Skip to main content

Posts

Pada Sang Waktu

Aku menyerah padanya. Ia telah membuatku bertekuk lutut dan mengangkat kedua tangan ini. Memaksaku mengibarkan bendera putih petanda kalah. Aku selalu menanti saatnya. Namun terkadang ia telah berlalu ketika aku menyadari kedatangannya. Aku kalah.... Aku hanya bisa merajut imaji tanpa bisa benar-benar menyelimuti diri dengan hangatnya....

Pagi Ini......

Duduk, menikmati pagi, dan menyaksikan Kevin bermain pasir adalah saat-saat yang begitu mahal bagiku. Duduk dan menikmati tuts-tuts laptopku sambil memarahi Kevin yang melempar kerikil-kerikil kea rah orang yang berlalu lalang adalah saat-saat yang mahal bagiku. Menulis menjadi sebuah rutinitas yang akan menjadi begitu mahal bagiku jika aku tak memaksa diriku untuk melakukan rutinitas ini. Pagi ini adalah pagi terakhir di hari minggu di penghujung juni. Ya…juni. Pertengahan tahun. Sisa setengahnya lagi untuk meniup trompet tahun baru. Mungkin terasa masih lama. Tapi waktu tak mampu ditakar. Ia hanyalah ilusi.tapi ia seperti gong besar yang mampu membuat kita tersentak. Membuat kita tersadar telah membuat jejak di lalunya. Aku telah memasuki sebuah gerbang baru. Gerbang memilih dan meraih kesempatan. Aku sempat tak punya peta ke arah mana aku akan pergi. Tapi waktu telah menuntun berjalan jauh. Memilih dan menapaki satu persatu likunya. Aku takut pada awalnya. Tapi perlahan ia mul...

Kost Idaman

Sudah tiga hari aku menjalani sebuah kerja yang setahun ke depan (untuk saat ini) menjadi rutinitasku. Masih terlihat ringan sekarang. Entahlah nanti. Tapi aku tak ingin ini mejadi lebih berat. Aku ingin menikmatinya seperti sebuah arena bermain. Yang di dalamnya hanya ada tawa berderai derai dan selalu ada hal yang menyeangkan. Waktuku mungkin akan banyak tersita, tapi aku tak mau tahun ini aku melupakan mimpiku. Aku harus membuatnya ada setidaknya menjadi janin yang bentuknya sudah terlihat. Aku butuh tempat untuk mengeraminya, memeliharanya. Tapi di sini, di daerahku sendiri aku tak begitu mengenalnya. Kota ini begitu asing. Semua tempat begitu penuh. Semuanya begitu jauh, dan tak cukup representative untuk ukuranku. Telah sering kota ini mengecewakanku dan menjadi trauma tersendiri buatku. Namun,kali ini aku harus menaklukkannya. Aku butuh tempat untuk diriku sendiri.di tempatku sekarang pada dasarnya baik, tapi ada kesungkanan yang selalu muncul dan aku hanya tak mau itu terjadi. ...

To Be with U

Begitu mahalkah arti kebersamaan? Ada materi yang harus dikorbankan, ada waktu yang harus disempatkan, ada cinta yang perlu tumbuh diantaranya. Tapi bayaran yang didapatkan pun tak sedikit. Ada berjuta-juta bahagia yang mampu kita rasakan dalam kebersamaan. Ada derai tawa yang bergema-gema diantara kita. Ada tunas-tunas cinta yang bertumbuh terus menerus. Akar-akarnya kian kokoh dan kebersamaan membuat dua hati menjadi satu tak terpisahkan. Begitu mahalnya kah kebersamaan di antara kita? Apakah kita tidak berusaha terlalu keras agar kita bias bersama? Perlu berliter-liter air matakah untuk mewujudkannya? Perlukah aku menyerap semua sedih di dunia ini untuk bersamamu. Aku selalu menanyakan pertanyaan sacral itu. Pertanyaan pamungkas yang mampu membuat kita bersama. Membuat kita tak terpisahkan. Pertanyaan yang menjadi panah sakti yang secara lambat namun pasti “memaksa” kita untuk bersama. Tapi juga mampu menjadi boomerang pemisah antara kita. Setiap pagi, jauh sebelum matahari menanta...

Warnet Oh Warnet

Tak ada niat u ntuk ke warnet se benarnya hari ini. hanya saja, K Ipah memintaku untuk ke Telkom melaporkan jaringan telepon rumah yang tidak bisa dipakai buat internetan. Walhasil berangkatlah diriku ke Telkom. Apa daya Telkom bukanya jam 2 siang (tutup buat sholat Jumat dan istirahat). Daripa da harus balik lagi ke kantor yang lumayan jauh dan lumayan mahal ongkosnya aku berniat menunggu saja. Untungnya di belakang kantor Telkom ada warnet. Sep erti baru ber temu pacar lama rasanya melihat warnet itu. Dan di sinilah aku menunggu hingga Telkom buka di depan. Sayangnya, flashdisk yang berisikan tulisan-tulisan yang akan aku posting tak aku bawa...hiks Untuk saat ini, Dwi posting ini dulu ya....

