Skip to main content

Malaikat Yang Mencintaimu

 
( Bacalah sambil mendengarkan lagu Iris-Goo Goo Dolls)

Kau tersenyum menyambut kedatanganku. Meraih tanganku dan mengamitkan jemarimu disela-sela jemariku. Aku tersenyum. “Senang bertemu denganmu” katamu. “Apa kabar? Aku merindukanmu”.

Sebuah sore yang indah. Langit saga, matahari hampir tenggelam di horizon langit. Angin pantai berhembus dingin. Tubuhku bergetar menggigil. Kau merangkulkan tanganmu di pundakku. Membagi kehangatanmu. Jilatan air laut menggapai-gapai kaki kita yang tak beralas. Pasir memasuki sela-sela kaki kita. Basah dan terasa liat karena air garam.

Aku merenggangkan pegangan tangamu.Kau melepaskan rangkulanmu. Berjalan di depanku. Berdiam sesaat.Melihatmu terus melangkah sendiri. Menikmati matahari yang sebentar lagi terbenam. Aku menunduk memunguti kulit kerang yang berserakan di pasir pantai. Kamu berbalik dan mendapatiku tak  bersisihan lagi bersamamu. Kau menghentikan langkahmu. Menyusulku ke tempatku memunguti kulit kerang. Kau pun duduk di sampingku. Mengambil ranting dan menuliskan namaku dan namamu di pasir. Kutambahkan gambar muka lucu ditiap nama yang kau tulis. Aku tertawa dan kau pun tertawa.

Aku berdiri dan meraih tanganmu. Kau menyambutnya. Kita melangkah lagi. Entah kemana tak ada tujuan. Kuberbalik sejenak melihat hasil karya kita di pasir pantai itu. Air laut telah menyapunya tak berbekas. Kembali ke sedia kala. Aku mempererat genggaman tanganku. Dan kau megerjapkan matamu dan tersenyum padaku.Matahari benar-benar telah tertelan horizon bumi. Langit menggelap. Tak ada bulan atau pun bintang. Meski mendung tak juga menggantung.

“Aku selalu menyenangi menghabiskan waktu bersamamu” katamu. Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku pun senang jika selalu bersamamu” kataku. “Selamat malam” katamu sambil mengecup keningku.
                                                                            ***
Aku duduk diam memandangi hujan dibalik jendela. Bau tanah kering menyeruak tajam. Seperti rindu yang terlepaskan ketika tetes-tetes air pertama penanda kemarau akan berlalu. Aku cemburu pada tanah kering yang telah melepaskan rindunya. Tetes hujan membasahi kaca jendela yang tak kututup. Percik dinginnya membasahi wajahku.

Sedang apa kau di sana? Aku merindukanmu. Aku menantimu menyapaku. Aku tak boleh menyapamu duluan. Itu melanggar hukumku. Namun aku akan selalu ada ketika kau membutuhkanku. Di saat pertama kau membuat koneksi denganku di saat itu pula aku akan membalasmu. Namun aku tak boleh menjadi pertama yang menganggumu. Aku harus memahami letak perbedaan kita. Aku memahami tiap waktumu. Kapan kamu terbangun,di  waktu kapan kamu terlelap, diwaktu kapan kamu dengan rutinitas hidupmu. Hanya saja aku tak pernah mampu tahu saat apa kamu membutuhkanku.Tapi aku selalu ada untukmu. 

Kapanpun itu. Bahkan saat malam telah melelapkan manusia aku masih mampu terjaga menemanimu.
Hujan telah berhenti. Menyisakan tanah basah yang becek. Menyisakan sebuah harapan bagi daun-daun yang telah menguning untuk kembali segar dan menghijau. Hatiku masihlah kemarau dan kering. Merindukan hujan. Dadaku sesak. Namun tak kudapati oksigen segar yang mampu membuatku bernafas lega.
***
Aku merenungi hidupku. Merenungi rasa yang tak mampu aku bendung. Gabriel mendatangiku. Ia merasakan pedihku. Dia merangkulku penuh arti.” Ketika kamu belajar memiliki ada saat itu juga kau belajar melepaskan. Ketika kau mampu memahaminya, yakinlah sayapmu akan tumbuh dan mampu membuatmu terbang”.

