Skip to main content

Review Buku Tak Ada Ruginya

Memetik pelajaran dari Mas Hernowo,penulis dan pemimpin Mizan Publishing yang sangat menyukai kalimat “Mengikat Makna”, maka bertumpu pada titik itulah aku berusaha membiasakan diri untuk selalu menuliskan makna-makna yang kutangkap dari bukuyang aku baca. Dan film yang aku saksikan(Meskipun untuk kapasitas mereview film aku belum terlalu sering melakukannya). Walhasil setiap buku yang telah kubaca selalu aku tulisan reviewnya. Sesuai bagaimana simpulan terakhir yang kudapat setelah membaca atau menontonnya.

Aku tidak memposisikan diriku sebagai seorang kritikus sastra yang berusaha mencari kelemahan dan kekurangan sebuah karya. Aku memposisikan diriku sebagai diriku sendiri. Seorang penikmat sastra. Seorang awam yang berusaha mencari penghiburan di ruang-ruang sastra. Bagiku, mereview sebuah karya sastra bukanlah pada tataran berusaha mencari patahan teks dalam alur cerita dan mencari ketidaksinkronan antara satu dengan yang lain. Bagiku usaha mereview adalah bagaimana menuliskan perasaan yang aku rasakan saat membaca karya sastra itu. Menuliskan bagian-bagian penting yang membuatku banyak belajar. Menuliskan kalimat-kalimat yang menggugah dari novel itu.

Mungkin bagi orang lain akan sangat tidak memiliki arti. Mungkin orang lain akan beranggapan “Pentingkah bagian itu”? Tapi sekali lagi aku adalah penikmat. Makna-makna itulah yang aku tangkap dan aku usahakan ikat dalam sebuah tulisan review. Aku memiliki kebebasan menyukai bagian mana saja. Sebuah karya sastra adalah sesuatu yang subjektif. Mungkin pada kondisi ini aku besepakat pada istilah“Pengarang telah mati”.

Nah apa yang ingin aku bagikan di sini??? Aku hanya ingin berkata bahwa tak ada rugi melakukan sebuah review buku. Apa untung yang telah kudapatkan? Pertama, Review buku membuatku menulis. Membuatku melakukan proses kreatif dan berpikir. Membantu otakku untuk tetap bekerja dan tak cepat pikun. Kedua, bisa menambah artikel di blog pribadi. Aku adalah seorang blogger. Ketergantungan untuk memposting hal terbaru di blog selalu membuatku gemas. Aku selalu ingin menuliskan sesuatu yang baru. Setiap hari aku selalu online.Tak pernah lewat hari aku tak Online. Dan di tiap hari itu aku selalu menyempatkan diriku mengunjungi blogku sendiri. Melihat ShoutBoxnya, melihat komentar para blogger yang lain, atau melihat postingan terbaru dari link tetangga blog.

Tampilan pertama yang akan aku lihat ketika membuka laman blogku adalah tulisan-tulisanku. Dan aku akan sangat bosan ketika tulisan itu tidak bertambah. Meski itu hanya selang dua hari. Mungkin seperti itu pula yang dirasakan para pembaca blogmu jika kamu tidak menambahkan tulisanmu dala jangka waktu yang lama.

Keuntungan yang lain adalah reviewku selalu mendapat apresiasi dari penulisnya. Saat menuliskan review Garis Perempuan, Sanie B Kuncoro menuliskan komentar di catatan Fesbukku. Saat mengirimkan tautan tentang review Naked Traveler Trinity ke Fasebuk Trinity, Trinity menyempatkan untuk menulis komentar. Waktu mereview buku Loversus, Farah Hidayati mengirimiku email. Mungkin hal-hal seperti itu tidak berarti bagi sebagian orang. Tapi bagiku yang memiliki cita-cita untuk melahirkan sebuah karya ketika tulisan yang kubuat diapresiasi oleh sesorang yang kuanggap memiliki pengetahuan dan ketrampilan diatasku ,apresiasi itu menjadi semacam “obat kuat’untuk membuatku tetap bersemangat menulis dan berusaha untuk menwujukan sebuah karyaku.

