Skip to main content

Apa kabar, Ara?

Usianya sudah 5 bulan lebih. Sudah bisa tengkurap. Guling sana guling sini. Kalo tidak diberi perhatian khusus ia mungkin sudah jatuh dari tempat tidur. Untungnya ia masih belum mampu manjat bantal dan kemudian jatuh. Jika tidak maka bukan tidak mungkin ia telah tertarik gravitasi bumi. Bayi sabar yang setiap bulan pulang pergi Makassar Bone. Tak rewel di jalan. Menyenangi jalan-jalan dan naik mobil. Kemarin bahkan menembus hujan demi jalan-jalan ke kota. Mungkin karena kondisi cuaca dan imun tubuhnya yang sudah tidak bisa bertahan maka hidungnya pun meler. Mulai batuk kering. Namun meski seperti itu ia masih saja bersemangat. Ketika sudah muntah karena lendirnya yang begitu banyak maka ia akan kembali tersenyum. Nyengir dan enak diajak bercanda.

Tadi pagi ia melakukan maneuver hebat di kursi bayinya. Karena hasrat ingin bergulingnya tinggi maka di atas kursi bayinya pun ia mencoba mengeliat. Dua hari lalu ia terjepit dan menangis. Tadi pagi lebih parah, hanya bersisa kakinya yag terikat tali pengaman kursi sedangkan kepala dan tangannya sudah menjuntai menyentuh lantai. Tapi sekali lagi ia tidak menangis. Ia hanya berteriak-teriak seolah-olah itu tdaklah begitu menyakitkan baginya. Saat saya menolongnya ekspresinya hanyalah cengar-cengir.

Sebuah mainan bunyi-bunyian yang dia pegang sempat ia hantamkan ke kepalanya beberapa kali. Tanpa ekspresi sakit. Atau mungkin ia tidak merasakan sakit meskipun saya yang melihatnya tampak terasa sakit. Ketika tidur saat nenen ia selalu menggaruk-garuk kepalanya atau memukul-mukul telapak punggung tangannya ke dahinya. Tetap saja ia tidak merasa sakit. Hanya ketika saya menggigitnya keras-keras karena gemes ia menangis. Tapi itupun tidak lama.

Hoby sekarang adalah mencoba nungging. Mengangkat bokongnya. Bertumpu pada lututnya. Ia belajar untuk merayap. Selain itu ia suka memperhatikan jemari tangannya. Diangkat tinggi-tinggi dan kemudian dia gerak-gerakkan. Dipukulkan ke kepalanya atau di pahanya. Dan favoritku adalah ketika ia sesekali menangkupkan kedua tangannya dan kemudian menyentuhkannya di mulutnya. Ia seperti memegang hio dan bersembahyang di klenteng. Bulan depan ia sudah sarjana ASI. Dan sudah tak sabar mencicipi makanan-makanan yang berbeda dari susu. Dia tetap saja menggemaskan. (*)

Comments

Popular posts from this blog

Keajaiban Malam Bulan Biru

Judul : Keajaiban Malam Bulan Biru Penerbit : Pustaka Ola Harga : Rp. 20.000 Peter melangkah gontai masuk ke apartemennya. Ia baru saja dipecat. Toko tempatnya bekerja bangkrut. Dari sebuah apartemen ia mendengar kakek Tom merintih memanggil cucunya. Peter melangkah masuk dan membantu kakek Tom. Kasian kakek Tom sendirian dan sakit-sakitan sementara cucunya jarang menjenguk. Di apartemen sebelah Rossy di kursi rodanya meminta Peter memperbaiki kotak musik balerinanya. Rossy sangat ingin menjadi balerina sayang kakinya lumpuh.  Bulan berwarna biru malam itu. Ted yang terbangun dari tidurnya sibuk memikirkan dirinya yang dipecat dan begitu miskin. Hingga akhirnya ia bertemu peri dan memberinya tiga permintaan.  *** Buku kumpulan dongeng ini berisi sebelas cerita dongeng yang kisahnya menarik. Kamu akan bertemu Grook-grook si sapi, Riko si kurcaci yang ingin jadi peri, serta bertualang di dunia mainan.  Selain ceritanya yang seru juga mengandung nilai moral. Misalnya mensyuk...

First Journey With Ara

Bajunya : Off  To Grandma's Karena neneknya Ara berkunjung ke Makassar, maka saya pun harus membawa Ara ke Makassar untuk bertemu neneknya yang telah datang jauh-jauh dari Bau-bau. Sekalian bertemu dengan tante (Kak Atun) dan sepupunya, Cakra untuk pertama kali. Ara baru 40 hari lebih. Belum cukup dua bulan. Ini adalah perjalanan pertama kami berdua. Saya hanya membawa satu ransel baju. Sudah dengan pakaianku dan pakaiannya. Sedapat mungkin pakaian yang dibawa sedikit mengingat saya membawa bayi dan agak susah mengangkat tas sekaligus. Semua orang yang saya temui akan heran dan terkejut melihat saya hanya berdua dengan bayi saya yang umurnya belumlah cukup dua bulan. Saya cukup tangguh? Tidak juga, hanya keadaan yang memaksa demikian. Untungnya Ara tidaklah terlalu rewel diajak pergi-pergi. Selama perjalanan Bone-Makassar dia hanya dua kali terbangun untuk minum Asi, sisanya ia memilih tidur.  Mobil yang kutumpangi overload sebenarnya, tapi untungnya penumpang yang berdamp...

Seketika Ke Sukabumi

twit ekspektasi vs twit realita Setelah kelelahan karena hampir seharian di Mal sehabis nonton Dr.Dolittle pada hari rabu, dengan santai saya mencuitkan kalimat di Twitter "karena udah ke mal hari Rabu. Weekend nanti kita berenang saja di kolam dekat rumah”. Sebuah perencanaan akhir pekan yang sehat dan tidak butuh banyak biaya. Saya sudah membayangkan setelah berenang saya melakukan ritual rebahan depan TV yang menayangkan serial Korea sambil tangan skrol-skrol gawai membaca utasan cerita yang ga ada manfaatnya.  Sebuah perencanaan unfaedah yang menggiurkan. Tiba-tiba Kamis malam suami ngajakin ke Taman Safari liat gajah pas akhir pekan. Mau ngasih liat ke Anna yang udah mulai kegirangan liat binatang-binatang aneka rupa. Terlebih lagi sehari sebelumnya kami menonton film Dr.Dolittle yang bercerita tentang dokter yang bisa memahami bahasa hewan. Sekalian  nginap di hotel berfasilitas kolam air panas. Hmmm. Saya agak malas sih. Membayangkan Taman Safari yan...