Skip to main content

Posts

Showing posts from 2008

Tak Ada Resolusi Tahun 2009

Tahun ini berakhir seperti sebuah novel yang habis kubaca. Detik bagaikan huruf-hurufnya. Hari menjadi halaman-halaman kisahnya. Dan bab-bab bulan telah aku tuntaskan. Dari Januari, di awal bab, di mana aku pernah berpikir “ setelah halaman awal Januari ini, aku akan berada di halaman terakhir Desember. Penutup cerita novel tahun ini ”. Ceritanya ngambang dan gantung. Memaksa pengarang untuk membuat sekuelnya adalah kuasaku sendiri. Akulah pengarang itu. Akulah sang penulis skenario itu. Akulah sang sutradara, pemain, dan penentu akhir cerita ini. Tahun 2008 ini, masa pendidikanku telah kuakhiri. Seperti Desember yang menjadi penutup bulan di ujung tahun, pada Desember pula kuakhiri jejak langkahku di kampus. Sebuah pintu gerbang kutemui di depan tahun.sebuah kalimat terukir jelas dengan pahatan sederhana di pucuk gerbangnya. “Akan Kemana Lagi Setelah Ini?” . Dimensi 2009 adalah sebuah negeri antah beranta yang tak bias kutebak. Gelap masih berujung di pelupuk mataku. Tak ada peta petu

show me the way....

aku butuh setitik cahaya.... sedikit saja.... seperti mercusuar yang menjadi pemandu untuk tiap perahu yang kehilangan arah angin telah membawaku sejauh ini tapi ia kembali berdiam diri... tak berhembus, tak menghempaskan cadikku aku butuh sedikit saja cahaya sedikit saja....

Makaci...

hari ini takkan berjalan sesuai rencana jika tak ada orang-orang disekitarku yang begitu peduli dan membantuku. persoalan kebayayang tadinya membuatku pusing telah terselesaikan dengan bantuan mertunya kak ipah. juga oleh "Aci" penjahit yang telah bersedia menjahitkan bajuku dengan tenggat waktu yang telah kami sepakati dengan harga yang lumayan murah pula. kepada dua orang bapak petugas damri yang menunjukkan tempat yang aku cari. juga kepada sopir pete-pete yang telah bersedia mengantarku ketempat itu. juga kepada mertu laki-laki kakakku yang telah mengantarku sehingga aku tak perlu lagi naik bacak.  kepada kakak ipah yang telah mengirimkan penyambung gerak untukku. juga kepada etta yang telah mengantarkannya dan begitu baik mau menambahkannya (nantilah lagi saya meminta...kalo anakmu ini benar-benar tak bisa bergerak lagi). dan juga pada seseorang yang telah menjelaskan tentang MT.... terakhir kepada ponakanku, Kevin. yang mengajarkanku kata "makaci" dengan cara

aku, zizi, dan sosialita

Zizi kecil berumur 12 tahun terkagum-kagum pada jejeran perempuan cantik dilyar televisinya. Sebuah ajang untuk mencari perempuan terbaik yang tak hanya bauety tapi memiliki brain dan behaviour. Zizi kecil yang begitu terpesona mematrikan hati kecilnya untuk menjadi bagian dari perempuan-peremupan itu. Ia memimpikan dirinya menjadi putrid Indonesia. 7 tahun kemudian, dia telah membuktikan bahwa ia mampu meraih cita-citanya. Di usianya ke 19 tahun, Zivvana Letisha Siregar di bulan agustus 2008 ia membuktikan diri mampu menjadi putri Indonesia. Ia tidak main-main mengejar cita-cita. Ia berlatih dan terus belajar. Zizi kecil telah menjelma menjadi putri yang tak Cuma cantik tapi juga cerdas dan memiliki pribadi yang mengagumkan… Aku membaca sosoknya dirubrik sosialita Kompas minggu kemarin. Aku menyaksikan ia bertarung di ajang putrid Indonesia 2008 kemarin. Ia tampil menganggumkan dan membuatku iri. Aku salut padanya. Apa yang telah aku capai selama ini???Aku belumlah berusaha begitu ke

Naik kelas di black canyon!