“Bolehkah aku melihatnya lebih dekat agar aku mampu menenangkan rasa ini dan melepaskannya pergi” tanyaku. Gabriel hanya mempererat pelukannya. Kurasakan diriku begitu rapuh dalam pelukan itu. Kutarik nafasku dalam-dalam. Namun beban itu tak juga pergi. “Lakukanlah jika itu membuatmu bisa lebih baik”.
***
Kujejakkan kakiku ke tanah. Menapaki jalanan berdebu di tengah hiruk pikuk kota. Dari kaca etalase kulihat dirinya. Tertawa dan bahagia. Bercengkrama dengan beberapa orang. Aku melihatnya dari jauh. Seperti ini saja cukup membuatku bahagia. Mungkin kelak ketika aku merindukanmu aku akan melihatmu seperti ini saja.

Berjam-jam aku melihatnya di sana. Ketika ia beranjak aku mengikutinya. Sore menjelang, ia berada di sebuah kafe bersama teman-temannya. Tertawa bersama menikmati malam. Sekali dua kali aku melihatnya menatap penuh arti perempuan yang ada di sampingnya. Frame itu meremas jantungku. Sakit. Membawa sesak ke dada dan memerihkan mata.

Mungkin kelak kau hanya akan mampu mengingatku samar. Mampu kau rasakan hadirnya tanpa pernah benar-benar kau kenali siapa aku sebenarnya. Namun aku akan selalu mampu mengingatmu sejak diawal kita bertemu. Suatu saat aku akan berlalu di depanmu namun kau tak mengenaliku. Kau hanya mengenali aroma tubuhku dan berusaha menggapai kenangan yang samar yang ada dalam otakmu. Kau berpikir keras dan tetap tak mampu menggapaiku di sana. Akhir yang romantic bukan? Itu Cuma khayalku.

Kau beranjak dari kafe itu. Malam telah menua dan rasi bintang barat telah terbit. Aku bergegas. Takut kau mampu melihatku. Sesaat kurasakan kau menatap lurus ke arah tempatku duduk. Tepat menghujam mataku.
***
Malam itu kau membuat koneksi padaku. Aku terjaga. Selalu seperti itu. Setiap jam selalu kulirik diam-diam waktu yang bergerak. Berharap ada detik yang mengantarmu ke sini. Dan malam ini aku cukup berbahagia. Ada selintas yang membuatmu hadir. Meski singkat. Dan tak berbalas. “Selamat malam malaikat” katamu.

Aku kembali terdasar. Mencari jejakmu yang mungkin masih mampu aku gapai. Tiap detik adalah sebuah temali yang mampu mengikat kita. Namun aku terlambat. Jejakmu telah jauh menuju jam. Aku tertinggal dalam banyak detik. 3600 detik telah berlalu. Banyak hal yang bisa terjadi dalam ribuan detik itu. Dan yang terjadi padaku adalah dirimu yang kemudian berlalu dalam ribuan detak yang tak mampu aku interupsi.

Aku hanya menemukan keping jiwa yang tersesat dalam gelapnya malam. Ia dan aku adalah patahan-patahan hati yang butuh disembuhkan. Namun kami hanya memilih untuk berbagi pedih yang lain. Bukan pedih tentang kehilangannya. Bukan pedih tentang kehilanganku.
***
Hari ini adalah penghujung tahun. Kamu mengajakku berjalan di selasar pertokoan di pinggir pantai. Berjalan kaki dan bercerita entah apa. Tak peduli tema asal aku mendengarmu, kau mendengarku. Rasanya sudah sangat lama sejak kita terakhir bertemu. Ada kerutan di wajahmu. Bertambah satu. Aku sangat menghapalnya. Ada lelah di sana. Rutinitas telah menyitamu. Tapi aku yakin seperti inilah hidup manusia. 
 Menua adalah sebuah harga mati. “Asal jangan lupa untuk menikmati hidup” kataku.

