Skip to main content

Posts

Narcissa Dwiagustriani

Tiap orang yang mengenalku pertama kali akan mengganggapku orang jawa. Penilaiannya mungkin dari namaku dan juga cara bicaraku. Ketika aku menjelaskan bahwa aku orang bugis asli mereka akan mengatakan “ kok tidak ada bugisnya?”. Mereka pun akan mengetes sedikit bahasa bugis kepadaku. Kalo pun mereka tak puas dengan jawabanku mereka menanyaiku lagi, ada sedikit jawanya mungkin dari orang tua?, dan aku pun akan menjawab dengan senyum dan gelengan kepala. Dan terakhir mereka akan bertanya “pernah tinggal di jawa”, dan sekali lagi aku akan menjawab dengan gelengan kepala yang pasti”Tidak”. Terkadang ada juga orang yang bilang, aku mirip Asti Ananta. Sejak SMA kelas 1, guru dan temanku pun selalu mengatakan kami mirip. (tapi, salah kali. Asti Ananta yang mirip dengan Aku…hehehehe). Hanya sedikit orang yang mampu menebak mengapa namaku Dwiagustriani. Itu pun hanya menjawab “ Pasti orang tuanya guru, jadinya pintar pilih nama”. Orang-orang selalu menganggap Dwi berarti anak kedua. Padahal...

Apakah Sopan Santun Mulai Terkikis?

Apakah sopan santun sudah mulai mengikis? Apakah manusia-manusia modern adalah manusia-manusia yang hanya bercengkrama dengan teknologi dan tak lagi mengenal orang-orang di sekitarnya. Manusia yang tersetting individual dan capital. Mengandalkan uang dalam interaksinya dengan manusia yang lain. Seorang ibu tua menceritakan kisahnya saat berkunjung ke sebuah rumah. Anak-anak tuan rumah itu tak mengenalnya. Istri sang tuan rumah pun tak pula menyapanya. Sang tuan rumah yang terbaring sakit yang hendak dikunjunginya pun tak lagi mengenalnya. Ia hanya duduk di teras depan rumah, tanpa seorang pun yang mengajaknya masuk di rumah. Mungkin realitas itu tak hanya berlaku bagi anak-anak tuan rumah itu. Itu pun (mungkin) terjadi pada hamper seluruh orang- orang muda yang tak lagi mengenal orang-orang di sekelilingnya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan-urusan seumuran mereka. Tanpa harus merasa peduli pada interaksi-interaksi dengan para orang tua. Hal itu pun terjadi padaku, aku pun telah ter...

Keep On Dreaming

Seorang teman berkata padaku, aku tak pernah bermimpi karena aku tak pernah tidur.(vampir kali , ga pernah tidur). Apakah mimpi itu hanyalah ada saat kita tertidur. Apa sebenarnya definisi mimpi itu. Apakah mimpi hanya sebatas bunga tidur yang hanya mampu kita “alami dan rasakan” saat kita tertidur. Aku memiliki pendapat lain.Mimpi itu tak hanya hadir saat kamu tertidur. Mimpi adalah imaji bawah sadar yang tak hanya dirasakan dan dialami saat tertidur. Mimpi adalah sebentuk tempat berlari saat realitas jauh dari pengharapan ego. Mimpi adalah keinginan terpendam dalam jiwa yang mengaltar dalam ego. Ia selalu menjadi ujung jalan kita dalam berproses. Ia menuntun kita dalam setiap gerak kita. Mungkin ia menjadi tujuan akhir. Ia kadang tak disadari. Ia muncul perlahan dan kemudian menjadi sebuah bentuk utuh yang terus kita phat dalam imaji. Bermimpi tak perlu butuh tidur. Tiap manusia memilikinya. Ia tak perlu dipelajari. Ia adalah sisi manusiawi yang telah dipaketkan oleh Tuhan. A...

