Skip to main content

Asyiknya Berkirim Kartu Pos

Kartu pos untuk teman-teman di Indonesia.
Beberapa minggu ini saya lagi senang-senangnya berkirim kartu pos. Membeli kartu pos di court street. Menuliskan nama dan alamat yang akan dikirimkan. Menuliskan pesan yang akan disampaikan. Dan membawanya ke kantor pos dan memposkannya. Prosesnya itu begitu menyenangkan buatku. Terlebih lagi ketika orang yang saya kirimi kartu pos mengabarkan kalo kartu posnya sudah sampai, rasanya seperti mission completed deh.

Selain mengirimkan kartu pos ke teman-teman di Indonesia, saya juga bergabung di Postcrossing. Sebuah web yang menyatukan para penggemar kartu pos seluruh dunia. Saya menemukan web Postcrossing ini tak sengaja ketika sedang mencari informasi berapa harga prangko untuk kartu pos luar negeri. Caranya gampang, daftar di webnya, kemudian kamu akan menerima 5 alamat yang harus kamu kirimi kartu pos. Saat pertama join kamu harus mengirim kartu pos. Ketika kartu pos itu diterima, maka alamat kamu akan disugesti untuk dikirimi kartu pos berikutnya oleh orang lain. Jadi sistemnya random pos.Setiap kartu pos yang sampai ke alamat tujuan kamu akan mendapat alamat baru yang hendak kamu kirimi kartu pos.

Kartu pos ini terbang ke Belanda

Saya telah mengirim 5 kartu pos ke Rusia, Jepang, Cina, Belanda, dan Jerman. Dua dari tiga kartu pos sudah sampai. Saya pun mendapatkan dua alamat baru lagi untuk dikirimi kartu. Selain itu saya mendapat kesempatan menerima kartu pos entah dari mana. Proses menunggunya ini termasuk favoritku. Deg-deg-an sambil harap-harap cemas. Menanti entah kertas dari benua mana dengan tulisan tangan seseorang yang akan saya baca.

Postcrossing ini tidak lantas membuat kita berkorespondensi dengan orang. Setiap orang punya pilihan untuk membalas kartu pos yang diterima atau tidak. Pola yang terjadi adalah ketika semakin banyak kartu pos yang kamu kirim semakin tinggi peluang kartu pos yang akan kamu terima. Setiap kartu pos yang dikirim harus di daftar di web postcrossing. Yang paling penting ditulis adalah kode yang diberikan postcrossing pada kartu pos untuk mempermudah melacak asal kartu pos. Kartu pos yang diterima pun wajib didaftar di web agar pengirim mendapatkan rating yang baik untuk disugesti kepada pengirim yang lain. Saat menerima kartu pos biasanya penerima akan mengirim pesan khusus di akun Postcrossing pengirim bahwa kartu posnya sudah sampai. 

Kalo boleh saya umpamakan berkirim kartu pos itu serupa mengetwit di twitter. Jika twitter berbatas 140 karakter, maka kartu pos berbatas halaman kosongnya. Kalo jaman dulu ada kartu pos orange yang polos depan belakang bisa ditulisi sampe penuh. Nah kalo kartu pos sekarang biasanya bagian belakang bergambar pemandangan, flora, fauna, artis, atau karikatur. Ruang yang bersisa adalah bagian kosong disamping alamat yang akan dituju. Tantangannya menurut saya adalah menuliskan apa yang paling penting yang ingin dituliskan. Biasanya alamatku bahkan tidak kutulis lagi. Soalnya alamatku bisa ditemukan di web Postcrossing. Jadi kalo mau mengirimi balasan kartu pos, tinggal buka akun postcrossingku. Lengkap dengan muka saya yang lagi nyengir.

Kartu pos ini tiba di Jepang

Memilih gambar kartu pos kupikir juga penting. Di Postcrossing beberapa orang meminta untuk dikirimi kartu pos yang mereka sukai. Ada yang cukup detail seperti gambar maskapai tertentu, ada pula yang membebaskan kartu pos apa saja. Bahkan handmade sekalipun mereka suka. Yang saya sukai adalah mengirim kartu pos yang bisa menjelaskan di mana saya tinggal. Beberapa kartu pos yang saya kirim bergambar bangunan-bangunan di Ohio University dengan beberapa kalimat penjelas di belakang fotonya. Kartu pos bergambar lokal menurutku cukup menyenangkan untuk dikirimkan ke orang-orang.

Kesannya memang sangat kuno di tengah lalu lintas dunia maya yang begitu cepat mengkoneksikan orang dari berbagai benua, tapi di situlah letak mengasyikkannya. Ketika internet memberikan respon sekejap mata terhadap segala update di dunia maya, serasa ada fase yang hilang, fase menunggu dan fase penasaran. Internet melompati fase itu. Melipatnya dan menghilangkannya. Saya menghadirkannya lagi dengan cara berkirim kartu pos.  I think i'm probably an old fashioned.(*)

Comments

  1. Wah seru banget tuker2 kartu pos. Aku suka kartu pos karena biasanya bisa berbagi pemandangan atau gambar2 untik dari setiap tempat yang dilalui atau ditinggali.