Entah angin dari mana tiba-tiba kak riza begitu baik mengajak kami (saya, k harwan, arya, k bento, ema) di ajak ke black canyon di Mtos. Mungkin karena training IRI untuk caleg perempuan sudah selesai dan ia akan mendapat proyek yang lumayan besar untuk sebuah seminar nasional. tapi menurut konfirmasi ini telah direncanakan jauh-jauh hari. mentraktir kami di sini. hitung-hitung bagi rejeki katanya.(dan juga untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia telah menjadi orang kaya sekarang). Dan akhirnya tibalah kami di sini. Di tempat bernama black canyon. Tempat yang tak akan saya (khusus) datangi dengan sengaja jika aku harus membayar makananku sendiri. Apalah saya hanya mahasiswa yang hanya memiliki uang bulan ¼ juta perbulan. Itu pun harus berjibaku untuk memenuhi kebutuhan bulanan yang tak terpenuhi oleh duit itu. Coklat dingin, capucino, mocca, coklat panas, dan vanila latte menjadi pesanan kami. Rencana awal adalah untuk membicarakan tender yang k riza dapat, media literasi dan IRI-nya k

tidak ada film untuk dwi...

Aku memiliki kebiasaan baru. mencatat perencanaan yang harus aku lakukan dengan sangat detail. Hari ini setelah mematut diri untuk patuh pada rencana-rencanaku sore ini, tibalah kau pada rencana terakhir. Rencana untuk bersantai. Window shopping atau sekedar liat-liat. Rencana terakhir hari ini adalah membeli coklat untuk malaikat charlie aku berencana ke Video Ezy. Hitung-hitung buat nonton film yang original dan menonton film-film yang membuatku penasaran. Aku tak punya kartu member, tapi dulunya aku bisa minjam tanpa harus memperlihatkan kartu. Cukup menyebutkan nama kakak angkatanku dan beberapa nomor telepon. Dengan modal itu aku dengan santai melangkahkan kakiku setapak-setapak di rental film itu. dengan PD memilih-milih film diantara beberapa pelanggan cowok yang ada di situ. Empat film telah aku pilih. Aku melangkah ke meja kasir.... "Mbak, film ini berseri.."katanya sambil menunjukkan sampul film korea yang kau pili h. Aku pun kembali mencari film pengganti. fil

Aku : Dari Seminar Hingga Yudicium...

Saat Seminar Saat Ujian Sesaat Sebelum Yudicium Detik-detik Jelang Yudicium Insiden Yudicium!!! Nama perempuan ini tidak disebut namanya hingga daftar terakhir nama yudicium. Saat namanya tak disebut, beginilah ekspresinya.... Riuh Rendah Setelah Namanya Disebut Dengan Predikat Cumlaude Efek dramatisasi setelah mendapat gelar sarjana komunikasi (Baca : TERHARU) Wajah-wajah bahagia sarjana baru (memiliki optimisme tinggi akan masa depan) Wajah-wajah Sarjana dan calon sarjana yang super narsis... Inilah para sarjana komunikasi yudicium periode ke II wisuda desember 2008...SELAMAT YA!!!! Sarjana muda...FRESH FROM THE OVE

pintu kamarmu saja sudah cukup...

Aku dan dia tak berjarak. Aku hapal rutinitasnya. Begadang tengah malam dan tidur hingga siang. Tak jarang ia tak masuk kuliah hanya karena bangun kesiangan. Kami satu kost. Kamarnya hanya beda tiga kamar dari kamarku. Aku mengenalnya dan ia pun mengenalku. Aku sering membagi coklatku dengannya. Tak jarang pula ia meminjam novel-novelku. Sesekali aku juga ikut nimbrung membaca komik yang dipinjamnya dari kafe baca. Ia menyukai semua jenis musik dan ia menyukai buku. Itulah mungkin yang membuat kami bisa akrab. Kami bisa berbagi apa saja. aku tak sungkan untuk berada di kamarnya saat ia sedang keluar. Bahkan melihat koleksi kaset dan album foto kecilnya. Namun akhir-akhir ini kami tak pernah lagi ngobrol tentang buku dan musik. Ia makin jarang keluar kamar. Kami mulai jarang bertemu. Komunikasi yang dulunya terjaga tiba-tiba tak berbekas. Aku tak berani menegurnya duluan dan ia pun tampak tak acuh padaku. Keakraban itu tiba-tiba lenyap. Dan ada sebuah rasa kosong yan

dan pembaca hanyalah penikmat...

