Skip to main content

Romantic Rhythm in Popsa

Aku selalu menyenangi suasana romantis di Benteng Rotterdam kala sore hari. Naiklah ke dinding-dinding benteng dan tungguilah matahari terbenam di sana. Namun jika kamu memilih untuk sedikit berkelas, elegan, dan lebih romantic bergeraklah dua puluh meter di depan Rotterdam.

Ya, Kampung Popsa. Sebuah Food Court yang dibuat menjorok ke laut. Pusat jajanan ini dibentuk khusus untuk keluarga dan komunitas. Tampak terlihat dengan meja-meja berkursi banyak dan sofa-sofa besar yang menjadi properti pilihannya.


DIkutip dari Ujung Pandang Ekspress di laman anginmammiri.org, Popsa merupakan singkatan dari Persatuan Olahraga Perahu Motor dan Ski Air. Nama tersebut dipilih karena dulunya tempat tersebut adalah daerah khusus komunitas olahraga air yang dipimpin oleh Andi Matalatta dan hobi tersebut menurun ke anak cucunya. Andi Rahmat Ilhamsyah Matalatta salah satu cucu Andi Matalatta melihat potensi dari wisata pantai dan olahraga air yang dapat dijadikan peluang bisnis menjanjikan. Ia kemudian membangun sebuah food court Kampung Popsa. Ia mengungkapkan bahwa Kampung Popsa memiliki predikat 'Pujaanku' atau Pusat Jajanan Kuliner yang ia harapkan menjadi alternatif tempat ngumpul keluarga.

Kuliner yang ditawarkan beragam. Dari fast food khas Amerika, makanan Asia, hingga kuliner khas Makassar. Mungkin karena konsepnya keluarga dan komunitas tempat ini jadinya begitu ramai. Jika kau ingin mengajak pacarmu ke sini pilihlah tempat duduk yang berada ditepian laut. Terdapat meja khusus berdua disana. View khusus buatmu adalah laut. Datanglah kala sore dan sunset menjadi sajian utama yang tak bisa kau beli di food courtnya.

Sesekali menyaksikan aktivitas container-container di Pelabuhan Seokarno Hatta juga menjadi pemandangan yang menyenangkan. Aku seperti membayangkan beberapa scene film The A Team saat menyaksikan aktivitas katrol-katrol besar bergerak di pelabuhan itu. Berharaplah tidak turun hujan karena hujan satu-satunya menjadi penghalang untuk menyempurnakan ritme romantis di Kampung Popsa ini. Sayang masih ada pengunjung yang membuang sampahnya langsung ke laut.

Aku selalu menyenangi hal romantis. Dan Kampung Popsa salah satu yang mampu menyajikan itu. Tapi sebenarnya dimana pun tetaplah sama romantisnya. Tergantung yang menemani.(lebay : Mode On).

Foto ; tribun-timur.com

Comments

  1. kalau saya sih tdk setuju dgn keberadaan restoran ini. saya sepakat dgn pak syahrul yasin limpo kalau resto ini tlah menutupi panorama benteng Rotterdam ketika dilihat dari laut. padahal, dalam sejarahnya, Benteng Rotterdam tidak cuma benteng, tapi pelabuhan

    ReplyDelete
  2. hmmm....iya juga sih. protes sama yang punya.hihihihi.tapi fungsi rotterdam sekarang mmg cuma benteng saja yg dikenal. tak ada upaya untuk merelokasi menjadi satu kesatuan utuh sebagai sebuah pelabuhan. padahal kalo dibikn kyak pelabuhan lagi bakal lebih keren dari kampung popsa

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Tak Ada Resolusi

New year celebration in New York (reuters.com) Mungkin agak basi jika menuliskan tentang tahun baru. Hari ini sudah dua Januari. Di belahan bumi lain sudah memulai 3 Januari. Puncak tahun baru adalah 31 Desember tengah malam dan Januari pertama. Tapi kupikir tak ada salahnya menuliskan tentang tahun baru. Penumpang bus masih tetap saling mengucapkan selamat tahun baru sekalipun penanggalan tak lagi pada angka satu. Seperti tahun baru yang lalu tak ada gegap gempita perayaan atau sekedar menyalakan kembang api. Sekalipun dirayakan di negara berbeda. Perayaan adalah pilihan pribadi. Segala riuh rendah tergantung individu. Tahun baru kemarin tak ada perayaan istimewa. Hanya berkunjung ke rumah teman Indonesia dan makan bersama. Pulang sebelum malam larut. Sebelum kalender berganti bilang. Resolusi selalu menjadi trending topik saat tahun baru. Mungkin seperti anak tangga baru yang harus ditapaki. Memulai dari awal. Menjadi awal baru untuk hati yang sedang sedih. Meyakinkan hati ...

Dongeng Kita

Siang ini aku terjaga dari tidur panjangku. Seperti seorang putri tidur yang terbangun ketika bibirnya merasakan hangat bibir sang pangeran. Tapi, aku terjaga bukan karena kecupan. Namun karena aku merasakan indah cintamu di hariku. Mataku tiba-tiba basah. Aku mencari sebab tentang itu. Namun yang kudapati haru akan hadirnya dirimu. Memang bukan dalam realitas, namun pada cinta yang telah menyatu dengan emosi. Kita telah lama tak bersua. Mimpi dan khayal telah menemani keseharianku. Tiap saat ketika aku ingin tertidur lagu nina bobo tidak mampu membuatku terlelap. Hanya bayangmu yang selalu ada diujung memoriku kala kuingin terlelap. Menciptakan imaji-imaji tentangmu. Kadang indah, kadang liar, kadang tak berbentuk. Tapi aku yakin ia adalah dirimu. Menciptakan banyak kisah cinta yang kita lakoni bersama. Aku jadi sang putri dan dirimu sang pangeran itu. Suatu imaji yang indah...

Film dan Drama yang Binge-Watchable Sebelum Sekuelnya Keluar

Sorry for the peculiar title of this article. Mianhe. Soalnya judul awal yang sepat terpikir cukup panjang. Entar kayak video-video 30 detik di Instagram. Aniway, saya lagi excited dengan beberapa drama dan film yang sedang saya tunggu meski awal-awal tidak tertarik ketika awal-awal kemunculannya.  Saya tipe penonton on going. Penikmat entertainment yang fresh from the oven. Tiap ada drama keluar harus jadi salah satu yang pertama nonton. Saya bukan penonton maraton yang sekali duduk menghabiskan berpuluh-puluh episode. Saya menikmati tiap episode. Menunggu dengan sabar. Ikut meramaikan di twitter setiap kali trending. Menonton tiap BTS. Ngefollow tiap IG casts. Semacam penonton FOMO, Fear of Missing Out.   Ga juga takut-takut banget kalo ketinggalan, tapi rasanya menyenangkan kalo setelah kelar nonton episodenya trus meluncur ke twitter dan melihat reaksi para penggemarnya. Sesekali ikut nimbrung ngetwit.   Maka ketika drama atau film itu udah tidak booming lagi, maka ...