar 50 orang itu. Pada kesempatan terakhir sebelum program ini ditutup.
Aku memimpikan tentang pengumuman itu dua hari lalu. A…

Ngelantur

Aku mengingatmu disini. Masih seperti dulu. Aku punya kenangan tentangmu. Ketika aku rindu aku hanya perlu untuk membaca kembali semua percakapan kita. Aku menyakiti diri. Ya, mungkin seperti itu. Hanya dengan seperti itu aku dapat menjangkaumu.
Aku ingin menarik diri dari orbitmu. Tapi dirimu ada dimana-mana. Di dalam playlistku, di dalam inbox handphoneku, di file-file tulisanku, dan juga bahkan kau telah membuat orbitmu sendiri di hatiku. Kau memenuhi semua rongga-rongga jiwaku.
Mungkin mengingatmu adalah sebuah proses ngelantur. Aku pusing. Dirimu seperti kunang-kunang yang berlari mengitari otakku. Sebentar lagi aku akan muntah karenanya. Entah ini jet lag, ship lag, atau apa. Huh…..

Suamiku Sayang

Aku membaca tulisanmu buatku. Tulisan yang aku yakini bukanlah tulisan yang penuh dramatisasi dan imajinatif yang khas dirimu. Aku yakin kau menulisnya dengan segenap rasa yang memadat dalam hatimu. Kau menulisnya dengan nafas-nafas cinta yang kau hirup. Yang membuatmu terus hidup dan menemaniku.
Tiap kalimat yang kau tulis memantik rasaku. Mengalirkan bening di mataku. Aku menangis karenamu. Karena cinta yang terus mengalir dari sungai hatimu.Tak pernah kering. Aku bahagia memilikimu. Dirimu selalu mampu hadir ditiap sedihku. Menjadi bijak ditiap raguku. Menjadi kawan yang menemani tertawa disetiap waktu aku mengayam hari. Kau menghormati tiap keinginanku. Mengabulkan tiap permintaanku. 
Kau tak pernah melarangku berlari sejauh yang aku mau. Ada saat dimana kau sangat tahu bahwa jika berdekatan denganmu aku akan berada d ititik kebosananku. Kau sangat memahami itu. Dan jika itu terjadi kau membiarkanku jauh darimu. membiarkanku kembali menanam rindu untukmu. Meski aku yakin kau tak me…

Peluk

Mungkin terlalu dramatis jika aku menganggapnya sebuah perpisahan. Seseorang selalu mengingatkanku bahwa selama dunia maya bernama internet tetap mampu kau jangkau, jejaring-jejaringmu antara dirimu dan kawan-kawanmu akan tetap terkoneksi. Ya, aku tak pernah tak bersepakat dengan itu. Tapi kepergian ini masih saja seperti sebuah ritual pergi jauh dan tak kembali. Jika sesekali kembali, itu pun hanya berkunjung dan tak tinggal lama. 
Ini seperti sebuah perjalanan yang lain lagi. Perjalanan yang benar-benar tak kembali lagi padamu. Bukankah hidup berjalan terus, dan seperti inilah garis yang aku tempuh. Jarak geografis membentang diantara aku denganmu. Ribuan mil. Ada lautan yang membentang diantara kita. Kita masih mungkin terkoneksi lewat sarana digital. Aku masih bisa berbagi kabar denganmu tiap saat. Entah itu via jejaring maya atau lewat sarana mobile phone. Kapanpun itu aku atau kamu masih bisa melakukannya.
Tapi entah mengapa, seperti hati ini telah ditandai bahwa ini adalah sebu…

Jazz di Rotterdam

Baru kali pertama aku menonton Jazz. Dan aku jatuh cinta pada musik ini. Minggu malam di Rotterdam diadakan acara Pra Makassar Etnojazz. Sebuah acara yang diadakan oleh komunitas jazz di Makassar untuk persiapan acara Jazz di Makassar. Seminggu lalu juga diadakan Jazz at Fort Rotterdam, sebuah pentas jazz tahunan yang dihadiri oleh musisi jazz nasional. Tapi saat itu tidak sempat hadir.
Acara ini seperti sebuah oase bagiku yang telah lama ingin menonton acara Jazz. Menyenangkan rasanya mendengar lagu dalam bahasa Bugis Makassar disajikan dalam alunan jazz yang bercampur dengan instrument music lokal. 
Malam menjadi tua. Langit bertabur bintang di atas Rotterdam. Angin berhembus dingin. Tapi music jazz terasa menghangatkan. Alunan musiknya membuat para penikmat tak diam menggoyangkan kepala atau kakinya ,mengikuti alunan ritme yang harmoni dalam sebuah keteracakan.

Enjoy Makassar

Makassar, selalu saja ada hal yang menyenangkan di antara sudut-sudut kotanya. Sabtu lalu, sebelum meninggalkan Makassar saya benar-benar menikmati apa yang kota ini mampu tawarkan. Selalu ada banyak kawan dan banyak tempat yang selalu menyenangi untuk dikunjungi.
Berfoto Hanbok Sesi foto hanbok dengan teman-teman dari Makassar Korean Lover adalah salah satu sesi yang paling saya tunggu. Saya terobsesi dengan menggenakan busana adat korea ini seperti halnya yukata lalu. Jika berfoto yukata kemarin saya harus menyiapkan banyak uang untuk tiap file foto yang terjepret, kali ini dengan modal murah aku bias bergaya dengan baju hanbok. Meski fotonya dibawah terik matahari dan harus make up sendiri. Tapi intinya kan lebih kepada busananya.Xixixixi.
Sudah lama aku menginginkan mengganti foto profil andalanku yang beryukata itu. Menggunakan baju korea adalah salah satu pilihannya. Alternatif lainnnya adalah menggunakan baju Cina. Sudah keluar masuk studio foto tak ada yang menyediakan baju han…

...........

