Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2008

Mahasiswa di TPS 16 tamalanrea

Pemilihan umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia merdeka…..

Bait lagu yang dulunya sering terdengar di program berita malam jelang pemilu di TVRI bisa menjadi soundtrack yang cocok untuk keadaan Makassar (Rabu, 28 oktober 2008). Makassar menggelar pemilihan untuk memilih calon walikota secara langsung untuk pertama kalinya. pemilihan walikota makassar untuk periode 2008-2012 yang menjadi ikon sebagai bentuk partisipasi demokrasi masyarakat dalam politik mungkin begitu berarti bagi sebagian orang, namun mungkin juga tidak berarti bagi orang lain.

TPS-TPS (tempat pemungutan suara) untuk sarana pemilihan suara tersebar di tiap sudut kota. Kecamatan Tamalanrea pun tak ketinggalan. Khususnya di sekitar kampus Unhas yang mayoritas warga yang bertempat tinggal di area ini adalah mahasiswa. Saya pun termasuk dalam daftar wajib pilih tersebut. Meski sebenarnya, saya pun terdaftar di kampung saat pemilihan bupati April 2007 lalu. …

umbrella girl....

mencari oase.....

aku selalu mencarinya....
tempat yang mampu memberi rasa damai ketika hati resah dan jiwa terhempas...
aku selalu menciptakan oase-oase di perjalananku

ia ada, tapi kadang abstrak dan tak kasat mata
ada kala dia begitu dekat dan mampu melepaskan dahaga

namun tak jarang ia jauh meski tenggorokan ini telah mengering
aku lelah....aku tak punya lagi tempat untuk singgah

perjalanan ini semakin jauh dan oase tak lagi aku temukan
mungkin saatnya aku selesai...mengakhirinya

dan membawa bekal minumku sendiri
seperti para penguasa padang pasir....

(lagi sedih dan tak ada yang benar-benar mampu hadir untuk sekadar datang
mengusap kepala dan mengatakan " tenanglah semua baik-baik saja)

-aku merindukan pangeranku-
lama kita tak tersentuh, aku merindukanmu....sangat rindu
bukankah kamu adalah pria pertama yang mengisi hati ini
tak terganti dan takkan terganti....

ribuan rasa hadir di sini...di hati

hari ini sedih mengisi hati. ia tak lupa mengajak kecewa di sana. marah juga ikut-ikutan. ia hadir membawa rasa tersisihkan. tak kalah saing rasa terbuang pun turut andil. ada juga rasa cemburu. semua hadir menyesakkan hati....berdetak bersamaan...

hidup di hatiku...berdetak satu...satu...demi...satu...

ini negatif...jiwaku berontak....sesekali mata ingin menyerah untuk membiarkan saja cairan bening itu tumpah...tapi jiwa mengatakan "TIDAK"
"jangan pernah menangis untuk hal ini..."katanya

rasa itu terus mengiris hati. tapi jiwa dengan kukuh terus bertahan. memberi suply energy. sedikit rasa tenang terus ia kirimkan untuk hati. bisikan-bisikan cinta terus ia kumandangkan dengan lembut. rasa damai pun turut hadir ditiap bisikan itu. jiwa adalah sisi terkuat yang aku punya. di saat sekarang saat aku benar-benar merasa tak berbuat apa-apa dan sudah tertinggal begitu jauh....


perlahan...sedikit demi sedikit. seperti adegan lambat dari sebuah film....
hati memperbaiki rasa. se…

"pertemuan "

“aku kadang berpikir bahwa pertemuan kedua akan selalu mengecewakan. Kita selalu punya ekspektasi begitu indah tentang pertemuan itu dan kadang realitas tak berjalan sesuai mimpi kita” (terkirim pagi hari)

“jika kuharus bermimpi, untuk dapat memandangmu…maka jangan bangunkan aku dari tidur lelapku……aku berpikir tentang smsmu tadi pagi….” (masuk di inboxku sore ini)

Aku tak membalasnya. Semua kata tak mampu mewakili rasa hari ini. Rasa tentang aku dan kamu. Ribuan imaji tentangmu menari di sudut otakku. Ada sebuah keinginan kuat untuk membalas pesanmu itu…tapi kali ini aku ingin membuatnya begitu saja….

aku selalu merasakan ini. Ditiap perjumpaan dan perpisahan. aku selalu menciptakan imaji tentang sebuah perjumpaan. Menunggu saat itu dengan jantung yang berdebar dan napas yang tak beraturan. Ribuan imaji tergambar di benakku. Memperlihatkan scene-scene yang akan aku lalui denganmu. Tapi….aku pernah merasakan perjumpaan yang menyakitkan.

Perjumpaan yang aku buat dengan begitu indah di ima…

dua bab terakhir perahu kertas

Aku kembali membaca perahu kertas. Tsk berurut, hanya melihat seklias-sekilas halaman dan ceritanya. Dan aku masih saja mampu ikut terbawa pada tiap tutur kalimat yang dirangkai DEE.

