Skip to main content

Pilih Rusak atau Hilang?

Dua hari lalu, laptop milik suami rusak. Buat suami saya laptop serupa  kail untuk memancing. Laptoplah teman yang paling setia menemaninya mengerjakan pekerjaannya, membantunya menulis postingan blognya, sampai menyimpan semua foto-foto perjalanannya. 

Buat saya dan Ara, laptop itu adalah mainan kami merekam hari. Tiap berhadapan dengan laptop yang kami lakukan adalah narsis di kameranya. Ara dengan lihai sudah mampu memilih untuk memotret dan merekam sendiri tingkahnya lengkap dengan efek-efek lucu. 

Laptop itu memiliki sisi sentimentil yang sangat tinggi. Di beli di saat suami kuliah di OU. Menyimpan puluhan ribu foto kenangan melihat musim gugur, musim salju, musim semi di Athens. Laptop itu merekam tumbuh kembang Ara. Ia semacam laci meja Nobita yang mampu membawa saya dalam perjalanan ke masa lalu. 

Kemudian ia rusak tanpa ada back up data. Kami terancam kehilangan semuanya. Sebagian hati kami berduka. Bukan karena ini laptop Mac yang harganya jutaan dan kalo harus beli lagi rasanya terlalu memberatkan kantong. Yang muncul adalah sisi sentimentil akan banyaknya file foto dan data hilang. 

Rusak atau Hilang? 

Nothing last forever kata Guns and Roses. Jika cinta yang begitu abstrak bisa saja hilang #eh apalagi barang yang memiliki ruang dimensi. Entah ia tua dan aus,  rusak, atau hilang. 

Jika berada pada pilihan rusak atau hilang, yang mana yang lebih baik? Ketika handphoneku hilang beberapa waktu lalu rasanya seperti kehilangan sebagian anggota badan. Menimbulkan sisi sentimentil yang sangat tinggi. Pilihan paling rasional adalah melepaskan dengan ikhlas.  Namun ketika barang rusak pun sisi sentimentil yang timbul juga besar. Meski selalu ada kesempatan untuk memperbaiki tapi ketika rusak serupa alarm untuk mempersiapkan diri menghadapi kehilangan yang lebih besar. 

Baik rusak maupun hilang, dua-duanya selalu menimbulkan kesedihan. Tapi melalui itu kita bisa belajar menerima keadaan dan mengikhlaskan kepergian.
Kemudian kita mensyukuri hal-hal yang masih tetap bersama kita. 

Bogor, 8 Juni 2015


Comments

Popular posts from this blog

Kenshin Sang Batossai

Rurouni Kenshin Saya bukan penggemar manga. Tapi kalo sekedar tahu lumayan sih. Meski kadang juga nda tau. Tapi untuk serial Samurai X saya lumayan tahu dari serial kartun yang pernah ditayangkan di salah satu tivi swasta di Indonesia meski nda terlalu ngikutin. Yang pasti saya pernah nonton serial kartunnya episode pertama dan terakhir. Hahahaha. Saya cukup malas untuk mengikuti semua episodenya meskipun kakak ipar saya punya koleksinya dan suami saya pernah cukup intens menonton serialnya. Nah, pas tahu kalo Samurai X ini dibuat live action, maka segeralah saya mendownloadnya. Mumpung berada di negara dimana mendownload tak membuat saya harus menangis saking lambatnya, maka dengan hati yang riang dan beberapa kali klik Rurouni Kenshin sudah menari-nari di depan mata saya sambil mengibas-ngibaskan Katana tumpul miliknya. Ceritanya tidak berbeda dengan serial kartunnya. Dibuka dengan akhir peperangan Bakumatsu di awal era Meiji, Kenshin memutuskan untuk berhenti menjadi samurai...

Cowok Cakep Yang Merasa Cakep Itu Bikin Ilfil

sumber :  lockhartfanclub.livejournal.com Judul postingannya panjang dan jelas. Cowok cakep yang merasa cakep itu bikin ilfil. Saya menarik kesimpulan entah sejak kapan. Mungkin sejak kuliah. Saya pernah punya pengalaman tentang cowok cakep yang merasa cakep yang makin mengukuhkan kesimpulanku itu. Waktu semester akhir kuliah, saya sering membantu senior saya menjadi front office di setiap acara yang diadakan LSMnya. Karena LSM ini fokusnya pada bidang demokrasi dan politik maka yang peserta pelatihannya adalah kalangan anggota Dewan atau anggota partai. Nah, pernah suatu hari yang menjadi peserta pelatihan adalah orang-orang muda berbagai parpol. Maka berdatanganlah para anak-anak muda yang kutaksir umurnya sekitar 25 sampai 30an tahun. Beberapa sekampus dengan saya. Tugas saya adalah memastikan mereka mengisi daftar hadir dan membagikan seminar kit. Isinya buku catatan, polpen, dan bahan materi. Karena kerjaan saya sekedar front office maka selesai membagikan seminar k...

Norwegian Wood

Cukup melelahkan membaca Norwegian Wood karya Haruki Murakami. Buku yang telah kulihat wujudnya sejak tahun 2004 baru aku baca di tahun 2013. Saya tidak terlalu akrab dengan karya-karya Haruki Murakami. Buku Norwegian Wood ini adalah karyanya yang pertama saya baca.  Mengapa saya berkata buku ini cukup melelahkan? Karena buku ini bercerita tentang kematian dan sangkut pautnya dengan orang-orang yang ditinggalkan. Bukan kematian yang disebabkan sakit atau tua. Tapi kematian orang-orang muda yang memilih bunuh diri.  Bersetting tahun 1970an di Jepang, sang tokoh utama, Watanabe menceritakan kembali kisahnya. Ia bertemu kembali kekasih almarhum temannya yang memilih mati bunuh diri di usia 17 tahun. Sekalipun tidak akrab mereka selalu bersama. Berkeliling mengitari Tokyo tanpa tujuan. Hingga sang perempuan, Naoko masuk panti rehabilitasi gangguan jiwa. Ia lantas bertemu Midori, perempuan nyentrik yang selalu berkata seenak dia. Perempuan yang selalu jujur mengatakan apapun yang i...