Images

Ara dan Video-videonya

Selain foto, kupikir video salah satu cara untuk mengabadikan kenangan. Bedanya, foto menampilkan gambar tidak bergerak. Sedangkan video menangkap satu kenangan yang bergerak selama beberapa saat. Ia merekam suasana, suara, dan gerak. Seperti itu yang saya lakukan untuk menyimpan beberapa kenangan yang saya lakukan bersama Ara. Memotretnya dan memvideokannya. Sayang video kadang tidak memberikan kualitas yang baik. Karenanya jarang saya lakukan. Soalnya teknologi yang saya pakai hanyalah video kamera handphone dengan segala keterbatasannya. Inilah beberapa video milik Ara.



Images

Dekorasi Kamar Ara


Seminggu lalu saya dan Ara sempat nongkrong di Frontroom Baker. Berteduh dari salju dan menumpang menghangatkan diri. Dekorasi Frontroom penuh dengan ornamen natal yang biasa digantung di pohon natal. Tapi saat itu ornamen berbentuk bola-bola itu tidak menggantung cantik di dahn-dahan pohon natal. Bola-bola berwarna-warni itu menggantung di flapon. Dengan pita warna-warni. Ara sangat suka melihatnya. Ia menunjuk-nunjuk dan gemes melihat ornamen itu memenuhi semua flapon. Kugendong dia dan kubiarkan ia menggoyangkannya.

Karena natal telah berlalu, maka hiasan-hiasan itu banting harga di Walmart dan Kroger. Saya pun membelikan beberapa ornamen buat digantung di kamar. Tidak lupa hook, pita, dan plaster untuk direkatkan di flapon kamar. Saya menunggu Ara bobo siang supaya jadi kejutan buatnya. Nyatanya dia malah nda bobo. Kupikir dia akan menganggu saat kupasang ornamen-ornamen itu, nyatanya dia malah ikut main-main dan tidak menganggu sama sekali.

Hooknya dan plesternya lumayan kuat melekat di langit-langit kamar. Hiasannya juga cukup ringan. Ara suka memperhatikan hiasan-hiasan itu sambil berbaring di atas tempat tidur. Kalo terbangun malah meminta semua ornamennya digoyangkan. Heheheeheehe. Semoga ornamennya bertahan melekat sampe pulang ke Indonesia tahun depan.
Images

Saya Merayakan Natal di Rumah Emily dan Mary Sue

Makan malam di rumah Mary Sue
Natal adalah hari raya agama yang paling akrab di telinga saya selain lebaran. Tapi saya tidak pernah ikut perayaan natal. Natal selama ini hanyalah sebatas pohon berhias lampu kelap kelip, tokoh santa klaus, dan film-film bertema natal di televisi.  Yup, natal adalah saat banyak film-film bertema keluarga diputar di layar kaca.

Tapi natal tahun ini berbeda. Saya berkesempatan ikut merayakan natal di rumah Erick, di Milford Cincinnati. Rasanya seperti mendapatkan berlipat-lipat kesempatan langka. Pertama merayakan natal di negeri yang punya salju, kedua merayakan natal dengan tradisi seperti di tivi-tivi, tiga merayakan natal itu sendiri. Rasanya begitu exciting buat saya.

Emily dan saya
Kami berangkat ke Cincinnati sehari sebelum natal. Malam saat kami tiba di Milford, kami menuju ke rumah Mary Sue, tantenya Erick. Awalnya saya berpikir bahwa perayaan natal hanyalah pada saat hari natal. Nyatanya, perayaan natal sesungguhnya adalah pada malam natal. Rumah Mary Sue penuh dengan sanak keluarga. Agak canggung juga rasanya tiba-tiba datang dan nda kenal siapapun. Tapi, semua itu sirna ketika para tamu menyambut kami dengan ucapan Merry Christmas dan mengajak masuk. Emily, adik Mary Sue, ibu Erick menyambut kami dengan ramah. Tiap orang yang saya temui menjabat tangan dan kemudian ngobrol dengan saya. Menyapa Ara. Sayangnya Ara sedang grumpy. Ia baru saja bangun dan tiba-tiba harus berhadapan dengan kenyataan bahwa begitu banyak orang disekitarnya dan ia tidak kenal. Wajahnya, rambutnya, bahasanya sangat beda. Dan ia pun menangis tak mau berhenti. Hanya sekali ia berhenti menangis, ketika melihat seekor anjing Dalmatian lewat di depannya. Kemudian ia kembali menangis. Keras dan tidak mau berhenti.

Butuh beberapa saat untuk membuatnya diam. Setelah masuk kamar, turun ke basement, dan kembali lagi ke ruang keluarga akhirnya Ara memilih diam. Agak aneh rasanya berada di pusaran bule-bule yang berbahasa Inggris. Seperti tenggelam dalam keramaian. Namun mereka sangat ramah untuk mengajak ngobrol sekalipun bahasa Inggris saya pas-pasan. Aneh bin ajaib saya lumayan bisa ngobrol dengan mereka. Menangkap sedikit-sedikit percakapannya dan berusaha merespon balik. Ara dengan senangnya bermain dengan Deary, si Dalmatian itu. Aduh nak, itu anjing. Saya agak parno sama anjing. Tapi Ara tidak punya rasa takut sedikit pun. Ia malah menarik-narik tanganku untuk menyentuh anjing itu. Mengejarnya jika Deary menyelinap ke dapur. Menguntitnya sembari memegang ekornya. Dan paling ia suka memberinya makanan. Mungkin karena ia belum punya konsep tentang anjing, biarlah.

Mary Sue, Deary, Ara, dan saya
Malam natal adalah malam di mana keluarga berkumpul dengan sanak saudaranya. Seperti ajang silaturahmi setelah lebaran. Datang dari berbagi kota, membawa kado dan saling berbagi cerita. Makanannya adalah makanan khas Amerika. Sweet Potato, Mashed Potato, Kue-kue natal, Petuccini, Puding jagung, dan daging babi. Yang terakhir itu saya nda berani coba :D. Kemudian ada acara buka kado. Selama ini saya selalu berpikir kado natal hanyalah di tivi-tivi ternyata di tradisi Amerika mereka memang bertukar kado. Setiap orang memberikan kado kepada orang lain. Rasanya pengen nyanyi lagu yang sering dinyanyikan Steve diserial Blue's Clues kalo lagi buka kado.

