Skip to main content

See You When I See You

Tak ada yang berubah padanya. Tubuhnya yang tegap. Kulitnya yang putih dan rambutnya yang mirip artis hong kong. Matanya kecilnya dengan sedikit kerut di ekor matanya. Aku? Mungkin juga tidak berubah di matanya. Tinggi dan kurus. Menjulang dengan rahang yang makin tirus. Jangan salahkan diriku yang mungkin dia pikir tidak memperhatikan berat badan. Percayalah, aku pun berusaha membuat berat badanku seideal mungkin. Tapi tubuhku sepertinya menolak untuk menambah beratnya. Akulah anomali. Disaat kebanyakan perempuan berharap kurus maka saya berdoa untuk gemuk. Disaat mereka memuntahkan makanannya kembali untuk tetap terlihat langsing, maka aku harus mual karena menyesakkan terlalu banyak makanan dalam tenggorokanku ketika tubuhku meronta untuk berhenti makan. 


Ya, aku mungkin sedikit berubah. bertambah kurus tapi yang pasti ia tidak melihat tampilan yang begitu berbeda sejak terakhir kami berjumpa. Dari kurus menjadi lebih kurus. Bukan sesuatu yang begitu menarik perhatian. Kecuali rasa prihatin yang mendalam. Seperti kata pertama yang terlontar di mulutnya saat kami bertemu "kamu kurus banget". Sebuah kalimat yang jauh dari ekspektasiku. Aku berharap ia akan berkata " i miss u. It's been so long". 

Seberapa lama kami tak bertemu? Setahun. Sebuah hitungan waktu yang cukup lama. Bilangan hari yang mengubah angka usiamu. Ribuan detik yang berjarak. Puluhan purnama yang tenggelam. Ratusan hari yang menjauhkan, mengikis kenangan yang tidak diingat, dan menghadirkan sosok-sosok lain di tiap hari tapi bukan dirimu. Jarak adalah ujian. Mampu membuat manusia tetap mengingat dan merindu namun memberi pilihan untuk lupa dan mematikan kangen. Rindu adalah pengikat hati. Simpulnya kadang menyesakkan. Ketika ia tidak lagi tumbuh di hati, maka hati tak lagi punya benang pengikat ke hati yang lain. Yang membuat rindu mematikan adalah ketika dua hati tak lagi memiliki rasa rindu yang sama. Seperti yang kurasakan saat ini. 

Rasanya ingin kutepis peluknya saat tak kudengar tiga kata sakti itu. Sayangnya, hatiku menginginkan peluk itu. Tubuhku ingin merengkuhnya. Rindu ini mendahaga dan peluknya serupa telaga jernih yang ingin kuselami. Kuteguk airnya hingga kering. 

Aku hanya tersenyum mendengar tanggapannya tentang penampilanku. Apakah ia tidak menyukaiku lagi? Apakah tubuh ini tidak lagi menarik untuknya? Apakah selama ini dia hanya ingin mencumbui tubuhku? Dan tubuh yang kurus ini tidak lagi membangkitkan hasratnya? Aku masih saja sibuk dengan pikiranku tentangnya. Aku menepis pikiranku yang terakhir. Aku masih mempercayai hatiku,dia adalah pria baik yang mencintaiku. Pria yang menyimpan namaku di hatinya. Yang tidak bermain-main denganku. Namun keraguan mulai menyapa sisi hatiku yang lain.  Setengah hatiku tetap bertahan dengan keyakinan yang kupercayai. Ia pria yang mencintaiku. Titik. Mungkin nanti ia akan berkata aku merindukanmu. Aku tetap mempercayai ia merindukanku.

Ia duduk di tepi tempat tidur. Pedingin ruangan berada pada suhu 21 derajat. Kuturunkan suhunya lebih rendah. Rasanya begitu gerah sejak kedatangannya. Setahun, bentang waktu yang memiliki ratusan cerita. Tapi ia memilih diam di ujung tempat tidur. Memandangku. Aku berharap ia banyak bercerita, tapi ia memilih diam. Sekalipun aku telah mendesak memintanya bercerita tentang hidupnya setahun ini. " Tak ada yang berubah. Tak ada yang baru, kecuali kacamataku", katanya tersenyum. 

Aku menghela nafas. Omong kosong kalo dia tidak punya bahan cerita. Ia hanya tidak ingin bercerita padaku. Ia tidak ingin membagi ceritanya denganku. Sekalipun aku dengan senang hati mendengar apa saja yang keluar dari mulutnya. Entah itu pergerakan saham yang tidak menentu, politik yang bergejolak, apa saja. Asal keluar dari mulutnya. Tapi ia kukuh dalam diamnya. Menanggapiku sesekali yang sibuk memancingnya ngobrol.  Tak ada yang berubah katanya, namun hatiku telah mencentang satu poin akan perubahannya. Kami tidak lagi menjadi teman yang mampu bercerita segalanya.  Dulunya kami menghabiskan hari sekedar bercerita banyak hal yang kami lakukan. Saling berbalas pesan tanpa pernah dijeda waktu. 

