Skip to main content

Posts

Setahun Kepergianmu….

Lelah. Aku pejamkan mataku sejenak. Mata yang mungkin telah kering oleh air mata saat itu.tak perlu kubercermin untuk memastikan lingkar-lingkar hitam dikantung mataku. Sesaat semua tampak baik-baik saja. Seperti biasa. Seperti lelap yang selama ini aku alami. Alam bawah sadarku benar-benar sedikit membuatku lupa pada sebab akan kantung-kantung hitam itu. Tapi itu tak lama. Ketika lelap tak sanggup lagi menekan sadarku ke alam bawah, sebab-sebab kantung-kantung itu kembali memenuhi otakku. Kembali membuatku tersadar bahwa hidup adalah pertemuan dan perpisahan. Ia berbaring disampingku. Aku hanya mampu menggenggam tangannya yang dingin. Yang tak lagi mampu membalas genggamanku. Tangannya telah kaku. Sesekali kuusap dahinya. Niatku hanyalah agar ia merasa tentram seperti aliran ketentraman yang selama ini selalu kurasakan saat ia mengusap ubun-ubunku. Ingin aku katakan lewat sentuhan itu bahwa aku berusaha mengalirkan rasa kasih sayangku yang mungkin tak pernah berbanding dengan miliknya...

My 1st Job....My 1st Nominal

Sejauh ini aku berusaha bertahan.sejujurnya aku menyukai dan mulai tak menyukainya. Semua berubah karenanya. Waktu. Ruang, serta semua dimensi hidupku perlahan berubah. Inikah yang selama ini aku inginkan??? Entahlah.aku pernah berimaji tentang rutinitas ini. Tentang saat dimana aku melakukan tanggung jawab yang dibebankan pada diriku dan menerima upah dari itu. Aku mulai sedikit ego. Sedikit membandel. Mencoba untuk tidak mekanik katanya. Tapi sejujurnya aku tak ingin berlama-lama disini. Ini bukan tempat yang menjadi tujuan akhirku. Jalanku masih jauh membentang. Masih banyak tempat yang harus aku singgahi. Sejak pertama kami bertemu aku telah bertekad takkan mendalami hubungan ini. Biarlah aku sedikit beristirahat dan mempersiapkan bekal untukku perjalananku ini. Meski angka-angka itu menggiurkanku semalam, tapi aku tetap pada tekadku. Biarlah aku terus bertahan pada saat ini. Sampai tiba diujung sana aku melihat sebuah batu untuk diloncati lagi. Apa kabarmu, ma???jika engkau masih ...

Mengenangmu Di Sini

Bulan Mei setahun lalu. Di sini setahun lalu menjadi titik balik hidupku. Aku seperti berada di tepian dunia dan tersadar bahwa ia adalah keping dualitas yang tak mampu dipisahkan. Aku mengingatnya dalam diam. Dalam sedih yang begitu menusuk. Sedikit kuintip panggilan sayangku padanya di blog ini. Kuketik huruf " M A M A" di kotak searchku di blog ini. Kudapati keping-keping yang membuatku merindukannya. Setahun lalu aku belajar untuk berjalan dengan menggunakan dua kaki tanpa harus menangis lagi dan memanggil namanya ketika ku jatuh. Namun tak jarang aku ingin merengek manja dibawah ketiaknya dan menciumi bau tubuhnya yang sudah terekam di benakku. Aku masih ingin berjalan dengan tuntunan tangannya meski aku tahu aku bisa bisa kembali lagi berdiri tanpa uluran tanganmu. Aku ingin kamu melihatku kini. Terus berupaya berdiri di atas kakiku sendiri dan menghapus air mata yang jatuh karena sakit dengan tanganku sendiri. Selubung itu memisahkan kita...Tapi kita masih terikat ...

