Skip to main content

Count Me In....


Ini adalah ramadhan yang paling tersia-siakan bagiku. Ia berlalu begitu saja tanpa benar-benar kumaknai artinya. Ia tak lagi semeriah seperti kanak-kanak dulu. Ia tak lagi seperti sebuah bulan yang kami tunggu datangnya karena begitu banyak hal yang menyenangkan yang bisa dilakukan. Sholat tarawih, taddarus Alqur’an, belajar berpuasa, tak sekolah, bermain lebih lama di mesjid.

Semua rasanya begitu berubah. Aku tumbuh menjadi perempuan yang sangat individu dan materialistic. Bertumbuh dan belajar. Membuka banyak ruang untuk hal-hal baru. Mendengar perdebatan tentang Tuhan dan mencatatnya diam-diam. Melakukan banyak hal-hal permisif yang kemudian dianggap diperbolehkan. Mulai jarang membaca Al-quran, meninggalkan sholat lima waktu, dan tak lagi melakukan rutitintas ibadah.

Rasanya seperti tersesat dinegeri antah berantah. Diriku kehausan. Aku menyadarinya. Namun gerak sadarku tidak menuntunku mencari oase. Aku bahkan larut dalam gerak ego yang mungkin kadang menjebak. Namun sejauh ini kuyakini bahwa semua gerak itu masih terpantau oleh hati. Geraknya adalah atas sebuah cinta. Meski mungkin aku salah menerjemahkannya. Aku benar-benar tersesat disana. Perlukah tersesat untuk mengingatkembali jalan pulang. Aku payah dalam soal arah. Dan mungkin memang aku butuh tersesat agar bisa kembali dipintu-Nya.

Aku memohon maaf untuk salah yang pernah ada. Aku berusaha untuk memperbaiki tautan-tautanku dengan orang lain. Dengan jaring manusia yang lebih kompleks. Aku menempuhnya dengan sangat baik hingga tersesat. Aku hanya punya hati untuk menunjukkanku arah pulang.

Kali ini aku dan Dialah yang perlu kembali tertaut. Aku yang harus mengikat temalinya lagi. Dia tak pernah membutuhkanku karena sesungguhnya aku yang membutuhkannya. Masukkan aku ke dalam manusia-manusia yang masih mendapatkan hidayahMu.Pertemukan aku pada satu bulan suci di tahun depan. Agar aku bisa kembali membenah hati.Amien(*)

Comments

Popular posts from this blog

Solo dan Cerita Tentangnya

               Saya membayangkan Solo sebagai kota kabupaten yang sederhana. Kental unsur Jawa dan batik menjadi sumber penghidupan bagi para warganya. Ketika berkunjung ke kota ini pekan lalu saya menemukan cerita yang lain.  Solo menjadi kota yang sangat ingin saya kunjungi setelah beberapa tahun lalu mengunjungi Yogyakarta. Yogyakarta yang sangat Jawa, warung di sepanjang jalan, padat, dan penuh bule. Saya membayangkan Solo adalah kebalikan dari segala hingar bingar Yogyakarta.  Saya, suami, dan anak merencanakan berangkat hari jumat sore.  Sayangnya, kami kehabisan tiket kereta di stasuin gambir. Catatan penting, jangan merencanakan melakukan perjalanan dengan membeli tiket kereta perjalanan jauh di stasiun di menit terakhir akan berangkat. Tiket habis. Bahkan untuk tiket kereta eksekutif yang harga sekitar 450ribu perorang. Kami lantas memilih untuk menggunakan moda transportasi pesawat terbang yang harganya relatif sama dengan...

Chinese New Year's Story (Just For Fun)

Amani : Si Ne Er Kuai Le Ara : Gong xi Gong Xi  Ara : Let's ask for angpao Amani : That's a great idea                                 After a while....... Ara  : i got cellphone Amani  :  i just got rundown program of chinese new year Ara : maybe there's money inside the paper Amani : I hope so Amani : What are you doing? Ara : I'm Checking my facebook Amani : Do you have facebook? Ara : Absolutely  Amani : let me see Ara : Wait, i wanna twit our picture   Amani : Do u also have a twitter? Ara : Sure. Do you have?  I will follow u Amani : i should ask for cellphone instead of  piece of paper Ara : Yes, you should...hahaha Ara : Anyway, let's play around. I don't know how to use cellphone Amani : oke...

Ara Belajar Ngomong

Serius Nulis Ara mulai suka ngoceh. Ada saja suara keluar dari mulutnya. Kadang jelas kadang juga tidak. Beberapa berhasil saya terjemahkan maksudnya. Beberapa mengalami missunderstand berujung pada rengekan atau aksi menarik tangan. Selain nonton lagu anak-anak, beberapa film anak-anak yang menurut saya cukup edukatif menjadi pilihan tontonannya. Saya memutarkan film Blue's Clues, Super Why, hingga Pocoyo. Serial Blue's Clues sudah kami tonton semua. Mulai dari sang pemilik Blue bernama Steve hingga beralih ke Joe adiknya di serial itu. Yang paling nyantol di kepalanya Ara adalah kata "think" sambil telunjuk memegang dahi. Itulah kata pertama yang ia ucapkan secara jelas setelah kata Mama dan Ayah. Entah kenapa kata ini yang melekat di kepalanya. Mungkin karena si Steve sangat aktraktif menyanyikan lagu jingle Blue's Clues terlebih dibagian "Sit down in thinking chair. Think, think, think". Ara juga suka bagian ketika surat datang. Dia akan i...