 Waktu menunjukkan pukul 8 malam, tapi rasanya sudah begitu malam. Kami pun turun ke Basement untuk tidur. Sayang, Ara masih pengen main dengan Deary. Saya dan ayahnya harus gantian menemaninya bermain dengan Deary.  Kami akhirnya menemukan titik kompromi setelah 30 menit dia bermain dengan si Dalmatian itu. Ia akhirnya nurut tidur. Kami yang berencana ikut misa tengah malam di gereja terpaksa batal karena kecapaean.

Di Hari Natal, Kami Berbagi Cerita

Capek semalam sukses membuat kami tidur tanpa terusik. Ara bahkan hanya sekali menangis. Itupun tidak keras. Jam baru menunjukkan pukul 7.30 pagi. Tapi saya memilih untuk segera mandi. Si Ara bangun pagi nyariin Deary. Kayaknya dia udah In love sama anjing itu. Mari Sue sibuk membuat kopi di dapur. Langkahnya lambat namun masih kuat. Kutaksir umurnya mendekati 80 tahun. Katanya ia lebih tua empat tahun dari Emily. Ia membuatkan saya kopi. Menawarkan sarapan buat saya. Tapi kutolak halus. Takut merepotkannya. Ia menanyakan apakah kami sempat ke misa semalam? We were to tired, jawabku. I know, saya juga hampir ketiduran di misa. Saya ke misa pukul 3 pagi, katanya.
Membuat salad

Tiba-tiba  Deary menggonggong keras. Seseorang mengetuk pintu. Ternyata ia adalah tetangga Mary Sue. Ia sedang membawa anjingnya kakaknya jalan-jalan ketika menyadari bahwa ia terkunci dari luar. Ia akhirnya ke rumah Mary Sue untuk meminjam telepon. Anjing dalam gendongannya tampak menggigil, ia pun tampak kedinginan. Karena tak ingin menganggu mereka saya memilih turun ke basement dan memandikan Ara. Sayup-sayup kudengar Mary Sue berusaha menghubungi kantor polisi untuk meminta bantuan.

Ara yang masih ingin bermain dengan Deary merengek ingin ke atas. Ternyata sang tetangga berusaha masuk lewat jendela. Ia meminta Mary Sue menjagakan anjingnya. Anjing kecil berbulu coklat itu bernama  Celia. Ia buta dan tuli. Karenanya tuannya meminta anjingnya dijaga selagi ia berusaha membuka pintu rumah. Saya menemani Mary Sue menjaga Celia. Dari ceritanya saya tahu bahwa Deary dan Celia berteman baik. "Deary also my friend. She is 7 years now. Old enough for a dog. She is just like me. We just like best friend. Deary and Celia always pee together. i think that's what best friend do" katanya sambil tertawa. "Yes, friends are sharing everything" kataku.
"I and Deary just like old friends. We always sleep together" katanya lagi.
Makan siang bersama

Untungnya pemilik Celia berhasil masuk dan membuka pintu rumahnya. Ia pun mengendong Celia sambil berkata " Thank u. I can't opened my door without ur help" katanya pada kami. Duh, orang-orang disini kalo ngomong menyentuh banget ya sampe ke hati. Saya pun menemani Mary Sue berjalan-jalan. Dengan alat bantu penopang tubuhnya yang beroda dia berjalan menyusuri jalan depan rumahnya. Ia bercerita bahwa ia menderita sebuah penyakit otot di paha kakinya. Ia harus melakukan suntikan seminggu sekali sebagai perawatan. Ia melakukannya suntikan sendiri dan  sudah dijalaninya selama dua puluh tahun. Ia melatih ototnya dengan berolah raga. Berjalan-jalan keliling kompleks. Ia menyakini bahwa tetap beraktivitas adalah kunci kesehatannya. Tiap pagi ia akan memunguti koran tetangganya dan menyimpannya di beranda. Ia juga berkata untuk ketenangan dan kesehatannya, ia banyak berdoa. Doa membuatnya menjadi sangat tenang dan lepas dari stres.

Setelah kami jalan-jalan, kami singgah di rumah Emily. Kebetulan pagi itu Emily dan Erick sedang sarapan. Emily menawarkan saya scramble egg. Saya pun tidak dapat menolak. Saya bercakap-cakap dengan Emily dan Mary Sue. Emily bercerita tentang ponakannya yang mendapatkan tiket murah ke Ice land. Kami pun menjadikan globe sebagai peraga untuk tahu dimana Ice land. Saya pun menunjukkan di mana Indonesia. Ketika melihatnya, Mary Sue kemudian berkata "No wonder u said that everytime is summer". Indonesia dilewati garis ekuator a.k.a khatulistiwa :D.

lilin-lilin  gereja
Ara duduk tenang memakan scramble eggku. Deary entah kemana bermain. Kak Yusran tiba-tiba datang. Emily pun memintanya sekalian memanggil Mas Yearry dan Mbak Dessy untuk sarapan di rumah Emily. Saya menemani Emily mempersiapkan sarapan. Emily seperti halnya Mary Sue, sama-sama menyenangkan diajak ngobrol. Meskipun kadang kami tidak saling mengerti bahasa. Tapi dia mau mendengarkan apa yang saya bilang. Kalo nda mnegerti kadang ia berkata " i don't know what u talking".

