Images

Mahasiswa di TPS 16 tamalanrea

Pemilihan umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia merdeka…..

Bait lagu yang dulunya sering terdengar di program berita malam jelang pemilu di TVRI bisa menjadi soundtrack yang cocok untuk keadaan Makassar (Rabu, 28 oktober 2008). Makassar menggelar pemilihan untuk memilih calon walikota secara langsung untuk pertama kalinya. pemilihan walikota makassar untuk periode 2008-2012 yang menjadi ikon sebagai bentuk partisipasi demokrasi masyarakat dalam politik mungkin begitu berarti bagi sebagian orang, namun mungkin juga tidak berarti bagi orang lain.

TPS-TPS (tempat pemungutan suara) untuk sarana pemilihan suara tersebar di tiap sudut kota. Kecamatan Tamalanrea pun tak ketinggalan. Khususnya di sekitar kampus Unhas yang mayoritas warga yang bertempat tinggal di area ini adalah mahasiswa. Saya pun termasuk dalam daftar wajib pilih tersebut. Meski sebenarnya, saya pun terdaftar di kampung saat pemilihan bupati April 2007 lalu. Dua hari kemarin surat undangan untuk datang memilih di TPS 9 telah sampai di tanganku bersamaan dengan undangan-undangan untuk teman-teman pondokanku yang lain.

Rabu, Pukul 10 pagi kawasan jl. Politeknik Unhas masih tampak lengang. Tak ada aktivitas mahasiswa yang begitu mencolok yang menunjukkan antusiasme mereka untuk datang ke TPS. Ada tiga TPS di sekitar kompleks Unhas. TPS 16 yang bertempat di depan Departemen Sosial. TPS 9 yang berada di dekat workshop Unhas, dan TPS 11 di kawasan perumahan BTN Asal Mula.

Saya bersama Surahmat Pakaya (Kak rahe) merupakan satu dari sedikit warga dari JL.Politeknik Unhas yang antusias untuk memilih. Kami memiliki undangan memilih di dua TPS yang berbeda. Saya di TPS 9, sedangkan Kak Rahe di TPS 11. Namun, atas informasi dari ibu Farida, salah seorang warga dekat pondokanku, kami bisa memilih di TPS terdekat. Kami pun lantas memilih di TPS 16 yang berdekatan dengan pondokan kami.

TPs 16 berada tepat di depan Departemen Sosial. Di belakang gardu-gardu seng yang menjual berbagai perlengkapan mahasiswa. Mulai dari pulsa, rental pengetikan, hingga fotokopi di pinggir jalan raya di perintis kemerdekaan Km. 10. TPS ini hampir tak terlihat dari jalan raya. Papan petunjuk tentang TPS itu hanyalah sebuah karton berukuran A4 yang dipasang di tiang listrik bergambar anak panah dan sebuah kertas kuarto yang bertuliskan TPS 16 di sisi bawahnya. Seandainya tak ada seorang yang berpakaian hansip di dekat papan petunjuk itu mungkin tak ada yang menyadari keberadaan TPS tersebut.

Meski matahari telah memanas dan waktu menunjukkan pukul 10.30, namun kondisi TPS masih sepi. Yang ada hanya enam orang petugas KPPS dan tiga orang saksi dari para kandidat. Hingga siang itu baru empat orang yang datang memilih. Kami yang memiliki undangan dari TPS lain terpaksa menunggu untuk pengecekan daftar pemilih. Untungnya kami tetap diberi kesempatan memilih di TPS tersebut dan dicatat dilembar terpisah sebagai pemilih yang berasal dari TPS lain.

Dari Daftar pemilih kacau hingga golput

Daftar pemilih tetap di TPS 16 sesungguhnya berjumlah 568 wajib pilih yang tersebar di sepanjang jalan Politeknik Unhas, kawasan perumahan BTN Antara hingga jalan Sahabat. Bahkan ada juga pemilih yang terdaftar dengan alamat mesjid Kampus dan Pusat kegiatan Mahasiswa (PKM). Mayoritas pemilih adalah mahasiswa yang tinggal di pondokan. Mulai dari pondok Jihad hingga pondokan yang berada di bagian dalam BTN Antara.

Namun yang datang memilih di TPS 16 sepanjang pemantauan kami dan informasi dari Komite pelaksanaan pemilu boleh dihitung jari. Jika diasumsikan bahwa pemilih wajib yang terdaftar memilih untuk mencoblos di TPS terdekat dari pondokan atau kost-kostan mereka, artinya bahwa dapat di bagi menjadi tiga wilyah TPS. Diantaranya TPS 16 yang mengkapling daerah di sekitar Jl. Politeknik. TPS 9, yang pemilihnya bertempat tinggal di sekitar workshop Unhas, dan TPS 11 untuk pemilih yang berada di sekitar BTN asal-mula dan BTN Antara. Namun untuk TPS 16 saja sampai pukul 12 siang, pemilih yang datang untuk menggunakan hak suaranya lebih banyak dari kalangan warga biasa, bukan mahasiswa. Menurut anggota KPPS TPS 16, daftar wajib pilih tersebut banyak yang double di TPS lain. “Bahkan di TPS 15, daftar wajib pilihnya persis sama dengan daftar di TPS 16” terangnya