Aku telah menyiapkan hatiku untuk hari ini. Hari dimana aku masih bisa meraba wajahmu dan menyimpan kerutannya diantara sidik-sidik jari. Etalase toko memajang banyak pernak-pernik dan baju. Kita berjalan beriring. Mengamit tangan. Sesaat kau berhenti pada sebuah toko. Di etalasenya ada gaun satin putih dipajang. Kau mencengkram tanganku. Penanda agar aku berhenti dan mengikuti arah perhatian matamu.

“ Jika kau memakainya malam ini saat makan malam pasti terlihat anggun” katamu padaku. Fokus matamu tertuju pada gaun satin itu. Namun focus mataku tertuju di belakang gaun itu. Pada refleksi diriku. Di titik dimana seharusnya ada pantulan bayangku di sana.Namun tak ada. Segera kau menarik tanganku masuk ke toko itu tanpa pernah menyadari muka pias saat itu juga. Kau tak pernah menyadari itu.
***
Gaun itu tergantung cantik ditubuhku. Entah karena gaun itu yang indah sehingga aku tampak cantik, atau karena aku cantik sehingga gaun itu tampak elegan. Entahlah. Bayang sore tadi masih menari di pelupuk mataku. Gabriel tiba-tiba berada duduk di sampingku. “Aku harap kamu telah belajar tentang cinta itu sendiri.Malam ini gunakan sebaiknya” sahutnya sambil merangkulku.Aku hanya mampu menatapnya lurus. Tak tahu lagi hendak aku tata sedemikian rupa seperti apa hati ini agar mampu tegar.
***
Lilin meja makan menyala redup. Seolah-olah berusaha mengaitkan dirinya pada sumbu hitam yang mulai rapuh. Angin lantai 2 restoran berview laut itu bertiup sepoi-sepoi. Namun nyala api itu tetap berusaha bertahan. Setia pada sumbu dan tugas yang diembannya.

“Kau cantik malam ini” katamu. “Kau pun tampan, seperti biasa” kataku sambil tersenyum. Kau hanya tertawa kecil mendengarnya.
“Apa kabarmu?” tanyamu basa basi
“Baik. Dirimu?” tanyaku juga. Kau hanya tersenyum.
Seperti malam yang sering kita lalu bersama aku selalu meminta bercerita tentang apapun. Aku ingin merekam banyak waktu dimana dirimu yang antusias bercerita. Biarkan aku memperhatikanmu. Melihatmu bercerita, melihatmu tertawa. Ini adalah kesempatan terakhir. Aku tak tahu bagaimana mengucap selamat tinggal padamu. Ada rasa yang menggumpal di hatiku. Menyesakkan dadaku. Dan aku sesak untuk bernafas.

“Kita tak pernah punya foto bersama” katamu. Aku tertawa.
“Perlukah?” tanyaku.
“Ya, kalo kamu tidak mau menyimpannya biar aku saja yang menyimpannya” katamu merajuk.
“ Kalo kita membuat satu foto bersama, aku ingin kita memegang kertas putih. Di kertasku ada tertulis namamu, sedangkan di kertasmu ada namaku. Terus kita nyengir sama-sama “ khayalku.
“Hei, kita bisa membuatnya nanti” katamu
“Nanti? Entahlah aku tak tahu” kataku menunduk. “Jika kelak kita tak bertemu lagi aku ingin kamu tetap mengingatku. Sebagai apapun itu”.

“Kita akan tetap berteman sampai kapanpun” katanya. Aku hanya mampu tersenyum. Jarum jam hamper diangka 12. Sebentar lagi pergantian tahun. Riuh rendah keramaian menghitung mundur. Sesaat kemudian kembang api bercahaya memenuhi langit malam.
“Selamat tahun baru Kevin” bisikku. “Senang bisa mengenalmu”.
***
Kutatap ia dalam tidurnya. Ada damai di sana. Kukecup keningnya. “Selamat tinggal” ucapku perih. Aku rasakan sayap di bahuku mulai bertumbuh. Kudapati diriku telah menjadi malaikat seutuhnya. Sekali lagi kulihat wajahnya lekat. “Ketika aku merindukanmu suatu saat nanti, aku takkan merasakan sakit”.