Lebaran Yang Sunyi

Ramadhan ke 29. Ramadhan kali ini tak sampai 30 hari. Waktu aku kecil, aku selalu sedih jika ramadhan tak cukup 30 hari. Rasanya tak lengkap. Tapi kali ini aku tak mempersoalkannya lagi. Ramadhan kali ini meyakinkanku bahwa aku adalah hidup yang terus bergerak dan berubah. Ia meyakinkanku bahwa berubah adalah sebuah kewajaran. Hidup adalah sebuah siklus dinamis yang akan terus berputar. Ketika aku berharap dan meminta agar semuanya tak berubah. Artinya aku melarang hidup bekerja sesuai tugasnya. Dan itu sebuah kemustahilan. Idul fitri ini adalah idul fitri tersunyi yang aku jalani seumur hidupku. Ini adalah ramadhan kedua yang kulalui tanpa mamaku. Harusnya Ramadhan lalu aku mendengar nyanyi sunyi ini, tapi baru kali ini sakit itu menohokku. Tak ada iar mata yang membuat mataku perih.Aku hanya merasa semua begitu berubah. Dan tak ada daya ku berharap agar semua tidak berubah. Karena aku masih di sini dan masih hidup. Lebaran kali ini kulalui hanya berdua dengan Etta. Kedua kakakku memi...

Kamis...Dua Sisi Mata Koin

Kamis. Bagiku seperti sebuah koin yang aku harus pandang dua sisinya. Ia menjadi titik nol ku untuk belajar kendali diri. Manut pada super ego dan belajar mengerem jiwa. Ia mengajariku untuk tak mendengus kesal dan berusaha tetap tersenyum. Ia mengajarkan hatiku untuk mampu menerima tiap negatif dan merubahnya jadi ion-ion positif. IA menjadi meditasi jiwa untukku. Tiap kamis, aku selalu berusaha membuat komitmen pada diri untuk menjadi lebih baik. Tiap kamis aku bisa menangis sedih dalam hatiku. Membuat daftar salah dan lalai besar-besar dan ber-bold di dalam. Aku sendiri yang harus memperbaikinya. Meski setelah itu Jumat, Senin, hingga rabu komitmen itu perlahan-perlahan kembali ke angka nol. Kamis selalu membuatku was-was. Selalu membuatku menarik napas tertahan dan berusaha menahan air mata. Kamis membuatku kembali membongkar arsip-arsip dan mengecek file-file yang semestinya harus adadi sana. Kadang aku merasa putus asa pada Kamis. Tapi setelah kamis, ada Jumat yang menyenangk...

Sebuah Pengharapan Yang Entah....

Kemarin sore aku melewatkan ngabuburitku di warnet. Kusempatkan untuk mengupdate statusku di facebook, mengintip blogku yang tak terupdate tulisan baru. Dan blog walking ke beberapa link yang ada di blogku. Kudapati blog Dee berisi promosi buku barunya.ada sebuah sanyembara menulis di sana. Hadiahnya tentu saja buku “Perahu Kertas”-nya Dee. “Tuliskan Harapan terbesarmu dalam hidup” tema lomba itu terpampang jelas di blognya Dee. Aku tertegun sesaat. Aku tertarik akan lomba itu namun aku yakin aku tak bisa mengikutinya. Lombanya sudah lewat. Tapi bukan karena itu yang membuatku tertegun, bukan karena aku tak bisa ikut lomba itu. Aku tertegun akan tema yang di pilih Dee untuk lomba penulisannya. Apa harapan terbesarmu dalam hidup? Aku tak bisa menjawabnya. Harapan itu adalah hal-hal abstrak yang ada dalam “mind”ku yang tak mampu kutemukan aksaranya. Aku telah banyak menuliskan mimpi-mimpiku dalam diary-diary butek masa sekolahku dulu. Aku telah membuat list-list pengharapan yang s...

Ramadhan Lagi….