Kau selalu berusaha memastikan apakah aku bahagia Memastikan apakah aku baik-baik saja Menanyakan apakah aku cukup hangat, tidak merasa pusing, tidak kesepian, tidak kehujanan, dan nyaman saat bersamamu Kau selalu berupaya memenuhi definisi bahagiaku Tak pernah melarangku melakukan apapun selama itu masih bias membuatku tersenyum Selama itu masih membuatku bisa tertawa Kau tak pernah mempermasalahkan bagaimana definisi bahagia menurutku Asalkan kau telah mampu melihatku tertawa riang, maka itulah definisi bahagiamu Ada saat di mana aku tak benar-benar memikirkanmu Ada saat di mana aku benar-benar tak mendapati hati yang mencintaimu Tapi kau selalu berusaha untuk membuatku baik-baik saja Bergerak dalam kendali mauku Kau selalu ada meski hati ini menjadi kryptonite bagiku Cintamu tak pernah lekang….aku benar-benar telah begitu egois padamu.

Sahabat

Aku bertemu banyak orang. Beberapa diantaranya begitu dekat. Selalu ada yang beda diantara orang-orang tersebut. Tiap interaksi memiliki cerita lain. Seperti membaca cerpen-cerpen seru jika bertemu orang yang berbeda. Kadang ada yang membuat tertarik hanya karena cerita yang disajikan begitu menyenangkan. Kadang pula ada yang hanya sekali terbaca ceritanya dan kemudian meninggalkannya karena tidak terlalu menikmati cerita yang ditawarkan.
Selalu ada cerita ditiap orang. Aku selalu berusaha menyimpan kisah-kisah yang aku senangi. Kadang aku berperan sebagai peneliti yang menuliskan catatan hasil lapanganku setelah berinteraksi dengan orang lain. Beberapa menjadi catatan favorit. Beberapa bahkan kuselami lebih jauh ceritanya. Beberapa kulibatkan lebih jauh dalam hidupku dan kuberi label dengan tulisan “sahabat”.

Mengingat Seseorang

Karena dirimu adalah padang hati yang hanya mampu aku jangkau sendiri.  Bukan orang lain.  Aku disini tetap mencintaimu hingga kapanpun......

Picture of My Wedding

Penulis Selalu Sendiri

Aku menemukan kesempilan itu beberapa saat lalu. Saat aku berada di tengah keramaian dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Merangkai cerita lain yang berbeda dengan lokasiku berdiri. Penulis akan selalu sendiri memulai cerita dan mengakhiri ceritanya.

Ia tak bisa memaksa ruang-ruang yang menginspirasinya membeku sesuai dengan keinginannya. Dan ia selayaknya pelukis menggores tintanya di atas kanvas. Seorang penulis adalah sosok yang sendirian ditengah hiruk pikuk dunia yang mungkin menginspirasinya sesaat.

Ada kala ketika ia terjebak dalam mood yang membahayakan, ruang-ruang realitas yang menginspirasi menjadi ruang-ruang yang menjebak. Mood menguasai keinginannya untuk menulis. Mood mengendalikan rasa optimis dalam iwanyauntuk memulai mengguratkan sebuah kalimat. Ia terjebak pada reaiitas yang mencair sehingga inspirasi dalam imajinya ikut mencair. Meleleh seperti es di daerah kutub utara.

Penulis tak mampu memaksa realitas menunggunya. Ia butuh mengekesekusi dan membekukan inspirasi da…

Aku Menikah Dengan Pria Yang….

Mari kuperkenalkan padamu suamiku. Namanya Yusran Darmawan. Setiap pembaca blog ini mungkin sudah mengenalnya. Aku terlalu sering menyebutkan namanya. Kalo pun tidak menyebutkan namanya, yakinlah bahwa setengah isi tulisan dari blog ini adalah terinspirasi darinya.

Ibu mertua kakakku menanyakan padaku apa yang membuatku menyukainya. Menjalani hubungan dengannya hingga 5 tahun dan kemudian memilih dia untuk menemaniku melalui hari-hari dalam hidupku yang belum seperempat abad.

Aku selalu bilang ”cinta tidak butuh alasan”. Tapi jika aku harus mengurai mengapa aku menyukainya.hmmm….biar kuingat dulu mengapa aku menyukainya.

Aku selalu menyukai tipe pria yang berbeda jauh umur denganku. Dengan suamiku saja aku berjarak 8 tahun. Menurut mentorku di tempat kursus karena aku memang tipe seperti itu, menyukai orang-orang yang lebih tua 3 tahun atau lebih diatasku.Aku menyukai pria cerdas. Aku tipe perempuan yang selalu bertanya.

Aku menyukai Harry Potter, pecandu novel, dan menyukai hal-hal yang…