Selesai sarapan kami menuju gereja untuk mengikuti misa. Ini pertama kalinya saya ikut misa. St. Andrew Church adalah gereja katolik yang menjadi gereja dimana keluarga Erick turun temurun melaksanakan misa natal. Tradisi ini berlangsung sudah ratusan tahun. Jemaat gereja tengah beribadah ketika kami masuk gereja. Paduan suara mengalun merdu dipandu oleh Father Waller. Waller mengenakan jubah putih mirip jubah Paus. Bernyanyi beberapa lagu dan kemudian berkhotbah. Ara mulai tidak sabaran. Sesekali berteriak keras bahkan menangis.
bersama Father Waller

 Untungnya di sampingku ada seorang anak kecil berusia 6 tahun bernama Quinn mau menemaninya bermainnya. Meminjamkan Nutcrackernya untuk Ara pegang.  Hingga misa selesai ia tidak lagi menangis-nangis. di akhir misa, ada ritual memberikan roti dan minuman kepada para jemaat. Ini dimaksudkan seperti Isa yang memberikan pelayanan kepada murid-muridnya. Saya ikut dalam barisan tapi memilih untuk tidak memakan roti dan meminum dari cawan. Sebelum misa berakhir para jemaat menyanyikan "Joy to The World" dan kemudian bersalam-salaman mengucapkan Peace be upon to you dan Merry Christmas.

Seperti halnya selesai lebaran, makan bersama adalah salah satu hal yang paling ditunggu. Emily membuat sweet potato. memanggang kalkun, mashed potato, puding jagung, kue kering, dan salad. Saya membantu membuat saladnya. Kembang kol, bayam, paprika, dan tomat. Cincang-cincang dan aduk sampai bercampur. Jadi deh. Tambahkan mayonaise atau yang cream lainnya. Enak. Saya menjadikan salad sebagai menu amerika favorit saya berikutnya.
Membuka kado natal

Sambil menunggu Donald, kakak Erick, kami membuka kado. Wah, kami mendapatkan kado natal. Senangnya. Ara dapat boneka, saya dapat cokelat, dan Kak Yusran dapat buku cerita :D. Duh, senangnya. Kami pun memulai makan siang setelah kakak Erick datang. Makan siang yang menurutku cukup resmi karena menggunakan silverware dan menyalakan lilin. Hehehe.

Sarah, Ara's Christmas present

Selesai makan siang kami berbagi cerita. Kadang sekedar mendengarkan Erick dan keluarganya bercerita. Sesekali menimpali. Saya serasa berada diantara keluarga sendiri. Sangat akrab dan berbagi cerita. (*)


Images

Pada Malam Natal Kami Ke Cincinnati

Ini Cincinnati Ohio atau Kentucky ?
Musim libur telah datang. Athens kembali menjadi kota sunyi. Lebih sunyi dari libur Thanksgiving kemarin. Tak ada aktivitas kampus. Mobil-mobil yang biasanya memenuhi parkiran hilang satu per satu. Halaman parkir apartemen kosong. Para penghuninya minggat ke kota. Mereka menikmati liburan. Mereka pulang ke rumah merayakan natal.

Suasana natal telah jauh hari terasa di sini. Rumah-rumah dihiasi lampu berkelap kelip. Pohon natal penuh ornamen hadir di tiap rumah. Juga berdiri di sudut-sudut kota. Hiasan natal dari dedaunan Evergreen berpitakan merah menghias pintu-pintu. Tak ketinggalan lagu Natal yang selalu terdengar. Suara Buble adalah suara yang paling sering saya dengar setiap lagu natal mengalun.

Bayi Isa di stable

Saya, Ara, Ayahnya, Mas Yearry, dan Mbak Dessy (Roommates kami) memilih merayakan natal di Cincinnati. Tepatnya di Milford, rumah ibu Erick. Cincinnati adalah salah satu kota terbesar di Ohio. Jaraknya 3 jam dari Athens. Desember, 24  pagi saat hujan menguyur Athens, kami berangkat menuju kota dimana Erick tumbuh.

Sepanjang jalan antara Athens dan Cincinnati yang ada hanyalah padang pertanian. Jalanan Highway cukup membosankan karen lurus dan sepi oleh rumah penduduk. Saya jadi rindu pada jalanan Bengo-Makassar yang berkelok dan dipinggir jalan penuh rumah. Cuaca mendung dan dingin. Ara tidur sepanjang perjalanan dan baru bangun saat mendekati kota Cincinnati. Untuk memasuki kota Cincinnati kami melewati highway dan menginjakkan kaki sebentar di negara bagian Kentucky dan selanjutnya berputar di masuk ke Cincinnati. Lucu rasanya.


Kami sampai di Cincinnati saat siang. Langsung menuju Krohn Observatory. Krohn Observatory adalah sebuah observatorium untuk segala jenis tanaman. Dari yang bonsai, kaktus, hingga Anggrek. Dari tanaman empat musim hingga tanaman tropis. Kami bertemu Emily, ibunya Erick di Observatory ini. Karena dia telah membelikan karcis masuk untuk kami. Cuaca cukup dingin dari biasanya. Butiran salju melayang tipis seperti butiran styrofoam. Tapi tidak juga lebat. Sambil menunggu Emily datang, kami mengunjungi Stable yang didirikan di samping bangunan observatorium. Stable ini berisikan kambing, kuda, dan keledai. Juga patung-patung representasi Maria dan bayi Isa.Stable ini disediakan khusus saat jelang natal untuk menggambarkan kisah kelahiran bayi Isa Al Masih.
"tutu tutu" kata Ara

Menunggu kereta api

Krohn Observatory padat pengunjung. Para pengunjung rata-rata orang tua, keluarga, dan anak-anak. Pertama yang kami lihat adalah miniatur kereta api dengan  yang dihiasi dengan bunga-bunga empat musim. Ara paling suka kereta api ini. Dia takjub melihat kereta-kereta api kecil yang bergerak di sepanjang relnya. Melewati jembatan dia atas kepala. Dia senang sambil menirukan suara kereta "tutu' tutu'".
Sayap kupu-kupu

Selanjutnya kami menuju ke ruang display kaktus. Ada lidah buaya, kaktus berduri, dan segala jenis kaktus yang sering saya tanam waktu kecil di rumah. Di ruang display berikutnya dipajang bunga-bunga anggrek. Saya tidak begitu tertarik. Saya bukan penikmat bunga soalnya. Hehehehe. Di ruang berikutnya ada bonsai-bonsai lengkap dengan tahun kapan mulai dibonsaikan. Kasian juga liat tanaman bonsai yang dipaksa mengecil atas nama keindahan.
Ketemu pohon coklat