Mahasiswa memang diindikasi sebagai kalangan yang paling banyak menyumbang suara untuk golongan putih (golput). Hasil survey KPU Jember menemukan 90% mahasiswa di Jember lebih memilih golput dari pada memilih (Radar Jember,Senin 21 juli 2008). Dr. Mansyur Semma (alm) dalam kuliahnya, komunikasi politik menjelaskan bahwa ada beberapa hal yang menyebabkan orang memilih golput, diantaranya ia memiliki kesadaran politik dan paham akan sistem politik. Mereka memilih untuk menjadi golput kerena menilai kandidat yang ada tidak cocok untuk memimpin. Selanjutnya bisa jadi mereka adalah orang-orang yang mapan secara sosial dan ekonomi sehingga tidak bergantung pada situasi politik. Golput pun menjadi pilihan untuk menyuarakan ketidaksetujuan dan kekecewaan terhadap sistem politik.

Namun selain faktor itu, faktor lain pun bisa menjadi sebab mereka golput. Bisa jadi mereka terpaksa golput karena tidak terdaftar, tidak memiliki kartu pemilih atau tak memiliki undangan. Atau karena mereka memang malas untuk memilih dan tak peduli dengan politik. Faktor terakhir ini bisa jadi menjadi alasan bagi para mahasiswa untuk tidak memilih. Seperti yang diakui oleh Jumriani, mahasiswa farmasi 2006, ia tidak menggunakan hak pilih dengan alasan tak peduli dengan politik. Mahasiswi asal sengkang ini pun terdaftar di kabupaten sengkang yang juga mengadakan pemilihan bupati bertepatan dengan pilkada di makassar. Namun, tak satu pun dari dua pesta rakyat itu yang dihadirinya.

Persentase suara golput memengaruhi jumlah persentase suara dari kandidat. Website pemilu2004.goblogmedia.com menjelaskan bahwa untuk menghitung persentase pemenang pilkada yaitu dengan cara jumlah suara yang diperoleh dibagi dengan jumlah surat suara sah dikali 100 persen. Surat suara sah jika yang dipilih hanya satu kandidat calon. Sedangkan surat suara yang tidak sah jika tidak ada satu kandidat pun yang dicoblos atau mencoblos lebih dari satu kandidat.

Jika daftar pemilih 100 orang kemudian semua menggunakan hak pilihnya secara sah dan dan suara untuk kandidat A adalah 40 suara, maka persentase yang didapat adalah 40%. Sedangkan jika dari 100 pemilih yang terdaftar hanya 50 orang yang memiliki surat suara sah dan jumlah suara yang diperoleh adalah 40 suara maka persentase adalah 80%. Naik 40% jika dibanding jika semua orang menggunakan hak pilihnya. Jadi sesungguhnya ketika seseorang tidak menggunakan hak pilihnya, maksa suara golputnya akan terbagi pada beberapa kandidat dan memberi peluang kepada kandidat dengan suara terbanyak untuk memperoleh persesntase yang lebih tinggi.
Sesungguhnya untuk kalangan yang berminat golput ada dua jalan yang bisa mereka tempuh yaitu tidak mendaftarkan diri sebagai pemilih atau menggunakan hak suaranya tanpa memilih atau mencoblos, atau abstain dengan membuat surat suara yang tidak sah saat di bilik suara.
Golput pun adalah sebuah pilihan. Ia hanyalah sebuah jalan untuk membentuk kesadaran publik dan politik. Ketika persentase golput sangat tinggi maka perlu dipertanyakan bagaimana kepercayaan masyarakat pada sistem politik yang ada.

Mereka yang memilih

Meski sedikit, namun ada juga mahasiswa yang menggunakan hak pilihnya. Eki misalnya, mahasiswa hukum, Unhas 2006 melihat bahwa pemilihan langsung adalah saat dimana warga negara ikut berpartisipasi dalam demokrasi. “ saya ingin menggunakan hak pilih sebagai warga negara yang baik ”jelasnya.

telah memiliki pasangan kandidat yang pas untuk pilihannya. Ia menilai pasangan kandidat tersebut berdasarkan visi misinya. Seperti halnya Eki, Ajie (mahasiswa fakutas hukum Reso 2006) juga menggunakan hak pilihnya. Ia memilih pasangan kandidat yang visi misinya sangat baik untuk Makassar ke depan. “ saya memilih seorang kandidat karena saya sangat berharap ia mampu menepati janjinya” terangnya.

(dwiagustriani dan surahmat pakaya)
Images

mencari oase.....

aku selalu mencarinya....
tempat yang mampu memberi rasa damai ketika hati resah dan jiwa terhempas...
aku selalu menciptakan oase-oase di perjalananku

ia ada, tapi kadang abstrak dan tak kasat mata
ada kala dia begitu dekat dan mampu melepaskan dahaga

namun tak jarang ia jauh meski tenggorokan ini telah mengering
aku lelah....aku tak punya lagi tempat untuk singgah

perjalanan ini semakin jauh dan oase tak lagi aku temukan
mungkin saatnya aku selesai...mengakhirinya

dan membawa bekal minumku sendiri
seperti para penguasa padang pasir....

