Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2008

selamat lebaran, Ma....

Malam takbiran pertama tanpa mama. Tak ada yang begitu beda, hanya saja ia tak ada di sini dan membuatkan kami burasa dan ayam nasu likku. Semua tugas memasak yang selalu ia kerjakan dilakukan oleh kami bertiga, saya; Kak Ipah; Etta. Kakak anti datang belakangan saat semua makanan telah dimasak. Bertiga kami berusaha menerka bagaimana burasa sesungguhnya di masak. Aku pun kemudian menyadari bahwa ternyata \Etta pintar masak. Dengan bantuannyalah kami berhasil membuat burasa dari seliter beras yang menghasilkan 9 ikat burasa. Sebuah jumlah yang sangat kecil. Namun, saya dan kak ipah selalu percaya bahwa itu juga takkan kami habiskan. Tapi Etta kemudian menyela “seperti burasa tao manang (orang yang tinggal sendirian tanpa anak dan suami/istri)”. Beberapa alasan yang menyebabkan kami hanya membuat seliter saja. Biasanya ketika hari kedua lebaran, kami tak lagi tertarik dengan burasa dan ayam. Biasanya mamalah yang menghabiskan, bukan karena suka, tapi mama tipe orang yang selalu mengh

aku kembali bermimpi

Hari ini nonton Laskar Pelangi bareng Etta dan Kak Ipah. Senang sekali rasanya, akhirnya film ini bisa juga aku tonton tanpa merasa begitu ketinggalan dengan tem an-teman yang telah menonton sehari kemarin. Awalnya aku agak bingung menonton film ini. Alur buku masih juga menjadi panduanku dalam menonton film ini. Tapi lama kelamaan aku mulai mampu menontonnya sebagai film tanpa harus dib ayang-bayan gi oleh cerita bukunya. Ceritanya buku dan film sedikit berbeda. Ada penambahan beberapa tokoh dan juga beberapa kisah yang berbeda. Namun, film ini tampaknya berusaha mendekatk an cerita Laskar Pelangi ke realitas dibanding dengan membaca bukunya yang begitu penuh dramatisasi. Aku menyukai bagian ketika A ling bertemu dengan Ikal di rumah A kiong. Ia terlihat begitu cantik. adegan paling dramatisir menurutk u adalah efek-efek yang diberikan oleh Riri Riza saat kuku -kuku A ling keluar dan memberikan sekotak kapur pada Ikal. Juga pada saat Ikal sakit hati ditinggal A li

Istana, Kotak ajaib-mesin waktuku

Aku punya kotak ajaib. Sebuah kotak sepatu yang kubungkus dengan kertas kado. Tempat aku menyimpan barang-barang berharga milikku. Ia tak berisi emas, tak berisi berlian, tak berisi uang, atau bahkan surat-surat tanah milik Ettaku. Kotak itu berisi sebuah surat cinta yang kudapat dari seorang teman SMP yang dulu begitu aku suka. Kumpulan kertas ulangan waktu sekolah dulu.dengan nilai beragam. Mulai dari nilai sepuluh hingga angka tiga. Buku raport dari SD hingga SMP. Surat pertama yang kudapat lewat pos. Sebuah jam tangan Oreo yang kudapat dari hadiah 1000 pengirim pertama undian oreo. Dan sebuah surat perjanjian pra nikah antara Mama dan Ettaku. Dan satu lagi, tiga buku diary berkunci yang gemboknya telah kurusak agar aku mampu membaca apa yang kutulis waktu itu. Kunci-kunci diary itu entah dimana sekarang… Unik kan…..???? Kotak itu akan aku wariskan buat anak-anakku suatu saat nanti….romantis bukan? Selain kotak, aku juga punya mesin waktu. Sebuah meja yang berlaci. Seperti pada kart

refleksi pada perahu kertas

Kumulai membaca jurnal berbahasa Inggris itu. Mulai mengartikannya dalam benakku dan ku sinkronkan dengan bunyi tekan jemariku di tust-tust komputerku. 5 menit….10 menit….aku mulai putus asa…15 menit…aaaahhhhhhh…. “Aku malas mengerjakan skripsi.Tahun depan saja selesainya” kalimat itu telah berhasil kutulis di layer handphoneku. Tidak lebih dari 20 detik. Ku kirim ke nomor pertama yang muncul di layer handphoneku. Rasanya begitu lelah. Mataku sembab. Semua orang memintaku untuk segera menyelesaikan tugas akhir ini, tapi mereka tidak tahu beratnya. Menyelaraskan apa yang aku pikirkan dengan apa yang ingin hatiku lakukan. Ah…persetan dengan semua. Kututup file skripsiku. Aku malas mengerjakannya. Biarlah aku tak usah selesai dulu. Toh, dampaknya juga bukan pada mereka. Ini konsekuensi yang ingin aku terima. Just let it flow…. Ku buka PDF buku terbaru dari Dee. Mungkin ini bias membuatku sedikit lebih bahagia, pikirku. 10 lembar pertama kisahnya yang kubaca dua malam lalu telah men

