Skip to main content

Why U Don't Wanna Eat?

Ara tiba-tiba mogok makan. Tiga hari di Makassar membuat pola makannya tidak teratur. Sedih rasanya melihat dia menolak makan. Ia menutup mulutnya rapat-rapat ketika saya menyuapkannya bubur atau buah. Padahal selama di rumah hampir dua minggu ini pola makannya sangat teratur. Makan pagi jam 7.30. Makan siang jam 12. Dan makan sore 16.30.

Saya berpikir dua minggu itu sudah membentuk pola yang cukup membuatnya terbiasa sehingga jika jeda sesaat tidak akan mempengaruhi pola kebiasaan itu. Tapi ternyata ia malah menolak makan. Meski bubur sekalipun ia tetap menutup mulutnya rapat-rapat dan memalingkan tubuhnya menghindari sendok. Susahnya lagi adalah tak ada kursi duduk atau kereta yang bisa menempatkannya duduk dan makan dengan baik. Kalo di rumah, cukup memberinya sesuatu yang menarik perhatiannya dan dia akan tenang disuapi makanan.

Saya pun sampai pada titik kejengkelan dan memarahinya. Saya tahu itu salah, tapi, saya juga manusia Ara. Maaf jika memarahimu jika tidak makan. Usiamu 7 bulan kini, variasi makanan sudah harusnya lebih banyak. Tapi mama masih belum mendapatkan resep makanan untuk bayi usia 7 bulan. Mungkin sedikit idealis tak ingin memberikanmu makanan instant. Sok sehat mungkin menurut banyak orang. Tapi, memberimu makanan yang sehat menjadi kewajibanku.

Kita akan menghadapi ini bersama. Ketika kamu tetap tidak mau makan, mama tetap akan memberikanmu makan. Kalo perlu kita tak usah meninggalkan rumah jika kamu hanya nyaman makan di sana, duduk di keretamu, memperhatikan sepedanya Khanza sambil kusuapi makanan.(*)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

Popular posts from this blog

jurnalistik siaran, pindah kost-kostan, dan "capek deh!"

Akhirnya, kembali bisa menyempatkan diri sejenak ke Teras Imaji. Sedikit berbagi kisah lagi dengan diri sendiri. Sekedar untuk sebuah kisah klasik untuk Saraswati dan Timur Angin kelak. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertahan sampai saat ini.meski tugas kuliah menumpuk. Keharusan untuk pindah pondokan. Kewajiban lain yang belum terselesaikan.Problem hati yang menyakitkan. Serta kontrak yang tersetujui karena takut kehilangan peluang meski tubuh ini harus sudah berhenti. Siang tadi (15 nov 06) seharian ngedit tugas siaran radioku. Tak enak rasanya pada teman-teman, memberatkan mereka. menyita waktu yang seharusnya untuk hal lain. Tak enak hati pada Pak Anchu, penjaga jurusan. yang tertahan hanya menunggu kami menyelesaikan tugas itu. Dengan modal suara fals nan cempreng toh aku pun akhirnya harus sedikit PD untuk membuat tugas itu. Meski hanya menguasai program office di komputer, toh aku harus memaksakan belajar cool-edit (yang kata teman-teman yang udah bisa merupakan sesuatu...

Misteri Sepatu Menggantung di Kabel Listrik

Sumber : Athens News Sepasang sepatu menggantung lunglai di tiang listrik. kabel listrik tempatnya bergantung kokoh tak ingin melepaskan sepatu itu menghujam bumi. Pertama kali tiba di Athens, saya cukup heran dengan sepatu-sepatu yang tergantung di kabel-kabel listrik itu. Kutanya ke seorang teman bule tapi ia tak memberi jawaban yang memuaskan. Kupikir sepatu-sepatu itu dilempar begitu saja karena sudah dirusak atau tidak dipakai. Atau asumsiku yang lain adalah sepatu itu milih olahragawan yang berhenti dari profesi dan memilh menggantung sepatu. seperti pemain sepakbola. Tapi sepertinya asumsi olahragawan itu tidak benar, karena sepatu-sepatu yang menggantung di tiang listrik cukup mudah ditemukan. Jalan-jalanlah di seputaran Athens dan kau akan mendapati sepatu-sepatu menggantung di tiang listrik.  Uniknya sepatu yang digantung itu hanyalah sepatu-sepatu kets. Fenomena ini disebut Shoefiti dan terjadi diberbagai tempat di Amerika. Nyatanya bukan hanya saya saja yang pen...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...