Berikutnya adalah ruang display tanaman tropis. Suhu ruangannya lebih panas dari suhu ruangan berikutnya. Dan yang paling mencengangkan adalah saya bertemu pohon coklat. hahahaahaha. Jauh-jauh ke Amrik saya liatnya pohon coklat. Di dekat rumah malah ada berpuluh-puluh pohon. Waktu kecil memetik coklat adalah kerjaanku. Nda nyangka ke Amrik ketemu pohon coklat. Saya dan pohon coklat memang berjodoh. Ada juga tanaman jahe dan lengkuas. Duh, kalo saja ini bukan observatorium sudah saya gali tuh lengkuas sama jahenya. Saya butuh buat masak di dapur. Di sini jarang yang jual.
Bersama Emily

Saya ngobrol sebentar dengan Emily. Ternyata, observatorium Krohn ini sudah sangat tua. Ia bercerita bahwa ia sangat suka ke tempat ini. Setiap tahun. Sejak ia kecil. Dan umurnya saat ini adalah 70an tahun. Ketika saya menanyakan sejak kapan Krohn ini didirikan ia tidak tahu pasti. Ketika ia menanyakan pada seorang ibu-ibu yang seumuran dengannya ibu-ibu itu pun menjawab tidak tahu. Baru setelah browsing di Internet saya tahu Krohn Observatory sudah ada sejak tahun 1933. Wow!!! Lebih tua dari Indonesia merdeka.
Di depan kebun binatang

Selanjutnya kami ke kebun binatang Cincinnati. Sayangnya, kartu member untuk gratis masuk milik Emily tidak bisa dipakai, karena Emily tidak ikut bersama kami ke kebun binatang. Jadinya kami hanya sekedar foto depan gerbang Cincinnati Zoo seolah-olah sempat masuk ke dalam. Kemudian kami mengunjungi Fountain Square. Downtown Cincinnati. Di pusat kota Cincinnati terdapat pohon natal yang sangat besar. Pohon natal yang paling besar yang pernah saya lihat. Di sampingnya ada areal ice skating dan Fountain dengan patuh berdiri megah. Sayangnya air mancurnya lagi kering, jadi saya batal iseng lempar koin dan mengucapkan permohonan.
Kota belakang itu Kentucky loh

Fountain Square's Statue
Cuaca makin dingin. Kami mengaso sebentar di Greater's Ice Cream. Kafe ini menghadirkan aneka penganan coklat dan es krim buatan sendiri. Saya baru merasakan hot chocolate yang sangat enak setelah mencicipi hot chocolate toko ini. Starbucks lewat, apalagi hot chocolate sachet yang dijual di Walmart. Jauh deh pokoknya. Nyesal juga rasnaya saya nda mencoba es krimnya.

Suasana Ice skating di downtown Cincinnati

Sore harinya kami menuju rumah Erick. Berjuang melawan dingin yang kian memuncak di malam natal. (*)


Images

Parkersburg di Suatu Sore

Gerbang West Virginia
Matahari minggu siang bersinar cerah. Hangatnya menyentuh bumi yang masih berlapis sisa salju kemarin. Mencoba melelehkan sisa es yang menutupi Athens. Saya dan beberapa teman Indonesia tak menyia-nyiakan hari ini. Hari cerah dan ini adalah musim liburan. Kami ke Parkersburg, West Virginia. Jaraknya dekat dari Athens, Ohio. Hanya butuh 45 menit berkendara.

Parkersburg salah satu kota terbesar di West Virginia. Di tahun 1857, Parkersburg dilewati rel kereta api Batlimore and Ohio Railroad. Rel kereta api ini memiliki peran penting di masa perang saudara. Sebagai transportasi dan juga mengangkut bahan obat-obatan. Rel kereta api ini pula yang digunakan untuk mengangkut gas dan minyak setelah masa perang.

Old Rusty machine

Langit mulai jingga saat kami memasuki Parkersburg. Bangunan padat menjadi penanda kota berdiri rapat. Jalanan sibuk dengan mobil berlalu lalang. Kami mengunjungi museum oil dan gas. Museum mengoleksi mesin-mesin tua yang cukup besar. Beberapa disimpan begitu saja di halaman museum. Baja besar, karatan, dan yang pasti berat. Tak ada yang mempreteli besi tua itu sekalipun dionggok begitu saja depan museum.

Oil and Gas Museum

Museum oil dan gas menempati satu bangunan tua di Parkersburg. Biaya untuk masuk perorang adalah $3 sedangkan untuk anak-anak $2. Pukul 4 sore, museum masih buka. Namun kami tidak menemukan penjaga di loket karcis sekalipun kami mencari hingga ke berbagai ruangan di bangunan itu.

Pemandangan di dalam museum juga dipenuhi mesin-mesin tua. Timbangan, pompa, dan segala macam mesin yang saya nda ngerti apa tujuannya. Remang-remang menjadikan suasana museum makin suram dan menakutkan. Kurasakan Ara mencengkram bahuku kuat-kuat saat kugendong. Saat mengintip ruangan yang lebih dalam lagi, dia merengek ketakutan. Pelang-pelang seperti penanda penempa besi yang sering saya lihat di film-film koboi tergantung di kuseng pintu. Segala dari masa lalu ada di sini, pikirku.

Suram membuat suasana makin mencekam. Tak ingin berlama-lama rasanya di museum itu. Entah, seperti ada yang membuat bulu kuduk berdiri tegak. Kami pun meninggalkan museum setelah menyimpan uang donasi. Sebelum mobil yang kami tumpangi melaju, sekelebat bayangan pak tua dengan rambut putih mengintip dari kaca pintu. Hihhh!!!!!!

                                                                        ***
ornamen natal

Tujuan utama ke Parkersburg adalah berbelanja dan liatin mall. Enam bulan di Amerika dan saya belum pernah melihat mall. Aneh juga rasanya menyadari saya kangen mall. Kami berbelanja di Gabriel. Tempat belanja baru yang sangat murah. Baju seharga $1 bisa ditemukan di sini. Tapi saya malah suka berbelanja di Craft 2000. Toko yang isinya segala bahan untuk kerajinan tangan. Duh, gatal rasanya tanganku membeli benda-benda lucu dan imut. Saya berhasil membeli ornamen natal yang lucu. Harganya tak cukup $5 . Bakal saya gantung di kamar buat Ara.

