Skip to main content

Posts

Showing posts with the label Cerita Pendek

Lelaki Bermata Biru

Hari ini kukuatkan tekadku untuk masuk kelas sekalipun bola besi malas menggantung manja di kakiku. Aku selalu kalah melawan rasa malas apalagi ditambah godaan teman-teman untuk menikmati musim semi yang baru dimulai. Matahari hangat dan rimbunan bunga yang bergantungan di pohon menjadi variable penganggu lain. Tak ada yang mampu melawan untuk bermain-main di bawah matahari, berjemur, sambil membaca buku atau menyoraki pria-pria yang kami tidak kenal di lapangan basket yang sibuk menggiring bola ke keranjang. Tapi hari ini matahari hangat dan rayuan teman-teman tak mampu menahan langkahku. Bola metal di kakiku terasa lepas. Ringan kulangkahkan kakiku menuju kelas bahasa. Butuh kekuatan yang maha dahsyat untuk melepas kunci rantai kemalasanku. Dan kekuatan itu jelas adanya. Kekuatan yang mampu membuatku tunduk dan patuh. Melangkah begitu riang menuju kelas. Kelas masih sepi. Belum seorang pun di sana. Hanya ada Tatiana yang duduk di kursi sofa depan ruang kuliah. Kulihat kelebat ...

Alas Kaki Nyaman, Hati Senang

  sumber foto : Facebook Be.Bob Kata seorang teman memilih alas kaki   sama seperti memilih pasangan hidup,   harus cari yang nyaman. Alas kaki nyaman buat saya adalah sandal jepit, tapi tidak semua kondisi pas dengan sandal jepit.. Saat kuliah saya pun dituntut memakai sepatu. Berhubungan karena ngekost maka alas kaki hendaknya memiliki syarat murah, kuat, dan tahan lama serta pas untuk model casual , feminine , atau sporty . Pilihan saya jatuh pada flat shoes . Karena kostku lumayan dekat dengan kampus, saya cukup jalan kaki. Sepatu yang saya kenakan harus bercumbu dengan berdebu dan beladus karena sinar matahari. Paling menyedihkan ketika musim hujan dan air menggenang, saya mengakalinya dengan jalan kaki menggunakan sandal jepit dan memakai sepatu saat tiba di kampus. Tak jarang saya harus menanggung malu karena persoalan alas kaki.  Pernah sekali saya diusir saat mengenakan sepatu sandal di perkuliahan yang dosennya mengharuskan menggunakan...

Perjalanan Terakhir

Matahari masih dingin meski pagi mulai beranjak menuju siang. Ada rinai-rinai hujan yang yang dibawah awan tipis kelabu yang mendinginkan pukul 9 pagi itu. Selalu menyenangkan memandangi titik-titik hujan dari balik jendela kamar sambil bergelung di bawah selimut hangat. Tapi hari ini adalah beda. Tas ransel telah dikepak. Beberapa barang yang kuanggap perlu telah kumasukkan dalam kantongan kertas. Hari ini aku akan pulang ke rumah. Entah telah berapa lama aku tak pulang ke rumah. Kota telah membuatku lupa tentang sawah-sawah di desa. Bunyi jangkrik kala malam. Kebun tomat dan cabe di samping rumah.Pengairan kecil depan rumah yang selalu dipenuhi anak-anak kala sore utuk bermain air. Dan juga halaman mesjid yang selalu riuh rendah oleh anak-anak yang bermain-main di sana. Pulang kali ini serupa akumulasi semua rindu. Kota telah membentuk tiap penduduknya menjadi individualis, materialis, serta konsumtif. Aku perlu pulang kembali agar kembali peka pada sekitarku. Tidak lagi menja...

I Stay To Watch U Fade Away

You close your eyes And leave me naked by your side You close the door so I can’t see The love you keep inside The love you keep for me Aku berbaring di sampingmu.  Menutup mataku dan membebaskan semua rasaku. Ada yang kusyukuri malam ini. Ada dirimu di sampingku. Aku membalikkan badanku. Melihatmu lebih jelas. Ada dirimu dalam lelap yang damai. Apa yang ada dalam pikiranmu. Adakah diriku dalam imaji malam ini. Adakah dirimu sebahagia diriku saat ini. Memandangimu dengan puluhan tanya dalam hati. Adakah cinta yang kau miliki untukku. Atau hanya aku saja yang benar-benar jatuh ke dalam hatimu. It fills me up It feels like living in a dream It fills me up so I can’t see The love you keep inside The love you keep for me Rasanya seperti mimpi berbaring di sampingmu.Mimpi yang tiap malam aku rajut dalam tidur malamku. Mimpi yang selalu menggantung dalam keterengahanku memulai tidur. Menutupi malam dalam isak tangis yang diam hanya karena menantimu. Aku tak ingin terbangun. J...

