Skip to main content

Last Request

Boleh saya meminta sesuatu? suaraku pelan tertransmisikan menjadi sinyal-sinyal listrik berfrekuensi audio yang diantar oleh handphone ditanganku. Kubayangkan suaraku berbisik di telinganya. 
"Apa?", jawabnya singkat. Aku tersenyum. Senyum yang pasti tidak terlihat olehnya.
"Bawakan aku sepiring mie goreng buatanmu?"
"Mie goreng? Buat apa?
" ya dimakanlah. Masa dibingkai", kataku tertawa. 
" kalo gitu nanti aku singgah di warung dekat rumah" katanya.
"Jangan!", sergahku cepat. "Aku mau buatanmu. Mie instant sekalipun tidak masalah. Asal buatanmu" kataku sambil nyengir.
" kamu tuh aneh y" katanya lagi.
" kalo nda mau ya nda pha2. Nda maksa kok" kataku merajuk. 
"Siapa yang bilang nda mau. Aku cuma bilang kamu aneh" katanya tertawa.
"Aku kan jarang minta apa-apa. Mie instant aja kamunya kayak gitu" kataku cemberut. 
" ih, ngambek. Iya deh. Nanti aku bawakan mie goreng spesial buatanlu. Khusus buat kamu. Nda ada dimana pun" katanya cengengesan. 
"Asyik!!! Can't wait" kataku.
"I'll be there soon" katanya. 
Clik. Tutututut.....

***
Mie goreng itu terhidang di meja. Dalam kotak biru bertutup transparan. Aku bisa melihat garnis cantik nan menggiurkan di dalam kotak itu. Telur mata sapi yang digoreng pas. Tidak hangus dan tidak juga pucat. Potongan wortel orange yang pasti terasa manis berbentuk mata dan mulut yang tersenyum. Brokoli kecil yang menghiasi pinggir telur serupa rambut yang megar. 

Masih terasa pegalnya otot mukaku tertawa saat melihat kotak makanan itu. Dia mengopernya padaku sambil berkata " delivery servis mie goreng spesial buat kamu yang manis". Wajahnya tersenyum lebar. Menyisakan segaris tipis matanya yang sipit. Aku tertawa keras. Benar-benar lepas. Tawa yang tidak pernah lagi aku lakukan akhir-akhir ini saat bersamanya. 

Direngkuhnya tubuhku dalam pelukannya. Kucium aroma parfum maskulin bercampur keringat. Serta aroma mie goreng diserat-serat bajunya. Aku bisa mencium ini selamanya, kataku dalam hati. Ditariknya tubuhku darinya. Perlahan dia mencium pipiku dan menyusuri garis bibirku dengan lembut. 

Kusimpan dengan asal kotak makanan berisi mie goreng spesial itu dengan tergesa-gesa di atas meja. The Delivery man is more delicious than that noodles. 

***
Kami duduk berhadapan di meja makanan. Meninggalkan kasur yang berantakan dan kusut. Aku tersenyum padanya sembari membuka kotak makanan di depanku. Mie gorengnya masih hangat meski kami mengabaikannya selama sejam. Dia duduk lurus di depanku. Tersenyum tipis. Aku mencoba sesendok mie goreng itu. Rasanya pas. Tidak terlalu asin dan tidak terlalu kering. Wortelnya lunak dan manis seperti dugaanku. Enak, pujiku tulus. Kusuapi sesendok untuknya yang disambutnya dengan ogah-ogahan. 

" Apa kabar, Lidya?" Tanyaku datar sambil menatapi mie gorengku. 
Aku melihat reaksi tubuhnya samar terkejut namun kemudian kembali wajar. 
"Baik" jawabnya singkat. 
" semalam aku mengirimimu pesan dan dia yang membalasnya. Katanya  handphone mu ketinggalan" kataku datar. Aku cukup terkejut mendengar    suaraku yang begitu tenang. 

" Maaf ya, Wik.Kemarin aku ke rumahnya terus pas pulang handphoneku ketinggalan. Aku mau balik ambil udah tanggung di rumah" katanya sedikit bersalah. 

Aku memandang wajahnya, nda pha2, kataku tersenyum. " Aku juga yang salah mengirimimu pesan" kataku pelan. 
"No. Kamu nda salah. jangan selalu menyalahkan dirimu" katanya mencoba menenangkan.
" Aku nda bisa nda ngobrol sama kamu. Nungguin kamu text duluan seperti nungguin bintang jatuh. Lama dan nda tau kapan" kataku terbata. 
"Ada saat dimana aku berusaha untuk nda sms atau hubungi kamu. Tapi kamu juga nda hubungi balik. Tiap saat liatin handphone. Bunyi sedikit, aku berharapnya itu kamu. Tapi kadang kamunya nda hubungi juga. Kalo nda tahan buat ngobrol ya aku hubungi duluan. Sayangnya kemarin, handphonemu sama pacar kamu" kalimat itu meluncur deras dari mulutku tanpa bisa aku tahan. 

