Selain foto, kupikir video salah satu cara untuk mengabadikan kenangan. Bedanya, foto menampilkan gambar tidak bergerak. Sedangkan video menangkap satu kenangan yang bergerak selama beberapa saat. Ia merekam suasana, suara, dan gerak. Seperti itu yang saya lakukan untuk menyimpan beberapa kenangan yang saya lakukan bersama Ara. Memotretnya dan memvideokannya. Sayang video kadang tidak memberikan kualitas yang baik. Karenanya jarang saya lakukan. Soalnya teknologi yang saya pakai hanyalah video kamera handphone dengan segala keterbatasannya. Inilah beberapa video milik Ara.
Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...
melihat video mu sayang,cepat besar kau nak
ReplyDeletemkasih tante dewi
DeletePgen nulis surat lg.... review video saras
Deletesilakan..nanti Ara blogwalking :)
Delete