Skip to main content

Malino, Negeri di Awan

Tawaran itu datang tiba-tiba. Ketika Ema dengan serta merta mengajak untuk jalan-jalan ke Malino. Dataran tinggi yang terkenal dengan banyak air terjunnya yang menjadi salah satu pilihan untuk liburan warga Makassar. Jaraknya hanya 1 jam dari Makassar. Saya pertama kali ke Malino saat kelas 4 SD. Setelah itu baru kembali berkunjung saat kuliah. Malino menjadi tempat alternatif kegiatan kemahasiswaan. Jarak dekat dan sekalian jalan-jalan.

Sebenarnya rencana ke Malino sudah ada jauh-jauh sebelumnya. Bersama Kak Riza dan Ema. Tapi selalu saja batal. Ema yang paling ingin ke Malino, jangan tanya kenapa. Ini persoalan hati.Hahahaha. Saya pun ngotot ke Malino. Merefresh memori tentang tempat itu mungkin. Rasanya saya hanya memiliki sedikit ingatan tentang Malino di kepala saya. Dan yang pasti membawamu menjejak tempat baru. Rasanya sudah seperti obsesi mengajakmu kemana-mana, Ara. Beberapa tempat sudah masuk dalam list bayanganku untuk membawamu ke sana. Mungkin karena saya yang menyukai jalan-jalan.

Sangat pagi ketika Opik menjemput ke Sudiang. Saya, kamu, dan Ema belum benar-benar bangun. Saya bahkan setengah memaksa dirimu untuk bergegas. Makan dan kemudian mandi. Rasanya tak enak membuat menunggu jika diberi tumpangan. Tak cukup setengah jam kita berhasil duduk di mobil dan bersegera menjemput yang lain. Tito, Afrida, Uchu, Ewi dan Rahmah. Mereka adalah anak kosmik 2007. Tiga angkatan di bawahku.

Mobil perlahan melaju menuju Malino. Setelah mengisi bahan bakar dengan bensin botolan karena persediaan kosong di SPBU yang ditemui. Juga setelah membeli perbekalan untuk di jalan.
Saya memiliki sedikit ingatan tentang Malino. Karenanya menapaki kembali aspalnya yang menanjak merupakan sebuah kebahagiaan tersendiri. Pohon-pohon yang rindang. Hawa sejuk yang kian menjadi dingin ketika memasuki kawasan Malino.

Tak ada tujuan utama. Melihat air terjun pun tidak. Yang kita lakukan hanyalah menyusuri jalan. Pukul 11 siang macet diseputaran pasar. Mobil yang dipakai pun harus didiamkan beberapa saat karena kanvas remnya berasap dan menguarkan bau yang tidak enak. Serupa bau kotoran ditambah karet ban terbakar. Maka berpindahlah satu isi mobil ke dalam pasar.

Saya selalu menyenangi pasar Malino. Pasar tradisional yang penuh dengan buah dan sayur segar. Beda dengan pasar Bengo dekat rumah. Tak ada jualan yang khas. Pasar Malino khas dengan alpukat, markisa, dan tentengnya. Juga banyak bertebaran tanaman bunga yang dijual. Alhasil, beberapa kantong buah memenuhi bagasi mobil. Sedangkan yang cowok-cowok membeli tembakau dan kertas rokok untuk melinting. Tembakau olahan adalah rokok yang biasa dikonsumsi warga kampung sebelum rokok kretek berfilter muncul di pasaran. Kakaknya nenekku merokok menggunakan tembakau olahan ini. berbentuk bundar. Biasanya dicetak dalam bambu. Di kampungku tembakau ini dikenal dengan nama Ico. Menjumput dan membungkusnya sendiri perlu sedikit keahlian.

Setelah memenuhi bagasi mobil, perjalanan pun dilanjutkan ke hutan pinus. Air terjun tidak menjadi pilihan karena ada Ara. Maka menggalaulah seisi mobil setibanya di hutan pinus. Pohon-pohon pinus menjulang tinggi. Buahnya bertebaran di tanah. Pohon pinus ramai. Terakhir ke Malino tahun 2006 sepertinya belum ada tarif masuk. Sekarang dibandrol 10.000 rupiah untuk satu mobil. Selain pinus ada juga penyewaan kuda. Sayangnya, Ara nda sempat naik kuda. Kuda yang mendekat kuda kecil sih. Padahal ada kuda putih yang lebih cakep. Heheehehe.

Tembakau pun dibuka untuk dilinting. Tak mudah untuk melinting. Jangan harap bakal secantik rokok kretek. Ramping dan rapi. Butuh merokok ico bertahun-tahun untuk menghasilkan lintingan yang cantik. Semua mencoba melinting dan tak ada yang benar-benar berhasil. Saya mau mencoba mengisap satu batang, tapi urung kuniatkan. Kata Ema sih seperti mengisap kertas. Eh, dia cuma mencoba mengisap rokok dari Rahmah.

