Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2011

Peri Cintaku (Marcell)

di dalam hati ini hanya satu nama
yang ada di tulus hati ku ingini
kesetiaan yang indah takkan tertandingi
hanyalah dirimu satu peri cintaku

benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
huuuuuu aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
huuuuuu
aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
tuk menjaganya sepenuh jiwa oooh
(aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda) tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi (aku untuk kamu, kamu untuk aku
namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda) tuhan memang satu, kita yang tak sama
haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bis…

Aku Ingin Buku

Aku butuh buku bacaan. Butuh bacaan metropop dan juga Tetralogi Pulau Buru. Selain itu aku juga mau buku lanjutan dari Susanna Tamaro, Pergilah Kemana Hati Membawamu.
Aku butuh buku. Aku butuh membaca. Rasanya kering di sini. Tak ada film atau apapun. Aku butuh makanan jiwa.Aku butuh bacaan.....

Jika Dunia Tanpa Teknologi

Dewi Lestari harus menjauhi internet dan handphone untuk fokus menyelesaikan tulisannya. Baginya internet dan handphone adalah pengaruh paling jahat terhadap kekonsistenan akan menulis. Setiap hari tak bisa rasanya tidak membuka fesbuk. Ia menjadi semacam candu yang menggerakkan untuk mengintip dunia diluar diriku. Mengintip orang-orang yang ingin aku ketahui aktivitasnya.  Teknologi komunikasi katanya memudahkan. Namun tak jarang membuatku patah hati. Membuatku cemburu dan tidak fokus pada legenda diri. Jika dunia tanpa teknologi, mungkin aku masih sibuk menulis dengan polpen dan diary berlembar warna. Sibuk membangun imajinasiku sendiri. Sibuk bermain dalam benakku. Tanpa perlu sakit hati, patah hati, atau cemburu.  Jika dunia tanpa teknologi aku tak perlu ketergantungan pada signal speedy yang perlu baik agar aku bisa online. Jika dunia tanpa teknologi aku mungkin tak perlu jatuh cinta padamu. Jika dunia tanpa teknologi aku leluasa membangun istanaku. Jika dunia tanpa teknologi aku tak pe…

Mencari Wangsit

Beberapa hari terakhir ini hidupku lumayan normal. Berjalan sesuai yang aku rencanakan. Bangun pagi, sarapan, bersih-bersih rumah, mandi, menulis. Semua berjalan sesuai jadwal yang ditentukan. Tulisanku pun tak sekedar tulisan pendek serupa curhat. Manurut poinku luamayanlah karena ia telah bersarang di imajinasiku beberapa dan akhirnya berhasil dituliskan. 
Namun hari ini rasanya aku kehilangan wangsit buat menulis. Aku punya daftar tulisan-tulisan yang harus aku selesaikan namun hari ini aku tidak memiliki kalimat awal dan perasaan nyaman untuk menuliskannya. Aku telah mencoba untuk menonton film dulu, namun saja otakku tak mengalami pencerahan. Mungkin aku perlu menonton film yang menginspirasi atau film-film romantis. Namun persediaanku hanyalah DVD korea yang aku yakin jika aku nonton akan menyita waktu. Alternatif lain adalah membaca buku. Namun buku yang aku punya cukup berat. Tak cukup untuk dibaca sepintas.
Aku perlu wangsit buat menulis. Setiap hari aku harus menulis. Aku haru…

Gelang Giok Naga : Pengikat Kisah Perempuan Tionghoa Beda Zaman

Sejarah etnis Tionghoa adalah sejarah panjang bangsa Indonesia. Sejarah sebuah etnis yang meyebar hampir di seluruh muka bumi. Catatan panjang tentang sebuah etnis yang mampu menjaga eksistensinya dan berakulturasi dengan budaya tempatnya bermukim. Etnis Tionghoa serupa rumput liar yang terus tumbuh dimana pun. Beradaptasi dengan segala kondisi lingkungannya. Proses yang juga memiliki sejarah panjang tentang sebuah dialektika yang tidak mudah tentang budaya, adat istiadat, suku, dan ras. 
Kisah panjang ini dilihat dari sudut pandang perempuan, manusia kelas dua dalam bingkai selir, pembebatan kaki, pembatasan kelahiran anak perempuan, perempuan yang dijual, dijadikan Nyai, dan dipaksa menikah serta menjadi korban kekerasan rasial. Yang berusaha bangkit atas dominasi kaum pria, stereotype yang tetap sama meski zaman telah berubah.
Leny Helena meramu kesemua itu dalam bingkai empat perempuan dalam empat zaman yang berbeda. Satu yang mengikat mereka, sebuah gelang giok naga zaman Dinasty C…

Takar Waktu

Setelah Setahun

Sore ini saya menyempatkan diri ke Watampone. Ibukota kabupaten Bone tempat saya tinggal.Berjarak 20 km dari kampungku. Tak ada maksud lain. Hanya sekedar menemani orang rumah ke sana. Melihat-lihat keramaian. Awalnya sempat kuurungkan niatku untuk ikut. Sendirian mungkin baik buatku untuk menulis. Tapi rasanya aneh juga untuk sendirian di rumah. Anggaplah sekedar jalan-jalan, pikirku.
Aku tak punya kenangan masa kecil di kota ini. Selain sebuah toko di pusat kota (biasa disebut sentral) bernama Naga Sari tempatku membeli majalah bobo dan majalah remaja. Yang disampingnya dulu entah sebelah mana ada toko kaset tempat kakakku membeli kaset dari Kahitna hingga Bon Jovi. Selain itu aku tak punya lagi kenangan tentang kota ini.
Saat SMA kelas dua bersama teman mengikuti sebuah lomba tingkat kabupaten. Aku pun mulai mengenal lebih jauh lagi tentang kota ini. Ada sisi kota lain selain sentral. Sisi yang lebih ramai kala malam. Yang lampunya lebih banyak dan belum tidur saat jam 9 malam. Sisi …

Autumn In Paris : Ketika Cinta Tak Boleh Ada

Rapunzel dan Kekuatan Mimpi

Ku Dengar Detak Jantungmu....

Aku melihat wajahmu Tangan-tangan kecilmu Kaki-kaki kecilmu Menurutku, kamu cukup nyaman di sana Ada jantungmu yang berdetak kencang Sebuah rasa purba menyelubungi hatiku Rasa cinta antara aku dan dirimu Kelak akan kuceritakan sebuah cinta yang tak biasa namun indah Cinta tak pernah salah sayang Kau akan serupa bulan purnama indah yang bercahaya Lahir dengan tangismu membelah semesta Sebagai petanda eksistensimu di bumi...

11.02.2011

Aku menanti penanggalan ini. Satu alasannya, angka-angka itu terlihat cantik. Kemarin, ketika melihat layar handphoneku, angka itu masih 10.02.2011. Tak ada yang istimewa dengan saat itu. Hanya saja karena angka-angka itu begitu unik di mataku. Aku ingin mengingat momen itu. Itu saja.
Dan aku menyadarinya di akhir hari. Di saat jam-jam yang berputar dalam waktunya akan segera beranjak. Dan sekaliku melihatnya aku menyadari dua hal. Pertama, tanggal itu cantik adanya. Kedua, ini adalah ulang tahun seseorang.Seseorang yang pernah datang. Berbagi cerita. Dan beranjak. 
Selamat ulang tahun!!!!!

Pertemuan