Musim Liburan, Musim Film Bagus

Website 21Cineplex telah memajang daftar film-film coming soon yang bakal diputar di theater-theaternya. Dan bulan Juni ini dan bulan depan adalah libur musim panas di Amerika dan liburan sekolah di sini. Begitu banyak film-film yang ada di list itu yang menarik minatku untuk menontonnya. Salah satunya Harry Potter and The Half Blood Prince. Film Harry Potter yang VI yang pastinya makin menegangkan. Selain itu film Ice Age 3 yang patut aku nonton dan sebuah film anak-anak berjudul "Garuda di Dadaku"(ini karena ikut sama k Yusran). Selain itu film Transformer pun masuk dalam daftar film yang aku tunggu. Meski film pertama tak sempat aku tonton, tapi atas rekomendasi K Yusran, film ini pun sepertinya layak ditonton. Terakhir dalam listku film kedua dari Twilight Saga "New Moon". Nda sabar rasanya melihat wajah tampan si Vampir dingin, Edward Cullen. Di saat orang lain menikmati musim liburan aku berada di sisi yang sebaliknya. Memulai sebuah tahap yang baru. Di te...

Apakah Saatnya Telah Tiba????

Apakah saatnya telah tiba? Aku selalu membayangkan detik itu. Detik dimana aku harus pulang ke rumah untuk tujuan yang berliku. Ada rasa takut dan sedikit tak percaya diri dalam diriku. sanggupkah aku berada di ujung jalan ini. Rasanya perjalanan ini telah begitu jauh, padahal detik start itu belumlah berdentang. Pistol tanda perlombaan dimulai belumlah ditembakkan. Detik itu membebaniku. Menghantui tiap detikku yang kujalani. Aku kemudian larut dalam ketakutan. Tak punya waktu untuk menikmati detik hidupku. Aku didera ketakutan dan aku lemah karenanya. Tapi aku harus siap. Takut adalah musuh yang paling menyeramkan. Aku harus menang pada lomba ini. aku telah siap. meski ini adalah sabtu terakhir, meski besok ritme dan melody telah berubah. Terima kasih buat setiap orang yang telah menyuapiku begitu banyak garam kehidupan. Mereka telah berjasa mengisi gelas-gelas kosongku. Trolley bag telah siap. di dalamnya blazer, rok mini, dan stocking-stocking telah terlipat dengan rapi. Maaf, tak ...

Beda Chic, Beda Sekar

Beberapa waktu lalu aku tertarik membeli dua jenis majalah khusus perempuan. Yang pertama Sekar dan yang satunya lagi Chic. Keduanya merupakan satu grup dibawah atap Kompas Gramedia Majalah. Majalah Sekar bolehlah dikatakan masih bayi. Edisi yang aku beli kemarin masihlah edisi awal di tahun pertamanya. Aku penasaran membaca ketika tahu bahwa majalah ini masih baru. Ia harus bersaing dengan majalah Femina dan Kartini yang telah lebih dahulu bertualang di dunia perempuan. Majalah Sekar memiliki segmentasi yang berbeda dengan majalah Kartini atau Femina. Jika Kartini melirik segmen perempuan yang masih menyukai hal-hal "tradisional", Femina dengan segmen perempuan modern mapan dengan rutinitas kerja yang padat, Sekar hadir dengan segmentasi yang lain. Menurut pembacaan yang aku lakukan, Sekar melirik segmentasi perempuan (khususnya ibu rumah tangga) yang memfokuskan dirinya untuk mengurus rumah tangga. Tidak menitiberatkan pada wanita karir yang sibuk mengurus karirnya. S...

Huh........

Inikah rasanya bekerja di bank??? Seleuruh duniaku tersedot padanya untuk mendapatkan perhatian dariku. Terbangun jam 6 pagi dan dikejar waktu hingga jam 7.15 pagi. Bergegas agar tak mendapati tinta print warna merah pada aftar chek clock-ku. Mengerjakan tugas-tugas yang kadang begitu beresiko tinggi. Tak ada sela untuk memanjakan diri di kantor. Akses ke dunia luar hanyalah serupa intranet yang tak terlalu up date. Semua jejakmu terekam oleh kamera. Tutur, laku, dan bahkan senyum harus selalu tersetting on pada wajah dan bahasa tubuhmu. Semua tampak mekanis. Adakah saat dimana aku bias mencuri sedikit waktu untuk membaca dan menulis. Entahlah, bagiku semua itu begitu tampak jauh sekarang. Waktu berjalan begitu cepat. Tiap senin menuju jumat dan kembali lagi ke senin. Rasanya tak ada waktu untuk diri sendiri. Dunia ini membuatku sedih. Tapi ia selalu mengatakan padaku untuk menang di akhir cerita. Entahlah….saat seperti ini yang paling menenangkanku adalah pelukan mamaku dan sentuhan h...