Malaikat Yang Mencintaimu

  ( Bacalah sambil mendengarkan lagu Iris-Goo Goo Dolls) Kau tersenyum menyambut kedatanganku. Meraih tanganku dan mengamitkan jemarimu disela-sela jemariku. Aku tersenyum. “Senang bertemu denganmu” katamu. “Apa kabar? Aku merindukanmu”. Sebuah sore yang indah. Langit saga, matahari hampir tenggelam di horizon langit. Angin pantai berhembus dingin. Tubuhku bergetar menggigil. Kau merangkulkan tanganmu di pundakku. Membagi kehangatanmu. Jilatan air laut menggapai-gapai kaki kita yang tak beralas. Pasir memasuki sela-sela kaki kita. Basah dan terasa liat karena air garam. Aku merenggangkan pegangan tangamu.Kau melepaskan rangkulanmu. Berjalan di depanku. Berdiam sesaat.Melihatmu terus melangkah sendiri. Menikmati matahari yang sebentar lagi terbenam. Aku menunduk memunguti kulit kerang yang berserakan di pasir pantai. Kamu berbalik dan mendapatiku tak   bersisihan lagi bersamamu. Kau menghentikan langkahmu. Menyusulku ke tempatku memungu...

Pencuri Waktu

Ia dengan liciknya mencuri waktu beberapa jam dari waktu bumi. Ia mengambil kesempatan itu seperti tak pernah lagi akan mendapatkannya kembali. Jantungnya adalah serupa gempa bumi yang bergetar tak karuan. Tubuhnya bergetar. Ada hati yang meminta untuk bertemu. Bukan untuk apa-apa. Tapi hanya untuk menyembuhkan rindu yang memadat. Medan gravitasi mereka tertarik. Sangat kuat. Sebuah kebohongan yang diakui dengan jujur “ aku sangat ingin bertemu”. Tak hanya ia tapi juga seseorang itu. Seseorang yang padanya rindu itu akan ditujukan. Padang hatinya telah bersemai dengan tanaman-tanaman kasih. Kuncupnya mulai mengembang. Ada rindu disana. Dan hanya tangan seseorang itu rindu itu akan dipanen. Disimpan dalam keranjang berwarna-warni. Dan disimpan dalam lemari hatinya. Ini bukan yang pertama kalinya ia mencuri waktu. Ini adalah kali kesekian. Entah keberapa. Ia sudah sangat ahli mainkan peran ini. Peran yang mampu ia lakoni tanpa menghapal teks. Peran yang ia lakoni dengan full penghayatan....

Beranda Mimpi

Kali ini dia tidak menangis. “Tak ada airmata yang akan keluar “batinnya. Ini adalah serupa upacara perpisahan yang kesekian kalinya dilakukannya. Upacara-upacara yang lalu selalu membuatnya menitikkan air mata. Perpisahan dan airmata seperti sekutu yang menjadikannya sosok yang terluka. Kali ini ia meyakinkan dirinya untuk tidak menangis. Sore ini adalah sore terakhir. Malam ini adalah malam terakhir. Dan esok pagi ia akan memberikan sebuah penanda serupa gunting yang memutuskan benang. Berjauhan dari sisi pria itu seperti terhempas ke dunia nyata dan terbakar oleh panas matahari. Saat ini yang ia butuhkan adalah beranda mimpi-mimpi kecil yang selalu disinggahinya ketika ia berkhayal saat usia belasan. Beranda itu mewujud saat ia bersama pria itu. Pria yang serupa dengan gambaran lelaki yang selalu menungguinya di ujung jembatan ketika ia menghadapi banyak masalah. Ketika dunia terasa menjauh dan kehilangan gravitasi. Lelaki itu menjadi altar ego yang menunggunya di tepian. Terse...