Images

Mengenangmu


Entah sudah berapa tahun berlalu. Saya tidak ingin memaksa ingatan mengenang tahun dan mengkalkulasinya sehingga menemukan angka yang tepat akan kepergianmu. Ya ada hanya penanggalan yang diingatkan kepadaku tentang kepergianmu. 

Beberapa waktu belakangan ini saya sering mengingat dirimu. Rindu ngobrol denganmu. Banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan. Banyak hal yang belum saya pelajari darimu. Jika saja kamu masih di sini, mungkin kita bisa tertawa bersama sambil berkelakar bahwa diri kita sekarang memiliki peran yang sama sebagai ibu. 

Saya bisa pastikan banyak hal baru yang bisa saya pelajari. Sembari sesekali kamu membandingkan saya dengan cucumu. Kubayangkan dirimu berkata "Kamu waktu kecil mirip Ara". Ah, andai saja saya bisa mendengar itu darimu. 

Ada rindu di sini. Tidak membuncah. Detak pelan tapi pasti. Penawarnya sekedar mengingatmu dan memastikan bahwa saya baik-baik saja tanpa kamu di sini. Namun, rindu kadang berkhianat menusuk tajam hingga ke ulu hati. Merindukanmu lebih dari kata yang mampu diucap. Lebih dari air mata yang bisa ditangisi. Rindu yang hanya mampu dijembatani oleh doa.

Hari ini aku mengingatmu. Melafalkan doa pendek penuh khusuk untukmu. Janganlah kamu rindu, karena di tempatmu rindu tak lagi tumbuh.  Biarlah saya saja yang menumbuhkan rindu di sini. Agar kelak saya berlari memelukmu ketika bertemu lagi denganmu. 

Bone, 28 Mei 2014

Images

Family Time di Museum La Galigo


Rasa-rasanya having fun bareng Etta , sodara, serta ponakan adalah hal yang paling langka yang kami lakukan. Jalan-jalan keluarga bareng etta terakhir waktu ke wisata pantai Galesong. Minus keluarganya kakak Anti. Biaya liburan pun agak mahal. Menyewa kamar hotel ukuran family seharga Rp.800ribu ditambah biaya makan dan lain-lain. Ngumpul bareng yang paling murah ya di rumah, pas lebaran. Tapi bukan jalan-jalan sih. 

Agak susah menemukan tempat hang out keluarga yang murah meriah dan nyaman buat anak-anak. Ya, biasanya kalo mau ngumpul bareng ya, makan di restoran atau ke mal. Kota-kota kurang menyediakan lahan terbuka hijau yang tertata rapi dan nyaman untuk mengajak orang tua dan anak-anak untuk bermain. 

Benteng Rotterdam dan museum La Galigo menjadi oase untuk keluarga berekreasi di tengah gempuran taman permainan anak-anak berbayar dan mal yang konsumtif. Rotterdam memiliki halaman luas dengan rumput-rumput hijau tertata rapi yang menyenangkan buat anak-anak berlarian tanpa takut jatuh dan luka. Halaman yang di kelilingi tembok-tembok benteng memberi rasa aman untuk anak-anak sehingga tidak melintas ke jalan raya. 

Hari minggu lalu, kami sekeluarga jalan-jalan ke Rotterdam. Awalnya sih mau liat pesta jajanan Bango, tapi ternyata acaranya sudah selesai kemarin. Yang kami temui hanyalah rangkaian tenda-tenda yang belum dibereskan dan sampah berserakan. Namun, tidak menyurut keinginan kami untuk mengeksplor Rotterdam. Ternyata Museum La Galigo-nya terbuka. Biaya tiketnya untuk anak 3000 rupiah, orang dewasa 5000 rupiah. Ara, Naufal, dan Farish digratiskan. Di dalam Museum terdapat banyak display. Mulai dari Arca yang ditemukan di Sulawesi Selatan, alat perkebunan, pertanian tradisional, bentuk-bentuk perahu, prosesi adat hingga pakaian dan perlengkapannya. 