(lagi sedih dan tak ada yang benar-benar mampu hadir untuk sekadar datang
mengusap kepala dan mengatakan " tenanglah semua baik-baik saja)

-aku merindukan pangeranku-
lama kita tak tersentuh, aku merindukanmu....sangat rindu
bukankah kamu adalah pria pertama yang mengisi hati ini
tak terganti dan takkan terganti....
Images

ribuan rasa hadir di sini...di hati

hari ini sedih mengisi hati. ia tak lupa mengajak kecewa di sana. marah juga ikut-ikutan. ia hadir membawa rasa tersisihkan. tak kalah saing rasa terbuang pun turut andil. ada juga rasa cemburu. semua hadir menyesakkan hati....berdetak bersamaan...

hidup di hatiku...berdetak satu...satu...demi...satu...

ini negatif...jiwaku berontak....sesekali mata ingin menyerah untuk membiarkan saja cairan bening itu tumpah...tapi jiwa mengatakan "TIDAK"
"jangan pernah menangis untuk hal ini..."katanya

rasa itu terus mengiris hati. tapi jiwa dengan kukuh terus bertahan. memberi suply energy. sedikit rasa tenang terus ia kirimkan untuk hati. bisikan-bisikan cinta terus ia kumandangkan dengan lembut. rasa damai pun turut hadir ditiap bisikan itu. jiwa adalah sisi terkuat yang aku punya. di saat sekarang saat aku benar-benar merasa tak berbuat apa-apa dan sudah tertinggal begitu jauh....


perlahan...sedikit demi sedikit. seperti adegan lambat dari sebuah film....
hati memperbaiki rasa. sedikit ia terasa tawar, kemudian terasa manis dan kemudian tenang dan damai. hati telah menjadi pemenang hari ini...
dari semua rasa-rasa yang kurang membahagiakan....ia telah mampu tersenyum dan banyak tertawa....
mata itu kembali berbinar....seperti kristal-kristal bening berbinar...

ia telah menjadi jiwa yang tenang...dengan cinta dan kekuatan yang ia miliki sendiri...
Images

"pertemuan "

“aku kadang berpikir bahwa pertemuan kedua akan selalu mengecewakan. Kita selalu punya ekspektasi begitu indah tentang pertemuan itu dan kadang realitas tak berjalan sesuai mimpi kita” (terkirim pagi hari)

“jika kuharus bermimpi, untuk dapat memandangmu…maka jangan bangunkan aku dari tidur lelapku……aku berpikir tentang smsmu tadi pagi….” (masuk di inboxku sore ini)

Aku tak membalasnya. Semua kata tak mampu mewakili rasa hari ini. Rasa tentang aku dan kamu. Ribuan imaji tentangmu menari di sudut otakku. Ada sebuah keinginan kuat untuk membalas pesanmu itu…tapi kali ini aku ingin membuatnya begitu saja….

aku selalu merasakan ini. Ditiap perjumpaan dan perpisahan. aku selalu menciptakan imaji tentang sebuah perjumpaan. Menunggu saat itu dengan jantung yang berdebar dan napas yang tak beraturan. Ribuan imaji tergambar di benakku. Memperlihatkan scene-scene yang akan aku lalui denganmu. Tapi….aku pernah merasakan perjumpaan yang menyakitkan.

Perjumpaan yang aku buat dengan begitu indah di imaji. Penuh tawa dan tak menyisakan tangis. Tapi realitas berbicara lain. Perjumpaan itu kemudian berlalu begitu saja. Tak ada kesan atau sebuah upaya indah yang berusaha untuk di akhiri dengan sempurna. Semua kacau, semua di luar bayanganku. Kalo aku bisa memutar waktu dan tak berada di tempat itu untuk berjumpa kembali, aku ingin melakukannya. Ia akan tetap begitu indah di sana. Tapi sekarang, semua berantakan. Aku hanya berusaha mengatur kembali puing-puing imaji. Tetap berusaha merekatnya meski ia tak lagi sesempurna dulu.

Waktu telah merubah segalanya. Aku, kamu, dan semua yang berpijak di bumi ini. Waktu mengikis perlahan apa yang telah kubuat dan telah kutorehkan kesan. Dan aku masih tetap berpijak di masa lalu dan membuat ekspektasi dengan kenanga itu. Aku lupa pada hukum waktu yang mengubah segala. Ribuan hari telah terlewati. Dan tiap hari selalu memberi kenangan yang terus menghimpit kenangan yang lalu.

Aku selalu takut pada pertemuan kedua. Cukup sekali saja aku kecewa. Aku sudah cukup terluka dan begitu cengeng tak mampu menghadapi realitas. Imaji tentangmu selalu ada ditiap hariku. Membayangkan apa yang kamu lakukan, sedang apa kamu detik ini. Apakah kita melakukan kebetulan yang sama. Aku pun selalu membayangkan perjumpaan yang indah. Berbaring dan menatap langit bersama. Menulis catatan-catatan perjalanan. Aku selalu berbahagia mampu memiliki imaji itu. Ia selalu mampu membuatku begitu optimis untuk terus berusaha menantang matahari.