Kini, ia memilih diam. Duduk ditepian tempat tidur dan menggenggam jemariku yang kurus. Ingin rasanya kutarik tanganku. Tulang-tulang dan uratku transparan dibawah kulit yang tak berdaging. Pernahkah terlintas dibenaknya bahwa ia mungkin saja menjadi penyebab tubuhku mengurus. Pikiran yang sibuk mampu mempengaruhi kondisi tubuh. Dan otakku memilih memikirkannya. Menghadirkan namanya tiap detik. Serupa duri yang menorehkan luka rindu yang perih. Yang memaksa mataku menangis. Mengisap sari-sari kehidupan dari tubuhku. Memaksanya menjadi suplemen untuk otakku terus berpikir akan dirinya. Pernahkah ia memikirkan itu? Ah, bahkan namaku kusangsikan ia ingat. Apalagi memikirkan diriku. Ia tak lagi antusias untuk menemuiku. Ia tidak lagi merencanakan hal-hal menyenangkan untuk kami lakukan bersama. Hari ini pun ia datang menemuiku hanya karena pintaku. 

Ia merangkul pundakku. Mengusap jemariku. Aku menjatuhkan kepalaku di pundaknya, merengkuh dadanya dan " aku merindukanmu" bisikku. Tak kulihat wajahnya. Kebenamkan wajahku di dadanya. Ia hanya tertawa dan membalas pelukanku. Dan ia masih saja tak mengucapkan balasan kalimat " i miss you too". 

Mungkin ia memang tak pernah menumbuhkan rindu buatku. Jarak yang geografis dan waktu yang membentang di antara kami tak pernah menjadi lahan subur untuk benih rindu. Kepergianku tak pernah menjadi sebuah kehilangan untuknya. Tiba-tiba peluk ini terasa hampa. Peluk ini menjadi kosong. Serasa melayang di ruang hampa udara dan tak mampu berjejak. Tak pula jatuh dan hanya mengangkasa tanpa tahu berakhir ke mana. 

Kulongggarkan pelukanku. Ia masih di depanku. Berjarak tak lebih satu meter. Solid dan mampu kujangkau. Namun sejatinya kami berjarak lebih jauh dari yang aku kira. Ia tak berada di depanku. Entah dimana. Wujudnya adalah fatamorgana dan tak mampu kurengkuh. Mungkin kumampu peluk tubuhnya tapi tidak dengan jiwanya. Jiwa yang serupa kabut itu tak pernah hadir untukku. 

Kami hanya terduduk diam di ujung kasur. Sekedar ngobrol tak jelas dan lebih banyak memilih diam. Benakku penuh kalimat tanya. Kalimat yang tak pernah berani kuucapkan. Kalimat yang jawabannya takkan pernah sesuai dengan jawaban imajinatif ciptaanku. Kubiarkan pikiranku membentuk adegan-adegan bahagia antara aku dan dia. Tanpa perlu menyakiti hatiku akan skenario yang dia ciptakan. 

Hadirnya adalah serupa buah beracun. Manisnya memabukkan tapi juga mematikan. Aku adalah pecandu yang tak mampu hidup tanpa bahagia dan pedih yang ditawarkannya sekaligus. Diam menyita waktu kami. Puluhan menit yang harusnya cukup berarti untuk melepas rindu. Dan kemudian jatah waktu kami habis. Perpisahan selalu menyakitkan buatku namun sekaligus sebuah pembebasan. 

Ia berdiri dari tempatnya duduk. Beranjak menghampiriku. Menggenggam tanganku dan memintaku berdiri. Ia memelukku. "Aku harus pulang", katanya pelan. Pelukan singkat. Tangannya menggenggam jemariku. Apakah ia mendengar detak jantungku yang menderu keras. Apakah ia merasakan hatiku yang cemas. Mataku yang akan segera memanas. Dan bibirku yang kelu serta tenggorokan yang serak. Apakah ia menaruh perhatian pada hal-hal yang berubah dari diriku ketika ia berkata "aku harus pulang".

" Would u stay?", kataku terbata. Ia menggeleng. Kuhela nafasku. Nafas satu persatu yang harus menguatkanku. "So, can say "i'll see you soon?", kataku lagi masih dengan pengharapan untuk bersamanya lebih lama. Lebih lama dari setiap perpisahan yang harus aku hadapi tiap bertemu dengannya. 
" See you when i see you", katanya padaku. "Huh", aku mendengus. Pilihan kata yang begitu hati-hati. 

