Skip to main content

Mungkin Ini Adalah Pilihan Tepat


Dia menelponku. Suara seraknya menandakan dia tidak begitu sehat. Dia memintanya lagi. Ini kesekian kalinya. Aku tahu ia begitu kesepian. Dia menceritakan padaku bahwa ia sedang nonton sendirian di depan tv.

Suaranya begitu berat. Kedengaran sakit.
"Baik-baik jiki?"tanyaku.
"Saya nda pernah makan. kurang nafsu makan. cuma mau makan mie instan dan minum air hangat" jawabnya lemah.

Mataku memanas. Aku tak begitu menyimak lagi suaranya. Kubiarkan ia terus bercerita sambil kualihkan rasaku dari sedih. Masih saja kutahan agar air mata ini tak tumpah. Aku tahu ia butuh teman cerita. Atau teman yang sekedar mau mendengarnya. Duduk di sampingnya dan memberi sedikit respon pada yang dia rasa.

Akulah yang mampu memahaminya. Aku yakin itu. Karenanya ia selalu memintaku pulang. Mungkin ia rindu.

Aku sangat ingin pulang. Menemaninya. Tapi kota ini menuntutku untuk tak pulang.
Dilema rasanya.

Atau aku pulang saja???Menyerah pada ketakberdayaan. Melupakan teras imaji yang aku bangun.

Mungkin pulang ke rumah adalah yang terbaik. Pulang untuk menemaninya bercerita. Membuatkannya teh, memasak untuknya.Menjadi anak yang patuh.....

yah...mungkin itu yang terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

Shock....

Aaaahhhhhhrrrrrrggggg....... Tiba-tiba aku mengingat lagu Mr.Big "wild World". Dunia memang begitu liar. Semua berangkat dari titik nol yang sama. Dan akupun harus demikian. Mencoba hal baru memiliki tantangan sendiri untuk ditaklukan. da begitu juga buatku. Hujan masih juga turun begitu deras. Tapi tantangan itu menuntutku untuk terus bergerak. Lakasana seorang pria playboy yang menggoda untuk dipatahkanhatinya....

Dongeng Kita

Siang ini aku terjaga dari tidur panjangku. Seperti seorang putri tidur yang terbangun ketika bibirnya merasakan hangat bibir sang pangeran. Tapi, aku terjaga bukan karena kecupan. Namun karena aku merasakan indah cintamu di hariku. Mataku tiba-tiba basah. Aku mencari sebab tentang itu. Namun yang kudapati haru akan hadirnya dirimu. Memang bukan dalam realitas, namun pada cinta yang telah menyatu dengan emosi. Kita telah lama tak bersua. Mimpi dan khayal telah menemani keseharianku. Tiap saat ketika aku ingin tertidur lagu nina bobo tidak mampu membuatku terlelap. Hanya bayangmu yang selalu ada diujung memoriku kala kuingin terlelap. Menciptakan imaji-imaji tentangmu. Kadang indah, kadang liar, kadang tak berbentuk. Tapi aku yakin ia adalah dirimu. Menciptakan banyak kisah cinta yang kita lakoni bersama. Aku jadi sang putri dan dirimu sang pangeran itu. Suatu imaji yang indah...

jurnalistik siaran, pindah kost-kostan, dan "capek deh!"

Akhirnya, kembali bisa menyempatkan diri sejenak ke Teras Imaji. Sedikit berbagi kisah lagi dengan diri sendiri. Sekedar untuk sebuah kisah klasik untuk Saraswati dan Timur Angin kelak. Aku tak pernah menyangka bahwa aku bisa bertahan sampai saat ini.meski tugas kuliah menumpuk. Keharusan untuk pindah pondokan. Kewajiban lain yang belum terselesaikan.Problem hati yang menyakitkan. Serta kontrak yang tersetujui karena takut kehilangan peluang meski tubuh ini harus sudah berhenti. Siang tadi (15 nov 06) seharian ngedit tugas siaran radioku. Tak enak rasanya pada teman-teman, memberatkan mereka. menyita waktu yang seharusnya untuk hal lain. Tak enak hati pada Pak Anchu, penjaga jurusan. yang tertahan hanya menunggu kami menyelesaikan tugas itu. Dengan modal suara fals nan cempreng toh aku pun akhirnya harus sedikit PD untuk membuat tugas itu. Meski hanya menguasai program office di komputer, toh aku harus memaksakan belajar cool-edit (yang kata teman-teman yang udah bisa merupakan sesuatu...