"Kalo pun kamu hubungi, pasti ngobrolnya aneh-aneh dan pasti ujung-ujung sexting.  Aku kangen ngobrol sama kamu kayak dulu. Waktu kamu masih free. Kita ngobrol banyak hal. Cerita keseharian terus main tebak-tebakan. Ketawa nda jelas"

"Aku cemburu mungkin. Ya, aku mengakuinya. I love you, and u know it better. Why i still keep this relationship like this? Its simple, because i love u. Hanya dengan hubungan seperti ini aku masih bisa dekat dengan kamu. Ini sangat menyakitkan, tapi sama menyakitkannya dengan merindukanmu dan tidak bisa menggapaimu". 

Pernah di masa lalu kami serupa sepasang kekasih yang sangat berbahagia. Saling bertukar selamat pagi dan mengucapkan selamat tidur kala malam. Meluangkan waktu untuk berbalas sms, makan bersama, dan menonton. Layaknya sepasang kekasih normal bermesraan. Namun kami tak pernah menjadi kekasih. Ia adalah lelaki yang juga kawan namun datang serupa teman yang setia. Selalu ada dan tak pernah alpa. Semua syarat untuk jatuh cinta ada padanya. Dan syarat- syarat itu terpenuhi buatku. Jatuh ke kedalaman tak berbatas yang telah kutahu akan kemana membawaku ke mana. Ke negeri tak berujung. Mengambang pada dimensi lain tanpa ruang dan waktu. Cinta membutakan dan melumpuhkan. Saat itu akulah sang pesakitan yang berbahagia. Kusambut kedalaman itu dengan riang dan jatuh ke dalamnya. 

Aku selalu berharap ia adalah pria yang baik. Meskipun sangkaanku berkata sebaliknya. Firasat firasatku melihat kebalikannya. Ia mungkin suka tapi ia tidak mencinta. Ikatan diantara kami tidak berimbang. Ia dengan gairahnya dan aku dengan cinta yang maha besar untuknya.  Namun, hati ini kuserahkan utuh pada genggamannya hingga akhirnya ia meremasnya hingga menjadi abu. Dan hari ini ketika disaat terakhir kami bercumbu kurasakan kuasa pria yang puas karena hasratnya tercapai. Bukan seorang pecinta yang mempersembahkan tarian purba untuk kekasihnya. Aku menyadari bahwa firasat-firasat itu benar adanya. 

Dia diam. Entah apa yang ada dipikirannya. Kami telah pernah melalui malam membicarakan hubungan kami. Memutuskan untuk saling menjauh, tapi aku selalu memintanya untuk tidak menjauhiku. Sayangnya permintaan itu menjadi boomerang untukku. Aku terlalu mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya. Dan dia adalah lelaki yang memiliki ego untuk menaklukkan. Akulah korban itu. Jatuh berlutut dan menyembahnya. 

"Aku tidak pernah keberatan kamu ngobrol "aneh" denganku. Aku selalu    Meladeni fantasi liarmu. Yang membuatku begitu sedih adalah ketika aku tidak bisa melakukan yang aku inginkan terhadapmu. Ketika letupan gairahku memuncak aku selalu takut untuk menghubungi duluan. Aku takut itu bukan kamu. I dont wanna put u in trouble, but... Thw consequence is i should feel like a little toy. Mainan yang bisa kamu mainkan ketika kamu ingin main bersamanya dan kamu abailan ketika kamu tak menyukainya lagi. 

Rasanya diriku lebih buruk dari perempuan malam yang dihargai dengan beberapa lembar uang. Setidaknya mereka melakukannya dengan sebuah harga, tidak peduli seberapa murah. Sedangkan diriku, bahkan harga diriku pun tidak lagi kamu nilai. 

Air mataku mengalir membasahi pipiku. Mie goreng itu menjadi dingin. Aku tidak lagi berselera memakannya. 

" maafkan aku, Wik. I'm jerk" katanya pelan. 

"Yes, u are. U also an asshole. An Asshole" kataku sambil tertawa. 

"Aku lelah. Mungkin aku harus melepasmu. Membiarkanmu pergi. I hate u yet i love u. Sisi hatiku yang membencimu berharap kamu imenderita seumur hidupmu. Tidak berbahagia sepeninggalku. Sisi hatiku yang mencintaimu ingin menjagamu dari hal itu. Entah aku ingin mengaminkan doa yang mana. Aku berharap bisa membencimu tanpa mencintaimu lagi".