mau nonton laskar pelangi

Lascar pelangi…. Aku baru menyadari bahwa diriku adalah sosok yang ambisius dalam hal-hal konkret yang mampu aku lihat hasilnya secara cepat. Namun untuk hal-hal abstrak, aku masih belum mampu membuat diriku seoptimis ketika aku mengejar hal-hal yang bersifat material. Seperti film lascar pelangi ini. 130 km jarak bone-makassar, namun aku tetap berencana untuk menontonnya. Meski itu harus memohon pada Etta untuk pulang agak belakangan ke bone hanya untuk menyisihkan waktu 2 jam untuk menonton film ini. Aku juga ingin menjadi satu dari list orang-orang yang menunggu film ini. Begitu banyak adegan yang kudapati di novel ingin aku saksikan dalam filmnya. Meski aku tahu, tak semua lembaran buku akan diterjemahkan dalam bahasa novel. Tapi biarlah aku menikmati film lascar pelangi sebagai film. Tapi untuk menikmatinya, aku harus terlambat sehari… Ya…sudahlah..tidak apa-apa….

mama adalah perempuan terkuat di dunia

Kudapati telapak tanganku kian kasar. Kulit-kulit tebal dan kering mulai tumbuh di telapak tangan kiri yang selalu ak gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah. Kakiku pun begitu lelah untuk terus berdiri dan melakukan banyak aktivitas. Seperti inikah menjadi seorang ibu rumah tangga. Aku baru dua bulan melakoninya. Memasak, membersihkan rumah, mencuci, dan merawat ponakan. Ternyata begitu berat menjadi seorang ibu. Seperti inikah yang mama rasakan selama 30 tahun pernikahannya? Menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, sahabat belum termasuk profesi beliau sebagai seorang guru yang juga harus menyisihkan 8 jam waktunya tiap hari untuk ke sekolah dan mengajar serta mendidik para murid-muridnya. Belum lagi ketika harus menemani etta ke kebun atau memelihara kebun sayur depan rumah. Ia begitu hebat. Mungkin tangan akan begitu kasar, kaki begitu lelah untuk berjalan, tapi semua terkalahkan oleh cinta. Ia memiliki cinta yang tulus pada keluarga. 21 tahun aku bers

Ketika aku mengingat mama

Hari ini ramadhan ke-20. kakak ipah berinisiatif untuk membuat kue. Kue khas yang selalu menjadi favorit kami bersaudara. Kue coklat dengan kaca mete. Kami lumayan punya banyak kacang mete. Maklum setiap seseorang dari sulawesi tenggara, oleh-oleh ini yang selalu aku minta. Terakhir aku meminta kacang mete mentah pada debra. Dan kemarin kak yusran pun membawakan 2 kg. (cukup untuk modal awal untuk buat toko kue). Kue lebaran selalu menjadi tradisi kami sekeluarga. Sejak kecil mama selalu membuat kue kering untuk lebaran. aku selalu menyenangi kuenya, apalagi kue coklatnya. Tapi terkadang mama membuatnya begitu banyak. Bertoples-toples, yang kadang kami tak mampu menghabiskannya hingga lebaran haji. Waktu aku kecil mama selalu membuat kue di ramadhan ke-25. Biasanya dibantu oleh sepupu dan tanteku. namun, ketika aku sudah mulai pandai mencampur semua bahannya, mama tak lagi meminta sepupuku datang jauh-jauh dari pattiro untuk membuatku. Bertiga kami bersaudara membantu mama membuat

"pulang ke rumah"

