Skip to main content

Kamu Manis, Kataku

Aku dan Rio menyukai cewek yang sama. Cewek yang tiap tiga hari sekali mampir di cafe. Rambutnya panjang berombak. Tampak sedikit berantakan kalo dia gerai. Ia lebih sering menguncir rambutnya tinggi atau sekedar mengikatnya asal jika rambutnya mulai tak tertata rapi. Kulitnya coklat. Kulit perempuan Indonesia kebanyakan. Ia tidak latah mencoba iklan pemutih kulit. Ia malah tampak eksotis dengan kulit coklatnya. Matanya selalu nampak ceria. Ah, dia adalah perempuan paling manis yang pernah kulihat. Sayangnya saya harus bersaing dengan Rio. Rio yang selalu tampil percaya diri. Rio sudah pernah mengalahkanku. Menaklukkan wanita pujaanku, Santi. Santi lebih memilih Rio daripada saya. Dan kemudian harus merasakan patah hati saat Rio memacari perempuan lain.

Tapi kali ini saya tidak ingin kalah dari Rio. Saya harus bisa membuktikan pada Rio kalo saya mampu menaklukkan gadis ini. Saya tak ingin dipecundangi lagi olehnya. Meskipun kali ini terlalu berat daripada sekedar memacari Santi. Saya tipe cowok pemalu, tapi demi satu makhluk manis dan sebuah gengsi saya harus mendekati perempuan itu.

Telah kuketahui namanya. May. Senin, Rabu, Jumat ia selalu datang ke kafe. Setiap sore. Pukul 3.30 sampai 5.30. Membawa laptop dan mengetik adalah rutinitasnya. Saya yakin dia jomblo, karena selama ini tak pernah satu pun cowok yang menemaninya di kafe. Ia larut dalam kesendiriannya.

"Hei, memata-matai May?" Kata Rio tiba-tiba ketika saya asyik memperhatikan perempuan yang berjarak 10 meter di depanku.
"Tidak" jawabku gugup.
"Ah, ngaku saja. Bagaimana kalo kita taruhan. Siapa yang berhasil mencium May akan mengerjakan tugas jaga seminggu" tantang Rio.
Hati kecil saya tertantang. "Kali ini saya harus menang.Sudah cukup saya sering dipecundangi" batinku.
"Baiklah"kataku sambil menerima tantangannya.

Untuk melaksanakan tantangan dari Rio tidak pernah mudah. May tak pernah melihatku. Bahkan mungkin untuk mengetahui kehadiranku pun. Dia terlalu asyik dengan laptopnya meskipun saya sering berlalu lalang di depannya. Tapi saya harus melakukannya, kataku.

Sampai tibalah satu sore yang sepi. Pengunjung kafe tidak begitu banyak. Hari itu May kembali sibuk dengan laptopnya. Dandannya sederhana. Tapi wajahnya tampak segar. Bibir mungilnya tampak kemerahan. Itulah sasaranku hari ini. Akan kuminta baik-baik. Segala konsekuensi harus saya tanggung. Dia akan menamparku dan paling parah adalah dia membunuhku. Ah sudah kepalang basah. Apapun yang terjadi itu urusan nanti. Saya pun penasaran terhadap bibir May yang selalu kemerahan. Terlihat begitu manis.

Ia memesan secangkir kopi latte. Cangkirnya pesanannya kupegang kuat-kuat. Aroma kopi memenuhi hidungku. Sampai kopi tersebut terhidang di depannya. Ia masih saja sibuk dengan laptopnya. Tidak menyadari kehadiranku. " Aku ingin menciummu" bisikku.
Tapi sepertinya ia cuek saja mendengar perkataanku. Diraihnya cangkir kopinya dan disesapkannya ke bibirnya. Seketika itu juga kucium bibirnya. "Kamu manis" kataku.

Tiba-tiba saja aku merasa pipiku tertampar. Penglihatanku berkunang-kunang. "Damn, semut ini mengigitku" kata May sambil menepis tubuhku jauh-jauh dari bibirnya. (*)

#15HariNgeblogFF

Silakan komentar di sini dan tinggalkan akun twitter kamu atau mention saya di @dwiagustriani


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments

  1. menarik...teringat salah satu cerpen pemenang kompas 2010. tpi dengan alur cerita yg berbeda (sama pd pengambilan tokoh hewan bkn manusia).