Ramadhan lagi. Ini kali kedua Ramadhan kulalui tanpa mamaku. Perlahan aku telah mampu mendamaikan hatiku dan bertatap pada kenyataan bahwa semua telah berubah. Dan tiap perubahan itu membuatku belajar dewasa. Namun terkadang dalam sunyi dan diam aku masih merindukan sosoknya. Masih merindukan saat-saat sahur, berbuka, dan lebaran yang pernah kami lalui bersama. Terkadang berharap bias kembali ke masa itu dan merekamnya lebih kuat dalam ingatanku. Melakukan percakapan-percakapan antara ibu dan anak yang tak pernah kami lakukan bersama. Perlahan rasa kerinduan akan ramadhan terkikis seiring umur dan aktivitasku. Aku tak lagi merasakan rasa bahagia yang pernah aku rasakan pada waktu kecil saat berjumpa dengan ramadhan. Aku mulai sibuk dan tak lagi peduli dengan ibadah yang dulunya sering aku lakukan. Dan ramadhan pun kemudian terasa seperti bulan-bulan yang lain, hanya saja tak ada makan siang di 30 harinya. Aku ingin merasakan kembali kebahagiaan itu. Tarawih di masjid dan mulai m...

Sebuah Percakapan Pagi Hari..

Aku pernah menganggap aku sendiri di sini. Di dalam ruang berukuran 6 x 12 x 12 meter. Sendiri dengan pemikiran idealku dan semua mimpi-mimpi yang tengah aku buat anak-anak tangganya. Tapi pagi ini memberiku cara pandang lain akan hidup. Beberapa orang berdiskusi di ruang makan. Mempertanyakan karir dan masa depan. Mereka siap berada di sini. Di tempat ini dan dalam dunia ini. Aku tak yakin bisa seperti mereka. Terus di sini dan terus mengasah diri. Aku ingin mengasah diri. Di sini sekarang. Tapi takkan terus di sini. Dunia luar begitu merdu menyanyikan lagu alam maha indah yang harus aku nikmati. Ia duduk di depanku. Kutanyai apa visinya ke depan. Ia berkata “aku ingin menjadi seorang enterprenaur”. “Kapan?” lanjutku. “10 tahun ke depan”. Jarak antara hari ini dan 10 tahun ke depan akan kamu apakan?"tanyaku lagi. "Aku ingin belajar banyak di sini. Tak hanya di dalam ruang berlubang ini, tapi juga di sebelahnya.Setelah itu aku akan berlalu. Mencari tempat yang lebih...

Dapat NPWP

Hari ini aku menjadi warga negara yang baik dan taat aturan. Dan aku pun akan ikut andil dalam pembangunan bangsa dan negara... (cie....sok berguna) . Akhirnya aku dapat NPWP. Awalnya aku agak acuh pada NPWP ini, meski ratusan iklannya telah menjejali mataku dan mendoktrin otakku. Aku tetap cuek. Aku tak pernah tahu bagaimana NPWP itu. Apa keuntungan yang di dapat masyarakat dan apa perlunya NPWP. Secara aku kan belum menghasilkan uang saat-saat itu. Tapi karena kebijakan kantor yang mengharuskan karyawan memiliki NPWP dan akhirnya kartu kuning itu pun di tanganku kini. Fasilitas apa yang di dapat dari memiliki NPWP? Entahlah aku juga tidak tahu. Yang penting kartu itu bukan untuk gesek belanja atau tarik tunai. Yang kupahami hanyalah bahwa dengan memiliki NPWP ada kemudahan dalam membayar pajak. Kalo tidak salah pada pembayran pajak tertentu dimana seorang wajib pajak tak punya NPWP harus membayar 20%, tapi untuk wajib pajak yang memiliki NPWP hanya 10%. selain itu gratis fiskal k...