Di satu sisi aku tetap ingin membuatnya tetap seperti itu. Tapi di sisi lain rindu padamu begitu membuncah. Ada ruang di hati yang juga rindu ini berbalas. tapi aku masih takut bertatap muka dengan realitas. Mimpi selalu indah dan relaitas begitu tidak mampu dikompromikan……

Aku pun mendengar lagu yang sama yang kamu dengar. Pilihan yang kita punya sekarang adalah terus tertidur dengan begitu bahagia atau bangun dengan menemukan kenyataan yang akan (mungkin) membuat kita kecewa…..


Images

dua bab terakhir perahu kertas

Aku kembali membaca perahu kertas. Tsk berurut, hanya melihat seklias-sekilas halaman dan ceritanya. Dan aku masih saja mampu ikut terbawa pada tiap tutur kalimat yang dirangkai DEE.

Dua bab terakhir…
Bab 11,
di ubud mereka bertemu. Tidak berdua, namun berempat. Ada kaku diantara mereka. Namun hanya kugi dan keenan yang mampu merasakannya. Detik seolah berhenti berdetak dan bumi berhenti berputar.
Mereka seperti dulu, seperti di awal pertemuan mereka. Namun kali ini tak ada lelucon yang bisa mereka umpankan untuk mencairkan suasana.
***
“Aku mencintaimu”terang lelaki itu. sejak kita bertemu di stasiun itu. aku tahu aku telah mencintaimu saat itu….
Perempuan itu tak mampu berkata, napasnya tertahan. Ia kembali mengingat stasiun itu empat tahun lalu.saat ia meneriakkan nama seorang lelaki, dan lelaki di hadapannya sekarang adalh sosok itu. ingin rasanya ia menuka semua hal yang dimilikinya untuk kembali ke saat itu.
“aku juga menyayangimu. Namun, ketika aku tahu kamu mau di comblangin ke wanda aku mundur. Aku menjaga jarak darimu….”
“aku juga tak ingin menganggu hubunganmu dengan Joshua…”
“dan akhirnya kita bertemu di sini, dengan kisah yang lain. Namun masih tentangmu dan tentangku. Dan tentang orang-orang aku dan kamu cintai”
……..

Bab 12,
“apakah semua telah terlambat???apakah aku boleh meminta pada waktu untuk kembali berputar dan membawa kita ke empat tahun yang lalu” Tanya lelaki itu
“ kita telah sejauh ini membawa rasa yang tumbuh perlahan empat tahun lalu. aku masih berharap bisa terus bermimpi dan mengejarnya bersamamu. Namun kita hidup di planet realitas. Dan sesungguhnya kamu hanyalah pangeran di negeri dongengku. Kamu pun begitu. Kita sama-sama telah menemukan orang-orang yang mencintai kita secara nyata. Dekat, dan terjangkau.”
“ aku hanya ingin kamu tahu aku mencintaimu. Meski aku tahu semua telah terlambat”
“aku juga mencintaimu…..tetaplah rasa yang kita punya seperti ini. Tak berubah.”
(ukiran KK itu menjadi penutup kisah ini. Pada akhirnya pahatan itu menjadi benda yang mengabadikan kisah cinta KK. Dan ukiran itu ada ditangan yang tepat…entah siapa)

That’s all folks….tapi ini dua bab terakhir versi aku sendiri. Buat para pambaca perahu kertas, yuk bikin ending cerita menurut kita masing-masing. Pasti cerita akan beragam sambil nunggu versi yang sebenarnya dari DEE…..

(buat DEE, cepatan dunks keluarin perahu kertas edisi lengkap.ga sabar nih nungguin kisah KEENAN dan KUGI)
Images

diskusi foto, skripsi, dan blog serta rasa cemburu

ini adalah diskusiku bersama kak yusran lewat YM. tentang fotoku, skripsiku, dan blog serta sedikit rasa cemburu darinya.....

dwi_darmawan2004: gimana????
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: maksa
timurangin: iya
timurangin: manis sekali ki
dwi_darmawan2004: bohong
dwi_darmawan2004: kenapa pale ketawa
dwi_darmawan2004: lama loading
dwi_darmawan2004: tunggu ya
timurangin: manis sekali ki
timurangin: cuma agak aneh
dwi_darmawan2004: hiks
dwi_darmawan2004: apa yg aneh
timurangin: saya serasa tidak mengenalimu
dwi_darmawan2004: oh tuhan
dwi_darmawan2004: saya sj tidak mengenali diriku
timurangin: apapun itu, tetap manis ki
dwi_darmawan2004: kakak jangan putuskan ka
timurangin: manis sekali adikku
dwi_darmawan2004: hahahaha
dwi_darmawan2004: aku foto jas sj ya?
dwi_darmawan2004: ato pake itu sj?
timurangin: bagusmi itu kok
timurangin: serasa melihat Nyai Ontosoroh
dwi_darmawan2004: akan jadi bahan callaan dimana2
dwi_darmawan2004: hahaahahaha
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: baca ki blog ku
dwi_darmawan2004: ada kesan2ku di situ
timurangin: saya serasa melihat wanita dalam novel Bumi Manusia
dwi_darmawan2004: itu calla ato pujian???
timurangin: pujian
dwi_darmawan2004: makasih
dwi_darmawan2004: engkau selalu menerimaku apa adanya