Dua bab terakhir…
Bab 11,
di ubud mereka bertemu. Tidak berdua, namun berempat. Ada kaku diantara mereka. Namun hanya kugi dan keenan yang mampu merasakannya. Detik seolah berhenti berdetak dan bumi berhenti berputar.
Mereka seperti dulu, seperti di awal pertemuan mereka. Namun kali ini tak ada lelucon yang bisa mereka umpankan untuk mencairkan suasana.
***
“Aku mencintaimu”terang lelaki itu. sejak kita bertemu di stasiun itu. aku tahu aku telah mencintaimu saat itu….
Perempuan itu tak mampu berkata, napasnya tertahan. Ia kembali mengingat stasiun itu empat tahun lalu.saat ia meneriakkan nama seorang lelaki, dan lelaki di hadapannya sekarang adalh sosok itu. ingin rasanya ia menuka semua hal yang dimilikinya untuk kembali ke saat itu.
“aku juga menyayangimu. Namun, ketika aku tahu kamu mau di comblangin ke wa…

diskusi foto, skripsi, dan blog serta rasa cemburu

ini adalah diskusiku bersama kak yusran lewat YM. tentang fotoku, skripsiku, dan blog serta sedikit rasa cemburu darinya.....
dwi_darmawan2004: gimana????
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: maksa
timurangin: iya
timurangin: manis sekali ki
dwi_darmawan2004: bohong
dwi_darmawan2004: kenapa pale ketawa
dwi_darmawan2004: lama loading
dwi_darmawan2004: tunggu ya
timurangin: manis sekali ki
timurangin: cuma agak aneh
dwi_darmawan2004: hiks
dwi_darmawan2004: apa yg aneh
timurangin: saya serasa tidak mengenalimu
dwi_darmawan2004: oh tuhan
dwi_darmawan2004: saya sj tidak mengenali diriku
timurangin: apapun itu, tetap manis ki
dwi_darmawan2004: kakak jangan putuskan ka
timurangin: manis sekali adikku
dwi_darmawan2004: hahahaha
dwi_darmawan2004: aku foto jas sj ya?
dwi_darmawan2004: ato pake itu sj?
timurangin: bagusmi itu kok
timurangin: serasa melihat Nyai Ontosoroh
dwi_darmawan2004: akan jadi bahan callaan dimana2
dwi_darmawan2004: hahaahahaha
timurangin: manis ki
dwi_darmawan2004: baca ki blog ku
dwi_darmawan2004: …

antusiasme berfoto....

Sebagai prasyarat untuk mendapat izin ujian selain kelenagkapan berkas, calon sarjana perlu menyertakan foto berjas atau berkebaya. Beranjak dari sinilah cerita hari ini bergulir.

“izin ujian itu lama loh keluarnya” kata Santi. (wahhh…aku harus segera mengurusnya)

Tapi aku belum berfoto. Merujuk pada dua orang kakak perempuanku yang telah berhasil menyelesaikan kuliah S1-nya dan telah melalui sesi berfoto untuk ujian dan wisuda, kepada merekalah aku meminta petunjuk.

Dan hasilnya….keduanya berfoto menggunakan kebaya untuk ijazahnya. Meski kak Ipah memakai jilbab, ternyata untuk tampil cantik di ijazah ia rela untuk melepas jilbabnya dan bersanggul kartini. Dan atas petunjuk inilah aku pun kemudian mempertimbangkan hal tersebut. Dengan beberapa pertimbangan :

Pertama,

Dwi kan tidak berjilbab. Teman-teman yang pake jas rata-rata yang berjilbab.

Kedua,

Inikan ijazah untuk S1, tak ada orang yang memiliki gelar S1 dua kali. Mungkin ada, tapi mereka devian. (Dan itu bukan aku) Aku juga ingin tampi…

ketika aku merefresh kembali kekuatan mimpiku

"Yuk nonton laskar pelangi sama-sama". Sms ini ku kirim ke seorang teman yang ada di pulau jawa beberapa hari lalu. Dan akhirnya, hari ini kami bisa mewujudkan rencana aneh nan gila itu. Kami menonton di dua bioskop yang berbeda, di selang waktu 30 menit yang berbeda, di kota yang berbeda, dan di pulau yang berbeda. Yang menyamakan kami hanyalah keinginan untuk melakukannya secara bersama dan waktu yang tak terpisah 15 derajat. Ia di Denpasar dan aku di Makassar. Sebuah cara nonton yang aneh kupikir. Namun, kami memang orang yang aneh.Ini kedua kalinya aku menonton laksar pelangi. Aku tak pernah bosan melihatnya. Aku masih bisa tertawa untuk setiap adegan lucu dan terharu untuk tiap scene yang menyedihkan.



Namun aku selalu menunggu scene dimana A ling bertemu dengan Ikal. Ketika gadis kecil bermata sipit itu berbalut baju china berwarna merah. Ia begitu cantik. Wajarlah Ikal menggambarkanbetapa terpesonanya ia dengan kuku perempuan itu dengan kalimat “……Saat itu aku merasa …