Mendefinisikan Kembali Realistis

Apakah realistis itu? Takluk pada kenyataan yang ada di depan mata, atau menyerah dan manut pada arah hidup yang ada di depan kita. Andrea hirata punya definisi sendiri realistis adalah berbuat terbaik di titik kita berpijak. Aku hanya ingin berbagi kisah tentang realistis yang aku lihat, rasakan, dan aku nilai. Duniaku adalah dunia yang indah. Teman-teman yang menyenangkan, tapi tak jarang membuat kesal dan dongkol dalam hati. Tapi aku selalu menganggapnya sebagai asam manis sebuah dunia. Lingkunganku adalah lingkungan yang berjalan sama seperti tiap hari. Mengerjakan pekerjaan yang sama, persoalan yang sama, dan juga berkas-berkas yang sama. Bekerja dengan teliti, mengfile-ing data-data dan kertas-kertas yang akan di audit dan dikomentari banyak2 oleh tim audit. Aku mulai terlena dengan rutinitas kerja ini. Buaian benda-benda yang menyilaukan mata dan ragam kebutuhan yang mulai menyita hati, mata, dan otak. Aku mulai samar dengan mimpi-mimpi dalam list mimpiku. Aku mulai nyaman terha...

Di Lamuru Kita Berkumpul Lagi…

Weekend ini adalah weekend yang benar-benar menyita banyak waktuku. Dua pesta perkawinan harus aku datangi. Dua-duanya penting, dua-duanya adalah teman. Dua-duanya memilih tanggal dan waktu pesta yang sama. Tapi terkadang kita harus bijak dalam segala bahkan hal yang seperti ini. Terlihat sepele memang tapi dua-duanya harus bisa jalan. Dan akhirnya aku tiba dikeputusan yang paling bijak yang aku pikirkan. Pernikahan pertama aku datangi saat malam mappaci, pernikahan kedua pada saat resepsinya. Dan keputusan ini begitu bijak dalam pandanganku. Aku akhirnya bisa berkumpul dengan teman-teman kosmik ( K riza, K harwan, K patang, krahe, k maman, K jun, kyuda, k Aidil dan Arya). Juga Ema dan Were.Serta bersua dengan anak-anak UKPM. Begitu menyenangkan rasanya bisa kembali ke dunia yang pernah membuatmu merasa nyaman. Namun tak berarti duniaku sekarang tidak begitu nyaman. Duniaku saat ini begitu menyenangkan. Ada lesson baru yang aku pelajari. Lingkungan baru dan dunia baru yang mengajar...

Menulis Dan Kerinduan Akannya....

telah lama aku tak menulis di blog ini. seorang teman menyapa di shout boxku. rindu akan tulisanku katanya. aku pun kangen dengan tulisanku. tapi entahlah. rasanya aku tak punya lagi waktu untuk menulis. meski ia satu-satunya jejaring yang mampu menghubungkanku pada surga di dalam imajiku. 23 tahun sudah usiaku. awalnya aku berencana menulis beberapa kenangan atasnya. tapi sekali lagi aku tak lagi punya waktu untuk itu..... Show me The way...Please!!!!

Pada Sang Waktu

Aku menyerah padanya. Ia telah membuatku bertekuk lutut dan mengangkat kedua tangan ini. Memaksaku mengibarkan bendera putih petanda kalah. Aku selalu menanti saatnya. Namun terkadang ia telah berlalu ketika aku menyadari kedatangannya. Aku kalah.... Aku hanya bisa merajut imaji tanpa bisa benar-benar menyelimuti diri dengan hangatnya....

Pagi Ini......