Waktu Yang Kian Mengejar

Waktu kecil aku selalu membayangkan menjadi orang dewasa dengan luas dunia yang bisa diarunginya. Dengan sejuta tingkah yang bisa dilakoninya. Aku kadang membayangkan diriku berada di usia 20-an tahun dan melakukan rutinitas perempuan dewasa lainnya. Lamunan itu kadang membuatku terlena. Terjebak dalam fatamorgana tentang dewasa saat usiaku masih membolehkanku main boneka barbie dan lompat tali. Aku merangkai sejuta khayal tentang menjadi perempuan dewasa. Bekerja kantoran, memakai blazer-high heels- dan sejuta aksesoris lainnya. Ketika usia itu datang menepuk punggungku, membuatku terjaga dari khayal masa kecilku. Ternyata benang-benang khayal itu tak bisa tegak karena basah oleh keringat realitas. Tak ada yang begitu menyenangkan.Semua butuh kerja keras. Menjadi wanita dewasa dengan sejuta komplesitasnya adalah sebuah hidup. Tak sama ketika aku masih bisa bermain dengan khayalan masa kecilku. Tiapku sadar bahwa aku terus bertumbuh, tiap kali itu aku sadar bahwa permasalahan yan...

It's New

new place, new home, new friends, new topic, new activity, new enviroment, new dresses, new style, new attitude it's new life new world

Mengalir Laksana Air....

Seperti air, hidup adalah arus Arusnya kadang kuat, kadang lemah Dan mungkin tak beriak sama sekali Kadang merasa tenggelam di dalamnya Atau mungkin bisa mengapung di atasnya Tiap-tiap aliran sungai Beda alur, beda alir Bebrapa deras, beberapa tenang Kadang menemui diri di laut tenang nan indah Kadang juga tak terduga berada sungai mandek nan kotor Air tak mengeluh Ia terus berusaha mengalir Jauh, sampai ia pun menemukan lautan tenang itu....

Tanpa Jarak

Sender : 0818050353xx To : 0813429371xx Tanpa jarak maka entah rapat entah berantara Tanpa aksara Maka entah diam Entah bicara Tanpa ketika Maka entah sebentar Entah lama Tanpa masa Maka entah kekal Entah fana Tanpa janji Maka entah berpisah Entah bersua (TANPA JARAK-Mustofa Bisri) For Sender, Thanks for the Poem…

Belajar Dandan

Aku tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa pada suatu hari aku akan belajar untuk menyapukan blush on di pipiku, melukis dengan eye shadow pada lengkung mataku. Menjepit bulu mataku dengan pelentik mata kemudian menyisirnya dengan maskara . Dan sapuan lipstick berwarna pada bibirku. Selama ini aku hanya memakai pelembab dan bedak padat sewarna kulit untuk riasanku. Hanya lip balm tak berwarna yang menyentuh bibirku. Itu saja. Tapi mulai sekarang aku harus belajar untuk memakainya. Dalam imaji masa kecilku aku tak pernah membayangkan diriku pada titik belajar ini. Aku melompatinya. Aku hanya membayangkan diriku dalam dandan cantik nan manis dalam balutan gaya wanita modern. Aku tak punya tutor handal dalam perihal dandan. Dua kakakku sama denganku, tak begitu paham dandan. Bagaimana mencari make up yang berkualitas dan bagaimana mencampur warna-warna itu dan melukisnya di wajahku. Seperti dejavu rasanya saat ini. Aku melihat Dwi kecil di kamar kakaknya dengan dua orang teman...

Kututup Hari Dengan Sedih...

Tiba-tiba saja ujung hariku yang begitu indah terkoyak karena sebuah egoisitas yang kukira bisa kutaklukkan. Aku berpikir aku sanggup mengatasinya. Aku menyangaka aku sanggup mengarahkannya. Namun yang kutemui semua berbalik arah dan menikamku Ternyata aku tak tahu aturannya. Aku tak punya navigasi untuk berjalan ke arah mana. Semua tiba-tiba menyakiti diriku akibat ulahku sendiri. Aku pikir ini sama seperti biasa. sama seperti jika aku bersama orang lain dan komunitas yang lain. Tapi ternyata, semua telah berubah. This world use a different rules. I couldn't change it. And i don't have chance to change it. Semua kecewa padaku. Tak ada lagi yang mau mendengarku. Tak ada lagi yang mau dengan sabar menemani dan mengantarku. Ya...semua telah berubah. Aku terlambat tuk menyadarinya. Pada akhirnya hanya aku yang tersakiti. Berurai air mata di sini tanpa orang-orang yang kadang kau sebut dengan bermacam-macam nama (pacar, teman, sahabat, odo-odo') yang menemani. Aku tiba di ...