(diskusi skripsi)

dwi_darmawan2004: saya kirim ke email ta.
dwi_darmawan2004: buka miki
BUZZ!!!
BUZZ!!!
timurangin: iye
timurangin: sy buka skarang
dwi_darmawan2004: tolong baca sekilas di bagian yang baru kita liat dan tanggapi
timurangin: tunggumi
timurangin: sy lagi download
dwi_darmawan2004: ok
timurangin: sudah baca
dwi_darmawan2004: trus
timurangin: saya rasa udah memenuhi syarat untuk jadi Dwiagustriani S.Sos, M.Si
dwi_darmawan2004: ooooo
timurangin: sudah menjawab pertanyaan penelitian
dwi_darmawan2004: jangan ki bercanda
dwi_darmawan2004: saya bukan yusran darmawan
timurangin: saya serius
timurangin: sudah bagus sekalimi
dwi_darmawan2004: yang ujian proposal dilihat sm asistennya ong hok ham
dwi_darmawan2004: apa yg perlu ditambahkan
timurangin: sudah bagusmi
dwi_darmawan2004: kalo terawang yusran darmawan calon megister, apa yang masih kurang?
timurangin: wawancara kontributor
timurangin: apa mereka nda keberatan nama lengkapnya ditulis?
timurangin: nda apa-apa ji
timurangin: saya sudah baca semua
dwi_darmawan2004: nda ji kayaknya
dwi_darmawan2004: sy sdh izin
dwi_darmawan2004: trus mereka kasi ji
timurangin: pertanyaan penelitian sudah dijawab melalui gambar tersebut
dwi_darmawan2004: tapi bagusnya gmana?
dwi_darmawan2004: blum dwi gambar yang model citizen journalisme
timurangin: kutipan-kutipan nda usah kasih font 11timurangin: tetap saja font 12, cuma kasih miring dan spasi satu atau satu setengah
dwi_darmawan2004: oooo
timurangin: masukan sj dalam narasi tulisanmu
dwi_darmawan2004: trus
dwi_darmawan2004: itu sudah begitu
timurangin: sisipkan saja di sela-sela tulisan ttg citizen jurnalis
dwi_darmawan2004: tadi k riza liat katanya harus jelaskan siapa yang sy wawancarai
timurangin: yup.. itu sudah bagus
timurangin: hati2 dengan istilah2
timurangin: mulai dari citizen journalist, netizen, blogger
timurangin: dwi harus bisa bedakan semuanya
dwi_darmawan2004: jadi harus konsisten ya
timurangin: yup
timurangin: kalau saya sih, sebaiknya tetapkan satu
dwi_darmawan2004: kadang saya sebut kontributor, pewarta warga, citizen reporter,
dwi_darmawan2004: bahkan penulis
dwi_darmawan2004: oooo
timurangin: misalnya pilih Citizen Journalist
timurangin: nda apa-apa juga
dwi_darmawan2004: bagusnya apa?
dwi_darmawan2004: tapi...
timurangin: asalkan dwi yakin bisa bedakan itu semua
dwi_darmawan2004: itu sama semua
dwi_darmawan2004: cuma istilah yg beda
dwi_darmawan2004: kalo blogger ya orang yg ngeblog
timurangin: jangan sampai pembacamu bingung dan menganggapnya beda
dwi_darmawan2004: oooo
dwi_darmawan2004: dwi tetapkan satu saja ya
dwi_darmawan2004: citizen reporter mi di'
timurangin: nda apa-apa ji
timurangin: dalam menulis, mesti banyak kata ganti
timurangin: biar nda jenuh dengan kata yang sama dan selalu muncul
dwi_darmawan2004: nah makanya
dwi_darmawan2004: saya jenuh dengan kata citizen reporter
dwi_darmawan2004: jadinya kadang ganti jadi kontributor
dwi_darmawan2004: pewarta warga,

(membahas blogku)

timurangin: “……Saat itu aku merasa jarum detik seluruh jarum yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash!!!” (hlm 209)
dwi_darmawan2004: bahkan penulis
timurangin: terserah dwi
dwi_darmawan2004: apa maksudnya itu??
dwi_darmawan2004: jelaskan sayang
timurangin: saya ambil dari blogmu
dwi_darmawan2004: iya
dwi_darmawan2004: aku ambil dr blog ta
timurangin: saya yakin ko copy dari blogku
dwi_darmawan2004: yup yup
dwi_darmawan2004: jadi gimana?
timurangin: mantap
timurangin: udah bisa jadi sarjana
dwi_darmawan2004: ok deh
dwi_darmawan2004: sisa aku edit lagi di'
dwi_darmawan2004: dengan penambahan sedikit
dwi_darmawan2004: trus bab 2 ku bgmana?
BUZZ!!!
dwi_darmawan2004: baca blog ku ya????
dwi_darmawan2004: yg mana bgus menurutmu?
timurangin: luar biasa tulisanmu ttg kamarmu
timurangin: saya sungguh tersentuh
dwi_darmawan2004: yang mana?
dwi_darmawan2004: ooooo