Duduk, menikmati pagi, dan menyaksikan Kevin bermain pasir adalah saat-saat yang begitu mahal bagiku. Duduk dan menikmati tuts-tuts laptopku sambil memarahi Kevin yang melempar kerikil-kerikil kea rah orang yang berlalu lalang adalah saat-saat yang mahal bagiku. Menulis menjadi sebuah rutinitas yang akan menjadi begitu mahal bagiku jika aku tak memaksa diriku untuk melakukan rutinitas ini. Pagi ini adalah pagi terakhir di hari minggu di penghujung juni. Ya…juni. Pertengahan tahun. Sisa setengahnya lagi untuk meniup trompet tahun baru. Mungkin terasa masih lama. Tapi waktu tak mampu ditakar. Ia hanyalah ilusi.tapi ia seperti gong besar yang mampu membuat kita tersentak. Membuat kita tersadar telah membuat jejak di lalunya. Aku telah memasuki sebuah gerbang baru. Gerbang memilih dan meraih kesempatan. Aku sempat tak punya peta ke arah mana aku akan pergi. Tapi waktu telah menuntun berjalan jauh. Memilih dan menapaki satu persatu likunya. Aku takut pada awalnya. Tapi perlahan ia mul...

Kost Idaman

Sudah tiga hari aku menjalani sebuah kerja yang setahun ke depan (untuk saat ini) menjadi rutinitasku. Masih terlihat ringan sekarang. Entahlah nanti. Tapi aku tak ingin ini mejadi lebih berat. Aku ingin menikmatinya seperti sebuah arena bermain. Yang di dalamnya hanya ada tawa berderai derai dan selalu ada hal yang menyeangkan. Waktuku mungkin akan banyak tersita, tapi aku tak mau tahun ini aku melupakan mimpiku. Aku harus membuatnya ada setidaknya menjadi janin yang bentuknya sudah terlihat. Aku butuh tempat untuk mengeraminya, memeliharanya. Tapi di sini, di daerahku sendiri aku tak begitu mengenalnya. Kota ini begitu asing. Semua tempat begitu penuh. Semuanya begitu jauh, dan tak cukup representative untuk ukuranku. Telah sering kota ini mengecewakanku dan menjadi trauma tersendiri buatku. Namun,kali ini aku harus menaklukkannya. Aku butuh tempat untuk diriku sendiri.di tempatku sekarang pada dasarnya baik, tapi ada kesungkanan yang selalu muncul dan aku hanya tak mau itu terjadi. ...

To Be with U

Begitu mahalkah arti kebersamaan? Ada materi yang harus dikorbankan, ada waktu yang harus disempatkan, ada cinta yang perlu tumbuh diantaranya. Tapi bayaran yang didapatkan pun tak sedikit. Ada berjuta-juta bahagia yang mampu kita rasakan dalam kebersamaan. Ada derai tawa yang bergema-gema diantara kita. Ada tunas-tunas cinta yang bertumbuh terus menerus. Akar-akarnya kian kokoh dan kebersamaan membuat dua hati menjadi satu tak terpisahkan. Begitu mahalnya kah kebersamaan di antara kita? Apakah kita tidak berusaha terlalu keras agar kita bias bersama? Perlu berliter-liter air matakah untuk mewujudkannya? Perlukah aku menyerap semua sedih di dunia ini untuk bersamamu. Aku selalu menanyakan pertanyaan sacral itu. Pertanyaan pamungkas yang mampu membuat kita bersama. Membuat kita tak terpisahkan. Pertanyaan yang menjadi panah sakti yang secara lambat namun pasti “memaksa” kita untuk bersama. Tapi juga mampu menjadi boomerang pemisah antara kita. Setiap pagi, jauh sebelum matahari menanta...

Warnet Oh Warnet

Tak ada niat u ntuk ke warnet se benarnya hari ini. hanya saja, K Ipah memintaku untuk ke Telkom melaporkan jaringan telepon rumah yang tidak bisa dipakai buat internetan. Walhasil berangkatlah diriku ke Telkom. Apa daya Telkom bukanya jam 2 siang (tutup buat sholat Jumat dan istirahat). Daripa da harus balik lagi ke kantor yang lumayan jauh dan lumayan mahal ongkosnya aku berniat menunggu saja. Untungnya di belakang kantor Telkom ada warnet. Sep erti baru ber temu pacar lama rasanya melihat warnet itu. Dan di sinilah aku menunggu hingga Telkom buka di depan. Sayangnya, flashdisk yang berisikan tulisan-tulisan yang akan aku posting tak aku bawa...hiks Untuk saat ini, Dwi posting ini dulu ya....