Aku bermimpi, kelak akan ada orang-orang yang juga melakukan review atau kritik terhadap hasil karyaku kelak. Aku berharap kelak itu tak lama lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Black Swan

Si angsa hitam jahat yang begitu licik merebut hati pangeran sehingga angsa putih harus mengalah dan mati dalam kesedihan. Swan lake adalah dongeng yang sering aku dengar saat kecil. Kadang pula aku nonton versi kartun berbienya di televisi. Namun, untuk versi anak-anak swan lake selalu berhasil mendapatkan cinta sang pangeran dan hidup bahagia selamanya. Sedangkan dalam film yang dibintangi Natalie Portman, Sang Black Swan menjadi benang merah cerita. Ia menjadi karakter yang menang. Seorang gadis baik-baik harus berusaha menghayati peran sebagai angsa hitam jahat agar ia mampu tampil sempurna. Setiap kita memiliki sisi black swan. Meski setiap hari berusaha menampilkan sisi angsa putih yang begitu baik, ramah, dan sopan. Tapi ada saat dimana sang angsa hitam bergerak diam-diam dari dalam diri kita. Muncul di bawah alam sadar manusia dan keluar begitu saja. Selalu ada potensi black swan dalam diri manusia. Aku menyukai karakter black swan. Ia ditakdirkan untuk jahat tanpa perlu unt...

Pride and Prejudice : I’m Bewitched

Tak pernah kusangka saya akan jatuh cinta pada film Pride and Prejudice. Waktu kuliah dan masa-masa belum punya anak, saya tidak pernah tergerak untuk menonton film ini. Prasangka saya terhadap film ini sudah tumbuh sejak memiliki versi Film India di tahun sebelumnya. Mungkin karena hal itu saya kemudian tidak tertarik menontonnya.   Namun karena episode-episode drama korea yang aku nonton udah habis, ditambah kebosanan pada topik medsos yang masih heboh dengan pilpres, dan juga pengaruh hari valentine yang menyebabkan algoritma lapak streaming merekomendasi film-film romantis menjadi sebab akhirnya saya menonton film ini Semuanya berawal dari ketidaksengajaan menonton Atonement yang diperankan oleh Kiera Knightley. Film ini cukup bagus, meski di tengah jalan saya udah kena spoiler via wikipedia dan rada senewen dengan endingnya. Tapi kecantikan Kiera Knightley tetap mampu membuat saya menyelesaikan film itu sampai detik terakhir. Saking senewennya dengan ending Atonement, sa...

Music Is Magic

Musik. Aku selalu menganggap bahwa ia adalah salah satu penemuan yang paling berpengaruh di dunia. Albus Dombledore pun bersepakat dengan itu. "Ah, music," he said, wiping his eyes. "A magic far beyond all we do here" (Harry Potter And The Sorcerer's Stone). Musik dan lagu adalah sebuah sihir yang mampu merubah banyak hal. Mood, bahagia, sedih, dan bahkan kematian pun terekam indah karenanya.  Aku tak menguasai instrumen apapun. Dan jangan memintaku menyanyi satu lagu pun. Aku menikmati musik dengan cara berbeda. Mungkin agak berbeda antara musik dan lagu. Tapi disini, aku akan menyamakannya. Disini musik adalah sebuah lagu. Yang penuh lirik singkat namun memiliki arti yang sangat dalam.  Ia tak ada bedanya dengan puisi jika berdiri dalam sebuah larik-larik bait tanpa diiringi nada. Namun, ia kemudian menjadi begitu lebih membumi ketika bait-bait itu teralunkan bersama musik. Aku agak susah menikmati puisi. Beberapa baitnya...