Di Malino paling enak adalah makan indomie. Maka ketika perut keroncongan kita pun berhamburan ke warung depan hutan pinus. Memesan indomie dan segelas teh. Gerimis turun perlahan. Menguarkan bau tanah dan wangi teh. Seketika mengingat beberapa scene romantis di novel-novel.

Perjalanan berlanjut. Dan kita mencari kebun strowberry. Kupikir akan kelihatan manis jika saya dan Ara berfoto diantara strowberry merah. Rahmah pun menjadi penunjuk jalan.Ia pernah membuat film untuk tugas mata kuliah di kebun strowberry Malino. Ke puncak Malino. Karena hawa makin dingin dan awan serasa makin dekat. Hanya beberapa meter diatas tanah. Rahmah memandu kita hingga ke lahan milik warga di atas bukit. Sayangnya lahan tersebut bukan lagi ditanami strawberry, tapi kembang kol yang serupa mawar hijau di atas tanah.

Tak ada strawberry kol pun jadi. Maka berfoto-fotolah kita di antara tanaman-tanaman itu. Untung pemiliknya baik hati. Bahkan ketika kabut awan memerangkap menurunkan suhu kita diberi tumpangan untuk menghangatkan diri. Bapak rumah pun mengajari melinting tembakau. Termometer ruangan menunjuk angka 23 derajat celcius. Bisa dipastikan diluar akan lebih dingin lagi. Tak ada yang sanggup menahan dinginnya. Ubin terasa dingin. Saya membayangkan bagaimana dinginnya di daerah bersalju yang harus dihadapi tiap hari. Hawa dingin ini rasa-rasanya seperti mengenalkanmu pada kondisi cuaca yang mungkin kelak akan dihadapi. Tapi untuk kali ini kamu tak perlu khawatir. Saya mendekapmu erat. Dan kamu tidur begitu nyenyak.

Kabut masih menyelimuti kebun kol ketika kita beranjak pulang. Singgah makan mi kuah di warung strawberry. (Tanaman strawberrynya sedikit dan belum berbuah -_-). Mi kuah dan kopi panas menjadi dingin dalam hitungan menit. Rasanya dingin menusuk hingga tulang ditambah gerimis yang tak kunjung berhenti. Sepasang kekasih pun menunggu gerimis berhenti. Menjelang sore kita kembali pulang. Perlahan hawa dingin menghangat seiring mobil meluncur turun di jalan berliku.

Perjalanan yang melelahkan sampai membuat opik muntah-muntah. Tapi begitu menyenangkan.Semburat horizon berwarna-warni di langit. Merah,orange,ungu. Kupikir langit senada dengan hati kita. Serupa pelangi.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Popular posts from this blog

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu. Ini salju nak, coba yuk! Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin. Bikin frosty ternyata s...

Cowok Cakep Yang Merasa Cakep Itu Bikin Ilfil

sumber :  lockhartfanclub.livejournal.com Judul postingannya panjang dan jelas. Cowok cakep yang merasa cakep itu bikin ilfil. Saya menarik kesimpulan entah sejak kapan. Mungkin sejak kuliah. Saya pernah punya pengalaman tentang cowok cakep yang merasa cakep yang makin mengukuhkan kesimpulanku itu. Waktu semester akhir kuliah, saya sering membantu senior saya menjadi front office di setiap acara yang diadakan LSMnya. Karena LSM ini fokusnya pada bidang demokrasi dan politik maka yang peserta pelatihannya adalah kalangan anggota Dewan atau anggota partai. Nah, pernah suatu hari yang menjadi peserta pelatihan adalah orang-orang muda berbagai parpol. Maka berdatanganlah para anak-anak muda yang kutaksir umurnya sekitar 25 sampai 30an tahun. Beberapa sekampus dengan saya. Tugas saya adalah memastikan mereka mengisi daftar hadir dan membagikan seminar kit. Isinya buku catatan, polpen, dan bahan materi. Karena kerjaan saya sekedar front office maka selesai membagikan seminar k...

Logan Gullef : Chef Muda Yang Menginspirasi

Memegang tropi Masterchef Junior (Foto : Logan's Instagram) Senyumnya manis. Gayanya trendi dengan dasi kupu-kupu yang menjadi ciri khasnya. Umurnya baru 12 tahun, tapi ketika ia mengolah makanan di dapur tingkahnya seperti chef profesional. Saya yang mengidolakannya dari layar televisi dibuat berdecak kagum. Dan juga jutaan mata yang menyaksikan kecakapannya menggunakan peralatan dapur dan meramu makanan. Keahliannya memasak membawanya pada tropi paling bergengsi dan gelar paling dimimpikan para chef rumahan junior di Amerika di laga Masterchef Junior season 2, desember 2014 silam. Yah, saya sedang membahasa Logan Gullef. Anak muda yang sangat cerdas dan sangat menginsipirasi.  November 2014 silam, saya selalu membuat reminder setiap hari rabu sore di stasiun tv fox. Saya menandai acara Masterchef junior season 2. Saya tidak ingin melewatkan satu episode pun. Mengingat acara ini hanya berselang beberapa jam dari jam tayangnya di Amerika, saya pun cukup deg-degan...