Kevin, Khanza, Lutfia, Shirly, Naufal, Ara berlarian sepanjang lorong display. Ribut-ribut. Bagusnya nda ada petugas museum yang memarahi mereka. Hahahaa. Anak-anak itu terpana di depan baju bodo' berlapis tujuh yang dipakai saat ma'katte untuk anak perempuan. Mereka juga memperhatikan jenis-jenis perahu yang ada di Sulawesi Selatan. Khanza sangat suka memandang lukisan phinisi yang sangat besar di bagian display perahu. Katanya mirip di film Frozen (iya juga sih). Sedang Ara ketakutan melihat Arca berbentuk muka. Katanya mirip hantu ( jangan-jangan memang ada hantu). 

Baru kali ini saya masuk di museum La galigo. Sedikit banyak mengingatkan saya pada museum gajah, bedanya di museum gajah displaynya lebih banyak. Kalo diberi musik instrumen kacapi atau lagu tradisional bugis makassar mungkin lebih asyik lagi. Sudut anak-anak yang menyediakan mainan puzzle dan ma'gulaceng serta ma'danda cukup bagus meski permainannya sangat sedikit. Bagian ini yang paling anak-anak itu sukai. Karena mereka main danda'. Etta pun mempraktekkan keahlian ma'dandanya. Hahahaha. 

Di gedung D terdapat Display tentang kepercayaan dan keyakinan di Sulawesi. Di Mulai dari cerita turunnya To Manurung hingga lahirnya La Galigo. Di lantai dua terdapat display agama Islam. Tapi karena terlalu capek, kami tidak lagi menjelajah sampai lantai atas. So far, museum La Galigo bisa jadi alternatif rekreasi edukasi untuk anak-anak di Makassar.  Hanya saja mungkin perlu ada guide yang bisa menjelaskan lebih jauh tentang barang-barang pajangan. Saran buat  pengelola museum adalah membuka  tenaga sukarelawan dari mahasiswa untuk menjadi guide tentang sejarah Sulawesi. 

Di akhir jalan-jalan kami sempat berfoto dengan bule. Sayangnya lupa tanya nama dan asal negaranya. Tapi anak-anak pada suka kalo foto sama bule. Lol. Jarang liat soal na. Matahari bersinar terlalu terik, sehingga untuk nongkrong di atas benteng sambil liat lalu lalang mobil dan laut Makassar terpaksa diurungkan. Kali lain sajalah. Setidaknya hari ini kita sudah bersenang-senang tanpa perlu biaya banyak. Hore!!!!!

Bone, 26 Mei 2014
Images

Casual Vacancy, Drama Tragis Perebutan Kursi Kosong


Judul : Casual Vacancy
Penulis : JK. Rowling
Penerbit : Qanita 

Meninggalnya Barry Fairbrother yang merupakan anggota Dewan Kota Pagford menjadi semacam kabar gembira bagian sebagian orang di kota kecil itu, terutama keluarga Howard Mollison yang adalah ketua dewan kota yang sederajat dengan walikota. Barry bukanlah orang jahat, yang dibenci oleh orang, namun ia adalah salah satu anggota dewan kota yang gigih memperjuangkan Fields ( perkampungan kumuh 
di pinggiran kota Pagford), mempertahankan klinik Pecandu Bellchapel, meyakini bahwa dalam setiap jiwa terhadap cahaya ilahi yang kemudian ia lihat dalam sosok Kristal Weedon gadis 16 tahun, anak seorang pecandu yang menjadi antitesa segala hal baik yang dianut di Pagford. 

Kekosongan jabatan ini menjadi perebutan bagi orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi untuk memperkaya diri, memurnikan kota dari perkampungan kumuh dan pecandu, maupun atas dasar pembuktian tentang cinta, kesetiaan, dan persahabatan. 

