Skip to main content

Anna dan Tinta Merah


Ada sebuah botol kecil yang selalu menarik minatku tiap kali saya masuk ke kamar Mamaku sewaktu kecil. Botol itu bertengger di rak papan di belakang pintu kamar. Tak ada yang istimewa dari botol itu. Hanya botol berisi tinta merah untuk isi ulang spidol Snowman. Namun cerita dibalik botol itu yang kemudian melekat di kepala.

Setiap kali saya bertanya tentang botol itu, mamaku akan menjawab botol itu digunakan untuk menyapihmu kala kamu kecil. Menyapih adalah kegiatan yang dilakukan ibu untuk membuat anaknya berhenti menyusu lagi. Imajinasi kanak-kanakku pun liar membayangkan seberapa ajaib botol itu hingga membuat saya berhenti menyusu.

Kata mama, tinta itu dibalurkan di puting susunya. Menimbulkan warna merah. Membuat saya tidak lagi berminat untuk minta nenen. Cerita itu selalu kukenang hingga dewasa. Entah tinta botol yang kulihat di kamar mama adalah tinta yang sama yang mamaku pakai untuk menyapihku atau bukan, yang pasti bayangan botol itu selalu aku kenang.

Menjadi ibu dan kemudian menyusui anak pun kujalani. Menyusui adalah tahapan yang tak kalah menantang dengan mengandung dan melahirkan. Faktor mood, ASI yang sedikit, drama puting lecet, drama anak yang ga bisa menyusu baik. Tak berhenti di awal bahkan menjelang dua tahun masa menyusui pun, berusaha menyelesaikannya pun penuh drama.

Saya tak pernah bisa menyapih anak di usia 2 tahun. Ara menyusu 2 tahun 9 bulan. Anna malah menyusu 3 tahun dua bulan. Saya pernah berusaha menyapih Ara saat usia dua tahun dengan sistem tegaan. Ia menangis sampai sesunggukan, saya pun menderita karenanya. Hingga kemudian dengan sukarela dia berhenti nenen lewat banyak diskusi.

Maka pada Anna, saya tidak mencoba menyapihnya di usia 2 tahun. Saya berpendapat, di masa ketika ia sudah sedikit paham saya akan mengajaknya diskusi dan memintanya berhenti nenen. Seperti yang saya lakukan pada kakaknya.

Sayangnya, teknik ngomong dari hati ke hati tidak mempan buat Anna. Saat usianya menginjak 3 tahun ia masih santai meminta nenen. Sekalipun saya selalu bilang "Anna big girl. Big girl ga nenen. Yang nenen itu baby". Dengan santai ia jawab " Anna baby big girl".

Masih menyusu usia tiga tahun membuatku sedikit khawatir. Sapih ini harus segera dilakukan. Tapi saya tidak setega seperti seorang teman yang membuat anaknya tidur di ART selama tiga hari demi berhenti nenen. Lagian juga saya ga punya ART. Ayahnya menyarankan tidur di kamar ayah. Tapi itu pun ga bakal mempan. Sang pemberi saran mana tahan bobo bareng Anna yang suka nangis pas malam.

Kemudian ide untuk menyapih ala konvensional pun dilakukan. Pakai jamu.  Yang paling pahit yang dijual di tukang jamu keliling. Sayangnya, cara ini pun tidak mempan. Hanya di awal dia tidak mau nenen karena pahit. Berikutnya tetap ia kenyot hingga rasa pahit luluh karena legitnya rasa susu.
Hampir putus asa, kemudian saya teringat botol merah di kamar Mamaku.
Cara yang pernah mamaku pakai untuk menyapih saya. Tak ada salahnya kucoba. Saya meminjam spidol warna Ara. Membuat jejak merah.

Ketika Anna meminta mnyusu, aku bilang nenenya lagi sakit. "Memerah", kataku. Ia tetap memaksa. Ia berusaha untuk membuka bajuku hingga akhirnya ia melihat warna merah. Kemudian seleranya hilang. "Red nenen", katanya. Ia tidak lagi mau nenen. Sekalipun ditawari. Ia akan menggeleng sambil berkata "Red Nenen". Sampai sekarang sekalipun tinta merah itu sudah tidak ada. Ia lebih memilih dikelonin sambil diusap-usap.