...Kita tidak hidup di dunia fiksi dimana kebetulan menjadi hal yang lumrah. Sampai ketemu sampai aku melihatmu, perkataan macam apa itu. Kamu menyerahkan pada semesta untuk pertemuan yang aku yakin tak akan mampu terjadi jika kita menyerahkannya pada cosmic coincidence. Meski hitungan geografis kita tidak begitu jauh, namun butuh lebih dari kebetulan untuk kita mampu bertemu tanpa saling berencana berjumpa. Dan kamu memilih  kalimat " see u when i see u". Akan lebih gampang buatku untuk menerima jika kamu berkata "gudbye". Tak perlu membuatku melayang tak jelas di ruang hampa. Aku perlu gravitas untuk jatuh dan agar sakit akan mencintaimu mampu kukoreksi. So, i take it as a goodbye...

Bone, Agustus 2013 - 12 Januari 2014 

Comments

  1. Sabar ya kakak.. ayo semangat gemukin badan kaaakkkk.. Olahraga, minum vitamin, makan malam, banyak ngemil.. Jangan sampai kesehidahn makin menggerogoti dagingmu..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Sebelum Salju Mencair

Dua hari ini Athens diselimuti awan hitam. Mendung. Cuaca menjadi dingin. Hujan pun turun. Kemarin cuaca mencapai titik minus. Titik hujan jatuh ke bumi menjadi butiran salju. Angin bertiup kencang. Pohon-pohon pinus tunduk patuh pada gerak angin. Tengah malam kristal-kristal beku itu mencumbui tanah Athens. Jutaan butir yang bertumpuk menutupi tanah, jalan, dan segala permukaan yang dijangkaunya. Permadani putih seketika terhampar menyelimuti bumi. Seperti kepompong yang menyelubungi ulat untuk menjadikannya kupu-kupu. Ini salju nak, coba yuk! Hingga pagi hujan salju masih belum reda. Butiran es itu seolah bersuka cita turun ke bumi. Meliuk-liuk mengikuti gerak angin hingga mendarat dengan sempurna di tanah. Mereka seakan berpesta dan enggan mengakhirinya. Hingga siang, butiran-butiran itu seakan tidak jenuh untuk terus meninggalkan jejak. Kulihat seseorang menuntun anjingnya bermain di tengah salju, Bodoh pikirku bermain-main di salju yang dingin. Bikin frosty ternyata s...

Dunia Kafka, Dunia Surealis Murakami

Judul : Dunia Kafka ( Kafka On The Shore) Penulis : Haruki Murakami Penerbit : Alvabet Kafka Tamura, anak laki-laki 15 tahun memutuskan pergi dari rumahnya di Nakano meninggalkan ayahnya. Dengan tujuan menjauh dari ayahnya yang tidak lagi peduli dengannya dan mencari ibu dan kakak perempuannya. Ia lari ke Takamatsu dan tinggal di sebuah perpustakaan.  Nakata, pria paruh baya yang karena sebuah peristiwa pada saat perang kehilangan kemampuannya untuk membaca, menghitung, namun menguasai bahasa kucing. Hingga suatu hari ia harus membunuh seseorang untuk menyelamatkan sebuah kucing.  Dua tokoh ini memiliki cerita berbeda pun memiliki keterlibatan secara tidak langsung. Dengan label surealis pada sinopsis buku ini, maka pembaca harus siap menemukan cerita yang tidak mampu diterima logika. Dunia di luar materi, yang tidak terikat waktu.  Tapu bukan Murakami namanya kalo tidak menyisipkan renungan panjang dalam ceritanya. Menurut pembacaan saya, Murakami mencampur bumbu kegalau...

Urus Paspor, Kupikir Jadi Lebih Baik. Nyatanya...

Saya kembali harus berkutat dengan pengurusan paspor di kantor Imigrasi klas 1 Makassar. Kali ini paspornya Ara. Bayi kecil yang belum cukup setahun itu belum juga punya KTP tau-taunya sudah harus mengurus paspor. Mengurus paspor untuk anak dibawah 17 tahun tak ada bedanya dengan orang dewasa. Kartu keluarga, akte lahir, ditambah surat pernyataan dari orang tua dan KTP orang tua. Surat pernyataan biasanya diperoleh saat mengambil formulir pengajuan paspor. Sebenarnya untuk formulir tidak dikenakan tarif. Tapi entah kenapa di imigrasi makassar satu lembar formulir dikenakan harga 20.000 rupiah (formulir,sampul paspor, dan Map). Sedangkan jika ditambah surat pernyataan maka totalnya 28.000 rupiah. Awalnya estimasi waktu pengurusan kupikir akan cepat. Namun ketika memasukkan berkas, KTPku tidak sesuai dengan alamat di Kartu keluarga. KTPku masih KTP bone sedangkan kartu keluarga beralamat Baubau. Jadilah menunggu resi KTP dari Baubau. Mengurus paspor tidaklah seperti mengurus KTP...