JK Rowling kembali menghadirkan sebuah kisah dahsyat yang membuat saya berhasil menatap lekat hingga halaman terakhir. Ia berhasil menyajikan kisah yang benar-benar berbeda dari Harry Potter. Kisah cerita yang lebih berat, lebih dewasa, dalam setting kota kecil dengan masyarakat kota yang tak memiliki kekuatan sihir yang mampu mengubah keadaan. 

Casual Vacancy memberikan potret kisah kota kecil dengan permasalahan yang sangat kompleks. Perbedaan kelas sosial kaya dan miskin, perselingkuhan, keluarga yang tidak harmonis, anak-anak yang melawan orang tua, orang tua yang tidak memahami anaknya, serta lingkungan menuntut untuk citra baik yang selalu dijaga. 
Tidak ada antagonis atau protagonis dalam kisah ini. Setiap karakter memiliki "tulang belulang yang mereka sembunyikan dalam lemari". Sebuah aib yang menjadi ketakutan dan penunjuk ketidaksempurnaan masing-masing karakter. 

Kota kecil Pagford dalam bayangan saya seperti kampung Athens yang sedikit agak lebih ramai. Di Athens semua orang saling mengenal dan bertemu tiap saat dimana saja dengan Court street sebagai jantung kota. Tapi saya tahu pasti Pagford di UK sangatlah beda dengan Athens, OH. Tapi satu hal yang sama dan saya yakin juga disemua tempat, gosip adalah hal yang selalu menarik setiap penduduk untuk mengapdet informasi. 

Selesai membaca buku ini membuatku menarik kesimpulan bahwa chaos selalu menjadi titik klimaks untuk mengembalikan keseimbangan sebuah kondisi. Puncak cerita yang tragis dengan kematian dan kesedihan menjadi jalan kembali untuk merenungi apa yang salah selama ini. Dan cara Rowling menutup cerita ini dengan ingatan indah yang dikenang salah satu tokoh membuat saya merenung mungkin seperti itulah manusia berdamai dengan hidup. Kenangan dalam ingatan menjadi jembatan untuk melihat akan hal baik dan indah di saat manusia hampir menganggap hidup penuh kesengsaraan. 

Jika kelak buku ini difilmkan saya berharap ia dikemas dengan indah dan penuh inspirasi. Buku ini saya beri rating 4 karena berhasil membuat saya melawan kantuk untuk membacanya. Selamat membaca! 

Bone, 26 Mei 2014
Images

Pengalaman Menjadi Mamak Beranak Tiga


Weits, jangan pikir macam-macam dulu melihat judul di atas. Ga serta merta saya mengandung kemudian tiba-tiba melahirkan dua anak dalam waktu sekejap dan memiliki tiga anak. Yang terjadi adalah saya merasakan bagaimana rasanya memiliki tiga anak yang harus saya jagai sekaligus. Masih bingung? Gini loh cerita *monitor gadget anda mengabur kemudian fade in gambar warna hitam putih*.

Tiga hari lalu diadakan Pentas Kreatif yang dilaksanakan oleh gabungan Sokola Mariso, Sekolah Kajang, dan Komunitas Penyanyi Anak Jalanan di  Fort Rotterdam. Acara ini menampilkan berbagai pementasan seni, baca puisi, serta pemutaran film yang penampilnya berasal dari murid-murid sekolah yang dirintis oleh Butet Manurung. 

Langit Makassar jumat sore cukup cerah. Langit biru dan berawan. Tidak seperti sore kemarin yang bergerimis, hari pertama acara ini dilaksanakan. Saya sudah meniatkan akan mengajak Ara datang menonton. Foto-foto pementasan hari pertama yang diunggah seorang kawan di Path sangat menarik. Anak-anak menari menggunakan pakaian tradisional. Saya yakin Ara pasti tertarik. Baginya, musik dan menari adalah satu paket yang harus dilakukan dimana pun dan dalam kondisi apapun. 