timurangin has signed out. (7/23/2007 4:04 AM)(terputus)

dwi_darmawan2004: bagus toh
timurangin: yup
timurangin: bakatmu makin nampak
dwi_darmawan2004: itu saya tulis dengan hati jadinya bagus
dwi_darmawan2004: nda juga ji..tapi terkadang kalo menulis dengan hati lebih terasa enak daripada pake paksaan
dwi_darmawan2004: kakak...menurutmu kita harus naik tangga itu selangkah-selangkah ato bisa loncat 2-3 anak tangga?
timurangin: nda usah pake laptop. cukup pake hati
dwi_darmawan2004: hahahaha
dwi_darmawan2004: pake laptop tapi ngetik pake hati

(dia bertanya siapa yang menyebutmu mirip a ling?)

dwi_darmawan2004: *****

dwi_darmawan2004: napa kah????
dwi_darmawan2004: cemburu ya
dwi_darmawan2004: hehehehe
dwi_darmawan2004: dwi suka kalo kita cemburu
dwi_darmawan2004: artinya kita memang sayang sama dwi
dwi_darmawan2004: iye
dwi_darmawan2004: pulang mi pale
dwi_darmawan2004: mau ki ditlp ini malam?
timurangin: malam ini telpon saya lama2 pake simpati
dwi_darmawan2004: ok deh
timurangin: nanti kita bahas skripsimu
dwi_darmawan2004: istirahat miki kakak
dwi_darmawan2004: sa sayang ki
dwi_darmawan2004: jangan suka cemburu ya
timurangin: sy keluar
dwi_darmawan2004: iye

(yaaaahhh...demikianlah diskusiku bersama kk'ku tersayang. dengan perubahan seperlunya...hehehehe)

Images

antusiasme berfoto....

Sebagai prasyarat untuk mendapat izin ujian selain kelenagkapan berkas, calon sarjana perlu menyertakan foto berjas atau berkebaya. Beranjak dari sinilah cerita hari ini bergulir.

“izin ujian itu lama loh keluarnya” kata Santi. (wahhh…aku harus segera mengurusnya)

Tapi aku belum berfoto. Merujuk pada dua orang kakak perempuanku yang telah berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya dan telah melalui sesi berfoto untuk ujian dan wisuda, kepada merekalah aku meminta petunjuk.

Dan hasilnya….keduanya berfoto menggunakan kebaya untuk ijazahnya. Meski kak Ipah memakai jilbab, ternyata untuk tampil cantik di ijazah ia rela untuk melepas jilbabnya dan bersanggul kartini. Dan atas petunjuk inilah aku pun kemudian mempertimbangkan hal tersebut. Dengan beberapa pertimbangan :

Pertama,

Dwi kan tidak berjilbab. Teman-teman yang pake jas rata-rata yang berjilbab.

Kedua,

Inikan ijazah untuk S1, tak ada orang yang memiliki gelar S1 dua kali. Mungkin ada, tapi mereka devian. (Dan itu bukan aku) Aku juga ingin tampil cantik di ijazah (agar menjadi daya tarik ketika dilampirkan dalam berkas lowongan kerja..hehehehe)

Ketiga,

Kapan lagi bisa berfoto pake kebaya dan sanggul. (tunggu menikah??? Lain lagi ceritanya).

Pengaruh ini pun telah kutularkan pada darma yang senasib denganku, tak berjilbab. Dia pun juga mau berfoto kebaya.

Dan setelah melihat, menimbang, dan akhirnya aku memutuskan ke sinar warna hari ini. Dua bulan lalu aku sudah tanya harga di tempat ini, dan tidak sampai seratus ribu untuk semua itu. Pukul 11 WITA, lima orang perempuan seumuranku juga turut mengantri. Ternyata mereka juga akan melakukan sesi foto-foto wisuda. Hari ini Jumat, sepertinya sang tukang rias harus jumatan. Aku telah bersiap-siap untuk menunggu hingga sore. Namun, waktu terus beranjak hingga jam 12 siang, sang tukang rias itu belum juga terlihat akan ke mesjid. Ia malah terus memanggil satu persatu pelanggan yang ingin di rias.

Kulihat raut wajahnya tampak ingin segera selesai. Ada garis tegas yang menunjukkan ia jengkel dengan petugas yang terus menambah daftar antrian untuk disanggul dan di rias. Maklumlah, oktober –november-desember adalah musim-musim ujian di semua universitas di makassar.

Azmi meneleponku, menanyakan aapakah aku ke kampus atau tidak .

“sorry, saya lagi di suatu tempat”
“dimana ko ?”
“Di Sinar Warna sayang…hahahaha”
Calleda mu dwi. Mau mi betul lahir anakmu di’”
“Kalo tidak ada foto tidak keluar izin ujian”
“ Lincah le’….kalo kau upload ke blog sekalian sama fotonya nah, pasti banyak comment di shout boxmu”
“hahahaha”

Tampaknya semua orang yang dirias oleh bapak perias itu tidak terlalu menor pikirku.