Aku sampai pada kalimat terakhir dari halamana terakhir buku setebal 504 halaman itu... Aku membacanya...tiap detail...tak terlangkahi satu kata pun Dan aku sampai pada kesimpulan... Aku sedih membacanya... Aku tak membayangkan akhirnya seperti itu Tak seperti tiga kawan sebelumnya Ia berakhir pada kalimat yang membuat ruang di jiwaku kosong Dan tak dapat kunantikan lagi lanjut kisahnya Karena pengarang telah memutuskan membunuh tokohnya Aku mungkin hanya pembaca, namun aku tetap memiliki imaji akan buku itu... Tapi pada akhirnya kuasa akhir ada pada tangan pengarang Aku hanyalah penikmat dari semua itu...

meledak seperti petasan

"Mengapa tidak bilang kalo bukunya sudah ada di jakarta. kalo bilang dari kemarin, aku pasti sudah beli buatmu" katanya memarahiku "Kemarin kan aku sudah bilang bukunya sudah beredar di Jakarta dan Bandung. Memang tidak menyimak peecakapan kita?" balasku menanggapi. "Iya-iya. Nanti aku beli dan aku titip ke Kak Tia. Besok buku itu sudah ada di tanganmu" katanya. *** Itu percakapan kami kemarin pagi. Sejak ia mengatakan kalimat terakhirnya aku berubah jadi petasan (meminjam istilah kugi-perahu kertas- saat senang) yang siap meledak. "Sudah ada di tanganku "MIMPI-MIMPI LINTANG : MARYAMAH KARPOV" tebaaaaallll sekali" smsnya. Dia makin membuatku penasaran. Rasanya deg-deg'an menanti buku itu. Buku itu belum berdar di Makassar. dan aku sudah setang hidup menantinya. Bercampur suka cita dan penasaran. Aku menantinya layak koran pagi yang lebih pagi dari jam bangunku. Namun, ternyata tak juga terkirim. "Sudah dapat bukunya?"tany

mencoba tiap kesempatan

(this is not the last chance!!!!!!) Mencoba tiap kesempatan dan selalu melihat peluang. Menerima setiap kegagalan dan tetap menjaga ritme hati. Tak tunduk pada asa yang hilang. terus menapaki tebing terjal. Menata langkah sedikit sedikit. kadang jatuh.tak jarang lecet dan luka. Mungkin juga patah dan harus diperban. Tapi bukanlah hati selalu punya cara untuk menenangkan diri.....

special thanks to echy

(Echy itu yang pakai jilbab putih.Dari kiri ke kanan adalah Icca, Echy, Dwi, Azmi) "Hiks. Tidak ada namaku di blogmu" adunya lewat sarana selular. (Benarkah? Rasanya aku menulis nama-nama setiap orang. Apakah aku lupa?) "Maaf. Nanti saya edit dan tulis namamu" Jawabku menenangkan. *** Dan ternyata aku memang tak menemukan namanya di blogku sesaat setelah aku online di Xtranet. Padahal dia yang paling setia menemaniku dan menyemangatiku sejak proposal hingga ujian kemarin. Dia juga yang selalu datang dan turut berempati ketika mama sakit. Dialah yang meminjamkan printernya untuk mencetak skripsiku dari sejak bimbingan hingga revisi setelah ujian. Dia rela mendapat nasehat dari mama, bapak, dan kakak-kakaknya untuk segera selesai setiap kali aku ke rumahnya untuk menge-print draft skripsiku. Selalu menyediakan makan siang dan membiarkan kue-kuenya aku makan selama menunggu skripsiku yang sibuk diatur olehnya. (hehehehe...jahat ya) Teman itu bernama Decy Wahyuni.... Te

Thanks to…..

