Skip to main content

pintu kamarmu saja sudah cukup...


Aku dan dia tak berjarak. Aku hapal rutinitasnya. Begadang tengah malam dan tidur hingga siang. Tak jarang ia tak masuk kuliah hanya karena bangun kesiangan. Kami satu kost. Kamarnya hanya beda tiga kamar dari kamarku. Aku mengenalnya dan ia pun mengenalku. Aku sering membagi coklatku dengannya. Tak jarang pula ia meminjam novel-novelku. Sesekali aku juga ikut nimbrung membaca komik yang dipinjamnya dari kafe baca. Ia menyukai semua jenis musik dan ia menyukai buku. Itulah mungkin yang membuat kami bisa akrab. Kami bisa berbagi apa saja. aku tak sungkan untuk berada di kamarnya saat ia sedang keluar. Bahkan melihat koleksi kaset dan album foto kecilnya.

Namun akhir-akhir ini kami tak pernah lagi ngobrol tentang buku dan musik. Ia makin jarang keluar kamar. Kami mulai jarang bertemu. Komunikasi yang dulunya terjaga tiba-tiba tak berbekas. Aku tak berani menegurnya duluan dan ia pun tampak tak acuh padaku. Keakraban itu tiba-tiba lenyap. Dan ada sebuah rasa kosong yang kurasa. Seperti kehilangan teman berbagi. Mungkinkah aku mencintainya?Entah. banyak alasan tetap menyimpan rasa ini di sudut hati yang terkunci.

Aku memilih untuk membiarkan rasa ini tetap di sini. Membiarkan hubungan ini tetap seperti ini.
Aku cukup bahagia melihatnya tiap hari. Melihat pintu kamar tak tergembok dan melihat motornya diparkiran. Aku tahu ia ada. Mencuri dengar percakapannya di depan teras kost-kostan. Memperhatikan rambutnya yang memanjang dan sudah saatnya di cukur. Aku cukup bahagia berpapasan dengannya ditempat jemuran atau diam-diam memperhatikannya saat ia mencuci motornya. Aku sudah cukup bahagia. Sayup-sayup kudengar ia berbicara dengan teman kost-kostanku, ia menstarter motornya dan derunya kemudian menghilang dari pendengaranku…. cukuplah seperti ini…

(sebuah rasa...yang....mmmmm terasa seperti coklat)

Comments

Popular posts from this blog

Solo dan Cerita Tentangnya

               Saya membayangkan Solo sebagai kota kabupaten yang sederhana. Kental unsur Jawa dan batik menjadi sumber penghidupan bagi para warganya. Ketika berkunjung ke kota ini pekan lalu saya menemukan cerita yang lain.  Solo menjadi kota yang sangat ingin saya kunjungi setelah beberapa tahun lalu mengunjungi Yogyakarta. Yogyakarta yang sangat Jawa, warung di sepanjang jalan, padat, dan penuh bule. Saya membayangkan Solo adalah kebalikan dari segala hingar bingar Yogyakarta.  Saya, suami, dan anak merencanakan berangkat hari jumat sore.  Sayangnya, kami kehabisan tiket kereta di stasuin gambir. Catatan penting, jangan merencanakan melakukan perjalanan dengan membeli tiket kereta perjalanan jauh di stasiun di menit terakhir akan berangkat. Tiket habis. Bahkan untuk tiket kereta eksekutif yang harga sekitar 450ribu perorang. Kami lantas memilih untuk menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang harganya relatif sama dengan...

Chinese New Year's Story (Just For Fun)

Amani : Si Ne Er Kuai Le Ara : Gong xi Gong Xi  Ara : Let's ask for angpao Amani : That's a great idea                                 After a while....... Ara  : i got cellphone Amani  :  i just got rundown program of chinese new year Ara : maybe there's money inside the paper Amani : I hope so Amani : What are you doing? Ara : I'm Checking my facebook Amani : Do you have facebook? Ara : Absolutely  Amani : let me see Ara : Wait, i wanna twit our picture   Amani : Do u also have a twitter? Ara : Sure. Do you have?  I will follow u Amani : i should ask for cellphone instead of  piece of paper Ara : Yes, you should...hahaha Ara : Anyway, let's play around. I don't know how to use cellphone Amani : oke...

Ara Belajar Ngomong

Serius Nulis Ara mulai suka ngoceh. Ada saja suara keluar dari mulutnya. Kadang jelas kadang juga tidak. Beberapa berhasil saya terjemahkan maksudnya. Beberapa mengalami missunderstand berujung pada rengekan atau aksi menarik tangan. Selain nonton lagu anak-anak, beberapa film anak-anak yang menurut saya cukup edukatif menjadi pilihan tontonannya. Saya memutarkan film Blue's Clues, Super Why, hingga Pocoyo. Serial Blue's Clues sudah kami tonton semua. Mulai dari sang pemilik Blue bernama Steve hingga beralih ke Joe adiknya di serial itu. Yang paling nyantol di kepalanya Ara adalah kata "think" sambil telunjuk memegang dahi. Itulah kata pertama yang ia ucapkan secara jelas setelah kata Mama dan Ayah. Entah kenapa kata ini yang melekat di kepalanya. Mungkin karena si Steve sangat aktraktif menyanyikan lagu jingle Blue's Clues terlebih dibagian "Sit down in thinking chair. Think, think, think". Ara juga suka bagian ketika surat datang. Dia akan i...