Yarn

Setelah di Gabriel, kami pun makan malam di restoran China. Restoran China ala Buffet. All u can eat.Tipe restoran favoritku. Makan sepuasnya. Saya makan sepuasnya lah. Makan nambah dua kali. Nambah cemilan, buah, dan es krim. heheheheehe. Daripada nyesel sudah bayar $10 tapi ga puas, mending dipuas-puasin.
Manjat-manjat

Grand Central Mall, Parkersberg

Terakhir, kami mengunjungi Mall. Duh, senangnya. Akhirnya bisa liat mall juga setelah berbulan-bulan cuma liat Walmart. Namanya Grand Central Mall. Banyak lampu-lampu, toko-toko, dan orang ramai. Inilah definisi mall dalam kamusku. Ada Mall di Athens, tapi sepi banget. Nda ada orang.
Picture group minus Daddy

Ara juga senang, main-main di tempat bermain. Tidak lagi menunjukkan muka ketakutan seperti di museum. Untungnya kali ini di mall saya nda mengeluarkan teknih the art of shopping. Standar bayarnya adalah dollar dan harganya selalu dua digit. Hih...no need deh. Kalo pulang ke Indonesia sibuk kepak dan angkat barangnya. Hihihihii. (*)

Images

White Christmas


Butiran-butiran putih jatuh perlahan dari langit. Meliuk-liuk ringan terbawa angin. Seperti robekan-robekan kecil kertas putih yang biasa aku lemparkan ke udara saat masa kanak-kanak. Tapi butiran ini dingin. Jatuh di atas kepala. Jatuh diatas hidung. Jatuh diatas tanah. Kemudian meleleh. Ia adalah hujan yang menjadi beku. Memilih menjadi Kristal air sebagai bentuk adaptasi pada cuaca.

Musim gugur sudah lama berlalu, tapi salju pagi ini adalah penegas bahwa musim telah dingin. Kristal-kristal kecil itu berkomuni memupuri jalan, halaman, padang rumput, bahkan dengan genit singgah di kaca jendela. Hari ini adalah hari-hari di penghujung desember. Kudengar cerita bahwa musim salju dan natal adalah moment yang cukup langka. Di Athens ini, kadang salju datang di awal tahun. Beberapa saat setelah kembang api dinyalakan dan mengerjap cemerlang di langit saat pergantian tahun. Tapi tahun ini, salju datang beberapa hari sebelum natal.

Kota kecil ini bersuka cita merayakan natal. Toko-toko memiliki pohon natal. Jendela-jendela dipenuhi gambar frosty, santa claus, dan Kristal salju. Tiang-tiang listrik berpita merah dan digantungi ornament natal. Lampu-lampu didekorasi membentuk hiasan tertentu. Sepanjang jalan music natal mengalun. Setiap pintu rumah digantungi Christmas wreath. Hiasan natal dari tangkai pohon evergreen. Berpita emas dan merah. Hiasan itu menjadi cemerlang diantara hamparan salju putih yang menutupi atap, rumput, semak, dan ranting pohon. Ia hadir memberi warna di saat salju menyelimuti kota. Butiran salju mempertegas musim dingin, desember, dan natal tahun ini.

“Desember ini kamu akan merasakan white Christmas. Kalo saljunya belum turun, pas natal ,kamu putar lagu white Christmas saja.” Katamu sambil nyengir. Percakapan terakhir sebelum aku berangkat ke kota kecil ini. Percakapan terakhir kita. Kemudian kita memilih sama-sama diam. Mengapung di benak masing-masing. Berharap waktu berhenti dan memerangkap kita di sana. Natal putih? Khayalanku menari-nari membawa scene-scene film natal yang sering saya lihat di televisi. Apakah semenyenangkan cerita di tivi. Yang menyenangkan adalah bersamamu seperti saat ini. Tak perlu saat natal, tak perlu turun salju. Bersamamu saja, kataku tapi tertelan diujung lidah . Tak sempat diucapkan. Ditelan dengan pahit hingga ke ulu hati.

Diam berdiri diantara kita. Sayangnya waktu memilih tidak membeku. Saya tak ingin mengucap selamat tinggal, saya hanya ingin berkata sampai jumpa, suaranya mendenyarkan kesunyian. Iya, serak dari tenggorakanku. Anggukan cepat menimpali paraunya suaraku. Maukah kau merindukanku, kataku benak kecilku di kepala. Sauh waktu perlahan pergi. Meninggalkan aku dan kamu. Hari terakhir kusadari kita menjejak planet yang sama. Jarak menganga di antara kita. Memisahkan kita. Membuat kita menjejak dan berotasi planet yang berbeda. Kemudian kusadari kita tidak lagi berada di dunia yang sama. Kita tidak lagi saling berbagi cerita atau seekdar bertukar apa kabar.

December menghitung harinya. Musim telah menjadi dingin. Udara membeku. Dingin begitu menyakitkan hingga ke sumsum tulang. Hingga mati rasa. Tapi aku sangsi apakah dingin mampu mematikan rindu. Natal tinggal beberapa hari lagi. Dingin tak menjadi penghalang warga kota Athens tak merayakan natal dengan suka cita. Jinggle bells mengalung riang dari kotak music yang dipasang di tiang listrik. Kakiku melangkah cepat menghidari dingin yang kian menusuk. Membawaku masuk ke toko yang menjual hadiah natal. Saya berhenti di rak-rak kartu natal. Menjangkau dengan iseng kartu natal begambar frosty. Mengingatmu.

*** 

Bapak paruh baya itu meraih amplop yang kuserahkan. Menempelinya stiker kecil berharga $ 1.05. “Thank u” kataku. Kartu kecil dalam amplop merah itu entah akan melayang ke mana. Hanya kubekali ia dengan sederet alamat lama yang dulunya kutahu rumahmu. Entah kini. Saya tak pernah peduli apakah ia sampai padamu kelak. Saya hanya ingin mengucapkan selamat natal seperti tahun-tahun yang lalu padamu. Dimana pun kamu berada. Sayup-Sayup kudengar music natal mengalun dari playlist ipod yang tergeletak di meja kantor pos itu. Kulangkahkan kakiku menjauh sembari berucap “Merry Christmas” kepada petugas pos yang baik hati itu.