Selamat Ulang Tahun,Ma...

Tak pernah kau tahu pasti saat kamu mengisi rongga paru-paru dengan udara bumi yang membuatmu menangis Tak pernah begitu sering aku mengingat hari ini ketika engkua ada Tapi, hari ini dan di tahun-tahun mendatang aku akanmengingat hari ini Hari di dokumenmu yang menyatakan bahwa tertanggal hari ini udara pertamamu, kamu hirup Meski kau telah menikamti udaraterakhirmu, hari ini tetap akan aku kenang bahkan bertahun-tahun yang akan datang selamat ulang tahun, Ma....

Setahun Kepergianmu….

Lelah. Aku pejamkan mataku sejenak. Mata yang mungkin telah kering oleh air mata saat itu.tak perlu kubercermin untuk memastikan lingkar-lingkar hitam dikantung mataku. Sesaat semua tampak baik-baik saja. Seperti biasa. Seperti lelap yang selama ini aku alami. Alam bawah sadarku benar-benar sedikit membuatku lupa pada sebab akan kantung-kantung hitam itu. Tapi itu tak lama. Ketika lelap tak sanggup lagi menekan sadarku ke alam bawah, sebab-sebab kantung-kantung itu kembali memenuhi otakku. Kembali membuatku tersadar bahwa hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Ia berbaring disampingku. Aku hanya mampu menggenggam tangannya yang dingin. Yang tak lagi mampu membalas genggamanku. Tangannya telah kaku. Sesekali kuusap dahinya. Niatku hanyalah agar ia merasa tentram seperti aliran ketentraman yang selama ini selalu kurasakan saat ia mengusap ubun-ubunku. Ingin aku katakan lewat sentuhan itu bahwa aku berusaha mengalirkan rasa kasih sayangku yang mungkin tak pernah berbanding dengan miliknya...

My 1st Job....My 1st Nominal

Sejauh ini aku berusaha bertahan.sejujurnya aku menyukai dan mulai tak menyukainya. Semua berubah karenanya. Waktu. Ruang, serta semua dimensi hidupku perlahan berubah. Inikah yang selama ini aku inginkan??? Entahlah.aku pernah berimaji tentang rutinitas ini. Tentang saat dimana aku melakukan tanggung jawab yang dibebankan pada diriku dan menerima upah dari itu. Aku mulai sedikit ego. Sedikit membandel. Mencoba untuk tidak mekanik katanya. Tapi sejujurnya aku tak ingin berlama-lama disini. Ini bukan tempat yang menjadi tujuan akhirku. Jalanku masih jauh membentang. Masih banyak tempat yang harus aku singgahi. Sejak pertama kami bertemu aku telah bertekad takkan mendalami hubungan ini. Biarlah aku sedikit beristirahat dan mempersiapkan bekal untukku perjalananku ini. Meski angka-angka itu menggiurkanku semalam, tapi aku tetap pada tekadku. Biarlah aku terus bertahan pada saat ini. Sampai tiba diujung sana aku melihat sebuah batu untuk diloncati lagi. Apa kabarmu, ma???jika engkau masih ...

Mengenangmu Di Sini

Bulan Mei setahun lalu. Di sini setahun lalu menjadi titik balik hidupku. Aku seperti berada di tepian dunia dan tersadar bahwa ia adalah keping dualitas yang tak mampu dipisahkan. Aku mengingatnya dalam diam. Dalam sedih yang begitu menusuk. Sedikit kuintip panggilan sayangku padanya di blog ini. Kuketik huruf " M A M A" di kotak searchku di blog ini. Kudapati keping-keping yang membuatku merindukannya. Setahun lalu aku belajar untuk berjalan dengan menggunakan dua kaki tanpa harus menangis lagi dan memanggil namanya ketika ku jatuh. Namun tak jarang aku ingin merengek manja dibawah ketiaknya dan menciumi bau tubuhnya yang sudah terekam di benakku. Aku masih ingin berjalan dengan tuntunan tangannya meski aku tahu aku bisa bisa kembali lagi berdiri tanpa uluran tanganmu. Aku ingin kamu melihatku kini. Terus berupaya berdiri di atas kakiku sendiri dan menghapus air mata yang jatuh karena sakit dengan tanganku sendiri. Selubung itu memisahkan kita...Tapi kita masih terikat ...

