Skip to main content

Posts

Film dan Drama yang Binge-Watchable Sebelum Sekuelnya Keluar

Sorry for the peculiar title of this article. Mianhe. Soalnya judul awal yang sepat terpikir cukup panjang. Entar kayak video-video 30 detik di Instagram. Aniway, saya lagi excited dengan beberapa drama dan film yang sedang saya tunggu meski awal-awal tidak tertarik ketika awal-awal kemunculannya.  Saya tipe penonton on going. Penikmat entertainment yang fresh from the oven. Tiap ada drama keluar harus jadi salah satu yang pertama nonton. Saya bukan penonton maraton yang sekali duduk menghabiskan berpuluh-puluh episode. Saya menikmati tiap episode. Menunggu dengan sabar. Ikut meramaikan di twitter setiap kali trending. Menonton tiap BTS. Ngefollow tiap IG casts. Semacam penonton FOMO, Fear of Missing Out.   Ga juga takut-takut banget kalo ketinggalan, tapi rasanya menyenangkan kalo setelah kelar nonton episodenya trus meluncur ke twitter dan melihat reaksi para penggemarnya. Sesekali ikut nimbrung ngetwit.   Maka ketika drama atau film itu udah tidak booming lagi, maka saya tidak ter
Recent posts

Guide To Understand Nobunaga Concerto

Seminggu lalu iseng ngikutin Dorama Nobunaga Concerto di Waku-Waku Japan. Saya bukan penggemar Dorama Jepang. Tapi kadang iseng menonton drama atau filmnya. Beberapa kali nemu yang cukup menarik di Waku-Waku Japan. Selain itu jumlah episodenya lumayan sedikit dibanding rata-rata drama korea serta jam tayang yang tiap hari di Waku-Waku Japan cukup membuat dorama-dorama ini gampang diikutin. Awalnya kupikir Nobunaga Concerto ada hubungannya dengan musik. Sesaat setelah membaca sinopsisnya tentang seorang anak SMA yang tiba-tiba jatuh pingsan dan terbangun di Zaman Sengoku, saya pun tertarik menonton episode pertama yang kemudian membuat saya penasaran akan endingnya. Eits, sebelum cerita lebih banyak, Guide di sini hanya berlaku untuk Dorama dan filmnya saja. Untuk komik dan animenya saya tidak nonton dan tidak terlalu tahu detailnya. OK! Lanjut. Nobunaga Concerto adalah komik berlatar sejarah Jepang yang ditulis oleh Ayumi Ishii sejak tahun 2009. Kemudian pada tahun 2014 diadaptasi

(Akhirnya) Liburan Ke Anyer

Setahun pandemi berjalan, akhirnya, kami (khususnya saya) memberanikan untuk liburan (baca : nginap di tempat lain selain di rumah). Sebelum pandemi Covid-19 terjadi, kami paling sering staycation di hotel. Sekadar nginap dan berenang. Namun, sejak pandemi nginap selain di rumah hanya dilakukan oleh suami, itu pun karena tuntutan pekerjaan. Sementara saya dan anak-anak lebih memilih tinggal di rumah.   Seingatku hanya sekali kami nginap di hotel selama setahun lalu. Itu pun karena terpaksa. Hotel depan RS PMI, karena saat itu Ara sedang diopname,  sementara adiknya tidak bisa ikut ke ruang perawatan karena aturan rumah sakit yang cukup ketat selama pandemi.   Beberapa kali suami ngajak ke liburan, tapi selalu kutolak. Sekalipun anak-anak juga memaksa. Sampai-sampai tiap kali Ara diajak liburan selalu mengeluarkan kalimat sakti “ harus jadi ya. Ga mau canceled melulu”, katanya.  Beberapa waktu lalu kami sempat ke Taman Safari tapi hanya mutar seharian dengan protokol kesehatan ke

Bridgerton : Buku VS Serial

Udah 2021 aja nih. Happy New Year, Yorobun pembaca paling setia blog ini yang pastinya bisa dihitung jari. Hahaha. Terima kasih masih mau membaca dan tidak bosan. Atau mungkin saja kamu tersesat dan ga sengaja ke sini. Terima kasih sudah singgah semoga tersesatnya ga sia-sia.   Eniwei…Januari setahun lalu rasanya saya meniatkan diri untuk rajin ngeblog tapi niat tinggallah niat. Postingan blog hanya sebiji dua biji. Nah karena udah Januari lagi, saya mau niatin lagi buat ngeblog banyak-banyak meski nanti ga jadi-jadi. Yang penting udah niat. Xiixixi.    Karena pandemi Covid membuat saya dan hampir semua anggota keluarga   berkegiatan di rumah. Kecuali Ayah Ara yang masih sesekali keluar rumah untuk urusan kerjaan, Saya, Ara, dan Anna benar-benar stay at home sesuai anjuran pemerintah. Keluar rumah hanya untuk belanja keperluan bulanan. Selebihnya jika bosan keliling naik mobil aja.   Thanks to internet kita-kita  ga   mati gaya di rumah. Youtube, Facebook, Tiktok, Twitter, Ne

Anna Yang Tumbuh Besar

Anna dengan outfit dari kaki sampai ke baju "hands down" dari kakaknya   Karena sibuk mencari earphone untuk keperluan zoom meeting Ara dengan guru kelasnya, saya akhirnya membongkar satu isi lemari. Saya menemukan baju-baju Ara yang masih bagus yang memang kusimpan untuk Anna. Anna yang selalu mengekor kemana pun saya pergi terkesima dengan baju-baju itu. Saya lupa baju-baju itu dipakai Ara usia berapa. Hanya saja tetap saja mengejutkan saat kupakaikan baju-baju itu di badan Anna. Semua sudah pas. Tidak kebesaran tidak kekecilan. Memoriku menyimpan kenangan Ara yang memakai baju-baju itu kala ia berumur sedikit agak lebih besar dari Anna. Karenanya melihat baju-baju cocok di badan Anna membuatku tersadar bahwa Anna bukan lagi bayi kecil yang selalu kugendong. Tak lama lagi  ia akan sibuk dengan dunianya. Tidak lagi membuka pintu toilet dengan tiba-tiba sembari saya ada di dalam. Entah mengapa saya masih menganggapnya bayi yang baru belajar berjalan. Mungkin karena ia belum

Resep Mandi Parfum ala Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash

Vitalis Parfumed Moisturizing Body Wash Menjadi ibu rumah tangga seperti berdansa di bawah hujan.  Layaknya seperti  pemain akrobatik, mengurus rumah tangga adalah persoalan harmonisasi mengurus anak, suami dan diri sendiri. Mengurus keluarga adalah nomor satu. Mengantar anak pulang pergi sekolah. Menemani di tempat les. Memasak untuk suami. Mengepel dan beberes rumah tak pernah absen. Namun, merawat dan memperhatikan diri pun sebuah laku yang tak boleh disampingkan. Sebagai fulltime mother penuh tanpa pembantu dan penjaga anak, berkeringat adalah sebuah keharusan.  Bau bawang karena memasak adalah soal biasa. Bau asap knalpot dan terik matahari melekat tiap hari kala antar jemput anak sekolah. Ada kala dimana saya merasa kewalahan dan kelelahan. Saat-saat hectic itu  saya mendambakan me time. Waktu untuk diri saya sendiri. Agar pikiran dan hati relaks sejenak. Salah satu me time paling manjur dan paling murah adalah  mandi . Mandi menjadi perkara yang mewah tanpa ket

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yang begitu