Skip to main content

Mengejar Target


Hari ini lumayan melelahkan. Aku berusaha mengejar target hari ini yang telah kutentukan kemarin. Dan hasilnya??? Lumayan....

Di mulai dengan membuat camilan kecil untuk anak pondokan pagi tadi. Meski camilan yang kubuat (pisang goreng "
talamme" atau lebih dikenal dengan nama pisang goreng belanda) menuai banyak kritikan dari Ani, tetangga kamarku, tapi sesisir pisang yang telah kugoreng itu habis juga dilahap warga pondokan.

Beberapa kuantarkan khusus buat K Rahe di warnet, takutnya ia hanya bisa mencicipi penganan itu setengah masak. Beberapa pisang yang belum benar-benar melalui tahapan olahan di comotnya di pondokan.

Aku pun telah berhasil mengirim lamaranku yang dateline besok. Tak apa-apalah, yang pentingnya aku juga sudah mengirrim lewat email. Lamaran itu kubuat tadi pagi saat di warnet bareng K Rahe dan membuatku mengubah pilihan posisi yang aku inginkan dalam waktu yang begitu singkat. Aku lebih cocok menjadi reporter daripada staff marcom...hihihihi

Perjalanan pengiriman surat itu pun tak terbilang lancar. Harus tertunda hingga beberapa jam yang membuatku harus membeli majalah Cosmogirl bekas dan majalah bobo edisi terbaru. Tapi, tak ada ruginya juga buatku. Telah lama rasanya tak membaca tulisan-tulisan yang begitu gampang dimengerti dengan bahasa yang begitu membumi, setelah hampir 6 bulan bergulat dengan skripsi yang penuh dengan teori-teori yang butuh dilafazkan beberapa kali untuk dimengerti.


Tak ada salah juga belajar bagaimana membuat tulisan yang begitu ringan, berbobot, dan mudah dimengerti. Sesungguhnya wartawan majalah anak-anak adalah sosok yang begitu cerdas yang mampu menuliskan artikel yang mampu dipahami oleh usia sekolah.

Perjalanan hari ini benar-benar membuatku lelah. Membuatku harus mengelilingi seantero Unhas tanpa mandi pagi.
Namun, target telah tercapai. Semua misi telah selesai. Hingga mencari alat komunikasi itu pun selesai sudah.

Hp lamaku dan sepasang sepatu yang hampir soak pun telah berada di tangan sang reparator...semoga bisa membaik....


Untuk besok cukup satu kata : SEMANGAT!!!!!

Comments

Popular posts from this blog

Kenshin Sang Batossai

Rurouni Kenshin Saya bukan penggemar manga. Tapi kalo sekedar tahu lumayan sih. Meski kadang juga nda tau. Tapi untuk serial Samurai X saya lumayan tahu dari serial kartun yang pernah ditayangkan di salah satu tivi swasta di Indonesia meski nda terlalu ngikutin. Yang pasti saya pernah nonton serial kartunnya episode pertama dan terakhir. Hahahaha. Saya cukup malas untuk mengikuti semua episodenya meskipun kakak ipar saya punya koleksinya dan suami saya pernah cukup intens menonton serialnya. Nah, pas tahu kalo Samurai X ini dibuat live action, maka segeralah saya mendownloadnya. Mumpung berada di negara dimana mendownload tak membuat saya harus menangis saking lambatnya, maka dengan hati yang riang dan beberapa kali klik Rurouni Kenshin sudah menari-nari di depan mata saya sambil mengibas-ngibaskan Katana tumpul miliknya. Ceritanya tidak berbeda dengan serial kartunnya. Dibuka dengan akhir peperangan Bakumatsu di awal era Meiji, Kenshin memutuskan untuk berhenti menjadi samurai...

Cowok Cakep Yang Merasa Cakep Itu Bikin Ilfil

sumber :  lockhartfanclub.livejournal.com Judul postingannya panjang dan jelas. Cowok cakep yang merasa cakep itu bikin ilfil. Saya menarik kesimpulan entah sejak kapan. Mungkin sejak kuliah. Saya pernah punya pengalaman tentang cowok cakep yang merasa cakep yang makin mengukuhkan kesimpulanku itu. Waktu semester akhir kuliah, saya sering membantu senior saya menjadi front office di setiap acara yang diadakan LSMnya. Karena LSM ini fokusnya pada bidang demokrasi dan politik maka yang peserta pelatihannya adalah kalangan anggota Dewan atau anggota partai. Nah, pernah suatu hari yang menjadi peserta pelatihan adalah orang-orang muda berbagai parpol. Maka berdatanganlah para anak-anak muda yang kutaksir umurnya sekitar 25 sampai 30an tahun. Beberapa sekampus dengan saya. Tugas saya adalah memastikan mereka mengisi daftar hadir dan membagikan seminar kit. Isinya buku catatan, polpen, dan bahan materi. Karena kerjaan saya sekedar front office maka selesai membagikan seminar k...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...