Saya pun mengajak Khanza, sepupu Ara. Mengingat rumah nenek Khanza  tidak terlalu jauh dari Fort Rotterdam. Hitung-hitung mengajak anak-anak itu bermain tanpa perlu ke mal. Kegiatan positif dan ramah di kantong. Khanza dengan girang mengiyakan. Bundanya pun asyik-asyik saja, lah wong ada yang ngajak anaknya jalan-jalan tanpa perlu dia ikut repot ya. Kevin yang pulang sekolah dan mengetahui rencana ini mulai melancarkan aksi-aksi mengeles dan protes disertai sedikit rengekan. Tingkah yang sangat mudah dibaca kalo dia pun ingin ikut. 

Membawa tiga orang anak yang dua orangnya sudah gede, punya keinginan sendiri, ngampang nangis, serta tak mungkin untuk dikerasi-soalnya bukan anak saya- cukup membuat saya dilematis. Duh, gimana ya? Tapi, saya nda tega juga sih liat Kevin mukanya suram ditekuk  sedih. Jadinya saya membawa tiga orang anak untuk diajak jalan-jalan dan berada dalam pengawasan saya. Gimana repotnya? 

Awalnya saya menganggap ini akan enteng saja. Dua bersaudara ini cukup mendengar kalo saya mulai ngomong dengan nada tinggi. Tapi belum pernah sih menjaganya cukup lama. Then, let's try!
Kami naik angkot dari Dg. Tata ke Rotterdam. Nda perlu gonta ganti angkot cukup memudahkan perjalanan. Angkot yang ditumpangi juga nda terlalu penuh jadi cukup nyaman. 

Nah, pas sampai di Rotterdam ujian babysitternya mulai naik level secara perlahan. Awalnya mereka cukup tenang duduk di rerumputan nunggu pertunjukan. Rengekan pertama keluar dari Kevin ketika Kak Anna memberikan balon untuk Khanza dan Ara. Dia mau juga, rengeknya. Dia pun kebagian, sayangnya balonnya meletus semenit setelah balon itu lepas dari tangannya. Rumput-rumputnya tajam. Dia merengek minta lagi tapi balonnya sudah habis. Terus berhenti merengek. Kami pun menonton pertunjukan vokal grup dengan lagu "aku seorang kapitan", lagu ini cukup dikenal oleh anak-anak jadi mereka betah buat nonton. Kemudian balon milik Khanza meletus, waaahhhh!!! Dia menangis. Khanza kalo menangis serupa bencana alam. Terpaksa dijanji untuk belikan balon yang lain. Entah dibelinya dimana saya tidak tahu. Asal dia mau berhenti merengek maka saya rela menjanjikannya apa saja. Kemudian balon berikutnya milik Ara diterbangkan angin, dikejar oleh anak-anak yang ada disana dan meledak pula. Tangis pecah lagi deh. Janji pun kemudian diucapkan lagi, supaya ia berhenti menangis. 

Selang beberapa waktu mereka akur dan tidak merengek minta balon, asyik menonton pertunjukan. Di sela-sela jeda mereka berlarian ke sana kemari kejar-kejaran. Fuih, untung kompleks benteng ini cukup luas dan rumputnya rapi serta bersih. Mereka sibuk kejar-kejaran sampai saya harus teriak supaya mereka hati-hati. 

Rengekan berikutnya datang lagi dari Kevin. Dia haus dan minta dibelikan minuman. Minumannya yang dia inginkan adalah minuman gelasan yang dijual dalam kantong plastik. BIG NO!!!! Kalo dia sakit perut kemudian neneknya marah-marah, saya yang disalahkan. Tapi tetap saja dia keukeuh mau minum itu, alasannya dia nda pernah coba. Duh! Untungnya saya lebih keukeuh lagi dengan penjelasan seperti diatas tadi. Kami pun lantas keluar area benteng untuk beli minuman kemasan. 

Tiga botol minuman dengan pilihan masing-masing. Kemudian Kevin pengen banget ke naik ke tembok-tembok benteng. Jadinya kami nongkrong sejenak sambil melihat mobil lalu lalang. Foto-foto narsis. Selalu teriak berusaha mengingatkan mereka untuk hati-hati. Dan tidak peduli pandangan sepasang kekasih di samping kami yang mungkin berpikir "nih ibu, kurus-kurus anaknya tiga. Udah gede-gede lagi" ( Ya kale...!!)