Dari Cafe Ke Cafe

Hmmm…..menyenangkan. seperti band saja yang pentas dari café ke café. Seperti itu pula aku melewati dua hariku belakangan ini. Mengikuti k yusran dan k riza yang sibuk buat proposal ke jepang yang harus dikerjakan dengan cara-cara elit. Dan akhirnya, aku pun ikut juga (dengan cara sedikit memaksa dan penuh ancaman). Kemarin di Balls Cafe dan hari ini di Dunkin Donuts . Hmmmm…..nice!!!! Hari ini curi wifi gratis dari Black canyon cafe yang tepat di atas dunkin donuts Mtos…hehehehe

Malasss........

Entah kenapa,pokoknya malas banget!!!!!!!!!!!!!!

Selamat Tinggal Gigiku

Aku ke dokter gigi. HEBAT!!!! Mengapa? Karena ini pertama kalinya aku ke dokter gi gi. Sejak aku punya gigi hingga dua diantara keropos dan berlubang aku tak pernah ke dokter gigi. Mamaku tak mendidikku secara baik tentang perlunya ke dokter gigi. Saat gigi susuku terlepas, ia hanya membawa ke puskesmas dan meminta perawat untuk dicabutkan. Itu pun hanya dua kali. Setelah itu, aku mencabutnya sendiri. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak kecil jika mencabut giginya sendiri. Aku pun malas sikat gigi, saat kecil aku langganan sakit gigi. Memakan begitu banyak permen dan tak gosok gigi sebelum tidur membuat gigiku berlubang. Pipiku bahkan pernah bengkak dan lain sebagainya yang ada kaitannya dengan sakit gigi. Mamaku tidak pernah berinisiatif untuk menambal lubang gigiku. Ia hanya mengandalkan pijat refleksinya. Ia selalu bilang “ nanti kalo keropos semua, toh tidak sakit lagi”. Saat itu aku berpikir, pijat refleksi untuk membuat gigi keropos. Ia juga terkadang mengatakan bahwa...

Cerita-Cerita

Banyak kisah yang perlu dituturkan Sedikit waktu untuk mengisahkan Dan anak-anak tak lagi mau mendengar dongeng sebelum tidur Tapi tunggulah... Untukmu, kisah ini akan tetap aku ceritakan Meski dengan berbisik

Kerja, Pekerjaan, Atau Apalah Namanya….

Telah 76 hari aku menyandang gelar S.Sos dan dikukuhkan dalam rapat terbuka universitas. Telah 76 hari aku menyandang gelar baru bernama pengangguran atau pencari kerja. Yang mana yang paling tepat, aku juga kurang tahu. Lumayan banyak CV telah aku tebar di seantero SulSel dan Jakarta. Banyak yang hanya menjadi koleksi divisi HR bahkan mungkin untuk yang kurang beruntung berada ditumpukan barang kantor yang harus segera disingkirkan. Ada juga yang berbaik hati mau menelponku dan mewawancaraiku. Tak sedikit yang gagal di tes psikologi. Hanya satu yang lulus sampai tahap wawancara (sejauh ini.) Tapi tak sedikit pula yang menerimaku dan mau menjadikanku karyawannya. Tapi tak sedikit pula yang aku tolak dengan alas an yang bermacam-macam. Kadang aku pikir, kerjaan itu ga gw banget deh . Atau kerjaan itu terlalu berat untukku, atau kerjaan itu tak sesuai dengan divisi yang aku inginkan. Sampai pada titik, aku kemudian bingung mau kerja apa. Telah begitu banyak perusahaan yang kukirim...