Ku kirimi kak Anti pesan
“Bagusnya pake kebaya apa dengan latar merah?”
“Pake kebaya hitam. Nanti terang ji juga karena hitam putih. Sekalian pake toga. Tidak berkeringat, make up bagus, dan pencahayaan bagus” pesannya.

Kukirim pesan ke dua orang
“ Dwi lagi di tempat foto. Mau foto pake kebaya buat ujian. Can u imagine?”

Balasannya
I : ya..pasti cantik
II : wakakakak.bisa-bisa. Seperti foto kamu yang pake kebaya putih dan berkerudung itu kan?

“lapar…susahnya jadi S1. harus berfoto kebaya”
I ; “kamu yang pengen aneh dan mau pake kebaya.padahal orang lain Cuma pake jas”
“lapar”
I : jangan mengeluh nanti sakit maag nah. Kamu sendiri yang sakiti diri. Keluar cari makan. Atau pulang saja.
“enak saja… dwi sudah bayar mahal masa pulang”
(tak di balas)

“bagusnya sekalian foto toga tidak ya? Na bilang kak anti, nda keringatan.” tanyaku ke azmi
“lincahnya idenya kak anti. Tapi kan nanti kalo wisuda berfoto pake toga ji’”

“ foto toga tidak ya”
I : tidak usah. Blum pi ujian sudah foto toga”

“tapi kan nda keringatan” (ku kirim ke azmi)
“pancaran aura bahagia pada saat wisuda akan mengalahkan tetesan keringa kerena kepanasan dan membuat wajah tampak lebih cantik…S1 sekali seumur hidup”

(Betul juga ya…hehehehe)

“tidak berfoto pake toga ji. Kere ma juga. Tidak ada mi uangku”
“nanti up load na Dwi di blogmu. Ditunggu”

Pukul 12.30, sang perias tidak beranjak juga ke mesjid. Sekarang giliranku.

“Pak, saya pake kebaya.”
“Cari kebaya cepat” katanya sambil berlalu.

Kudapati kebaya hitam sesuai instruksi dan juga satu-satunya kEbaya hitam di situ. Tak ada kancingnya, wah…harus bagaimana nih?
hampir saja kutelepon kak anti untuk rekomendasi warna yang lain, untung bapaknya masuk lagi

“pak ini tidak ada kancingnya”
“ pake ini saja” katanya sambil menyodorkan peniti.
“jumatan saja dulu pak” kataku
“sudah terlambat. Kalo pergi juga sudah tidak dapat”jawabnya ketus.
(aduh, kalo dia kerja sambil marah, aku jadi jelek tidak ya)

Kududuk di depan cermin rias. Tangan bapak itu lincah menata rambutku. Kuedarkan pandanganku ke foto-foto yang tertempel dicermin. Beberapa memakai kebaya hitam. Kuperhatikan seksama dengan kebaya yang kupakai. Ternyata sama, tidak satu namun banyak foto dengan kebaya hitam yang sekarang melekat di bandanku.

(wah…kalo pulang ke rumah nanti, ijazah kak Anti dan kak Ipah harus dilihat. aku curiga kebaya yang dibadanku adalah kebaya yang juga mereka pakai)

Rambutku telah digulungnya, aku seperti perempuan desa yang memakai kebaya dan siap mengantar makanan ke sawah. (lumayan pikirku)

“Sanggulnya sudah jadi, aku terlihat manis” pikirku

Bapak itu lalu menyuruhku duduk dihadapannya. Aku tak lagi bisa melihat refleksi wajahku dicermin. Pupur bedak dan semua ornament make up yang bisa diletakkan diwajahku, ia letakkan dengan sukses. Terakhir sebuah bulu mata palsu turut ikut pula bertengger dengan sukses wajahku.

Hmmmm….(ku balik wajahku ke cermin)…dan Oh…Tuhan…siapa perempuan di cermin itu. Aku tak mengenalnya. Bapak itu telah mengubah wajahku. Ini bukan aku..

Ttttttiiiiiiiiidddddddaaaaaaakkkkkkkk….

“aku mendapati diriku begitu lain” (kukirim ke beberapa orang)

Harus komplain, bapaknya lagi sedang marah… ya sudahlah begini saja.

Di studio foto tak ada cermin. Aku hanya melihat pantulan wajahku di pintu kaca hitam studio itu. Aku masih belum bisa menerima kenyataan bahwa make up-ku begitu tebal dan alis mata itu…membuat mataku tampak lebih lebar. Tak lagi sipit seperti yang selalu aku banggakan.

Harus tersenyum lebar atau simpul? Aduh pusing…..

Sang fotografer mengatakan padaku “ untuk ijazah kan, gak usah senyum lebar”

Klik….dia meperlihatkan hasil fotonya. Aduh kok gitu sih.
“Mas sekali lagi, biar bisa milih” kataku
Klik…dan hasilnya..lebih buruk lagi…..