    Btw, salam kenal yaaa.. ^_^

    ReplyDelete
  2. hai bebe...salam kenal juga. Saya baru memulai hobi ngirim kartu pos. hehehehehe

    ReplyDelete
  3. Seneng ya mbak bisa kirim2an kartu pos. Ini saya banyak kartu pos nganggur, malah bingung mau dikirim ke siapa ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak dey bisa coba gabung ke Postcrossing. relatif murah biaya perangko untuk internasional. kalo di amerika cuma $ 1.05 :)

      Delete
    2. mba, saya ada tugas ni, d kirimin post card dari luar ngr ?
      tolong bantuannya mba

      Delete
  4. jadi tertarik bangeeet ikut postcrossing. hehehe. cuma bayar biaya perangko doang ya kalo dr Indo?berapa sih tarif untuk perangko ke luar negrinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai mbak Cella, kalo nda salah di Indonesia perangko 4500 atau 5000 udah bisa ngirim kartu pos ke luar negeri.

      Delete
  5. kak aku kan buka postcrossing dan nyoba sign up. tp aku bingung bagian yg di bawahnya negara itu diisi apa? aku ga ngerti. mohon bantuannya buat ngejawab ya kak. makasih :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, bagian apanya itu ya? udah lama ga buka akun postcrossing :D

      Delete
  6. mba,saya sedang ada tugas.
    untuk d kirimin post card
    dari luar negeri, bisa di bantu,
    tolong bantuanny

    ReplyDelete
    Replies
    1. gabung aja di postcrossing. nanti kamu kirim kartu pos ke lima orang berbeda trus nanti kamu bakal dikirimi kartu pos juga dr orang yg beda pula

      Delete
  7. Sy br mw nyoba say,dapat tmbhan info lg dr momsx ara#thanks ya sista#kisshug

    ReplyDelete
  8. kak,kalo kirim kartu pos itu alamat kita ditulis gak ya?

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Kenshin Sang Batossai

Rurouni Kenshin Saya bukan penggemar manga. Tapi kalo sekedar tahu lumayan sih. Meski kadang juga nda tau. Tapi untuk serial Samurai X saya lumayan tahu dari serial kartun yang pernah ditayangkan di salah satu tivi swasta di Indonesia meski nda terlalu ngikutin. Yang pasti saya pernah nonton serial kartunnya episode pertama dan terakhir. Hahahaha. Saya cukup malas untuk mengikuti semua episodenya meskipun kakak ipar saya punya koleksinya dan suami saya pernah cukup intens menonton serialnya. Nah, pas tahu kalo Samurai X ini dibuat live action, maka segeralah saya mendownloadnya. Mumpung berada di negara dimana mendownload tak membuat saya harus menangis saking lambatnya, maka dengan hati yang riang dan beberapa kali klik Rurouni Kenshin sudah menari-nari di depan mata saya sambil mengibas-ngibaskan Katana tumpul miliknya. Ceritanya tidak berbeda dengan serial kartunnya. Dibuka dengan akhir peperangan Bakumatsu di awal era Meiji, Kenshin memutuskan untuk berhenti menjadi samurai...

Give Up

Hari ini entah kenapa aku merasa tak berada di mood baikku. Uring-uringan dan merasa pengen pulang. Aku harus menulis sesuatu. Jalan-jalan ke Museum seminggu lalu belum aku tuliskan di blog ini. Entah kenapa aku tiba-tiba kehilangan passion untuk menulis. Otakku terasa tumpul. Dan aku menangis akan itu. Aku melalui hari tanpa sesuatu yang berarti. 24 jam berlalu begitu saja. Aku tak memaknainya dengan apapun. Aku seperti menghentikan hidupku di sini dan tak bergerak. Tak ada upaya yang begitu keras memulai segalanya. Aku merasa begitu lemah. Aku adalah pecundang yang cuma berani bermimpi. Tak pernah menjadi petarung yang benar-benar sanggup menantang dunia. Aku menangisi diriku yang hanya mampu memandang iri dan melihat kelemahanku. Menyalahkan rutinitas dan waktu yang lowong adalah apology paling memalukan yang sering aku lakukan. Aku tak lagi tahu apakah aku tetap harus terus mempercayai bahwa mimpi memiliki kekuatan. Aku tiba pada titik bahwa mimpi itu bisa melenakan dan kau harus t...

Indecent Proposal

sumber foto : tvtropes.org Seorang bilyuner menawariku one billion dollar untuk one night stand dengannya. Aku bingung. Aku dan suami sedang tidak punya uang dan satu juta dollar begitu banyak. Mampu membiaya hidup kami. Disisi lain aku  mencintai suamiku, rasa-rasanya ini tidaklah patut. Tapi kami benar-benar tidak punya uang. Aku ingin melakukannya untuk suamiku. Aku mencintaiku dan tidak ingin melihatnya terlilit utang. Kami memutuskan mengambil tawaran itu. This is just sex bukan cinta. Ini hanya tubuhku. Aku dan suami memutuskan setelah semalam itu, kami tidak akan mengungkitnya lagi. Setelah malam itu. Kami berusaha menebus  properti kami yang jatuh tempo. Sayangnya, bank telah menyita dan melelangnya. Seorang pengusaha telah membelinya. Kami putus asa. Suamiku tiba-tiba berubah. malam itu, Ia mempertanyakan apa yang saya dan bilyuner itu lakukan. Padahal kami sepakat untuk tidak mengungkitnya. Saya menolak menjawab pertanyaannya. Saya tidak ingin lagi menginga...