Teman-teman adalah semangat terbesar yang kupunyai saat ujian. Merekalah yang dengan setia menunggu diriku melahirkan di ruang ujian. Menungguiku keluar dan memberi selamat atas kelahiran skripsi itu. Dan pada mereka yang telah memberikan support aku ingin berterima kasih. K Rahe, Ridho, Emma, Wiwie, Wulan, Uphie, Rani, Lina, Rahmat, Icca, Darma, Azmi, Witri, K Chendra, K Risna, K Kiki (yang kutemui di depan ruang ujian) Mbak Wuri, Baqir, Mamar,K Riza, Pam2, Lelaki Hujan (yang menyemangati meski tak bisa datang) Wanto (yang telah begitu baik mengirimiku pesan “1 soal ujian”-ternyata ia benar menanyakannya- dan telah bersedia diganggu untuk memasang LCD) Dian dan Buyung (rekan seperjuangan) Ibu Ida dan pak Anchu (yang telah memanageri ujianku) K Rahmad, Arya, Madi, K Harwan, Achie, Mace, Sari, Siska, Were, Nire dan semua orang di pasar (hehehehe, thanks doanya) K Patang, Eki, Andis, Ani, Raiz, dan Teman-temannya (yang menunggu di pondokan) K Yusran (yang selalu menyem

Barang-barang yang menemaniku saat ujian :

1. Jas almamater unhas yang kudapat saat bina akrab waktu aku maba. Yang menemaniku demo BBM 2005 lalu. Ia juga sempat kubawa ke bali untuk PJTL di unud (sempar bertukar kancing). Dan ia kembali lagi menemani saat ujianku (sampai ia dipakai kemarin satu kancingnya berlogo unhas satunya lagi berlogo widyagama). 2. Sandal jepit orange yang tali sudah hampir putus yang menjadi langganan teman kost-kostan untuk dipakai ke toilet.(saat tulisan ini di posting, sandal itu sudah putus...:( 3. Sepatu hak tinggi (lumayan tinggi menurutku) yang kubeli khusus untuk ujian ini. 4. Kemeja putih dan rok hitam sebetis yang telah diniatkan sebagai seragam ujian. 5. Notebook yang membantuku merekam tiap huruf dari skripsiku. 6. Tas jinjing warna orange yang kudapat dari sebuah peluncuran buku di kampus. 7. Dua buku pamungkas (jurnal tentang citizen journalisme dan makassar di panyingkul). 8. Draft skripsiku yang telah aku tandai dengan “post it” dan penuh coretan teori. 9.

it’s done honey

Akhirnya ujian itu aku lalui juga. Selalu ada imaji-imaji tentangnya sebelum aku benar-benar di situasi itu. Dan nyatanya imaji itu 50% tepat, 50% terlalu dibesar-besarkan oleh rasa pesimis yang selalu berada di hati. Lima orang dosen yang menjadi pengujiku. Lima orang yang membuatku tersudut dan merasa begitu kecil di ruang berukuran 3 x 4 m persegi itu. Ruangan sempit dengan AC jadul yang begitu ribut menambah ketegangan. Satu persatu memberi tatapan yang begitu menikam. Senyum tipis sedikit-sedikit tertuju padaku. Yang bagiku seperti seringai yang begitu menakutkan. Mata-mata itu menatapku tajam. Percik-percik api di membara di sudut mata itu. Rasanya begitu kecil, bodoh, dan sangat tolol berada di ruangan itu. Empat orang bertanya dan kesemuanya itu harus aku jawab. Hingga lidahku kelu dan tenggorokanku kering dan gatal. Kujawab dengan semua pengetahuan yang aku punyai saat itu. Kujawab hingga otakku tak lagi sinkron dengan gerak lidahku. Sampai aku tiba pada titik bahwa ku jug