 I'm dreaming of a white Christmas
 With every Christmas card I write
 May your days be merry and bright 
And may all your Christmases be white

Images

Dari Linda Saya Belajar

ilustrasi
Hari ini saya bertemu Linda. Tidak sengaja. Pertemuan yang membuatku merenungi kembali akan nilai-nilai humanis. Siang tadi, sehabis berbelanja di Walmart, saya, Ara, dan suami memilih untuk menyeberang jalan menunggu bus. Biasanya bus lewat depan Walmart setiap sejam lewat 20-an menit. Kadang lewat sedikit. Kami keluar Walmart jam 1. 26 menit. Berspekulasi bahwa Bus mungkin saja sudah lewat. Kami memutuskan menyeberang untuk menunggu bus yang berputar di Holzer clinic. Karena jika menunggu bus lewat depan Walmart lagi butuh waktu sejam lagi.

Cuaca cukup dingin. Sehari lalu salju turun. Bunga-bunga esnya belumlah mencair. Angin cukup kencang menambah hawa dingin. Jaket Ara cukup tebal, tapi ia tidak memakai kaos tangan. Ia mulai menangis karena tidak nyaman. Bus yang kami tunggu belum juga datang.

Seorang nenek datang menghampiri kami. Ia bertanya pada suami saya apakah ia bisa mengantar kami. "Saya tidak tega melihat anak kecil di cuaca sedingin ini", katanya. Suami saya menolak halus, menjelaskan bahwa kami sedang menunggu bus. Tapi ia tetap memaksa mengantar kami. "Bagaimana jika saya mengantar anak istrimu saja. Karena mobilku hanya bisa untuk satu penumpang" katanya lagi. Ara makin rewel. Bus pun tampaknya masih lama dan angin bertiup kencang. Saya pun setuju untuk ikut di mobilnya dan mengantar kami ke Riverpark.

Ia bernama Linda. Kuperkirakan usia cukup tua. Kulit wajahnya mulai mengeriput. Jalannya tidak tegak lagi. Tapi fisiknya masih cukup kuat untuk mengendarai mobil. Ia membukakanku pintu mobilnya dan membantuku memasang sabuk pengaman. Saya duduk di depan, memangku Ara. Kursi belakang mobilnya penuh dengan kursi lipat. "Maaf, mobilku penuh barang. Saya harus membawa kursi-kursi ini untuk perayaan natal di rumah" katanya. "Maaf, tak ada car sheet bayi" katanya lagi. Saya tidak masalah memangku Ara dan duduk di samping pengemudi. Saya hanya mengkhawatirkan dia bakal ditilang polisi jika membawa bayi tanpa tempat duduk khusus dan didudukkan di samping supir. Tapi sepertinya dia tidak mengkhawatirkan hal itu.

Linda suka bercerita. Sepanjang jalan kami ngobrol. "Apakah kamu berteman?"tanyanya. "Hmm..My husband's friends. Saya agak sulit berteman" jawabku. " Saya paham. Apalagi dengan memiliki bayi" lanjutnya. "Dan kendala bahasa" kataku sambil tertawa. "Yess, I know. But ur doing very well" katanya.
"Where are you from?", "Indonesia". "I'm Sure that u missed your country, especially in this winter".

Saya tidak berani menanyakan kerjanya, maka saya bertanya apa aktivitasnya. Ia menjelaskan bahwa ia sedang belajar bahasa China. Ia dan suaminya aktif di gereja. Mereka mengajar di sekolah minggu di Athens Bible Church. Ia banyak mengenal komunitas China di Athens. Ia bercerita bagaimana senangnya ia belajar bahasa china. Katanya ia belajar speaking dulu kemudian belajar writing. "So u learn Chinese's Alphabet?", dia jawab dengan anggukan. "Wow, it's hard"responku.
"I know, it's so difficult, but beautiful. Know i try to write bible in Chinese Alphabet".
"Amazing!!! I can imagine how hard to write it"
"Yess. Especially with my old brain"
"There's no old brain if we practice everyday" kataku.

Ngobrol dengan Linda rasanya seperti mengobrol dengan kawan lama. Saya seperti mengenalnya bukan lima menit yang lalu. Ia sudah 25 tahun tinggal di Athens. Beberapa tahun tinggal di Jerman. Di Jermanlah kemudian dia memeluk agama kristen. Saya sangat tertarik untuk melihat aktivitasnya di gereja. Ia lantas menawarkan jika ingin datang kapan saja ia bersedia menjemput.

Di sini, saya bertemu dengan orang-orang yang begitu senang menawarkan bantuan. Membukakan pintu. Menanyakan apakah saya butuh bantuan jika sedang menggendong Ara sembari mengangkat strollernya.

Mereka menyentuh hati saya dengan perilaku humanis mereka. Kami mungkin memiliki banyak perbedaan. Warna rambut, bahasa, budaya. Kami pun mungkin berbeda keyakinan. Tapi kami sama-sama meyakini tentang saling menghargai dan kasih sayang antara manusia. Linda mengajarkan saya hari ini untuk melebih mengasihi sesama manusia. Menawarkan bantuan dan saling peduli. Seperti ajaran yang saya yakini di agama saya. Saya bersyukur bertemu Linda siang tadi. Ia membuat saya melihat lebih luas. (*)


Images

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu.
Ini salju nak, coba yuk!

Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin.
Bikin frosty ternyata susah

Sepanjang pagi saya duduk di depan jendela. Menatap salju di luar sana. Ara bahkan tertidur pulas di depan jendela. Mungkin seperti hujan, salju pun bisa melelapkan. Tak ada rintik seperti titik hujan di genteng. Yang ada hanyalah tarian bisu yang sangat hikmat. Yang ada hanyalah putih-putih-putih. saat terbangun, Ara pun tak lantas menangis. Ia malah asyik memperhatikan pemandangan jendela yang kian memutih. Seperti bedak tebal di wajah artis sinetron.
Ala-ala model

Suami saya yang paling semangat untuk keluar motret. Katanya gumpalan salju seperti sekarang ini jarang ada. Memang musim telah winter, tapi jangan membayangkan salju akan ada tiap saat. Salju itu tidaklah seperti yang ada di televisi. Yang selalu ada di tiap hari dan kamu bebas membuat manusia salju. Gumpalan salju ini akan mencair beberapa hari kemudian dan kamu berharap akan salju lagi yang entah kapan turunnya.
Ala model II

Maka demi gumpalan salju itu kami pun keluar  rumah meski hujan salju masih turun. Saya harus mengklarifikasi pernyataanku sebelumnya, bahwa hanya orang yang bodoh yang keluar rumah di tengah hujan salju. Saya pun menjadi orang bodoh itu. Menuntun strollernya Ara hanya untuk narsis  memegang es serut.
say "salju"

Hari ini, ada 5 kartu natal yang harus dikirim. Entah saya beruntung kartu natal itu hendak dikirim atau saya sedang sial. Terpaksa kami keluar rumah dan menuju kantor pos di Baker. Sesekali singgah motret di antara salju-salju. Kupikir, kartu-kartu natal itu beruntung dikirim hari ini. Karena natal sebentar lagi dan kantor pos akan tutup saat akhir tahun.
Foto buat orang Bengo

Tahukah kamu bagaimana salju itu? Ia lebih lembut dari es serut. Lebih tahan beku daripada bunga es. Jika es serut dibuat oleh manusia, maka salju adalah es serut buatan Tuhan. Ajaib rasanya bisa menyentuhnya. Mengukir nama di sana. Teksturnya sangat ringan. Jika angin bertiup kencang maka serutannya tebang. Menyapu lembut kulit. Ah..salju kupikir ia buruk, nyatanya tidak buruk-buruk amat.

Dan sebelum salju itu mencair, maka kuabadikan dulu dalam foto dan tulisan. (*)
Memotret fotografer

Numpang foto di rumah orang

Christmas wreathnya cantik, jadi canggung foto sama si pita merah

Selftimer pose

Seperti kastil Hogwarts

Mau es serut?
Dwi nama saya :D

Dingin...Brrr*smile*
Images

Punya KTP Amerika

Akhirnya saya punya KTP Amerika. Sok pamer? Mungkin iya. Gaya juga masuk dalam kategori itu. Secara selama ini saya cuma punya KTP Bone dan KTP Baubau. KTP Makassar saja nda punya sama skali. Padahal hidup di  Makassar hampir 5 tahun. Nah, dapat KTP Amerika yang disini lebih dikenal dengan nama State ID itu penting buat kelangsungan hidup saya di Athens. Meskipun tinggal 6 bulan lagi, tapi untuk mengisi dompet dengan kartu berbahasa Inggris saya anggap sedikit perlu. Biar sedikit gaya dan jadi kenang-kenangan kalo pulang nanti.
Ngantri bikin State ID
Saya sudah lima bulan tinggal di Athens dan baru ngurus State ID. Ckckckcckck. Padahal saya nda ada kerjaan di rumah. Telat pasalnya yang harus nemenin pergi ngurus sibuk kuliah. Pas musim libur ini baru deh sempat ditemani bikin. Saya menganggap penting State ID itu hanya karena persyaratan untuk menjadi anggota perpustakaan di Athens Library perlu pake State ID. Saya sangat ingin membaca serial ketiga The Lost Hero-nya Rick Riordan, Mark of Athens. Buku ini belum ada di Alden Library. Saya nda yakin sih kalo di Athens Library sudah ada, tapi setidaknya kalo punya kartu perpustakaan saya bisa pinjam buku bacaan buat Ara. Ara akhir-akhir ini sangat suka main dengan buku. Kayaknya sudah perlu membacakannya buku anak-anak.

Kembali ke State ID tadi. Buatnya gampang. Nda cukup 15 menit sudah jadi. Berkas yang diperlukan hanyalah Bank Statement, DS, sama paspor. Ngurus bank statement gampang-gampang susah. Saya harus punya rekening tabungan dulu. Awalnya sih mau bikin tabungan sendiri, tapi nominal tabungan dibawah 1500 dollar mendapatkan charge 12 dollar perbulan. Alamak, mahal kali lah itu. Pilihannya adalah numpang nama rekeningnya suami. Jadinya uangnya suami uang saya juga. Dikasi kartu ATM pula. (Asyik!!!!!bisa belanja).

Menabung di bank Amerika repotnya hanyalah karena mereka menggunakan bahasa Inggris. Tidak ada formulir yang harus diisi. Data langsung diinput oleh pegawai bank. Yang ditanda tangani hanyalah beberapa lembar hasil print dari data tersebut. Pas buka rekening, pas dapat kartu ATM. Terus beberapa minggu kemudian dapat kartu ATM lagi yang pake cetak nama. Sedikit bedalah dengan pengalaman saat saya jadi CS di bank dulu. Hmmm...yang menarik perhatianku saat di bank adalah jendela-jendela kaca yang mengelilingi dinding bank. Saya membayangkan kalo kantorku dulu begitu saya nda perlu repot-repot keluar kantor kalo cuma perlu liat ke jalan. hehehehehe.
Nih KTP Amerikaku :D

Nah, beberapa hari kemudian bank statement sudah bisa diambil di bank. Selanjutnya ngurus State ID. Ngurusnya di kantor entah apa namanya. Pokoknya kantor itu tempat ngurus KTP sama SIM dan ngurus entah apalagi. Bisa plat kendaraan mobil kayaknya juga. Letaknya di Union Street, cukup jauh dari Riverpark. Kami harus dua kali ke tempat itu,  pertama karena Kak Yusran me-mention perlunya membawa paspor saat sudah berdiri di depan kantor tersebut dan saya tidak membawa sama skali. Kedua kalinya ya tadi siang. Paspor, DS, dan Bank statement sudah lengkap.