Puas liatin mobil lalu lalang dan ketawa-ketawa, kita turun lagi ke tempat acara. Lupa pementasan apa saking saya lebih fokusnya sama anak-anak yang sibuk lari-lari kejar-kejaran. Menurutku Fort Rotterdam adalah taman (lebih cocok lapangan sih) hijau terbuka yang paling bagus di Makassar. Rumputnya rapi, bangunan yang mengelilingi taman sangat aman buat anak-anak bermain, serta tempat edukatif, secara dia museum. 


Sayangnya, kata teman untuk melaksanakan acara komunitas disini sangatlah susah dengan uang retribusi mencapai kisaran Rp.500rb. Padahal akan sangat menyenangkan jika salah satu sudut museum digunakan tidak sekedar untuk memajang benda-benda bersejarah tapi juga dijadikan ruang untuk belajar anak-anak serupa taman pintar di Yogyakarta. Atau memberikan ruang yang lebih lebar untuk para komunitas khususnya yang bersangkut paut dengan pendidikan anak agar dapat memanfaatkan ruang terbuka untuk kegiatan-kegiatan outdoor yang menyenangkan dan gratis. Saya membayangkan seperti kegiatan sains anak, baca dongeng, mengeksplor alam, atau pun klub astronomi. Agar ada alternatif rekreasi keluarga tanpa melulu harus ke mal.

Eniwei, kembali ke cerita saya jadi ibu beranak tiga. Pas, break acara saat magrib mereka masih sibuk lari- lari kejar-kejaran. Apalagi setelah mendapat bangau-bangau kertas di stand jualan teman. Karena sibuk asyik kejar- kejaran, Kevin dan Khanza sampai nangis keras karena sempat tidak tahu saya dimana. Soalnya penerangannya kurang dan sudah magrib. Dua anak itu menangis keras      dan ketakutan. Pas ketemu saya Kevin langsung berhenti nangis, sayangnya Khanza perlu dibujuk lebih lama biar berhenti marah karena saya ilang ( lah, kok gue yang ilang, kan mereka yang asyik main sampai nda liat saya. Hahaha). Buat meredakan tangisnya saya minta lagi bangau-bangau kertas dari panitia. Mereka dengan maruknya mengambil dua sedangkan yang boleh diambil cuma satu buat satu orang ( maafkan, Eka :D). Terus Kevin mulai ngeyel lagi minta makan karena lapar. Terus gantian Ara yang nangis karena jatuh. Kemudian Khanza yang ngambek karena pengen duduk dipanggung sambil nonton pertunjukan. Huuuaaaaaa!!!!! Gini toh rasanya punya tiga anak yang udah punya keinginan masing- masing. Dua jam menjagainya tenggorokanku gatal dan suaraku parau. Gimana kalo jadi guru TK yang harus teriak-teriak dan menarik perhatian muridnya. 

Saya pun menyadari, kerja babysitter itu nda mudah. Pantas di Amrik pekerjaan ini perlu pelatihan dan sertifikasi untuk meyakinkan orang tua bahwa mereka adalah babysitter handal. Gajinya pun cukup lumayan, $8/jam. Lumayan buat beli permen pelega tenggorokan. 

Etapi, meski tenggorokan sakit tapi kami bersenang-senang hari ini. Cousin timenya sukses. Besok-besok kita coba lagi, tapi dengan syarat bawa mama-papa kalian ya :D. (*)

Bone, 23 Mei 2014
Images

Ara Pup All by Herself*



*Postingan ini penuh kata pup. Silakan teruskan jika tertarik membacanya. Tidak disarankan membaca postingan ini sambil makan atau ngemil sesuatu :p


Plok plok plok. Bayangkan saya lagi standing ovation sambil menyeka mata terharu. Bukan karena saya dapat award sebagai most prettiest mom of the year versi awards entah dimana atau saya lagi dapat gelar miss drama queen sedunia yang tidak pernah diselenggarakan. Tepuk tangannya karena Ara berhasil pup sendiri tanpa perlu menangis minta diusap-usap ( perutnya) hingga memaksa duduk di mini pispotnya cuma buat buang hajat. 