Ma….besok saya ujian

Lima bulan lalu aku masih bisa mendengar suaranya lewat saluran telepon. Mengabarkan tentang seminar proposal untuk skripsiku. “ ma…dwi besok seminar. Mohon doanya” pintaku “ iye.pasti saya selalu doakan” jawabnya Hari ini aku pun ingin meminta restu kepadanya. Handphoneku masih bisa aku pakai. Namun, suara itu takkan pernah aku dengar lagi. Suara yang akan selalu mendoakan untuk setiap ujianku. Yang di tiap sholatnya, ada namaku ia sebut di ujung doa. Aku rindu mendengar suara itu. Suara yang selalu memberi rasa optimis ditengah ketakutan yang muncul di hatiku. Suara yang mampu membuat jiwa ini tenang. Aku hanya mampu mengingat gemanya yang terus mengiang di telingaku. Dan hari ini aku berusaha kembali mengingatnya. Sedikit-sedikit. Terdengar begitu kecil namun masih mampu aku dengar begitu samar… Ma…besok saya ujian…teriring doa untukmu semoga engkau bahagia di sana……

Di Gowa, Saya Kembali Ke Masa Lalu

Meski awalnya perjalanan ini hampir dibatalkan hanya karena sifat kekanak-kanakanku yang muncul (baca : ngambek), namun akhirnya aku dan Kak Yusran berhasil ke festival keraton nusantara ke VI di kabupaten Gowa. Rasanya seperti kembali ke masa lalu melihat berbagai ragam pakaian adat dan benda-benda pusaka zaman dahulu dipertontonkan. Siang masih terik, ketika kami tiba di lapangan Syek Yusuf, Sungguminasa. Lapangan itu tampak dalam proses pembangunan. Menurut bupati Gowa, lapangan itu akan dibuat dengan standar internasional. Dilengkapi dengan arena bermain untuk anak-anak, sebuah podium orasi untuk para demonstran, dan sebuah replika tutup kepala Syek yusuf yang sangat besar. Bangunan menyerupai songkok itu akan dijadikan sebagai museum untuk menyimpan benda-benda bersejarah. Waktu telah menunjukkan pukul 3 siang, kirab para anggota keraton/kerajaan yang berjumlah sekitar 30 kerajaan molor dari jadwal pukul 2 yang ditetapkan. Sambutan masih terdengar lama karena sang bupati masih m

My last final

Akhirnya aku ujian Rabu, 19 November ini. Telah lama aku menunggu teman-teman yang siap ujian. Dan akhirnya final terakhirku di kuliah strata satu akan segera ku jalani. Mohon doa dan dukungan teman-teman semua. Semoga aku bisa melaluinya dengan baik dan mendapatkan nilai A . Amien (dalam doaku, 16 November 2008)

Langganan Koran pertamaku

Aku langganan koran. Sok kaya kedengarannya, mengingat aku sama sekali tak punya penghasilan tetap untuk membayarnya. Namun ternyata aku melakukannya juga. Dengan beberapa pertimbangan. Tak ada televisi di kost-kostanku. Otomatis kanal-kanal informasi tertutup. Fasilitas hot spot yang ada di kampus hanya aku manfaatkan untuk buka email, up load tulisan di blog, dan membuka situs pertemanan. Membaca lewat komputer membuat mataku cepat lelah. Pertimbangan selanjutnya adalah, aku harus mulai membiasakan diri untuk membaca lagi. Aku memiliki kebiasan hanya membaca novel. Untuk hal-hal lain aku tak baca. Berlangganan koran membuatku bisa melatih semua itu… Kak Yusran pun menyetujuinya. Dan lagi harga berlangganan untuk mahasiswa hanya Rp. 50.000. Aku memilih Koran Kompas. Mengapa? Karena aku suka edisi hari minggunya, bisa belajar menulis dari liputan dan tulisan para penulis, dan lumayan tebal. Selain itu ada info karier di tiap weekendnya. Hehehehe… Dan akhirnya, aku pun memulai hari de