Saya sempat bertemu Cheng, kawan sekelas EFA yang juga ngurus State ID. Saya mengantri beberapa saat. Raina, petugas yang melayani saya menyapa dengan baik. Memberikan dua buah formulir yang harus saya isi. Nama, berat, tinggi, warna mata, warna rambut, alamat rumah. Isian yang selalu membuat saya bingung adalah pertanyaan first name dan last name. Mamaku cuma ngasih Dwiagustriani saja. Tak dipisah. Hanya satu kata.

Kemudian ditanya-tanya beberapa pertanyaan. Beberapa bisa saya jawab, selebihnya saya nda ngerti dan meminta Kak Yusran sebagai interpreter. Membayar 10 dollar untuk biaya administrasi. Kemudian di foto dan setelah itu...taaadddaaa....kartu putih mengkilat bergambarkan wajah saya yang tersenyum jadilah sudah. Coba kalo segampang ini bikin KTP di Indonesia, pasti nda banyak yang ngeluh. (*)
Images

Satu Hari di Columbus, Ohio

Tinggal di Athens sedikit membosankan jika sudah menjajali setiap sudutnya. Setiap sudut disini adalah Ohio University, Court Street, dan tempat-tempat yang bisa dijangkau dengan Athens bus atau jalan kaki. Saya belum pernah ke The Plain meski ada kendaraan umum yang menjangkau ke sana, disebabkan tidak ada tujuan khusus ke sana.

Menu sarapan kami
Nah, ketika Mas Iqra datang berkunjung ke Athens dan meminta Erick menjemputnya, maka saya dan Kak Yusran meminta untuk ikut menjemput. Sekalian jalan-jalan ke Columbus. Pukul 08.30 kami meninggalkan Athens. Cuaca cukup dingin. Sepanjang jalan embun di atas rerumputan membeku. Jendela mengembun. Ara yang bangun lebih pagi dari biasanya tertidur dengan nyenyak di mobil.

Mama yang sibuk mewarnai
Kami menjemput mas Iqra di shelter mega bus dekat Ohio State University. Sebelum jalan-jalan kami sarapan di restoran Bob Evans. Bob Evans adalah restoran yang menggunakan Barn sebagai trademarknya. Gambar lumbung bercat merah ini sangat familiar di Amerika. Lumbung merah ini selalu ada di pertanian. Diperjualbelikan sebagai gudang belakang rumah. Jadi setiap saya melihat lumbung merah itu yang ada dalam ingatan saya adalah Bob Evans.

Di Bob Evans kami memesan menu breakfast. Erick dengan telur dadar dan bayamnya. Mas Iqra dengan omelet isi jamurnya, Kak Yusran dengan telur mata sapi plus potongan kentang, dan pesananku pancake krim plus saus grape. Ara sarapan dengan krayon dan gambar yang harus di warnai. Ia memilih bermain dengan crayon dibanding memakan kentang yang diberikan ayahnya.
Narsis depan lumbung Bob Evans

Habis sarapan, Erick lantas mengajak kami ke Buckeye Lake. Dalam perjalanan Ara kembali tidur. Baru terbangun saat sampai di Buckeye Lake. Menurut Erick, Buckeye Lake dulu dipakai untuk sebagai pengairan untuk pertanian hingga jauh ke Athens. Cukup jauh kurasa. Ara baru kembali bersemangat ketika burung-burung di dermaga Buckeye Lake terbang mendekat karena dilempari makanan. Kerumunan burung-burung putih terbang memburu dan berebutan makanan. Sangat menyenangkan buat saya. Apalagi buat Ara. Di Indonesia sangat jarang menemukan kawanan burung yang akan menyerbu mendekat jika dilempari makanan. Burung-burungnya takut ditangkap kali ya.
Ara bahkan sampai menangis tidak ingin masuk mobil ketika kami memutuskan meninggalkan Buckeye Lake.
Buckeye Lake
Burung-burung berebutan makanan

Tempat berikutnya adalah Newark Earthwork di Licking County, Ohio. Tempat ini dulunya adalah tempat upacara, pertemuan, perdagangan para indian. Oleh pemerintah dijadikan sebagai tempat bersejarah. Ada patung manusia indian berkostum beruang yang terbuat dari pahatan pohon maple. Gundukan-gundukan tanah serupa bukit kecil yang dulunya dipakai sebagai tempat upacara serta museum yang memajang artefak kuno serta gambar-gambar yang menjelaskan perkembangan suku indian dari masa ke masa. Tidak ada bangunan kuno di tempat ini. Yang ada hanyalah pohon-pohon tinggi dan rumput hijau. Tempat ini menjadi semacam taman kota di tengah gedung-gedung tinggi di Columbus. Saya membeli beberapa kartu pos khas tempat ini untuk dikirimkan kepada kawan di Indonesia.
Patung indian dengan kostum beruang

Kemudian kami menuju ke The Dawes Arboretum. Sebuah laboratorium hidup menurutku. Erick lebih menyukai menyebutnya Tree Museum. Lokasinya juga di Newark Ohio. Tidak jauh dari Licking County. Tempat ini serupa kebun dengan segala spesies tanaman di dalamnya. Ada museumnya juga. Museumnya tempat belajar lingkungan untuk anak-anak. Ada tiruan hewannya, perpustakaan, aneka mainan hewan. Ada juga sarang lebah hidup. Ara menyukai museum ini karena ia menemukan banyak boneka hewan. Tak ada labirin tanaman di museum ini, tapi ada tanaman yang ditanam dan membentuk tulisan. Sayangnya kami tidak sempat naik ke menara pengintai untuk melihat tulisan itu. Yang menyenangkan dari Arboretum ini adalah aktivitas membuat sirup maple secara tradisional. Sayangnya pada saat kami berkunjung, aktivitas itu belum terjadwalkan.
Kepik di The Dawes Arboretum

Ma, ini mainannya boleh diambil nda?

Kami pulang menuju Athens pukul 4 sore setelah sebelumnya membungkus pizza di Columbus Pizza (hmm...lupa nama). Disepanjang jalan Ara tidur dengan nyenyak. Tidak bangun sampai kami tiba di Riverpark. (*)