    ReplyDelete
  2. akun twitter @Layosibana

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Keajaiban Malam Bulan Biru

Judul : Keajaiban Malam Bulan Biru Penerbit : Pustaka Ola Harga : Rp. 20.000 Peter melangkah gontai masuk ke apartemennya. Ia baru saja dipecat. Toko tempatnya bekerja bangkrut. Dari sebuah apartemen ia mendengar kakek Tom merintih memanggil cucunya. Peter melangkah masuk dan membantu kakek Tom. Kasian kakek Tom sendirian dan sakit-sakitan sementara cucunya jarang menjenguk. Di apartemen sebelah Rossy di kursi rodanya meminta Peter memperbaiki kotak musik balerinanya. Rossy sangat ingin menjadi balerina sayang kakinya lumpuh.  Bulan berwarna biru malam itu. Ted yang terbangun dari tidurnya sibuk memikirkan dirinya yang dipecat dan begitu miskin. Hingga akhirnya ia bertemu peri dan memberinya tiga permintaan.  *** Buku kumpulan dongeng ini berisi sebelas cerita dongeng yang kisahnya menarik. Kamu akan bertemu Grook-grook si sapi, Riko si kurcaci yang ingin jadi peri, serta bertualang di dunia mainan.  Selain ceritanya yang seru juga mengandung nilai moral. Misalnya mensyuk...

First Journey With Ara

Bajunya : Off  To Grandma's Karena neneknya Ara berkunjung ke Makassar, maka saya pun harus membawa Ara ke Makassar untuk bertemu neneknya yang telah datang jauh-jauh dari Bau-bau. Sekalian bertemu dengan tante (Kak Atun) dan sepupunya, Cakra untuk pertama kali. Ara baru 40 hari lebih. Belum cukup dua bulan. Ini adalah perjalanan pertama kami berdua. Saya hanya membawa satu ransel baju. Sudah dengan pakaianku dan pakaiannya. Sedapat mungkin pakaian yang dibawa sedikit mengingat saya membawa bayi dan agak susah mengangkat tas sekaligus. Semua orang yang saya temui akan heran dan terkejut melihat saya hanya berdua dengan bayi saya yang umurnya belumlah cukup dua bulan. Saya cukup tangguh? Tidak juga, hanya keadaan yang memaksa demikian. Untungnya Ara tidaklah terlalu rewel diajak pergi-pergi. Selama perjalanan Bone-Makassar dia hanya dua kali terbangun untuk minum Asi, sisanya ia memilih tidur.  Mobil yang kutumpangi overload sebenarnya, tapi untungnya penumpang yang berdamp...

Setelah Setahun

Sore ini saya menyempatkan diri ke Watampone. Ibukota kabupaten Bone tempat saya tinggal.Berjarak 20 km dari kampungku. Tak ada maksud lain. Hanya sekedar menemani orang rumah ke sana. Melihat-lihat keramaian. Awalnya sempat kuurungkan niatku untuk ikut. Sendirian mungkin baik buatku untuk menulis. Tapi rasanya aneh juga untuk sendirian di rumah. Anggaplah sekedar jalan-jalan, pikirku. Aku tak punya kenangan masa kecil di kota ini. Selain sebuah toko di pusat kota (biasa disebut sentral) bernama Naga Sari tempatku membeli majalah bobo dan majalah remaja. Yang disampingnya dulu entah sebelah mana ada toko kaset tempat kakakku membeli kaset dari Kahitna hingga Bon Jovi. Selain itu aku tak punya lagi kenangan tentang kota ini. Saat SMA kelas dua bersama teman mengikuti sebuah lomba tingkat kabupaten. Aku pun mulai mengenal lebih jauh lagi tentang kota ini. Ada sisi kota lain selain sentral. Sisi yang lebih ramai kala malam. Yang lampunya lebih banyak dan belum tidur saat jam 9 malam. Si...