Ya.. sudahlah aku harus menerima kenyataan. Aku hari ini tampak buruk.

Sebuah pesan di HP “ nanti fotonya bagi ke aku ya”
“ Ga mau. Jangan bayangkan aku dengan kebaya putih dan kerudung itu. Bayangkan aku dengan make-up tebal dan sebuah bulu mata palsu”
“perempuan bertopeng”
"aku kan penganut iteraksinosme simbolik.pengikut setia peterpan -buka dulu topengmu-.."(pledoi terhadap diriku)

“kak, jangan callai. Hanya kita tempatku berlindung dari semua callaan
“iye. Memangnya ada yang pantas di callai?”
“ fotonya jelek. Make-up teeeeeuuuuubbbbaaaaalllllll dan bulu mata palsu”
“cie… mau dipajang di ruang tamu rumah ya”
“sorry, yang dipajang di rumah itu yang bareng satu keluarga”
“nanti saya sms 9 naga, kalo dwi berfoto pake kebaya dan bulu mata palsu”

Oh TUHAN…..haruskah aku berfoto dengan jas lagi???

Kak rahe meyakinkanku “tak usah Dwi. Itu saja”….
Dia selalu mampu memberiku semangat…hehehehe…thanks kak

Tips berfoto untuk ujian, wisuda, dan lain-lain

1. datanglah lebih pagi agar nomor antrian yang kamu dapat lebih awal
2. jangan datang hari jumat apalagi sebelum jumatan
3. pakailah baju yang berkancing (jadi lebih gampang ganti baju)
4. sebaiknya bawa kebaya sendiri (jangan mengandalkan kebaya di studio, kebaya itu telah ada diberbagai foto ijazah)
5. santai saja….kabari semua temanmu kalo kamu berfoto untuk ijazah (agar mereka memberi support ya… kalo tidak calla juga tidak apa-apa-ini sangat menghibur anda di ruang tunggu)
6. mintalah make-up yang minimalis kalo kamu ga suka make-up tebal
7. bersiap-siaplah untuk menggunakan bulu mata palsu
8. bersiap-siapalah untuk segala kemungkinan kamu mendapati dirimu “jelek” setelah di make-up
9. jangan lupa bawa cermin. Setelah make-up, pandang wajahmu dan teruslah merapal mantra “aku cantik-aku cantik-aku cantik”.
10. mintalah beberapa kali foto dari fotografer.agar kamu bisa memilih foto terbaikmu.
11. buatlah alternative lain ketika kamu merasa foto itu kurang bagus
12. namun jika kamu tidak bisa lagi berfoto, pandang foto itu, dan terima apa adanya.

Semoga tipsnya berguna…..

PS : beberapa pembaca setia blog ini meminta fotoku dipasang. Aku sedikit minder sih. Jadi aku up load aja fotoku yang lain. Tetap sama kok, pake kebaya, tapi ini masih dwi…

(sorry teman-teman….membuat kalian penasaran. Foto itu buat pak Syarif di akademik …hahahaha)

(kalo mau liat yang foto kebayaku yang baru, tunggu dikeluarkan oleh almamater suci kita UNHAS dalam bentuk ijazah….hehehehehe)


Images

ketika aku merefresh kembali kekuatan mimpiku

"Yuk nonton laskar pelangi sama-sama". Sms ini ku kirim ke seorang teman yang ada di pulau jawa beberapa hari lalu. Dan akhirnya, hari ini kami bisa mewujudkan rencana aneh nan gila itu. Kami menonton di dua bioskop yang berbeda, di selang waktu 30 menit yang berbeda, di kota yang berbeda, dan di pulau yang berbeda. Yang menyamakan kami hanyalah keinginan untuk melakukannya secara bersama dan waktu yang tak terpisah 15 derajat. Ia di Denpasar dan aku di Makassar. Sebuah cara nonton yang aneh kupikir. Namun, kami memang orang yang aneh. Ini kedua kalinya aku menonton laksar pelangi. Aku tak pernah bosan melihatnya. Aku masih bisa tertawa untuk setiap adegan lucu dan terharu untuk tiap scene yang menyedihkan.



Namun aku selalu menunggu scene dimana A ling bertemu dengan Ikal. Ketika gadis kecil bermata sipit itu berbalut baju china berwarna merah. Ia begitu cantik. Wajarlah Ikal menggambarkanbetapa terpesonanya ia dengan kuku perempuan itu dengan kalimat “……Saat itu aku merasa jarum detik seluruh jarum yang ada di dunia ini berhenti berdetak. Semua gerakan alam tersentak diam dipotret Tuhan dengan kamera raksasa dari langit, blitz-nya membutakan, flash!!!” (hlm 209)

Aku kembali merefresh kekuatan mimpiku. Terkadang bermimpi itu mengalami proses fluktuatif. Kadang kita begitu optimis dengan mimpi yang kita miliki, namun kadang pula pesimis untuk menggapai semuanya. Menonton film ini selalu membuatku optimis untuk terus bermimpi. kata teman sesa
ma blogger di shout boxku "Bermimpi kan gratis, jadi teruslah bermimpi". ya..kenapa tidak. Hidup bermimpi!!!!!