My phatetic cellphone

Handphoneku rusak. Belum terlalu parah namun telah mulai menghambat komunikasiku dengan orang lain. Angka 7 selalu muncul di layarnya. Beberapa tombol tidak berfungsi. Dan tak dapat digunakan untuk mengirim pesan. Itu bila kumat. Namun, kadang ia kembali membaik dan normal seperti tak ada masalah. Nokia 8310 menjadi tipe handphoneku. Tipe yang dulunya sempat berjaya di masanya. Harga awal yang Kak Anti beli mencapai kisaran 2jutaan. Namun, itu dulu. Beberapa tahun lalu. Kini ia harus tersaingi dengan ribuan tipe baru dari puluhan merek handphone. Bunyinya yang mencicit tak lagi bisa bersaing dengan nada dering musik dan lagu…. Tapi, meski ia telah tua dan renta untuk ukuran hp di usianya sekarang, ia tetaplah begitu berharga. Ia menemani dua kakakku yang pacaran. Dan sekarang aku yang telah menjalani hubungan hampir empat tahun. Ia menjadi saksi bisu dalam perjalanan pacaranku yang long distance. Mendengar dan merekam secsra diam-diam pembicaraan-pembicaraan pribadi dan bukan konsumsi

Ketika mimpi-mimpi terpenuhi

Aku harap setelah ujian, kita bisa makan malam di Café La Galigo. Ucapku dulu lewat sarana selular yang selalu dipastikan akan selalu kamu iyakan. Namun, tampaknya kedatanganmu kali ini tak bisa menemaniku hingga aku selesai ujian. Kamu harus segera ke Jakarta untuk menyelesaikan hal yang sama…. Tapi kali ini janji itu kau tepati meski dengan sedikit perubahan skenario. Dari sedikit honor yang kamu dapat dari menjadi pemateri dalam pelatihan para caleg perempuan dan sebuah ketaksengajaan kita melalui Café itu, dan akhirnya kamu menepatinya. Jauh dari scenario yang ada dalam imaji. Sebuah makan malam romantis dengan lilin kecil dan pendaran lampu yang indah. Namun, rasanya tetap sama, BAHAGIA. Kamu selalu menjadi tempat kembali untuk setiap lelahku. Ketika aku ingin lupa, kamu bisa membantuku melupakannya. Dan ketika aku ingin mengingat, dan tetap ada dirimu yang selalu mengingatkan. Dan hari ini kita akhiri dengan kembali menikmati Laskar Pelangi. Film yang telah tiga kali aku tonton

perempuan dan mimpi liarku

Hari ini aku jatuh cinta pada perempuan. Pada sebuah angkot dengan tujuan BTP di perempatan alun-alun kota makassar. Tinggi sekitar 160 cm, setinggi diriku. Namun, ia tampak lebih tinggi dengan sepatu high heels 5 cm. aku tak pernah melihat wajahnya. Aku jatuh cinta pada punggung, pinggang, betis yang berstoking warna kulit, dan rambutnya yang sedikit berwarna kemerahan pertanda ia telah mengecat rambunya. Aku tepat duduk di sampingnya. Dan ia membelakangiku. Ia memakai baju bercorak batik. Ngepas di badannya yang ramping. Dipadukan dengan rok sempit di atas lutut. Sebuah arloji bermotif gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang putih. Tas bahu berwarna kuning dengan ornament berkilauan tampak pas dengan gelangnya. Tak luput sebuah nating perak berbentuk mahkota dan dilingkari sebuah gelang kecil menempel di telinganya. Aku hanya melihat sisi pipi kirinya. Ia membuatku berpikir hari ini. Ia membuatku berimaji liar tentang perempuan. Ia membuatku tiba-tiba berpikir perempuan ya

Mahasiswa di TPS 16 tamalanrea

Pemilihan umum telah memanggil kita. Seluruh rakyat menyambut gembira. Hak demokrasi Pancasila, hikmah Indonesia merdeka….. Bait lagu yang dulunya sering terdengar di program berita malam jelang pemilu di TVRI bisa menjadi soundtrack yang cocok untuk keadaan Makassar (Rabu, 28 oktober 2008). Makassar menggelar pemilihan untuk memilih calon walikota secara langsung untuk pertama kalinya. pemilihan walikota makassar untuk periode 2008-2012 yang menjadi ikon sebagai bentuk partisipasi demokrasi masyarakat dalam politik mungkin begitu berarti bagi sebagian orang, namun mungkin juga tidak berarti bagi orang lain. TPS-TPS (tempat pemungutan suara) untuk sarana pemilihan suara tersebar di tiap sudut kota. Kecamatan Tamalanrea pun tak ketinggalan. Khususnya di sekitar kampus Unhas yang mayoritas warga yang bertempat tinggal di area ini adalah mahasiswa. Saya pun termasuk dalam daftar wajib pilih tersebut. Meski sebenarnya, saya pun terdaftar di kampung saat pemilihan bupati April 2007 lalu.