Sebuah rasa arkais kembali memantikku.menyapaku lembut dan begitu indah. Rasa yang Tuhan miliki dan Ia gunakan untuk menciptakan dunia. Rasa yang telah ada jauh sebelum manusia diciptakan. Rasa yang tumbuh tanpa memilih dan memilah tiap hati yang disinggahinya. Rasa ini seperti cinta. Boleh di bilang cinta. Tapi ia tak seperti keinginan untuk memiliki dan keharusan untuk saling bertatap dan memadu kasih. Ia begitu tulus. Tajam namun juga sangat halus dan lembut. aku dan ia adalah yang merasakannya. Ia adalah seseorang itu. Kami kembali merajut sebuah rasa yang pernah terabaikan dan tak tersentuh. Bukan sebuah rasa yang menyakiti namun ia begitu membahagiakan. Cinta yang sadar akan sebuah kalimat tak selamanya memiliki. Cinta yang patuh pada rasa yang lain yang tumbuh di saat bersamaan dan tak berusaha saling menyakiti. Seperti sebuah kecelakaan, namun juga tidak. Seperti sebuah alasan dari sebuah pernyataan karena, tapi juga seperti sebuah walaupun. Rasa ini begi

internet masuk di rumahku

I have been waiting for long time…..and now.. I can on line in my own home. I’m so happy, of course…hehehehehee Feels like I have my own world again…hehehehehe Yang pastinya tarif telepon rumah akan terus membengkak… Etta…sorry for that ya…. (dengan bangga menuliskan tulisan ini di posting di- rumahku, belakang mesjid makmur Bengo, Bone)

dua lelaki dengan dua kisah

Dua lelaki dengan dua kisah mendatangiku di suatu tengah malam. Bercerita tentang keluh kesahnya. Kuladeni mereka meski malam itu aku terkantuk-kantuk. Suara deringan telepon genggam penanda kedatangan kisah mereka membangunkanku dari tidur. Lelaki I : aku bingung banget. BT juga. Pacar aku maksa kalo nikah nanti tinggal sama dia di Jakarta . Padahal kan kalo aku dinas keluar kota aku kesepian. Atau gimana kalo aku punya dua istri saja. Satu dia satunya lagi di sini. Gimana menurutmu? Lelaki II : Sebenarnya tak ada cinta yang lain. Hanya saja rasa ini begitu hambar Aku termenung. Kedua lelaki ini adalah dua keeping puzzle dalam dalam hidupku. Lelaki pertama adalah seseorang yang datang dari masa lalu yang selama ini aku cari. Yang selama ini tak pernah aku dengar kabarnya. Tiga hari kemarin ia datang menyapaku lewat telepon. Berbagi kabar bahwa ia di Makassar sekarang. Ia telah mencariku selama sembilan tahun sejak terakhir kami bertemu di bangku SMP. Dan s

sekali lagi kita berpisah

berat rasanya melewati sebuah perpisahan. aku telah merasakannya ratusan kali dalam hidupku. menyedihkan dan membuatku harus terisak. dan sekali lagi kita harus berpisah. untuk menata hidup dan membuat jembatan yang akan kita titi bersama. dan sekali lagi kita berpisah. jarak itu membuat ruang yang begitu kosong di sini.di antara aku dan kamu. "bandaranya seperti Changi Air port" kita akan bersama di sana suatu saat nanti.saat jembatan yang di depan kita ini telah selsai kita buat. kita akan ada di sana, untuk memuat jembatan lagi.tapi jika saat itu tiba kita takkan berpisah lagi....

Seperti Dirimu Masih Di Sini

Mama dan Aku Seperti dirimu masih di sini.Belajar untuk ikhlas dan tabah atas ketiadaanmu. Aku begitu merindukanmu. Malam ini satu ramadhan. Bulan puasa pertama yang harus aku lalui tanpa dirimu. Tanpa lagi mendengar wejangan darimu. Tanpa suaramu yang selalu melantunkan ayat-ayat al-qur’an. Tanpa masakanmu dan juga ketelatenanmu membangunkan kami sahur dan melarang kami untuk tidur setelahnya demi untuk mandapat sholat subuh di mesjid depan rumah. Aku merindukanmu. Sangat….telah empat tahun aku melewati ramadhan yang tak sempurna di rumah. Tak jarang aku pun tak melalui puasa pertama bersamamu. Jika aku harus puasa pertama di kost-kostan, pastinya engkau akan menelponku, menanyakan menu sahur yang pasti akan ku jawab, mie instant.Engkau pasti akan selalu bilang, kita makan ayam di sini. Mama minta maaf. Sudahlah ma…cintamu telah cukup… Tahun ini aku berencana melewatkan 1 ramadhan di tempat yang selalu kita sebut rumah. Aku melewatkannya di sini. Di rumah. Tapi tidak lagi denganm