Skip to main content

perempuan dan mimpi liarku

Hari ini aku jatuh cinta pada perempuan. Pada sebuah angkot dengan tujuan BTP di perempatan alun-alun kota makassar. Tinggi sekitar 160 cm, setinggi diriku. Namun, ia tampak lebih tinggi dengan sepatu high heels 5 cm. aku tak pernah melihat wajahnya. Aku jatuh cinta pada punggung, pinggang, betis yang berstoking warna kulit, dan rambutnya yang sedikit berwarna kemerahan pertanda ia telah mengecat rambunya. Aku tepat duduk di sampingnya. Dan ia membelakangiku. Ia memakai baju bercorak batik. Ngepas di badannya yang ramping. Dipadukan dengan rok sempit di atas lutut. Sebuah arloji bermotif gelang perak menghiasi pergelangan tangannya yang putih. Tas bahu berwarna kuning dengan ornament berkilauan tampak pas dengan gelangnya. Tak luput sebuah nating perak berbentuk mahkota dan dilingkari sebuah gelang kecil menempel di telinganya. Aku hanya melihat sisi pipi kirinya. Ia membuatku berpikir hari ini.

Ia membuatku berimaji liar tentang perempuan. Ia membuatku tiba-tiba berpikir perempuan yang ideal yang aku inginkan. Pekerjaan apa yang ingin aku lakukan. Pemikiran ini seratus persen adalah sebuah eksplorasi subjektif dari diriku yang telah menerima segala informasi dan doktrinisasi tentang perempuan dari berbagai sarana informasi dan hanyalah sesuatu yang hanya mengideal dalam imajiku. Semua berbenturan antara realitas perempuan, imaji perempuan, dan benturan media tentang perempuan.

Aku telah menemukan sebuah gambaran tentang pekerjaan yang kurasa cocok untukku sebagai perempuan. Aku ingin ia adalah penggabungan antara feminitas perempuan dan maskulinitas lelaki. Aku ingin melakoni keduanya. Tak condong ke salah satunya. Aku ingin sebuah perkerjaan yang bisa membuatku mengeksplor kecantikan akan diriku sebagai perempuan. Aku dengan bebas bisa berdandan. Memakai aksesoris layaknya perempuan anggun yang selalu berada di balik ruangan berAC. Memaai stoking, baju kantoran, dan memakai perhiasan layaknya wanita karir. Tampil anggun. Namun jika ada sebuah pekerjaan yang mengharuskan saku turun lapangan, pakaian dinas lapangan pas juga untukku. Memakai sepatu kets, baju kaos besar, terkena sinar matahari, dan mampu melakukan hal-hal yang juga bisa dilakukan para lelaki.

Mungkin ini sangat berpatokan pada appearance. Tapi menurutku, tampilan luar begitu berarti bagi perempuan. Avril mungkin pada awalnya begitu senang memakai jeans kucel, T-Shirt ketat, sebuah dasi, dan topi di kepalanya. Itu dulu. Waktu ia usia beasan tahun. Sekarang mungkin ia telah memiliki persfektif yang lain tentang prempuan. Dan aku pun seperti itu. Pada akhirnya berdandan dan tampil cantik menjadi sebuah yang menjadi prioritas. Tapi kecerdasan pun juga selalu harus berada di urutan teratas dari semua itu. Keinginan untuk terus mencari tahu, mengeksplorasi, membaca, dan menulis adalah sebuah keharusan yang harus pula aku lakoni….


(komentar penulis : sangat perempuan dan sangat terpengaruh media..hehehehe;)

Comments

  1. Anonymous11/09/2008

    kegelisahan para perempuan...
    i love your writing

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Keajaiban Malam Bulan Biru

Judul : Keajaiban Malam Bulan Biru Penerbit : Pustaka Ola Harga : Rp. 20.000 Peter melangkah gontai masuk ke apartemennya. Ia baru saja dipecat. Toko tempatnya bekerja bangkrut. Dari sebuah apartemen ia mendengar kakek Tom merintih memanggil cucunya. Peter melangkah masuk dan membantu kakek Tom. Kasian kakek Tom sendirian dan sakit-sakitan sementara cucunya jarang menjenguk. Di apartemen sebelah Rossy di kursi rodanya meminta Peter memperbaiki kotak musik balerinanya. Rossy sangat ingin menjadi balerina sayang kakinya lumpuh.  Bulan berwarna biru malam itu. Ted yang terbangun dari tidurnya sibuk memikirkan dirinya yang dipecat dan begitu miskin. Hingga akhirnya ia bertemu peri dan memberinya tiga permintaan.  *** Buku kumpulan dongeng ini berisi sebelas cerita dongeng yang kisahnya menarik. Kamu akan bertemu Grook-grook si sapi, Riko si kurcaci yang ingin jadi peri, serta bertualang di dunia mainan.  Selain ceritanya yang seru juga mengandung nilai moral. Misalnya mensyuk...

First Journey With Ara

Bajunya : Off  To Grandma's Karena neneknya Ara berkunjung ke Makassar, maka saya pun harus membawa Ara ke Makassar untuk bertemu neneknya yang telah datang jauh-jauh dari Bau-bau. Sekalian bertemu dengan tante (Kak Atun) dan sepupunya, Cakra untuk pertama kali. Ara baru 40 hari lebih. Belum cukup dua bulan. Ini adalah perjalanan pertama kami berdua. Saya hanya membawa satu ransel baju. Sudah dengan pakaianku dan pakaiannya. Sedapat mungkin pakaian yang dibawa sedikit mengingat saya membawa bayi dan agak susah mengangkat tas sekaligus. Semua orang yang saya temui akan heran dan terkejut melihat saya hanya berdua dengan bayi saya yang umurnya belumlah cukup dua bulan. Saya cukup tangguh? Tidak juga, hanya keadaan yang memaksa demikian. Untungnya Ara tidaklah terlalu rewel diajak pergi-pergi. Selama perjalanan Bone-Makassar dia hanya dua kali terbangun untuk minum Asi, sisanya ia memilih tidur.  Mobil yang kutumpangi overload sebenarnya, tapi untungnya penumpang yang berdamp...

Pride and Prejudice : I’m Bewitched

Tak pernah kusangka saya akan jatuh cinta pada film Pride and Prejudice. Waktu kuliah dan masa-masa belum punya anak, saya tidak pernah tergerak untuk menonton film ini. Prasangka saya terhadap film ini sudah tumbuh sejak memiliki versi Film India di tahun sebelumnya. Mungkin karena hal itu saya kemudian tidak tertarik menontonnya.   Namun karena episode-episode drama korea yang aku nonton udah habis, ditambah kebosanan pada topik medsos yang masih heboh dengan pilpres, dan juga pengaruh hari valentine yang menyebabkan algoritma lapak streaming merekomendasi film-film romantis menjadi sebab akhirnya saya menonton film ini Semuanya berawal dari ketidaksengajaan menonton Atonement yang diperankan oleh Kiera Knightley. Film ini cukup bagus, meski di tengah jalan saya udah kena spoiler via wikipedia dan rada senewen dengan endingnya. Tapi kecantikan Kiera Knightley tetap mampu membuat saya menyelesaikan film itu sampai detik terakhir. Saking senewennya dengan ending Atonement, sa...