Belajar Naik Motor

Hari ini kak yusran dengan sukses memaksaku belajar mengendarai motor. Keterampilan ini sebenarnya sudah lama ingin aku pelajari. Tapi sarana dan guru tak ada. Aku hanya ingin diajari sama k yusran dan juga diajari pake motornya. Selain itu factor yang lain adalah aku lumayan takut pada ara h gerak kendaraan dan lalu lintas. Aku selalu takut tertabrak atau kecelakaan saat dibonceng, apalagi saat aku yang harus memegang kendali atas kendaraan. Ih…ngeri!!!! Dengan segala bujuk rayu, jutaan pernyataan bahwa aku akan baik-baik saja, berbagai penegasan yang mengatakan bahwa ini lebih mudah dari berkendara sepeda, k yusra n berhasil menggiringku ke bagian peternakan unhas di jalan sahabat. Di sana aku masih saja takut. Ia memegangiku dari belakang dan berusaha melepas sedikit-sedikit pegangannya, namun masih saja aku berteriak histeris dipenuhi tawa. (kombinasi yang aneh!). Untungnya menggunakan helm standar, jadi tak ada orang yang mengenaliku sore itu. Aku belum bias mensinkronkan an...

Nostalgia Bersama Bobo

Ini dua kalinya aku membeli majalah bobo ketika umurku sudah menginjak 22 tahun. Majalah anak-anak yang kukenal sejak aku kelas tiga SD. Masih kuingat saat itu ketika Etta dan Mama membawakan majalah itu dari ibukota Watampone. Dwi kecil tampak begitu berseri-seri. Binar matanya menampakkan sebuah kebahagiaan yang begitu besar. Dipandanginya sampul berwarna pmerah jambu itu. Artikel yang paling aku ingat saat itu adalah liputan tentang Kotaro Minami, pemain kesatria baja hitam yang saat itu lagi hebohnya ditayangkan di RCTI. Aku membaca tiap halamannya, bahkan iklannya sekalipun. Aku sangat senang kala itu. Seperti mendapatkan permintaan yang terkabulkan dari seorang peri. Dan yah….orang yang memberiku majalah itu memang adalah peri…. Kemarin aku kembali ingin bernostalgia bersama majalah itu. Membaca rubric ringan yang begitu menyenangkan. Menemukan dunia kanak-kanak yang selalu membahagiakan. Aku tak tahu kapan terakhir membeli dan membacanya, tapi yang au tahu pertimbangan kala it...

Ode buat Kevin

Kaki kecilnya sudah lama mencumbu tanah dan debu Telah banyak parutan di kulit kaki dan tangannya Sebuah sayatan silet telah membekas di atas bibirnya Meski kata masih sedikit-sedikit terapaldari mulut kecilnya Meski larinya telah begitu kuat, tak sanggup ku kejar Mesk tangisnya lebih keras lagi dari waktu ia kecil Ia mulai mengenal dunia, merasakan cinta dan membagi cinta Ia telah mampu memaknai keluarga, rasa bersama, dan wangi khas ibu Ia telah dua tahun kini menapaki jalannya Masih sering terjatuh Tapi bukankah hidup adalah tentang jatuh dan bangkit kembali Dan ia masih akan terus berjalan.. (Selamat ulang tahun sayang… 5 Maret 2008)

Kangen Sama Kamu...

Lama sudah aku menyia-nyiakannya. Mulai jarang aku menegok. Memberinya sapa atau berbagi cerita dengannya. Aku berada di titik merenung. Aku hanya diam memandangi stengah rajutanku dan benang yang ada di pangkuanku.... Aku hanya bisa berkontemplasi dengan ini semua. Pikiranku masih belum bisa membuatnya menjadi kata-kata. Aku lelah....aku hanya mampu diam..... Aku hanya bisa memandangnya dan membisikkannya kalimat "Aku kangen kamu"

Hmmm.....

Seperti jalan yang harus ditapaki....tajam, berkerikil, penuh debu Tapi menyenangkan....selalu ada bintang yang menemani Ini adalah hidup