Dan akhirnya ia benar-benar tidak lagi minta nenen. Lebih banyak minta makan dan minum susu kotak. Ia bukan lagi baby girl, dia tumbuh menjadi big girl.

Anna, Mama bangga padamu. Kelak jika kamu menjadi ibu dan menyusuinya hingga 2 tahun atau lebih kemudian hendak menyapihnya, tak apalah kamu menggunakan trik ini. Trik turun-temurun yang dilakukan nenekmu kepadaku dan kemudian kulakukan padamu. Kata ayah ini adalah penipuan, tapi menurutku ini ide yang cemerlang.

Tumbuh sehat, Anna sayang.

(17 Okt 2019)

Comments

Popular posts from this blog

Indecent Proposal

sumber foto : tvtropes.org Seorang bilyuner menawariku one billion dollar untuk one night stand dengannya. Aku bingung. Aku dan suami sedang tidak punya uang dan satu juta dollar begitu banyak. Mampu membiaya hidup kami. Disisi lain aku  mencintai suamiku, rasa-rasanya ini tidaklah patut. Tapi kami benar-benar tidak punya uang. Aku ingin melakukannya untuk suamiku. Aku mencintaiku dan tidak ingin melihatnya terlilit utang. Kami memutuskan mengambil tawaran itu. This is just sex bukan cinta. Ini hanya tubuhku. Aku dan suami memutuskan setelah semalam itu, kami tidak akan mengungkitnya lagi. Setelah malam itu. Kami berusaha menebus  properti kami yang jatuh tempo. Sayangnya, bank telah menyita dan melelangnya. Seorang pengusaha telah membelinya. Kami putus asa. Suamiku tiba-tiba berubah. malam itu, Ia mempertanyakan apa yang saya dan bilyuner itu lakukan. Padahal kami sepakat untuk tidak mengungkitnya. Saya menolak menjawab pertanyaannya. Saya tidak ingin lagi menginga...

Cowok Cakep Yang Merasa Cakep Itu Bikin Ilfil

sumber :  lockhartfanclub.livejournal.com Judul postingannya panjang dan jelas. Cowok cakep yang merasa cakep itu bikin ilfil. Saya menarik kesimpulan entah sejak kapan. Mungkin sejak kuliah. Saya pernah punya pengalaman tentang cowok cakep yang merasa cakep yang makin mengukuhkan kesimpulanku itu. Waktu semester akhir kuliah, saya sering membantu senior saya menjadi front office di setiap acara yang diadakan LSMnya. Karena LSM ini fokusnya pada bidang demokrasi dan politik maka yang peserta pelatihannya adalah kalangan anggota Dewan atau anggota partai. Nah, pernah suatu hari yang menjadi peserta pelatihan adalah orang-orang muda berbagai parpol. Maka berdatanganlah para anak-anak muda yang kutaksir umurnya sekitar 25 sampai 30an tahun. Beberapa sekampus dengan saya. Tugas saya adalah memastikan mereka mengisi daftar hadir dan membagikan seminar kit. Isinya buku catatan, polpen, dan bahan materi. Karena kerjaan saya sekedar front office maka selesai membagikan seminar k...

Kenshin Sang Batossai

Rurouni Kenshin Saya bukan penggemar manga. Tapi kalo sekedar tahu lumayan sih. Meski kadang juga nda tau. Tapi untuk serial Samurai X saya lumayan tahu dari serial kartun yang pernah ditayangkan di salah satu tivi swasta di Indonesia meski nda terlalu ngikutin. Yang pasti saya pernah nonton serial kartunnya episode pertama dan terakhir. Hahahaha. Saya cukup malas untuk mengikuti semua episodenya meskipun kakak ipar saya punya koleksinya dan suami saya pernah cukup intens menonton serialnya. Nah, pas tahu kalo Samurai X ini dibuat live action, maka segeralah saya mendownloadnya. Mumpung berada di negara dimana mendownload tak membuat saya harus menangis saking lambatnya, maka dengan hati yang riang dan beberapa kali klik Rurouni Kenshin sudah menari-nari di depan mata saya sambil mengibas-ngibaskan Katana tumpul miliknya. Ceritanya tidak berbeda dengan serial kartunnya. Dibuka dengan akhir peperangan Bakumatsu di awal era Meiji, Kenshin memutuskan untuk berhenti menjadi samurai...