Sosok pria bersayap yang kutemui beberapa malam lalu meraih tanganku. “Saatnya melepas semua rasa” bisiknya. Ia pun telah lahir menjadi malaikat baru.Dan sekelebat bayang menembus langit dini hari di awal tahun itu



Comments

Popular posts from this blog

Buku Serba Jakarta

Kangen juga jika lama tak ke toko buku. Selalu menyenangkan dikelilingi banyak buku. Apalagi bisa memilikinya. Kemarin kangen itu terobati. Gramedia Matraman adalah pengobat rindu itu. Banyak buku bagus. Rasanya mau membeli semuanya. Tapi kalo pun terbeli banyak biasanya yang muncul adalah kemalasan untuk menyelesaikan tiap halamannya. Pilihan buku akhirnya jatuh pada buku 47 museum di Jakarta dan The Jacatra Secret (A Novel). Buku pertama adalah sebuah buku panduan jelajah museum di Jakarta yang di tulis oleh Edi Dimyati. Aku jatuh cinta pada museum dan Jakarta adalah kota bertabur museum. Lebih menyenangkan rasanya ke Museum daripada ke Mall. Dan aku telah menjadwalkan tiap akhir pekanku untuk berjalan-jalan ke museum. Buku ini menjadi guide perjalananku untuk jelajah museum. Buku kedua berjudul The Jacatra Secret karangan Rizki Ridyasmara. Sebuah novel yang lagi-lagi tentang Jakarta dan tentu saja bangunan tua serta sejarah di dalamnya. Membaca bab pertama buku ini seperti me...

Hunger Games : The Mockingjay Part 2, Pertempuran Akhir Sang Mockingjay

Film dibuka dengan tokoh Katniss Everdeen yang sedang cedera leher. Pita suaranya membengkak dan ia mencoba untuk berbicara. Di akhir film Mockingjay Part 1, Katniss memandang dari jendela kaca menyaksikan Peeta histeris, berteriak ingin membunuhnya. Otaknya telah dicuci oleh orang-orang Capitol, Presiden Snow.  Kemudian cerita bergulir ke rencana untuk merebut Capitol dan menyatukan seluruh Distrik. Propaganda-propaganda yang berusaha dibuat oleh kedua belah pihak yang bertikai untuk meraih simpati dari Distrik-distrik yang belum dikuasai.  Hingga kemudian para pemenang yang menjadi prajurit tergabung dalam satu unit untuk membuat propaganda selanjutnya. Sayangnya Presiden Snow menjebak mereka masuk dalam Capitol dan menyerang mereka dengan mutan-mutan ciptaan Gamemaker.  Jika kamu tipe penonton yang menyukai aksi tembak menembak, berkelahi, dan penggemar setia Hunger Games maka film terakhir ini mampu memuaskan ekspetasimu. Jennifer Lawrence berhasil membawa tokoh Katni...

Tentang Etta

Aku mungkin terlalu sering bercerita tentang ibu. Ketika ia masih hidup hingga ia telah pulang ke tanah kembali aku selalu mampu menceritakannya dengan fasih. Ia mungkin bahasa terindah yang Tuhan titipkan dalam wujud pada tiap manusia. Tapi izinkan kali ini aku bercerita tentang bapak. Pria terdekat yang selalu ada mengisi tiap halaman buku hidupku.Pria yang akrab kusapa dengan panggilan Etta, panggilan ayah pada adat bugis bangsawan. Kami tak begitu dekat. Mungkin karena perbedaan jenis kelamin sehingga kami taklah sedekat seperti hubungan ibu dangan anak perempuannya. Mungkin juga karena ia mendidikku layaknya didikan keluarga bugis kuno yang membuat jarak antara Bapak dan anaknya. Bapak selalu mengambil peran sebagai kepala keluarga. Pemegang keputusan tertinggi dalam keluarga. Berperan mencari nafkah untuk keluarga. Meski Mama dan Ettaku PNS guru, tapi mereka tetap bertani. Menggarap sawah, menanam padi, dan berkebun. Mungkin karena mereka dibesarkan dengan budaya bertani dan ...