"Pulanglah. Sudah larut. Aku tidak ingin menjadi sebab pertengkaranmu dgn pacarmu", pintaku. 
***

Mie goreng itu masih tersaji di depan meja. Sebuah koran lokal menuliskan sebuah headline kecelakaan mobil nissan livina yang jatuh ke jurang karena sang pengemudi diduga mengemudi dalam keadaan mengantuk dan kelelahan. Tapi sebuah spekulasi  lain bahwa mobil itu sengaja menabrakkan diri setelah sang pengemudi bertengkar hebat dengan pacarnya  di pembatas jalan. (*)

Bone, 5 nov 2013

Comments

Popular posts from this blog

Peri Biru dan Kesatria Putih Dalam LOTR

Aku baru menonton film Lord Of The Rings (LOTR). Please, don’t look me like that. Aneh memang baru menonton film sekeren Lord of The Rings di jaman sekarang. Dwi seperti manusia dari jaman batu yang baru sadar akan peradaban. Jangan mentertawakanku kalo aku pun harus mengakui belum membaca ketiga buku JR.R. Tolkien ini. Ayolah kadang seseorang perlu terlambat mengetahui sesuatu. Agar arah hidupnya tetap baik-baik saja dan tetap menjejak di bumi. Btw, LOTR-The Fellowship Of The Rings. Bercerita tentang sebuah cincin yang memiliki kekuatan yang sangat besar. Adalah Frodo seorang hobbit (manusia bertubuh pendek) yang diwarisi cincin bertuah dari pamannya Bilbo Baggins.Cincin tersebut ternyata memiliki kekuatan yang kelam dan sangat besar. Aku tak perlulah panjang lebar untuk menjelaskan cerita ini padamu. Aku yakin kamu telah tahu. Dan kalaupun kamu belum tahu, nontonlah sendiri. Beberapa kali aku berupaya untuk menyelesaikan film ini. Tapi selalu saja tidak berhasil hingga selesai. Kada...

Peri Biru dan Pangeran Hippo

Pagi masih berembun. Matahari belum sepenuhnya terbit. Awan masih menggantung di langit. Penduduk di Negeri Rawa Air belum sepenuhnya terbangun. Pasar di alun-alun belum terlalu ramai. Peri biru merenggangkan tubuhnya. Di kerajaan ini dia akan tinggal untuk beberapa saat. Ia harus bertemu penyihir bijak, kakeknya untuk berguru sihir dan cara menunggang naga. Dilangkahkannya kakinya menuju pusat kerajaan. Pasar tetap sepi padahal matahari sudah sejengkal di atas kepala. Kerajaan pun tampak sunyi. Seperti ada sesuatu yang terjadi di kerajaan ini. Peri biru melangkahkan kakinya menuju tempat tinggal penyihir bijak. Diketuknya perlahan pintu kayu rumah yang terbuat dari batu gunung itu. Tok…tok…tok….belum ada jawaban. Sekali lagi Peri biru mengetuk pintu. Terdengar sesuatu yang meringsek dari dalam rumah. Lubang kecil di atas pintu yang biasa digunakan untuk mengetahui tamuyang dating tergeser. Sosok tubuh tua mengintip di baliknya. “Kakek penyihir, ini Peri Biru “ katanya saat melihat ...

mozaikku....

backstreet boys datang ke jakarta..... waahhhhh????? kok bisa dwi tidak tahu ya????? mereka pernah mengisi tiap lembar mimpi-mimpiku. tiap halaman. pangeran yang selalu menungguku di ujung jalan sana adalah nick carter. aku selalu suka berimaji. membayangkan bertemu mereka. menjadi temen kuliah dari mereka. menjadi bagian dari hidup mereka. aku percaya akan kekuatan mimpi. seperti Arai. 'bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu". aku membangun mimpi-mimpi itu bersama mereka. tiap halaman catatan harianku selalu tentang mereka. aku selalu bahagia dengan mimpi-mimpi itu. rasanya indah dan begitu nyata. semua itu yang bisa membuatku bertahan hingga sekarang. rasanya semua itu sudah bertahun-tahun lalu. aku tak punya lagi mimpi-mimpi itu. mimpi-mimpi yang selalu aku urai di langit-langit desaku. yang selalu aku bayangkan dari rumah kayu tempatku dibesarkan. entahlah, sudah lama aku tak mengurai mimpi-mimpi itu lagi. sudah lama aku tak menemukan bahagia yang berasal dari...