umbrella girl....

mencari oase.....

aku selalu mencarinya.... tempat yang mampu memberi rasa damai ketika hati resah dan jiwa terhempas... aku selalu menciptakan oase-oase di perjalananku ia ada, tapi kadang abstrak dan tak kasat mata ada kala dia begitu dekat dan mampu melepaskan dahaga namun tak jarang ia jauh meski tenggorokan ini telah mengering aku lelah....aku tak punya lagi tempat untuk singgah perjalanan ini semakin jauh dan oase tak lagi aku temukan mungkin saatnya aku selesai...mengakhirinya dan membawa bekal minumku sendiri seperti para penguasa padang pasir.... (lagi sedih dan tak ada yang benar-benar mampu hadir untuk sekadar datang mengusap kepala dan mengatakan " tenanglah semua baik-baik saja) -aku merindukan pangeranku- lama kita tak tersentuh, aku merindukanmu....sangat rindu bukankah kamu adalah pria pertama yang mengisi hati ini tak terganti dan takkan terganti....

ribuan rasa hadir di sini...di hati

hari ini sedih mengisi hati. ia tak lupa mengajak kecewa di sana. marah juga ikut-ikutan. ia hadir membawa rasa tersisihkan. tak kalah saing rasa terbuang pun turut andil. ada juga rasa cemburu. semua hadir menyesakkan hati....berdetak bersamaan... hidup di hatiku...berdetak satu...satu...demi...satu... ini negatif...jiwaku berontak....sesekali mata ingin menyerah untuk membiarkan saja cairan bening itu tumpah...tapi jiwa mengatakan "TIDAK" "jangan pernah menangis untuk hal ini..."katanya rasa itu terus mengiris hati. tapi jiwa dengan kukuh terus bertahan. memberi suply energy. sedikit rasa tenang terus ia kirimkan untuk hati. bisikan-bisikan cinta terus ia kumandangkan dengan lembut. rasa damai pun turut hadir ditiap bisikan itu. jiwa adalah sisi terkuat yang aku punya. di saat sekarang saat aku benar-benar merasa tak berbuat apa-apa dan sudah tertinggal begitu jauh.... perlahan...sedikit demi sedikit. seperti adegan lambat dari sebuah film.... hati memperbaiki ras

"pertemuan "

“aku kadang berpikir bahwa pertemuan kedua akan selalu mengecewakan. Kita selalu punya ekspektasi begitu indah tentang pertemuan itu dan kadang realitas tak berjalan sesuai mimpi kita” (terkirim pagi hari) “jika kuharus bermimpi, untuk dapat memandangmu…maka jangan bangunkan aku dari tidur lelapku……aku berpikir tentang smsmu tadi pagi….” (masuk di inboxku sore ini) Aku tak membalasnya. Semua kata tak mampu mewakili rasa hari ini. Rasa tentang aku dan kamu. Ribuan imaji tentangmu menari di sudut otakku. Ada sebuah keinginan kuat untuk membalas pesanmu itu…tapi kali ini aku ingin membuatnya begitu saja…. aku selalu merasakan ini. Ditiap perjumpaan dan perpisahan. aku selalu menciptakan imaji tentang sebuah perjumpaan. Menunggu saat itu dengan jantung yang berdebar dan napas yang tak beraturan. Ribuan imaji tergambar di benakku. Memperlihatkan scene-scene yang akan aku lalui denganmu. Tapi….aku pernah merasakan perjumpaan yang menyakitkan. Perjumpaan yang aku buat dengan begitu indah di i