Saya sebagai mamanya Ara satu-satunya ( yang memang tidak ada yang lain) merasa bahagia melihat kemajuan Ara. Ara dan pupnya memiliki cerita  tersendiri. Keduanya tak bisa akur. Sejak dia masih usia bulanan, pupnya suka datang telat. Beberapa hari sekali. Pas gedean dikit dan bisa makan, pencernaannya kurang baik sehingga pupnya keras. Perlu perjuangan buat menungguinya buang hajat. Penanganan ekstrim kadang dibutuhkan hanya untuk membuatnya pup. Dibutuhkan sedikit pemaksaan dan "kekerasan". 

Waktu tinggal di Amrik dan konsumsi serat tidak terlalu bagus karena sayur-sayuran yang ramah di lidah agak susah dijangkau, menunggui Ara pup perlu berjam-jam di kamar mandi. Disertai dengan ritual menangis dan berujung pada nungging buat dia pup. Housemateku pasti selalu bertanya kenapa kalo Ara sudah dari kamar mandi dan menangis-menangis. 

Ternyata, setelah pulang ke Indonesia,  Ara masih susah pupnya. Belakangan saya tau bukan karena pupnya yang keras tapi dianya yang suka nahan-nahan kalo mau pup. Tanda-tanda Ara mau pup adalah jalan cepat bolak balik. Minta diusap-usap perutnya pake minyak kayu putih. Pendiam dan sibuk dengan urusan perutnya sendiri. Berdiri sambil menyilangkan kaki. Kalo yang terakhir ini sudah dilakukan, maka langkah yang harus saya ambil adalah memaksanya jongkok di pispotnya. 

Pispot kecil itu warisan dari sepupunya Kevin. Usia pispot itu sudah 6 tahun lamanya. Kevin dan Khanza tidak pernah memakainya, mereka punya cara tersendiri untuk pup. Pertama kali memaksa Ara duduk di pispot itu, perlu tindakan "kekerasan". Saya harus memaksanya duduk kemudian menahannya supaya tidak berdiri kembali. Ia menolak sampai menangis-nangis dan mengepit paha dan pantatnya. Tidak rela pupnya keluar (Duh! Gimana mau belajar ikhlas kalo pup aja nda mau dikeluarin). Entah, kenapa pup baginya serupa momok yang menakutkan dan mengedan itu sesuatu yang menyakitkan buatnya. Padahal buat saya pribadi bisa pup salah satu anugerah yang perlu disyukuri ( benar kan?). Tidak berapa lama setelah Ara duduk di pispotnya, pup yang ditunggu-tunggu akhirnya keluarnya. 

Ritual ini sering-sering dilakukan. Memaksanya duduk di pispot. Hingga akhirnya seminggu lalu ia melakukannya dengan senang hati tanpa minta diusap-usap buat meredakan sakit perutnya. Dari jauh saya memperhatikan tingkahnya. Dia membuka celananya kemudian duduk di pispot. Ia sempat minta diusap-usap perutnya kala duduk di pispot. Tidak lama setelah pupnya ia berdiri kemudian tersenyum lebar. "Ara pup. Brown. Banana" katanya. Yang artinya Ara pup, warna coklat bentuknya kayak pisang. Hahahahaha. Setelah itu dia menyanyinya lagu Ba Ba Banana-nya minion. "Ara pintar. Ara pup" komentarnya. 