Musim Liburan, Musim Film Bagus

Website 21Cineplex telah memajang daftar film-film coming soon yang bakal diputar di theater-theaternya. Dan bulan Juni ini dan bulan depan adalah libur musim panas di Amerika dan liburan sekolah di sini. Begitu banyak film-film yang ada di list itu yang menarik minatku untuk menontonnya. Salah satunya Harry Potter and The Half Blood Prince. Film Harry Potter yang VI yang pastinya makin menegangkan. Selain itu film Ice Age 3 yang patut aku nonton dan sebuah film anak-anak berjudul "Garuda di Dadaku"(ini karena ikut sama k Yusran). Selain itu film Transformer pun masuk dalam daftar film yang aku tunggu. Meski film pertama tak sempat aku tonton, tapi atas rekomendasi K Yusran, film ini pun sepertinya layak ditonton. Terakhir dalam listku film kedua dari Twilight Saga "New Moon". Nda sabar rasanya melihat wajah tampan si Vampir dingin, Edward Cullen. Di saat orang lain menikmati musim liburan aku berada di sisi yang sebaliknya. Memulai sebuah tahap yang baru. Di te...

Apakah Saatnya Telah Tiba????

Apakah saatnya telah tiba? Aku selalu membayangkan detik itu. Detik dimana aku harus pulang ke rumah untuk tujuan yang berliku. Ada rasa takut dan sedikit tak percaya diri dalam diriku. sanggupkah aku berada di ujung jalan ini. Rasanya perjalanan ini telah begitu jauh, padahal detik start itu belumlah berdentang. Pistol tanda perlombaan dimulai belumlah ditembakkan. Detik itu membebaniku. Menghantui tiap detikku yang kujalani. Aku kemudian larut dalam ketakutan. Tak punya waktu untuk menikmati detik hidupku. Aku didera ketakutan dan aku lemah karenanya. Tapi aku harus siap. Takut adalah musuh yang paling menyeramkan. Aku harus menang pada lomba ini. aku telah siap. meski ini adalah sabtu terakhir, meski besok ritme dan melody telah berubah. Terima kasih buat setiap orang yang telah menyuapiku begitu banyak garam kehidupan. Mereka telah berjasa mengisi gelas-gelas kosongku. Trolley bag telah siap. di dalamnya blazer, rok mini, dan stocking-stocking telah terlipat dengan rapi. Maaf, tak ...

Beda Chic, Beda Sekar

Beberapa waktu lalu aku tertarik membeli dua jenis majalah khusus perempuan. Yang pertama Sekar dan yang satunya lagi Chic. Keduanya merupakan satu grup dibawah atap Kompas Gramedia Majalah. Majalah Sekar bolehlah dikatakan masih bayi. Edisi yang aku beli kemarin masihlah edisi awal di tahun pertamanya. Aku penasaran membaca ketika tahu bahwa majalah ini masih baru. Ia harus bersaing dengan majalah Femina dan Kartini yang telah lebih dahulu bertualang di dunia perempuan. Majalah Sekar memiliki segmentasi yang berbeda dengan majalah Kartini atau Femina. Jika Kartini melirik segmen perempuan yang masih menyukai hal-hal "tradisional", Femina dengan segmen perempuan modern mapan dengan rutinitas kerja yang padat, Sekar hadir dengan segmentasi yang lain. Menurut pembacaan yang aku lakukan, Sekar melirik segmentasi perempuan (khususnya ibu rumah tangga) yang memfokuskan dirinya untuk mengurus rumah tangga. Tidak menitiberatkan pada wanita karir yang sibuk mengurus karirnya. S...