Skip to main content

Menulislah Sebelum Bobo

Aku mendapati tulisan ini di lapak kompasiana milik Om Jay. Menulislah sebelum bobo. Sebuah resep yang bagus sebenarnya. Menulis sebelum tidur adalah upaya untuk mempertahankan otak tetap waras. Setelah seharian lelah dengan hiruk pikuk yang memusingkan. Mungkin menulis itu seperti layaknya berdo sebelum tidur. Bercerita pada Tuhan. Mengucap syukur dan kemudian merapalkan dengan lirih pemohonan dan harapan tentang esok hari.

Hari ini tak banyak yang aku punyai. Biarlah aku meneruskan ujian Aprilku yang lumayan menyesakkan. Semoga aku berhasil menyelesaikan satu proyek idealis yang tak begitu bagus namun cukup memanjakan diri. Semoga aku bisa menyelesaikannya setidaknya untuk diriku sendiri. Tak peduli hasil akhirnya bagaimana. Setidaknya aku ingin meniti di titian jembatan dan sampai di ujungnya. 

Semoga benar-benar bisa selesai.Amin!!!!!

Comments

  1. hmmm... Semacem bikin review apa2 yang terjadi hari ini dan harapan esok hari. Boleh2

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Dan Akhirnya

Dan akhirnya Malaikat kecil itu beranjak terbang Sayap kecilnya mengepak cepat Rasanya perih sesaat Tapi rasanya begitu melegakan "Akan kubawa cinta ini pergi Hingga akhirnya aku kembalikan padamu kelak"

ketika aku merefresh kembali kekuatan mimpiku

"Yuk nonton laskar pelangi sama-sama". Sms ini ku kirim ke seorang teman yang ada di pulau jawa beberapa hari lalu. Dan akhirny a, hari ini kami bisa mewujudkan rencana aneh nan gila itu. Kami menonton di dua bioskop yang berbeda, di selang waktu 30 menit yang berbeda, di kota yang berbeda, dan di pulau yang berbeda. Yang menyamakan kami hanyalah keinginan untuk melakukannya secara bersama dan waktu yang tak terpisah 15 derajat. Ia di Denpasar dan aku di Makassar. Sebuah cara nonton yang aneh kupikir. Namun, kami memang orang yang aneh. Ini kedua kalinya aku menonton laksar pelangi. Aku tak pernah bosan melihatnya. Aku masih bisa tertawa untuk setiap adegan lucu dan terharu untuk tiap scene yang me nyedihkan. Namun aku selalu menunggu scene dimana A ling bertemu dengan Ikal. Ketika gadis kecil bermata sipit itu berbalut baju china berwarna merah. Ia begitu cantik. Wajarlah Ikal menggambarkanbetapa terpesonanya ia dengan kuku perempuan itu dengan kalimat “……Saat itu aku me...

Janji Yang Teringkari

Pagi pertama di bulan November. Udara masih saja terasa dingin di kampungku. Bau oksigen pagi terasa dingin dalam hidungku. Meski matahari telah bersiap dengan sinarnya penanda musim masih belum berganti. November. Dua bulan terakhir sebelum penghujung tahun. Apakah ini begitu penting?tampaknya semua sama saja. Waktu berputar 24 jam sehari. 60 menit dalam sejam dan tak berubah dalam 60 detik dalam semenit. Bumi hanyalah menuntaskan tugasnya mengelilingi matahari bertawah dan tertasbih sesuai hukum Pencipta di semesta. Tak cuma bumi, tapi juga seantero galaksi dan seluruh benda langit. Apa yang penting dari itu. Bukankah itu telah terjadi jutaan tahun lalu. Bahkan sebelum manusia belajar menerka tentang hukum dan aturan benda semesta. Apa yang penting dari itu? Dalam mikro semesta hatiku, November tahun ini adalah penanda bahwa sebuah janji yang harusnya ditepati oleh hati kembali terlanggar. Kembali teringkari oleh kompromi yang bodoh. Tak ada jejaknya sedikit pun dalam file-file kompu...