Iya. Ara sudah pintar, sudah bisa pup sendiri. Mamanya ikut senang nda perlu ekstrim-ekstrim buat kasi pup Ara. Well done, girl! (*)

Bone, 20 Mei 2014
Images

Dunia Kafka, Dunia Surealis Murakami



Judul : Dunia Kafka ( Kafka On The Shore)
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Alvabet

Kafka Tamura, anak laki-laki 15 tahun memutuskan pergi dari rumahnya di Nakano meninggalkan ayahnya. Dengan tujuan menjauh dari ayahnya yang tidak lagi peduli dengannya dan mencari ibu dan kakak perempuannya. Ia lari ke Takamatsu dan tinggal di sebuah perpustakaan. 

Nakata, pria paruh baya yang karena sebuah peristiwa pada saat perang kehilangan kemampuannya untuk membaca, menghitung, namun menguasai bahasa kucing. Hingga suatu hari ia harus membunuh seseorang untuk menyelamatkan sebuah kucing. 

Dua tokoh ini memiliki cerita berbeda pun memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dengan label surealis pada sinopsis buku ini, maka pembaca harus siap menemukan cerita yang tidak mampu diterima logika. Dunia di luar materi, yang tidak terikat waktu. 

Tapu bukan Murakami namanya kalo tidak menyisipkan renungan panjang dalam ceritanya. Menurut pembacaan saya, Murakami mencampur bumbu kegalauan tentang kekosongan dan ketidakberartian manusia, serta bagaimana arti kehidupan itu sendiri. Tokoh-tokoh dalam buku ini memiliki masalah dengan kenangan. Kafka dengan kenangan akan ibunya yang hanya ia miliki di usia empat tahun kemudian menghilang. Nona Saeki yang hidup dengan kenangan sempurna akan kebersamaannya dengan kekasihnya diusianya yang belasan tahun, dan Nakata yang sama sekali tidak memiliki kenangan. 
Kenanganlah yang menjadi titik balik para tokoh dan menjadi benang merah yang menautkan peran tiap tokoh. 

Menurutku tokoh Nakata yang tidak memiliki kenangan sama sekali, serta ketidakmampuannya membaca sehingga dianggap bodoh yang menjadi tokoh ideal dalam cerita ini. Tokoh Nakata tidak memiliki beban hidup sama sekali. Mengikuti kemana kakinya melangkah dan mempercayai hatinya. Ia selalu merendah akan ketidakmampuannya membaca dan kurangnya pengetahuannya, namun dari kekurangan itulah membuat ia tidak sombong. Manusia dengan pengetahuan yang mereka miliki membuat mereka merasa paling benar, mau menang sendiri, serta memandang remeh orang lain. 

Tokoh Kafka adalah anak remaja yang berusaha mencari arti hidupnya. Setelah ayahnya mengeluarkan kutukan bahwa kelak ia akan membunuh ayahnya, dan menodai ibu dan kakaknya, ia merasa terkekang. Ia berusaha mencari tahu apa arti dari kutukan tersebut. Apakah kutukan itu menjadi nyata? 

Tokoh-tokoh dalam cerita ini pun mempertanyakan kembali siapa mereka dan menemukan jawaban bahwa mereka bukanlah siapa-siapa hingga tidak mengetahui kehadirannya di dunia. 

Agak filosofi untuk memahami novel Dunia Kafka ini. Kehadiran Kolonel Sanders ikon waralaba terkenal KFC pun makin membuat buku makin surealis. Tapi kehadiran Kolonel ini dijelaskan kepada pembaca melalui dirinya sendiri sebagai sebuah konsep. Suatu yang ada di alam ide, eksis, namun tidak memiliki unsur. Pada dasarnya alur cerita dan tokoh-tokoh ini dalam novel ini pun mewujud dalam benak-benak manusia. Dalam gelumbung-gelembung pikiran yang kadang tidak disadari. Membaca buku hendaknya membebaskan semua logika alam materi. Membiarkan imajinasi bebas mengikuti tutur cerita penulis. Toh, petunjuk kalo novel ini surealis sudah dijelaskan di sinopsis. Anggap seperti meminum ramuan kopi baru yg hendak dinikmati pelan-pelan. Tidak berwarna, tidak pahit, manis, dan harum namun bernama kopi. 

