Skip to main content

Si Bungsu Yang Selalu Pergi

Akulah si bungsu itu. Datang tak dijemput pulang tak diantar. Pergi karena ngotot dan datang tanpa mengabari.

Akulah si kecil itu. Perempuan yang selalu menang atas semua keinginannya. Kemanapun sekehendakku. Meski dengan alasan tak masuk akal sekalipun.

Akulah si bontot itu. Yang tak jelas akan menjadi apa kelak dimata bapakku. Keluar seenaknya setelah merasakan zona nyaman bergaji. Memilih menjadi pengangguran dan nongkrong kiri kanan.

Akulah si anak bawang itu. Selalu mempercayai bahwa mimpi terjauh itu bisa tergapai. Memilih bertualang dan tak tinggal di rumah.

Aku akan pergi lagi. Seperti biasa. Ijin sekenanya saja. Seperti layaknya pergi sekolah kala pagi dan pulang jelang siang. Tak perlulah mengkhawatirkanku. Aku cukuplah besar untuk semua itu.

Toh ada teknologi yang mampu membuat kita tak berjarak.(*)

Comments

Popular posts from this blog

Bertemu Kawan Lama

Aku bertemu kawan lama. Seseorang yang padanya aku pernah iri akan cara penulisannya. Kami pernah belajar sama-sama tentang bagaimana menulis itu. Ia akan beranjak pergi. Meninggalkan Makassar dan menjadi orang yang dituntut oleh dunia kerja.Seperti aku yang juga telah beranjak. Tapi kami berjanji untuk terus menulis. Sebuah upaya yang paling merdeka yang masih kami punya semagai manusia merdeka. Yang menjadi tameng kami melawan lupa.

Pertemuan

Adakah pertemuan begitu penting? Ketika seorang manusia bertemu dengan manusia lain maka aksi reaksi terjadi. Aku bertemu denganmu dan kamu bertemu denganku. Kita berdua kemudian berbagi tentang diri kita. Nama, pekerjaan, hobi, alamat, semacam sebuah curriculum vitae lisan. Kita berbagi banyak hal. Kesamaan dan juga perbedaan. Kita akan meminimalisir perbedaan. Menggali banyak kesamaan. Namun sesekali kita akan mengungkapkan perbedaan agar kita saling memahami dan mengerti bahwa perbedaan bukanlah sebuah halangan. Dari perbedaan itu pula kita akan saling berbagi pengetahuan. Mengisi kekosongan pengetahuan. Di akhir pertemuan kita akan berkata selamat tinggal atau mungkin berkata sampai ketemu lagi. Beberapa pertemuan hanya terjadi sekali. Beberapa manusia hanya terjalin pada satu interaksi. Aku kadang bingung yang bertemu meski sekali itu adalah sebuah yang perlu disyukuri atau tidak. Mungkin si A mengenal si B, entah lewat sarana apa. Namun si ...

Video-Video Ara II