Waktu Yang Kian Mengejar

Waktu kecil aku selalu membayangkan menjadi orang dewasa dengan luas dunia yang bisa diarunginya. Dengan sejuta tingkah yang bisa dilakoninya. Aku kadang membayangkan diriku berada di usia 20-an tahun dan melakukan rutinitas perempuan dewasa lainnya. Lamunan itu kadang membuatku terlena. Terjebak dalam fatamorgana tentang dewasa saat usiaku masih membolehkanku main boneka barbie dan lompat tali. Aku merangkai sejuta khayal tentang menjadi perempuan dewasa. Bekerja kantoran, memakai blazer-high heels- dan sejuta aksesoris lainnya. Ketika usia itu datang menepuk punggungku, membuatku terjaga dari khayal masa kecilku. Ternyata benang-benang khayal itu tak bisa tegak karena basah oleh keringat realitas. Tak ada yang begitu menyenangkan.Semua butuh kerja keras. Menjadi wanita dewasa dengan sejuta komplesitasnya adalah sebuah hidup. Tak sama ketika aku masih bisa bermain dengan khayalan masa kecilku. Tiapku sadar bahwa aku terus bertumbuh, tiap kali itu aku sadar bahwa permasalahan yan...

It's New

new place, new home, new friends, new topic, new activity, new enviroment, new dresses, new style, new attitude it's new life new world

Mengalir Laksana Air....

Seperti air, hidup adalah arus Arusnya kadang kuat, kadang lemah Dan mungkin tak beriak sama sekali Kadang merasa tenggelam di dalamnya Atau mungkin bisa mengapung di atasnya Tiap-tiap aliran sungai Beda alur, beda alir Bebrapa deras, beberapa tenang Kadang menemui diri di laut tenang nan indah Kadang juga tak terduga berada sungai mandek nan kotor Air tak mengeluh Ia terus berusaha mengalir Jauh, sampai ia pun menemukan lautan tenang itu....

Tanpa Jarak

Sender : 0818050353xx To : 0813429371xx Tanpa jarak maka entah rapat entah berantara Tanpa aksara Maka entah diam Entah bicara Tanpa ketika Maka entah sebentar Entah lama Tanpa masa Maka entah kekal Entah fana Tanpa janji Maka entah berpisah Entah bersua (TANPA JARAK-Mustofa Bisri) For Sender, Thanks for the Poem…

Belajar Dandan

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada suatu hari aku akan belajar untuk menyapukan blush on di pipiku, melukis dengan eye shadow pada lengkung mataku. Menjepit bulu mataku dengan pelentik mata kemudian menyisirnya dengan maskara . Dan sapuan lipstick berwarna pada bibirku. Selama ini aku hanya memakai pelembab dan bedak padat sewarna kulit untuk riasanku. Hanya lip balm tak berwarna yang menyentuh bibirku. Itu saja. Tapi mulai sekarang aku harus belajar untuk memakainya. Dalam imaji masa kecilku aku tak pernah membayangkan diriku pada titik belajar ini. Aku melompatinya. Aku hanya membayangkan diriku dalam dandan cantik nan manis dalam balutan gaya wanita modern. Aku tak punya tutor handal dalam perihal dandan. Dua kakakku sama denganku, tak begitu paham dandan. Bagaimana mencari make up yang berkualitas dan bagaimana mencampur warna-warna itu dan melukisnya di wajahku. Seperti dejavu rasanya saat ini. Aku melihat Dwi kecil di kamar kakaknya dengan dua orang teman...

Kututup Hari Dengan Sedih...

Tiba-tiba saja ujung hariku yang begitu indah terkoyak karena sebuah egoisitas yang kukira bisa kutaklukkan. Aku berpikir aku sanggup mengatasinya. Aku menyangaka aku sanggup mengarahkannya. Namun yang kutemui semua berbalik arah dan menikamku Ternyata aku tak tahu aturannya. Aku tak punya navigasi untuk berjalan ke arah mana. Semua tiba-tiba menyakiti diriku akibat ulahku sendiri. Aku pikir ini sama seperti biasa. sama seperti jika aku bersama orang lain dan komunitas yang lain. Tapi ternyata, semua telah berubah. This world use a different rules. I couldn't change it. And i don't have chance to change it. Semua kecewa padaku. Tak ada lagi yang mau mendengarku. Tak ada lagi yang mau dengan sabar menemani dan mengantarku. Ya...semua telah berubah. Aku terlambat tuk menyadarinya. Pada akhirnya hanya aku yang tersakiti. Berurai air mata di sini tanpa orang-orang yang kadang kau sebut dengan bermacam-macam nama (pacar, teman, sahabat, odo-odo') yang menemani. Aku tiba di ...