Buku ini saya beri rating 3,5 karena berhasil membuat saya berpikir banyak dan merenung. Efek inilah yang membuat saya menyukai membaca Haruki Murakami :D. (*)

Bone, 13 Mei 2014
Images

Emma dan Casual Vacancy



Sebuah kado buku yang lain lagi dari Emma. Casual Vacancy karangan JK. Rowling. Buku tebal dengan sampul yang tebal pula. Saya belum sempat membacanya. Buku Kafka On The Shore karangan Murakami yang juga pemberian Emma belum selesai saya baca. Jikalau malaikat itu kasat mata, maka saya yakin Emma adalah malaikat. Teman saya ini sudah cantik, baik hati, lemah lembut pula. Jikalau ada pembaca blog ini tertarik ingin mengenalnya, maka saya yakin dia bakal menjadi teman yang menyenangkan. Emma masih jomblo loh #promo. 

Hmmmm.... Kali lain saya tidak bakal menulis buku apalagi yang ingin saya baca di blog ini. Bisa-bisa saya dapat hadiah buku lagi dari dirinya. Hahaha.

Anyway, M, kalo kamu baca postingan ini, saya mau bilang saya sudah menemukan gambar apa yang ingin saya rajah dipunggung saya. 

Terima Kasih buat bukunya Erma Musrianti ;). (*)

Bone, 6 Mei 2014
Images

Hadiah Buku Ammacaki



Adalah menyenangkan ketika seseorang menghubungimu dan memintamu memilih buku apa saja yang kamu inginkan dan ia bersedia membayarkannya untukmu. Rasanya seperti mendapatkan kejutan yang sangat menggairahkan. 

Saya mengalaminya seminggu lalu. Seorang kawan tiba-tiba mengirimi saya pesan via Whatsapp dan menanyakan buku apa yang ingin saya miliki dengan nominal yang cukup besar. Seketika saya blank. Buku apa yang saya inginkan? Keinginan memiliki suatu judul buku selalu terbersit manakala saya membaca resensi atau seseorang merekomendasi buku dengan judul tertentu. Namun, tak jarang buku yang diinginkan tidak lagi dicetak atau agak susah ditemukan di toko buku besar. Maka ketika saya ditanya buku apa yang saya inginkan, maka saya tidak tahu sama sekali. Untungnya satu judul buku menjelma terang di pikiranku. Serial Lord of The Ring, versi booksetnya yang belum ku koleksi. Segera saja saya menyebutkan buku tersebut. Kemudian masih tersisa satu quota buku lagi. Semua buku yang saya sebutkan tidak tersedia, untungnya kawan saya ini menawarkan buku yang memang telah lama saya dengar namun belum saya baca, George Orwel, 1984. Koleksi buku-bukuku bertambah lagi, senangnya. 

Siapa yang begitu baik hati membelikan saya buku? Nah, namanya Ammacaki. Ammacaki adalah komunitas review buku di Makassar dengan aturan masing-masing anggota membaca dan menulis review dari buku yang dibaca lewat blog atau catatan fesbuk. Yang membaca dan mereview buku terbanyak setiap bulannya menjadi pemenang dan masing-masing anggota wajib menyumbang Rp.10.000 sebagai hadiah untuk pemenang. Hadiahnya berbentuk buku yang dipilih oleh pemenang. 

Sangat gampang bergabung di komunitas ini. Cukup mention di twitter @Ammacaki dan menuliskan link blogmu atau gabung di facebook #bacaituseru. Tiap bulan Ammacaki mengadakan kopdar di Makassar sembari ngobrol dan diskusi buku. Tiap bulan ada bacaan wajib yang menjadi bahan diskusi untuk kopdar berikutnya. Asyik kan kegiatannya? Kapan lagi bisa baca buku dan mendapatkan reward buku juga.

Terima Kasih Ammacaki, buku-buku tebalnya berat tapi tampak indah berjejer di rak buku. Pasti lebih asyik lagi pas dibaca ;). (*)

Bone, 6 Mei 2014